Simak penjelasan Ustadz Mizan Qudsiyah MA, حفظه الله تعالى berikut ini :
230.
231.
232.
ARTIKEL TERKAIT
Simak penjelasan Ustadz Mizan Qudsiyah MA, حفظه الله تعالى berikut ini :
230.
231.
232.
ARTIKEL TERKAIT
Simak penjelasan Ustadz Mizan Qudsiyah MA, حفظه الله تعالى berikut ini :
227.
228.
229.
ARTIKEL TERKAIT
Rosulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam pernah melihat para shahabat lambat dari shof yang pertama. Maka beliau bersabda,
تَقَدَّمُوا فَأْتَمُّوا بِي وَلْيَأْتَمَّ بِكُمْ مَنْ بَعْدَكُمْ ، لا يَزَالُ قَوْمٌ يَتَأَخَّرُونَ حَتَّى يُؤَخِّرَهُمْ اللَّهُ
“Majulah dan ikutilah aku, dan hendaklah shoff di belakang mengikuti shoff di depannya. Suatu kaum yang selalu lambat, maka Allah akan lambatkan..” (HR Muslim no 438)
Maksudnya Allah akhirkan mereka dari rahmat dan surga-Nya serta karunia-Nya yang agung.
Syaikh Utsaimin rohimahullah berkata,
وعلى هذا ؛ فيخشى على الإنسان إذا عوَّد نفسه التأخر في العبادة أن يبتلى بأن يؤخره الله عز وجل في جميع مواطن الخير.
“Oleh karena itu, dikhawatirkan bila seorang insan terbiasa lambat dari ibadah, Allah jadikan ia lambat dalam setiap kebaikan..” (Majmu fatawa 13/54)
Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badru Salam حفظه الله تعالى
bagi para ayah yang memiliki anak lakil-laki, senantiasa do’akanlah kebaikan dan hidayah bagi sang anak.. dan waspadalah dari mendo’akan keburukan bagi sang anak, karena..
Telah menceritakan kepada kami [Ali bin Hujr], telah mengabarkan kepada kami [Isma’il bin Ibrahim] dari [Hisyam Ad Dastuwa`i] dari [Yahya bin Abu Katsir] dari [Abu Ja’far] dari [Abu Hurairah] ia berkata,
Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Ada tiga macam do’a yang akan dikabulkan yang tidak ada keraguan padanya :
– do’a orang yang terzholimi,
– do’a musafir, dan
– do’a ayah (menimpakan keburukan) atas anak laki-lakinya..”
[HR. At-Tirmidzi 1828]
Al Albani berkata : hadits shohih
حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ حُجْرٍ أَخْبَرَنَا إِسْمَعِيلُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ عَنْ هِشَامٍ الدَّسْتُوَائِيِّ عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِي كَثِيرٍ عَنْ أَبِي جَعْفَرٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لَا شَكَّ فِيهِنَّ دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ وَدَعْوَةُ الْوَالِدِ عَلَى وَلَدِهِ قَالَ أَبُو عِيسَى وَقَدْ رَوَى الْحَجَّاجُ الصَّوَّافُ هَذَا الْحَدِيثَ عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِي كَثِيرٍ نَحْوَ حَدِيثِ هِشَامٍ وَأَبُو جَعْفَرٍ الَّذِي رَوَى عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ يُقَالُ لَهُ أَبُو جَعْفَرٍ الْمُؤَذِّنُ وَلَا نَعْرِفُ اسْمَهُ وَقَدْ رَوَى عَنْهُ يَحْيَى بْنُ أَبِي كَثِيرٍ غَيْرَ حَدِيثٍ
peringatan bagi kita semua di tengah hiruk pikuk media sosial di zaman ini
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman (yang artinya),
“Sesungguhnya orang-orang yang suka sekali supaya tersebar berita-berita keji dalam kalangan orang-orang yang beriman, mereka akan mendapat adzab yang pedih di dunia dan di akhirat..
dan Allah Maha Mengetahui dan kamu semua tidaklah mengetahui..”
[ QS. an-Nuur: 19 ]
#mutiarasalaf #sosmed
Sahabat Ibnu ‘Abbas rodhiyallahu ‘anhumaa mengatakan,
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعَوِّذُ الْحَسَنَ وَالْحُسَيْنَ يَقُولُ:
“Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam membacakan do’a memohon perlindungan terhadap al-Hasan dan al-Husain (keduanya adalah cucu beliau). Beliau membacakan,
أُعِيذُكُمَا بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لَامَّةٍ
“Aku memohon perlindungan kepada Allah untuk kalian berdua dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna, dari setiap kejahatan setan dan binatang yang mengganggu, dan dari setiap mata yang hasad (dengki)..”
