Category Archives: Mutiara Salaf

Andai Aku Seperti Salim

Suatu ketika, Khalifah banu Umayah yaitu Hisyam bin Abdil Malik pergi haji. Ketika thawaf di Ka’bah, ia melihat Salim bin Abdullah bin Umar thawaf sambil menenteng sendalnya yang telah rusak dan memakai pakaian yang amat murah tak sampai dua dirham.

Sang khalifah mendekati Salim dan berkata, “Wahai Salim, apakah engkau ada kebutuhan..?”
Salim melihat kepada sang khalifah dengan pandangan heran dan gusar. Ia berkata, “Apakah kamu tidak malu..? Kita sedang di rumah Allah, lalu kamu ingin aku mengadukan kebutuhanku kepada selain Allah..?”

Sang khalifah terlihat sangat malu dan membiarkan Salim menyempurnakan thawafnya. Namun ia terus mengawasi Salim. Ketika Salim telah keluar dari masjidil haram, sang khalifah segera mengejar Salim. Ia berkata, “Wahai Salim, tadi engkau tidak mau menceritakan kebutuhanmu kepadaku di dalam masjidil haram. Sekarang silakan kamu minta kepadaku karena sekarang berada di luar haram..”

Salim berkata, “Kebutuhan dunia atau kebutuhan akherat..?”
Khalifah berkata, “Hai Salim, tentu kebutuhan dunia. Karena kebutuhan akherat hanya diminta kepada Allah saja..”

Salim berkata, “Wahai Hisyam, demi Allah..! Aku tidak pernah meminta kebutuhan duniaku kepada pemiliknya (yaitu Allah). Bagaimana aku akan meminta kepada yang bukan pemiliknya..?”

Berlinanglah air mata sang Khalifah. Ia berkata, “Andaikan aku seperti Salim dengan seluruh kerajaanku…”

(Al Bidayah wan-Nihayah 9/235)

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

 

MUTIARA SALAF : Bencana dan Kesenangan Adalah Ujian

Allah Ta’ala berfirman (yang artinya),
“Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya), dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan..” [Qs Al Anbiya’: 35]

Ibnu Katsir rohimahullah berkata,
“Makna ayat ini yaitu: Kami menguji kamu (wahai manusia), terkadang dengan bencana dan terkadang dengan kesenangan, agar Kami melihat siapa yang bersyukur dan siapa yang ingkar, serta siapa yang bersabar dan siapa yang beputus asa..”

[Tafsir Ibnu Katsir – 5 hal. 342]

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

ARTIKEL TERKAIT
Nasihat Ulama – KOMPILASI ARTIKEL

MUTIARA SALAF : Mengatasi Prasangka Buruk

Ibnu Qudamah rohimahullah berkata,

“Jika terbetik di hatimu prasangka buruk terhadap seorang muslim, maka hendaklah kamu memberikan perhatian yang lebih kepadanya dan juga mendo’akan kebaikan untuknya..

karena hal itu akan menjadikan setan marah dan menjauh dari anda, sehingga dia tidak melemparkan kepada anda prasangka buruk karena kawatir anda malah akan sibuk mendo’akan kebaikan untuknya dan lebih memperhatikannya..”

[ Mukhtashor Minhajul Qoshidin – 172 ]

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

ARTIKEL TERKAIT
Nasihat Ulama – KOMPILASI ARTIKEL

 

MUTIARA SALAF : Membalas Perbuatan Jelek Dengan Perbuatan Baik

Abu Hatim Ibnu Hibban Al-Busti rohimahullah berkata,

“Orang yang berakal sehat wajib mempersiapkan jiwanya untuk senantiasa memaafkan semua orang, dia juga tidak boleh membalas perbuatan jelek (dengan kejelekan)..

Sebab, tidak ada cara yang lebih baik untuk menghentikan perbuatan jelek kecuali (membalasnya) dengan berbuat baik..”

[ Roudhotul ‘Uqola – 188 ]

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

ARTIKEL TERKAIT
Nasihat Ulama – KOMPILASI ARTIKEL

MUTIARA SALAF : Balasan Dari Amalan Kebaikan

Ibnu Rojab rohimahullah berkata,

“Balasan dari amalan kebaikan adalah amalan kebaikan selanjutnya.. barangsiapa melaksanakan kebaikan lalu dia melanjutkan dengan kebaikan lainnya, maka itu adalah tanda diterimanya amalan yang pertama..

begitu pula barangsiapa yang melaksanakan kebaikan lalu malah dilanjutkan dengan amalan kejelekan, maka ini adalah tanda tertolaknya atau tidak diterimanya amalan kebaikan yang telah dilakukan..”

[ Latho-if Al Ma’arif ]

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

ARTIKEL TERKAIT
Nasihat Ulama – KOMPILASI ARTIKEL

Yang Paling Bermanfaat

Ibnul Jauzi rohimahullah berkata:

“Aku bertemu dengan banyak ulama..
tingkatan keilmuan mereka berbeda-beda…
namun yang paling bermanfaat dari mereka bagiku adalah yang mengamalkan ilmunya…
walaupun yang lain lebih berilmu darinya…

Aku bertemu dengan ulama yang bernama Abdul Wahab Al Anmathi..
ia berjalan di atas manhaj salaf..
tak pernah terdengar ghibah di majelisnya..
tidak pula menerima upah dari menyampaikan hadits..
apabila dibacakan kepada beliau hadits-hadits yang menyentuh hati..
beliau menangis dan terus menangis..
saat itu usiaku masih amat muda..
namun tangisannya membangun kaidah dalam hatiku..

Aku juga bertemu dengan Abu Manshur Al Jawaliqi..
ia lebih banyak diam dan amat hati-hati dalam berbicara…
amat menguasai ilmu dan ahli tahqiq..
pernah ia ditanya tentang suatu masalah yang enteng…
namun ia baru menjawabnya setelah benar-benar yakin..
ia selalu berpuasa dan banyak diam..

aku lebih banyak mengambil manfaat dari dua ulama ini dibandingkan ulama lainnya..
dan akupun faham bahwa dalil yang dipraktekkan lebih mengena di hati dibandingkan yang hanya diucapkan..

maka berusahalah mengamalkan ilmu..
karena itulah pokok yang paling besar…

dan yang paling kasihan itu adalah orang yang menyia-nyiakan umurnya dengan ilmu yang tidak diamalkan..
sehingga ia terluput dari kenikmatan dunia dan kebaikan akherat..”

(Kitab Shaidul Khatir karya Ibnul Jauzi)

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL