MUTIARA SALAF : Tawassul Kepada Allah

=======

● Syaikh Abdul Aziz bin Baz rohimahullah berkata,

هذه التوسلات من أفضل الأسباب في إجابة الدعاء. و هو التوسل إلى الله بصفاته العظيمة و أسمائه الحسنى و وحدانيته جل و علا. فذلك من أعظم الأسباب في إجابة الدعاء.

“Tawassul ini merupakan salah satu sebab terbesar dikabulkannya do’a. Yakni, tawassul kepada Allah dengan menyebut sifat Allah yang agung dan nama-Nya yang indah dan diiringi dengan tauhid, mengesakan Allah jalla wa ‘ala. Hal ini merupakan salah satu sebab dikabulkannya do’a.

فينبغي للمؤمن أن يتوسل إلى الله بأسمائه و صفاته و توحيده الذي بعث به رسله و أنزل به كتبه

Maka dari itu, sudah sepantasnya bagi seorang muslim untuk bertawassul kepada Allah dengan nama-nama Allah, sifat-sifat-Nya, dan dengan ikrar tauhid (yakni meng-esakan Allah dalam ibadah) yang merupakan tujuan Allah mengutus para rosul dan menurunkan kitab suci..”

(Syarh Kitabul Jami’ min Bulughil Maram hlm. 237)

MUTIARA SALAF : Mandi Junub Di Hari Jum’at Karena Hendak Menghadiri Sholat Jum’at

=======

MANDI JUNUB DI HARI JUM’AT KARENA HENDAK MENGHADIRI SHOLAT JUM’AT

Syaikh Muhammad bin Sholih al-‘Utsaimin rohimahullah menjelaskan,

“Hukum ini hanya khusus bagi lelaki karena ialah yang menghadiri (sholat) Jum’at, dan ialah yang diminta untuk berhias ketika keluar. Sedangkan wanita tidak diminta untuk itu. Tetapi setiap orang jika pada tubuhnya terdapat kotoran sudah sewajarnya untuk membersihkannya. Karena hal itu termasuk perkara terpuji yang tidak layak untuk ditinggalkan.

Adapun melakukan mandi Jum’at sehari atau dua hari sebelumnya maka hal ini tidak berfaedah, karena hadits yang menerangkan hal ini menyebutkan bahwa mandi Jum’at khusus dikerjakan pada hari Jum’at mulai terbit fajar sampai menjelang sholat jum’at. Inilah waktu mandi Jum’at, sedangkan melakukannya sehari atau dua hari sebelumnya, maka hal itu tidak berpahala sebagai mandi Jum’at. Dan Allah lah yang memberi taufiq..”

(Majmu Fatawa Arkanil Islam)

Takut Kepada Allah Di Setiap Waktu

Ibnu Rojab rohimahullah menyebutkan perkataan sebagian salaf,

ﻟﻴﺲ اﻟﺨﺎﺋﻒ ﻣﻦ ﺑﻜﻰ ﻭﻋﺼﺮ ﻋﻴﻨﻴﻪ، ﺇﻧﻤﺎ اﻟﺨﺎﺋﻒ ﻣﻦ ﺗﺮﻙ ﻣﺎ اﺷﺘﻬﻰ ﻣﻦ اﻟﺤﺮاﻡ ﺇﺫا ﻗﺪﺭ ﻋﻠﻴﻪ

“Orang yang takut (kepada Allah) bukanlah orang yang menangis dan bercucuran air mata. Akan tetapi, orang yang takut (kepada Allah) adalah orang yang meninggalkan hawa nafsunya dari hal-hal yang haram dalam keadaan sebenarnya dia mampu untuk melakukannya.

ﻭﻣﻦ ﻫﻨﺎ ﻋﻈﻢ ﺛﻮاﺏ ﻣﻦ ﺃﻃﺎﻉ اﻟﻠﻪ ﺳﺮا ﺑﻴﻨﻪ ﻭﺑﻴﻨﻪ

Di sinilah letak agungnya pahala orang yang mentaati Allah ketika sendirian, saat hanya antara dia dan Allah saja yang mengetahui.

ﻭﻣﻦ ﺗﺮﻙ اﻟﻤﺤﺮﻣﺎﺕ اﻟﺘﻲ ﻳﻘﺪﺭ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﺳﺮا

Demikian pula, betapa besarnya pahala orang yang meninggalkan perkara yang haram dalam keadaan sebenarnya dia mampu untuk melakukannya tanpa ada orang lain yang mengetahuinya..”

(Majmu’ Rosail Ibnu Rojab 1/163)

MUTIARA SALAF : Jangan Menyia-nyiakan Waktu

Syaikh Muhammad Sholih al-Utsaimin rohimahullah berkata,

Allah Ta’ala berfirman,

حَتَّىٰٓ إِذَا جَآءَ أَحَدَهُمُ ٱلۡمَوۡتُ قَالَ رَبِّ ٱرۡجِعُونِ ٩٩ لَعَلِّيٓ أَعۡمَلُ صَٰلِحًا فِيمَا تَرَكۡتُۚ

“Hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata, “Ya Robbku, kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal sholeh yang telah aku tinggalkan..” (QS. Al-Mu’minun: 99-100)

Maksudnya, agar dia tidak menyia-nyiakan waktu.

Dia tidak mengatakan, “Agar aku
– menikmati harta,
– menikmati istri,
– menikmati kendaraan, atau
– menikmati istana..”
Akan tetapi, dia mengatakan, “Agar aku berbuat amal yang sholeh terhadap yang telah aku tinggalkan..”

Waktu telah berlalu, tetapi engkau tidak mendapatkan manfaat darinya. Jadi, waktu adalah sesuatu yang paling berharga.

