All posts by BBG Al Ilmu

Jangan Tertipu Dengan Penampilan

Pernahkah mendengar seorang perawi yang bernama Ishmah bin Muhammad Al Anshari..?

Yahya bin Ma’in (w. 233 H) rohimahullah berkata tentangnya :
“..ia suka berdusta dan meriwayatkan hadits hadits yang dusta..
aku pernah melihatnya..
ia seorang syaikh dan memiliki penampilan yang berwibawa..
tapi ia adalah orang yang paling suka berdusta..”

(Tarikh Ibnul Junaid hal 735)

maka janganlah tertipu dengan penampilan yang baik dan berwibawa..
bila ia seorang yang menyimpang..

Penulis,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.

HAL-HAL Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari KEBENARAN – Penghalang Ke-17

Dari kitab yang berjudul “Showarif ‘Anil Haq“, tentang Hal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari Kebenaran, ditulis oleh Syaikh Hamd bin Ibrohim Al Utsman, حفظه الله تعالى.
.
PEMBAHASAN SEBELUMNYA (Penghalang yang ke 16) bisa di baca di SINI

=======

🌿 Penghalang yang ke 17 🌿

Diantara penghalang seseorang dari mendapatkan kebenaran..

⚉   Menolak sebagian kebenaran dan meninggalkan sebagian syari’at

Karena seorang muslim hendaknya masuk Islam secara kaaffah (secara keseluruhan) jangan sebagian-sebagian.

⚉   Allah Berfirman dalam QS Al-Baqoroh 208:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara kaaffah (keseluruhan), dan janganlah kamu turuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.”

Maka ketika kita menolak sebagian dan beriman sebagian, dimana kita tolak yang tidak sesuai dengan hawa nafsu itu menyebabkan akhirnya kita mendapatkan ancaman Allah Subhanahu Wata’ala.

⚉   Didalam firman-nya Allah Ta’ala berfirman dalam QS. An-Nuur 63:

فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَن تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Hendaklah waspada orang-orang yang menyelisihi perintahnya (Rosul shollallahu ‘alayhi wasallam) untuk di timpa fitnah atau ditimpa adzab yang pedih.”

Disini Allah mengancam orang yang menyelisihi perintah Rosul shollallahu ‘alayhi wasallam walaupun dalam satu perkara, dimana ia tau bahwa perkara itu Allah memerintahkan begini tapi ia sengaja ia selisihi itu dengan ancaman salah satu dari dua perkara

PERTAMA: diberikan fitnah (syirik) maksudnya dijadikan dia condong kepada kesyirikan atau

KEDUA: diberikan adzab yang pedih

Maka ini, Subhanallah, akibat dia berpaling daripada perintah Rosul shollallahu ‘alayhi wasallam, akhirnya dia dijadikan condong kepada kekufuran, A’uudzubillah

Oleh karena itulah Allah Subhanahu Wata’ala mengecam orang-orang Yahudi yang beriman kepada sebagian Al Kitab dan kafir kepada sebagiannya

⚉   Allah berfirman dalam surat Al-Baqoroh ayat 85:

أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ ٱلْكِتَٰبِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ

“Apakah kamu beriman kepada sebagian Al-Kitab dan kamu kafir kepada sebagian yang lain”.

Ini adalah merupakan sikap yang tidak benar

👉🏼   Kewajiban kita adalah mengimani seluruhnya, baik yang sesuai dengan kepentingan kita maupun yang tidak sesuai, baik itu menguntungkan kita ataupun tidak menguntungkan kita.. wajib kita imani, wajib kita berusaha untuk menjalankan dalam kehidupan kita

Maka dari itu.. perkataan dari sebagian orang mengatakan, katanya.. “Agama itu : ada cangkang, ada inti” lalu mereka meremehkan masalah-masalah yang dianggap sebagai cangkang yang disebut dengan “parsial” dan mereka meremehkan,  dan bahkan sebagian mereka meninggalkan sunnah-sunnah Rosul shollallahu ‘alayhi wasallam yang mereka anggap itu hanya sebatas parsial saja

Maka tentu ini sikap yang tidak benar, contoh misal sebagian orang ada yang meremehkan sebagian masalah Sunnah janggut, padahal Nabi Sholallahu ‘alaihi wassalam berjanggut, Para Sahabat berjanggut.. hanya sebatas dengan claim bahwa janggut itu tidak wajib.

Padahal Ibnu Hazm rohimahullah menyatakan bahwa:
“Ulama seluruhnya bersepakat akan haramnya mencukur janggut”, tapi karena ada sebagian Ulama belakangan yang mengatakan makruh saja, lalu ia berpegang dengan perkataan ulama belakangan dan ia tinggalkan perkataan ulama terdahulu yang sepakat semuanya untuk mengharamkannya dan ia tinggalkan juga dalil-dalil yang banyak, hanya karena itu yang sesuai dengan keinginannya.

“Maka inilah hakikat dari mengikuti hawa nafsu”

Kemudian dia beralasan:
“aah itu masalah parsial aja kok.. aah itu masalah cangkang aja, ga usah di permasalahkan, gak usah diributkan”.. akhirnya dia pun meremehkannya. Maka yang seperti ini jelas tidak dibenarkan.

Al Izz bin Abi Salam dalam Kitab Al-Fatawa Al-Mausiliyah berkata:

“Tidak boleh mengungkapkan perkara yang termasuk syari’at sebagai sesuatu yang bersifat “cangkang”, karena semua syariat itu pasti manfa’atnya besar disisi Allah Subhanahu Wata’ala. Bagaimana perintah kepada ketaatan dan keimanan dianggap sebagai cangkang ?!”

Tentu ini adalah merupakan penghinaan bahkan pelecehan terhadap syariat yang tidak layak dilakukan oleh seorang hamba yang muslim.
.
Wallahu a’lam 🌴
.
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
.
Dari kitab yang berjudul Showarif ‘Anil Haq“, tentang Hal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari Kebenaran, ditulis oleh Syaikh Hamd bin Ibrohim Al Utsman, حفظه الله تعالى.
.
Silahkan bergabung di Telegram Channel dan Facebook Page :
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://www.facebook.com/aqidah.dan.manhaj/

Artikel TERKAIT :
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Showarif ‘Anil HaqHal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari KEBENARAN
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Al IshbaahManhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN

Cinta Yang Hakiki Kepada Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam…

“Cinta kepada Nabi -shollallahu ‘alaihi wasallam- bukanlah dengan melakukan bid’ah karena dorongan cinta, sehingga engkau melakukan sesuatu yang tidak beliau lakukan.

Akan tetapi, cinta yang hakiki (kepada beliau) adalah dengan engkau menetapi jalan beliau, mencintai apa yang dilakukan beliau, dan membenci bid’ah sebagaimana beliau dahulu membencinya.”

[ Syeikh Prof. DR. Sulaiman Arruhaily ]
t.me/Drsuleiman

Diterjemahkan oleh:
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى.

Kaidah Ushul Fiqih Ke 49 : Setiap Yang Masyghul (Sedang Terpakai) Tidak Boleh Dipakai Untuk…

Pembahasan ini merujuk kepada kitab “Syarah Mandzumah Ushul Fiqih“, yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al’Utsaimin, رحمه الله تعالى

KAIDAH SEBELUMNYA (KE-48) bisa di baca di SINI

=======

🍀 Kaidah yang ke 49 🍀

👉🏼  Setiap yang masyghul (sedang terpakai) tidak boleh dipakai untuk perkara yang lain yang menggugurkan pemakaian yang pertama.

Contoh kaidah ini adalah :
⚉  Apabila A menggadaikan rumahnya kepada B. Maka rumah tersebut tidak boleh digadaikan kepada orang lain karena sedang dipakai sebagai gadaian.

⚉  Si A menyewakan motornya kepada B. Lalu A menyewakan lagi ke C padahal motor tersebut sedang disewa B. Maka ini tidak boleh.

Apabila tidak menggugurkan pemakaian pertama maka tidak apa-apa. Contohnya :
⚉  Bila A meminjam uang ke B sebanyak 100 juta dengan menggadaikan rumahnya. Lalu si A kembali datang ke B lagi dan berkata, “Pinjamkan saya uang 100 juta lagi dengan gadaian yang sama.” Maka ini boleh karena tidak menggugurkan gadaian pertama.

⚉  Si A menyewakan rumah ke si B selama setahun. Di pertengahan tahun, A menjual rumah tersebut kepada C. Maka boleh tapi dengan syarat mengabarkan bahwa rumah tersebut masih akan dipakai setengah tahun karena statusnya masih disewakan.
.
.
Wallahu a’lam 🌴
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
.
Dari kitab “Syarah Mandzumah Ushul Fiqih“, yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al’Utsaimin, رحمه الله تعالى.
.
.
Silahkan bergabung di Telegram Channel dan Facebook Page:
https://t.me/kaidah_ushul_fiqih
https://www.facebook.com/kaidah.ushul.fiqih/
.
KAIDAH USHUL FIQIH – Daftar Isi LENGKAP

Jangan Terlena Dengan KELEBIHAN Yang Allah Berikan Padamu…

Syeikh Utsaimin -rohimahulloh- mengatakan:

“Biasanya orang yang takjub (terlena) dengan dirinya; dia akan kalah -dengan izin Allah-.
   Jika dia terlena dengan banyaknya jumlah pasukan; dia akan dikalahkan.
   Bila dia terlena dengan ILMUNYA; dia akan tersesat.
⚉   Bila dia terlena dengan kecerdasannya; dia akan hilang jalan.

Maka janganlah kamu terlena dengan dirimu, begitu pula dengan kekuatan apapun yang kau miliki, namun mintalah pertolongan kepada Allah -azza wajall- dan SANDARKANLAH semuanya kepada-Nya, hingga terlaksana apapun yang kau inginkan”.

[Kitab: Syarah Riyadhus Sholihin: 6/669]

Ustadz DR. Musyaffa Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

 

da270714-2144

Larangan Ber-ilmu Tentang Dunia Tapi Bodoh Tentang Akhirat Dan Menjauhi Sebab-Sebabnya…

Allah Ta’ala berfirman dalam surat Ar Ruum Ayat 6 dan 7 :

وَلَٰكِ‍‍نَّ أَكْثَرَ ال‍‍نَّ‍‍اسِ لَا يَعْلَمُونَ
يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِّ‍‍نَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ

“Akan tetapi kebanyakan manusia itu tidak mengetahui, mereka hanya mengetahui lahiriah dari kehidupan dunia saja, sementara mereka lalai dari kehidupan akhirat.”

⚉   Ayat ini mengecam orang yang hanya sebatas pengetahuannya tentang dunia namun mereka bodoh / tidak punya ilmu sama sekali atau sedikit ilmunya tentang kehidupan akhirat.

👉🏼   Maka dari itulah sangat tercela orang yang dia semangat mempelajari ilmu-ilmu dunia tetapi tidak punya semangat mempelajari ilmu-ilmu agama.

Padahal ilmu agama adalah bekal menuju kehidupan akhirat, dalam kuburanpun kita tidak akan ditanya tentang apakah kita belajar biologi atau fisika atau yang lainnya, akan tetapi ditanya tentang siapa Rabbmu, apa agamamu, siapa nabimu.

Walaupun pada awalnya ilmu dunia asalnya hukumnya mubah namun terkadang menjadi fardhu kifayah apabila menyempurnakan kewajiban dari ilmu agama.

Contoh misalnya :
Untuk Ibadah butuh kesehatan, dan tidak mungkin sempurna kewajiban ibadah kecuali dengan badan yang sehat maka tentu ada orang yang belajar tentang ilmu kesehatan itu sifatnya fardhu kifayah.

Kemudian beliau membawakan hadits Abu Hurairah rodhiyallahu ‘anhu, Rosullullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda :

إِنَّ اللَّهَ يُبْغِضُ كُلَّ جَعْظَرِيٍّ جَوَّاظٍ سَخَّابٍ بِالأَسْوَاقِ، جِيفَةٍ بِاللَّيْلِ، عَالِمٍ بِأَمْرِ الدُّنْيَا، جَاهِلٍ بِأَمْرِ الآخِرَةِ

“Sesungguhnya Allah membenci setiap orang yang sombong lagi kasar suka berteriak-teriak seperti di pasar, bangkai di waktu malam dan keledai di waktu siang. Dia berilmu tentang dunia tapi bodoh tentang akhirat.” (HR. Ibnu Hibbaan dan Baihaqi)

Dan menurut beliau hadits ini hasan walaupun sebagian ulama mendhoifkannya.

⚉    Hadits ini menunjukkan bahwa Allah benci kepada sifat-sifat ini :
Orang yang sombong lagi kasar, demikian pula orang yang suka teriak-teriak itu bukanlah sifat seorang muslim yang berakhlak dengan akhlaq Rasul, dia di waktu malam hanya melewati dengan tidur saja, tidak shalat malam. Dia hanya berilmu tentang dunia tetapi dia bodoh tentang kehidupan akhirat.

Inilah adalah merupakan celaan bagi orang yang sebatas berilmu tentang dunia tapi dia bodoh tentang kehidupan ahirat.

👉🏼   Maka dari itulah kewajiban setiap muslim , betul-betul mempelajari ilmu agama/Akhirat ini supaya kita lurus aqidah kita, lurus ibadah kita, lurus juga akhlaq kita, muamalah kita, paham halal dan haram, paham jalan menuju Surga, jalan menuju api Neraka karena tujuan hidup manusia adalah Surga atau Neraka dan jalan menuju keduanya adalah harus mengetahui dari ilmu syari’at yang Allah turunkan berupa wahyu-Nya

Tidak mungkin kita mengetahui jalan menuju surga hanya sebatas dengan mempelajari ilmu dunia.

Tidak mungkin, karena di dalam Ilmu Biologi, Fisika misalnya tidak ada dijelaskan tentang halal dan haram, tentang jalan menuju ke surga atau neraka. Hanya ada dalam ilmu syariat.

Wallahu ‘alam 💐

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى 
.
.
Dari Kitab Tauhid Mausu’ah Al Manahi Asy Syar’iyyah – Ensiklopedi Larangan-Larangan Dalam Syariat, yang ditulis oleh Syaikh Salim bin Ied al Hilali, حفظه الله تعالى

KITAB FIQIH – Keutamaan Sujud Tilawah…

Dari pembahasan Kitab Fiqih Mausu’ah Muyassaroh, yang ditulis oleh Syaikh Hussain Al Uwaisyah, حفظه الله تعالى
.
PEMBAHASAN SEBELUMNYA – Sujud Sahwi… bisa di baca di SINI

=======

=======

Dari Hadits Abu Hurairah rodhiyallahu ‘anhu ia berkata Rosullullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda,

إِذَا قَرَأَ ابْنُ آدَمَ السَّجْدَةَ فَسَجَدَ، اعْتَزَلَ الشَّيْطَانُ يَبْكِي، يَقُولُ: يَا وَيْلَهُ! أُمِرَ ابْنُ آدَمَ بِالسُّجُودِ فَسَجَدَ، فَلَهُ الْجَنَّةُ، وَأُمِرْتُ بِالسُّجُودِ، فَأَبَيْتُ، فَلِي النَّارُ

“Apa bila seorang anak Adam membaca ayat As-Sajdah lalu ia sujud maka syaitan pergi sambil menangis, syaitan itu berkata, “Celakalah anak adam diperintahkan sujud maka ia pun sujud ia mendapatkan surga sementara aku disuruh sujud aku tidak mau sujud sehingga aku mendapatkan neraka.” (HR Muslim)

Ini menunjukkan ketika kita sujud membuat syaitan menangis.

=====================
HUKUM SUJUD TILAWAH

Para ulama berbeda pendapat tentang sujud tilawah.

⚉   Sebagian ulama mengatakan WAJIB berdasarkan hadits tadi, yang mengatakan anak Adam diperintahkan untuk sujud iapun sujud, sedangkan kata-kata “diperintahkan itu hukumnya wajib”.

⚉   Mayoritas ulama mengatakan sujud tilawah hukumnya SUNNAH saja.

Berdasarkan beberapa riwayat diantaranya :

⚉   Hadits Bukhari dan Muslim dari Zaid bin Tsabit rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

Aku membacakan kepada Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam surat An-Najm namun ia tidak sujud.”

⚉   Juga berdasarkan riwayat Umar bin Khattab rodhiyallahu ‘anhu ia pernah membaca surat An-Nahl dihari Jum’at diatas mimbar, sehingga apabila beliau melewati ayat As-Sajdah beliaupun turun lalu sujud dan orang-orang pun ikut sujud.

Ketika sholat Jum’at berikutnya beliau juga membaca surat An-Nahl juga ketika beliau melewati ayat As-Sajdah ia berkata,

“Wahai manusia sesungguhnya kami melewati ayat As-Sajdah, maka barangsiapa mau sujud sungguh ia telah benar dan siapa yang tidak sujud ia tidak berdosa.”

Dan Umar saat itu tidak sujud, ini menunjukkan bahwa hukumnya sunnah.

Kenapa ?

Karena tidak ada satupun sahabat yang mengingkari perkataan Umar sementara Umar berkata diantara sahabat.

👉🏼   Sehingga ini menjadi ijma’ mereka dan inilah pendapat yang rojih bahwa sujud tilawah hukumnya tidak wajib tapi SUNNAH MU’AKADAH.

=====================
AYAT-AYAT SAJADAH

Sebagian ulama mengatakan 15 ayat. Namun yang rajih ada 14 ayat yaitu ;

1. Diakhir surat Al-A’raf ayat ke 206
2. Surat Ar Raad : 15
3. Surat An-Nahl : 49
4. Surat Al-Isra’ : 107
5. Surat Mariam : 58
6. Surat Al-Hajj : 18
7. Surat Al-Furqan : 60
8. Surat An-Naml : 25-26
9. Surat As-Sajdah : 15
10. Surat Sad : 24
11. Surat Fussilat : 37
12. Surat An-Najm : 62
13. Surat Al-Insyiqaq : 21
14. Surat Al-‘Alaq : 19

⚉   Dan kalau kita melihat mushaf dalam surat Al-Hajj : 18 ada dua ayat As-Sajdah namun yang shohih yaitu di ayat ke-18, adapun yang diakhir surat itu riwayatnya dho’if sehingga tidak bisa dijadikan hujjah.

