#COVID_19 : Tentang Tidak Sholat Berjama’ah Di Masjid Saat Pandemi Virus Corona

Pertanyaan:

Assalamualaikum ustadz, ana mau bertanya di daerah ana tidak ada yang positif korona, dan pemerintah sudah mengeluarkan surat himbauan agar tidak ada sholat berjamaah di masjid, dan di jalan2 juga mereka menghimbau agar tidak melaksanakan sholat Jum’at. Kemudian ada mesjid di komplex ana tinggal tetap melakukan sholat berjamaah. Dan ana tidak ikut sholat Jum’at dan sholat berjamaah di masjid, apakah perbuatan ana yang melakukan sholat di rumah apakah di terima ibadah sholat ana.

Mohon pencerahannya ustadz.

Jawaban:

Ikuti himbauan pemerintah, tidak adanya yang terjangkit alhamdulillah harus bersyukur kepada Allah, tapi karena ini merupakan pandemi tetap kita berjaga-jaga dan berhati-hati, karena sifat dari virus ini sangat ajiib, orang bisa terjangkiti walaupun ia terkadang tidak merasakannya, yang kasihan para manula dan orang yang sakit sekalinya terjangkiti sangat berbahaya bagi mereka, waspada dalam hal ini lebih diutamakan.. dengan kaedah

المتوقع ينزل منزلة الواقع

➡️ Sesuatu yang diprediksikan bakal terjadi dihukumi dengan sesuatu yang terjadi

درء المفاسد مقدم على جلب المصالح

➡️ Mencegah mafsadah lebih didahulukan daripada mengambil maslahat

Semoga manfaat

Dijawab oleh,
Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, حفظه الله تعالى

ref: https://www.facebook.com/abuyalakurnaedicom/

JANGAN LEWATKAN YANG BERIKUT INI:
Kumpulan Artikel Terkait Covid-19

#COVID_19 : Berniat Mengharapkan Pahala Dari Musibah Dunia

Syaikh al-‘Utsaimin rohimahullah berkata,

“Ketahuilah bahwa sesungguhnya musibah-musibah menggugurkan dosa-dosa, meninggikan derajat, dan menghasilkan pahala, dengan syarat mengharapkan pahala..

oleh karena inilah sepantasnya bagi seseorang ketika ditimpa musibah-musibah dunia untuk meniatkan mengharapkan pahala kepada Allah dengan hal itu, jadi jika dengan hal itu dia mengharapkan pahala maka di samping menggugurkan dosa-dosa padanya juga terdapat pahala dan meninggikan derajat..”

[ Syarh Mukhtashor at-Tahrir, hlm. 636 ]

JANGAN LEWATKAN YANG BERIKUT INI:
Kumpulan Artikel Terkait Covid-19

MUTIARA SALAF : Dunia Itu TIGA Hari

Hasan al-Bashri rohimahullah berkata,

“Dunia itu, bila engkau memikirkannya, maka ada TIGA hari padanya..
satu hari berlalu (kemarin), engkau tidak dapat lagi mengharapkannya,
satu hari yang tengah engkau jalani (hari ini), semestinya engkau memanfaatkannya dengan seksama, dan
satu hari lagi yang akan datang (esok), engkau tidak tahu akan masih mengalaminya atau tidak, dan engkau tidak tahu mungkin engkau akan meninggal sebelumnya..”

[ Hilyatul Auliya’ – 4/36 ]

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

#COVID_19 : Saling Mendo’akan

Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam bersabda (yang artinya),

“Barangsiapa diberi suatu kebaikan, lalu ia mengucapkan kepada orang yang memberi kebaikan tersebut, ‘jazaakallahu khoyron (*), maka sesungguhnya hal itu sudah mencukupi dalam menyatakan rasa syukurnya..” [ HR. at-Tirmidzi ] Shohiih at-Targhib wat-Tarhib 969

➡️ mumpung lagi #dirumahaja setiap hari lagi.. biasakanlah saling mengucapkan do’a antara suami/istri, orangtua/anak..

caranya mudah..

ucapkan salam saat masuk rumah, saat bertemu dan juga berdo’a saat ada perbuatan baik yang dilakukan seperti menyiapkan sarapan, membersihkan rumah dll

jazaakallahu khoyron – kepada pria
jazaakillahu khoyron – kepada wanita

jazaakumullohu khoyron – kepada sejumlah pria lebih dari 2 orang
jazaakunnallahu khoyron – kepada sejumlah wanita lebih dari 2 orang

jangan dipotong jadi “jazaakallahu” saja ya.. karena:

1. tidak sesuai ajaran Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam yang terdapat dalam hadits (gambar 2) yaitu mengucapkan “jazaakallahu khoyron” yang artinya “semoga Allah membalasmu dengan kebaikan/khoyron..”

2. kalimat “jazaakallahu” saja itu artinya “semoga Allah membalasmu..” naah.. membalasmu itu dengan apa..? keburukan atau kebaikan..? ya tentunya kita ingin mendo’akan kebaikan.. ya..

wallahu a’lam

#Covid_19
#dirumahaja
#salam

JANGAN LEWATKAN YANG BERIKUT INI:
Kumpulan Artikel Terkait Covid-19

Bagaimana Menjawab Salam Di Sosial Media..?

