Kunci Sukses

Kunci sukses: “Ciptakan rutinitas sederhana, lalu pertahankan”.

=====

Keberhasilan itu bukan dari kuantitas usaha kita.. tapi dari kedisiplinan kita dalam merutinkan usaha.

Keberhasilan itu bukan dari besarnya usaha, atau tingginya cita-cita.. tapi dari kemampuan kita untuk menciptakan rutinitas sederhana yang bisa dilakukan sepanjang umur.

Tentunya, ini semua setelah taufiq dari Allah.

Maka, dari sekarang, putuskanlah untuk menciptakan rutinitas sederhana yang bisa mengantarkanmu kepada kesuksesan.. jangan terbebani oleh terciptanya kesuksesan itu sendiri.

Jangan sibukkan pikiranmu dengan menghapal Al Qur’an dari awal sampai akhir.. Tapi, sibukkan saja dirimu dengan menghapal setengah halaman setiap hari.

Jangan sibukkan diri memikirkan bagaimana mendapatkan bentuk badan yang atletis.. Tapi, khususkan saja waktu seperempat jam tiap hari untuk olahraga.

Jangan sibukkan dirimu dengan target mahir dalam disiplin ilmu tertentu.. Tapi, khususkan saja sedikit waktu tiap hari untuk membaca beberapa halaman tentang disiplin ilmu tersebut.

Jangan sibuk memikirkan diet yang ideal, atau target turun 30 kilo dalam dua bulan.. Tapi, buat saja kebiasaan makan sehat yang mudah dijalani sepanjang hidup.

Ingatlah, bahwa umur itu akan berjalan dengan sangat cepat.. oleh karenanya, ketika kita sudah menjalankan sebuah rutinitas dengan baik meski sederhana, maka setelah berjalan setahun atau dua tahun, kita akan mampu meraih apa yang menjadi target kita, atau bahkan melebihi target kita.. dan mungkin saja kita akan kagum sendiri dengan capaian itu.

Saya misalkan Anda memutuskan untuk mengkhususkan waktu:
1. 30 menit untuk menghapal Al Qur’an.
2. 15 menit untuk olahraga.
3. 15 menit untuk membaca kitab atau buku tentang disiplin ilmu yang anda inginkan.

Tentu setelah berjalan beberapa tahun yang tidak lama (bisa saja terasa seperti kedipan mata), Anda akan kaget sendiri, ternyata Anda sudah hapal Al Qur’an, sudah memiliki badan yang atletis, dan telah selesai membaca puluhan kitab atau buku.. padahal itu hanya dengan menyisihkan waktu 1 satu jam saja.. tentu tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan waktu 23 jam yang banyak tersia-siakan setiap harinya.

Intinya sangat sederhana, untuk meraih sukses: “ciptakan rutinitas sederhana”.. itu akan berakhir dengan menumpuknya banyak hasil, dan terwujudnya apa yang kita cita-citakan, atau bahkan lebih dari itu.

Oleh karena itulah, sejak dahulu Nabi -shallallahu alaihi wasallam- telah menyabdakan: “Amal yang paling dicintai Allah adalah amal yang paling dirutinkan, meski hanya sedikit”. [HR. Bukhari: 6464, Muslim: 783].

[Dari pesan berbahasa arab dengan beberapa penyesuaian]

Silahkan dishare… semoga bermanfaat..

Diterjemahkan oleh,
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

 

Manusia Akan Menjadi Baik Jika Bukan Karena Tiga Perkara Ini

Abu Darda rodhiyallahu ‘anhu berkata:

لَوْلَا ثَلَاثٌ لَصَلُحَ النَّاسُ، لَوْلَا هَوًى مُتَّبِعٌ، وَشُحٌّ مُطَاعٌ، وَإِعْجَابُ كُلِّ ذِي رَأَى بِرَأْيِهِ

“Jika bukan karena tiga perkara ini, manusia akan menjadi baik,
⚉ kekikiran yang diikuti,
⚉ hawa nafsu yang ditaati dan
⚉ setiap orang berbangga dengan pendapatnya sendiri”

(Kitab Azzuhdu karya Imam Ahmad)

