1110. Menghadiri Acara Isra’ Mi’raj

1110. BBG Al Ilmu

Tanya:
Saya bekerja di sebuah Islamic Center, sebentar lagi ada acara di masjid peringatan Isra dan Mi’raj Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam, dimana di acara tersebut semua karyawan dilibatkan. Kalau saya tidak datang pasti ada konsekwensinya, namun kalau saya datang hati saya menolak karena bid’ah. Bagaimana sikap saya ?

Jawab:
Ust. Rochmad Supriyadi, Lc حفظه الله تعالى

Jika antum di hadapkan kepada 2 hal yang mendatangkan mudhorot, maka dalam agama kita memerintahkan untuk melakukan hal yang teringan. Antum mendatangi acara sekedar-nya. Hanya setor muka saja. Dan hati antum tetap dalam keyakinan tentang haramnya acara itu.

والله أعلم بالصواب

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

View

Disaat Menyambut Tamu Istimewa

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri حفظه الله تعالى

Sobat! Kira-kira apa yang anda lakukan ketika hendak menyambut tamu istimewa ?

Mungkinkah anda menyambutnya di kandang sapi sambil membersihkan kotoran sapi ? Atau di pinggir got rumah sambil membersihkan got rumah anda? Atau mungkinkah anda menyambutnya di saat anda sedang bercucuran keringat karena usai bekerja keras sehingga dari badan anda tercium semerbak bau kecut keringat anda ?

Saya yakin, anda tidak mungkin melakukan hal itu.

Dan bagaimanakah kira-kira sikap dan perasaan anda bila kedatangan tamu istimewa di saat anda sedang bergelut dengan lumpur got, atau sedang membersihkan kotoran hewan atau bercucuran keringat karena usai bekerja keras, atau bahkan mungkin juga sedang cekcok dengan istri anda ?

Anda malu, kikuk, dan kelabakan berusaha membenahi kondisi diri anda sebisa mungkin.

Namun pernahkah anda membayangkan bagaimana perasaan dan sikap anda bila menyadari bahwa tamu istimewa yang datang adalah Malaikat Maut, disaat anda sedang bergelimang dalam dosa dan maksiat ? Kira-kira apa yang akan anda lakukan dan bagaimana pula perasaan anda kala itu ? Allah Ta’ala berfirman:

حَتَّى إِذَا جَاء أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ {99} لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ كَلَّا إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا وَمِن وَرَائِهِم بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ

“Hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: “Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang saleh pada umur yang telah aku lewatkan/ tinggalkan. Sekali-kali tidak, sesungguhnya itu hanyalah perkataan yang ia ucapkan semata, sedangkan di hadapan mereka ada dinding pembatas sampai hari mereka dibangkitkan.” (Al Mukminun 99-100)

Betapa bahagianya anda bila pada saat menyambut tamu istimewa ini anda sedang mengucapkan kalimat Tauhid:

لا إله إلا الله

“Tiada sesembahan yang pantas diibadahi selain Allah.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ كَانَ آخِرُ كَلاَمِهِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ

“Barang siapa ucapan terakhirnya ialah LAA ILAHA ILLALLAHU, niscaya ia masuk surga.” (Abu Dawud)

Ya Allah, jadikanlah ucapan terakhir kami di dunia ini ialah:

لا إله إلا الله

“Tiada sesembahan yang pantas diibadahi selain Allah.”

Amiin.

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

View

10 Cara Agar Bisa Mencintai Allah

Ust. Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى

Ibnu Qayyim menyebutkan 10 cara agar bisa mencintai Allah:

1. Membaca Al Qur’an, mentadabburi, dan memahami makna-maknanya.

2. Bertaqarrub kepada Allah dengan mengamalkan amal-amal yang sunnah.

3. Selalu berdzikir kepada Allah di setiap keadaan, dengan lisan, hati dan amal.

4. Lebih mementingkan apa yang dicintai oleh Allah di atas yang dicintai oleh hamba ketika bertabrakan.

5. Menyelami nama-nama Allah dan sifatNya serta pengaruh dan kesempurnaan yang ditunjukkan olehnya.

6. Memikirkan nikmat-nikmat Allah yang bersifat lahiriyah dan batiniyah. Serta menyaksikan kebaikan-kebaikaNya kepada hambaNya.

