Keberkahan Rezeki Dan Umur

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

وليست سعـةُ الـــرزق والعمل
‏بكثرته، ولا طولُ العمر بكثرة
‏الشهور والأعوم،
‏ولكن سعة الرزق والعمر بالبركة
‏فيه.

“Bukanlah banyaknya rezeki itu dengan banyaknya jumlah harta. . tidak pula panjangnya umur dengan banyaknya bulan dan tahun.. namun keberkahan rezeki dan umur adalah dengan banyak keberkahan padanya..”

(Ad Daa wad Dawaa hal. 201)

Keberkahan itu adalah banyaknya kebaikan pada sesuatu..

Harta dan umur yang berkah adalah harta yang banyak digunakan untuk kebaikan dengan sedekah dan membantu orang lain.. dan umur yang selalu dimakmurkan dengan ketaatan..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

Perintah Sholat Lima Waktu Dalam Alqur’an

Katanya: “Dalam Alquran tidak ada perintah sholat lima waktu..!”

=====

Sungguh perkataan ini benar-benar menelanjangi orang yang mengatakannya, bahwa dirinya benar-benar minim pengetahuan tentang tafsir Quran.

Sebenarnya banyak sekali ayat Al-Quran yang menjelaskan tentang dalil wajibnya sholat lima waktu, tapi karena kalau disebutkan semuanya menjadi sangat panjang, maka di sini saya sebutkan satu saja.

Allah ta’ala berfirman:

حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَى

“Jagalah sholat-sholat kalian, (terutama) sholat wustho (asar)..” [Al-Baqarah: 238].

Di ayat ini terdapat “perintah” menjaga sholat-sholat, dan sebagaimana dalam ushul fikih; pada asalnya perintah menunjukkan “kewajiban”.

Dan yang dimaksud dengan “sholat-sholat” di ayat ini adalah “sholat lima waktu” sebagaimana disebutkan para ahli tafsir.

Sehingga maksud ayat ini adalah “kewajiban menjaga sholat lima waktu..”

Lihatlah kitab-kitab tafsir, kita akan dapati para ulama menegaskan bahwa ayat ini menjelaskan “perintah menjaga sholat lima waktu..”

⚉ Di dalam tafsir Muqatil bin Sulaiman (wafat 150 H) [jilid 1, hal 201] disebutkan:

حافِظُوا عَلَى الصَّلَواتِ الخمس فِي مواقيتها وَالصَّلاةِ الْوُسْطى يعني صلاة العصر

“Jagalah sholat LIMA waktu di waktu-waktunya, (terutama) sholat wustho, yakni sholat asar..”

⚉ Di dalam Tafsir Arrazi (w 606 H) [jilid 6, hal 482] disebutkan:

فهذه الآية دالة على وجوب الصلوات الخمسة بهذا الطريق

“Maka ayat ini menunjukkan wajibnya sholat LIMA waktu dengan cara ini..”

⚉ Di dalam tafsir Jalalain [hal: 52] disebutkan:

حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَات الْخَمْس بِأَدَائِهَا فِي أَوْقَاتهَا وَالصَّلَاة الْوُسْطَى

“Jagalah sholat LIMA waktu, dengan menjalankannya di waktu-waktunya, (terutama) sholat wustho-nya..”

Lihatlah, bagaimana gamblangnya penjelasan para ulama tentang “perintah sholat lima waktu” dari ayat ini.

Dan ayat-ayat seperti ini banyak dalam Alquran. Hanya orang yang buta tafsir yang mengatakan, tidak ada perintah sholat lima waktu dalam Al-Quran.

Semoga Allah memperbaiki keadaan kita semua, amin.
Silahkan dishare, semoga bermanfaat dan Allah berkahi..

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Merasa Khawatir Amalnya Tidak Diterima

Allah Ta’ala berfirman:

وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوا وَّقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ* أُوْلَئِكَ يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَهُمْ لَهَا سَابِقُونَ

“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka, mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya..”

(Al Mukminun 60-61)

‘Aisyah rodhiyallahu ‘anha bertanya kepada Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam, “Apakah yang dimaksud oleh ayat ini adalah orang yang mencuri dan minum arak..?”

