Tj Bolehkah Shalat Saat Adzan Dikumandangkan

Pertanyaan Ai 199:

Ustadz, apakah boleh kita shalat bersamaan dengan waktu adzan ?

Jawaban:

Terdapat larangan untuk melaksanakan shalat sunah di tiga waktu larangan:

Dari Uqbah bin Amir radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثَلَاثُ سَاعَاتٍ كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَنْهَانَا أَنْ نُصَلِّيَ فِيهِنَّ، أَوْ أَنْ نَقْبُرَ فِيهِنَّ مَوْتَانَا: «حِينَ تَطْلُعُ الشَّمْسُ بَازِغَةً حَتَّى تَرْتَفِعَ، وَحِينَ يَقُومُ قَائِمُ الظَّهِيرَةِ حَتَّى تَمِيلَ الشَّمْسُ، وَحِينَ تَضَيَّفُ الشَّمْسُ لِلْغُرُوبِ حَتَّى تَغْرُبَ

Ada tiga waktu, dimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kami untuk shalat atau memakamkan jenazah: [1] ketika matahari terbit sampai meninggi, ketika matahari tepat berada di atas benda (bayangan tidak condong ke timur atau ke barat), dan ketika matahari hendak terbenam, sampai tenggelam.” (HR. Muslim 831)

Demikian pula terdapat hadis yang melarang untuk shalat sunah ketika dikumandangkan iqamah shalat wajib, sebagaimana disebutkan dalam hadis Abu hurairah radhiallahu ‘anhu, yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim.

Larangan ini untuk shalat sunah, sementara shalat wajib, seseorang dibolehkan melaksanakannya ketika dia tidak sempat mengerjakannya pada waktunya.

Adapun waktu adzan, tidak dijumpai adanya hadis yang melarang –berdasarkan yang kami pahami–, meskipun yang afdhal, hendaknya seorang muslim menjawab adzan terlebih dahulu dan berdoa setelah adzan, ketika panggilan mulia ini dikumandangkan.

Karena itu, banyak ulama dari kalangan Malikiyah (Madzhab Maliki) dan Hanabilah (Madzhab Hanbali) yang menegaskan makruhnya memulai shalat sunah ketika mendengar adzan. Disebutkan dalam mukhtashar Jalil:

وكره تنفل إمام قبلها، أو جالس عند الأذان

“Dimakruhkkan imam melakukan shalat sunah (sebelum khutbah), atau orang yang sudah duduk di dalam masjid, shalat sunah ketika adzan.

Ibnu Qudamah –ulama Madzhab Hanbali- mengatakan,

“Al-Atsram menceritakan, bahwa Imam Ahmad ditanya tentang seseorang yang memulai shalat ketika mendengarkan adzan? Imam Ahmad menjawab:

‘Dianjurkan untuk melakukan shalat setelah selesai adzan atau hampir selesai adzan. Karena hadis menyatakan: ‘Sesungguhnya setan lari ketika mendengar adzan’. Karena itu, hendaknya tidak langsung berdiri melakukan shalat. Kalaupun dia masuk masjid kemudian mendengar adzan, dianjurkan untuk menunggu selesai adzan, agar bisa menjawab adzan, sehingga dia melakukan dua keutamaan (menjawab adzan dan shalat sunah). Andaipun dia tidak menjawab adzan, dan langsung shalat, itu tidak masalah’.” (Al-Mughni, 2:253)

Dari keterangan ulama di atas, dapat disimpulkan bahwa selayaknya tidak melaksanakan shalat sunah ketika adzan, agar bisa menjawab adzan dan tetap bisa melaksanakan shalat sunah setelah adzan.

