SELESAI – Buk-Ber ‘Asyuro 1444 Hijriyah

JUM’AT SORE  – 29 DZULHIJJAH 1443 /  29 JULI 2022
.
Alhamdulillah alladzii bini’matihi tatimmush shoolihaat, dengan pertolongan Allah, kami akiri program buk-ber puasa ‘Arofah dan ‘Asyuro, jazaakumulahu khoyron atas partisipasinya semoga Allah memberikan balasan puasa ribuan jama’ah dan santri ma’had yang berpuasa ‘Arofah dan ‘Asyuro dan buka bersama pada kedua hari tsb.

Untuk program buk-ber berikutnya di bulan Muharrom 1444 Hijryah, insyaa Allah akan dimulai kembali program buk-ber puasa Senin Kamis (KLIK : DI SINI ) 

puasa ‘Asyuro – 10 Muharrom 1444
TAHAP 1 dan 2 : sebanyak 2,100 porsi insyaa Allah bagi sekitar 1,700 santri putra dan putri ma’had, berikut para pengajar dan asaatidz ma’had, plus 400 jama’ah yang tersebar di beberapa masjid/musholla.

Per porsi : Rp. 25,000, namun silahkan berapa saja partisipasinya dan tidak ada batas minimal, semoga Allah menerimanya dan memberikan kemudahan pelaksanaannya..

puasa ‘Arofah – 09 Dzulhijjah 1443SELESAI
dengan izin Allah, alhamdulillah telah terlaksana buk-ber puasa ‘Arofah, sebanyak 4,100 porsi bagi 4,100 jama’ah di 44 masjid dan lokasi buk-ber di beberapa kecamatan di Lombok Timur. Dokumentasi video buk-ber puasa ‘arofah 1443 h, klik : https://t.me/bbg_alilmu/16934

Dalam program ini, kami bekerjasama dengan Assunnah Peduli, Lombok Timur.

================

Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam bersabda (yang artinya),

1. “Puasa Arofah (9 Dzulhijjah), aku harapkan dari Allah, bisa menghapuskan dosa setahun sebelumnya dan setahun setelahnya, dan Puasa Asyuro (10 Muharram), aku harapkan dari Allah, bisa menghapuskan dosa setahun yang lalu..” [HR. Muslim no. 1162 dan Abu Dawud no. 2425]
.
2. “Siapa yang memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga..” [HR. at-Tirmidzi no. 807]

3.  “Setiap orang akan berada di bawah NAUNGAN SEDEKAH-nya hingga diputuskan hukum antara manusia..”

Yazid berkata, “Abul Khair tidak pernah melewati satu haripun melainkan ia bersedekah dengan sesuatu walaupun hanya dengan sebuah kue ka’kah atau lainnya..” [HR. Ahmad – dishohihkan oleh Syaikh al Albani]

================

➡ untuk berpartisipasi, silahkan transfer ke :
BANK SYARIAH INDONESIA  (451)
no. rekening : 748 000 4447
an. AL ILMU TA’AWUN
.
konfirmasi (tidak wajib) :
0838-0662-4622

Daftar partisipasi s/d JUM’AT SORE pkl. 16.00 WIB

AA – 29 Juli – 1

Untuk laporan buk-ber periode sebelumnya bisa dilihat DI SINI

FAQ :
Menghadiahkan Pahala Sedekah Untuk Teman Karib Yang Sudah Meninggal
Siapa Saja Dari Ummat Islam Yang Bisa Dihadiahkan Pahala Sedekah..?
================
.
jazaakumullahu khoyron kepada para muhsinin/donatur yang telah dengan tulus karena Allah menyisihkan sebagian hartanya untuk menghidangkan ifthor bagi ratusan santri/santriwati dan ribuan jama’ah masjid yang melaksanakan ibadah puasa sunnah senin-kamis, ‘Arofah dan ‘Asyuro, semoga Allah menerimanya…
.
silahkan share ke kerabat, teman, dll karena terdapat juga pahala bagi orang yang menunjukkan jalan kebaikan.
.
Nabi shollallahu ’alayhi wa sallam bersabda:

.من دَلَّ على خيرٍ فله مثلُ أجرِ فاعلِه.

“Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya” [ HR. Muslim no. 1893 ]
.
.
Semoga Allah ‘azza wa Jalla senantiasa mudahkan urusan kita bersama… Aaamiiin

Do’a Yang Mengumpulkan Seluruh Perkara Kebaikan

Syaikh ‘Abdurrohman bin Nashir as-Sa’di rohimahullahu ta’ala mengatakan,

ومن دعاء النبي صلى الله عليه وسلم: “اللهم إني أسألك الهدى والتقى، والعفاف والغنى” فجمع الخير كله في هذا الدعاء.
فالهدى: هو العلم النافع. والتقى: العمل الصالح، وترك المحرمات كلها. وهذا صلاح الدين.
وتمام ذلك بصلاح القلب، وطمأنينته بالعفاف عن الخلق، والغنى بالله. ومن كان غنيا بالله فهو الغني حقا، وإن قلت حواصله. فليس الغني عن كثرة العرض، إنما الغنى غنى القلب. وبالعفاف والغنى يتم للعبد الحياة الطيبة، والنعيم الدنيوي، والقناعة بما آتاه الله.

“Di antara do’a yang Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam panjatkan adalah,

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى

ALLAAHUMMA INNII
AS ALUKAL-HUDAA
WAT-TUQOO WAL ‘AFAAFA
WAL-GHINAA

“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu al-Hudaa (petunjuk), at-Tuqoo (ketakwaan), al-‘Afaaf (terjaganya kehormatan), dan al-Ghinaa (rasa cukup)..”

Sungguh, Nabi sholallahu ‘alayhi wa sallam telah menghimpun seluruh perkara kebaikan dalam do’a ini :

al-Hudaa adalah ilmu yang bermanfaat.

at-Tuqoo adalah beramal saleh dan meninggalkan seluruh perkara yang haram.

Dua hal tersebut adalah kebaikan bagi agama seseorang.

Kebaikan agama akan sempurna jika dilengkapi dengan kebaikan dan ketentraman kalbu yang diraih dengan :

Al-‘Afaaf (menjaga kehormatan) dari bergantung kepada makhluk), dan

Al-Ghinaa (merasa cukup dengan pemberian Allah).

Barang siapa merasa cukup dengan pemberian Allah, dia adalah orang kaya secara hakiki, walaupun pemasukannya sedikit..

Tidaklah kekayaan itu dinilai dari banyaknya harta, akan tetapi kekayaan (yang hakiki) adalah rasa cukup dalam kalbu..

Dengan sifat al-‘Afaaf dan al-Ghinaa seorang hamba akan sempurna kebahagiaan hidupnya, kenikmatan duniawinya, dan merasa cukup dengan pemberian Allah..

[ Bahjah Quluub al-Abror wa Qurrotu ‘Uyuun al-Akhyar fi Syarh Jawami’ al-Akhbar – 116 ]

NB :

jangan lupa salah satu adab sebelum berdo’a adalah :

● memuji Allah dengan nama-nama-Nya yang Agung (contoh): yaa Hayyu yaa Qoyyuum

● lalu membaca sholawat (contoh): Allaahumma sholli wa sallim ‘alaa Muhammad

● lalu mulailah berdo’a..

MUTIARA SALAF : Menggapai Cita-Cita Dunia Dan Akhirat

Salah seorang shahabat, yaitu Imron bin Hushain rodhiyallahu ‘anhu, berkata,

ثلاث يدرك بهن العبد رغائب الدنيا والآخرة ، الصبر عند البلاء ، والرضا بالقضاء ، والدعاء في الرخاء

Tiga hal, hamba akan bisa mencapai cita-cita dunia dan akhirat dengannya:

1. Sabar ketika musibah
2. Rela dengan takdir
3. Berdo’a saat lapang

[ Az Zuhd – Imam Abu Dawud ]

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

MUTIARA SALAF : Antara Sabar, Ridho Dan Bersyukur

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rohimahullah berkata,

“Sabar (menghadapi musibah) hukumnya wajib berdasarkan kesepakatan para ulama..

Derajat yang lebih tinggi dari sabar adalah ridho terhadap ketetapan Allah. Sebagian ulama berpendapat bahwa hukum ridho saat menghadapi musibah adalah wajib. Sementara itu, ulama yang lain berpendapat hukumnya sunnah, dan inilah pendapat yang benar..

