Category Archives: Muhammad Arifin Badri

Iedul Fitri = Kembali Kepada Fitrah..?

Iedul Fitri = Kembali Kepada Fitrah ?

Salah Kali !

Banyak khathib atau penceramah bahkan pejabat yang mengurusi masalah agama masyarakat beranggapan bahwa kata “al fithru/ الفطر” berarti fitrah yang salah satu artinya adalah asal mula penciptaan dan akhirnya diartikan dengan suci.

Sebatas yang pernah saya pelajari dan faktanya juga demikian arti kata “fithri” adalah lawan dari “shaum”. Al fithru di sini artinya ialah makan pagi, sebagaimana kata “as shaum” berarti menahan diri.

Dengan demikian iedul fithri arti bahasanya ialah = kembali makan pagi setelah sebelumnya dilarang.

Bila demikian apa istimewanya kembali makan pagi setelah sebelumnya dilarang ? Bukankah akan lebih religi dan mantep bila diartikan dengan fithrah alias asal muasal penciptaan yang identik dengan kesucian ?

Oooh, sangat istimewa, karena dengan memahami arti kata ini maka anda dihadapkan pada satu fakta sederhana namun sarat dengan arti religius yang sangat mendalam. Anda dihadapkan pada satu fenomena bahwa makan, minum, melampiaskan syahwat atau atau menahannya benar-benar karena perintah Allah dan keteladanan dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam.

Inilah arti ke-islaman yang sejati, yaitu ketika anda benar-benar telah menyerahkan seluruh urusan anda kepada perintah Allah dan keteladanan Nabi alaihissalam. Inilah ikrar yang sepatutnya anda jadikan pedoman dalam hidup anda sebagai seorang muslim

إن صلاتي ونسكي ومحيايى ومماتي لله رب العالمين لا شريك له وبذلك أمرت

“Sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidupku dan kematianku seutuhnya aku persembahkan teruntuk Allah, Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya, dan dengan itulah aku diperintahkan.” ( al an’am 162-163)

Ramadhan dan Iedul Fitri mengajarkan kepada anda bahwa Nilai suatu amalan bukanlah terletak pada makan atau minum atau meninggalkan keduanya semata, namun terletak pada ketepatan alias keteladanan yang diiringi oleh ketulusan niat lillahi rabbil ‘alamiin. Apalah artinya menahan makan dan minum alias berpuasa bila menyelisihi tuntunan Nabi alaihissalam, semisal orang yang berpuasa pada hari ied?

Dan sebaliknya betapa buruknya orang yang menurutkan hawa nafsunya dengan makan dan minum di siang hari bulan Ramadhan, karena itu tentu menyimpang dari tuntunan Nabi shallallahu alaihi wa sallam.

Sobat, marilah kita pelajari sunnah-sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam agar kita bisa beramal sesuai dengan sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.

Bukan waktunya lagi bagi anda untuk hanya menuruti semangat, emosional, perasaan atau tradisi masyarakat dalam beramal, namun sudah tiba saatnya bagi anda untuk selalu memastikan legalitas setiap amalan anda ditinjau dari dalil dan uswah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.

Selamat merayakan IEDUL FITRI, semoga Allah menerima seluruh amalan ibadah saudara dan memberi umur yang panjang untuk dapat merayakannya kembali pada tahun tahun yang akan datang.

تقبل الله منا ومنكم صالح الاعمال

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA,  حفظه الله تعالى

Tuli Namun Mendengar…

Tuli namun mendengar, gara gara kotornya jiwa mereka.

Di beberapa ayat, orang-orang kafir disebut Tuli ataupun buta, padahal sejatinya mereka tidaklah Tuli atau buta akan tetapi yang Tuli dan buta adalah jiwa mereka sehingga tidak mau memahami kebenaran dan melihat fakta.

Akibatnya walaupun mereka mendengar redaksi Al-Quran atau membacanya, tetapi mereka tidak mendapatkan Hidayah Darinya, bahkan semakin menjauh atau semakin besar kebencian mereka kepada Islam .

Simak firman Allah ta’ala berikut:

وَلَوْ عَلِمَ اللَّهُ فِيهِمْ خَيْرًا لَّأَسْمَعَهُمْ وَلَوْ أَسْمَعَهُمْ لَتَوَلَّوْا وَّهُم مُّعْرِضُونَ

“Andai Allah mengetahui bahwa pada diri mereka terdapat kebaikan niscaya Allah akan menjadikan mereka dapat mendengar,, dan andaipun Allah telah menjadikan mereka dapat mendengar, niscaya mereka tetap berpaling Sedang mereka terus menjauhkan dirinya (dari kebenaran).”  [ Al Anfal 23 ]

Mereka dijadikan tidak bisa memahami dan menerima bukan karena tuli dan buta telinga dan mata mereka.