Oleh karena itu Syaikh Albani rohimahullah menyatakan bahwa itu dho’if karena didalamnya sanad ada perawi-perawi yang majhul.

Wallahu a’lam

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى 
.
.
Dari Kitab Fiqih Mausu’ah Muyassaroh, yang ditulis oleh Syaikh Hussain Al Uwaisyah, حفظه الله تعالى
.
.
ARTIKEL TERKAIT
Pembahasan Fiqih Mausu’ah Muyassaroh…

Nasihat Ibnu Hibban rohimahullah – Tujuan Menuntut Ilmu Untuk Mengamalkannya…

Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى berikut ini : (tunggu hingga audio player muncul dibawah ini:

Dari pembahasan Kitab Roudhotul Uqola wa Nuz-hatul Fudhola (Tamannya Orang-Orang Yang Berakal dan Tamasya-nya Orang-Orang Yang Mempunyai Keutamaan) karya Abu Hatim Muhammad Ibnu Hibban al Busty rohimahullah.

ARTIKEL TERKAIT :
Kumpulan Artikel – Nasihat Ibnu Hibban rohimahullah…

Ikuti terus Telegram channel :
https://t.me/bbg_alilmu
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://t.me/kaidah_ushul_fiqih

Ada Apa Dengan Menyukai QS Yusuf Melebihi Surat Lainnya..?

Anda suka mendengar Surat Yusuf melebihi surat lainnya ?

Bila betul demikian, simak penjelasan Imam Ibnu Timiyah berikut:

Sebagian orang dan juga wanita ada yang senang mendengarkan surat Yusuf, dikarenakan pada surat Yusuf dibawakan cerita tentang asmara dan hal-hal yang terkait dengannya.

Ia mencintai surat Yusuf dibanding surat lainnya dikenakan di dalam dirinya ada asmara yang membara dan kecenderungan untuk berbuat keji ( zina). Sampai-sampai sebagian mereka berusaha dengan sungguh sungguh untuk sering memperdengarkan surat tersebut kepada kaum wanita atau lainnya, dikarenakan pada diri mereka terdapat kecenderungan kepada perbuatan buruk, mereka begitu antusias untuk hal itu.

Di saat yang sama, mereka tidak senang untuk mendengarkan kandungan surat An Nur yang menjelaskan tentang hukuman dan larangan dari perbuatan keji (zina).”

(majmmu’ fatawa ibnu Taimiyyah 15/335)

Ayo jujur saja…

Ustadz Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى

Bagaimana Mengatur Rasa Takut Dan Rasa Harap Kepada Allah

Al-Fudhail bin Iyadh -rohimahulloh- pernah mengatakan:

“Rasa takut lebih baik daripada rasa harap selama seseorang dalam keadaan sehat. Lalu apabila ajal menghampirinya, maka rasa harap lebih baik daripada rasa takut.

Jika pada saat keadaannya sehat dia melakukan kebaikan; tentu akan menjadi besar rasa harap dan husnuzhonnya (kepada Allah) saat kematian (menghampirinya).

(Tapi) bila pada saat sehatnya dia melakukan keburukan; tentu dia akan su’uzhon ketika kematian (menghampirinya), dan tidak akan bertambah rasa harapnya (kepada Allah).”

[Hilyatul Auliya’ 8/89].

——

Inilah cara yang sangat baik dalam mengatur hati kita.. dengan rasa takut saat keadaan baik, maka kita tidak akan terlena dengan nikmat yang Allah berikan kepada kita.. kita akan menggunakan sebaik-baiknya untuk mendapatkan pahala yang dapat memuliakan kita nantinya.

Dan dengan rasa berharap baik kepada Allah saat ajal menjemput kita, maka kita akan tenang, bahagia, dan bisa menghadapi kematian dengan baik, sehingga Allah akan memudahkan kita dalam menutup hidup dengan kalimat “Laa ilaaha illallah”

Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- telah bersabda: “Siapa yang akhir ucapannya Laa ilaaha illallah; pasti dia masuk surga..”[HR. Abu Daud: 3116]

Semoga Allah memberikan kita semua husnul khotimah… amin.

Silahkan dishare, semoga bermanfaat.

Ditulis oleh,
Ustadz Dr. Musyaffa’ Ad Dariny MA,  حفظه الله تعالى