MUTIARA SALAF : Gunung Itu Tersusun Dari Bebatuan Kecil

Ibnul Mu’taz rohimahullah berkata,

خَلِّ الذُّنُــوبَ صَــغِيــرَهَا * وَكَبِيــــــرَهَا ذَاكَ التُّقَى

“Tinggalkanlah seluruh dosa, yang kecil dan yang besar, itulah takwa..!

وَاصْنَعْ كَمَاشٍ فَوْقَ أَرْ * ضِ الشَّـوْكِ يَحْــذَرُ مَــــا يــَـرَى

Berbuatlah seperti orang yang berjalan di atas tanah yang penuh dengan duri sehingga dia benar-benar berhati-hati dengan penuh perhatian

لاَ تَحْقِرِنَّ صَغِيـــــــــرَةً * إِنَّ الْجِبـَــالَ مِنَ الْحَصَــى

Janganlah sekali-kali kamu meremehkan sebuah dosa kecil. Sungguh, gunung-gunung itu, tersusun dari bebatuan kecil..”

(Jami’ul ‘Ulum wal Hikam 1/402)

Pemuda Idaman

Jika ingin menjadi pemuda idaman yang sulit tertandingi, maka amalkanlah nasihat berikut ini:

1. Menyibukkan waktu dengan ibadah dan hal-hal yang bermanfaat untuk dunianya.
2. Memilih guru dengan baik.
3. Waspada dengan waktu senggang yang dimiliki.
4. Bersemangat dalam mencari ilmu.
5. Menjadikan akhirat sebagai obsesi terbesar.
6. Tidak menyia-nyiakan masa muda.
7. Memaksimalkan potensi yang dimiliki pemuda, berupa kekuatan berpikir dan fisik, untuk kebaikan.
8. Berusaha untuk tidak menjadi beban bagi orang lain.
9. Jangan sampai melupakan urusan sholat.
10. Tidak memulai pertemuan kecuali dengan (mengucapkan) salam.
11. Menjadi sosok yang rajin dan taat.
12. Jangan suka menunda-nunda.

(Disarikan dari kitab Washiyyatus Salaf lisy Syabaab karya Syeikh Abdurrozzaq حفظه الله تعالى)

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah MA, حفظه الله تعالى

Semua Akan Ada Hisabnya

Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,

بَيْنَمَا رَجُلٌ يَمْشِي قَدْ أَعْجَبَتْهُ جُمَّتُهُ وَبُرْدَاهُ إِذْ خُسِفَ بِهِ الْأَرْضُ فَهُوَ يَتَجَلْجَلُ فِي الْأَرْضِ حَتَّى تَقُومَ السَّاعَةُ

“Dahulu ketika ada seseorang yang berjalan dan ia merasa bangga dengan rambutnya yang terurai dan mantelnya yang indah, tiba-tiba bumi beserta isinya ditenggelamkan, dan diapun ikut terbenam sambil meronta-ronta ke dalam perut bumi hingga hari kiamat nanti..”

(HR Muslim)

Lihatlah..
Ia diadzab karena merasa bangga dan sombong dengan rambut dan mantelnya yang indah..

Lalu bagaimana dengan:
Motor gede yang mahal..
Mobil ferrari yang mewah..
Sepeda yang berharga ratusan juta..
Seringkali membuat hati pemiliknya berbangga dan bersombong dengannya..

Semua itu akan ada hisabnya yang berat di hari kiamat kelak..

Maka selalulah berintropeksi dan memeriksa hati..
Namun itu amat sulit..
Karena hati sering berkhianat..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Penyebab Datangnya Kehinaan

Di perang Uhud, Rosulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam memerintahkan pasukan pemanah agar jangan turun dari gunung baik menang maupun kalah..

Namun ketika mereka melihat kaum muslimin menang dan banyak ganimah..
Sebagian besar mereka turun dan menyalahi perintah Rosul..

Maka pasukan musyrikin menggunakan kesempatan itu untuk menyerang kaum muslimin dari balik gunung dan berakhir dengan kekalahan kaum muslimin..

