Tj Kebenaran Hadits Shalat Tasbih

213. BBG Al Ilmu – 271

Pertanyaan:
Saya ingin bertanya soal Shalat Tasbih..apa Rasulullah melakukan Shalat tersebut dan ada hadits Sahihnya? lalu pelaksanaannya apa benar Minimal 1x Seumur hidup? mohon Penjelasannya..

Jawaban:
Derajat hadits dari ibnu Abbas mengenai shalat tasbih adalah shahih li ghairihi, sehingga dapat diamalkan.

Mengenai seberapa seringnya, sebagaimana terdapat dalam hadits tersebut, minimal sekali seumur hidup.

Untuk pembahasan lengkapnya berikut haditsnya, silahkan buka link berikut:
http://www.konsultasisyariah.com/shalat-tasbih-bidah-atau-sunnah/
والله أعلم بالصواب

»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶

Tj Zakat Kendaraan Bermotor

212. BBG Al Ilmu – 271

Pertanyaan:
Untuk kendaraan apakah memang tidak ada kewajiban untuk dikeluarkan zakatnya? Bukankah termasuk kedalam harta yang bisa diuangkan dengan cepat (dijual)

Jawaban:
Jika mobil tersebut hanya sekedar dikendarai saja, maka
tidak ada zakat. Dalilnya, hadis dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu; Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
« لَيْسَ عَلَى الْمُسْلِمِ فِى فَرَسِهِ وَغُلاَمِهِ صَدَقَةٌ »

“Tidak ada kewajiban zakat bagi seorang muslim, terkait kudanya dan budaknya.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Syeikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin menjelaskan, kata ‘kuda dan budak’ dinisbahkan kepada seseorang, secara khusus. Artinya, benda tersebut digunakan untuk melayani kepentingan pribadi. Dia gunakan dan dia manfaatkan, sebagaimana pakaian, rumah yang dia tinggali, atau mobil yang dia gunakan, meskipun untuk disewakan.

Namun jika ia digunakan untuk mencari keuntungan(didagangkan), maka ia termasuk barang dagangan. Zakatnya dikeluarkan jika sudah sempurna haul (masa satu tahun hijriyah) dihitung sejak mobil tersebut digunakan untuk mencari keuntungan. Zakatnya diambil 2,5% dari qimahnya atau harga mobil tersebut saat pembayaran zakat. Ini berlaku juga untuk rumah yang didagangkan.
والله أعلم بالصواب

Sumber:
http://www.konsultasisyariah.com/zakat-kendaraan-dan-rumah/

http://rumaysho.com/hukum-islam/zakat/3305-adakah-zakat-pada-mobil.html

»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶

Selamat Menyambut Ramadhan

Syekh DR. Sa’ad Al-Khotslaan حفظه الله تعالى

Beliau berkata :

التهنئة بشهر رمضان أو بغيره تدخل في أبواب العادات، والأصل في العادات الحل والإباحة إلا ما ورد الدليل بمنعه، ولا أعلم ما يمنع من جواز التهنئة بشهر رمضان، وتهنئة المسلم بحصول ما يسره أمر مشروع كما جاء في الصحيحن عن كعب بن مالك في قصة الثلاثة الذين خلفوا أنه لما نزل القرآن بتوبة الله عليهم جعل الصحابة يهنئونه ،

Memberi selamat menyambut datangnya bulan ramadhan atau yang lainnya termasuk dalam perkara-perkara adat-istiadat/tradisi. Dan hukum asal dalam perkara adat-istiadat adalah halal kecuali perkara yang dilarang oleh dalil. Dan aku tidak mengetahui dalil yang melarang bolehnya memberi selamat akan datangnya ramadhan.

Dan menyampaikan selamat kepada seorang muslim atas sesuatu perkara yang menggembirakannya merupakan perkara yang disyariatkan, sebagaimana datang dalam shahihain (shahih al-Bukhari dan shahih Muslim) dari Ka’ab bin Malik tentang kisah tiga sahabat yang tidak ikut perang Tabuk. Yaitu tatkala turun ayat Al-Quran bahwa Allah menerima taubat mereka bertiga maka para sahabat pun memberi ucapan selamat kepada Ka’ab bin Malik.

ولا شك أن دخول شهر رمضان مما يسر المسلم ويغتبط به ، وكيف لايسر المسلم بنعمة الله عليه أن بلغه شهرالخيرات والبركات ورفعة الدرجات ،

Dan tidak diragukan bahwa masuknya bulan Ramadhan merupakan perkara yang menggembirakan seorang muslim dan ia dicemburui karenanya. Bagaimana seorang muslim tidak gembira dengan anugerah Allah yang berikan kepadanya dengan menjadikannya bertemu dengan bulan kebaikan dan keberkahan serta ditinggikannya derajat?

Baca selengkapnya disini:
http://www.firanda.com/index.php/artikel/fiqh/455-selamat-menyambut-ramadhan

 Ditulis oleh Ustadz Firanda Andirja MA حفظه الله تعالى

»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶

Tj Puasa Di Hari Isra’ Mi’raj

211. BBG Al Ilmu – 373

Pertanyaan:
Boleh tidak rajaban (isra mi’raj) puasa ? Apa niatnya ?

Jawaban:
Dalam Fatawa Syabakah Islamiyah, ketika ditanya tentang hukum puasa isra miraj,
mereka menjawab: “…Hari isra miraj, tidak diwajibkan, tidak dianjurkan, tidak pula disunahkan untuk puasa. Karena tidak ada keterangan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau mengerjakan puasa di hari itu atau memerintahkan sahabatnya untuk puasa di hari itu.

Andaikan puasa di hari itu dianjurkan, atau disunahkan tentu beliau akan menjelaskannya. Sebagaimana beliau menjelaskan tenatng puasa hari Arafah atau puasa Asyura…( Fatawa Syabakah islamiyah, no. 5951)

Namun demikian jika hari isra’ mi’raj bertepatan dengan hari yang menjadi rutinitas seseorang berpuasa sunah (seperti senin – kamis) maka tetap dianjurkan untuk melaksanakan puasa itu. Bukan karena isra mirajnya, tapi karena hari kebiasaan puasanya.
والله أعلم بالصواب
Sumber:
http://www.konsultasisyariah.com/bolehkah-puasa-di-hari-isra-miraj/

»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶

Tj Hukum Mencukur/Memendekkan Janggut

210. BBG Al Ilmu – 29

Pertanyaan:
Ustadz mau tanya hukum memelihara jenggot itu yang benar apa,,saya pernah dengar ada yg bilang sunnah,,,ada yang bilang wajib,,, Saya sendiri memelihara jenggot, namun terkadang say arapikan kalau sudah terlalu panjang,,mohon penjelasannya

Jawaban:
Al-Allamah besar dan Al-Hafizh terkenal, Abu Muhammad bin Hazm berkata, “Para ulama telah besepakat bahwa memelihara, memperbanyak dan membiarkan jenggot memanjang adalah fardhu (wajib), tidak boleh ditinggalkan sebab Rasulullah memerintahkan demikian seperti terdapat dalam shahih Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Potonglah kumis dan biarkanlah jenggot memanjang, selisihilah orang-orang Majusi”

Jelas terdapat petunjuk bahwa memanjangkan kumis dan mencukur jenggot serta memotongnya termasuk perbuatan menyerupai orang-orang majusi dan orang-orang musyrik padahal sudah diketahui bahwa menyerupai mereka adalah perbuatan yang munkar, tidak boleh dilakukan berdasarkan sabda Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam:
Artinya: “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk dari golongan mereka”

Perbuatan maksiat ini dapat mengurangi iman dan memperlemahnya serta dikhawatirkan pula ditimpakannya kemurkaan Allah dan azab-Nya
والله أعلم بالصواب
Sumber:
http://www.konsultasisyariah.com/apa-hukum-memelihara-jenggot/

»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶

Jangan Sok Tahu

Ust. Nuzul LC

-Orang yang tidak tahu maka dia kewajibannya adalah bertanya, bukan berfatwa, menjelaskan atau sekedar menjawab “iya” atau “tidak” tentang agama Allah taala.

