Nasihat Ibnu Hibban Rohimahullah – Anjuran Untuk Senantiasa Ridho Dan Sabar

Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى berikut ini : (tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) :

Dari pembahasan Kitab Roudhotul Uqola wa Nuz-hatul Fudhola (Tamannya Orang-Orang Yang Berakal dan Tamasya-nya Orang-Orang Yang Mempunyai Keutamaan) karya Abu Hatim Muhammad Ibnu Hibban al Busty rohimahullah.

ARTIKEL TERKAIT :
Kumpulan Artikel – Nasihat Ibnu Hibban rohimahullah…

===============

Hebatnya Makar Allah Terhadap Musuh-Nya…

“Fir’aun mengerahkan pasukannya untuk membunuh setiap bayi lelaki Bani Israil, maka semuanya (yang tidak menjadi musuh) dibunuhnya, kecuali musuh sesungguhnya (Musa) yang dipeliharanya dalam istana..

Bahkan Fir’aun kebingungan ketika Musa tak mau disusui oleh wanita manapun..

Akhirnya, kembalilah Musa ke buaian ibunya dengan jaminan nafkah dari Fir’aun”

[Renungan Al Qasas ayat 7-13]

Ustadz DR. Sufyan Baswedan MA, حفظه الله تعالى.

ref : https://www.facebook.com/Dr.SufyanBaswedan.MA/

Ayat Yang Sangat Indah Dan Halus Dalam Menjelaskan HARUSNYA Kita Meninggalkan SEMUA Bid’ah Dalam Agama…

Allah ta’ala berfirman:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ

“Katakanlah (wahai Muhammad kepada umatmu): Jika kalian benar-benar mencintai Allah, maka ikutilah aku (Muhammad), niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa kalian”. [QS. Alu Imron: 31].

Renungkanlah kandungan ayat ini:

1. Ayat ini berkenaan tentang cinta kepada Allah, yang harusnya menjadi derajat cinta paling tinggi di hati kaum mukminin. [QS. Albaqoroh: 165].

Itu saja dalam mengejewantahkannya harus mengikuti Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam-, apalagi bila cinta itu kepada makhluk-Nya.

Sehingga dalam mencintai Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- kita LEBIH wajib mengikuti cara dan tuntunan beliau, begitu pula dalam mecintai keluarga beliau, ka’bah, Alqur’an, dst…

2. Ayat ini memerintahkan kita untuk mengikuti Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- SAJA dalam mengejewantahkan cinta kita kepada Allah.

Sehingga kita tidak boleh mencintai Allah dengan cara para NABI selain beliau, apalagi cara para ulama, apalagi cara kita sendiri, jika cara-cara tersebut tidak sesuai dengan yang disyariatkan oleh Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam-.

3. Ayat ini menjelaskan bahwa Allah akan mencintai kita jika kita mengikuti Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- dalam mengejewantahkan cinta kita kepada-Nya.

Maka sebaliknya Allah akan menjadi MURKA, bila kita mengejewantahkan cinta tersebut dengan mengikuti tuntunan dari selain beliau.

———-

Semoga Allah memberikan TAUFIQ kepada kita, sehingga kita dapat mencintai Dia, Nabi, para ulama, dan yang lainnya, sebagaimana dituntunkan oleh Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam-.

Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA,  حفظه الله تعالى

 

da0901151655

Solusi Bagi Orang Yang Tidak Berkesempatan Menjadi Ulama’…

Saudaraku !

Barang kali anda begitu terobsesi untuk menjadi ahli ilmu, ulama’, atau kiyai, atau ustadz atau sebutan lainnya. Dan juga barangkali anda mendambakan untuk memiliki anak keturunan yang bisa menjadi bagian dari mereka. Betapa indahnya bila hal itu terwujud benar-benar menjadi kenyataan, namun bila itu belum menjadi kenyataan, maka jangan kawatir, ada solusi alternatif untuk bisa mendapatkan keutamaan alias pahala seperti yang mereka dapatkan.

Anda penasaran ingin tahu ?

Simak penjelasannya dari Imam Ibnu Taimiyyah berikut ini:

“Orang yang berbahagia adalah orang yang senantiasa berpegang teguh dengan Kitabullah, dan meneladani Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam dalam setiap sunnah dan syari’atnya.

Orang yang selalu mengambil petunjuk dengan tuntunan beliau dan meniti jejak beliau adalah manusia paling utama, semasa di dunia maupun di akhirat kelak.

