MUTIARA SALAF : Termasuk Kesalahan Besar

Syaikh Abdurrohman As Sa’diy rohimahullah berkata,

من الغلط الفاحش الخَطِر ؛ قبول قول الناس بعضِهم في بعض ، ثم يبني عليه السامع حُبًّا وبغضًا ومدحًا وذمًا فكم حصل بهذا الغلط أمور صار عاقبتها الندامة .
‏وكم أشاع الناس عن الناس أمورًا لا حقائق لها بالكلية أو لها بعض الحقيقة فنمِّيَت بالكذب والزور ، وخصوصًا مَن عُرفوا بعدم المبالاة بالنقل أو عرف منهم الهوى !
‏فالواجب على العاقل التثبت والتحرز وعدم التسرّع ، وبهذا يُعرف دين العبد ورزانته وعقله .

“Termasuk kesalahan besar dan fatal adalah mudah menerima ucapan seseorang tentang orang lain. Lalu pendengarnya membangun cinta dan benci, pujian dan celaan di atasnya. Akibat kesalahan ini banyak terjadi yang membuat pelakunya menyesal.

Berapa banyak berita yang disebarkan ternyata tidak benar sama sekali. Atau benar sebagiannya lalu dibumbui dengan kedustaan. Terlebih bila pelakunya adalah orang yang tak peduli atau (orang yang) mengikuti hawa nafsu.

Kewajiban orang yang berakal adalah kroscek dan tidak tergesa gesa. Dengan inilah terlihat agama seseorang, kebaikan akhlak dan akalnya..”

(Ar Riyaadhu An Nazhiroh – 209)

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Temanmu Yang Hakiki

● Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda tentang alam kubur,

وَيَأْتِيهِ رَجُلٌ حَسَنُ الْوَجْهِ ، حَسَنُ الثِّيَابِ ، طَيِّبُ الرِّيحِ ، فَيَقُولُ : أَبْشِرْ بِالَّذِي يَسُرُّكَ ، هَذَا يَوْمُكَ الَّذِي كُنْتَ تُوعَدُ . فَيَقُولُ لَهُ : مَنْ أَنْتَ ؟ فَوَجْهُكَ الْوَجْهُ يَجِيءُ بِالْخَيْرِ . فَيَقُولُ : أَنَا عَمَلُكَ الصَّالِحُ . فَيَقُولُ : رَبِّ أَقِمْ السَّاعَةَ حَتَّى أَرْجِعَ إِلَى أَهْلِي وَمَالِي

“Lalu datanglah kepadanya seorang laki laki yang wajahnya indah, pakaiannya bagus, dan sangat wangi.

Ia berkata, “Bergembiralah dengan sesuatu yang menyenangkanmu..! Ini adalah hari yang dijanjikan untukmu..”

Ia (mayat) berkata, “Siapakah kamu..? wajahmu membawa kebaikan..”

Ia menjawab, “Aku adalah amalmu yang sholeh..”

Ia (mayat) berkata, “Ya Robb, tegakkanlah hari kiamat agar aku bisa kembali kepada keluarga dan hartaku..”

(HR Ahmad)

● Al Hafizh Ibnu Rojab rohimahullah berkata,

صاحب مَن تُصاحب، فواللّٰه الذي على العرش اسْتوى لن يُصاحبك في قبرك إلّا صاحبٌ واحد، ألا وهو عملك الصّالح، فأحسن صُحبته، يحسن صُحبتك في قبرك.

“Temanilah yang akan menemanimu.. demi Allah yang ber-istiwa di atas ‘Arasy, tidak akan ada yang menemanimu di kuburmu kecuali satu teman saja. Ia adalah amalmu yang sholeh..

Maka perbaikilah persahabatanmu dengannya. Ia akan menjadi sahabatmu terbaik di kuburmu..”

