MUTIARA SALAF : Manfaat Berteman Dengan Orang Sholeh

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

مُجَالَسَةُ الصَّالِحِينَ تُحَولُكَ مِنْ سِتَّةٍ إِلَى سِتَّةٍ:
– مِنَ الشَّكِّ إِلَى الْيَقِينِ
– وَمِنْ الرِّيَاءِ إِلَى الْإِخْلَاصِ
– وَمِنْ الْغَفْلَةِ إِلَى الذِّكْرِ
– وَمِنْ الرَّغْبَةِ فِي الدُّنْيَا إِلَى الرَّغْبَةِ فِي الْآخِرَةِ
– وَمِنْ الْكِبَرِ إِلَى التَّوَاضُعِ
– وَمِنْ سُوءِ النِّيَّةِ إِلَى النَّصِيحَةِ.

‏Bermajelis dengan orang sholeh akan mengubahmu dalam 6 hal :

1. Ragu-ragu menjadi yakin
2. riya’ menjadi ikhlas
3. lalai menjadi dzikir
4. cinta dunia menjadi cinta akhirat
5. kesombongan menjadi tawadhu’
6. niat yang jelek menjadi tulus menasihati.

(Ighotsatul Lahfan – 1/136)

MUTIARA SALAF : Akibat Tidak Menjaga Lisan

Umar bin Abdul Aziz rohimahullah berkata,

أَدْرَكْنَا السَّلَفَ وَهُمْ لَا يَرَوْنَ الْعِبَادَةَ فِي الصَّوْمِ، وَلَا فِي الصَّلَاةِ، وَلَكِنْ فِي الْكَفِّ عَنْ أَعْرَاضِ النَّاسِ، فَقَائِمُ اللَّيْلِ وَصَائِمُ النَّهَارِ؛ إِنْ لَمْ يَحْفَظْ لِسَانَهُ؛ أَفْلَسَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ.

“Kami menjumpai salaf (para shahabat) dalam keadaan mereka tidak (hanya) menilai ibadah pada puasa dan sholat. Namun, (mereka menilai ibadah termasuk pula) pada menahan lisan dari mencela kehormatan orang lain.

Sebab, orang yang banyak mengerjakan sholat malam dan puasa, jika dia tidak menjaga lisannya, maka dia akan bangkrut pada hari kiamat nanti..”

(At-Tamhid – 17/443)

100 Hari Menjelang Romadhon 1445 Insyaa Allah

malam ini tanggal 19 Jumadal Uula, atau sekitar 100 hari menjelang tibanya bulan Romadhon 1445 hijriyah.

bagi yang masih punya hutang puasa Romadhon 1444, silahkan mengatur jadwal pelunasan hutang puasa tsb.

nb : angka 100 hanya estimasi .. penentuan tanggal 1 Romadhon 1445 hijriyah akan diputuskan oleh pemerintah setelah sidang isbat .. semoga Allah memberikan kesempatan kepada kita semua untuk bertemu kembali dengan bulan Romadhon, aamiiin.

SELESAI : Bukber Puasa Senin-Kamis : November 2023

KAMIS SIANG  –  30 NOVEMBER 2023 / 16 JUMADAL UULA 1445

Jadwal bukber berikutnya insyaa Allah:

SENIN : 04 DESEMBER – 20 JUMADAL UULA 

===============

BANK SYARIAH INDONESIA
748 000 4447
AL ILMU TA’AWUN
info : 0838 0662 4622

===============

BACKGROUND :
Program rutin, insyaa Allah, menghidangkan ratusan porsi ifthor (makanan dan minuman) untuk kegiatan buka-bersama (bukber) ratusan santri/santriwati penghafal Alqur’an dan penuntut ilmu yang rutin berpuasa dan buka bersama di setiap hari senin-kamis di beberapa ma’had di lombok timur dan  RPQ di kota bima (sumbawa timur).

SATU porsinya senilai antara Rp. 15.000 s/d Rp. 20.000. Silahkan berapapun partisipasinya, semoga menjadi bekal amal kebaikan yang melimpah, aamiin.. Dalam program ini, kami bekerjasama dengan Assunnah Peduli, Lombok Timur.