Selain mendapat dosa, orang berbicara tanpa ilmu sangatlah rentan terjatuh dalam kesalahan yang fatal. Bahkan bisa jadi dapat merenggut nyawa seseorang.

Para ulama sangat berhati-hati dalam berfatwa. Lihatlah Imam Malik. Beliau pernah ditanya dengan 50 pertanyaan dan tidak ada satupun pertanyaan yang beliau jawab.

Imam Malik pernah berkata,” Barang siapa yang hendak menjawab pertanyaan tentang suatu permasalahan (agama), maka sebelum menjawab, hendaklah ia bayangkan bahwa didepannya ada surga dan neraka, serta bagaimana dia bisa mempertanggung jawabkannya, barulah ia menjawab.”

Guru besar imam Malik; Rabiah bin Abdirrahman pernah berkata,” Diantara orang yang berfatwa pada zaman ini lebih layak masuk penjara daripada para pencuri….”

Abul Husain al Asadi mengatakan,” Salah seorang dari kalian berfatwa tentang sebuah permasalahan yang seandainya permasalahan ini diangkat di hadapan Umar bin Al-Khaththab tentu ia akan mengumpulkan Ahli Badar (untuk bermusyawarah mencari jawabannya).”

Lantas, mengapakah kita begitu mudah berfatwa ?

Imsak ?

Ust. Badrusalam Lc

Kata orang, “Imsak itu untuk kehati-hatian saja..
Agar tidak bersahur ketika fajar menyingsing..
Apa betul alasan itu?..
Coba perhatikan hadits ini:
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda..
إذا سمعتم النداء والكأس على يد أحدكم فلا يضعه حتى يقضيه منه
“Apabila kalian mendengar adzan, sementara gelas berada di tangan, maka janganlah ia meletakkannya sampai menyelesaikan hajatnya.”

Hadits ini membatalkan imsak sampai ke akar-akarnya..
Perhatikan juga kaidah berikut:
الأصل بقاء ما كان على ما كان
“Pada asalnya tetap pada keadaan sebelumnya.”
Pada asalnya malam masih ada..
Sampai jelas masuknya waktu fajar..
bila ada yang makan sahur dengan dugaan waktu sahur masih ada..
Ternyata fajar sudah masuk..
Maka puasanya sah berdasarkan kaidah itu..
Kaidah ini juga membatalkan imsak..

Al Hafidz ibnu Hajar rahimahullahu berkata..
Termasuk bid’ah yang mungkar..
Yang terjadi di zaman ini..
Mematikan lampu-lampu sebagai tanda haramnya makan dan minum..
Bagi orang yang ingin berpuasa..
Dengan alasan kehati-hatian dalam ibadah..
(Fathul Baari 4/199).

Tampak jelas..
Bahwa imsak bukan sunnah..

Tj Membunuh Muslim Dengan Sengaja

209. BBG Al Ilmu – 49

Pertanyaan:
ustad,ijinkan saya bertanya, bagaimana hukumnya apabila seorang muslim terbunuh di tangan muslim lainnya,,dan sikorban adalah wanita yang dibunuh pacarnya sendiri karena faktor cemburu, tks

Jawaban:
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak halal menumpahkan darah seorang muslim yang bersaksi tidak ada sesembahan (yang benar) selain Allah dan bersaksi bahwa aku (Muhammad) adalah Rasulullah kecuali dengan salah satu dari tiga alasan: [1] nyawa dibalas nyawa (qishash), [2] seorang lelakiberistri yang berzina, [3] dan orang yang memisahkan agama dan meninggalkan jama’ah (murtad).” (HR. Bukhari  Muslim)

Beliau juga bersabda, “Sungguh, lenyapnya dunia lebih ringan bagi Allah daripada terbunuhnya seorang mukmin tanpa alasan yang benar.” (HR. Al-Mundziri, lihat Sahih At-Targhib wa At-Tarhib).