Namun hati dan jiwa mereka yang telah menjadi tuli dan buta karena kotornya niat atau tujuan mereka.

Sobat, yuk sucikan jiwa kita, jauhkan dari niat-niat buruk, waspadalah bahwa niat buruk yang anda pendam hanya akan membutakan mata dan menjadikan tuli pendengaran batin anda.

Semoga bermanfaat.

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى.

Ikat Dulu Ontamu Baru Tawakkal…

Ikat dulu ontamu baru tawakkal, demikianlah konsep tawakkal dan tauhid yang benar.

Imam Ibnu Taimiyyah rohimahullah berkata:

“di antara hal yang harus diketahui: pernyataan sebagian ulama: bersandar kepada sebab akibat semata adalah bentuk kesyirikan dalam aspek tauhid.

Namun keinginan untuk menghapuskan seluruh kaitan sebab dengan akibatnya adalah bentuk dari cacat akal.

Sebagaimana berpaling atau mengabaikan secara mutlak adanya korelasi antara sebab dengan akibatnya adalah bentuk celaan terhadap syariat.

Tawakal dan Roja’ (mengharap) Yang benar adalah kombinasi dari aplikasi tauhid, akal sehat dan tuntunan syariat.”

[ Majmu’ Fatawa 8/169 ]

Semoga mencerdaskan.

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى.

ARTIKEL TERKAIT
Tawakkal Bukan Berarti Berpangku Tangan…
Apakah Tawakkal Identik Dengan Tindakan Nekat..?

 

 

Tawakkal Bukan Berarti Berpangku Tangan…

Kemenangan harus diupayakan, bukan dengan berpangku tangan.

⚉  Nabi Musa ‘alaihissalam tetap diperintahkan berusaha, walau usahanya menurut nalar manusia dan kebiasaan, tiada artinya, yaitu memukulkan tongkat ke lautan.

Allahu Akbar! tatkala sisa usaha yang bisa ia lakukan diiringi dengan kesempurnaan tawakkal, maka menghasilkan buah yang luar biasa, di luar nalar manusia.

⚉  Maryam ‘alaihassalam, yang sedang lapar, dan dalam kondisi lemah karena baru saja melahirkan, diperintahkan untuk berusaha mendapatkan makanan, yaitu menggoyangkan batang pohon kurma.

Hasilnya sungguh luar bisa, walau dengan sisa-sisa tenaganya yang lemah, buah-buah kurma masak yang segar berjatuhan di hadapan Maryam.

Padahal kalau dipikir, Allah Ta’ala kuasa untuk membelah lautan dan menjatuhkan buah kurma tanpa perlu memerintahkan mereka berdua untuk menjalani usaha yang secara tradisi sangat kecil nilainya.

⚉  Demikian pula dengan Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam ketika berhijrah, sejatinya Allah kuasa menyelamatkan beliau tanpa harus bersembunyi di dalam gua yang sempit dan kecil.

Namun itulah sunnatullah, beliau harus memberi keteladanan bahwa tawakkal bukan berarti berpangku tangan, namun tetap menjalankan usaha bahkan sisa sisa usaha yang masih bisa dilakukan, dan selanjutnya percayakan hasilnya kepada Allah Ta’ala Yang Maha Kuasa .

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar.

Semoga menyegarkan.

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى.

Demikianlah Pertolongan Allah…

Musuh menyerang dengan segala cara. Tatkala Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam berhijrah ke kota Madinah, kaum Quraish Mengerahkan segala daya dan cara yang mereka miliki guna membunuh Nabi Shollallahu ‘alaihi wasallam atau minimal menghalanginya dari hijrah ke kota Madinah. Sampai akhirnya mereka menyewa pakar Pendeteksi jejak manusia.

Dan tatkala Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam bersama sahabat Abu Bakar rodhiyallahu ‘anhu, bersembunyi di gua Tsaur, pendeteksi jejak langkah yang mereka sewa berhasil menemukan jejak jejak Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam, hingga tiba di depan mulut gua.