(Lathoiful Ma’arif hal. 99)

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

MUTIARA SALAF : Tujuan Penciptaan Jin Dan Manusia

● Allah Ta’ala berfirman (yang artinya),

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku .. Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki agar mereka memberi makan kepada-Ku..” (Qs Adz Dzaariyaat : 56-57)

● Ibnul Qoyyim rohimahullah, tatkala menjelaskan ke 2 ayat di atas, mengatakan,

“Dalam ayat tersebut Allah Ta’ala mengabarkan bahwa Dia tidaklah menciptakan jin dan manusia karena butuh pada mereka, bukan untuk mendapatkan keuntungan dari makhluk tersebut..

Akan tetapi, Allah Ta’ala menciptakan mereka justru dalam rangka berderma dan berbuat baik pada mereka, yaitu supaya mereka beribadah kepada Allah, lalu mereka pun nantinya akan mendapatkan keuntungan. Semua keuntungan pun akan kembali kepada mereka..

Hal ini sama halnya dengan perkataan seseorang, ‘jika engkau berbuat baik, maka semua kebaikan tersebut akan kembali padamu..’

Jadi, barangsiapa melakukan amalan sholeh, maka itu akan kembali untuk dirinya sendiri..”

(Thoriqul Hijrotain, hal. 222)

Makna Ridho Kepada Allah

Ibnul Qoyyim rohimahullah menjelaskan,

“Ridho kepada Allah adalah mencakup ridho kepada uluhiyah-Nya yang mengandung :
– ridho dengan mencintai-Nya,
– takut kepada-Nya,
– berharap dan kembali kepada-Nya..

Juga ridho kepada rububiyah-Nya yang mengandung :
– ridho kepada aturan-Nya, yang berkonsekuensi untuk hanya bertawakkal kepada-Nya,
– memohon pertolongan-Nya,
– yakin dan bersandar kepada-Nya, dan
– ridho kepada semua perbuatan-Nya..

Adapun ridho kepada Nabi-Nya adalah :
– ketundukan yang sempurna kepadanya,
– taslim yang mutlak sehingga ia lebih mendahulukannya di atas kepentingan dirinya,
– Ia hanya mengambil petunjuk darinya dan berhukum kepadanya (petunjuk tersebut) dan tidak ridho dengan hukum selainnya..”

(Madarijus Salikin 2/477-478 secara ringkas)

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Kajian Khusus Muslimah Ke 6

💠 *﷽* 💠

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

AL ILMU Akhwat kembali menghadirkan :

KAJIAN KHUSUS MUSLIMAH KE 6

👤 Nara Sumber :
Ustadz Ahmad Zainuddin Al Banjary Lc, حفظه الله تعالى 

📝 Tema : PEMULIAAN ISLAM TERHADAP WANITA

🗓️ Kamis,12 Oktober 2023 / 27 Rabi’ul Awal 1445 H
• Pukul : 08.30 – 14.30 WIB (registrasi jam 07.30)
• The Krakatau Grand Ballroom TMII

https://maps.app.goo.gl/5i4RaybHNTgYaom96p

📩 Infaq Tiket : Rp. 200.000/pax
(Notes, pulpen, nametag, paper bag, snack, air mineral dan makan siang)

📱Tiket Online :
• 0812 1200 2399
• 0812 9554 5770
• 0812 9610 869

TEMPAT TERBATAS
DILARANG MEMBAWA ANAK KECIL

جَزَاك اللّهُ خَيْرًا وَ بَارَكَ اللَّهُ فِيْك
وَالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Panitia
AL ILMU Akhwat
AL MADINAH MUTIARA SUNNAH

selangkah menuju Baitullah

Menyikapi Yang Telah Berlalu

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

‏ما مضى لا يُدفع بالحزن ؛ بل بالرِّضا ، والحمد ، والصَّبر ، والإيمان بالقدر ، وقول العبد :
‏ قدَّر اللَّـه و ما شاء فعل

“Yang telah berlalu jangan disikapi dengan kesedihan tapi dengan :
– keridhoan,
– memuji Allah,
– sabar dan beriman kepada takdir,
– dan ucapan : “semua sudah takdir Allah, dan apa yang Dia kehendaki (*)..”