DOKUMENTASI
KAMIS : 02 Nov 2023 : 263 Santri
SENIN : 06 Nov 2023 : 329 Santri
KAMIS : 09 Nov 2023 : 446 Santri
SENIN : 13 Nov 2023 : 277 Santri
KAMIS : 16 Nov 2023 : 191 Santri
SENIN : 20 Nov 2023 : 257 Santri
KAMIS : 23 Nov 2023 : 207 Santri
SENIN : 27 Nov 2023 : 190 Santri
KAMIS : 30 Nov 2023 : 168 Santri

================

● saldo 30/11 pkl. 05.00 wib  : Rp. 5.3 Juta
—————————–
● tambahan partisipasi   >>    : Rp. 3.4 Juta
bukber 30/11 – .. santri >>  : Rp. (3.3) Juta
—————————–
● saldo 30/11 pkl. 12.00 wib : Rp. 5.4 Juta

Laporan bukber bulan OKTOBER 2023 dapat dilihat di link berikut ini :

SELESAI : Bukber Puasa Senin-Kamis – Oktober 2023

Dalam hadits lainnya, Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam bersabda (yang artinya), “Setiap orang akan berada di bawah NAUNGAN SEDEKAH-nya hingga diputuskan hukum antara manusia.”

Yazid berkata, “Abul Khair tidak pernah melewati satu haripun melainkan ia bersedekah dengan sesuatu walaupun hanya dengan sebuah kue ka’kah atau lainnya.” [HR. Ahmad – dishohihkan oleh Syaikh al Albani]
.
FAQ :
Menghadiahkan Pahala Sedekah Untuk Teman Karib Yang Sudah Meninggal
Siapa Saja Dari Ummat Islam Yang Bisa Dihadiahkan Pahala Sedekah..?
================
.
jazaakumullahu khoyron kepada para muhsinin/donatur yang telah dengan tulus karena Allah menyisihkan sebagian hartanya untuk menghidangkan ifthor bagi ratusan santri/santriwati penghafal Alqur’an yang melaksanakan ibadah puasa sunnah secara rutin in-syaa Allah di setiap senin-kamis, semoga Allah menerimanya…
.
silahkan share ke kerabat, teman, dll karena terdapat juga pahala bagi orang yang menunjukkan jalan kebaikan.
.
Nabi shollallahu ’alayhi wa sallam bersabda:

.من دَلَّ على خيرٍ فله مثلُ أجرِ فاعلِه.

“Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya” [ HR. Muslim no. 1893 ]
.
.
Semoga Allah ‘azza wa Jalla senantiasa mudahkan urusan kita bersama… Aaamiiin

MUTIARA SALAF : Macam Macam Cinta

قال الإمام ابن القيم رحمه الله :
“فالمحبة النافعة ثلاثة أنواع: محبة الله، محبة في الله، محبة على ما يعين على طاعة الله واجتناب معصيته.
والمحبة الضارة ثلاثة أنواع: المحبة مع الله، محبة ما يبغضه الله، محبة ما تقطع محبته عن محبة الله أو تنقصها.
فهذه ستة أنواع عليها مدار محاب الخلق”
(إغاثة اللهفان ص.٥١٢)

Ibnul Qoyyim rohimahullah menjelaskan bahwa :

● Cinta yang bermanfaat ada tiga macam:

1. Cinta Allah.
2. Cinta karena Allah.
3. Cinta perkara yang membantu ketaatan kepada Allah dan menjauhi kemaksiatan kepada-Nya.

● Cinta Yang Memudhoratkan ada tiga macam:

1. Cinta selain Allah dengan kecintaan yang sama kepada Allah.
2. Cinta hal-hal yang Allah benci.
3. Cinta perkara yang memutus kecintaan terhadap Allah ataupun menguranginya.

Enam macam cinta inilah yang beredar padanya cinta-cinta makhluk.

(Ighotsatul Lahfan hal. 512)

MUTIARA SALAF : Penyakit Cinta Ketenaran

● Ibrahim bin Adham rohimahullah berkata,

مَا صَدَقَ اللهَ عَبْدٌ أَحَبَّ الشُّهْرَةَ

“Tidaklah jujur kepada Allah, seorang hamba yang mencintai ketenaran..”