Beliau bersabda,

لا يا بنت الصديق ولكنهم الذين يصومون ويصلون ويتصدقون وهم يخافون أن لا يقبل منهم.

“Bukan wahai anak Ash Shiddiq.. akan tetapi mereka adalah orang orang yang berpuasa, sholat, dan bersedekah. Namun mereka merasa khawatir amalnya tidak diterima..”

(HR Attirmidzi dan Ibnu Majah dan dishohihkan oleh Syaikh al-Albani)

Khawatir tidak diterima bukan karena berburuk sangka kepada Allah.. namun karena merasa ia belum melaksanakan ibadah dengan sebaik-baiknya..

Lalu kekhawatiran tersebut membangkitkan kesungguhan tuk terus memperbaiki ibadahnya..

Penulis,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

ARTIKEL TERKAIT
Kumpulan HADITS

Bolehkah Mengucapkan Salam Kepada Muslimah Yang Non Mahram..?

Salam merupakan syariat yang sangat mulia, sangat besar pahalanya, dan sangat besar pengaruh baiknya.

Namun demikian, dalam keadaan tertentu bisa jadi membuka pintu fitnah (godaan), misalnya bila diucapkan kepada akhwat non mahram. Oleh karena itu, kita membutuhkan penjelasan dari para ulama bagaimana menyikapi hal ini, agar maslahat syariat Salam tidak dimanfaatkan setan untuk membuka fitnah.

Jawabannya ada pada nukilan Imam Nawawi -rohimahullah- dari Imam Abu Sa’d Al-Mutawalli -rohimahullah- berikut ini:

وإن كانت أجنبية، فإن كانت جميلة يخاف الافتتان بها لم ‏يسلم الرجل عليها، ولو سلم لم يجز لها رد الجواب، ولم تسلم هي عليه ابتداء، فإن سلمت ‏لم تستحق جوابًا، فإن أجابها، كره له.
وإن كانت عجوزًا لا يفتتن بها جاز أن تسلم على ‏الرجل، وعلى الرجل رد السلام عليها.
وإذا كانت النساء جمعًا فيسلم عليهن الرجل، أو ‏كان الرجال جمعًا كثيرًا فسلموا على المرأة الواحدة جاز، إذا لم يخف عليه، ولا عليهن، ولا ‏عليها، ولا عليهم فتنة.

“Apabila dia adalah wanita ajnabiyah (non mahram), maka :

(a) Apabila dia cantik, dan laki-lakinya khawatir terfitnah dengannya, maka yang laki-laki tidak boleh mengucapkan salam kepada dia. Bila yang laki-laki mengucapkan salam kepadanya, maka dia tidak boleh menjawabnya.

Dia juga tidak boleh memulai mengucapkan salam kepada laki-laki itu.. apabila dia mengucapkan salam, maka salamnya tidak harus dijawab. Apabila laki-laki itu menjawabnya, maka hukumnya makruh.

(b) Apabila wanita itu sudah tua, dan tidak mendatangkan fitnah, maka dia boleh mengucapkan salam kepada laki-laki, dan yang laki-laki wajib menjawab salamnya.

(c) Apabila wanitanya banyak dan bersama-sama, lalu laki-lakinya mengucapkan salam kepada mereka.. atau apabila laki-lakinya banyak dan bersama-sama, dan mereka mengucapkan salam kepada satu wanita.. maka boleh, bila tidak khawatir mendatangkan fitnah kepada laki-laki yang satu, atau wanita yang banyak, atau wanita yang satu, atau laki-laki yang banyak..”

[Al-Adzkar, hal 402]

—–

Lihatlah, bagaimana Islam sangat memperhatikan masalah fitnah ini.. agar pintu fitnah ini benar-benar tertutup rapat dan tidak menjerumuskan manusia ke dalam jurang kehinaan dan kebinasaan.

Inti penjelasan di atas adalah bahwa Salam pada asalnya disunnahkan, kecuali apabila menimbulkan fitnah, wallahu a’lam.

Silahkan dishare .. semoga bermanfaat dan Allah berkahi.

