Category Archives: Mutiara Salaf

Modal Pertemanan

Ibnu Batthol rohimahullah berkata,

“Mudaroh adalah akhlak kaum mukminin, yaitu :

– rendah hati
– ucapan yang santun, dan
– tidak bersikap kasar

Itulah penyebab semakin kuat pertemanan dan hilangnya kebencian..”

(Syarah Al Bukhori 9/305)

Jiwa manusia menyukai akhlak yang mulia..
Dan tidak menyukai akhlak yang buruk..

Tawadhu..
Kata-kata yang baik dan tidak kasar..
Saling membantu dan bahu membahu..
Tidak mudah suuzhon..
Mudah memaafkan..

Itulah modal dalam pertemanan..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Kesombongan Menghancurkan Kemuliaan

Ibrahim bin Al Mudzoffar Al Baghdadi rohimahullah berkata,

‏كم جاهل متواضع … ستر التواضع جهله

‏“Banyak orang yang bodoh tapi tawadhu, tawadhunya menutupi kebodohannya..

ومميزا في علمه … هدم التكبر فضله

Sedangkan orang yang hebat ilmunya, dihancurkan oleh kesombongannya..

فالكبر عيب للفتى … أبدا يقبح فعله

Sombong itu aib selamanya bagi pemuda, dan menjadikan buruk perbuatannya..”

[ Adz-Dzail ‘alaa Thobaqot al-Hanabilah 3/319 ]

Orang yang sombong merasa akan terhormat dengan kesombongannya..
padahal hanya akan menghancurkan kemuliaannya..

Sebaliknya..
sebagian orang memandang tawadhu itu adalah kehinaan..
padahal ia adalah kemuliaan..

Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Tidaklah seseorang itu merendahkan diri kerana mengharapkan keridhoan Allah, melainkan ia akan diangkat darjatnya oleh Allah ‘Azza wajalla..”

(Hadits Riwayat Muslim)

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

MUTIARA SALAF : Keberkahan Waktu Dengan Mengingat Allah

Syeikh Al-Utsaimin rohimahullah mengatakan,

الإنسان الموفق يكون دائما في يقظة، والمخذول يكون دائما في غفلة، قال الله تعالى: ( ولا تطع من أغفلنا قلبه عن ذكرنا واتبع هواه وكان أمره فرطا) ولهذا إذا رأيت من نفسك أنك لا تعمل وتمضي عليك الأيام فاتهم نفسك، فإن قلبك يكون غافلا عن ذكر الله عز وجل؛ لأن من أقبل على الله بارك له في وقته وفي عمله، وكانت ساعاته كلها معمورة بما فيه الخير

“Orang yang mendapat taufiq itu selalu dalam keadaan SADAR, sedang orang yang hina itu selalu dalam keadaan LUPA.

Allah Ta’ala berfirman (yang artinya):

“Janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah Kami LALAIKAN dari mengingat kami, dia menuruti keinginannya, dan keadaannya sudah melewati batas..” [QS. Al-Kahfi: 28]
__

Oleh karena itu, bila engkau melihat dirimu tidak beramal, dan hari-harimu berlalu begitu saja, maka curigailah dirimu, sungguh (engkau akan dapati) hatimu selalu lupa dari MENGINGAT Allah ‘Azza wa Jalla.

Karena orang yang menghadapkan dirinya kepada Allah, tentu Allah akan MEMBERKAHI waktu dan amalnya, serta semua waktunya akan HIDUP dengan sesuatu yang ada kebaikannya..”

[Syarah al-Kafiah Asy-Syafiah 4/109]

Diterjemahkan oleh,
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Aku Tahu

Ibnu Taimiyah rohimahullah berkata,

“Aku tahu bahwa setan terus berusaha menebar permusuhan diantara kaum muslimin, maka aku tak ingin membantu setan atas kaum mukminin..”

(Majmu’ Fatawa – 3/271)

Membantu setan untuk menebar permusuhan :

– dengan mengadu domba dan ghibah..

– dengan suuzhon dan tajassus..

– dengan menuduh tanpa bukti yang jelas..

– dengan menegakkan cinta dan kebencian bukan karena Allah, tapi karena kepentingan dunia..

– dengan membuat lari seorang muslim dari kebenaran akibat sikap ghuluw yang kita lakukan..

dan sebagainya..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

MUTIARA SALAF : Keutamaan Membantu Kebutuhan Janda Dan Orang Miskin

Rosulullah shollallohu ‘alayhi wasallam bersabda,

“Orang yang membantu kebutuhan seorang janda dan seorang miskin; itu seperti orang yang berjihad perang di jalan Allah, atau seperti orang yang malamnya sholat siangnya puasa..”

[ HR. Bukhori no. 5353 ]

Terkait hadits di atas, Ibnu Batthol rohimahullah mengatakan,

من عَجَز عن الجهاد في سبيل الله، وعن قيام الليل، وصيام النهار – فليعملْ بهذا الحديث، ولْيسعَ على الأرامل والمساكين؛ لِيُحشر يومَ القيامة في جملة المجاهدين في سبيل الله، دون أن يَخطو في ذلك خُطوة، أو يُنفق درهمًا، أو يلقى عدوًّا يرتاعُ بلقائه، أو ليحشر في زُمرة الصائمين والقائمين

“Siapa yang :

– tidak mampu berjihad di jalan Allah,
– tidak mampu rajin tahajud, atau
– (tidak mampu) puasa di siang hari,

hendaknya dia praktekkan hadits ini, (yaitu dengan) berusaha memenuhi kebutuhan hidup janda dan orang miskin, agar kelak di hari kiamat dikumpulkan bersama para mujahidin fii sabilillah, tanpa harus melangkah di medan jihad atau mengeluarkan biaya, atau berhadapan dengan musuh.