● Al Imam adz-Dzahabi rohimahullah berkata,

“Aku katakan,

عَلاَمَةُ المُخْلِصِ الَّذِي قَدْ يُحِبُّ شُهْرَةً، وَلاَ يَشْعُرُ بِهَا أَنَّهُ إِذَا عُوتِبَ فِي ذَلِكَ لاَ يَحْرَدُ (أَيْ: لاَ يَغْضَبُ) وَلاَ يُبَرِّئُ نَفْسَهُ

Tanda seseorang yang ikhlas, (saat ia terjatuh) mencintai ketenaran yang tanpa disadarinya, jika ia ditegur lantaran hal itu (maka) ia tak akan marah dan tidak menganggap dirinya terbebas dari kekurangan tersebut. Ia justru menyadari (atas kekurangannya) dan berkata,

رَحِمَ اللهُ مَنْ أَهْدَى إِلَيَّ عُيُوبِي

“Semoga Allah merahmati orang yang menunjukkan aib-aibku kepadaku.”

وَلاَ يَكُنْ مُعْجَبًا بِنَفْسِهِ؛ لاَ يَشْعُرُ بِعُيُوبِهَا، بَلْ لاَ يَشْعُرُ أَنَّهُ لاَ يَشْعُرُ، فَإِنَّ هَذَا دَاءٌ مُزْمِنٌ

Janganlah ia menjadi orang yang merasa ujub (bangga), tidak menyadari aib-aibnya, bahkan tidak sadar bahwa dirinya tidak menyadari aib-aibnya. Ini adalah penyakit yang kronis..”

(Siyar A’lam an-Nubala – 7/393)

MUTIARA SALAF : Menasehati Diri Sendiri

Al-Fudhail bin ‘Iyadh rohimahullah mencela dirinya sendiri

يا مسكين! أنت مسيء، وترى أنك محسن

“Wahai orang yang pantas dikasihani..! Engkau telah berbuat jelek, namun menyangka bahwa dirimu telah berbuat baik.

وأنت جاهل، وترى أنك عالم

Engkau bodoh, tetapi menyangka bahwa dirimu berilmu.

وتبخل، وترى أنك كريم

Engkau bakhil, tetapi menganggap dirimu dermawan.

وأحمق، وترى أنك عاقل

Engkau dungu, tetapi menganggap dirimu bijaksana.

أجلك قصير، وأملك طويل.

Ajalmu dekat, tetapi angan-anganmu panjang..”

(Siyar A’lamin Nubala 8/440)

MUTIARA SALAF : Perbedaan Antara Harapan Dengan Angan-Angan

Ibnul Qoyyim rohimahullah mengatakan,

“Ketika seseorang mengharapkan sesuatu, dia harus mengetahui bahwa harapannya itu akan berkonsekuensi pada tiga hal :

1. Mencintai apa yang ia harapkan.
2. Ia merasa kawatir tidak mendapatkan apa yang ia harapkan.
3. Ia berusaha untuk mendapatkan apa yang diharapkan dengan segala kemampuannya.

Harapan yang tidak disertai satupun dari tiga hal di atas maka itu hanya angan-angan belaka. Harapan dan angan-angan adalah dua perkara yang berbeda.

Setiap orang yang mengharapkan sesuatu maka pada dirinya akan muncul :
– perasaan takut kehilangan apa yang ia harapkan,
– akan berusaha menempuh jalan untuk mendapatkan apa yang ia harapkan,
– bila takut kehilangan apa yang ia harapkan maka ia akan segera berupaya agar tidak terluputkan dari apa yang ia harapkan.

Dalam Jami’ At-Tirmidzi disebutkan hadits dari Abu Hurairah rodhiyallahu ‘anhu ia berkata: Nabi shollallahu ’alaihi wasallam bersabda:

مَنْ خَافَ أَدْلَجَ، وَمَنْ أَدْلَجَ بَلَغَ الْمَنْزِلَ، أَلاَ إِنَّ سِلْعَةَ اللهِ غَالِيَةٌ، أَلاَ إِنَّ سِلْعَةَ اللهِ الْجَنَّةُ

“Barangsiapa kawatir disergap musuh di waktu sahur, dia akan menghindarkan diri sejak awal malam. Barangsiapa yang berusaha menyelamatkan dirinya sejak awal, ia akan sampai kepada tempat tinggalnya. Ketahuilah, sesungguhnya barang dagangan Allah itu mahal. Ketahuilah, barang dagangan Allah itu adalah surga..”