Semula sahabat Abu Bakar rodhiyallahu ‘anhu mengira bahwa mereka akan berhasil menemukan Nabi dan dirinya.

Namun keyakinan Nabi akan pertolongan Allah tidak pernah padam, sehingga beliau menegaskan kepada sahabat Abu Bakar bahwa Allah selalu bersama mereka berdua.

Dan betul, para pendeteksi jejak yang disawa oleh orang-orang Quraisy beserta seluruh orang yang hadir kalau itu, tidak mampu melihat keberadaan Nabi dan sahabat Abu Bakar.

Demikianlah pertolongan Allah, seringkali bila dinalar dengan akal manusia tak ubahnya bagaikan gajah keluar dari lubang jarum.

Sobat, di saat anda merasa disudutkan dan diserang musuh dari segala arah dan dengan segala cara, maka teruslah berdo’a kepada Allah memohon pertolongan dan perlindungan kepada-Nya dari tipu muslihat musuh-musuh agama Allah, percayalah Allah tiada pernah mengecewakan hamba-Nya.

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى.

Bila Ketidak Tahuan Telah Dijadikan Sebagai Ilmu Yang Diajarkan dan Tidak Boleh Dibantah…

Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

” أخوف ما أخاف على أمتي الأئمة المضلون “

“Hal yang paling aku takutkan atas kalian adalah para pemimpin yang menyesatkan”  [ Riwayat Abu Nuáim dalam kitab Hilyatul Auliya’dan oleh Al Albani dinyatakan sebagai hadits hasan ]

Beliau juga bersabda:

إن أخوف ما أخاف عليكم رجل قرأ القرآن حتى إذا رئيت بهجته عليه وكان ردءا للإسلام انسلخ منه ونبذه وراء ظهره وسعى على جاره بالسيف ورماه بالشرك .

“Sesungguhnya hal paling aku takutkan atas kalian adalah lelaki y ang rajin membaca Al Qurán, hingga bila indahnya bacaan Al Qurán telah nampak pada dirinya, dan ia telah berjasa membela Islam, namun ia berbalik arah dan mencampakkan Islam di balik punggungnya, kemudian ia memerangi tetangganya sendiri (sesama muslim) dengan senjatanya (pedangnya) dan serampangan menuduh mereka telah menjadi musyrik.

Sahabat Huzaifah bertanya:

قلت : يا نبي الله أيهما أولى بالشرك الرامي أو المرمي ؟ قال : بل الرامي 

‘Wahai Nabi utusan Allah, siapakah dari keduanya yang paling layang menyandang status musyrik, yang menuduh atau yang dituduh ?’ Beliau menjawab: ‘tentu yang serampangan menuduh.’  [ Ibnu Hibban, Al Bazzar dan lainnya ]

Ternyata Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam menakut-nakuti sahabatnya dengan potensi kehadiran para penjahat dan pengkhianat.

Dan ternyata mengatakan: ‘saya tidak tahu’ adalah ilmu yang sangat berharga dan langka.

Selamat merenung, semoga mencerdaskan.

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى.

Jangan Biasakan Diri Untuk Mengeluhkan Ulah Jahat Teman Anda…

Saudaraku !

Seberapa sering anda berdo’a kepada Allah Ta’ala untuk dihapuskan rasa kedengkian kepada sesama muslim ?

Jangan biasakan diri untuk mengeluhkan ulah jahat teman anda, namun keluhkanlah betapa beratnya hati anda untuk memaafkan dan betapa beratnya lisan anda untuk melantunkan doak teruntuk saudaramu, apalagi yang pernah meyakiti anda.

Semoga mencerahkan.

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى.

Hujan Mulai Reda…

Sobat, menurut anda, mengapa hujan hari hari ini mulai berkurang, tidak securah beberapa waktu lalu ?

Bisa jadi anda berkata : ‘musimnya telah berakhir’, atau ‘seakan segera berakhir’, atau ‘karena sudah mulai masuk bulan ini dan itu.’

Sobat! coba anda diam sejenak merenung, siapa yang menciptakan bulan dan musim ?

Lalu mengapa kita begitu mudah mengingat penyebab sekunder dan begitu mudah melupakan penyebab primer yaitu Allah Taála Pencipta bulan dan musim ?

Bukankah anda percaya bahwa yang menciptakan hubungan antara bulan atau musim dengan curah atau minimnya hujan, adalah Allah ? Dan anda juga percaya bahwa Allah juga kuasa untuk memutus atau merubah hubungan tersebut, sehingga walaupun bulan atau musim telah berlalu hujan tetap curah ?

