MUTIARA SALAF : Fase Perjalanan Seorang Hamba

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

“Seorang hamba sejak menginjakkan telapak kakinya di dunia ini, maka ia telah mulai perjalanannya menghadap Tuhannya.

Lama perjalanannya adalah sepanjang usia yang ditetapkan baginya. Umur merupakan waktu perjalanan seseorang dalam dunia ini menghadap kepada Tuhannya. Kemudian Allah Ta’ala menempatkan hari-hari beserta malamnya sebagai fase-fase perjalanannya: setiap hari dan setiap malam merupakan bagian dari fase-fase perjalanan tersebut. Seseorang akan terus menempuh langkahnya fase demi fase hingga perjalanannya berakhir.

Musafir yang cerdik adalah yang dapat mengambil pelajaran dari setiap fase perjalanan yang dilaluinya, sehingga ia berusaha untuk melaluinya dengan selamat dan sehat, serta membuahkan hasil.

Ketika melanjutkan perjalanannya, maka ia pun memandang fase berikutnya dengan seksama. Ia juga tidak membiarkan harapannya terlalu jauh hingga membuat hatinya keras dan menumbuhkan sifat bermalas-malasan seperti :
– taswif (berjanji akan melakukannya nanti atau besok),
– banyak berjanji,
– senang terlambat, dan
– bahkan mengulur-ulur waktu.”

(Fawaidul Fawaid)

MUTIARA SALAF : Empat Tingkatan Orang Yang Terkena Musibah

Syaikh Muhammad bin Sholih Al ’Utsaimin rohimahullah berkata,

“Keadaan manusia yang tertimpa musibah terbagi dalam beberapa tingkatan:

Pertama: Orang yang Bersyukur
Kedua:  Orang yang Ridho
Ketiga:  Orang yang Bersabar
Keempat: Orang yang Berputus Asa

● Adapun orang yang BERPUTUS ASA, maka hanya akan melakukan suatu perbuatan yang dilarang. Yakni, marah terhadap ketetapan Allah Robb semesta alam, yang di tangan-Nya kekuasaan di langit dan dibumi. Milik-Nya lah segala kekuasaan, dan Ia berbuat sekehendak-Nya.

● Dan adapun orang yang BERSABAR, sungguh dia telah melakukan kewajibannya (yaitu bersabar). Dan yang dimaksud bersabar adalah seseorang menanggung musibah dengan sabar. Yakni dia memandang bahwasanya musibah itu pahit, berat, sulit, dan benci musibah itu menimpanya. Akan tetapi dia menanggungnya dan menahan dirinya dari perbuatan yang haram, dan yang demikian ini adalah kewajiban.

● Dan adapun RIDHO. Yakni, orang yang tidak tersibukkan atas musibah yang menimpanya. Dia memandang bahwa musibah ini datangnya dari sisi Allah dan dia ridho, dengan keridhoan yang sempurna. Dan tidaklah menjadikan di dalam hatinya rasa kecewa dan menyesal atasnya.

Karena dia ridho, yakni dengan keridhoan yang sempurna. Keadaannya yang demikian ini lebih tinggi dari keadaan orang yang bersabar. Keridhoan yang seperti itu adalah lebih utama (mustahab), akan tetapi bukanlah merupakan suatu kewajiban.

● Dan adapun orang yang BERSYUKUR, dia bersyukur kepada Allah atas musibah ini. Akan tetapi bagaimana caranya dia dapat bersyukur kepada Allah..? Sedangkan hal tersebut  adalah suatu musibah.

jawabannya: Dari dua sisi

PERTAMA: Dengan melihat seseorang yang tertimpa musibah yang lebih besar. Kemudian dia bersyukur kepada Allah karena dia tidak tertimpa musibah yang semisalnya.

Dan dalam permasalahan ini, terdapat hadits: “Janganlah kalian melihat orang yang di atas kalian (kenikmatan duniawinya), dan lihatlah orang yang berada di bawah kalian. Karena yang demikian itu, akan menjadikan kalian tidak meremehkan nikmat Allah atas kalian..”

