Menjadi Utusan Setan

Terkadang kita tidak terasa menjadi utusan setan..
Dengan menyampaikan kepada teman kita bahwa si anu menggibahmu atau mencacimu..

Padahal itu adalah sikap namimah atau mengadu domba..
Padahal seharusnya kita menjadi penyebab berdamainya saudara-saudara kita..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Akibat Buruknya Batin Dan Lisan

Ibnu Hajar Al Haitami rohimahullah berkata,

وكل من رأيته سيء الظن بالناس، طالبًا لإظهار معايبهم؛
‏ فاعلم أن ذلك لخبث باطنه وسوء طويته.

“Semua orang yang kamu lihat:
– suka berburuk sangka kepada manusia dan,
– ingin menampakkan aib mereka

adalah karena busuknya batin dan hatinya..”

(Az Zawaajir 1/143)

Orang yang hatinya bening..
Akan bening pula hatinya kepada manusia..
Dan manusiapun selamat dari lisannya..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

130 Hari Menjelang Ramadhan 1444 Hijriyah

malam senin tanggal 13 November 2022, adalah bertepatan dengan tanggal 19 Robii’ul Aakhir, sekitar 130 hari menjelang tibanya bulan Romadhon 1444 hijriyah..

bagi yang masih ada hutang puasa Romadhon 1443, silahkan mengatur jadwal pelunasan hutang puasa tsb..

nb : angka 130 hanya estimasi, penentuan tanggal 1 Romadhon 1444 hijriyah akan diputuskan oleh pemerintah setelah sidang isbath, semoga Allah memberikan kesempatan kepada kita semua untuk bertemu kembali dengan bulan Romadhon, aamiiin.

Janganlah Meremehkan Kebaikan Atau Dosa Sekecil Apapun

Kebaikan yang kecil terkadang menjadi sebab masuk surga.

عَنْ أَبِي هُرَيرةَ رضيَ اللهُ عنه، عن النَّبيِّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم، قال: «لقد أُرِيتُ رجلًا يتقلَّبُ في الجنَّةِ في شَجَرةٍ قطعَها مِنْ ظَهْرِ الطريقِ، كانت تُؤذِي المسلمين.”

Dari Abu Hurairah rodhiyallahu ‘anhu, Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Aku diperlihatkan seorang laki laki yang mondar-mandir di dalam surga karena menyingkirkan pohon dari jalan yang mengganggu kaum muslimin..”

(HR Muslim)

Maka jangan anggap remeh kebaikan sedikitpun..

Sebagaimana jangan menganggap remeh dosa sekecil apapun..
Karena bisa jadi dosa yang dianggap remeh itu..
Menjadi penyebab ia masuk Neraka..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

MUTIARA SALAF : Cara Mendakwahi Pengagum Dunia

Imam Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

( الْعَارِف لَا يَأْمر النَّاس بترك الدُّنْيَا فَإِنَّهُم لَا يقدرُونَ على تَركهَا وَلَكِن يَأْمُرهُم بترك الذُّنُوب مَعَ إقامتهم على دنياهم فَترك الدُّنْيَا فَضِيلَة وَترك الذُّنُوب فَرِيضَة فَكيف يُؤمر بالفضيلة من لم يقم الْفَرِيضَة ؟!

“Orang yang berilmu tidak menyuruh manusia untuk meninggalkan dunia, karena mereka tidak mungkin meninggalkannya. Tapi suruh mereka untuk meninggalkan dosa dan biarkan mereka dalam (kesenangan) dunia..

Karena meninggalkan dunia hanya keutamaan sedangkan meninggalkan dosa adalah kewajiban. Bagaimana akan disuruh kepada keutamaan orang yang tidak melakukan kewajiban..?!

فَإِن صَعب عَلَيْهِم ترك الذُّنُوب فاجتهد أَن تحبب الله إِلَيْهِم بِذكر آلائه وإنعامه وإحسانه وصفات كَمَاله ونعوت جَلَاله فَإِن الْقُلُوب مفطورة على محبته فَإِذا تعلّقت بحبه هان عَلَيْهَا ترك الذُّنُوب والاستقلال مِنْهَا والإصرار عَلَيْهَا

Jika ia sulit meninggalkan dosa, maka bersungguh sungguhlah agar ia mencintai Allah dengan mengingatkan kenikmatan kenikmatan-Nya dan perbuatan ihsan-Nya serta sifat sifat-Nya yang sempurna. Karena hati itu difitrahkan untuk mencintai Allah. Apabila ia telah mencintai-Nya maka akan ringan baginya meninggalkan dosa..

الْعَارِف يَدْعُو النَّاس إِلَى الله من دنياهم فتسهل عَلَيْهِم الْإِجَابَة والزاهد يَدعُوهُم إِلَى الله بترك الدُّنْيَا فتشق عَلَيْهِم الْإِجَابَة

Orang yang berilmu mendakwahi manusia kepada Allah dari dunia mereka sehingga mudah bagi mereka menerima dakwah. Sedangkan orang yang zuhud mendakwahi mereka agar meninggalkan dunia sehingga sulit bagi mereka menerima dakwah..”