Sedangkan orang yang berhasil menghidupkan sebagian dari sunnah (ajaran) beliau, maka ia mendapatkan pahala amalan sunnah tersebut dan pahala seluruh orang yang turut mengamalkannya, tanpa mengurangi sedikitpun dari pahala mereka, karena Allah tiada pernah menzhalimi sedikitpun walau hanya sebesar butir debu. Yang terjadi malah sebaliknya, Allah melipat gandakan pahala kebaikan atas kemurahan dan karunia-Nya.

Dan atas kemurahan dan karunia Allah, menghidupkan sunnah beliau mencakup berbagai amal kebajikan, sehingga bisa dilakukan dengan cara:

1. Menyampaikan dan menjelaskan sunnah-sunnah beliau, agar sunnah-sunnah tersebut menjadi semarak.

2. Dan dengan membelanya, misalnya dengan membelanjakan harta dan berjihad (berusaha dengan keras) memperjuangkan agama Allah dan meninggikan agama-Nya. Karena jihad dengan membelanjakan harta sering kali disandingkan dengan jihad memikul senjata. Bahkan dalam beberapa kesempatan, Allah Ta’ala mendahulukan penyebutan jihad dengan harta sebelum menyebutkan jihad dengan jiwa memikul senjata. Ini membuktikan betapa penting dan betapa besarnya membelanjakan harta. Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: 

)مَنْ جَهَّزَ غَازِيًا فَقَدْ غَزَا وَمَنْ خَلَفَهُ فِي أَهْلِهِ بِخَيْرِ فَقَدْ غَزَا (

‘Barangsiapa menyiapkan (membekali) orang yang berjihad maka ia telah berjihad, dan siapapun yang menjaga dengan baik keluarga seorang yang pergi berjihad maka ia telah berjihad.’

Beliau juga bersabda:

(مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ )

‘Barang siapa memberi makan berbuka orang yang berpuasa, maka ia mendapatkan pahala yang serupa dengan pahala orang yang berpuasa tersebut.’

Terlebih lagi amalan yang manfaatnya terus menerus tiada terhenti, walaupun ia telah meninggal dunia dan menghuni liang kuburnya, sebagaimana ditegaskan pada hadits berikut:

(إذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إلَّا مِنْ ثَلَاثٍ، صدقة جارية أو علم ينتفع به أو ولد صالح يدعو له )

‘Bila anak Adam meninggal dunia maka terputuslah pahala semua amalannya kecuali dari tiga hal: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak sholeh yang senantiasa mendo’akan untuknya.’

Ketiga amalan ini, adalah amalan setiap insan yang akan tersisa sepeninggalnya.”

[Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyyah 18/245/246]

==================

Untuk itu kami membuka kesempatan indah ini bagi anda semua, silahkan turut ambil bagian di peluang emas ini.

STDI IMAM SYAFII mengajak anda semua untuk berpartisipasi pada program pembebasan lahan untuk perluasan kampus putri, seluas 18.000 m2 (1,8 ha).

Kesempatan masih terbuka lebar untuk anda.

Lokasi tanah terletak di belakang gedung putri STDI IMAM SYAFII JEMBER.

Partisipasi anda, dapat anda salurkan melalui rekening berikut:

STDI IMAM SYAFII
Bank BNI SYARIAH kancab Jember.
No Rekening Virtual Account: 988 142 899 112 3451.

Konfirmasi partisipasi saudara via:
0812-8219-5309
0813-4860-8708

Semoga Allah menerima partisipasi anda, dan membalasnya dengan yang lebih baik. Amiin.

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى.

Ketertipuan Terbesar

Yahya bin Mu’adz rohimahullah berkata,

“Menurutku, ketertipuan yang terbesar adalah,

– terus-menerus berbuat dosa diiringi rasa harap mendapat ampunan Allah tanpa penyesalan,
– mengharapkan untuk bisa dekat dengan Allah tanpa diiringi ketaatan,
– menanti panen surga dengan benih neraka,
– ingin tinggal bersama orang-orang yang taat tapi dengan cara berbuat maksiat,
– menunggu-nunggu pahala tanpa berbuat amal, dan
– mengharapkan keridhoan Allah tapi pada saat yang sama melalaikan-Nya..”

[ Mau’izhat Al-Mu’minin: 114 ]

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

Berusaha Dalam Meraih Keutamaan…

Al-Imam Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata:

«المصالح والخيرات واللذات والكمالات كلها لا تُنال إلا بحظ من المشقة، ولا يُعبر إليها إلا على جسر من التعب!»