KEDUA: Dia tahu bahwasanya dengan adanya musibah ini akan diampuni dosa-dosanya. Akan di angkat derajatnya jika dia bersabar. Dan segala sesuatu yang ada di akhirat itu lebih baik dibandingkan dengan apapun yang ada di dunia. Maka diapun bersyukur kepada Allah.

Dan juga, perlu dipahami bahwa,  manusia yang paling berat ujiannya adalah para Nabi, kemudian orang-orang sholeh, kemudian orang terbaik setelahnya dan terbaik lagi seterusnya.

Maka hendaknya seseorang berharap menjadi bagian dari orang-orang yang sholeh karenanya. Dan bersyukur kepada Allah subhanahu wata’ala atas nikmat ini..”

(Syarah Al-Mumti’)

MUTIARA SALAF : Perbedaan Waro’ Dan Zuhud

Syaikh Muhammad bin Sholih al-‘Utsaimin rohimahullah menjelaskan,

“Zuhud lebih tinggi dari waro’. Bedanya adalah :

– waro’ berarti : meninggalkan sesuatu yang bermudhorot (terhadap kepentingan akhiratnya).

– sedangkan zuhud adalah : meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat (untuk kepentingan akhiratnya).

Kesimpulannya, segala urusan terbagi menjadi tiga :

1. Sesuatu yang memudhorotkan kepentingan akhirat.

2. Sesuatu yang bermanfaat untuk kepentingan akhirat.

3. Tidak bermudhorot, tetapi juga tidak bermanfaat.

Waro’ adalah meninggalkan sesuatu yang mendatangkan mudhorot terhadap kepentingan akhirat, yakni meninggalkan perkara haram.

Adapun zuhud adalah meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat untuk kepentingan akhirat. Perkara yang tidak bermanfaat untuk kepentingan akhirat, ia tinggalkan. Sebaliknya, perkara yang bermanfaat untuk kepentingan akhirat, ia kerjakan. Tentu saja, perkara yang haram, lebih-lebih lagi, pasti ditinggalkan.

Oleh karena itu, zuhud lebih tinggi dari waro’. Setiap orang zuhud, pasti ia waro’. Namun, tidak setiap orang yang waro’ ia zuhud..”

(Syarah Riyadhush Sholihin hlm. 790)

ﺃﻥ اﻟﺰﻫﺪ ﺃﻋﻠﻰ ﻣﻦ اﻟﻮﺭﻉ، ﻭاﻟﻔﺮﻕ ﺑﻴﻨﻬﻤﺎ ﺃﻥ اﻟﻮﺭﻉ ﺗﺮﻙ ﻣﺎ ﻳﻀﺮ، ﻭاﻟﺰﻫﺪ ﺗﺮﻙ ﻣﺎ ﻻ ﻳﻨﻔﻊ، ﻓﺎﻷﺷﻴﺎء ﺛﻼﺛﺔ ﺃﻗﺴﺎﻡ: منها ﻣﺎ ﻳﻀﺮ ﻓﻲ اﻵﺧﺮﺓ، منها ﻣﺎ ﻳﻨﻔﻊ، ﻭﻣﻨﻬﺎ ﻣﺎ ﻻ ﻳﻀﺮ ﻭﻻ ﻳﻨﻔﻊ.

فالورع: ﺃﻥ ﻳﺪﻉ اﻹﻧﺴﺎﻥ ﻣﺎ ﻳﻀﺮﻩ ﻓﻲ اﻵﺧﺮﺓ، ﻳﻌﻨﻲ ﺃﻥ ﻳﺘﺮﻙ اﻟﺤﺮاﻡ.