(Zaadul Ma’ad 2/327)

Karena kesedihan tidak ada gunanya..
Bahkan menimbulkan tidak ridho dengan ketentuan..

Kewajiban hamba adalah bersabar..
Yakin bahwa ketentuan Allah itu baik untuknya..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

(*) qoddarallah wa maa syaa-a fa’ala (semua sudah takdir Allah, dan apa yang Dia kehendaki)

MUTIARA SALAF : Keadaan Mukmin Saat Pagi Dan Sore Hari

Al-Hasan al-Bashri rohimahullah berkata,

إنما الناس ثلاثة: مؤمن، وكافر، ومنافق

Manusia terdiri dari tiga golongan:
– mukmin,
– kafir, dan
– munafik.

فأما المؤمن، فعامل الله بطاعته

Orang mukmin, Allah subhanahu wata’ala memperlakukan mereka sesuai dengan ketaatannya.

وأما الكافر، فقد أذله الله كما قد رأيتم

Orang kafir, Allah subhanahu wata’ala telah menghinakan mereka sebagaimana kalian lihat.

وأما المنافق، فهاهنا معنا في الحجر والطرق والأسواق، نعوذ بالله، والله ما عرفوا ربهم، اعتبروا إنكارهم ربهم بأعمالهم الخبيثة

Adapun orang munafik, mereka ada di sini, bersama kita di rumah-rumah, jalan-jalan, dan pasar-pasar. Kita berlindung kepada Allah subhanahu wata’ala. Demi Allah, mereka tidak mengenal Robb mereka. Hitunglah amalan jelek yang mereka lakukan karena sebab ingkar mereka kepada Allah subhanahu wata’ala.

وإن المؤمن، لا يصبح إلا خائفا، وإن كان محسنا، لا يصلحه إلا ذلك، ولا يمسي إلا خائفا، وإن كان محسنا، لأنه بين مخافتين

Sungguh, tidaklah seorang mukmin memasuki waktu pagi melainkan dalam keadaan cemas, meski telah berbuat baik. Tidak pantas baginya selain demikian.

Ia pun memasuki waktu sore dalam keadaan khawatir, meski telah berbuat baik.

Sebab, dia berada di antara dua kekhawatiran:

بين ذنب قد مضى لا يدري ما ذا يصنع الله تعالى فيه

1. Dosa yang telah berlalu : dia tidak tahu apa yang akan Allah subhanahu wata’ala lakukan terhadap dosanya (apakah diampuni atau tetap dibalas dengan adzab).

وبين أجل قد بقي لا يدري ما يصيب فيه من الهلكات

2. Ajal yang tersisa (dalam hidupnya) : dia tidak tahu kebinasaan apa saja yang akan menimpanya pada masa yang akan datang.

(Mawa’izh al-Hasan al-Bashri, hlm. 57—58)

Kecintaan Allah Terhadap Bersatunya Hati Para Hamba-Nya

Al Imam Muhammad bin Ismail ash-Shon’any rohimahullah berkata,

انظر في حكمة الله ومحبته لاجتماع القلوب كيف حرم النميمة -وهي صدق!- لما فيها من إفساد القلوب وتوليد العداوة والوحشة! وأباح الكذب -وإن كان حراما!- إذا كان لجمع القلوب وجلب المودة وإذهاب العداوة!

“Perhatikanlah hikmah Allah dan kecintaan-Nya terhadap bersatunya hati hamba-hamba-Nya.

Dia (Allah) mengharamkan tindakan mengadu domba —walaupun yang disampaikan itu benar— karena mengandung upaya merusak hati dan melahirkan permusuhan, serta kerenggangan hubungan.

Sementara itu, Dia (Allah) membolehkan dusta —walaupun hukum asalnya haram—jika tujuannya untuk menyatukan hati, meraih kecintaan, dan melenyapkan permusuhan..!”

