“Ada 4 hal yang bisa menjadi sebab datangnya rezeki,
⚉ sholat malam ⚉ memperbanyak istighfar di waktu sahur (sebelum shubuh) ⚉ membiasakan sedekah ⚉ membiasakan berdzikir di awal siang (pagi) dan di akhirnya (petang)..”
Syaikh Rabie’ Al Madkhali حفظه الله تعالى berkata:
”وجدنا كثيرًا من السلفيين يدور حول الأشخاص لا يدور حول الحق، هذا مرض خطير، إيّانا أن ندور مع الأشخاص. فيجب أن نَزِنَ الأشخاص بالحق،لا نزن الحق بالأشخاص، وأن نعرف الرجال بالحق، لا نعرف الحق بالرجال “
“Banyak kita dapati orang yang mengaku salafy masih fanatik kepada individu. Bukan fanatik kepada kebenaran. Ini adalah penyakit yang berbahaya. Jauhilah fanatik kepada individu. Kewajiban kita adalah menimbang individu dengan kebenaran. Bukan kebenaran yang ditimbang dengan pendapat individu. Dan hendaknya kita mengenali individu itu karena ia berpegang kepada kebenaran. Bukan menilai kebenaran itu karena dipegang oleh individu.”
📚 مناظرة حول الأوضاع في أفغانستان شريط (1)
Namun.. Ketika seseorang telah sangat mengagumi seorang ustadz.. Seakan ucapannya bagaikan wahyu dari langit.. Bahkan memberikan loyalitas dan permusuhannya di atasnya.. Inilah hizbiyah yang dilarang oleh Allah..
Ditulis oleh, Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى
“Mereka begitu peduli dengan urusan yang telah Allah jamin untuk mereka, namun mereka kurang peduli dengan urusan yang Allah perintahkan mereka dengannya. Mereka girang dengan urusan dunia, dan berduka bila gagal mendapatkan bagian darinya..
Namun mereka tidak berduka bila kehilangan kesempatan mengapai surga dan kenikmatan yang ada di dalamnya. Mereka tidak girang dengan urusan iman, kegirangan mereka hanyalah urusan dirham dan dinar..”
Dari kitab yang berjudul “At Takfiir wa Dhowabithhu“, tentang Kaidah-Kaidah Dalam Pengkafiran, ditulis oleh Syaikh DR. Ibrahim ar-Ruhaili, حفظه الله تعالى.
. PEMBAHASAN SEBELUMNYA (Pembagian Kufur Berdasarkan Asli Atau Bukannya) bisa di baca di SINI
=======
. 🌿 Pembagian Kufur Berdasarkan Mutlak Atau Mu’ayyan 🌿
Kemudian Beliau (Syaikh DR Ibrahim Arruhaili) membawakan bab pembahasan yang ke-5, yaitu..
⚉ PEMBAGIAN KUFUR DILIHAT DARI MUTLAK ATAU MU’AYYAN-NYA
Ada 2 macam:
1⃣ PENGKAFIRAN SECARA MUTLAK
Dan ini ada 2 martabat
⚉ MARTABAT PERTAMA: Yaitu mengkafirkan sifat, yang sifatnya umum, seperti ucapan tertentu atau perbuatan tertentu atau keyakinan tertentu. Contoh misalnya, siapa yang mengucapkan begini, maka dia kafir, siapa yang melakukan begini maka dia kafir, siapa yang meyakini begini maka dia kafir.
“Siapa yang tidak berhukum dengan hukum Allah maka dia kafir”
➡️ Seperti juga perkataan Imam Ahmad rohimahullah, “Siapa yang mengatakan AlQur’an makhluk maka ia kafir”
⚉ MARTABAT KE-DUA : Pengkafiran terhadap sifat yang lebih khusus seperti kelompok tertentu atau firqoh tertentu, atau jama’ah tertentu. Seperti misalnya Yahudi, Nashoro, Rofidhoh, Jahmiyyah.
➡️ Contoh misalnya, kalau ada orang yang berkata Rofidhoh itu kafir, atau jahmiyyah itu kafir.