Yuk, belajar mengingat Allah dalam segala kondisi kita, agar kita menjadi orang yang benar benar beriman.

Namun demikian, tetap saja anda dianjurkan untuk waspada dan cerdas membaca berbagai kejadian dan indikator alam yang telah Allah ciptakan, sedia payung sebelum hujan, sedia mantel sebelum naik motor.

Jangan pernah berkata: ‘aaah, hujan dan kehujanan itu sudah taqdir, ya ndak usah dipikir atau berusaha dengan membawa mantel atau payung, cukup ngaji saja semua urusan beres.’

Semoga bermanfaat.

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى 

Mengenal Hizbi…

Mengenal Hizbi, agar tidak gagal paham.

Syeikh Rabi’ Al Madkhaly berkata: 
“Setiap orang yang menyelisihi metodologi Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan keteladanannya makania dianggap sebagai kelompok sesat.

Status hizbiyah itu bisa terjadi tanpa ada kriteria / persyaratan tertentu. Buktinya Allah menyebut ummat ummat terdahulu dengan sebutan ahzab (jama’ dari kata hizeb).

Sebagaimana Allah juga menyebut Quraisy sebagai ahzab, yaitu ketika mereka berkumpul dan kemudian ada kelompok/kabilah lain yang bergabung dengan mereka.

Mereka tidak memiliki organisasi atau unsur suatu organisasi lainnya.

Pendek kata, tidak dipersyaratkan berorganisasi untuk bisa dianggap sebagai hizbi . Namun bila hizeb itu terorganisir maka tentu itu semakin buruk.

FANATISME KEPADA SATU PEMIKIRAN/pendapat yang terbukti menyimpang dari Al Kitab dan sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.

Membangun loyalitas dan permusuhan di atas pemikiran tersebut, INILAH YANG DISEBUT TAHAZZUB / hizbiyah ( fanatisme ).

Hizbiyah seperti ini, walaupun tidak terorganisir , menetapi pemikiran yang menyimpang, memobilisasi masa untuk mengikuti pemikiran tersebut, maka inilah yang disebut hizby. Baik terorganisir atau tidak terorganisir.

Selama bersatu di atas pemikiran seseorang yang terbukti menyelisihi al Kitab dan As Sunnah.”

http://www.rabee.net/ar/questions.php?cat=31&id=662

Jadi hizbi itu tidak sekedar berkelompok atau berorganisasi, sendirianpun bisa jadi hizby, bila fanatisme itu dipelihara.

Semoga mencerahkan.

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى.

Solusi Harta Gono-Gini…

Baca pembahasan sebelumnya (Menyibak Kontroversi Harta Gono-Gini…) di SINI

=======
Kaburnya batasan harta suami istri dalam banyak kasus menjadi biang perseteruan dan persengketaan panjang antara anggota keluarga, terutama tatkala salah satu dari mereka meninggal dunia atau mereka bercerai.

Kasus perebutan hak waris, dan silang klaim antara anggota keluarga tidak dapat dielakkan. Kondisi ini tentu tidak baik bagi keharmonisan keluarga dan bahkan dapat menjadi jurang pemisah dan pemutus hubungan kekeluargaan.

Budaya penyelesaian masalah melalui metode gono-gini, yang kurang sesuai dengan aturan syari’at dan terbukti dalam banyak kasus, tidak dapat menyelesaikan masalah, bahkan menambah runyam permasalahan.

Kondisi ini menjadi semakin parah dikarenakan rendahnya kesadaran masyarakat tentang hukum syari’at, akibatnya suami dan istri tidak ada kesadaran untuk mengenali hartanya masing-masing, dan tidak pula ada kesadaran untuk membuat alat bukti yang dapat dijadikan petunjuk bagi ahli warinya mereka kelak.

Biasanya, kesadaran baru muncul setelah terjadi sengketa atau perceraian. Namun tentunya kesadaran yang telat datangnya ini tidak banyak berguna; mengingat dalam kondisi semacam ini kedua belah pihak kesulitan untuk menelusuri status kepemilikan seluruh harta kekayaan yang ada.

Untuk mengurai kebuntuan status seperti dalam kondisi ini, maka secara syari’at anda harus mengenali tingkat kontribusi keduanya dalam kepemilikan harta yang dianggap sebagai “harta gono-gini”.