(Subulus Salam – 4/203)

Bersabar Dan Ridho Ketika Tertimpa Musibah

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذۡنِ ٱللَّهِۗ وَمَن يُؤۡمِنۢ بِٱللَّهِ يَهۡدِ قَلۡبَهُۥۚ وَٱللَّهُ بِكُلِّ شَيۡءٍ عَلِيمٞ

“Tidak ada sesuatu musibah yang menimpa (seseorang), kecuali dengan izin Allah; dan barang siapa beriman kepada Allah, niscaya Allah akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu..” (At-Taghabun: 11)

Ibnu Katsir rohimahullah menafsirkan,

ﻭﻣﻦ ﺃﺻﺎﺑﺘﻪ ﻣﺼﻴﺒﺔ ﻓﻌﻠﻢ ﺃﻧﻬﺎ ﺑﻘﻀﺎء اﻟﻠﻪ ﻭﻗﺪﺭﻩ، ﻓﺼﺒﺮ ﻭاﺣﺘﺴﺐ ﻭاﺳﺘﺴﻠﻢ ﻟﻘﻀﺎء اﻟﻠﻪ، ﻫﺪﻯ اﻟﻠﻪ ﻗﻠﺒﻪ، ﻭﻋﻮﺿﻪ ﻋﻤﺎ ﻓﺎﺗﻪ ﻣﻦ اﻟﺪﻧﻴﺎ ﻫﺪﻯ ﻓﻲ ﻗﻠﺒﻪ، ﻭﻳﻘﻴﻨﺎ ﺻﺎﺩﻗﺎ، ﻭﻗﺪ ﻳﺨﻠﻒ ﻋﻠﻴﻪ ﻣﺎ ﻛﺎﻥ ﺃﺧﺬ ﻣﻨﻪ، ﺃﻭ ﺧﻴﺮا ﻣﻨﻪ

“Siapa yang tertimpa musibah, kemudian ia meyakini bahwa itu berasal dari ketentuan dan takdir Allah; lantas ia bersabar, berihtisab (mengharap pahala dari Allah), dan menyerahkan semuanya kepada takdir Allah; niscaya Allah akan memberi kalbunya hidayah.

Demikian pula Allah akan mengganti apa yang hilang dari perkara dunianya dengan memberi kalbunya petunjuk dan keyakinan yang jujur.

Bahkan, terkadang atau seringkali Allah menganugerahi ganti yang serupa atau lebih baik..”

(Tafsir Al-Qur’an al-‘Azhim 8/137)

==========
Berikut ini adalah ayat lainnya dari Alqur’an dan beberapa hadits shohih terkait dengan musibah :

Tersesat Dan Menyesatkan

Allah Ta’ala berfirman,

اَفَمَنْ زُيِّنَ لَهٗ سُوْۤءُ عَمَلِهٖ فَرَاٰهُ حَسَنًاۗ فَاِنَّ اللّٰهَ يُضِلُّ مَنْ يَّشَاۤءُ وَيَهْدِيْ مَنْ يَّشَاۤءُۖ فَلَا تَذْهَبْ نَفْسُكَ عَلَيْهِمْ حَسَرٰتٍۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ ۢبِمَا يَصْنَعُوْنَ (٨)

“Maka apakah pantas orang yang dijadikan terasa indah perbuatan buruknya, lalu menganggap baik perbuatannya itu..? Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Maka jangan engkau (Muhammad) biarkan dirimu binasa karena kesedihan terhadap mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat..”

(Q.S. Fatir ayat 8)

Akibat membiasakan diri dengan maksiat..
Allah jadikan hati tak lagi menganggapnya buruk..

Bahkan hatinya menjadi terbalik..
Tidak suka kepada ketaatan..
Dan menganggap orang yang taat sebagai orang yang sok suci..
Bahkan gembira saat melihat kesalahan mereka..

Dia merasa suka jika maksiat itu dilakukan oleh manusia..
Ia tersesat dan menyesatkan..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Menebar Cahaya Sunnah