Islam tidaklah berdasarkan pendapat akal semata..
Namun berdasarkan wahyu..
Dan apa yang difahami oleh para sahabat dan para ulama setelahnya…
Siapapun yang berbicara dalam agama ini, wajib ia berdasarkan wahyu…
Adapun merasa diri intelek lalu berbicara seenaknya dalam agama..
Maka ini sumber munculnya berbagai macam keburukan…

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Larilah Sekencang Mungkin

Syeikh Utsaimin -rohimahulloh- mengatakan:

“Jika kamu melihat saudaramu suka mendebat dan membantah saat kebenaran telah jelas, tapi dia tidak mengikuti kebenaran itu, maka LARILAH kamu darinya seperti ketika kamu lari dari singa, dan katakan kepadanya; aku tidak memiliki kecuali kebenaran yang telah ku katakan kepadamu.”

[Syarah Hilyah Tholibil ‘Ilm, hal: 26].

———–

Selamatkan diri… Dengan tetap menjaga sikap dan kata-kata yang baik… Dan tetap menyampaikan yang benar kepada orang tersebut.

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

da1309162038

MUTIARA SALAF : Ejekan Manusia Kepadamu Tidak Akan Membahayakanmu, Kecuali…

Syaikh Abdurrahman Assa’diy rohimahullah berkata,

: ‏من الأمورالنافعةأن تعرف أن أذيةالناس لك وخصوصاًفي الأقوال السيئة،لا تضرك بل تضرهم،إلا إن أشغلت نفسك في الاهتمام بها،وسوغت لها أن تملك مشاعرك،فعند ذلك تضرك كماضرتهم ، فإن أنت لم تضع لها بالاً لم تضرك شيئا “

“Diantara perkara yang bermanfaat adalah kamu mengetahui bahwa ejekan manusia kepadamu dengan kata-kata yang buruk tidak akan membahayakanmu. Justru membahayakan mereka.

Kecuali jika kamu sibuk menanggapinya dan hatimu terbawa emosi. Maka di saat itu membahayakanmu sebagaimana membahayakan mereka. Tapi jika kamu tidak memperdulikannya maka tidak akan membahayakanmu.”

[al Wasaailul Mufiidatu Lil Hayaatis Sa’iidah hal 16]

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

KITAB FIQIH – Keutamaan Hari Jum’at

Dari pembahasan Kitab Fiqih Mausu’ah Muyassaroh, yang ditulis oleh Syaikh Hussain Al Uwaisyah, حفظه الله تعالى
.
PEMBAHASAN SEBELUMNYA – Haruskah NIAT Dan MUWALAH Dalam Jama’ Dan Qoshor..?  – bisa di baca di SINI

=======

Alhamdulillah.. wash-sholaatu was-salaamu ‘alaa Rosuulillah…

Kita lanjutkan fiqihnya.. kita masuk ke pembahasan..

⚉ KEUTAMAAN HARI JUMA’T

Banyak sekali keutamaan-keutamaan yang disebutkan oleh Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam tentang hari Jum’at diantaranya ;

⚉ Hadits Abu Hurairah bahwa Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam bersabda,

خَيْرُ يَوْمٍ طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ يَوْمُ الْجُمُعَةِ فِيهِ خُلِقَ آدَمُ وَفِيهِ أُدْخِلَ الْجَنَّةَ وَفِيهِ أُخْرِجَ مِنْهَا وَلاَ تَقُومُ السَّاعَةُ إِلاَّ فِي يَوْمِ الْجُمُعَةِ.”

“Sebaik baik hari yang matahari terbit adalah hari Jum’at, dihari Jum’at Nabi Adam diciptakan, diihari Jum’at Nabi Adam dimasukan kedalam surga, dihari Jum’at juga Nabi Adam dikeluarkan dari dalam surga dan tidak tegak hari kiamat kecuali di hari Jum’at.” (HR. Muslim)

⚉ Hadits Abu Ulubabah bin Abi Mundzir ia berkata, Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam bersabda,

سَيِّدُ الْأَيَّامِ عِنْدَ اللهِ يَوْمُ الْجُمُعَةِ وَهُوَ أَعْظَمُ مِنْ يَوْمِ النَّحَرِ وَيَوْمُ الْفِطْرِ وَفِيْهِ خَمْسُ خِصَالٍ فِيْهِ خَلَقَ اللهُ آدَمَ وَفِيْهِ أُهْبِطَ مِنَ الْجَنَّةِ إِلَى الْأَرْضِ وَفِيْهِ تُوُفِّيَ وَفِيْهِ سَاعَةٌ لَا يَسْأَلُ الْعَبْدُ فِيْهَا اللهَ شَيْئًا إِلَّا أَعْطَاهُ إِيَّاهُ مَا لَمْ يَسْأَلْ إِثْمًا أَوْ قَطِيْعَةَ رَحِمٍ وَفِيْهِ تَقُوْمُ السَّاعَةُ وَمَا مِنْ مَلَكٍ مُقّرَّبٍ وَلَا سَمَاءٍ وَلَا أَرْضٍ وَلَا رِيْحٍ وَلَا جَبَلٍ وَلَا حَجَرٍ إِلَّا وَهُوَ مُشْفِقٌ مِنْ يَوْمِ الْجُمُ

Sesungguhnya hari Jum’at itu adalah penghulunya hari, dia yang paling besar disisi Allah dan bahkan lebih agung disisi Allah daripada Idul Adha dan Idul Fitr. Pada hari Jum’at terdapat lima perkara, padanya Allah menciptakan Nabi Adam, dihari itu juga Allah menurunkan Nabi Adam ke bumi, dihari Jum’at juga Allah wafatkan Nabi Adam, dan dihari Jum’at juga terdapat sebuah waktu tidaklah seorang hamba minta kepada Allah padanya kecuali Allah pasti berikan selama tidak minta yang haram, dihari Jum’at juga ditegakkan hari kiamat,

tidak ada satupun malaikat yang didekatkan tidak juga langit, tidak juga angin, tidak juga gunung, tidak juga laut kecuali mereka semua merasa takut dengan datangnya hari Jum’at (maksudnya, dikhawatirkan akan tegaknya hari kiamat)”

(HR. Ibnu Majah dengan sanad yang hasan, dishohihkan oleh Syaikh al-Albani)

⚉ Hadits Anas bin Malik, ia berkata, Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam berkata,

أتاني جبريل وفي يده كالمرآة البيضاء فيها كالنكتة السوداء فقلت يا جبريل ما هذه قال الجمعة قال قلت وما الجمعة قال لكم فيها خير قال قلت وما لنا فيها قال يكون عيدا لك ولقومك من بعدك ويكون اليهود والنصارى تبعا لك قال قلت وما لنا فيها قال لكم فيها ساعة لا يوافقها عبد مسلم يسأل الله فيها شيئا من الدنيا والآخرة هو له قسم إلا أعطاه إياه أو ليس بقسم إلا ادخر له عنده ما هو أفضل منه أو يتعوذ به من شر هو عليه مكتوب إلا صرف عنه من البلاء ما هو أعظم منه قال قلت له وما هذه النكتة فيها قال هي الساعة هي تقوم يوم الجمعة وهو عندنا سيد الأيام ونحن ندعوه يوم القيامة ويوم المزيد قال قلت مم ذاك قال لأن ربك تبارك وتعالى اتخذ في الجنة واديا من مسك أبيض فإذا كان يوم الجمعة هبط من عليين على كرسيه تبارك وتعالى ثم حف الكرسي بمنابر من ذهب مكللة بالجواهر ثم يجيء النبيون حتى يجلسوا عليها وينزل أهل الغرف حتى يجلسوا على ذلك الكثيب ثم يتجلى لهم ربك تبارك وتعالى ثم يقول سلوني أعطكم قال فيسألونه الرضى فيقول رضائي أحلكم داري وأنيلكم كراسي فسلوني أعطكم قال فيسألونه قال فيشهدهم أنه قد رضي عنهم قال فيفتح لهم ما لم تر عين ولم تسمع أذن ولا يخطر على قلب بشر قال وذلكم مقدار انصرافكم من يوم الجمعة …. قال فليسوا إلى شيء أحوج منهم إلى يوم الجمعة ليزدادوا إلي ربهم نظرا وليزدادوا منه كرامة

“Hari Jum’at ditampakkan kepada Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam, dibawa oleh malaikat Jibril ditangannya bagaikan cermjn yang berwarna putih, dan ditengahnya seperti goresan hitam, Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, “apa ini wahai Jibril ?” Ini adalah hari Jum’at, Allah menampakkannya kepadamu agar menjadi hari raya untukmu dan untuk kaummu setelahmu, dan untuk kalian padanya kebaikkan, dimana engkau mendapatkan yang pertama yaitu hari Jum’at sedangkan Yahudi dan Nasrani setelahmu.

