All posts by BBG Al Ilmu

Rasa Ujub Akan Hilang Dengan Meyadari Hal Ini

Jika engkau melihat orang-orang takjub denganmu… maka ketahuilah bahwa mereka itu takjub terhadap kebaikan yang Allah tampakkan pada dirimu… Di sisi lain mereka tidak tahu keburukan yang Allah tutupi dari dirimu.

Oleh karena itu, jangan engkau terlena, tapi harusnya engkau bersyukur kepada Allah, yang memberi semua kebaikan yang ada pada dirimu, dan yang menutupi semua keburukan dan kekuranganmu.

Penulis,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Berjalan Di Atas Hidayah…

“Seorang yang berjalan di atas hidayah akan berinteraksi dengan manusia dengan cara yang diinginkan oleh ALLAH bukan dengan cara yang diinginkan oleh ego dan hawa nafsunya, ia tidak menerapkan standar ganda dalam bersikap, seorang yang tulus hati, lisan yang jujur, ia berhasil lepas dari jeratan hawa nafsunya menuju ketaatan pada Rabb-nya.”

Syaikh Prof. DR. Sulaiman Ar Ruhaili (ulama pengajar di masjid nabawi) –  حفظه الله تعالى 

Muhammad Nuzul Dzikri,  حفظه الله تعالى 

Hadits Mutawatir… part 3

Macam-macam hadits mutawatir.

Pertama: Mutawatir Lafdzi.
Yaitu hadits yang mutawatir lafadz dan maknanya. Dimana diriwayat oleh jumlah yang banyak dengan lafadz yang sama.

Contohnya adalah hadits:

من كذب علي متعمدا فليتبوأ مقعده من النار


Barang siapa yang sengaja berdusta atas namaku hendaklah ia mempersiapkan tempat duduknya dalam api neraka.”
(HR Bukhari dan Muslim).

Hadits ini diriwayatkan oleh tujuh puluh lebih shahabat dan jumlah tersebut semakin banyak pada tingkatan tingkatan setelahnya.

Kedua: Mutawatir Maknawi.
Yaitu hadits yang diriwayatkan secara mutawatir dengan lafadz lafadz yang berbeda beda, namun mempunyai makna yang sama.

Contohnya adalah hadits mengangkat tangan dalam berdoa. Diriwayatkan dari nabi shalallahu alaihi wasallam sekitar seratus hadits, namun pada kejadian yang berbeda beda.

Contoh lainnya adalah hadits tentang adzab kubur, hadits tentang mengusap dua khuff, hadits tentang larangan isbal, dan lain sebagainya.

Diantara buku yang mengumpulkan hadits hadits mutawatir adalah kitab Al Azhar Al mutanatsiroh fil ahadits almutawatiroh karya imam Assuyuthi.
Juga kitab Nadzmul mutanatsir minal haditsil mutawatir. Karya Muhammad bin Ja’far Al Kattani.

Badru Salam,  حفظه الله تعالى 

Hadits Mutawatir… part 2

Adapun syarat yang kedua yaitu jumlah yang banyak tersebut harus ada pada semua tingkatan sanad.

Bila tingkatan sahabat hanya dua misalnya, dan tingkatan tabiin banyak demikian pula tingkatan dibawahnya, tidak disebut mutawatir.

Adapun syarat ketiga yaitu sandaran periwayatan mereka adalah panca indera maksudnya adalah bahwa periwayatan mereka dengan mengatakan : aku mendengar, aku melihat, meraba dan sebagainya yang dilakukan oleh panca indera.

Maka bila itu berupa hasil pemikiran akal tidak disebut mutawatir.
Adapun syarat keempat yaitu kabar yang diriwayatkan harus menghasilkan ilmu (keyakinan). Suatu kabar menghasilkan ilmu atau tidak, ditentukan oleh banyak faktor.
Syaikhul Islam ibnu Taimiyah berkata:

“Kabar yang menghasilkan keyakinan terkadang karena banyaknya perawi, terkadang karena sifat pembawa kabarnya, terkadang karena sisi pengabarannya itu sendiri, terkadang karena pengetahuan yang dikabari dan sebagainya.

Terkadang jumlah yang sedikit menghasil keyakinan karena perawinya memiliki agama dan hafalan yang kita merasa aman dari kedustaan atau kesalahan mereka.

Sementara jumlah yang lebih banyak dari itu terkadang tidak menghasilkan keyakinan (karena kurangnya hafalan dan agama mereka).

Inilah pendapat yang benar yang dipegang oleh mayoritas ulama hadits dan fiqih. (Majmu fatawa 20/258)

Badru Salam,  حفظه الله تعالى

Hadits Mutawatir… part 1

Ketahuilah saudaraku, bahwa hadits dilihat dari banyaknya jalan terbagi menjadi dua yaitu hadits Mutawatir dan hadits ahad.
Kita akan membahas hadits mutawatir terlebih dahulu.

Al Hafidz ibnu Hajar Al Asqolani dalam kitab Nuzhatunnazhor berkata: “Apabila terkumpul empat syarat berikut ini, yaitu:
1. Jumlah yang banyak yang secara kebiasaan tidak mungkin mereka bersepakat di atas kedustaan.
2. Mereka (jumlah yang banyak) meriwayatkan dari yang sama dengan mereka dari awal sampai akhir sanad.
3. Sandaran periwayatan mereka adalah panca indera.
4. kabar mereka menghasilkan ilmu (keyakinan) bagi pendengarnya.
Maka ini disebut mutawatir. Bila tidak menghasilkan ilmu, maka disebut masyhur saja. (An Nukat Ala Nuzhatinnadzor hal 56)

Inilah syarat syarat hadits untuk disebut mutawatir. Kita perjelas satu persatu.

Syarat yang pertama adalah jumlah yang banyak.

Terjadi perselisihan para ulama berapa jumlah banyak yang dapat disebut mutawatir; sebagian ulama berpendapat lima ke atas, ada yang berpendapat sepuluh, ada lagi dua puluh dan sebagainya.

Yang paling kuat adalah bahwa mutawatir tidak dibatasi oleh jumlah tertentu. Inilah yang dirojihkan oleh banyak ulama muhaqiq seperti syaikhul islam ibnu Taimiyah, Al Hafidz ibnu Hajar Al Asqolani, Assuyuthi dan lainnya.

Terlebih bila kita melihat syarat yang keempat yaitu menghasilkan keyakinan. Suatu kabar menghasilkan keyakinan atau tidak, tidak ditentukan oleh sebatas jumlah tapi terkadang karena indikasi indikasi lainnya.

Syaikhul Islam ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:
“Pendapat yang sahih yang dipegang oleh mayoritas ulama adalah bahwa mutawatir tidak terbatas dengan jumlah tertentu. dan ilmu yang terhasilkan dari suatu kabar, akan terhasilkan di hati. sebagaimana terhasilkannya kenyang setelah makan, puas setelah minum. Tetapi sesuatu yang mengenyangkan seseorang atau memuaskannya tidak memiliki batasan tertentu.

Sesuatu yang mengenyangkan itu bisa jadi karena kwantitas makanan atau kwalitasnya… (Majmu Fatawa 18/50)

Perkataan Al Hafidz: Secara kebiasaan tidak mungkin mereka bersepakat di atas kedustaan.
Maksudnya karena melihat ketaqwaan dan kejujurannya yang luar biasa. Dimana jumlah mereka banyak dan negeri mereka berjauhan, namun kabar mereka serupa.

Sebuah contoh: Bila kita pergi ke sumatera lalu kita bertemu dengan orang yang kita ketahui amat taqwa dan jujur memberitakan sebuah kabar.
Kemudian kita pergi ke Irian jaya, dan bertemu dengan orang yang taqwa dan jujur yang memberitakan kabar yang mirip dengan yang pertama.
Kemudian kita pergi ke sumbawa dan bertemu dengan orang yang taqwa dan jujur yang juga memberitakan kabar yang serupa.
Tentu hal ini akan menghasilkan keyakinan akan kebenaran berita tersebut setelah melihat sifat pembawa beritanya yang taqwa dan jujur, daerah mereka yang berjauhan, dan mungkin tidak saling mengenal satu sama lainnya, sehingga secara nalar tidak mungkin mereka bersepakat untuk berdusta.

Bersambung…

Badru Salam,  حفظه الله

Kaidah Memahami Al Qur’an Ke 18 : Mengembalikan Makna Ayat Mutasyabih Kepada Ayat Muhkam…

Kaidah-kaidah memahami Al Qur’an yang diambil dari kitab Qowa’idul Hisaan yang ditulis oleh Syaikh Abdurrohman As Sa’diy.

Kaidah ke 18 :

Mengembalikan makna ayat mutasyabih kepada ayat muhkam.

Ayat mutasyabih artinya ayat yang maknanya mengandung kesamaran. Dalam menghadapi ayat seperti ini kewajiban kita adalah menafsirkannya dengan dalil dalil yang muhkam yaitu jelas dan tidak samar.

Contohnya ayat yang seakan mendukung kaum jabariyah bahwa perbuatan hamba telah ditentukan ditafsirkan dengan ayat bahwa Manusia pun punya kehendak dan bahwa Allah tidak memaksa mereka.

Ayat-ayat yang seakan mendukung kaum khowarij bahwa pelaku dosa besar kekal di neraka wajib ditafsirkan dengan ayat bahwa dosa selain syirik di bawah kehendak Allah.

Allah menyebutkan bahwa diantara sebab kesesatan adalah mengikuti ayat ayat mutasyabihat dan meninggalkan ayat ayat muhkamat.

Allah berfirman:

فأما الذين في قلوبهم زيغ فيتبعون ما تشابه منه ابتغاء الفتنة

“Adapun orang orang yang di hatinya terdapat kecondongan kepada kesesatan selalu mengikuti mutasyabihat karena menginginkan fitnah.” (3:7)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bila kamu melihat orang yang memperdebatkan al Qur’an maka merekalah yang dimaksud oleh Allah.” (HR Ahmad)

Badru Salam,  حفظه الله تعالى

Kaidah Ke 19 : Adat Istiadat Sebagai Rujukan Dalam Sebagian Hukumnya…

KAIDAH MEMAHAMI Al QUR’AN – Daftar Isi LENGKAP

TIGA Tanda Kebahagiaan

Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab at-Tamimi rahimahullah berkata:

وأن يجعلك ممّن إذ أعطى شكر , وإذ ابتلي صبر , وإذ أذنب الستغفر . فإنّ هؤلاء الثّلاث عنوان السّعادة

Semoga Allah menjadikanmu termasuk orang-orang yang :

– apabila diberi kenikmatan, bersyukur,
– pabila di timpa musibah, bersabar,
– apabila terjatuh dalam perbuatan dosa, beristighfar (taubat).

Sebab ketiga perkara itu adalah tanda-tanda kebahagiaan.

(Muqoddimah Qowa’idul Arba’)

Sudah Penuhi Ini Pada Orangtua Kita..?

Ada beberapa bentuk berbuat baik pada orang tua mungkin di antara kita belum memenuhinya dan patut untuk diingatkan:

1. Berbuat baik dan mengabdi pada keduanya dengan JIWA DAN HARTA selama mereka masih hidup.

2. Memenuhi janji mereka yang belum dipenuhi setelah meninggal dunia.

3. Mendo’akan mereka berdua di SETIAP WAKTU.

4. Memuliakan teman-teman dekat dari orang tua. Dalam hadits disebutkan, bentuk berbakti yang paling baik adalah menyambung hubungan dengan teman baik dari bapaknya.

Dari Abu Usaid Malik bin Rabi’ah As-Sa’idi, ia berkata,

“Suatu saat kami pernah berada di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika itu ada datang seseorang dari Bani Salimah, ia berkata, “Wahai Rasulullah, apakah masih ada bentuk berbakti kepada kedua orang tuaku ketika mereka telah meninggal dunia?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Iya (masih tetap ada bentuk berbakti pada keduanya, pen.). (Bentuknya adalah) mendo’akan keduanya, meminta ampun untuk keduanya, memenuhi janji mereka setelah meninggal dunia, menjalin hubungan silaturahim (kekerabatan) dengan keluarga kedua orang tua yang tidak pernah terjalin dan memuliakan teman dekat keduanya.” (HR. Abu Daud no. 5142 dan Ibnu Majah no. 3664. Hadits ini dishahihkan oleh Ibnu Hibban, Al-Hakim, juga disetujui oleh Imam Adz-Dzahabi. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan)

#

Bentuk durhaka yang sederhana saja yang disebutkan oleh para ulama, coba perhatikan ungkapan di bawah ini.

bentuk durhaka pada orang tua,

“Ketika orang tuamu memandangmu, engkau malah menoleh pada lainnya.”

Disarikan dari kitab ‘Adab Al-‘Isyrah wa Dzikru Ash-Shuhbah wa Al-Ukhuwah karya Abul Barakat Badaruddin Muhammad Al-Ghazi (904 – 984 H), hlm. 73.

Muhammad Abduh Tuasikal,  حفظه الله تعالى 

Ref : muslimah.or.id