“Maslahat, kebaikan, kelezatan, dan kesempurnaan semuanya tidak bisa diraih kecuali dengan sebagian kesulitan, dan tidak bisa melalui untuk mencapainya kecuali melewati jembatan keletihan.”

[Miftah Daaris Sa’adah, jilid 2 hlm. 15]

Ustadz DR. Sufyan Baswedan MA, حفظه الله تعالى.

ref : https://www.facebook.com/Dr.SufyanBaswedan.MA/

Hakekat Kesabaran…

Maimun bin Mihran rohimahullah berkata:

«الصبر صبران، الصبر على المصيبة حسن، وأفضل من ذلك الصبر عن المعاصي»

“Kesabaran ada dua macam, sabar ketika ditimpa musibah merupakan perkara yang baik, dan yang lebih utama dari itu adalah sabar meninggalkan maksiat.”

[Ash-Shabru karya Ibnu Abid Dunya, hlm. 18]

Ustadz DR. Sufyan Baswedan MA, حفظه الله تعالى.

ref : https://www.facebook.com/Dr.SufyanBaswedan.MA/

Walaupun Ia Mencelaku…

Abdullah Al Warroq berkata, “Aku sampai di majelis imam Ahmad bin Hanbal. 
Beliau bertanya, ‘Dari mana kamu datang ?’
‘Dari majelis abu kuraib.’ Jawabku.
Beliau berkata, ‘Tulislah ilmu darinya karena ia seorang syaikh yang sholeh.’
Aku berkata, ‘Tapi ia mencelamu.’
Beliau berkata, ‘Apalah aku, ia seorang syaikh yang sholeh yang sedang diuji dengan aku.’

[Siyar A’laam Nubalaa 11/317]

Ma syaa Allah…
itulah ketaqwaan dan sikap adil..
walaupun dicela namun tetap menyuruh menuntut ilmu darinya..
karena ketaqwaan dan keshalihan serta keilmuan yang mumpuni..
Namun siapa ulama yang tak mempunyai kekurangan…

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.

Balasan Sebagaimana Bentuk Amalan…

Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rohimahullah berkata :

‏«فأنت يا عبد الله إن دعوت إلى خير فلك مثل أجور المهتدين على يديك ، وإن دعوت إلى شر فعليك مثل أوزارهم وآثامهم»

“Apabila Anda -wahai hamba Allah- mengajak kepada kebaikan, Anda akan mendapatkan (pahala) seperti pahala orang yang mendapat hidayah dengan perantaraan Anda. Apabila Anda mengajak kepada kejelekan, Anda juga akan mendapatkan (dosa) seperti dosa-dosa mereka.”

[Al-Fatawa, 6/522]

Ustadz DR. Sufyan Baswedan MA, حفظه الله تعالى.

ref : https://www.facebook.com/Dr.SufyanBaswedan.MA/

HAKIKAT BID’AH dan Hukum-Hukumnya – Makna Sunnah…

Dari kitab yang berjudul Haqiiqotul Bid’ah wa Ahkaamuhaa, tentang Hakikat Bid’ah dan Hukum-Hukumnya, ditulis oleh Syaikh Sa’id bin Nashir Al Ghomidi, حفظه الله تعالى.
.
PEMBAHASAN SEBELUMNYA (Berpegang Teguh Dengan Sunnah…) bisa di baca di SINI

=======

🌿 Makna Sunnah 🌿

Alhamdulillah.. wash-sholaatu was-salaamu ‘alaa Rosuulillah…

Kita lanjutkan Hakikat Bid’ah dan Hukumnya… kemudian kita masuk ke pembahasan…

⚉  Makna Sunnah

Makna ‘sunnah’ secara bahasa dari kata ‘sanna sunatan’ yang artinya mempunyai makna yaitu ‘ath-thoriiqoh wa siiroh’ (tata cara dan siroh)
maka kata-kata ‘sanna’ mempunyai tata cara seperti Nabi ‎shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda dalam hadits Riwayat Muslim

‎مَنْ سَنَّ سُنَّةً حَسَنَةً

“Siapa yang memulai sebuah tata cara yang baik maka ia mendapatkan pahala, dan pahala orang-orang yang mengamalkan sampai hari kiamat.”

