Syarah Kitab Tauhid : 145 – 146 – 147

Simak penjelasan Ustadz Mizan Qudsiyah MA, حفظه الله تعالى berikut ini :

145.

146.

147.

.
ARTIKEL TERKAIT
Syarah Kitab Tauhid : KUMPULAN ARTIKEL

Salaf

Dewasa ini banyak orang berbicara tentang salaf, dan salafiy, alangkah baiknya jika kita mengenalinya.

Secara istilah Salaf adalah :
– para sahabat Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam,
– tabi’in (murid-murid sahabat), dan
– tabi’ut tabi’in (murid-murid tabi’in).

Generasi yang mendapat pujian dari Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:
“Sebaik-baik umat adalah generasiku, kemudian sesudahnya, kemudian sesudahnya..” (HR. Bukhari-Muslim).

Sedangkan salafiy adalah penisbatan diri kepada mereka.

Ketahuilah, bahwa para sahabat Rosulullah dan orang-orang yang mengikuti mereka akan mendapatkan banyak keutamaan, diantaranya:
1. Ridho Allah ta’ala
2. Allah siapkan surga untuk mereka.

Perhatikanlah firman Allah ta’ala berikut:

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ الله عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshor dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridho kepada mereka dan merekapun ridho kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.. “

(QS.At-Taubah: 100)

Alangkah baiknya, jika kita mendalami istilah, dan manhaj salaf dari kitab- kitab para ulama, bukan dari “katanya” atau dari orang-orang yang membenci dakwah salaf yang hanya nyomot dari sana sini kemudian mamahami dan menafsirkannya seenak sendiri.

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, حفظه الله تعالى

Jangan Merasa Aman Dari Fitnah

Jubair bin Nufair rohimahullah berkata,

“Aku masuk ke rumah Abud Darda rodhiyallahu ‘anhu di Himsh. Ternyata beliau sedang sholat. Setelah tasyahhud akhir beliau berlindung dari kemunafikan..

Setelah selesai sholat, aku berkata, “Wahai Abud Darda bagaimana mungkin engkau akan munafik..?”

Abud Darda rodhiyallahu ‘anhu berkata, “Ya Allah aku memohon ampunan-Mu (3x). Tidak akan aman dari bala (fitnah) orang yang merasa aman darinya. Demi Allah, ada orang yang tertimpa fitnah dalam sesaat hingga ia meninggalkan agamanya..”

(Kitab An Nifaq – karya Al Faryabi)

Sungguh naif orang yang merasa imannya telah kuat..
Lalu ia merasa aman dari fitnah..

Ia pun mendatangi tempat-tempat yang banyak fitnah..
Atau situs situs fitnah..
Tak terasa syubhat itu telah merusak hati dan keimanannya..

Ingatlah.. nila setitik dapat merusak susu sebelanga..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

Tahukah Kamu Kemana Matahari Itu Pergi..?

Dari Abu Dzarr rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,

وعَنْ أَبِي ذَر رضي الله عنه أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ، يَوْما: “أَتَدْرُونَ أَيْنَ تَذْهَبُ هذِهِ الشَّمْسُ؟” قَالُوا: اللّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ: “إِنَّ هذِهِ تَجْرِي حَتَّى تَنْتَهِيَ إِلَىٰ مُسْتَقَرِّهَا تَحْتَ الْعَرْشِ، فَتَخِرُّ سَاجِدَةً. فَلاَ تَزَالُ كَذٰلِكَ حَتَّى يُقَالَ لَهَا: ارْتَفِعِي، ارْجِعِي مِنْ حَيْثُ جِئْتِ، فَتَرْجِعُ. فَتُصْبِحُ طَالِعَةً مِنْ مَطْلعِهَا، ثُمَّ تَجْرِي حَتَّى تَنْتَهِيَ إِلَى مُسْتَقَرِّهَا تَحْتَ الْعَرْشِ، فَتَخِرُّ سَاجِدَةً. وَلاَ تَزَالُ كَذَلِكَ حَتَّى يُقَالَ لَهَا: ارْتَفِعِي، ارْجِعِي مِنْ حَيْثُ جِئْتِ، فَتَرْجِعُ. فَتُصْبِحُ طَالِعَةً مِنْ مَطْلِعِهَا. ثُمَّ تَجْرِي لاَ يَسْتَنْكِرُ النَّاسُ مِنْهَا شَيْئا حَتَّى تَنْتَهِيَ إِلَى مُسْتَقَرِّهَا ذَاكَ، تَحْتَ الْعَرْشِ. فَيُقَالُ لَهَا: ارْتَفِعِي، أَصْبِحِي طَالِعَةً مِنْ مَغْرِبِكِ. فَتُصْبِحُ طَالِعَةً مِنْ مَغْرِبِهَا”. فَقَالَ رَسُولُ اللّهِ صلى الله عليه وسلم: “أَتَدْرُونَ مَتَى ذَاكُمْ؟ ذَلِكَ حِينَ ﴿ لَا يَنْفَعُ نَفْسًا إِيمَانُهَا لَمْ تَكُنْ آمَنَتْ مِنْ قَبْلُ أَوْ كَسَبَتْ فِي إِيمَانِهَا خَيْرًا ﴾.

“Suatu hari Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tahukah kalian kemana matahari itu pergi..?

Mereka berkata, “Allah dan Rosul-Nya yang lebih mengetahui..”

Beliau bersabda, “Sesungguhnya ia pergi menuju tempatnya di bawah ‘Arsy. Lalu ia sujud, dan ia terus sujud sampai dikatakan, “Bangkitlah dan terbitlah dari arah kamu biasa terbit..” maka iapun terbit dari tempat terbitnya (dari timur)..

Kemudian ia berlari seperti biasa dan manusia pun tidak menganggapnya aneh hingga tempatnya di bawah ‘Arsy.. lalu dikatakan kepadanya, “Terbitlah dari barat..!” maka ia terbit dari barat..”

Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tahukah kalian kapan itu terjadi..? yaitu saat keimanan sudah tidak ada manfaatnya lagi bagi yang sebelumnya tidak beriman. Tidak pula kebaikan yang ia amalkan..”

(HR. Muslim)

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Apakah Ada Tidur Di Alam Kubur..?

Pertanyaan ini datang, karena ada yang mengatakan bahwa di alam kubur tidak ada tidur.

Alasannya: karena yang ada di alam kubur hanya nikmat atau adzab. Dan karena nama alam itu adalah “hayah barzakhiyyah” (kehidupan barzakh), sehingga tidak ada tidur di alam itu.

JAWABAN:
Ada beberapa jawaban untuk masalah ini:

1. Bila kita melihat dalil-dalil yang shohih, maka ada beberapa dalil yang menunjukkan bahwa di alam kubur itu ada tidur. Diantaranya:

A. Firman Allah Ta’ala tentang orang yang mendustakan hari akhir:

‎يَا وَيْلَنَا مَنْ بَعَثَنَا مِنْ مَرْقَدِنَا

“Celakalah kami, siapakah yang membangkitkan kami dari tempat tidur kami (kubur)..?!”

[QS. Yasin: 52]
__

● Imam Thobari rohimahullah ketika menafsiri ayat ini mengatakan:

‎قال هؤلاء المشركون لما نفخ في الصور نفخة البعث لموقف القيامة فردت أرواحهم إلى أجسامهم، وذلك بعد نومة ناموها

“Kata-kata itu dikatakan oleh kaum musyrikin ketika sangkakala ditiup untuk kebangkitan makhluk menuju padang mahsyar, maka ruh-ruh mereka dikembalikan ke jasad-jasad mereka, dan itu terjadi setelah tidur yang mereka lakukan..”

[Tafsir Thobari 20/531]
__

● Syeikh Assi’di rohimahullah juga menyampaikan hal yang senada dengan ini:

‎أي: من رقدتنا في القبور، لأنه ورد في بعض الأحاديث، أن لأهل القبور رقدة قبيل النفخ في الصور

“Maksudnya: (siapa yang membangkitkan kami) dari tidur kami di alam kubur..?!, karena telah datang dalam sebagian hadits, bahwa para ahli kubur itu memiliki masa tidur sebelum sangkakala ditiup..”

[Tafsir Assi’di 697]
__

B. Sabda Nabi Shollallahu ‘alaihi wasallam tentang perkataan malaikat Munkar dan Nakir kepada ruh seorang mukmin setelah selesai menjalani fitnah kubur dengan baik:

‎نم كنومة العروس الذي لا يوقظه إلا أحب أهله إليه، حتى يبعثه الله من مضجعه ذلك

“Tidurlah seperti tidurnya pengantin baru, yang tidak ada yang berani membangunkannya kecuali keluarga yang paling dia cintai, sampai Allah membangkitkannya dari tempat tidurnya itu..”