“Beimanlah sebagian dari Bani Isra’il dan sebagian lagi kafir”
Ini macam yang pertama yaitu pengkafiran secara mutlak.
2⃣ PENGKAFIRAN SECARA MU’AYYAN (INDIVIDU)
Apa itu ? yaitu mengkafirkan individu. Dengan mengatakan si Fulan kafir, dengan menyebut namanya.
➡️ Maka yang seperti ini para Ulama memberikan kaidah, seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rohimahullah dalam Kitab Al-Istiqomah jilid 1 hal 164, “bahwa pengkafiran secara mutlak sama dengan ancaman secara mutlak tidak mengharuskan pelakunya itu langsung dikafirkan, sampai tegak padanya hujjah”
Yang harus diingat, bahwa ini untuk orang Islam yang melakukan kekafiran, adapun diluar Islam jelas mereka telah kafir, seperti Yahudi, Nashoro dan yang lainnya.
➡️ Beliau juga (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rohimahullah) berkata, “Bahwasanya perkataan itu terkadang kufur, seperti perkataan kaum Jahmiyyah yang mengatakan sesungguhnya Allah tidak berbicara, Allah tidak terlihat di akhirat.. namun pelakunya belum tentu dikafirkan sampai tegak padanya hujjah” (Dalam Majmu’ Fatawa jilid 7/ hal 619)
➡️ Demikian pula Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab rohimahullah dalam Kitab Adduror Asunniyah jilid 8/ hal 244), mengatakan, “Masalah kafir mengkafirkan individu itu masalah yang dikenal oleh para Ulama, yaitu apabila seseorang mengucapkan kata-kata kufur, maka dikatakan: “maka barangsiapa yang mengucapkan ini maka dia kafir”, akan tetapi orang yang mengucapkannya belum bisa dihakimi/divonis sebagai kafir sampai tegak padanya hujjah, yang dimana bisa menjadikan pelakunya kafir (kalau sudah tegak hujjah tersebut)”
Disini para Ulama membedakan antara takfir secara mutlak dengan takfir secara individu/mu’ayyan.
➡️ Maka contoh misalnya Allah berfirman (yang artinya), “Barangsiapa yang tidak berhukum dengan hukum Allah maka ia kafir”
Ini mutlak, tapi apakah pelakunya langsung kita kafirkan secara individunya ? Belum tentu, sampai tegak dulu hujjah padanya.
➡️ Seperti misalnya Imam Ahmad rohimahullah mengatakan, “Siapa yang mengatakan AlQur’an mahluk, maka ia kafir” Tapi Imam Ahmad tidak mengkafirkan, Kholifah al-Ma’mun, demikian pula Kholifah al-Mu’tasim, demikian Kholifah al-Wathiq yang jelas-jelas mereka mengucapkan demikian, bahkan menyiksa para Ulama untuk mengucapkannya, kenapa ? Karena masih ada syubhat, masih ada penghalang.
.
. Wallahu a’lam 🌼 . Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
.
إن المؤمن يصبح حزينا ويمسي حزينا، ولايسعه غير ذلك، لأنه بين مخافتين,
“Sesungguhnya Seorang Mukmin semestinya pada pagi hari dalam keadaan bersedih, dan pada sore hari dalam keadaan bersedih, dan tidak ada pilihan selain itu. Karena ia di antara dua perkara yang menakutkan,
بين ذنب قد مضى لايـدري مـا الله يصنع فيه,
antara dosa yang telah berlalu, ia tidak tahu apa yang Allah akan perbuat dengannya,
وبين أجل قد بقي لايدري مايصيبه فيه من المهالك.
dan antara ajalnya yang tersisa yang ia tidak tahu apa yang akan menimpanya berupa kebinasaan.”
“Anggaplah dunia ada di genggamanmu dan ditambahkan lagi yang semisalnya, dan anggaplah Timur dan Barat datang kepadamu.. tapi jika kematian telah datang kepadamu, maka apa gunanya yang ada di tanganmu tersebut..?”