(Al Fawaid – Ibnu Qoyyim Al Jauziyah)

Penterjemah,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

Syarah Kitab Tauhid : 148 – 149 – 150

Simak penjelasan Ustadz Mizan Qudsiyah MA, حفظه الله تعالى berikut ini :

148.

149.

150.

.
ARTIKEL TERKAIT
Syarah Kitab Tauhid : KUMPULAN ARTIKEL

Hati Yang Berpaling

Hati seseorang begitu mudah berpaling, melepaskan buhul kokoh yang menghubungkan antara dia dan Tuhan-nya, manakala punya relasi, koneksi dan sandaran berupa makhluk yang berkuasa dan kaya raya.

Tawakkalnya pada Rabb pun semakin menipis, harapannya pada Sang Pemilik Jagad raya semakin mengendur, terkalahkan dengan dominasi makhluk lemah yang dianggapnya kuat.

Betapa tidak, sebab Allah dan pertolongan-Nya adalah bab ghaib yang kasat mata, tak terlihat kecuali dengan kacamata iman. Sementara makhluk yang dianggap kuat olehnya terlihat nyata, kongkrit berharta dan berpangkat.

Karena itu tak usah heran bila manusia berlari mengejar orang kaya dan berkedudukan, mendekat, mencari simpati dan keridhoan mereka. Menjilat dan membungkukkan tubuh untuk makhluk hina yang dianggapnya kuat.

Sekiranya dia sadar dan jernih hati mendudukkan masalah ini, niscaya tidak akan mungkin ia menghinakan diri, menaruh harapan dan impian pada makhluk hina sepertinya, meninggalkan Rabbul Alamin, Tuhan seru sekalian alam.

Tetapi kejahilan pada siapa Tuhan yang Ia sembah, keroposnya iman dengan perkara ghaib, menjadi sebab makhluk lebih yakin bergantung pada makhluk daripada bergantung pada Sang Khaliq.

Anda yang memiliki relasi orang kaya, terhormat, berpangkat dan bermartabat, hati-hatilah jangan sampai tertipu dan menggantungkan asa pada mereka dengan meninggalkan buhul tempat bergantung kepada yang maha kokoh, Allah pemilik seluruh makhluk.

Berapa banyak yayasan, lembaga, sekolah, madrasah dan dakwah, berjalan terseok-seok diatas ketidak pastian, manakala mereka menoleh orang kaya dan berpangkat, dan mengabaikan hamba-hamba Allah yang lemah dan tak berpunya, yang boleh jadi satu jari telunjukknya bilamana diangkat ke langit dan bersumpah dengan nama Allah, niscaya pasti Allah kabulkan do’anya.

Batam, 14 Robi’ul akhir 1444 / 9 Nov 2022

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Fairuz Ahmad Ridwan MA, حفظه الله تعالى

Keutamaan Memberikan Kemudahan

Dari Abu Hurairah rodhiyallahu ‘anhu, Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda,

“Barangsiapa yang melapangkan satu kesusahan dunia dari seorang Mukmin, maka Allah melapangkan darinya satu kesusahan di hari Kiamat.

Barangsiapa memudahkan (urusan) orang yang kesulitan (dalam masalah hutang), maka Allah ‘Azza wa Jalla memudahkan baginya (dari kesulitan) di dunia dan akhirat.

Barangsiapa menutupi (aib) seorang Muslim, maka Allah akan menutup (aib)nya di dunia dan akhirat. Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya.

Barangsiapa menempuh jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju Surga. Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah (masjid) untuk membaca Kitabullah dan mempelajarinya di antara mereka, melainkan ketenteraman akan turun atas mereka, rahmat meliputi mereka, Malaikat mengelilingi mereka, dan Allah menyanjung mereka di tengah para Malaikat yang berada di sisi-Nya..

Barangsiapa yang diperlambat oleh amalnya (dalam meraih derajat yang tinggi), maka garis keturunannya tidak bisa mempercepatnya..”

[ HR. Muslim no. 2699 dan Ahmad II/252, 325 ]

Pilihlah Yang Abadi

Sahabat ‘Utsman bin Affan rodhiyallahu ‘anhu berkata dalam salah satu khutbah yang beliau sampaikan di akhir-akhir umurnya,

إن الله إنما أعطاكم الدنيا لتطلبوا بها الآخرة ، ولم يعطكموها لتركنوا إليها ، إن الدنيا تفنى ، وإن الآخرة تبقى

“Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla memberikan dunia kepada kalian agar kalian dapat mencari akhirat dengannya..

Dan tidaklah Allah memberikan dunia agar kalian condong kepadanya. Sungguh, dunia akan binasa sementara akhirat akan abadi..

لا تبطرنكم الفانية ، ولا تشغلنكم عن الباقية, وآثروا ما يبقى على ما يفنى ؛ فإن الدنيا منقطعة ، وإن المصير إلى الله

Janganlah dunia yang fana ini membuat kalian menjadi sombong dan jangan pula (dunia ini) menyibukkan kalian dari yang abadi (akhirat)..