Hal ini menunjukkan bahwa membunuh muslim dengan sengaja adalah dosa besar.

والله أعلم بالصواب

Sumber:
http://muslim.or.id/manhaj/bom-bunuh-diri-jihadkah.html

»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶

Tj Zakat Maal


208. BBG Al Ilmu – 271

Pertanyaan:
Saya mau tanya, bagaimana Zakat itu dikeluarkan.apa 1 th sekali atau bagaimana..dan zakat itu dihitung dari harta yang kita miliki berupa uang atau benda?

Jawaban:
Barangsiapa yang memiliki uang mencapai nishab (ukuran jumlah tertentu yang karenanya dikenai kewajiban zakat), kemudian memiliki tambahannya berupa uang lain pada waktu yang berbeda-beda, dan uang tambahannya itu tidak berasal dari sumber uang pertama dan tidak pula berkembang dari uang pertama, tetapi merupakan uang dari penghasilan terpisah (seperti uang yang diterima oleh seorang pegawai dari gaji bulanannya, ditambah uang hasil warisan, hi ah atau hasil bayaran dari pekarangan umpamanya).

Apabila ia ingin menempuh cara longgar serta lapang diri untuk lebih mengutamakan pihak fuqara dan golongan penerima zakat lainnya, ia keluarkan saja zakat dari seluruh gabungan uang yang dimilikinya, ketika sudah mencapai haul (satu tahun) dihitung sejak nishab pertama yang dicapai dari uang miliknya. Ini lebih besar pahalanya, lebih mengangkat kedudukannya dan lebih menjaga hak-hak fakir miskin serta seluruh golongan penerima zakat.

Hal yang sama (balance gabungan uang x 2.5%)dilakukan di tahun-tahun berikutnya selama memiliki uang diatas nishab.

Tidak ada kewajiban zakat untuk kendaraan maupun rumah, kecuali jika barang-barang tersebut tersebut dijadikan barang dagangan (dibeli untuk dijual). Zakat perhiasan juga dikeluarkan tiap tahunnya saat haul dan selama masih mencapai nishob.

والله أعلم بالصواب
Sumber:

http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fatwa-seputar-zakat-profesi.html

http://rumaysho.com/hukum-islam/zakat/4235-konsultasi-zakat-1-menghitung-haul-zakat-maal.html

»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶

Tj Puasa Wanita Menyusui

207. BBG Al Ilmu – 49

Pertanyaan:
Saya punya istri masih menyusui bayi 5 bulan, baiknya bagaimanakah saat bulan Ramadhan ? dikarenakan tahun lalu di Ramadhan tidak puasa karena hamil dan sekarang karena pertimbangan si bayi yang masih perlu ASI.

Jawaban:
Syari’at Islam memang memberi keringanan kepada wanita hamil dan menyusui untuk tidak berpuasa. Jika wanita menyusui takut terhadap bayi yang dia sapih –misalnya takut kurangnya susu- karena sebab berpuasa, maka boleh baginya untuk tidak berpuasa, dan hal ini tidak ada perselisihan di antara para ulama.

Namun penting diperhatikan bahwa wanita hamil dan menyusui boleh tidak berpuasa jika memang ia merasa kepayahan, kesulitan, takut membahayakan dirinya atau anaknya. Al Jashshosh rahimahullah mengatakan, “Jika wanita hamil dan menyusui berpuasa, lalu dapat membahayakan diri, anak atau keduanya, maka pada kondisi ini lebih baik bagi keduanya untuk tidak berpuasa dan terlarang bagi keduanya untuk berpuasa. Akan tetapi, jika tidak membawa dampak bahaya apa-apa pada diri dan anak, maka lebih baik ia berpuasa, dan pada kondisi ini tidak boleh ia tidak berpuasa.
والله أعلم بالصواب

Sumber:
http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/3085-perselisihan-ulama-mengenai-puasa-wanita-hamil-dan-menyusui.html

»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶

Menebar Cahaya Sunnah