Maka Allah mengabadikan itu dalam firman-Nya:

أَوَلَمَّا أَصَابَتْكُم مُّصِيبَةٌ قَدْ أَصَبْتُم مِّثْلَيْهَا قُلْتُمْ أَنَّىٰ هَـٰذَا ۖ قُلْ هُوَ مِنْ عِندِ أَنفُسِكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar), kamu berkata: “Darimana datangnya (kekalahan) ini..?” Katakanlah: “Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri..” Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

(Aali Imran – 165)

Allah menyebutkan bahwa kekalahan itu bukan karena jumlah musuh yang lebih besar..
Tapi kekalahan itu berasal dari diri mereka sendiri yang menyalahi perintah Rosul..

Pelajaran bagi kita bahwa menyelisihi perintah Rosul pasti mendatangkan kehinaan..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

MUTIARA SALAF : Terfitnah Oleh Pujian Manusia

Kholid bin Shofwan berkata kepada Umar bin Abdil Aziz, rohimahumallah,

يا أمير المؤمنين إنّ أقواماً غرهم ستر الله
‏وفتنهم حسن الثناء فلا يغلبن جهل غيرك
‏بك علمك بنفسك
‏أعاذنا الله وإياك أن نكون بالستر مغرورين
‏وبثناء الناس مسرورين
‏وعما افترض الله علينا متخلفين ومقصرين
‏وإلى الأهواء مائلين

“wahai Amirul Mukminin..

banyak orang yang tertipu ketika Allah menutupi aib mereka..
dan terfitnah oleh pujian manusia…

maka ketidak tahuan mereka terhadap aibmu..
jangan sampai mengalahkan pengetahuanmu tentang aibmu..

– semoga Allah melindungi kami dan engkau dari tertipu dengan penutupan Allah terhadap aib kita..

– dan dilindungi dari gembira karena mendapat pujian manusia..

– dan dilindungi dari menyia nyiakan perintah Allah dan mengikuti hawa nafsu..”

(Az Zuhdul Kabiir karya imam Al Baihaqi 1/187)

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Sanksi Yang Tidak Dirasakan

Diantara makar Allah adalah yang Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam sabdakan,

إذا رأَيتَ اللهَ يُعطي العبدَ من الدُّنيا على مَعاصيهِ ما يُحِبُّ، فإنما هوَ استِدْرَاجٌ، ثُمَّ تَلا رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ: ﴿ فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ ﴾ [الأنعام: 44])

“Apabila kamu melihat Allah memberikan kepada seorang hamba kenikmatan dunia akibat maksiatnya maka sesungguhnya ia adalah istidroj (diulur). Lalu beliau membaca firman Allah,

فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّىٰ إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُم بَغْتَةً فَإِذَا هُم مُّبْلِسُونَ

“Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka, sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa..” (Al-An’am – 44)

(HR. Ahmad, no.17349, dishohihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam As-Shohihah, no. 414)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahullah mengatakan bahwa makna makar Allah kepada hamba-Nya adalah memberikan sanksi akibat dosanya dari arah yang ia tidak merasakannya.

Maka jangan pernah kita merasa aman dari makar Allah..
Jangan merasa aman dari datangnya adzab Allah dengan sekonyong konyong saat kita berbuat dosa..

Karena bagi Allah itu mudah..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

MUTIARA SALAF : Jangan Mengikuti Hawa Nafsu

Allah Ta’ala berfirman,

أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَـٰهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَىٰ عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَىٰ سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَىٰ بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَن يَهْدِيهِ مِن بَعْدِ اللَّهِ ۚ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ

“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah menyesatkannya di atas ilmu dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya..? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran..?!”

(Al-Jaasiyah – 23)

Syaikh Sholih Fauzan hafizhohullah berkata,

فالهوى إلهٌ آخرُ .
‏وليسَ الشركُ مقصوراً على عبادة الصنم أو الوثن .
‏بل هناك شيءٌ آخرُ وهو الهوى .
‏فقد لا يعبدُ الإنسانُ الأصنام ، والأشجار ، والأحجار ولا يعبد القبور .
‏لكن يتبع هواه ، فهذا عبدٌ لهواه .