‎وَمَنْ سَنَّ سُنَّةً سَيِـّئَةً

“Dan siapa yang memulai tata cara yang buruk

‎عَلَيْهِ وِزْرُهَا

Ia dapat dosanya dan dosanya orang yang mengamalkan sampai hari kiamat”

Kata ‘SANNA SUNNATAN’ dalam hadits ini mempunyai makna secara bahasa, artinya: membuat atau memulai sebuah cara.

Dan tentunya yang di maksud dengan ‘sunnah hasanah’ yaitu tata cara yang sesuai dengan dalil dari Alqur’an dan Hadits Nabi ‎shollallahu ‘alayhi wasallam

Adapun secara istilah, maka sunnah itu ada dua makna:
1. Makna yang umum
2. Makna yang khusus

⚉  Adapun makna yang umum (kata Beliau)
Sunnah bermakna umum artinya syariat Islam yang ada dalam Alqur’an dan Sunnah
Atau yang di istimbat dari pokok-pokok tersebut.
Ini namanya Sunnah secara makna umum.

⚉  Kata Syaikhul Islam dalam kitab Majmu Fatawaa ( jilid 21/hlm 317)
“Sunnah adalah yang ditunjukkan oleh dalil syari’at
Sebagai keta’atan kepada Allah dan Rosul-Nya
Baik itu dilakukan langsung oleh Rosulullah ‎shollallahu ‘alayhi wasallam
Atau ada sahabat yang melakukannya, namun Nabi ‎shollallahu ‘alayhi wasallam tidak melarangnya
Atau sesuatu yang Nabi tidak lakukan di zamannya karena belum ada pendorongnya atau karena masih ada penghalangnya.
Maka apabila telah shohih bahwa Nabi memerintahkan atau menganggapnya perkara yang baik, maka itu adalah sunnah.”

👉🏼  Jadi makna sunnah secara umum adalah mengikuti jejak kaki Rosulullah ‎shollallahu ‘alayhi wasallam secara batin dan dzohir. Dan mengikuti jalannya dari kalangan Muhajirin dan Anshar. Sebagaimana Allah menyebutkan dalam Surat Attaubah ayat 100 dan mengikuti wasiat Rasulullah shollallahu ‘alayhi wasallam dalam Haditsnya

‎فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى

“Berpeganglah kepada sunnahku dan sunnah khulafa ‘ur rasyidin yang tertunjuki setelah ku, peganglah ia kuat-kuat dan gigit ia dengan gigi geraham dan jauhi perkara-perkara yang baru karena setiap perkara yang diada-adakan itu bid’ah, dan setiap bid’ah itu sesat.”

Jadi ini makna sunnah secara umum, itu semua yang Rosulullah ajarkan kepada umatnya adalah Sunnah Rosulullah ‎shollallahu ‘alayhi wasallam.

⚉  Adapun makna secara khusus ini sesuai dengan disiplin ilmunya, seperti contohnya

⚉  Sunnah menurut ILMU HADITS
yaitu sinonim dengan hadits, semua yang berasal dari Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam berupa ucapan, perbuatan ataupun persetujuan.

⚉  Sunnah menurut ILMU USHUL FIQIH
yaitu setiap yang diminta untuk melakukannya namun permintaannya tidak kuat seperti yang wajib.

⚉  Sunnah menurut ILMU AQIDAH
yaitu kebalikan dari bid’ah.

⚉  Sunnah menurut ILMU FIQIH (yang disebutkan oleh Imam Al Juwaini), yaitu yang apabila dilakukan dapat pahala, ditinggalkan tidak berdosa.

Ini adalah makna sunnah secara khusus dan itu muncul dengan munculnya disiplin-disiplin ilmu
.
.
Wallahu a’lam 🌴
.
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
.

Dari kitab yang berjudul Haqiiqotul Bid’ah wa Ahkaamuhaa, tentang Hakikat Bid’ah dan Hukum-Hukumnya, ditulis oleh Syaikh Sa’id bin Nashir Al Ghomidi, حفظه الله تعالى.
.
Silahkan bergabung di Telegram Channel dan Facebook Page :
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://www.facebook.com/aqidah.dan.manhaj/

Artikel TERKAIT :
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Haqiiqotul Bid’ah wa AhkaamuhaaHakikat Bid’ah dan Hukum-Hukumnya
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Showarif ‘Anil HaqHal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari KEBENARAN
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Al IshbaahManhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN

Menebar Cahaya Sunnah