PERTANYAAN:

“Assalamu’alaikum, Kita mendengar bahwa jawab salam hukumnya wajib, lalu apa hukum menjawab salam di sms? Dan bagaimana caranya ? Matur nuwun Pak Ustadz..”

Dari: Fulan

JAWABAN:

Wa ‘alaikumussalam

Pertanyaan semacam ini pernah disampaikan kepada Syaikh Abdurahman bin Nashir Al-Barrak. Jawaban yang beliau sampaikan,

الحمد لله؛ نعم يجب رد السلام مشافهة كان أو رسالة كلاما أو كتابة؛ لعموم الأدلة، كقوله تعالى: وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا ، ولحديث البراء بن عازب رضي الله عنه قال: أمرنا النبي صلى الله عليه وسلم بسبع؛ وفيه: “ورد السلام”

“Alhamdulillah..,

Betul wajib menjawab salam, baik salam yang disampaikan secara lisan atau melalui surat (baca: sms), baik dijawab dengan ucapan atau melalui tulisan. Berdasarkan keumuman dalil, seperti firman Allah,

وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا

“Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, Maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa).” (QS. An-Nisa: 86).

Juga berdasarkan hadis dari Al-Barrak bin Azib radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kami untuk melakukan tujuh hal, diantaranya: “menjawab salam”

Sumber: http://ar.islamway.net/fatwa/35181

Dari keterangan beliau, ada dua pelajaran yang bisa kita catat:

1. Salam di SMS atau email atau surat apapun dari orang lain, wajib kita jawab dengan jawaban minimal serupa

2. Cara menjawab salam di SMS atau email atau surat, tidak harus dalam bentuk tulisan. Artinya BOLEH MENJAWAB DENGAN LISAN. Semisal kita mendapat sms, ”Assalamu alaikum warahmatullah, apa kabar ?” Kita boleh balas smsnya dengan jawaban salam secara lisan, dengan mengucapkan wa alaikumus salam warahmatullah, kemudian kita tulis di sms, “Kabar baik.” Tanpa tulisan jawaban salam. Semacam ini dibolehkan dan telah menggugurkan kewajiban.

Dijawab oleh,
Ustadz Ammi Nur Baits, Lc, حفظه الله تعالى

Ref: https://konsultasisyariah.com/17253-cara-menjawab-salam-di-sms.html

Do’a Yang Terkandung Dalam Ucapan Salam

Syaikh al-‘Utsaimin rohimahullah berkata,

“Jika engkau ucapkan kepada seseorang (Assalaamu’alaikum) maka ini berarti bahwasanya engkau mendo’akan kepadanya agar Allah..
➡️ menyelamatkannya dari segala musibah,
➡️ menyelamatkannya dari penyakit,
➡️ menyelamatkannya dari kegilaan,
➡️ menyelamatkannya dari kejelekan manusia,
➡️ menyelamatkannya dari maksiat dan berbagai penyakit hati dan,
➡️ menyelamatkannya dari api neraka..”

[ Syarhu Riyadhus Sholihin 4/380 ]

Bolehkah Puasa Setelah Pertengahan Sya’ban..?

PERTANYAAN:
Ustadz, apa benar apabila telah lewat pertengahan bulan sya’ban maka tidak boleh berpuasa sunnah ?

JAWAB:
Ada sebuah hadits yang menjadi sebab perselisihan di kalangan ulama. Yaitu sabda Nabi Shollallaahu ‘alaihi Wa sallam :

إِذَا انْتَصَفَ شَعْبَانُ فَلا تَصُومُوا

“Apabila telah pertengahan bulan sya’ban maka janganlah kamu berpuasa.” (HR Abu Daud dan Attirmidzi)

Menurut jumhur ulama hadits ini lemah. Maka berpuasa sunnah dari pertengahan sya’ban diperbolehkan.

Juga karena ada hadits lain. Rosulullah Shollallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لا تَقَدَّمُوا رَمَضَانَ بِصَوْمِ يَوْمٍ وَلا يَوْمَيْنِ إِلا رَجُلٌ كَانَ يَصُومُ صَوْمًا فَلْيَصُمْهُ

“Jangan dahului ramadhan dengan berpuasa sehari atau dua hari sebelumnya kecuali orang yang terbiasa melakukan puasa.” (HR Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menunjukkan bolehnya berpuasa setelah pertengahan sya’ban.

Sedangkan sebagian ulama lain memandangkan hadits larang berpuasa setelah pertengahan sya’ban itu shohih. Ini pendapat yang dibela oleh Ibnul Qoyyim dan Syaikh al-Albani, rohimahumallah

Sehingga atas dasar itu dilarang berpuasa setelah pertengahan sya’ban. Adapun hadits larang mendahului ramadhan dengan puasa sehari atau dua hari maksudnya bagi mereka yang tidak berpuasa dari awal sya’ban.

Ini ditunjukkan oleh hadits ‘Aisyah:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ ، يَصُومُ شَعْبَانَ إِلا قَلِيلا

“Rosulullah Shollallaahu ‘alaihi wa sallam berpuasa sya’ban (hampir) seluruhnya, beliau berpuasa sya’ban kecuali sedikit saja.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dan ini adalah pendapat ulama madzhab syafi’iyah. Dan kepada pendapat ini saya condong.

Wallahu a’lam

Dijawab oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى
.
.

Menebar Cahaya Sunnah