Berikutnya, tingkatan di atas ridho adalah bersyukur kepada Allah atas musibah tersebut.

Dia justru menilai bahwa musibah tersebut termasuk bagian dari nikmat Allah atasnya. Sebab, Allah menjadikan musibah tersebut sebagai sebab terhapusnya kesalahan-kesalahannya, terangkatnya kedudukannya, kembalinya kepada Allah, ketundukkannya serta kepasrahannya kepada Allah, dan sebab keikhlasannya dalam tawakalnya kepada Allah semata, juga berharapnya hanya kepada Allah bukan kepada makhluk-Nya..”

[ al-Furqon Bayna Auliya ar-Rohmana wa Auliya asy-Syaithon hlm. 143 ]

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

MUTIARA SALAF : Ujian Harta

Hasan al-Bashri rohimahullah berkata,

لو شاءَ اللهُ – عَزَّ وَجَلَّ – لجعلَكُمْ أغنياءَ لا فقيرَ فيكم، ولو شاءَ لجعلَكُمُ فقراءَ ولا غَنِيَّ فيكم، ولكنِ ابْتَلَى بعضَكُمْ ببعضٍ لِيَنْظُرَ كيفَ تَعْمَلُونَ.

“Jika Allah ‘azza wa jalla berkehendak, tentu Dia akan menjadikan kalian semua kaya, tidak ada yang fakir di antara kalian..

Jika Dia berkehendak pula, Dia akan menjadikan kalian semua fakir, tidak ada yang kaya di antara kalian..

Akan tetapi, (Dia menjadikan di antara kalian ada yang kaya dan ada yang fakir) untuk menguji sebagian kalian dengan sebagian yang lain, agar Dia melihat apa yang kalian perbuat..”

[ Adab al-Hasan al-Bashri wa Zuhduhu wa Mawa’izhuhu – 36 ]

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

MUTIARA SALAF : Kisah Seorang Pencuri

Seorang pencuri memasuki rumah Malik bin Dinar rohimahullah, kemudian dia mencari sesuatu yang bisa dia curi, akan tetapi dia tidak mendapatkan apapun.

Akhirnya dia melihat Malik bin Dinar yang sedang sholat.

Ketika Malik telah selesai dari salam dia berkata kepada pencuri tersebut, “Kamu mencari harta dunia (di tempat ini), namun kamu tidak mendapatkannya..? Apakah kamu sudah memiliki perbekalan akhirat..?”

Akhirnya pencuri tersebut mengikuti nasihat Malik bin Dinar dan duduk sejenak mendengarkan nasihat beliau hingga dia mencucurkan air matanya.

Setelah itu mereka berdua berangkat bersama ke masjid untuk sholat (berjama’ah).

Setiba di masjid, orang-orang merasa heran melihat keduanya sembari berkata, “Seorang alim besar bersama seorang gembong pencuri..? Ini tidak masuk akal..!”

Mereka kemudian bertanya kepada Malik bin Dinar kemudian beliau menjawab, “Dia datang dengan niat mencuri harta kami akan tetapi justru kami berhasil mencuri hatinya..”

[ Thoriiq Islami 2/144 – Karya Imam adz-Dzahabi rohimahullah ]

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

Kesalahan Dalam Memahami Ikhtilaf Mu’tabar

Sebagian orang memandang bahwa bila ikhtilafnya mu’tabar, berarti boleh dilakukan semua.

=====

Misalnya, “Qunut Subuh”, ketika dikatakan ikhtilafnya mu’tabar, maka kita boleh melakukan dua-duanya, yakni: boleh qunut boleh tidak, meski menurut kita pendapat yang tidak membolehkannya lebih kuat.

Sungguh ini kesalahan dalam memahami konsekuensi dari “ikhtilaf yang mu’tabar” .. kesalahan dalam hal ini akan menyeret kita kepada sikap plin-plan dan tidak konsisten dalam berpendapat, misalnya:

– Menyentuh wanita yang bukan mahram, apakah membatalkan wudhu atau tidak..?

– Membaca alfatihah bagi makmum ketika imamnya mengeraskan bacaannya, apakah wajib ataukah tidak..?

– Nikah tanpa wali, apakah boleh atau tidak..?

– Isbal, apakah boleh atau tidak..?

– Shalat berjama’ah, apakah wajib atau tidak..?