Atau agar dikumpulkan bersama orang yang rajin puasa dan tahajud..”

(Syarh Shohih Bukhari – Ibnu Batthol)

Gak Bisa Diam

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

فإن الإنسان لا يسكت البتة : فإما لسان ذاكر وإما لسان لاغ ولا بد من أحدهما فهي النفس إن لم تشغلها بالحق شغلتك بالباطل وهو القلب إن لم تسكنه محبة الله عز و جل سكنه محبة المخلوقين

“Karena insan itu tidak akan diam. Jika lisan tidak berdzikir maka akan melakukan sia sia. Jiwa jika tidak disibukkan dengan kebenaran maka ia akan sibuk dengan kebatilan..

Hati jika tidak merasa tenang dengan cinta kepada Allah, maka ia akan tenang dengan mencintai makhluk..”

(Al Wabilushoyyib – Ibnul Qoyyim)

Demikian juga status fb kita..

Jika tidak dituliskan hal hal yang bermanfaat..
Maka akan ditulis dengan hal yang sia sia..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Akibat Terbiasa Lambat Dalam Ibadah

Rosulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam pernah melihat para shahabat lambat dari shof yang pertama. Maka beliau bersabda,

تَقَدَّمُوا فَأْتَمُّوا بِي وَلْيَأْتَمَّ بِكُمْ مَنْ بَعْدَكُمْ ، لا يَزَالُ قَوْمٌ يَتَأَخَّرُونَ حَتَّى يُؤَخِّرَهُمْ اللَّهُ

“Majulah dan ikutilah aku, dan hendaklah shoff di belakang mengikuti shoff di depannya. Suatu kaum yang selalu lambat, maka Allah akan lambatkan..” (HR Muslim no 438)

Maksudnya Allah akhirkan mereka dari rahmat dan surga-Nya serta karunia-Nya yang agung.

Syaikh Utsaimin rohimahullah berkata,

وعلى هذا ؛ ​فيخشى على الإنسان إذا عوَّد نفسه التأخر في العبادة أن يبتلى بأن يؤخره الله عز وجل في جميع مواطن الخير​.

“Oleh karena itu, dikhawatirkan bila seorang insan terbiasa lambat dari ibadah, Allah jadikan ia lambat dalam setiap kebaikan..” (Majmu fatawa 13/54)

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badru Salam حفظه الله تعالى

MUTIARA SALAF : Peringatan Bagi Kita Semua

peringatan bagi kita semua di tengah hiruk pikuk media sosial di zaman ini

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman (yang artinya),

“Sesungguhnya orang-orang yang suka sekali supaya tersebar berita-berita keji dalam kalangan orang-orang yang beriman, me­reka akan mendapat adzab yang pedih di dunia dan di akhirat..

dan Allah Maha Mengetahui dan kamu semua tidaklah menge­tahui..”

[ QS. an-Nuur: 19 ]

#mutiarasalaf #sosmed

MUTIARA SALAF : Bersemangat Ketika Hendak Sholat

‘Abdullah bin ‘Abbas
rodhiyallahu ‘anhumaa berkata,

يُكْرَه أن يقومَ الرَّجُل إلى الصَّلاة وهُو كسلان، ولكن يقُوم إليها طلقَ الوجه، عظيمَ الرَّغبة، شديدَ الفَرح، فإنَّه يناجي اللهَ عز وجل ، وإنَّ اللهَ عز وجل أمامَه يغفرُ له ويجيبُه إذا دعاهُ، ويتلو هذه الآية: {وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَى} [سورة النساء : 142]».

“Tidak disukai seseorang bangkit menuju sholat dengan malas..

Tapi hendaklah ia :
– bangkit dengan wajah berseri,
– semangat yang kuat, dan
– hati yang gembira.

Karena ia hendak bermunajat dengan Allah ‘Azza wajalla. Dan Allah berada di hadapannya mengampuni dosanya dan mengijabah do’anya..

Lalu beliau membaca ayat tentang sifat kaum munafik yang artinya: “Apabila mereka bangkit untuk sholat, mereka bangkit dengan malas..” (Annisa: 142)

[ At Targhiib Wat Tarhiib – Qowamus Sunnah – 1904 ]

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Allah Lebih Tahu Yang Baik Bagi Hamba-Nya

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

وَإِذَا عَرَتْكَ بَلِيَّةٌ فَاصْبِرْ لَهَا ** صَبْرَ الْكَرِيمِ فَإِنَّهُ بِكَ أَعْلَمُ

وَإِذَا شَكَوْتَ إِلَى ابْنِ آدَمَ إِنَّمَا ** تَشْكُو الرَّحِيمَ إِلَى الَّذِي لَا يَرْحَمُ

“Jika engkau tertimpa musibah, maka bersabarlah dengan kesabaran yang mulia, karena Allah lebih tahu yang baik bagimu..

Jika engkau mengeluh kepada Bani Adam (manusia), sesungguhnya engkau telah mengadukan Allah Ar Rohiim kepada makhluk yang tidak bisa memberi rahmah..”

[ Madarijus Salikin, 2/160 ]