Namun, sekarang ini menurut kita, waktu merupakan sesuatu yang paling tidak berharga. Kita membiarkan banyak waktu kita berlalu begitu saja tanpa faedah. Bahkan, kita membiarkan banyak waktu kita dengan melakukan hal-hal yang merugikan.

Saya tidak berbicara tentang keadaan satu orang, tetapi saya berbicara tentang keadaan kaum muslimin secara umum. Hari ini -sangat disayangkan- mereka tenggelam dalam lupa, hal yang sia-sia, dan kelalaian. Mereka tidak serius dalam urusan agama mereka.

Mayoritas mereka dalam kelalaian dan kemewahan. Mereka hanya sibuk memperhatikan kemewahan untuk badan mereka walaupun berkonsekuensi merusak agama mereka..”

(Syarh Riyadhus Sholihin, 1/345)

MUTIARA SALAF : Senantiasa Bersama Allah

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

– bila manusia merasa cukup dengan dunia, maka hendaknya engkau merasa cukup dengan Allah.

– bila manusia bergembira dengan dunia, maka berbahagialah engkau dengan Allah.

– bila manusia merasa tenang bersama orang-orang yang mereka cintai, maka jadikanlah ketenangan engkau dengan Allah.

– bila mereka mengenalkan dan mendekatkan diri mereka kepada raja-raja mereka dan pemimpin-pemimpin mereka untuk mendapatkan kemuliaan dan kedudukan di sisi mereka, maka kenalkanlah diri engkau kepada Allah, berusahalah meraih cinta-Nya agar dengan itu engkau mendapatkan puncak kemuliaan dan ketinggian.

(Mukhtashor al-Fawaid, hlm. 82)

MUTIARA SALAF : Pentingnya Menjaga Lisan

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

إن العبد ليأتي يوم القيامة بحسنات أمثال الجبال، فيجد لسانه قد هدمها عليه كلها ويأتي بسيئات أمثال الجبال، فيجد لسانه قد هدمها من كثرة ذكر الله وما اتصل به

“Sungguh, ada seorang hamba datang kelak pada hari kiamat dengan pahala kebajikan yang besarnya semisal gunung-gunung. Akan tetapi, ia dapati lisannya telah meluluh-lantakan seluruh pahalanya tersebut.

Ada pula hamba yang lain, datang kelak pada hari kiamat dengan dosa-dosa kemaksiatan yang besarnya semisal gunung-gunung. Namun, ia dapati lisannya telah menghancurleburkan dosa-dosa tersebut dengan banyaknya ia ber-dzikir kepada Allah dan hal-hal yang terkait dengannya..”

(Ad-Daa wad-Dawaa – 375)

MUTIARA SALAF : Sebab Terjaganya Nikmat

Ibnul Qoyyim rohimahullah mengatakan,

وقد جعل الله لكل شيء سببا وآفة: سببا يجلبه وآفة تبطله.
فجعل أسباب نعمه الجالبة لها طاعته وآفاتها المانعة منها معصيته.

“Allah telah menetapkan pada segala sesuatu ada sebab dan penghalangnya:
– sebab yang mengantarkan untuk mendapatkannya, dan
– penghalang yang menggagalkan diraihnya sesuatu tersebut.

Allah menetapkan bahwa sebab untuk meraih kenikmatan adalah dengan ketaatan kepada-Nya. Adapun penghalangnya adalah kemaksiatan terhadap-Nya.

فإذا أراد حفظ نعمته على عبده ألهمه رعايته بطاعته فيها.
وإذا أراد زوالها عنه خذله حتى عصاه بها.

Jika Allah menghendaki untuk menjaga suatu nikmat ada pada seorang hamba, Dia ilhamkan bagi hamba tersebut untuk menjaganya dengan menggunakan nikmat itu dalam ketaatan.

Sebaliknya, jika Allah berkehendak mencabut suatu nikmat dari seorang hamba, Dia biarkan hamba tersebut bermaksiat dengan nikmat itu..”

(Ad-Daa’u wad Dawaa’u – 249)

MUTIARA SALAF : Dosa Pasti Membawa Pengaruh Buruk

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

فترتب العقوبات على الذنب كترتب الإحراق على النار و الكسر على الانكسار و الإغراق على الماء و فساد البدن على السموم و الأمراض على الأسباب الجالبة لها

“Akibat dosa terhadap hukuman itu (adalah) sebagaimana halnya :
– api mengakibatkan terbakar,
– benturan mengakibatkan patah,
– air mengakibatkan tenggelam,
– racun mengakibatkan rusaknya tubuh, dan
– sebab-sebab penyakit mengakibatkan sakit.

وقد تقارن المضرة للذنب, وقد تتأخر عنه يسيراً وإما مدة, كما يتأخر المرض عن سببه أو يقارنه, وكثيراً ما يقع الغلط للعبد في هذا المقام, ويذنب الذنب فلا يرى أثره عقيبه, ولا يدري أنه يعمل عمله على التدرج شيئاً فشيئاً, كما تعمل السموم والأشياء الضارة حذو القُذة بالقذة

Terkadang, pengaruh buruk tersebut langsung mengiringi dosa. Namun, terkadang ada jeda waktu, bisa jadi singkat, bisa pula lama.

Ini seperti penyakit, kadang bisa langsung terasa ketika ada sebab sakitnya, kadang juga tidak langsung terasa.

Banyak orang salah memahami masalah ini. Dia berbuat dosa dan tidak langsung melihat efek buruknya. Dia tidak sadar bahwa dosa itu merusak secara bertahap, sedikit demi sedikit, seperti halnya zat beracun (merusak tubuh)…”

(Ad-Daa’u wad Dawaa’ – 272)

Menebar Cahaya Sunnah