“Hawa nafsu adalah tuhan yang lainnya..
Syirik itu tidak terbatas pada menyembah patung atau berhala..
tapi ada sesuatu yang lain yaitu hawa nafsu..

Terkadang seorang insan tidak menyembah patung, pohon, batu atau kuburan..
Tetapi ia mengikuti hawa nafsunya..
Maka ia menjadi hamba hawa nafsu..

Maka hendaklah setiap insan waspada..
Jangan ia ikuti kecuali yang sesuai dengan al qur’an dan sunnah..”

(Ithoful Qori 1/71)

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Mereka Adalah Keamanan Untuk Ummat Islam

Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,

النجوم أمنة للسماء فإذا ذهبت النجوم أتى السماء ما توعد وأنا أمنة لأصحابي فإذا ذهبت أتى أصحابي ما يوعدون وأصحابي أمنة لأمتي فإذا ذهب أصحابي أتى أمتي ما يوعدون

“Bintang adalah keamanan untuk langit. Apabila bintang telah pergi maka datanglah kepada langit yang dijanjikan (kiamat).

Aku adalah keamanan untuk para shahabatku. Apabila aku telah pergi, akan datang kepada shahabatku apa yang dijanjikan (berupa fitnah).

Dan para shahabatku adalah keamanan untuk ummatku. Apabila para shahabatku telah pergi, akan datang kepada ummatku apa yang dijanjikan (berupa bid’ah dan kesesatan)..”

(HR Muslim)

Maka ikutilah para shahabat Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam dalam cara beragama..
Mereka adalah keamanan untuk ummat Islam..

Ibnu Taimiyah rohimahullah berkata,

فعلى كل من انتسب إلى الدين
‏بقول أو عمل أن يكون متبعـــاً
‏للصحابة، مقتديا بهم.

“Atas setiap yang menisbatkan dirinya kepada agama ini baik dengan ucapan maupun perbuatan, hendaklah ia mengikuti para shahabat dan menjadikan mereka sebagai teladan..”

(Jami’ul Masaail 1/193)

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Berlindung Dari Segala Fitnah

Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda, “Aku bermimpi bertemu dengan Allah dan Dia berfirman,

يا محمَّدُ إذا صلَّيتَ فقلِ اللَّهمَّ إنِّي أسألُك الخيراتِ وتركَ المنكراتِ وحبَ المساكينِ ، وإذا أردتَ بعبادِك فتنةً فاقبِضني إليكَ غيرَ مفتونٍ

“Ya Muhammad, apabila kamu berdo’a maka ucapkan, “Ya Allah aku memohon kepadamu kebaikan, dan meninggalkan kemungkaran dan mencintai orang orang miskin. Dan apabila Engkau menghendaki fitnah melanda hamba hamba-Mu maka wafatkanku dalam keadaan tidak terkena fitnah..” (HR Ahmad dan At Tirmidzi)

Fitnah syubhat dan fitnah syahwat yang merajalela..
Merusak keimanan dan agama..
Itulah yang dikhawatirkan oleh seorang mukmin..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Mencintai Kebenaran

Ibnu Taimiyah rohimahullah berkata,

المؤمن ترضيه كلمة الحق له وعليه وتغضبه كلمة الباطل له وعليه لأن الله تعالى يحب الحق والصدق والعدل ويبغض الكذب والظلم

“Mukmin itu ridho dengan kalimat yang benar, baik menguntungkan atau merugikan dirinya. Dan benci kepada kalimat yang batil, baik menguntungkan atau merugikan dirinya. Karena Allah Ta’ala mencintai kebenaran, kejujuran dan keadilan, dan membenci dusta dan kezaliman..” (Majmu Fatawa 10/600)

Bagi mukmin..
Merujuk kepada kebenaran saat ia salah itu mudah..
Karena kebenaran lebih ia sukai dari mempertahankan ego..
Ia tidak takut kehilangan dunia demi mengikuti kebenaran..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Menebar Cahaya Sunnah