Ditulis oleh,
Ustadz Dr. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

MUTIARA SALAF : Amal Sholih Adalah Bangunan Dan Tauhid Adalah Pondasinya

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

مَن أراد علوَّ بنيانه، فعليه بتوثيق أساسه وإحكامه، وشدة الاعتناء به…
فالأعمال والدرجات بنيان، وأساسها الإيمان، ومتى كان الأساس وثيقًا حمَل البنيان واعتلى عليه، وإذا تهدَّم شيءٌ مِن البنيان سهُل تداركه، وإذا كان الأساس غيرَ وثيق لم يرتفع البنيان ولم يثبت، وإذا تهدَّم شيءٌ مِن الأساس سقط البنيان أو كاد.
فالعارف همته تصحيح الأساس وإحكامه، والجاهل يرفع في البناء مِن غير أساس، فلا يلبَثُ بنيانه أن يسقط

“Siapa yang ingin meninggikan bangunannya hendaklah ia mengokohkan pondasinya dan benar benar memperhatikannya..
Amal adalah bangunan sedangkan pondasinya adalah keimanan.. apabila pondasi kuat maka ia akan kuat menahan bangunan.. apabila bangunan rusak mudah untuk diperbaiki.

Sedangkan apabila pondasi yang rusak maka bangunan akan segera roboh..

Orang yang berilmu, keinginannya adalah mengokohkan pondasi.. sedangkan orang yang tak berilmu sibuk membangun bangunan tanpa memperhatikan pondasi.. maka tak lama bangunan itu roboh..”

[Al Fawaid hal. 204]

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

Teruslah Berjuang Dan Berkarya

Kita merasa sakit dan bersedih saat mengetahui dan melihat sendiri betapa banyaknya kebatilan.. Tapi, banyak memikirkan hal itu akan membunuh semangat dan mendatangkan putus asa.

Allah Ta’ala berfirman:

فَإِنَّ ٱللَّهَ یُضِلُّ مَن یَشَاۤءُ وَیَهۡدِی مَن یَشَاۤءُۖ فَلَا تَذۡهَبۡ نَفۡسُكَ عَلَیۡهِمۡ حَسَرَ ٰ⁠تٍۚ

“Karena sesungguhnya Allah akan menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan akan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Maka jangan sampai engkau biarkan dirimu binasa karena kesedihan terhadap mereka..” [Fathir 8]

Maka, harusnya kita terus beramal dan berkarya apapun keadaannya..! Adapun hasilnya, itu kembali kepada Allah semata.

Mari terus berkarya memperjuangkan Agama Allah ta’ala.. karena Allah ta’ala.. dan dengan cahaya dari Allah ta’ala.. semoga Allah memberkahi usaha kita, amin.

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Ingin Diakui

Terkadang…
Kita merasa sebagai pelopor dakwah..
Saat dakwah telah berkembang kita merasa bahwa ini hasil usaha kita.. Lalu merasa panas saat ada yang menyaingi..
Kitapun mengungkit kepada manusia bahwa kitalah pelopornya..
Tidakkah sadar bahwa semua itu pemberian Allah Azza wajalla…

Cukuplah Allah saja yang memberi pahala..
Kita tidak membutuhkan pengakuan manusia..
Dan Allahpun tidak membutuhkan amalan kita..
Allah pasti membela agama ini walaupun tanpa kita…

Mungkin…
Di awal kita berdakwah, kita ikhlas berharap pahala Allah semata..
Namun keikhlasan itu diuji saat hasil dakwah mulai terlihat..
Lalu muncul pegiat dakwah lainnya yang ingin turut berkiprah..
Orang yang ikhlas.. Ia akan gembira ketika melihat ada pegiat dakwah lain yang turut membantu dakwah…

Namun..
Setan sering membuat kita lalai..

Allahul Musta’an..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Merugi Tanpa Islam

Islam tidak memerlukan Anda.. bahkan Anda akan benar-benar merugi dan celaka tanpa Islam..!

