“Wabah itu seperti API .. dan kalian adalah BAHAN BAKARNYA .. maka berpencarlah kalian, agar api itu tidak mendapati sesuatu yang menjadikannya hidup .. hingga dia mati (dengan sendirinya)”
Inilah perkataan sahabat Nabi yang mulia ‘Amr bin ‘Ash -rodhiallahu ‘anhu- kepada penduduk negeri Syam ketika munculnya tho’un di sana.
Jadi.. jangan sampai ada yang mengatakan usaha seperti ini menunjukkan, “kurang iman”, atau “seperti orang yang belum ngaji”, atau “tindakan takut kepada selain Allah”..
Sungguh ini adalah usaha yang juga diperintahkan Allah dan Rosul-Nya shollallahu ‘alaihi wa sallam.
Ditulis oleh, Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى
Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam bersabda (yang artinya),
“Sesungguhnya besarnya pahala akan sesuai dengan besarnya cobaan, dan sesungguhnya apabila Allah telah mencintai suatu kaum maka Dia pun akan menguji mereka.. oleh karena itu, barangsiapa yang ridho, maka baginya keridhoan (Allah), serta barangsiapa yang murka maka baginya kemurkaan (Allah)..”
[ HR. at-Tirmidzi dan Ibnu Majah ] Shohiihut Targhiib wat Tarhiib – 3407
Dari kitab yang berjudul “At Takfiir wa Dhowabithhu“, tentang Kaidah-Kaidah Dalam Pengkafiran, ditulis oleh Syaikh DR. Ibrahim ar-Ruhaili, حفظه الله تعالى.
. PEMBAHASAN SEBELUMNYA (Cabang-Cabang Kekufuran Dan Dalilnya) bisa di baca di SINI
=======
. 🌿 Hukum Kufur Besar dan Pelakunya Di Dunia dan Akherat 🌿
Kita lanjutkan.. kitab At Takfiir wa Dhowabithhu.. kemudian beliau menyebutkan tentang bab..
⚉ HUKUM KUFUR BESAR dan PELAKUNYA DI DUNIA
Beliau membagi kafir menjadi dua,
1⃣ KAFIR ASLI: yang merupakan orang kafir, yang mereka adalah asli kafir bukan muslim.
Dan Beliau mengatakan bahwa hukum kafir asli ini ada 3 macam, 1. Ahli kitab 2. Ada keserupaan dengan ahli kitab 3. Tidak punya kitab, tidak pula (bukan) yang ke 2
⚉ Adapun yang ke 1 adalah AHLI KITAB, yaitu yahudi dan nasrani. ⚉ Adapun yang ke 2 yaitu MAJUSI. ⚉ Adapun yang ke 3 yaitu PARA PENYEMBAH PATUNG DAN BERHALA.
Dan mereka ini ada yang, ⚉ HARBY, dan ⚉ BUKAN HARBY
➡️ Siapa itu HARBY ? Yaitu yang menampakkan kekafiran dan memerangi kaum muslimin, Maka yang seperti ini diperangi lagi, karena mereka memerangi kaum muslimin.
➡️ Adapun yang BUKAN HARBY, yaitu (ada 3 macam),
⚉ AHLI DZIMMAH atau KAFIR DZIMMI, yang tinggal di negara Islam tapi wajib bayar jiziyah dan wajib melaksanakan hal-hal yang harus diperhatikan oleh ahli dzimmah di negara Islam, seperti mereka membayar jiziyah, kemudian menjalankan sebagian hukum Islam yang wajib atas mereka, kemudian juga tidak boleh memfitnah kaum muslimin, dan yang lainnya.
⚉ KAFIR MUSTA’MAN, yaitu yang diberikan keamanan oleh kaum muslimin atau pemerintah Islam.
⚉ KAFIR MU’AHAD, yang mengadakan gencatan senjata atau perdamaian (dengan) kaum muslimin, maka mereka tidak boleh kita ganggu juga, sebagaimana Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam bersabda (yang artinya), “Siapa yang membunuh orang kafir mu’ahad, dia tidak akan mencium bau surga”
➡️➡️ Ini KAFIR ASLI
2⃣ KAFIR THORI’: yaitu tadinya muslim kemudian kafir, yang di sebut dengan murtad, dan dalam Islam hukum yang murtad itu dibunuh, namun yang melaksanakan pembunuhan tentu pemerintah “Qodhi”, bukan sembarangan orang. Ini hukum mereka di dunia.