Dan dihari Jum’at terdapat waktu tidaklah seorang hamba berdo’a pada Robbnya dengan kebaikkan kecuali pasti Allah akan berikan, atau ia berlindung dari keburukan kecuali pasti akan dilindungi dengan sesuatu yang lebih agung darinya, sementara kami menyebutnya dihari akhirat sebagai hari tambahan”

(HR. ath-Thabrani dengan sanad yang jayid dan dishohihkan oleh Syaikh al-Albani)

⚉ Hadits Abu Musa Al Asy’ari ia berkata, Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam bersabda,

“Allah mengutus hari-hari pada hari kiamat sesuai dengan keadaannya, dan Allah mengutus hari Jum’at dalam keadaan ia bercahaya dan bersinar, dimana ahlinya mengelilinginya bagaikan pengantin yang dikirim kepada suaminya yang akan memberikan cahaya untuk mereka dimana mereka akan berjalan dibawah cahaya Jum’at tsb.

warna mereka bagaikan salju (putihnya) sementara wanginya mereka bagaikan harum semerbak bagaikan kasturi, mereka berada digunung gunung wewangian, dimana manusia dan jin melihat kepada mereka, mereka tidak mengedipkan mata karena saking kagumnya sampai mereka masuk surga, tidak ada yang sama dengan mereka kecuali orang orang yang adzan yang berharap pahala”

(HR. Ibnu Khuzaimah, Al Hakim dan lainnya dan Syaikh al-Albani menilainya shohih)
.
Wallahu a’lam 🌻
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى 
.
.
Dari Kitab Fiqih Mausu’ah Muyassaroh, yang ditulis oleh Syaikh Hussain Al Uwaisyah, حفظه الله تعالى
.
.
ARTIKEL TERKAIT
Pembahasan Fiqih Mausu’ah Muyassaroh…
.
.
WAG Al Fawaid Al Ilmiyyah

Apa Yang Dibaca Setelah Sholat Witir..?

Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى berikut ini : (tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) :

ARTIKEL TERKAIT
Tanya-Jawab Seputar Ramadhan…

Ikuti terus channel :
https://t.me/bbg_alilmu
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://t.me/kaidah_ushul_fiqih

KAIDAH DALAM AT-TAKFIIR – Hakikat Iman Menurut Firqoh-Firqoh Menyimpang #1

Dari kitab yang berjudul “At Takfiir wa Dhowabithhu“, tentang Kaidah-Kaidah Dalam Pengkafiran, ditulis oleh Syaikh DR. Ibrahim ar-Ruhaili, حفظه الله تعالى.
.
PEMBAHASAN SEBELUMNYA (Hakikat Iman Menurut Murji’ah) bisa di baca di SINI

=======
.
🌿 Hakikat Iman Menurut Firqoh-Firqoh Menyimpang #1 🌿

Alhamdulillah.. wash-sholaatu was-salaamu ‘alaa Rosuulillah..

Kita lanjutkan kitab At Takfiir wa Dhowabithhu..

Kemudian Beliau (penulis kitab) menyebutkan pendapat khowarij dan mu’tazilah seputar iman. Kata Beliau,

“Orang-orang khowarij dan mu’tazilah mempunyai keyakinan bahwa iman yang sempurna itu (iman yang mutlak) adalah harus mencakup SELURUH keta’atan dan meninggalkan SELURUH keharaman.”

Maka kapan saja sebagiannya hilang maka batallah keimanan, maka pada waktu itu pelakunya kafir, murtad dari agama Islam dan kekal dalam api neraka. Walaupun terdapat perbedaan antara khowarij dan mu’tazilah dalam menamai orang seperti ini.

Orang khowarij mengatakan dia kafir, orang mu’tazilah mengatakan ia berada ditempat diantara dua tempat.

Namun keduanya bersepakat bahwa mereka tidak akan masuk kedalam surga.

Dan asal-muasal kesalahan firqoh-firqoh yang menyimpang ini, karena mereka mempunyai pendapat bahwa iman itu sesuatu yang satu, tidak terbagi-bagi, dan tidak bercabang-cabang.

Kemudian setelah itu mereka berbeda didalam mengungkapkannya, didalam konsekuensinya (maksudnya).

Murji’ah berkata, kalau ada sebagian ada seluruhnya.
Khowarij berkata apabila hilang sebagian, hilang seluruhnya.

Kata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahullah,
“ini adalah merupakan asal-muasal bercabangnya bid’ah dalam keimanan (artinya munculnya kebid’ahan dalam iman), karena mereka menyangka bahwa apabila sebagian iman hilang, hilang seluruhnya, tidak tersisa sama sekali.

Kemudian orang khowarij dan mu’tazilah berkata (kata Beliau),
iman yang mutlak (iman yang sempurna) adalah harus mencakup seluruh perintah dan menjauhi larangan, maka kata mereka, apabila sebagiannya hilang, maka tidak tersisa lagi keimanan pada dia dan kekal pelakunya dalam neraka.”

Akhirnya mereka mengkafirkan pelaku dosa besar. Ini asal muasal daripada munculnya kebid’ahan dalam masalah iman.

Kemudian Beliau menyebutkan tentang perbedaan-perbedaan Ahlussunnah dengan firqoh-firqoh yang sesat.

Kata Beliau, perbedaan Ahlussunnah dengan murji’ah ada pada tiga poin

1⃣ Ahlussunnah berkeyakinan amal bagian dari iman, sementara murji’ah tidak.

2⃣ Ahlussunnah tidak memastikan bagi seorangpun dari kaum muslimin bahwa imannya telah sempurna, namun tidak pula meniadakan pokok imannya.

sementara murji’ah menyebutkan bahwa siapa yang melakukan pokok iman, imannya sempurna, walaupun ia berbuat dosa besar.
Sehingga akhirnya mereka menjadikan orang yang suka berbuat dosa besar sebagai orang yang sempurna imannya.

3⃣ Ahlussunnah wal Jama’ah memperbolehkan istitsnaa’ (ucapan in-syaa Allah) dalam iman, dengan mengatakan in-syaa Allah saya mukmin, bukan karena ragu tapi karena kita tidak memastikan bahwa kita sudah melaksanakan kewajiban-kewajiban secara sempurna. Sedangkan murji’ah mengharamkan istitsnaa’ dalam iman.

Ini adalah 3 poin perbedaan antara Ahlussunnah wal Jama’ah dan Murji’ah.

Adapun perbedaan antara Ahlussunnah dengan khowarij nanti kita akan sebutkan.
.
Wallahu a’lam 🌴
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
.

Dari kitab yang berjudul “At Takfiir wa Dhowabithhu“, tentang Kaidah-Kaidah Dalam Pengkafiran, ditulis oleh Syaikh DR. Ibrahim ar-Ruhaili, حفظه الله تعالى.
.
Silahkan bergabung di Telegram Channel dan Facebook Page :
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://www.facebook.com/aqidah.dan.manhaj/

.
Artikel TERKAIT :
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – At Takfiir wa Dhowabithhu – Kaidah-Kaidah Dalam Pengkafiran
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Haqiiqotul Bid’ah wa Ahkaamuhaa – Hakikat Bid’ah dan Hukum-Hukumnya
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Showarif ‘Anil Haq – Hal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari KEBENARAN
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Al Ishbaah – Manhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN

AL FAWAID AL ILMIYYAH GROUP

KITAB FIQIH – Haruskah NIAT Dan MUWALAH Dalam Jama’ Dan Qoshor..?

Dari pembahasan Kitab Fiqih Mausu’ah Muyassaroh, yang ditulis oleh Syaikh Hussain Al Uwaisyah, حفظه الله تعالى
.
PEMBAHASAN SEBELUMNYA – Menjama’ Dua Sholat  – bisa di baca di SINI

=======

Alhamdulillah.. wash-sholaatu was-salaamu ‘alaa Rosuulillah…

Kita lanjutkan fiqihnya..

⚉ APAKAH DISYARATKAN NIAT DAN MUWALAH DALAM MENJAMA’ DAN MENG-QOSHOR ?

Muwalah yang dimaksud yaitu, tidak boleh ada jeda yang panjang antara misalnya kalau kita menjama’ zhuhur dan ashar, apakah setelah zhuhur langsung ashar atau jika dijeda misalnya satu jam boleh atau tidak ?
Kata beliau tidak ada dalil yang melarang akan hal itu, dan itu tentunya dari bab pemberian kemudahan.