[HR. Attirmidzi: 1071, Hasan]
__

C. Perkataan sahabat Abu Hurairah rodhiyallahu ‘anhu tentang ruh orang mukmin di alam kubur:

‎فيقال: انظر إلى مقعدك، ثم يتبعه نوم كأنما كانت رقدة

“Lalu dikatakan kepadanya: ‘lihatlah kepada tempatmu (di surga) itu’. Kemudian ia tertidur, dan seakan-akan ia hanya tidur sejenak..”

Sedangkan tentang ruh musuh Allah, sahabat Abu Hurairah rodhiyallahu ‘anhu mengatakan:

‎ثم يقال له : نم كما ينام المنهوش .. الذي تنهشه الدواب والحيات

“Kemudian dikatakan kepadanya: ‘tidurlah seperti tidurnya orang yang manhusy’ .. yakni tidurnya orang yang digigiti banyak hewan dan ular..”

[HR. Albazzar dalam Musnadnya 9760, dan Abdullah bin Ahmad dalam Assunnah 1446, dengan sanad yang Hasan]
__

2. Adapun perkataan bahwa di alam kubur itu yang ada hanya nikmat atau azab saja, maka ini tidak menafikan adanya masa tidur untuk ahli kubur, karena seseorang tetap bisa merasakan nikmat atau azab, meski dia dalam tidurnya.

3. Adapun alam kubur disebut “kehidupan barzakh”, maka ini juga tidak menafikan adanya masa tidur untuk ahli kubur.

Hal ini sebagaimana “kehidupan dunia”, tetap ada masa tidur meski namanya “kehidupan dunia.”

Demikian, wallahu ta’ala a’lam.

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Hukum Menyebarkan Kisah Humor Dusta

Syaikh al-‘Utsaimin rohimahullah berkata,

“ومن أعظم الكذب: ما يفعله بعض الناس اليوم، يأتي بالمَقَالة كذباً يعلم أنها كذب، لكن من أجل أن يضحك الناس، وقد جاء في الحديث الوعيد على هذا،

“Termasuk kedustaan terbesar adalah perbuatan sebagian orang di zaman ini yang membawakan kisah humor dusta —dan dia tahu itu adalah dusta— untuk membuat orang lain tertawa..

Ada hadits yang mengancam perbuatan ini.

Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda,

ويلٌ للذي يحدِّثُ فيكذب ليضحك به القوم، ويلٌ لهُ، ويلٌ له

“Kebinasaan bagi seseorang yang bercerita dusta untuk membuat orang-orang tertawa.. kebinasaan baginya, kebinasaan baginya..!”

وهذا وعيدٌ على أمرٍ سهُل عند كثير من الناس.”

Inilah ancaman terhadap perbuatan yang dianggap remeh ini oleh banyak manusia..”

(Syarah Riyadhush-Sholihin, 1/297)

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

Syarah Kitab Tauhid : 142 – 143 – 144

Simak penjelasan Ustadz Mizan Qudsiyah MA, حفظه الله تعالى berikut ini :

142.

143.

144.

.
ARTIKEL TERKAIT
Syarah Kitab Tauhid : KUMPULAN ARTIKEL

Lebih Tersembunyi Dari Langkah Semut

Syaikh Muhammad Attamimi rohimahullah berkata,

الشرك قد يقع ممن هو أعلم الناس
‏وأصلحهم وهو لا يدري،
‏كما قال رسول الله صلى الله عليه وسلم
‏”الشرك أخفى من دبيب النمل”

“Kesyirikan bisa terjadi kepada orang yang paling berilmu dalam keadaan ia tidak tahu. Sebagaimana sabda Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam, “Syirik itu lebih tersembunyi dari langkah semut..”

(Al Jawahir Al Mudhiah, 23)

Para nabi khawatir dirinya jatuh kepada kesyirikan..
Mereka berlindung kepada Allah darinya..

Karena hati itu mudah berubah ubah..
Maka janganlah kita merasa aman dari syirik..
Walaupun kita telah mempelajari tauhid bertahun-tahun lamanya..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

MUTIARA SALAF : Saat Langit Dan Bumi Menangis

Sa’iid bin Jubair rohimahullah berkata,

“Seseorang mendatangi Ibnu ‘Abbas rodhiyallahu ‘anhumaa lalu bertanya, ‘Wahai Ibnu ‘Abbas, apakah pendapatmu tentang firman Allah,

فَمَا بَكَتْ عَلَيْهِمُ السَّمَاءُ وَالْأَرْضُ وَمَا كَانُوا مُنْظَرِينَ

’Maka langit dan bumi tidak menangisi mereka dan mereka pun tidak diberi penangguhan waktu..’ (QS. Ad-Dukhan/44: 29)

Apakah langit dan bumi itu akan menangisi seseorang..?’

