Termasuk Perbuatan Durhaka

Ada pertanyaan kepada Syaikh Sholih al-Fauzan حفظه الله تعالى terkait interaksi dengan orangtua.

PERTANYAAN

بالنسبة لعدم الاستجابة لنصائح الوالدين والرفض لطلباتهم هل يعتبر هذا من عقوق الوالدين؟

“Terkait sikap tidak memenuhi nasehat kedua orangtua dan menolak permintaan mereka, apakah ini termasuk durhaka kepada dua orangtua..?”

JAWABAN

نعم، إذا كان هذا مما أباحه الله ومما شرعه الله وخالفتهما هذا عقوق ومعصية لله عز وجل أما إذا كان ما يأمران به أنه معصية لله فلا تجوز طاعتهما، لا طاعة لمخلوق في معصية الخالق. نعم.

“Ya.. jika hal itu adalah perkara mubah yang Allah perbolehkan dan perkara yang Allah syariatkan, lalu engkau menyelisihi keduanya. Ini termasuk perbuatan durhaka dan bermaksiat kepada Allah Taala.

Adapun jika perkara yang orangtua perintahkan adalah berupa kemaksiatan kepada Allah maka tidak boleh mentaati keduanya. Tiada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada sang Pencipta. Na’am..”

ref : https://www.alfawzan.af.org.sa/ar/node/14427

Syarah Kitab Tauhid : 205 – 206 – 207

Simak penjelasan Ustadz Mizan Qudsiyah MA, حفظه الله تعالى berikut ini :

205.

206.

207.

 

ARTIKEL TERKAIT

Syarah Kitab Tauhid : KUMPULAN ARTIKEL

MUTIARA SALAF : Memberi Maaf Lebih Utama Dalam Persoalan Pribadi

Syaikh Abdul Aziz bin Baz rohimahullah memberikan jawaban ketika ditanya tentang sikap yang lebih utama ketika menghadapi pihak yang menzholimi kita.

Beliau berfatwa,

إذا كانوا قد ظلموك وأحببت العفو عنهم فأنت مأجور ولك خير عظيم وفضل كبير؛ لأن الله جل وعلا يقول: وَأَنْ تَعْفُوا أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى [البقرة:237]، ويقول النبي ﷺ: ما زاد الله عبداً بعفو إلا عزاً، ويقول جل وعلا: فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ [الشورى:40]، فأنت على خير عظيم فإذا ظلموك في غيبة أو مال أو سب أو نحو ذلك وعفوت عنهم فأنت مأجور جزاك الله خيراً

“Apabila sekelompok orang berbuat zholim kepadamu, sementara engkau berkeinginan memaafkan mereka, engkau akan memperoleh pahala. Engkau juga akan meraih kebaikan yang agung dan keutamaan yang besar..

Sebab, Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

وَأَنْ تَعْفُوا أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى [البقرة:237]،

“Adapun sikap kalian memberi maaf itu lebih menerapkan ketakwaan..” (Al-Baqoroh: 237)

Demikian pula Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

ما زاد الله عبداً بعفو إلا عزا

“Allah tidak akan mengaruniai seorang hamba yang memberi maaf selain tambahan kemuliaan..”

Begitu pula firman Allah Jalla wa ‘Alaa,

فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ [الشورى:40]

“Barang siapa memberi maaf dan berbuat baik, pahalanya Allah yang menanggungnya..” (Asy-Syura: 40)

Jadi, engkau memperoleh kebaikan yang besar..

Oleh karena itu, apabila mereka berbuat zholim kepadamu dalam bentuk gunjingan, harta, cercaan, atau semisalnya, kemudian engkau (justru) memaafkan mereka, sungguh engkau akan memperoleh pahala dan balasan kebaikan dari Allah..”

ref :
https://binbaz.org.sa/fatwas/12681/فضاىل-العفو-وطريقته

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

60 Hari Menjelang Ramadhan 1444 Hijriyah

hari ini Senin tanggal 23 Januari, bertepatan dengan tanggal 01 Rojab, atau sekitar 60 hari menjelang tibanya bulan Romadhon 1444 hijriyah..bagi yang masih ada hutang puasa Romadhon 1443, silahkan mengatur jadwal pelunasan hutang puasa tsb..

nb : angka 60 hanya estimasi, penentuan tanggal 1 Romadhon 1444 hijriyah akan diputuskan oleh pemerintah setelah sidang isbath, semoga Allah memberikan kesempatan kepada kita semua untuk bertemu kembali dengan bulan Romadhon, aamiiin.

MUTIARA SALAF : Nasihat Mulia

Asy Sya’bi rohimahullah mengatakan bahwa Ali bin Abi Tholib rodhiyallahu ‘anhu berkata..

“Wahai sekalian manusia, ambillah kalimat-kalimat ini dariku. Seandainya kalian menaiki binatang tunggangan hingga mencelakainya, kalian belum tentu mendapati yang semisalnya.

لاَ يَرْجُوَنَّ عَبْدًا إِلاَّ رَبَّهُ، وَ يَخَافَنَّ إِلاَّ ذَنْبَهُ، وَ يَسْتَحِي إِذَا لَمْ يَعْلَمْ أَنْ يَتَعَلَّمَ، وَلاَيَسْتَحِي إِذَا سُئِلَ عَمَّا يَعْلَمُ أَنْ يَقُولَ: لا أَعْلَمُ؛ وَاعْلَمُوا أَنَّ الصَّبْرَ مِنَ الْإِيْمَانِ بِمَنْزِلَةِ الرَّأْسِ مِنَ الْجَسَدِ، وَ خَيْرَ فِي الْجَسَدِ رَأْسَ لَهُ

Hendaknya seorang hamba benar-benar :

● tidak berharap selain kepada Robbnya,

● tidak kawatir selain terhadap dosanya,

● tidak malu untuk belajar ketika tidak tahu,

● tidak malu untuk menjawab, ‘Aku tidak tahu..’ ketika ditanya tentang sesuatu yang tidak diketahuinya,

Dan ketahuilah, kedudukan sabar bagi iman layaknya kepala bagi jasad tidak ada kebaikan pada jasad yang tidak berkepala..”