⚉ HUKUM KUFUR BESAR dan PELAKUNYA DI AKHERAT
Adapun hukum kufur akbar di akhirat, maka pelakunya kekal dalam api neraka selama-lamanya, mereka tidak akan masuk ke dalam surga.
Oleh karena itulah orang-orang kafirin di dalam kehidupan akhirat disebutkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala: “mereka selama-lamanya dalam api neraka”
Walaupun tentunya tingkat kekufuran itu bertingkat-tingkat. Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata, “tidak ragu lagi bahwa kekafiran itu bertingkat-tingkat”
Ada yang paling berat, ada yang berat, ada yang demikian, dan tentunya merekapun akan di adzab sesuai dengan tingkat kekafiran mereka di dunia.
.
. Wallahu a’lam 🌼 . Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
.
Dari pembahasan Kitab Fiqih Mausu’ah Muyassaroh, yang ditulis oleh Syaikh Hussain Al Uwaisyah, حفظه الله تعالى . PEMBAHASAN SEBELUMNYA – Adab Sholat Jum’at #8 – bisa di baca di SINI
“Apabila berkhutbah matanya memerah, suaranya tinggi dan marahnya terlihat, ia sangat berapi api, seakan-akan beliau memberi peringatan akan datangnya pasukan musuh seakan beliau mengatakan, “musuh menyerang kalian diwaktu pagi dan petang” dan beliau berkata, “sesungguhnya sebaik baik ucapan adalah firman Allah/kitabullah dan sebaik baiknya petunjuk adalah petunjuk Muhammad shollallahu ‘alayhi wa sallam seburuk buruknya perkara adalah yang diada-adakan dan setiap bid’ah itu sesat” (HR Imam Muslim dalam shohihnya)
Ini yang selalu Nabi ucapkan dalam khutbah jum’at namun sayang di zaman ini ucapan “kullu bid’atin dholalah” dijadikan perkara yang dianggap tidak sesuai dengan kebiasaan masyarakat, dan bahkan dianggap radikal, padahal ini sunnah Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam.
Dalam riwayat Muslim juga adalah khutbah Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam pada hari jum’at dengan memuji Allah dan menyanjungnya, kemudian setelah itu menyampaikan khutbah dalam keadaan suara meninggi.
⚉ Kata Syaikh Al Uwaisyah (penulis buku ini), “hadits ini merupakan dalil disunnahkan untuk khotib meninggikan suaranya saat khutbah dan menyampaikan khutbah yang padat dan dalam maknanya, dan berisi targhib (memotivasi agar beramal) dan tarhib (ditakut-takuti dari api neraka agar tidak bermaksiat)”
Dalam hadits yang shohih bahwa Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, “setiap khutbah yang tidak ada padanya tasyahud “asyhadu an-laa ilaaha illallah, was asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rosuuluh” bagaikan tangan yang terputus” (HR Imam Ahmad dalam musnadnya Abu Daud)
Isi ceramah yang Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam sampaikan adalah tentang kaedah-kaedah islam dan syari’atnya, dan juga perintah dan larangan dan Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam menyuruh agar manusia bertaqwa kepada Allah dan memotivasi mereka dalam melakukan amalan-amalan sholih dengan surga dan neraka..
Ini semua adalah isi ceramah jum’at Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam, tidak seperti yang dilakukan oleh banyak khotib dizaman ini isinya tidak lain adalah tentang politik, ekonomi.. yang sama sekali tidak menghidupkan hati manusia padahal tujuan khutbah adalah untuk menghidupkan hati.
Pendapat yang shohih, khutbah jum’at itu boleh dengan bahasa apapun karena tujuannya adalah untuk memberikan peringatan. Misalnya di Indonesia, khutbah dengan bahasa Indonesia dan masing-masing negeri berkhutbah dengan bahasanya masing-masing yang dipahami karena itu merupakan tujuan dari pada khutbah dan yang khutbah jum’at.
.
. Wallahu a’lam 🌻
. Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى
.
