“Apa saja yang diusahakan tanpa pertolongan Allah maka tidak akan bisa terwujud, dan apa saja yang dilakukan bukan untuk mencari ridha Allah maka tidak akan bermanfaat dan tidak akan berlangsung lama.”
[ Majmu’ul Fatawa, jilid 8 halaman. 329 ]
Diterjemahkan oleh, Ustadz DR. Sufyan Baswedan MA, حفظه الله تعالى
“Sesungguhnya Malaikat Jibril -‘alaihissalam- bertemu Nabi -sallallahu ’alaihi wa sallam- setiap malam di bulan Ramadhan, membacakan dan mengkaji Al Qur’an”. (HR. Bukhari dan Muslim)
Di bulan mulia ini, Malaikat terbaik bersama Nabi terbaik mengkaji Al Qur’an secara rutin.
Lalu bagaimana dengan anda? Sudahkah anda meluangkan waktu secara rutin untuk mengkaji Al Qur’an?
Dari kitab yang berjudul “Haqiiqotul Bid’ah wa Ahkaamuhaa“, tentang Hakikat Bid’ah dan Hukum-Hukumnya, ditulis oleh Syaikh Sa’id bin Nashir Al Ghomidi, حفظه الله تعالى.
. PEMBAHASAN SEBELUMNYA (Sebab-Sebab Munculnya Bid’ah # 3…) bisa di baca di SINI
Kita lanjutkan Hakikat Bid’ah dan Hukum-Hukumnya… sekarang kita masuk kepada pembahasan..
⚉ Definisi Bid’ah
1. SECARA BAHASA
Ada dua makna: ⚉ Makna yang pertama : Mengada-ada sesuatu yang sebelumnya tidak ada. Ini adalah merupakan makna secara bahasa. Dan tentunya ada kaitannya dengan makna secara istilah. Karena bid’ah secara istilah adalah sesuatu yang tidak ada asalnya dalam syari’at.
⚉ Makna yang ke 2 secara bahasa yaitu : Terputus. Dan tentunya ada kaitannya dengan makna secara istilah. Karena bid’ah itu terputus dari wahyu, terputus dari dalil, dimana mereka melakukan sesuatu tanpa hujjah dan dalil, hanya sebatas hawa nafsu, pendapat dan akal tanpa sama sekali ada hujjah
2. SECARA ISTILAH
Adapun secara istilah syari’at, para Ulama dalam mendefinisikannya berbeda-beda, akan tetapi definisi yang paling bagus adalah definisi Al Imam Asyatibi rohimahullah, dimana Beliau mengatakan : “bid’ah adalah : ⚉ Yaitu ungkapan tentang tata cara dalam agama. ⚉ Yang menyerupai syari’at ⚉ Dan dibuat-buat
Dimana tujuan melakukannya adalah dalam rangka bersungguh-sungguh beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (Disebutkan oleh Imam Asya tibi, kitab Al I’tishom jilid 1/ hal 37)
Disini Beliau mengatakan bahwa bid’ah secara istilah yaitu ungkapan tentang tata cara dalam agama. Berarti bid’ah secara istilah itu khusus dalam masalah agama.
Adapun dalam masalah dunia, maka tidak disebut bid’ah secara istilah syari’at, walaupun bid’ah secara bahasa. Karena secara bahasa itu artinya segala sesuatu yang baru ada sebelumnya tidak ada, maka kaca mata bid’ah secara bahasa, pesawat bid’ah secara bahasa, mobil bid’ah secara bahasa. Tapi apakah bid’ah secara syari’at? “Tidak”. Karena masalah dunia pada asalnya halal, berbeda dalam masalah agama, karena agama ini milik Allah, syari’at itu yang berhak adalah Allah yang mensyari’atkan, maka tidak boleh kita membuat-buat perkara agama ini tanpa ada izin dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Jadi disini Beliau mengatakan.. bid’ah itu secara istilah: ⚉ tata cara dalam agama. ⚉ Mukhtaro’ah yang dibuat-buat, artinya tidak ada sama sekali dalilnya, hujjahnya dari syari’at. ⚉ Yang mirip dengan syari’at, menyerupai, karena disitu ada macam dari zikir atau yang lainnya sehingga orang menganggap itu agama padahal bukan, dimana maksud tujuannya adalah untuk bersungguh-sungguh dalam beribadah. Karena orang yang berbuat bid’ah pasti tujuannya untuk beribadah. Sedangkan ibadah pada asalnya tidak boleh sampai ada dalil yang memerintahkan.
Maka dalam hal ini tidak hanya sebatas niat ingin ibadah, niat yang baik, kalau ternyata tata caranya tidak sesuai dengan tuntunan Rosul shollallahu ‘alayhi wasallam.