7. Menundukkan hati di hadapan Allah dan selalu merasa faqir kepadaNya.

8. Bermunajat kepada Allah di saat sepertiga malam terakhir dengan shalat, membaca alqur’an dan istighfar.

9. Bershahabat dengan orang-orang shalih dan mengambil faidah dari mereka.

10. Menjauhi semua yang menghalangi hati dari Allah.

(Madarijussalikin 3/17, diambil dari kitab Al Irsyad ilaa shahihil I’tiqad hal 79-80 karya Syaikh Shalih Fauzan).

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

View

Pelawak Lebih Menyejukkan Ucapannya Dibanding Ulama’, Benarkah ?

Ust. DR. Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Ada satu fenomena menyimpang yang dianggap wajar oleh banyak orang. Kebanyakan orang lebih siap untuk menghadiri acara seorang pelawak dibanding menghadiri acara ulama’. Semua lapisan masyarakat dengan segala latar belakangnya dan idiologinya bisa duduk bersandingan di depan pelawak. Seakan semua bisa bahagia dan tertawa terbahak-bahak.

Namun ironis sekali, hanya sebagian kecil dari ummat islam yang siap untuk bersimpuh di hadapan para ulama’ untuk menimba ilmu dan wejangannya, yang kadang kala terasa pedas dan pahit. Namun demikian, anda sepenuhnya tahu dan mengakui bahwa wejangan ulama’ lebih bernilai dan bermanfaat bagi kehidupan ummat, baik di dunia ataupun di akhirat.

Pelawak walaupun cengengas cengenges, lugu nan lucu, namun biasanya ucapannya tidak bernilai alias sia-sia.

Sebaliknya, seorang ulama’ walau ucapannya sedikit, bahkan anda sering kali harus mengernyitkan dahi untuk bisa memahaminya, namun sarat dengan arti dan manfaat.

Sobat! Menurut anda, ucapan siapakah yang akan anda ikuti, pelawak atau ulama’? Siapakah yang akan anda jadikan pimpinan anda, pelawak yang bisa cengengas cengenges atau ulama’ yang senantiasa berwibawa dan serius ?

Demikian juga dalam urusan kehidupan kita bernegara, pilihlah orang yang berwibawa dan handal sebagai pemimpin negri ini, walau dikesankan serem. Dan jangan sekali kali mempercayakan negri anda kepada orang yang hobinya cengengas cengenges, yang pasti saja menjadi bahan tertawaan dan permainan musuh, baik dari dalam ataupun luar.

إِذَا وُسِّدَ الأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ

“Bila suatu urusan telah dipercayakan kepada orang yang bukan ahlinya. Maka nantikan saja kehancuran (kiamat).” (Riwayat Bukhari).

Kalau anda sekedar mau tertawa maka silahkan pilih orang yang bisa cengengas cengenges, namun kalau urusan negara tentu orang yang berwibawa pilihannya, agar negara kita aman dan disegani oleh musuh dalam selimut dan musuh dari luar.

– – – – – •(*)•- – – – –

View

Sebelum Jantungmu Berhenti Berdetak…

Ust. DR. Syafiq Riza Basalamah, حفظه الله تعالى

Akhi ukhti…

Apakah kau masih mendengarkan detak jantungmu ?

Apakah denyut nadimu masih terasa ?

Sejatinyanya detak jantung dan denyut nadi menuliskan sebuah pesan singkat untuk semua insan:

“Sesungguhnya kehidupan itu tidak lain hanyalah hitungan menit dan detik”

Akan datang suatu detik yang detak jantungmu berhenti…

Dirimu diam seribu bahasa, bungkam tak dapat berbicara…

Keluargamu sibuk bersegera membawamu dengan ambulan, kemudian didorong ke ruang IGD.

Perawat memasang infus, selang oksigen dan EKG, alat rekam jantung.