Sebagaimana Allah Subhanahu wata’ala telah memberi harapan kepada orang-orang yang mengerjakan amal sholih, demikian pula Ia memberi rasa takut kepada mereka. Maka ketahuilah bahwa harapan dan rasa takut yang bermanfaat adalah yang disertai amal sholih. Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ هُمْ مِنْ خَشْيَةِ رَبِّهِمْ مُشْفِقُونَ. وَالَّذِينَ هُمْ بِآيَاتِ رَبِّهِمْ يُؤْمِنُونَ. وَالَّذِينَ هُمْ بِرَبِّهِمْ لَا يُشْرِكُونَ. وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا ءَاتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ. أُولَئِكَ يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَهُمْ لَهَا سَابِقُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati karena takut akan (adzab) Robb mereka. Dan orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Robb mereka. Dan orang-orang yang tidak mempersekutukan dengan Robb mereka (sesuatu apapun). Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Robb mereka. Mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya.” (Al-Mukminun: 57-61)

Al-Imam At-Tirmidzi dalam Jami’-nya menyebutkan hadits dari ‘Aisyah rodhiyallahu ‘anha, ia berkata: Aku bertanya kepada Rosulullah shollallahu ’alaihi wasallam mengenai ayat ini. Aku berkata: “Apakah mereka adalah orang yang meminum minuman keras, berzina, dan mencuri..?”

Rosulullah shollallahu ’alaihi wasallam menjawab:

لاَ يَا بِنْتَ الصِّدِّيقِ، وَلَكِنَّهُمُ الَّذِيْنَ يَصُومُونَ وَيُصَلُّونَ وَيَتَصَدَّقُونَ، وَيَخَافُونَ أَنْ لاَ تُتَقَبَّلَ مِنْهُمْ، أُولَئِكَ يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ

“Tidak wahai putri Ash-Shiddiq. Mereka adalah orang-orang yang berpuasa, sholat, bersedekah. Namun mereka khawatir kalau amalan yang mereka lakukan itu tidak diterima oleh Allah. Mereka itu orang yang sebenarnya berlomba-lomba berbuat amal kebaikan..”

Allah Subhanahu wata’ala telah menyebutkan sifat orang-orang yang bahagia dengan ihsan (berbuat baik) yang disertai khauf (kawatir).

Sebaliknya, Allah Subhanahu wata’ala menyebutkan sifat orang-orang yang sengsara dengan berbuat keburukan yang disertai perasaan aman..”

(Ad-Daa’ wad Dawaa` karya Ibnul Qoyyim hal. 46)

MUTIARA SALAF : Tanda Kebahagiaan Dan Tanda Kesengsaraan

Imam Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

مِنْ عَلَامَاتِ السَّعَادَةِ وَالْفَلَاحِ : أَنَّ الْعَبْدَ كُلَّمَا زِيدَ فِي عِلْمِهِ زِيدَ فِي تَوَاضُعِهِ وَرَحْمَتِهِ وَكُلَّمَا زِيدَ فِي عَمَلِهِ زِيدٌ فِي خَوْفِهِ وَحَذَرِهِ .وَكُلَّمَا زِيدَ فِي عُمْرِهِ نَقَصَ مِنْ حِرْصِهِ. وَكُلَّمَا زِيدَ فِي مَالِهِ زِيدَ فِي سَخَائِهِ وَبَذْلِهِ . وَكُلَّمَا زِيدَ فِي قَدْرِهِ وَجَاهَهُ زَيْدٌ فِي قُرْبِهِ مِنْ النَّاسِ وَقَضَاءِ حَوَائِجِهِمْ وَالتَّوَاضُعِ لَهُمْ.