Maka Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahullah (dalam Majmu’ Fatawa jilid 24 hal 50 – 54), Beliau mengatakan tentang tidak disyariatkan niat dalam jama’ dan qoshor yaitu adalah pendapat jumhur para ulama. Beliau berkata,
“Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam ketika sholat bersama para sahabatnya jama’ dan qoshor, Nabi tidak pernah memerintahkan seorang diantara mereka untuk meniatkan jama’ dan qoshor sebelumnya, bahkan beliau keluar dari kota Madinah menuju kota Mekah dan beliau terus sholat dua roka’at tanpa menjama’, kemudian di Arofah Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam sholat zhuhur dua roka’at.

Tapi Nabi tidak memberitahukan kepada mereka bahwa beliau akan sholat ashar setelahnya secara jama’, kemudian beliau sholat ashar dan mereka juga tidak berniat/tidak tahu kalau ternyata Nabi mau menjama’, dan yang beliau lakukan di Arofah itu adalah jama’ taqdim (jama’nya diwaktu zhuhur), demikian pula ketika Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam keluar dari Madinah, beliau sholat mengimami mereka di Dzulhulaifah sholat ashar dua roka’at saja, dan saat itu Nabi tidak memerintahkan sebelumnya untuk qoshor.

Adapun muwalah antara dua sholat maka beliau berkata, yang benar dan shohih bahwa tidak disyaratkan harus muwalah, tidak diwaktu yang pertama dan tidak juga diwaktu yang kedua karena tidak ada batasannya dalam syar’iat, karena kalau ternyata harus muwalah itu menggugurkan maksud tujuan memberikan keringanan.”

Disini Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menyebutkan bahwa, yang shohih tidak disyari’kan muwalah. Maka kalau misalnya kita jam 12 atau diawal waktu zhuhur kita sholat, kemudian jam 1 kita ingat bahwa kita mau safar nanti jam 2 misalnya, maka jam 1 kita langsung sholat ashar dengan niat jama’ dengan zhuhur diwaktu zhuhur, maka yang seperti ini diperbolehkan.

Beliau juga berkata,
⚉ SHOLAT DI PERAHU, KAPAL LAUT DAN DI PESAWAT

Dari Ibnu Umar, ia berkata,

ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻓﻲ ﺍﻟﺴﻔﻴﻨﺔ ﻓﻘﺎﻝ : ‏( ﺻﻞ ﻓﻴﻬﺎ ﻗﺎﺋﻤﺎ ﺇﻻ ﺃﻥ ﺗﺨﺎﻑ ﺍﻟﻐﺮﻕ

“Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam ditanya tentang sholat di perahu (kapal laut), maka Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, sholatlah kamu dalam keadaan berdiri kecuali kalau kamu takut tenggelam”
(HR. Imam Al bazzar, Daaruquthni dan dishohihkan oleh Al Hakim dan disetujui oleh Ad Dzahabi)

Ini menunjukkan bahwa sholat dipesawat, demikian juga dikapal laut, selama kita masih mampu untuk berdiri wajib berdiri tapi kalau kita tidak mampu untuk berdiri maka diberikan rukshoh silahkan duduk.

Dari Abdullah bin Abi ‘Uthbah ia berkata,
“aku menemani Jabir bin ‘Abdillah dan Abu Said Al Khudri dan Abu Hurairah, ketika berlayar sebuah kapal maka mereka sholat dalam keadaan berdiri dan mereka sholat berjama’ah dan salah satunya mengimami mereka”

Ini menunjukkan bahwa selama masih bisa berdiri wajib berdiri dan atsar Abdullah bin Abi ‘Utbah tadi dikeluarkan oleh Said bin Mansur dan Abdurrozzaq dan sanadnya shahih.
.
Wallahu a’lam 🌻
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى 
.
.
Dari Kitab Fiqih Mausu’ah Muyassaroh, yang ditulis oleh Syaikh Hussain Al Uwaisyah, حفظه الله تعالى
.
.
ARTIKEL TERKAIT
Pembahasan Fiqih Mausu’ah Muyassaroh…
.
.
WAG Al Fawaid Al Ilmiyyah

Menebar Cahaya Sunnah