Tentang Islam tidak memerlukan Anda, renungkan firman-Nya:

یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ مَن یَرۡتَدَّ مِنكُمۡ عَن دِینِهِۦ فَسَوۡفَ یَأۡتِی ٱللَّهُ بِقَوۡمࣲ یُحِبُّهُمۡ وَیُحِبُّونَهُۥۤ أَذِلَّةٍ عَلَى ٱلۡمُؤۡمِنِینَ أَعِزَّةٍ عَلَى ٱلۡكَـٰفِرِینَ یُجَـٰهِدُونَ فِی سَبِیلِ ٱللَّهِ وَلَا یَخَافُونَ لَوۡمَةَ لَاۤئمࣲۚ ذَ ٰ⁠لِكَ فَضۡلُ ٱللَّهِ یُؤۡتِیهِ مَن یَشَاۤءُۚ وَٱللَّهُ وَ ٰ⁠سِعٌ عَلِیمٌ

“Wahai orang-orang yang beriman..! Bila ada dari kalian yang murtad dari agamanya, maka (sebagai gantinya) Allah akan datangkan suatu kaum yang Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, mereka berlemah lembut terhadap orang-orang yang beriman, tetapi bersikap keras terhadap orang-orang kafir, mereka berjihad di jalan Allah, dan tidak takut kepada celaan siapa pun..” [Al-Ma’idah 54].

Adapun tentang Anda akan benar-benar merugi dan celaka tanpa Islam, maka renungkan firman-Nya:

فَمَن شَاۤءَ فَلۡیُؤۡمِن وَمَن شَاۤءَ فَلۡیَكۡفُرۡۚ إِنَّاۤ أَعۡتَدۡنَا لِلظَّـٰلِمِینَ نَارًا أَحَاطَ بِهِمۡ سُرَادِقُهَاۚ وَإِن یَسۡتَغِیثُوا۟ یُغَاثُوا۟ بِمَاۤءࣲ كَٱلۡمُهۡلِ یَشۡوِی ٱلۡوُجُوهَۚ بِئۡسَ ٱلشَّرَابُ وَسَاۤءَتۡ مُرۡتَفَقًا

“Barangsiapa menghendaki (beriman), silahkan dia beriman, dan barangsiapa menghendaki (kafir), silahkan dia kafir. Sungguh Kami telah siapkan api neraka bagi orang-orang zalim, yang gejolaknya mengepung mereka. Jika mereka meminta (minuman), mereka akan diberi air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan wajah. (Itulah) minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek..” [Al-Kahfi 29].

Penulis,
Ustadz Dr. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Bolehkah Mengatakan Si Fulan “Wali”..?

Syeikh Al-‘Utsaimin -rohimahullah- mengatakan,

“Semua kaum muslimin wajib menimbang amalan seseorang yang mengaku sebagai Wali dengan apa yang ada dalam Al-Kitab dan As-Sunnah. Apabila sesuai dengan Al-Kitab dan As-Sunnah, maka diharapkan dia (benar) Wali Allah.. adapun bila menyelisihi Al-Kitab dan As-Sunnah, maka (jelas) dia bukan Wali Allah.

Allah telah menyebutkan timbangan yang adil untuk mengetahui Wali-Nya, yaitu dalam firman-Nya,

ألا إن أولياء الله لا خوفٌ عليهم ولا هم يحزنون ♡ الذين آمنوا وكانوا يتقون

“Ingatlah, sesungguhnya para Wali Allah, tidak ada ketakutan sedikit pun atas mereka, dan mereka juga tidak akan bersedih, yaitu mereka yang beriman dan bertaqwa..” [Yunus: 62-63]

Maka siapa pun yang beriman dan bertaqwa, berarti dia Wali Allah. Sebaliknya siapa pun yang tidak demikian, maka dia bukan Wali Allah..

Meski demikian, kita tidak boleh memastikan orang tertentu sebagai Wali, tapi kita boleh mengatakan secara umum, “siapa saja yang beriman dan bertaqwa, maka dia adalah Wali Allah..”

[Fatawa Muhimmah, hal 83-84]
—–
Mengapa tidak boleh menilai orang lain sebagai Wali..?

Karena Allah ta’ala telah berfirman:

فَلَا تُزَكُّوۤا۟ أَنفُسَكُمۡۖ هُوَ أَعۡلَمُ بِمَنِ ٱتَّقَىٰۤ

“Jangan sampai kalian memuji diri kalian, (karena) Dia-lah yang lebih tahu siapakah orang yang (benar-benar) bertaqwa..” [An-Najm 32]

Ya, kalau memuji diri sendiri saja tidak boleh, padahal yang lebih tahu tentang seseorang adalah dirinya sendiri .. apalagi memuji orang lain (person tertentu) sebagai Wali..!

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

Menebar Cahaya Sunnah