“Di antara tanda kebahagiaan dan kesuksesan adalah:

– ketika hamba bertambah ilmunya, bertambah pula sifat rendah hati dan kasih sayangnya,

– ketika bertambah amalnya, bertambah pula rasa takut dan kewaspadaannya,

– ketika bertambah umurnya, maka berkuranglah semangatnya terhadap dunia,

– ketika bertambah hartanya, bertambah pula kedermawanan dan sikap suka berbagi,

– semakin tinggi kedudukannya, semakin dekat dengan orang lain, semakin (bersemangat) memenuhi kebutuhan mereka, dan semakin rendah hati terhadap mereka.

وَعَلَامَاتُ الشَّقَاوَةِ أَنَّهُ كُلَّمَا زِيدَ فِي عِلْمِهِ زِيدَ فِي كِبَرِهِ وَتِيهِهِ، وَكُلَّمَا زِيدَ فِي عَمَلِهِ زَيْدٌ فَخْرُهُ وَاحْتِقَارِهِ لِلنَّاسِ وَحَسُنَ ظَنِّهِ بِنَفْسِهِ ، وَكُلَّمَا زِيدَ فِي عُمُرِهِ زِيدٌ فِي حِرْصِهِ، وَكُلَّمَا زِيدَ فِي مَالِهِ زِيدٌ فِي بُخْلِهِ وَإِمْسَاكِهِ، وَكُلَّمَا زِيدَ فِي قَدْرِهِ وَجَاهَهُ زَيْدٌ فِي كِبَرِهِ وَتَيهِهِ.

Adapun tanda kesengsaraan di antaranya:

– ketika bertambah ilmunya, justru bertambah kesombongan dan kecongkakannya,

– semakin bertambah amalnya, bertambah pula rasa bangga dan peremehan terhadap orang lain serta prasangka baik kepada dirinya,

– semakin umurnya bertambah, semakin meningkat pula semangatnya mengejar dunia,

– ketika bertambah hartanya, maka bertambah pula kikirnya dan sifat menahan hartanya,

– ketika bertambah kedudukannya, bertambah pula kesombongannya dan kecongkakannya.

وَهَذِهِ الْأُمُورُ ابْتِلَاءٌ مِنَ اللَّهِ وَامْتِحَانٌ يَبْتَلِي بِهَا عِبَادَهُ فَيَسْعَدُ بِهَا أَقْوَامٌ وَيَشْقَى بِهَا أَقْوَامٌ.

Hal-hal tersebut merupakan cobaan dari Allah, sebuah ujian yang dengannya Allah menguji para hamba-Nya. Sebagian orang akan mendapatkan kebahagiaan (dengan ujian tersebut), sementara sebagian yang lain akan celaka..”

(Al-Fawa’id, hlm. 227)

MUTIARA SALAF : Jangan Tergesa-Gesa

Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

التَّأَنِّي مِنَ اللهِ، وَالْعَجَلَةُ مِنَ الشَّيْطَانِ

“Ketenangan/kehati-hatian datangnya dari Allah, sedangkan tergesa-gesa datangnya dari setan..”

(HR. Abu Ya’la – Syaikh al-Albani berkata di ash-Shohiihah no. 1795, isnadnya hasan)

● Ibnu Hibban rohimahullah mengatakan,

الواجب على العاقل لزوم الرفق في الأمور كلها وترك العجلة والخفة فيها، إذ الله تعالى يحب الرفق في الأمور كلها، ومن منع الرفق منع الخير، كما أن من أعطي الرفق أعطي الخير، ولا يكاد المرء يتمكن من بغيته في سلوك قصده في شيء من الأشياء على حسب الذي يحب إلا بمقارنة الرفق ومفارقة العجلة

“Seseorang yang berakal wajib senantiasa berhati-hati dan cermat dalam semua urusan, tidak boleh tergesa-gesa, dan tidak bertindak gegabah. Sebab, Allah subhanahu wa ta’ala mencintai kehati-hatian dalam semua urusan. Barangsiapa tidak bisa bertindak hati-hati, dia akan terhalangi dari kebaikan.

Adapun orang yang dianugerahi kecermatan, dia telah diberi kebaikan. Seseorang hampir pasti tidak bisa menggapai tujuannya dalam satu urusan pun sesuai dengan keinginannya kecuali dengan disertai sikap cermat dan meninggalkan ketergesaan..”

(Roudhotul Uqola wa Nuzhatul Fudhola, hlm. 247)

Menebar Cahaya Sunnah