1) Istri tidak memiliki kontribusi 
Pada kondisi semacam ini, istri sama sekali tidak berhak mengajukan tuntutan harta gono-gini. Dan bila masalah mencuat karena perceraian, maka istri hanya berhak mendapatkan mut’ah (pemberian sebagai bentuk penghargaan), sebagaimana disebutkan pada ayat berikut: 

(وَلِلْمُطَلَّقَاتِ مَتَاعٌ بِالْمَعْرُوفِ حَقًّا عَلَى الْمُتَّقِينَ)

“Kepada wanita-wanita yang diceraikan (hendaklah diberikan oleh suaminya) mut`ah yang sewajarnya, sebagai suatu kewajiban bagi orang-orang yang takwa.” [Al Baqorah 241]

Adapun bila masalah ini muncul karena kematian suami, maka istri hanya berhak mendapatkan bagian dari warisan, sebagaimana yang ditegaskan di atas. Demikian pula halnya bila yang meninggal dunia adalah istri, maka suami hanya berhak mendapatkan bagian dari warisannya.

2) Istri atau suami berkontribusi dalam kepemilikan harta.
Pada kondisi semacam ini, maka sebatas yang saya ketahui hanya ada satu solusi yang sejalan dengan syari’at, yaitu dengan menempuh jalur musyawarah untuk mencapai kata mufakat atau kompromi kekeluargaan (as shulhu).

Demikianlah solusi Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam dalam menyelesaikan kasus serupa, yaitu sengketa kepemilikan harta yang masing-masing pihak telah kehilangan alat bukti.

Ummu Salamah mengisahkan: “Suatu hari ada dua lelaki yang bersengketa perihal harta warisan datang menjumpai Rosulullah sholllalllahu ‘alaihi wa sallam . Keduanya sama-sama mengajukan klaim yang tidak didukung oleh alat bukti.

Sebelum Nabi sholllalllahu ‘alaihi wa sallam memutuskan, beliau terlebih dahulu memberikan petuah kepada mereka:

)إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ وَإِنَّكُمْ تَخْتَصِمُونَ إِلَىَّ وَلَعَلَّ بَعْضَكُمْ أَنْ يَكُونَ أَلْحَنَ بِحُجَّتِهِ مِنْ بَعْضٍ فَأَقْضِىَ لَهُ عَلَى نَحْوِ مَا أَسْمَعُ مِنْهُ فَمَنْ قَضَيْتُ لَهُ مِنْ حَقِّ أَخِيهِ بِشَىْءٍ فَلاَ يَأْخُذْ مِنْهُ شَيْئًا فَإِنَّمَا أَقْطَعُ لَهُ قِطْعَةً مِنَ النَّارِ(

Sejatinya aku adalah manusia biasa, sedangkan kalian berdua mengangkat persengketaan kalian kepadaku. Bisa jadi sebagian dari kalian lebih mahir dibanding lawannya dalam mengutarakan alasan. Dan berdasarkan keterangannya, aku membuat keputusan yang memenangkan klaimnya. Maka barang siapa yang aku menangkan klaimnya, sehingga aku memberinya sebagian dari hak saudaranya, maka hendaknya ia tidak mengambilnya walau hanya sedikit. Karena sejatinya dengan itu aku telah memotongkan sebongkah api neraka untuknya.’

Mendengar petuah ini, kedua sahabat tersebut menangis, dan masing-masing berkata: ‘Bila demikian, maka lebih baik aku merelakan hakku untuknya.’

Mengetahui bahwa di hati kedua orang yang pada awalnya bersengketa ini telah tumbuh kesadaran hukum, maka Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: 

أَمَّا إِذْ فَعَلْتُمَا مَا فَعَلْتُمَا فَاقْتَسِمَا وَتَوَخَّيَا الْحَقَّ. ثُمَّ اسْتَهِمَا ثُمَّ تَحَالاَّ.

‘Bila kalian berdua telah mengikrarkan yang demikian ini, maka silahkan kalian berdua membagi harta yang kalian perselisihkan, dan upayakan dengan maksimal agar pembagiannya benar. Selajutnya masing-masing dari kalian memaafkan saudaranya.’” [Abu Dawud].

Inilah solusi jitu yang dapat ditempuh guna menyelesaikan kebuntuan dalam masalah seperti ini.

Semoga penjelasan ini dapat dipahami dengan baik, dan semoga menambah hazanah keilmuan anda. Wallahu Ta’ala a’alam bisshowab.

Semoga bermanfaat.

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى.