Enam Tanda Kemunafikan Ketika Mengerjakan Sholat

Imam Ibnul Qoyyim (w. 751 h) rohimahullahu ta’ala berkata,

فهذه ست صفات في الصلاة من علامات النفاق :
1. الكسل عند القيام إليها
2. ومراءاة الناس في فعلها
3. وتأخيرها
4. ونقرها
5. وقلة ذكر الله فيها
6. والتخلف عن جماعتها

Ini adalah enam sifat dalam sholat yang merupakan tanda kemunafikan,

1. Tidak bersemangat dan malas untuk mengerjakannya,

2. Ingin dilihat manusia saat mengerjakannya,

3. Menunda-nunda waktunya,

4. Tidak khusyuk dalam mengerjakannya,

5. Sedikit mengingat Allah dalam sholatnya.

6. Sengaja berlambat-lambat dari sholat berjama’ah (di masjid, bagi laki-laki).

(ash-Sholah wa Hukmu Tarikiho – 1/173)

Kemuliaan 10 Hari Pertama Dzulhijjah

Ka’ab Al Ahbaar (w. 32 h) rohimahullahu Ta’ala mengatakan,

” اختار الله عز وجل البلاد ، فأحب البلدان إلى الله عز وجل البلد الحرام ، واختار الله الزمان فأحب الزمان إلى الله الأشهر الحرم ، وأحب الأشهر إلى الله ذو الحجة ، وأحب ذي الحجة إلى الله تعالى العشر الأول منه “.

Allah ‘Azza wa Jalla telah memilih negeri-negeri, maka negeri yang paling Allah cintai adalah negeri haram (Makkah),

Dan Allah pun memilih waktu, maka waktu yang paling Allah cintai adalah bulan-bulan haram.

Dan bulan yang paling Allah cintai adalah bulan dzulhijjah, sementara hari-hari di bulan dzulhijjah yang paling Allah cintai adalah sepuluh hari pertama di bulan tersebut.

(Syu’abul Iman 5/302-303)

Penyakit Ujub Dan Bahayanya

● Ibnul Mubarok (w.181 h) rohimahullah Ta’ala berkata,

العجب: أن ترى عندك شيئا ليس عند غيرك و لا أعلم فى المصلين شيئا شرا من العجب.

Penyakit ujub ialah ketika kamu menganggap bahwa dirimu memiliki sesuatu kelebihan yang tidak dimiliki oleh orang lain.

Dan aku tidak mengetahui sesuatu bagi orang-orang yang banyak sholatnya yang lebih berbahaya dari sifat ujub.

(Siyar A’lamin Nubala – 8/hal. 429)

● Al-Imam Asy-Syafi’i (w. 204 h) rohimahullah Ta’ala berkata,

إذا خفت على عملك العجب فاذكر رضى من تطلب و فى أي نعيم ترغب و من أي عقاب ترهب و من فكر ذلك صغر عنده عمله.

Bila kamu khawatir penyakit ujub pada amalanmu, maka ingatlah :

– keridhoan siapa yang kamu cari,
– kenikmatan seperti apa yang kamu harapkan,
– siksa seperti apa yang kamu lari darinya.

Maka siapa yang mengingat hal tersebut niscaya dia akan menganggap kecil amalannya.

(Siyar A’lamin Nubala – 10/hal. 42)

Lebih Dicintai Allah

Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin rohimahullahu ta’ala berkata,

والعمل الصالح متنوع : قرآن، ذكر، تسبيح، تحميد، تكبير، أمر بالمعروف، ونهي عن منكر، صلاة، صدقات، بر بالوالدين، صلة للأرحام؛ والأعمال الصالحة لا تحصى.

Amalan kebaikan itu beragam macam bentuknya, apakah :
– membaca al-Qur’an,
– berdzikir,
– mengucapkan subhaanallah, Allahu Akbar,
– mengajak kepada kebaikan,
– melarang dari kemungkaran,
– menunaikan sholat,
– bersedekah,
– berbakti kepada kedua orangtua,
– menyambung hubungan silaturahiim,

maka amalan kebaikan tidak terbatas jumlahnya.

إذا تصدقتَ بدرهم في هذه العشر ، وتصدقتَ بدرهم في عشر رمضان ، فأيهما أحب إلى الله؟
الصدقة في عشر ذي الحجة أحب إلى الله من الصدقة في عشر رمضان.

Namun, apabila engkau bersedekah
senilai satu dirham pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah ini, lalu engkau bersedekah dengan satu dirham di sepuluh hari terakhir Ramadhan, maka manakah dari keduanya yang paling dicintai Allah..?

Sedekah di sepuluh hari pertama Dzulhijjah itu yang lebih dicintai Allah dari bersedekah pada sepuluh hari terakhir Ramadhan.

(al-Liqo’ Asy-Syahri – jilid: 2/hal. 10)

Tentang Puasa Di 9 Hari Awal Dzulhijjah

➡️ APAKAH BOLEH PUASA TERUS DARI TANGGAL 1 S/D 9..?

Boleh.

➡️ APAKAH BOLEH BERPUASA HANYA DI SEBAGIAN HARINYA SAJA..?

Boleh asalkan jangan tinggalkan puasa Arofah di tanggal 9 nya (maksudnya 9 Dzulhijjah).

➡️ MENGAPA DEMIKIAN..?

Karena ada 2 hadits terkait puasa dan tidaknya Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam di 9 hari pertama Dzulhijjah.

Terkait hal tsb, Imam Ahmad bin Hambal rohimahullah menjelaskan bahwa,

“..maksud riwayat ‘Aisyah adalah Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam tidak berpuasa penuh selama sepuluh hari Dzulhijah.. Sedangkan maksud riwayat Hafshoh adalah Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam berpuasa di mayoritas hari yang ada.

Jadi, hendaklah berpuasa di sebagian hari dan berbuka di sebagian hari lainnya..”

[ Latho-if Al Ma’arif, hal. 459-460 ]

Allahu a’lam

ref : https://muslim.or.id/1625-amalan-sholih-di-awal-dzulhijah-dan-puasa-arofah.html

Jangan Tinggalkan Sholat Malam

● Sahabat mulia Abu ad-Darda’ – ‘Uwaimir bin Malik, 32H- rodhiyallahu ‘anhu berkata,

صلوا ركعتين في ظلم الليل لظلمة القبور

“Sholatlah (walaupun hanya) dua roka‘at di tengah kegelapan malam, agar kelak menjadi cahaya yang akan menerangi kegelapan di alam kubur kalian nanti..”

(Jami‘ul ‘Ulum wal Hikam – syarah hadits no. 23)

● Allah subhanahu wa ta‘ala memuji orang-orang yang sholat malam dalam firmanNya,

كَانُوا قَلِيلًا مِنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

“Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah)..” [Adz-Dzaariyaat: 17-18]

● Allah subhanahu wa ta‘ala juga berfirman,

تَتَجَافَىٰ جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُون

َ“Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sedang mereka berdo’a kepada Robb-nya dengan rasa takut dan harap, dan mereka menafkahkan sebagian dari rizki yang Kami berikan kepada mereka. Maka tidak seorang pun mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyenangkan hati sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan..” [As-Sajdah:16-17]

● Ibnul Qoyyim rohimahullah mengatakan,

“Coba renungkanlah bagaimana Allah membalas sholat malam yang mereka sembunyikan ketika mengerjakannya dengan balasan yang Allah sembunyikan pula bagi mereka, yakni (dengan balasan) yang tidak diketahui oleh semua jiwa.

Juga bagaimana Allah membalas rasa gelisah, takut dan gundah gulana mereka di atas tempat tidur saat bangun untuk melakukan sholat malam dengan kesenangan jiwa di dalam Surga..”

(Haadil Arwaah Ilaa Bilaad Afraah oleh Ibnul Qoyyim hal.278)

Kisah Sekelompok Jin Yang Mendapatkan Hidayah Setelah Mendengarkan Al Qur’an

Pembahasan Kitab At Tibyaan Fii Syarh Akhlaaqi Hamalatil Qur’an (karya Imam Al-Ajurri rohimahullah) oleh Syaikh Prof Dr. ‘Abdurrozzaq bin ‘Abdil Muhsin Al Badr hafizhohullah.

“Penulis kitab ini (Imam Al-Ajurri) rohimahullah menyebutkan permisalan yang sangat agung tentang pentingnya kita mendengarkan Al-Qur’an dengan baik, dan bagaimana mendengarkan Al-Qur’an dengan baik itu bisa membuka bagi seorang hamba -dengan izin Allah ‘Azza wa Jalla- pintu hidayah dan kemuliaan di dunia dan di akhirat.

Beliau menyebutkan kisah sekelompok jin yang dihadapkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla kepada Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wa sallam agar mereka mendengarkan Al-Qur’an. Dan Nabi kita shollallahu ‘alaihi wa sallam diutus untuk jin dan manusia.

Adapun dakwah Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam kepada manusia maka perkaranya jelas karena Nabi kita shollallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi kaumnya di perkumpulan-perkumpulan mereka, di rumah-rumah mereka dan mengajak mereka kepada agama Allah ‘Azza wa Jalla.

Adapun jin, maka mereka adalah makhluk yang lain yang mereka bisa melihat manusia namun manusia tidak bisa melihat mereka. Oleh karena itu ketika Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam diutus kepada jin dan manusia Allah Subhanahu wa Ta’ala menyiapkan dan memudahkan bagi Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam untuk menyampaikan dakwahnya kepada jin.

Maka dihadapkanlah sekelompok jin yang mendengarkan Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam membaca Al-Qur’an dan mendengarkan ucapan Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam kemudian mereka kembali menjadi utusan dan da’i dikaum mereka sebagaimana disebutkan dalam ayat.

Dan jika kita memperhatikan kejadian ini, maka kita bisa mendapati bahwasanya sekelompok jin tersebut mereka hanya mendengarkan Al-Qur’an sebentar saja. Namun mereka mendengarkan Al-Qur’an dengan baik sehingga mereka bisa mengambil manfaat dan memberi manfaat kepada yang lain.

Namun yang sangat disayangkan betapa banyak manusia yang mendengarkan Al-Qur’an namun mereka tidak bisa mendengarkan dengan baik dan mereka tidak bisa merenungi dan memahami ayat-ayat Al-Qur’an tersebut dengan baik.

Dan sekelompok jin tersebut mereka dalam suatu majelis saja mendengarkan Al-Qur’an dengan baik sehingga amal mereka yang sangat agung disebutkan dalam Al-Qur’an dan mereka berubah menjadi para da’i yang mengajak kepada Allah ‘Azza wa Jalla, mengajak kepada Tauhid..”

ref : https://www.radiorodja.com/48166-mendengarkan-al-quran-dengan-baik-membuka-pintu-hidayah/

Menebar Cahaya Sunnah