ﻭاﻟﺰﻫﺪ: ﺃﻥ ﻳﺪﻉ ﻣﺎ ﻻ ﻳﻨﻔﻌﻪ ﻓﻲ اﻵﺧﺮﺓ، ﻓﺎﻟﺬﻱ ﻻ ﻳﻨﻔﻌﻪ ﻻ ﻳﺄﺧﺬ ﺑﻪ، ﻭاﻟﺬﻱ ﻳﻨﻔﻌﻪ ﻳﺄﺧﺬ ﺑﻪ، ﻭاﻟﺬﻱ ﻳﻀﺮﻩ ﻻ ﻳﺄﺧﺬ ﺑﻪ ﻣﻦ ﺑﺎﺏ ﺃﻭﻟﻰ، ﻓﻜﺎﻥ اﻟﺰﻫﺪ ﺃﻋﻠﻰ ﺣﺎﻻ ﻣﻦ اﻟﻮﺭﻉ، ﻓﻜﻞ ﺯاﻫﺪ ﻭﺭﻉ، ﻭﻟﻴﺲ ﻛﻞ ﻭﺭﻉ ﺯاﻫﺪا.

Berpikir Dahulu Sebelum Berbuat

Orang yang berakal sebelum berbuat akan menganalisa terlebih dahulu apakah perbuatan tersebut berakibat baik atau malah berakibat buruk..
Bukan mendahulukan semangat dan perasaan..

Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rohimahullah juga mengatakan:

 العواطف عواصف ان لم تقيد بالكتاب والسنة دمرت كل شيء

“Perasaan bagaikan angin topan, jika tidak diikat dengan Alqur’an dan As Sunnah akan merusak segala sesuatu..”

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

MUTIARA SALAF : Sebagian Dari Adab Bermasyarakat

Maimun bin Mihran rohimahullah mengisahkan,

جاء رجل إلى سلمان الفارسي، فقال: أوصني

Seorang lelaki mendatangi Salman al-Farisi rodhiyallahu ‘anhu seraya berkata, Berilah aku wasiat..!

Salman mengatakan,

لا تكلم

Jangan berbicara..!

Lelaki itu menjawab,

لا يستطيع من عاش في الناس أن لا يتكلم

Seseorang yang hidup di tengah-tengah manusia tidak mampu untuk tidak berbicara.

Salman berkata,

فإن تكلمت، فتكلم بحق أو اسكت

Jika engkau berbicara, bicaralah dengan kebenaran, atau (jika tidak maka) diamlah.

Lelaki itu berkata,

زدني

Tambahlah wasiat untukku..!

Salman berkata,

لا تغضب

Jangan marah..!

Lelaki itu berkata,

إنه ليغشاني ما لا أملكه

Sungguh, aku diliputi (emosi) yang tidak bisa aku kuasai

Salman berkata,

فإن غضبت فأمسك لسانك ويدك

Kalau engkau marah, tahanlah (kendalikanlah) lisan dan tanganmu.

Lelaki itu berkata,

زدني

Tambah lagi untukku..!

Salman berkata,

لا تلابس الناس

Jangan engkau bergaul dengan manusia..!

Si lelaki menjawab,

لا يستطيع من عاش في الناس أن لا يلابسهم

Orang yang hidup bersama manusia tidak mungkin tidak bergaul dengan mereka.

Salman berkata,

فإن لابستهم، فاصدق الحديث وأد الأمانة

Jika engkau bergaul dengan mereka, jujurlah dalam berucap dan tunaikanlah amanat.

(Shifatu ash-Shofwah 1/259)

HADITS : Tiga Bentuk Pengabulan Sebuah Do’a

Dari sahabat Abu Sa’id al-Khudri rodhiyallahu ‘anhu, Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إثْمٌ، وَلاَ قَطِيعَةُ رَحِمٍ؛ إِلاَّ أَعْطَاهُ بِهَا إِحْدَى ثَلَاثٍ: إِمَّا أَنْ يُعَجِّلَ لَهُ دَعْوَتَهُ، وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ، وَإِمَّا أَنْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ السُّوْءِ مِثْلَهَا. قَالُوا: إذًا نُكْثِرُ. قَالَ: اللهُ أَكْثَرُ

“Tidaklah seorang muslim berdo’a dengan sesuatu pun, selama (do’anya) tidak mengandung dosa atau memutus silaturahmi, kecuali Alah akan memberinya salah satu dari tiga hal:

– disegerakan baginya pengabulannya,

– atau disimpan baginya di akhirat,

– atau dihindarkan darinya bencana atau keburukan yang semisal dengannya.”