. Dari Kitab Fiqih Mausu’ah Muyassaroh, yang ditulis oleh Syaikh Hussain Al Uwaisyah, حفظه الله تعالى
.
. ARTIKEL TERKAIT Pembahasan Fiqih Mausu’ah Muyassaroh…
.
. WAG Al Fawaid Al Ilmiyyah
bagi para DOKTER, PERAWAT/TENAGA MEDIS dan para RELAWAN yang sedang berjuang menghadapi covid-19.. . dan juga bagi kita semua.. . bacalah yang diajarkan Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam berikut ini.. . dan bila belum berkurang perasaan susah dan sedih tsb, baca lagi.. dan lagi.. dan lagi.. . #Covid_19 #lockdown
bagi para DOKTER, PERAWAT/TENAGA MEDIS, para RELAWAN yang melihat dan menangani langsung kondisi pasien #Covid_19 . PENTING..! . BACA DZIKIR BERIKUT (lihat poster) saat melihat dan merawat pasien #Covid_19 agar terhindar dari musibah serupa in-syaa Allah.. . Pahami maknanya juga ya.. . semoga Allah melindungi anda dan kita semua dari musibah #Covid_19 . SILAHKAN TAG DAN SHARE KE DOKTER DAN PERAWAT YANG ANDA KENAL #Covid_19 . . #lockdown
.
“Seorang hamba tidak akan menggapai hakikat iman kecuali setelah.. ➡️ menganggap musibah sebagai nikmat, ➡️ nikmat sebagai musibah, ➡️ tidak peduli dengan dunia yang dinikmati, dan ➡️ sama sekali tidak ingin mendapatkan pujian karena ibadah kepada Allah Ta’ala yang ia kerjakan..”
“Allah Meletakkan berbagai macam musibah, bala’ (bencana), dan penderitaan sebagai rahmat diantara para hamba-Nya sebagai kafarat (tebusan) dari kesalahan mereka.
Karena berbagai macam musibah tersebut adalah bagian dari nikmat yang paling besar atas mereka, meskipun jiwa-jiwa mereka membencinya, dan tidaklah seorang hamba mengetahui yang mana di antara dua kenikmatan atas dirinya yang paing besar,
● apakah nikmat-Nya atas dirinya dalam apa-apa yang ia benci..?
● ataukah nikmat-Nya atas dirinya pada apa-apa yang ia cintai..?
“dan tidaklah seorang mu’min itu tertimpa kekhawatiran, sakit terus menerus, penderitaan sampai sepotong duri yang menusuknya kecuali Allah hilangkan dengannya kesalahannya..” (HR. Al Bukhari dan Muslim)
dan apabila ia memiliki dosa sebagai hukuman dan tentulah setiap apa yang hamba tersebut di hukum dengannya sebelum kematian lebih baik baginya daripada setelahnya, lebih banyak gampangnya, dan lebih banyak mudahnya..”
(Miftah Daaris Sa’aadah 826-2)
قال ابن القيم رحمه الله :-
[ وضع الله المصائب والبلايا والمحن رحمةً بين عباده يُكفِّرُ بها من خطاياهم ،
فهي من أعظم نِعَمهِ عليهم وإن كرهتها أنفسُهم ، ولا يدري العبدُ أيُّ النعمتين عليه أعظم :
نعمتُهُ عليه فيما يكرهُ ؟ أو نعمتُه عليه فيما يحبُّ؟
(( وما يصيب المؤمن من همٍّ ولا وصبٍ ولا أذىً حتى الشوكة يشاكها إلا كفَّر الله بها خطاياه ))
اخرجه البخاري و مسلم .
،وإذا كان للذنوب عقوبات ولا بدَّ فكل ما عوقب به العبد من ذلك قبل الموتِ خيرٌ له مما بعدهُ وأيسرُ وأسهلُ بكثير ] .
( مفتاح دار السعادة 2 / 826 )
“Orang yang mencintai dunia (secara berlebihan) tidak akan lepas dari tiga (macam penderitaan), ⚉ kekalutan (pikiran) yang selalu menyertainya, ⚉ kepayahan yang tiada henti, dan ⚉ penyesalan yang tiada berakhir..”