[ Shifatush Shofwah – 121 ]

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

MUTIARA SALAF : Sikap Seorang Mukmin Dalam Menghadapi Masalah

Ibnul Qoyyim rohimahullah mengatakan,

“Sesungguhnya semua (musibah) yang menimpa orang-orang yang beriman dalam (menjalankan agama) Allah Ta’ala senantiasa disertai dengan sikap ridho dan ihtisaab (mengharapkan pahala dari-Nya)..

Kalaupun sikap ridho tidak mereka miliki maka pegangan mereka adalah sikap sabar dan ihtisaab. Ini (semua) akan meringankan beratnya beban musibah tersebut. Karena, setiap kali mereka menyaksikan (mengingat) balasan (kebaikan) tersebut, akan terasa ringan bagi mereka menghadapi kesusahan dan musibah tersebut..

Adapun orang-orang kafir, mereka tidak memiliki sikap ridho dan tidak pula ihtisaab. Kalaupun mereka bersabar (menahan diri), maka (tidak lebih) seperti kesabaran hewan-hewan (ketika mengalami kesusahan)..

Sungguh Allah Ta’ala telah mengingatkan hal ini dalam firman-Nya yang artinya,

”Janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka (musuhmu). Jika kamu menderita kesakitan, maka sesungguhnya merekapun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu mengharap dari Allah apa yang tidak mereka harapkan..”

(Qs an-Nisaa/4:104)

Jadi, orang-orang Mukmin maupun kafir sama-sama menderita kesakitan, akan tetapi orang-orang Mukmin teristimewakan dengan pengharapan pahala dan kedekatan dengan Allah Ta’ala..”

[ Ighootsatul Lahfaan – hal 421-422 ]

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

Nasihat Dalam Mencari Istri

Imam Ahmad bin Hambal rohimahullah berkata,

“Jika seorang pria melamar seorang wanita, hendaklah menanyakan kecantikannya lebih dahulu..

Jika wajahnya cantik baru dia tanyakan tentang agamanya, kalau agamanya baik hendaklah menikahinya, kalau tidak baik maka dia menolak karena sebab agamanya..

Dan jangan sampai dia menanyakan agamanya terlebih dahulu, kalau baik baru menanyakan kecantikannya, lalu kalau ternyata dia tidak cantik dia tolak, sehingga menolaknya karena si wanita tidak cantik, bukan disebabkan karena agamanya yang kurang baik..”

(Al Inshaaf – 12/206)

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

Tentang Keutamaan Membaca Qs Al Kahfi Di Hari Jum’at

Ga boleh baca surat AL-KAHFI di hari Jum’at..?!

=====

Tidak bisa dipungkiri, setelah keluarnya hasil sidang dewan fatwa tentang hadits keutamaan membaca surat Al-Kahfi di hari Jum’at, banyak yang memahami dilarang membaca surat al-Kahfi di hari Jum’at..!

Padahal sebenarnya tidak demikian.

Beberapa poin yang bisa disimpulkan dari hasil sidang Dewan Fatwa tentang itu adalah sebagai berikut :

1. Hadits tentang keutamaan membaca surat al-Kahfi di hari atau malam Jum’at saja, derajatnya lemah sekali.

2. Yang shohih adalah atsar dari sahabat Abu Sa’id al-Khudri rodhiallahu ‘anhu, yang menjelaskan tentang keutamaan membaca surat al-Kahfi secara umum, apapun harinya .. dan keutamaannya yang shohih adalah bahwa pembacanya mendapatkan cahaya dari tempat dia membaca sampai ke baitullah (ka’bah).

3. Atsar ini bisa dihukumi marfu’ (dianggap sebagai hadits), karena berkaitan dengan sesuatu yang ghoib yang tidak ada celah ijtihad di dalamnya.

4. Atsar ini tidak melarang kita membaca surat Al-Kahfi di hari Jum’at .. tapi menjelaskan bahwa keutamaan itu bukan hanya di hari Jum’at saja.

5. Bagi yang ingin membaca surat Al-Kahfi di hari Jum’at, maka tidak ada masalah, sebagaimana bila dia ingin membacanya di hari lain juga tidak masalah.

Bahkan, yang saya pahami, bila dia menganggap membacanya di hari Jum’at lebih utama, maka tidak ada masalah juga .. bukan karena dasar hadits lemah yang membatasi keutamaan itu di hari Jum’at .. tapi karena dalil umum bahwa hari Jum’at adalah termasuk hari yang paling mulia, dan amalan yang dilakukan di hari yang lebih mulia maka menjadi lebih mulia, wallahu a’lam.

RINGKASNYA: Jangan meyakini bahwa keutamaan membaca Al-Kahfi itu ada di hari Jum’at saja .. karena yang shohih bahwa keutamaan itu ada di hari Jum’at dan juga hari-hari yang lainnya, wallahu a’lam.

Semoga bisa dipahami dengan baik, barokallahu fiikum.

✏️
Ustadz Dr. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Syarah Kitab Tauhid : 202 – 203 – 204

Simak penjelasan Ustadz Mizan Qudsiyah MA, حفظه الله تعالى berikut ini :

202.

203.

204.

 

ARTIKEL TERKAIT

Syarah Kitab Tauhid : KUMPULAN ARTIKEL

Menebar Cahaya Sunnah