Disadur dari: http://www.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=24137

Pengecualian:
Pengecualian dari hal ini adalah ketika Anda masuk masjid ketika adzan shalat Jumat dikumandangkan. Karena jika Anda menunggu adzan, maka Anda tidak bisa mendengarkan khutbah Jumat dengan sempurna. Sementara mendengarkan khutbah Jumat lebih diutamakan dari pada mendengarkan adzan. Syaikh Ibn utsaimin menjelaskan,

ذكر أهل العلم أن الرجل إذا دخل المسجد وهو يسمع الأذان الثاني فإنه يصلي تحية المسجد ولا يشتغل بمتابعة المؤذن وإجابته , وذلك ليتفرغ لاستماع            لأن استماعها واجب , وإجابة المؤذن سنة , والسنة لا تزاحم الواجب

“Para ulama menjelaskan bahwa jika ada orang yang masuk masjid ketika mendengarkan adzan Jumat, maka dianjurkan untuk segera tahiyatul masjid dan tidak menunggu menjawab adzan. Ini dilakukan agar dia bisa konsentrasi mendengarkan khutbah. Karena mendengarkan khutbah hukumnya wajib, sementara menjawab adzan hukumnya sunah. Dan amal sunah tidak bisa menggeser amal wajib.” (Majmu’ Fatawa Ibnu Utsaimin, no. 114)

http://www.konsultasisyariah.com/shalat-ketika-adzan/#axzz2V4tQx5NW

Tj Mengungkit Kesalahan Orang Lain

Pertanyaan Ai 367:
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Ust, bagaimana hukum mengungkit2 kesalahan orang lain?

Jawaban:

Ustadz Fuad Hamzah Baraba’ LC

Tidak boleh, itu bukan adab islam. Karena kita diperintahkan untuk menutupi, aib orang lain
Karena barangsiapa yang menutupi aib saudaranya, maka Allah akan menutup aibnya pada hari kiamat nanti
Seperti dalam hadits riwayat Muslim dari Abu Huraiarah  رضي الله عنه
Dari Nabi صلى الله عليه و سلم
من ستر مسلما ستره الله في الدنيا والآخرة

“Barangsiapa yang menutupi aib saudaranya yang muslim, maka Allah tutup aibnya ‎​di dunia dan ‎​di akhirat”

Tj Majlis Dzikir

Pertanyaan Ai 367:

Apa sih majlis dzikirr Itu ?
Jawaban:

Ustadz Fuad Hamzah Baraba’ LC

مجالس الذّكْر هي مجالس الْحلَال والْحرام كيْف تَشْتَرِي وَتَبِيعُ وَتصلّي وتَصوم وتَنْكح وَتُطَلّق وتَحجّ وأَشْباه ذلك

Majlis dzikir adalah : majlis yang di dalamnya di bicarakan masalah halal dan haram, bagaimana hukum pembelian dan penjualan dan bagamana cara sholat, puasa , nikahh , talaq dan haji dan yang berkenaan dengan semua itu

Tj Hukum Foto Dengan Kamera

Pertanyaan Ai 49:

Ane kebetulan punya hobby fotografi.. Apakah fotografi termasuk dalam pembuat gambar / patung.   Sampai saat ini ane udah mulai mengurangi hobby yg 1 ini krn ane takut.   Mohon infonya. جزاك اللهُ خير اً

Jawaban:

#Hukum Foto dengan Kamera#

Jika kita sudah mengetahui secara jelas hukum gambar makhluk yang memiliki ruh, sekarang kita beralih pada permasalahan yang lebih kontemporer yang tidak dapati di masa silam. Mengenai masalah foto dari jepretan kamera, para ulama ada khilaf (silang pendapat). Ada yang melarang dan menyatakan haram karena beralasan:

Hadits yang membicarakan hukum gambar itu umum, baik dengan melukis dengan tangan atau dengan alat seperti kamera. Lalu ulama yang melarang membantah ulama yang membolehkan foto kamera dengan menyatakan bahwa alasan yang dikemukakan hanyalah logika dan tidak bisa membantah sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka juga mengharamkan dengan alasan bahwa foto hasil kamera masih tetap disebut shuroh (gambar) walaupun dihasilkan dari alat, tetapi tetap sama-sama disebut demikian.

Sedangkan ulama lain membolehkan hal ini dengan alasan dalil-dalil di atas yang telah disebutkan. Sisi pendalilan mereka:

Foto dari kamera bukanlah menghasilkan gambar baru yang menyerupai ciptaan Allah. Gambar yang terlarang adalah jika mengkreasi gambar baru. Namun gambar kamera adalah gambar ciptaan Allah itu sendiri. Sehingga hal ini tidak termasuk dalam gambar yang nanti diperintahkan untuk ditiupkan ruhnya. Foto yang dihasilkan dari kamera ibarat hasil cermin. Para ulama bersepakat akan bolehnya gambar yang ada di cermin.