Pilihlah oleh kalian yang abadi daripada yang fana..! Karena dunia ini akan terputus dan sesungguhnya tempat kembali hanya kepada Allah..”

[ Taariikh Madiinah Dimisyq – 39/238 ]

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

Akibat Mendahulukan Akal Yang Banyak Keterbatasannya

Katanya : ‘masuk akal ga sih, mata kaki ketutupan kain masuk neraka, pakai akal dong sayang..!’

=====

Sanggahan:

1. Apa yang disebutkan di atas, adalah yang disebutkan hadits Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam dengan sanad yang sangat shohih.

عن أبي هريرة، عن النَّبيِّ ﷺ قَالَ: مَا أَسْفَلَ مِنَ الْكَعْبَيْنِ مِنَ الإِزار فَفِي النَّار

“Sarung yang di bawah kedua mata kaki, maka dia akan berada di neraka..” [HR. Bukhari 5787]

Sehingga kewajiban kita sebagai seorang mukmin adalah sami’na wa atho’na (kami dengar dan kami ta’at) .. bukan kami dengar tapi kami harus pikir-pikir dulu, masuk akal atau tidak..!

2. Ajaran agama tidak harus bisa dinalar oleh akal kita .. tapi yang jelas, tidak ada ajaran agama yang shohih yang dimustahilkan akal.

Kalau yang menurut kita tidak masuk akal itu harus ditolak, betapa banyak kabar-kabar dari syariat yang harus ditolak.

– Apakah tasbihnya semua makhluk masuk akal..? [Lihat di QS. Al-Isra’ 44]

– Apakah sujudnya matahari, bulan, bintang-bintang, dan pohon itu masuk akal..? [Lihat di QS Al-Hajj 18]

– Apakah nangisnya kayu pohon kurma bekas mimbar nabi itu masuk akal..? [Lihat di Shohih Bukhari 918]

– Bahkan bilangan-bilangan sholat kita apa masuk akal..?

– Banyak kabar tentang surga dan neraka tidak masuk akal..! Apakah kita tolak..?!

3. Kabar ini masih bisa di nalar oleh akal orang yang lurus .. bukankah sangat logis bila Allah menjadikan kain yang berada di bawah mata kaki berada di neraka bersama orang yang mengenakannya .. dimana sisi tidak masuk akalnya..?!

4. Para sahabat dahulu menerima hadits ini, dan tidak ada dari mereka yang mengatakan ini tidak masuk akal, kemudian menolaknya.. lalu apakah orang ini lebih berakal daripada para sahabat Nabi..?!

Begitu pula para ulama dari madzhab empat menerima hadits ini dengan baik.. tidak ada yang menolaknya dengan dalih tidak masuk akal.

Lalu ikut siapakah dia..?
Mana akhlaqnya terhadap Nabi -shollallahu ‘alaihi wasallam- dan tuntunannya..?
Pantaskah tuntunan Nabi -shollallahu ‘alaihi wasallam- ditertawakan..?

Kepada orang yang seperti ini dan semisalnya, saya berpesan sayangilah diri Anda .. kalau benci kepada orang lain, maka jangan salahkan haditsnya yang shohih, karena itu akan berakibat kebinasaan .. wallahul musta’an.

5. Bila terlihat ada pertentangan, antara akal dan nash, maka kita harus dahulukan nashnya.

Karena akal bisa salah, sedang nash yang valid dan shohih tidak mungkin salah.

Sebagian ulama mengumpamakan, hubungan antara manusia, akal dan nash itu seperti hubungan antara seorang yang mencari obat penyakitnya, penunjuk dokter ahli, dan dokter.

Jika ada orang sakit perut, lalu ia bertanya kepada orang yang tahu dokter ahli dalam sakit perut, lalu dia mengarahkan orang yang sakit itu kepada dokter ahli, dan akhirnya dia dapat resep obat dari dokter ahli itu .. kemudian orang yang sakit tadi ketemu lagi dengan orang yang menunjukkan dokter ahli, tapi sayang dia malah menyalahkan resep obat yang diberikan oleh dokter ahli .. maka siapakah yang harus dia percaya..? dokternya, ataukah orang yang menunjukkan dia kepada dokter ahli tersebut..? tentunya dia harusnya lebih percaya kepada dokter ahlinya, walaupun dia tahu dokter ahli dari orang tersebut.

Begitu pula dengan manusia, bila dia memahami wahyu dengan akalnya, tapi akalnya tidak bisa menerima keterangan yang ada dalam wahyu .. maka harusnya manusia lebih percaya kepada wahyunya, bukan kepada akalnya. Karena wahyu itu dari Allah, sedangkan akalnya banyak keterbatasannya. wallahu a’lam.

Semoga bermanfaat dan Allah berkahi.

Ditulis oleh,
Ustadz DR Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Menebar Cahaya Sunnah