(Ketika mendengar hadits ini) para sahabat bertanya, “Kalau demikian (yakni setiap orang yang berdo’a pasti akan mendapatkan salah satu dari tiga hal tersebut), kami akan memperbanyak do’a..”

Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Sungguh, pengabulan Allah subhanahu wa ta’ala lebih banyak daripada do’a kalian..”

(HR. Ahmad no. 11133)
Hadits ini dinilai hasan shohih oleh Syaikh al-Albani dalam Shohih at-Targhib wa at-Tarhib no. 1633

ARTIKEL TERKAIT
Tiga Perkara Penting Untuk Diingat Agar Kita Langgeng Dalam Berdo’a

HADITS : Balasan Bagi Mereka Yang Rutin Membaca Alqur’an

Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam bersabda (yang artinya),

“Akan datang orang yang suka membaca Alqur’an di Hari Kiamat kelak, lalu Alqur’an berkata, ‘Yaa Robbii, hiasilah dia..’ kemudian orang itu dihiasi dengan mahkota karomah (kemuliaan)..

Lalu Alqur’an berkata, ‘Yaa Robbii, tambahkan lagi untuknya..’ maka ia dihiasi dengan pakaian (perhiasan) karomah..

Kemudian ia berkata lagi, ‘Yaa Robbii, ridhoilah ia..’ maka Allah pun meridhoinya. Lalu dikatakan kepadanya, ‘Bacalah dan naiklah..’ untuk setiap ayat, ia ditambahkan (balasan) satu kebaikan..”

(HR. at-Tirmidzi)

mari kita baca Alqur’an setiap hari..

Mudah Bosan Adalah Akhlak Tercela

Amru bin Al Ash rodhiyallahu ‘anhu berkata,

لا أَمَلُّ ثوبي ما وسعني،
ولا أملُّ زوجتي ما أحسنت عِشرتِي،
ولا أملُّ دابٌَتِي ما حملتني،
إن الملال من سيء الأخلاق.

Sesungguhnya :
– aku tidak bosan dengan bajuku selama masih mencukupiku,
– aku tidak bosan dengan istriku selama ia masih mau menemaniku,
– aku tidak bosan dengan kendaraanku selama ia masih bisa membawaku.

Sesungguhnya mudah bosan itu adalah akhlak tercela.

(Tarikh Damsyiq 183/46)

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Kebebasan Yang Hakiki

Syaikh Sholih Fauzan hafizhohullah berkata,

« الحرية الصحيحة في طاعة الله،
وليست الحرية بإتباع الهوى والشهوات هذه عبودية للهوى وليست حرية ».

“Kebebasan yang benar adalah bebas untuk mentaati Allah. Bukan bebas untuk mengikuti hawa nafsu dan syahwat. Ini namanya menghambakan diri kepada hawa nafsu bukan kebebasan..”

الإجابات الفاصلة صـ ( 23 )

Di hari kiamat..
Orang yang berusaha mentaati Allah dan melawan hawa nafsu dan syahwat..
Diberikan kenikmatan yang abadi..
Itulah kebebasan dari penjara dunia..

Sedangkan pengikut hawa nafsu dan syahwat..
Ia merasa bebas di dunia..
Sedangkan di akherat ia dipenjara dalam neraka..

Allah berfirman,

اِنَّهَا عَلَيْهِمْ مُّؤْصَدَةٌ

“Sesungguhnya api itu ditutup rapat atas mereka,

فِيْ عَمَدٍ مُّمَدَّدَةٍ

(sedang mereka itu) diikat pada tiang-tiang yang panjang..”

(Al Humazah: 8-9)

Akibat mereka tak mau diikat oleh ikatan Allah..
Lebih senang diikat oleh ikatan hawa nafsu dan syahwat..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Menebar Cahaya Sunnah