Semua mata memandang ke monitor EKG yang menunjukan garis datar, pertanda jantungmu telah berhenti berdetak.

Dokter berkata, “Siapkan defibrilator (alat kejut jantung)”, gel bening dioleskan ke dadamu.

Lalu dokter memberi aba-aba “200 joule, all clear ??”
Kaupun dikejutkan…
“360 joule, all clear ??”
Kau dikejutkan untuk kedua kalinya.

Namun ternyata Monitor EKG masih menunjukan garis datar, sebagai pertanda jantungmu sudah berhenti berdetak…

Masa kontrakmu di dunia ini sudah selesai.

Harta benda yang kau miliki tidak sempat kau bawa…
Semuanya ditinggal…
Tangisan perpisahan memecahkan keheningan…
Jeritan kesedihan mewarnai ruangan itu…
Selamat tinggal…

MAKA SEBELUM TERLAMBAT
sebelum jantungmu berhenti berdetak bersegeralah untuk mempersiapkan diri.

Belilah tas yang sebesar mungkin
Masukkan barang-barang kebutuhanmu.

Air, makanan, selimut, cahaya dan semuanya.

SIAPKAN KENDARAAN YANG TANGGUH.

Ingat bahwa perjalananmu panjang, 1 hari sama dengan 1000 tahun.

Jalannya gelap dan sempit…
bawalah lampu yang terang dan banyak.

Jangan tinggalkan apapun yang bisa kau bawa untuk perjalananmu.

CATAT SEMUA YANG AKAN KAU BAWA.

Dan jangan menunda-nunda, karena jantungmu akan berhenti berdetak secara otomatis.

DAN KAU TIDAK TAHU, KAPAN ITU TERJADI…

Ditulis oleh Ustadz Dr. Syafiq Riza Hasan Basalamah MA حفظه الله تعالى

┈┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈┈

View

Membabi Buta

Ust. DR. Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Sobat! Sering kali kita mendengar ungkapan, “membabi buta” namun, entah alasan apa, pagi ini kok ucapan itu baru terasa janggal di pikiran saya.

Saya berpikir, alih-alih membabi buta, membabi tidak buta juga tentunya tidak boleh. Mungkinkah ada manusia apalagi orang yang beriman sudi untuk meniru perilaku babi, walaupun babinya berpenglihatan tajam dan berkacamata hitam sehingga nampak gaul atau “keren”.

Kita, sepatutnya bersyukur kepada Allah yang dijadikan sebagai makhluq mulia di dunia ini, dan menjaga “kemanusiaan” kita agar tetap mulia. Berperilaku mulia, dan bahkan terus berusaha untuk meningkatkan kemulian akhlak sebagai manusia yang beriman.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا

“Orang beriman yang paling sempurna imannya ialah yang paling baik akhlaqnya. (Abu Dawud dan lainnya).

Ditulis oleh Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri حفظه الله تعالى

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

View

1109. Hadits Mengenai Baju Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam

1109. BBG Al Ilmu

Tanya:
Apakah hadits berikut ini shahiih ?

“Suatu saat Rasulullah Saw diberi hadiah sebuah baju dan disimpan oleh sayidatuna Aisyah.

Beberapa hari setelah itu, ada pengemis mengetuk pintu rumah Rasulullah Saw, dan meminta sedekah dari Rasulullah..

Rasulullah Saw menyuruh Aisyah memberikan baju itu kepada pengemis tersebut. Pengemis itu membawanya dengan sangat gembira, lalu pergi kepasar dan berseru, siapa yang akan membeli baju Rasulullah, hingga semua orang berkumpul dan semua ingin membelinya.

Seorang yang buta mendengar seruan tersebut lalu menyuruh budaknya agar membelinya dengan seberapa besar pun harganya, dan dia berkata kalau kau mendapatkannya maka engkau akan merdeka.
Budak itu berhasil mendapatkannya.

Lalu orang yang buta tadi memegang baju tersebut dan berDo’a:
‘Yaa Roob dengan hak Rasulullah dan berkat baju yang suci ini maka kembalikanlah pandanganku.’