Alasan kedua ini disampaikan oleh Syaikhuna –Syaikh Sa’ad Asy Syatsri hafizhohullah-
yang di masa silam beliau menjadi anggota Hay-ah Kibaril ‘Ulama (kumpulan ulama besar Saudi Arabia).

Pendapat kedua yang membolehkan foto hasil kamera, kami rasa lebih kuat dengan alasan yang sudah dikemukakan.
#Catatan#:

Jika kami membolehkan foto dengan kamera, bukan berarti kami membolehkan menggantung foto di dinding atau memajangnya di halaman facebook. Karena hukum memajang itu ada pembahasan khusus dan berbeda dengan pembolehan foto kamera. Walaupun sebagian ulama membolehkan hal ini karena beralasan bahwa memajang di halaman web atau social media, tidak selamanya ada, sewaktu-waktu bisa hilang atau berpindah halaman. Namun dipajang sebaiknya ketika butuh saja seperti memajang foto sebagai identitas -jika memang butuh-, untuk kepentingan publikasi atau laporan yang mesti dengan gambar.

Dalam hadits muttafaqun ‘alaih disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

‫إِنَّ الْمَلاَئِكَةَ لاَ تَدْخُلُ بَيْتًا فِيهِ صُورَةٌ‬

”Para malaikat tidak akan masuk ke rumah yang terdapat gambar di dalamnya (yaitu  gambar makhluk hidupbernyawa)” (HR. Bukhari no. 3224 dan Muslim no. 2106).

Hal ini menunjukkan terlarangnya memajang gambar yang memiliki ruh. Lihat pembahasan rumaysho.com mengenai masalah ini:

http://rumaysho.com/hukum-islam/umum/3370-hukum-memajang-foto-makhluk-bernyawa.html
Pembahasan lebih lengkap akan “hukum foto dengan kamera” telah diulas Ustadz Abu Muawiyah di sini:

http://al-atsariyyah.com/hukum-menggambar-dalam-islam.html

http://rumaysho.com/hukum-islam/umum/3643-hukum-mengambil-foto-dengan-kamera-.html

Wallahu a’lam bisshowab

Ciri-Ciri Hati Yang Selamat

1. Mengutamakan kehidupan akhirat dibanding dunia,serta hatinya memahami ia datang kedunia ini seperti orang asing.

2. Hatinya selalu menegur untuk selalu istighfar serta bertaubat kepada ALLAH subhaanahu wa ta’ala.
(Ali imran: 133).

3. Hati merasakan sakit/menyesal apabila ada bentuk ketaatan yang luput darinya.

4. Hatinya selalu merindukan untuk beribadah kepada ALLAH.

5. Hatinya senantiasa menyibukkan dari waktu ke waktu untuk hal-hal yang akan memberikan manfaat untuk kehidupan akhiratnya.

6. Apabila ia melaksanakan shalat,maka akan hilang darinya semua kesibukan dunia dan dia merasakan kelezatan yang sangat dari shalat tersebut.

7. Tidak pernah putus untuk senantiasa berdzikir kepada ALLAH karna ia sangat membutuhkan dan tidak juga pernah bosan dari beribadah kepadaNYA.

8. Hati yang selamat senantiasa memiliki perhatian yang sangat untuk senantiasa mengoreksi setiap amal yang ia kerjakan, dan selalu berusaha untuk senantiasa ikhlas dan mengikuti sunnah Nabi.

9. Hati yang selamat senantiasa menyibukkan untuk mengoreksi dari setiap kekurangan/aib yang ada pada dirinya dan ia tidak menyibukkannya terhadap aib saudaranya.

10. Ia selalu memusatkan perhatiannya/ menanti serta merindukan dari setiap nasehat para ahli ilmu yang akan senantiasa menasehatinya, dan ia gemar berakhlak yang mulia kepada manusia.

Semoga memberikan manfaat kepada kita semua.

Oleh Ustadz Ahmad Ferry Nasution.

Tj Memakai Jam Di Tangan Kanan

40. Tj – 2

Pertanyaan:
Ustadz bgmn hukum pemakaian jam tangan di sebelah kanan?

Jawaban:
Ust. Fath El Bari Lc

#Jam di tangan kanan#

Sebagian ulama berpegang dengan keumuman hadis Aisyah lihat kitab “Umdatul Ahkam” hadis no 10. Yakni Rasululloh menyukai memulai sesuatu dari kanannya. Dan juga dalam kitab “Mukhtashor Asy-Syamaail Al-Muhammadiyyah Imam Tirmidzi” karya Syekh Al-Albani hadis no 77-81, 83-84.. (( Bahwa Nabi mengenakan cincin di tangan kanannya)).

Maka mengenakan jam ataupun cincin di tangan kanan ebih afdhol.

» Dan sebagian ulama juga mengatakan mana saja dibolehkan. Karena ada dalil yg lain seperti dalam kitab “Mukhtashor Asy-Syamaail Al-Muhammadiyyah” hadis no 82. ((Hasan dan Husain cucu Rasulillah memakai cincin di tangan kiri mereka)).

Jadi  masalah ini luas, jangan sampai menjadi bahan diskusi berkepanjangan, apalagi akan menghabiskan waktu sia-sia. Jangan sampai dijadikan barometer sunnah atw tidaknya seseorang, atw bahan untuk menguji ini ahlussunnah atw tidak.

Karena di sana masih banyak ilmu yang lebih harus dan wajib untuk digali dan diketahui yakni Tauhid.

Wallohu a’alam.

Tj Membeli HP Curian

39. Tj – 399

Pertanyaan:
لسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Mau tanya, affwan kalau di anggap nyeleneh.
Jika si A  membeli Hape dari sebuah counter, waktu transaksi, si A tidak tau kalau itu hape curian.
selang berapa lama, Hape itu diketahui hape curian karena bisa kedeteksi (Hape BB).
Bagaimna status barang pembelian Si A???
Apakah haram???

Jawaban:
” Siapa saja yang terlanjur membeli barang yang diketahui adalah hasil curian maka dia
punya kewajiban untuk mengembalikan barang tersebut dan mengambil kembali uang pembelian. Ini wajib dilakukan karena transaksi jual beli yang terjadi antara penadah dengan pencuri adalah transaksi jual beli yang tidak sah.

Adapun barang yang sudah terlanjur dibeli, lalu timbul keraguan bahwa jangan-jangan barang tersebut adalah barang curian–namun pembeli sendiri belum bisa memastikan dan menegaskan hal tersebut–maka barang yang sudah dibeli tidak harus dipulangkan, karena pada asalnya, transaksi jual beli yang terjadi adalah transaksi yang sah.”

http://pengusahamuslim.com/hukum-beli-barang-dari-penadah-barang-curian

Tj Cara Mengembalikan Harta Curian

Boleh jadi, ada di antara kita yang–sebelum mendapatkan hidayah ketika masa SMA–menganggap enteng perbuatan mengambil harta orang lain tanpa jalan yang benar. Selepas pelajaran olah raga, langsung masuk ke kantin sekolah. Kondisi kantin yang ramai dengan anak-anak yang baru selesai pelajaran olah raga menyebabkan ada yang memanfaatkan kesempatan untuk berbuat dosa. Dia mengaku makan tiga potong gorengan padahal sebenarnya makan lima potong, atau mengaku minum satu gelas es padahal sebenarnya minum dua gelas. Setelah sekarang mendapatkan hidayah dan bertobat, apakah dia harus mencari ibu penjaga kantin sekolah lalu menyerahkan sejumlah uang pengganti gorengan atau es yang diambil dengan cara yang tidak benar, sambil berkata jujur menceritakan duduk permasalahan di masa lalu? Duh, malunya …. Adakah solusi lain?

Bagaimana pula dengan buku perpustakaan sekolah yang sampai saat ini belum kita pulangkan? Haruskah kita menemui penjaga perpustakaan dan menceritakan permasalah kita? Adakah solusi lain agar tidak terlalu merasa malu?

Simak jawabannya dari tanya-jawab berikut ini:

Pertanyaan, “Suamiku membeli beberapa barang dari orang kafir dengan menggunakan kartu kredit VISA, namun dia tidak menyerahkan uang pembayaran. Apakah perbuatan tersebut termasuk kategori pencurian?”

Jawaban, “Tidaklah diragukan bahwa siapa saja yang membeli sesuatu namun tidak menyerahkan uang pembayaran maka dia telah melakukan perbuatan yang haram dan memakan harta orang lain dengan cara yang tidak benar. Adapun status pelakunya sudah tergolong pencuri atau bukan, boleh jadi dia tidak termasuk pencuri, dengan mempertimbangkan bahwa perbuatan mencuri–yang hukumannya dalam Islam potong tangan sebagaimana dalam QS. Al-Maidah:38–itu memiliki ketentuan-ketentuan, yang bisa saja, ketentuan tersebut tidak terpenuhi dalam kasus di atas. Meski demikian, bukan berarti perbuatan tersebut halal. Bahkan, perbuatan tersebut jelas-jelas haram!

Allah telah mewajibkan semua orang yang mengambil harta orang lain dengan cara yang tidak dibenarkan untuk mengembalikan harta tersebut kepada pemiliknya. Siapa saja yang tidak melakukannya maka dia berhak mendapatkan hukuman dan kehinaan.

فعن أبي حميد الساعدي قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : (والله لا يأخذ أحد منكم شيئاً بغير حقه إلا لقي الله يحمله يوم القيامة ، فلأعرفن أحداً منكم لقي الله يحمل بعيراً له رغاء ، أو بقرةً لها خوار ، أو شاة تيعر ، ثم رفع يده حتى رئي بياض إبطه يقول : اللهم هل بلغت ؟) رواه البخاري (6578) ومسلم (1832) .

Dari Abu Humaid As-Sa’idi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Demi Allah, semua orang yang mengambil sesuatu tanpa menggunakan cara yang benar itu pada hari kiamat nanti akan menghadap Allah sambil memikul sesuatu yang dia ambil tersebut. Sungguh, aku akan mengenal salah seorang kalian yang menghadap Allah sambil memikul unta yang bersuara, sapi yang bersuara, atau kambing yang sedang mengembik.’ Nabi kemudian mengangkat tangannya sehingga putihnya ketiak beliau pun tampak, lalu beliau berkata, ‘Ya Allah, bukankah aku telah menyampaikan?‘ (HR. Bukhari dan Muslim)

Orang yang mengambil harta orang lain dengan cara yang tidak benar itu bisa mengembalikan harta tersebut kepada pemiliknya dengan cara-cara yang tepat tanpa harus mempermalukan diri sendiri.

Jika orang yang hartanya diambil itu, saat ini, berdomisili di suatu tempat yang kita tidak bisa mencapainya atau kita tidak mengetahui keberadaan orang tersebut maka uang senilai harta tersebut kita sedekahkan atas nama pemilik harta. Jika pada akhirnya kita berjumpa dengan pemilik maka kita sampaikan kepadanya dua opsi pilihan, yaitu rela dengan sedekah atas nama orang tersebut ataukah tetap meminta haknya. Jika dia memilih sedekah maka pahala sedekah tersebut untuk dirinya. Jika dia tidak rela dengan sedekah maka kita wajib memberikan haknya kepadanya sedangkan pahala sedekah itu menjadi hak kita jika kita telah benar-benar bertobat.

Syekh Ibnu Utsaimin mengatakan, ‘Jika Anda mencuri harta milik seorang individu atau pihak tertentu maka Anda berkewajiban untuk menemui orang tersebut dan menyampaikan kepadanya, ‘Ada harta Anda dalam tanggungan saya dengan nilai sekian,’ kemudian perdamaian antara keduanya adalah sebagaimana kesepakatan yang terjadi di antara keduanya.

Akan tetapi, cara di atas boleh jadi berat bagi banyak orang. Tidak mungkin bagi seorang mantan pencuri untuk menemui pemilik harta lalu secara langsung dan terus terang mengatakan, ‘Dahulu, aku mencuri harta milik Anda senilai sekian,’ atau mengatakan, ‘Dahulu, aku mengambil milik Anda dengan nilai sekian.’ Jika demikian kondisinya maka harta curian tersebut bisa Anda kembalikan dengan cara lain: dengan cara tidak langsung.

Misalnya: Anda serahkan harta tersebut kepada seseorang yang menjadi kawan dari pemilik harta lalu Anda sampaikan kepadanya bahwa harta ini adalah milik Fulan. Kemudian, Anda sampaikan kisah harta tersebut, lalu Anda tutup kisah tersebut dengan mengatakan, ‘Sekarang, saya sudah bertobat. Saya berharap agar Anda menyerahkan harta ini kepada Fulan (tanpa Anda perlu menceritakan kisah harta tersebut).’