Ibnu ‘Abbas rodhiyallahu ‘anhumaa berkata,

“Ya.. sesungguhnya tidak ada satupun dari makhluk kecuali memiliki pintu di langit yang menjadi tempat turunnya rezeki dan tempat naiknya amal perbuatan..

Apabila seorang mukmin itu meninggal dunia maka pintu langit tempat naiknya amal dan turunnya rezeki itu ditutup. Pada saat itulah langit merasa kehilangan dan ia pun menangis..

Demikian juga bumi, ketika tempat sholatnya yang ada di bumi yang sebelumnya dipakai untuk sholat dan berdzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla juga merasa kehilangan, maka bumi pun menangis..

Sementara itu Fir’aun dan kaumnya, karena tidak ada kebaikan yang mereka lakukan di bumi, serta tidak ada kebaikan dari mereka yang naik kepada Allah ‘Azza wa Jalla, maka langit dan bumi pun tidak menangis atas (kematiannya) mereka..”

[ Al Misbaahul Muniir Fii Tahdziib Tafsiir Ibnu Katsiir – 1096 dan Tafsir Ath-Thobari 22/34 ]

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

MUTIARA SALAF : Pentingnya Menjaga Waktu

Syaikh Muhammad bin Sholeh al-‘Utsaimin rohimahullah berkata,

”Sesungguhnya dunia ini semuanya akan berlalu, segala sesuatu yang ada di dalamnya merupakan pelajaran yang berharga..

Jika engkau melihat matahari keluar di pagi hari, kemudian tenggelam di sore hari, lalu menghilang, demikian juga wujudnya seorang insan di dunia, Ia muncul kedunia kemudian akan sirna..

Demikian pula jika kita melihat rembulan, ia muncul di awal bulan dalam bentuk bulan sabit kecil, kemudian terus bertambah membesar.. maka jika telah sempurna, iapun mulai mengecil sampai kembali seperti sedia kala..

Demikian juga kalau kita perhatikan bulan demi bulan, engkau dapati seorang insan memandang kalau bulan depan masih lama datangnya..

Misalnya ia mengatakan, ‘kita sekarang ada di bulan dua belas, bulan romadhon masih delapan bulan lagi, maka alangkah lamanya..!’

Tiba-tiba ia telah melewati romadhon dengan cepatnya. Tak terasa seolah-olah (kedatangan romadhon) itu seperti waktu sesaat di siang hari..

Demikian juga umur, umur seorang insan..

Engkau dapati ia memandang kamatian itu masih lama datangnya, ia masih memiliki angan-angan, tiba-tiba tali angan-angannya telah terputus.. maka sungguh telah terluput darinya segala sesuatu. Engkau dapati ia telah dipikul orang lain diatas keranda mayat, lalu iapun dikuburkan dalam tanah..

Lalu ia berfikir, ‘kapankah terjadinya keadaanku ini..? kapankah saya sampai pada keadaan ini..?’

Dan tiba-tiba ia telah sampai kepada (ajal)nya, seolah-olah tidaklah ia hidup di dunia ini kecuali baru sore tadi atau waktu dhuha-nya.

Aku mengatakan ini agar bisa memotivasi diriku sendiri dan saudara-saudaraku untuk bersegera memanfaatkan waktu, agar tidak menyia-nyiakan waktu, biarpun sedikit, kecuali dalam keadaan kita mengetahui perhitungan kita padanya..

apakah kita sudah mendekatkan diri kita kepada Allah dengan suatu ibadah..? ataukah kita tetap di tempat-tempat kita..?

Apa jadinya keadaan kita..?

Wajib bagi kita bersegera melakukan perkara-perkara yang bermanfaat sebelum hilang kesempatan.

Betapa dekatnya akhirat dari dunia. Dahulu Abu Bakr rodhiyallahu ‘anhu sering mempermisalkan (hal ini) dengan ucapan penyair,

”Setiap kita selalu berada di dekat keluarganya, sementara kematian itu lebih dekat daripada tali sandalnya..”

Aku memohon kepada Allah untuk diriku dan kalian husnul khotimah..

Semoga Allah menjadikan urusan kita kelak lebih baik dari yang telah berlalu..

Semoga Allah menolong kita untuk bisa selalu mengingat-Nya, bersyukur pada-Nya dan memperbagus ibadah kepada-Nya.. “

[ Liqoo-ul Baabul Maftuuh 2 – 179 ]

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

Menebar Cahaya Sunnah