Sepontan orang tersebut dapat melihat kembali. Kemudian dia pergi menghadap Rasulullah Saw dengan penuh gembira dan berkata, ‘Wahai Rasulullah pandanganku sudah kembali, dan aku kembalikan bajumu sebagai hadiah dari ku.’

Orang itu menceritakan kejadiannya, sehingga Rasulullah
pun tertawa gembira karenanya..

آللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيّدنَآ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيّدنَآ مُحَمَّدٍ

Jawab:
Ust. Muhammad Wasitho, حفظه الله تعالى

Derajat hadits tersebut PALSU, Tidak Benar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam karena menerangkan tentang bertawassul dalam doa dengan menggunakan hak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang hukumnya Bid’ah, tidak ada tuntunannya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

والله أعلم بالصواب

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

1108. Uang Hasil Sewa Rumah

1108. BBG Al Ilmu – 409

Tanya:
Beliau memiliki rumah yang kemudian disewakan kepada orang non-muslim, nasrani.
Dan ternyata diketahui pula bahwa profesi penyewa tersebut adalah guru piano di salah satu sekolah swasta.

Apa yang sebaiknya dilakukan terhadap uang sewa rumah yang telah diterimanya tersebut ? Dapatkah disalurkan ke pos dana riba misalnya ?

Jawab:
Ust. Abu Ya’la Kurnaedi, حفظه الله تعالى

Ada ikhtilaf di antara ulama tentang masalah bolehnya menerima uang tersebut, tetapi kalau mau di salurkan ke situ lebih baik, atau buat orang miskin.

والله أعلم بالصواب

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

View

1107. Mengucapkan Talak Dalam Keadaan Marah

1107. BBG Al Ilmu – 275

Tanya:
Apa hukumnya jika suami dalam keadaan marah berkata “aku sudah muak denganmu” atau “pulang saja sana ke rumah orangtuamu” ? Apakah dengan begitu sudah jatuh talak?

Jawab:
Ust. Fachruddin Nu’man, حفظه الله تعالى

Kalau tidak di niatkan thalaq maka tidak jatuh thalaq.

والله أعلم بالصواب

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

View

1106. Jumlah Raka’at Dalam Tahajjud

1106. BBG Al Ilmu – 459

Tanya:
Berapa sebenarnya jumlah raka’at dalam sholat tahajjud ?

Jawab:
Ust. M. Wasitho, حفظه الله تعالى
Jumlah roka’at sholat Tahajjud / Qiyamul-Lail adalah 11 atau 13 roka’at sebagaimana hadits shohih dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata:
(Maa Kaana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam Yaziidu Fii Romadhoona Wa Laa Fii Goirihi ‘Alaa Ihdaa ‘Asyrota Rok’atan)

Artinya: “Adalah (sholat malam) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak lebih dari 11 roka’at, baik di bulan Romadhon maupun di bulan lainnya.”

Akan tetapi, jika seorang muslim atau muslimah ingin mengerjakan sholat Tahajjud atau Qiyamul-Lail lebih dari 11 roka’at, seperti 20 roka’at atau 23 roka’at atau lebih dari itu, maka hukumnya BOLEH dan SAH.

Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
(Sholaatul Laili Matsnaa-matsnaa, fa idzaa Khosyiya Ahadukum Ash-Shubha Shollaa Rok’atan Waahidatan Tuutiru Lahuu Maa Qod Shollaa)

Artinya: “Sholat (sunnah) Malam itu dikerjakan dengan cara 2 roka’at, 2 roka’at. Maka apabila salah seorang diantara kamu merasa takut (kawatir) masuk waktu Subuh, maka hendaknya ia sholat 1 roka’at sebagai sholat witir bagi sholat-sholat yang telah ia kerjakan.”

Namun jumlah roka’at sholat Tahajjud / Qiyamul-Lail yang afdhol (lebih utama) adalah 11 atau 13 roka’at.

والله أعلم بالصواب

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

View

Menebar Cahaya Sunnah