Jika pencuri tersebut telah melakukan hal di atas maka sungguh Allah berfirman,

(وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجاً (الطلاق/2

Barang siapa yang bertakwa kepada Allah maka akan Allah berikan kepadanya jalan keluar dari permasalahan yang dia hadapi.‘ (QS. Ath-Thalaq:2)

(وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْراً (الطلاق/4

Barang siapa yang bertakwa kepada Allah maka Allah akan memberika kemudahan untuk urusannya.‘ (QS. Ath-Thalaq:4)

Akan tetapi, jika Anda mencuri harta milik seseorang yang saat ini tidak Anda ketahui keberadaannya maka solusinya lebih mudah daripada kasus di atas. Cukup Anda sedekahkan harta curian tersebut kepada fakir miskin dengan niat pahala sedekah tersebut diperuntukkan pemilik harta. Dengan demikian, Anda telah bebas dari masalah.

Kisah yang dituturkan oleh Penanya mengharuskan kita untuk menjauhi perbuatan semisal itu. Boleh jadi, ada seseorang yang mencuri karena tidak berpikir panjang dan tanpa menimbang dampak buruknya. Setelah itu, dia mendapatkan hidayah. Akhirnya, dia harus bersusah payah agar terbebas dari dosa mengambil harta milik orang lain.’ (Fatawa Islamiyyah, juz 4, hlm. 162)

Terkait dengan kasus seorang tentara yang pernah mencuri, para ulama yang duduk di Lajnah Daimah mengatakan, ‘Jika dia mengetahui keberadaan pemilik harta atau mengenal orang yang mengetahui keberadaan pemilik harta maka wajib bagi mantan pencuri tersebut untuk melacak keberadaan pemilik harta lalu menyerahkan uang curian atau harta yang senilai dengan uang curian tersebut atau sejumlah harta yang menjadi kesepakatan di antara keduanya.

Jika dia tidak mengetahui keberadaan pemilik harta dan dia sudah putus asa untuk bisa melacaknya maka harta curian tersebut atau uang senilai harta curian tersebut disedekahkan kepada fakir miskin atas nama pemilik harta.

Jika pada akhirnya, pemilik harta bisa dilacak keberadaannya maka mantan pencuri tadi wajib menceritakan perbuatan yang telah dia lakukan. Jika pemilik harta rela dengan sedekah maka itulah yang diharapkan. Namun, jika ternyata dia tidak setuju dengan sedekah dan tetap meminta uangnya maka mantan pencuri wajib mengganti harta yang telah disedekahkan sedangkan pahala harta yang telah terlanjur disedekahkan itu menjadi milik orang yang bersedekah. Di samping itu, mantan pencuri ini wajib memohon ampunan kepada Allah serta bertobat dan mendoakan kebaikan untuk pemilik harta yang dulu pernah dia curi.’ (Fatawa Islamiyyah, juz 4, hlm. 165)”

Diterjemahkan dari http://www.islamqa.com/ar/ref/31234

http://pengusahamuslim.com/cara-mengembalikan-harta-curian

 

Tj Bolehkah Tetap Melaksanakan Shalat Sunnah Rawatib Selama Safar

Pertanyaan – AI 2:

Apakah tetAp boleh melaksanakan shalat sunnah rawatib sekalipun kita safar ?

Jawaban:

Ustadz Abdussalam Busyro, Lc

Syeikh Ibnu Utsaimin mengatakan :

“Adapun shalat-shalat sunnah rawatib maka sesungguhnya aku telah melakukan penelitian terhadap hadits-hadits tentang shalat-shalat sunnah dan tampaklah dihadapanku bahwa shalat rawatib zhuhur, maghrib dan isya tidaklah dilakukan (pada saat safar) adapun shalat-shalat sunnah selainnya maka dilakukan seperti : sunnah fajar, sunnah witir, shalat qiyamullail, shalat dhuha dan tahiyatul masjid bahkan shalat sunnah mutlak juga.” (Majmu’ Fatawa Ibnu Utsaimin juz 15 hal 258

Menebar Cahaya Sunnah