Niat yang baik tidak menjadikan bid’ah itu jadi sunnah, tidak menjadikan syirik menjadi tauhid… tidak Tidak menjadikan maksiat ta’at… sama sekali tidak
Maka niat yang baik diterima apabila caranya sesuai dengan tuntunan Rosul shollallahu ‘alayhi wasallam
Ini adalah merupakan definisi bid’ah yang paling baik
.
. Wallahu a’lam 🌴
.
. Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
.
Dari kitab yang berjudul “Haqiiqotul Bid’ah wa Ahkaamuhaa“, tentang Hakikat Bid’ah dan Hukum-Hukumnya, ditulis oleh Syaikh Sa’id bin Nashir Al Ghomidi, حفظه الله تعالى.
. Silahkan bergabung di Telegram Channel dan Facebook Page : https://t.me/aqidah_dan_manhaj https://www.facebook.com/aqidah.dan.manhaj/
“Barangsiapa puasa Romadhon sedangkan dalam hati dia berniat seusai bulan Romadhon dia tidak akan bermaksiat, dia akan masuk Jannah tanpa ditanya dan tanpa dihisab. Dan barangsiapa puasa Romadhon sedangkan dalam hati dia berniat setelah Romadhon akan kembali maksiat, maka puasanya tertolak (tidak diterima Allah).”
Sufyan bin Uyainah berkata dari Kholaf bin Hausyab: Dahulu mereka suka membawakan sya’ir ini di saat terjadi fitnah:
الحرب أول ما تكون فتية
“perang (revolusi) itu di awalnya bagaikan gadis
تسعى بزينتها لكل جهول
yang memperlihatkan kecantikannya bagi orang yang bodoh
حتى إذا استعلت وشب ضرامها
sehingga ketika fitnah telah menyala dan menjadi besar
ولت عجوزا غير ذات حليل
ia berubah menjadi janda yang tua
شمطاء ينكر لونها وتغيرت
rambutnya memutih dan warna kulitnya berubah
مكروهة للشم والتقبيل
baunya tak enak dan tidak enak dicium.”
[ Shahih Bukhari ]
Fitnah di awalnya terlihat indah dan cantik, menggunakan nama nama yang indah atas nama amar ma’ruf nahi munkar atau lainnya. Sehingga orang orang yang tak berilmu tertipu dengannya.
2. Fitnah menghilangkan akal lelaki yang cerdas.
Abdullah bin Mas’ud berkata: “Aku mengkhawatirkan fitnah atas kalian bagaikan asap. hati seseorang mati padanya sebagaimana mati badannya.” (Kitab Fitan karya Nu’aim bin Hammad no 117)
Karena fitnah itu diberikan slogan slogan yang mentereng sehingga akalpun hilang dan yang berbicara adalah perasaan dan emosi.
3. Ia amat cepat menjadi besar sehingga sulit dipadamkan.
Syaikhul Islam ibnu Taimiyah rohimahullah berkata: “Fitnah apabila telah menyala membuat lemah orang orang yang berakal untuk mencegah orang orang yang lemah akalnya.” (Minhajussunnah 4/343)
Maka berhati hatilah saudaraku dari fitnah.. Terutama bagi orang yang menyerukan revolusi dan pemberontakan.. jangan dahulukan perasaan dan emosi.. tanyalah para ulama kibaar sebelum bersikap.. Lihatlah dengan hati yang bening dan ilmu yang dalam.. Jangan korbankan darah kaum muslimin.. Salaf terdahulu berkata, “Penguasa yang zalim lebih baik dari kekacauan yang tak berujung.”
فإن أكثر الناس شبعاً في الدنيا أطولهم جوعاً يوم القيامة
“Sesungguhnya orang yang paling banyak kenyang di dunia adalah yang paling panjang laparnya di hari kiamat.” [ HR Ath Thabrani dan dihasankan oleh syaikh Al Bani ]
Kenyang itu mubah..
Namun tercela saat kita kenyang terus.
lalu menjadi berat untuk beribadah..
Lalai dengan beraneka ragam makanan dan pakaian..
Sebagaimana dalam hadits yang hasan:
شرار أمتي الذين غذوا بالنعيم الذين يأكلون ألوان الطعام و يلبسون ألوان الثياب و يتشدقون في الكلام .
“Seburuk buruk umatku adalah yang diberi kenikmatan lalu makan aneka ragam makanan dan memakai bermacam macam pakaian dan berbicara dengan sombongnya.”
Di bulan suci ramadlan kita lapar sebulan penuh.. Semoga mengurangi kelaparan kita di padang mahsyar kelak..