Kemudian beliau bersabda,
هَكَذَا كَانَ إِبْرَاهِيمُ يُعَوِّذُ إِسْحَاقَ وَإِسْمَاعِيلَ عَلَيْهِمُ السَّلَامُ
“Demikianlah (dahulu) ayah kalian, Nabi Ibrahim, juga membacakan do’a memohon perlindungan untuk putra beliau, Ismail dan Ishaq alaihimussalam..”
(HR. at-Tirmidzi no. 2060. Hadits ini dinilai shóhih oleh Syaikh al-Albani dalam Shohih at-Tirmidzi no. 2060)
● Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rohimahullah menjelaskan,
“Ketika seseorang mengamalkan hadits di atas, dia boleh mengganti dhomir (kata ganti) untuk menyesuaikan..”
[ Nur ‘Ala ad-Darb: Kaifiyyah Wiqayah ath-Thifl Min al-‘Ain ]
● Yang berikut adalah do’a perlindungan untuk diri sendiri :
‘Abdullah bin ‘Abbas
rodhiyallahu ‘anhumaa berkata,
يُكْرَه أن يقومَ الرَّجُل إلى الصَّلاة وهُو كسلان، ولكن يقُوم إليها طلقَ الوجه، عظيمَ الرَّغبة، شديدَ الفَرح، فإنَّه يناجي اللهَ عز وجل ، وإنَّ اللهَ عز وجل أمامَه يغفرُ له ويجيبُه إذا دعاهُ، ويتلو هذه الآية: {وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَى} [سورة النساء : 142]».
“Tidak disukai seseorang bangkit menuju sholat dengan malas..
Tapi hendaklah ia :
– bangkit dengan wajah berseri,
– semangat yang kuat, dan
– hati yang gembira.
Karena ia hendak bermunajat dengan Allah ‘Azza wajalla. Dan Allah berada di hadapannya mengampuni dosanya dan mengijabah do’anya..
Lalu beliau membaca ayat tentang sifat kaum munafik yang artinya: “Apabila mereka bangkit untuk sholat, mereka bangkit dengan malas..” (Annisa: 142)
[ At Targhiib Wat Tarhiib – Qowamus Sunnah – 1904 ]
Diterjemahkan oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى
Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,
وَإِذَا عَرَتْكَ بَلِيَّةٌ فَاصْبِرْ لَهَا ** صَبْرَ الْكَرِيمِ فَإِنَّهُ بِكَ أَعْلَمُ
وَإِذَا شَكَوْتَ إِلَى ابْنِ آدَمَ إِنَّمَا ** تَشْكُو الرَّحِيمَ إِلَى الَّذِي لَا يَرْحَمُ
“Jika engkau tertimpa musibah, maka bersabarlah dengan kesabaran yang mulia, karena Allah lebih tahu yang baik bagimu..
Jika engkau mengeluh kepada Bani Adam (manusia), sesungguhnya engkau telah mengadukan Allah Ar Rohiim kepada makhluk yang tidak bisa memberi rahmah..”
[ Madarijus Salikin, 2/160 ]
Simak penjelasan Ustadz Mizan Qudsiyah MA, حفظه الله تعالى berikut ini :
224.
225.
226.
ARTIKEL TERKAIT
Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,
“Ibnu Mas’ud pernah mengatakan, ‘cukuplah rasa takut kepada Allah sebagai bukti keilmuan..’
Kurangnya rasa takut kepada Allah itu muncul akibat kurangnya pengenalan/ma’rifah yang dimiliki seorang hamba kepada-Nya..
Oleh sebab itu, orang yang paling mengenal Allah ialah yang paling takut kepada Allah di antara mereka..
Barangsiapa yang mengenal Allah, niscaya akan menebal rasa malu kepada-Nya, semakin dalam rasa takut kepada-Nya, dan semakin kuat cinta kepada-Nya..
Semakin pengenalan itu bertambah, maka semakin bertambah pula rasa malu, takut dan cinta tersebut..”
[ Thoriq al-Hijrotain ]
Adh-Dhau’ al-Muniir ‘alat-Tafsiir 5/97