Ikhtilaf dalam masalah-masalah ini adalah mu’tabar, apakah itu berarti kita boleh melakukan dua-duanya..? Bayangkan bahayanya kesalahan pemahaman ini..!

Padahal ikhtilaf yang mu’tabar dalam fikih itu banyak .. begitu pula dalam masalah akidah.

Yang benar bahwa seseorang tetap tidak boleh melakukan sesuatu yang bertentangan dengan dalil dalam pandangannya, meskipun ikhtilafnya mu’tabar.

Kenyataan bahwa itu ikhtilaf yang mu’tabar, hanya mengharuskan kita untuk toleran di dalamnya dan tidak merendahkan pendapat lain .. bukan membenarkannya dan menjadikan kita boleh melakukan dua-duanya.

Karena bila ikhtilafnya bertentangan dan saling menafikan, tidak mungkin dua-duanya benar .. dan bila tidak mungkin dua-duanya benar, maka berarti salah satunya salah, dan kita tidak boleh melakukan sesuatu yang menurut kita salah.

Yang dibolehkan adalah melakukan salah satunya saja yang menurut dia dalilnya lebih kuat, wallahu a’lam.

Demikian, semoga bermanfaat dan Allah berkahi, amin.

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Syarah Kitab Tauhid : 91 – 92 – 93

Simak penjelasan berikut oleh Ustadz Mizan Qudsiyah MA, حفظه الله تعالى

91.

92.

93.

.
ARTIKEL TERKAIT
Syarah Kitab Tauhid : 94 – 95 – 96
Syarah Kitab Tauhid : KUMPULAN ARTIKEL

Pahala Haji Yang Sempurna

Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam bersabda,

مَنْ غَدَا إِلَى الْمَسْجِدِ لا يُرِيدُ إِلا أَنْ يَتَعَلَّمَ خَيْرًا أَوْ يُعَلِّمَهُ، كَانَ لَهُ كَأَجْرِ حَاجٍّ تَامًّا حَجَّتُهُ

“Siapa yang berangkat ke masjid (dan) yang ia inginkan hanyalah untuk belajar kebaikan atau mengajarkan kebaikan, maka ia akan mendapatkan pahala haji yang sempurna hajinya..”

[ HR. Ath-Thobroni – Al Mu’jam Al Kabir 8/ 94 ]

Syaikh Al-Albani menyatakan bahwa hadits ini hasan shohih, lihat Shohih At-Targhiib wat-Tarhiib, no. 86

MUTIARA SALAF: Salah Satu Cara Agar Bisa Qona’ah

Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda,

انْظُرُوا إِلَى مَنْ هو أَسفَل مِنْكُمْ وَلا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوقَكُم؛ فهُوَ أَجْدَرُ أَن لا تَزْدَرُوا نعمةَ اللَّه عَلَيْكُمْ

“Lihatlah orang yang di bawah kalian (dalam masalah dunia, -pent.) dan jangan melihat orang yang di atas kalian. Hal ini akan lebih mendorong kalian untuk tidak meremehkan nikmat Allah yang ada pada kalian..” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

● Syaikh Abdul Aziz bin Baz rohimahullah berkata,

فما من فقير إلا وهناك من هو أفقر منه، وما من مريض إلا وهناك من هو أشد مرضا منه، وما من ذي جاه إلا وهناك من هو أقل جاها منه، وهكذا المسائل الأخرى، إذا نظر إلى من دونه عرف قدر نعمة الله عليه، وكان هذا من أسباب شكره لها، وهذا في أمور الدنيا.

Tidak ada seorang fakir pun kecuali pasti ada yang lebih fakir daripada dirinya..

Tidak ada orang yang sakit, kecuali pasti ada orang yang lebih parah sakitnya daripada dirinya..

Tidak ada orang yang memiliki kedudukan, kecuali pasti ada orang yang lebih rendah kedudukannya daripada dirinya.. demikian seterusnya..

Ketika melihat orang yang lebih rendah daripada dirinya, dia akan mengetahui besarnya nikmat Allah yang ada padanya sehingga dia mensyukurinya. Melihat orang yang di bawah ini berlaku dalam urusan duniawi.

[ Syarh Kitaabul Jaami’ min Bulugh al-Maram hal. 32 ]

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

Menebar Cahaya Sunnah