Category Archives: BBG Kajian

MUTIARA SALAF : Mereka Yang Allah Akan Bukakan Hatinya

Imam Malik bin Anas rohimahullah berkata,

“Seseorang tidak akan baik hingga meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat dan menyibukkan diri dengan perkara yang bermanfaat.

Jika ia lakukan itu maka Allah akan membuka hatinya..”

[Tartiib al Madaarik – al Qadhi ‘Iyaad]

Diterjemahkan oleh
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

Siapakah Yang Bangkrut Di Hari Kiamat..?

‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz rohimahullah berkata,

“Kami mendapati salaf, mereka tidak memandang ibadah itu (hanya) pada puasa dan sholat. Akan tetapi pada menahan (lisan) dari kehormatan manusia.

Orang yang sholat malam dan puasa jika tidak menahan lisannya akan bangkrut di hari kiamat.”

[At Tamhiid – Ibnu ‘Abdil Barr]

Diterjemahkan oleh
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Ingin Panjang Umur..?

Ingin panjang umur ? jauhi sifat hasad !

‘Abdul Malik bin Kuraib Al-Ashma’iy rohimahullah berkata :

رأيتُ أعرابيا قد بلغ عُمره مئةً وعشرين سنة، فقلتُ له: ما أطولَ عُمرك؟ فقال: تركتُ الحسدَ فبقيتُ.

“Aku berjumpa dengan seorang badui yang telah berusia 120 tahun, maka aku bertanya kepadanya, “Apa resep panjangnya usiamu?” Dia menjawab : “Aku tinggalkan sifat hasad, maka akupun masih hidup.”

[Al-Mustathraf, hlm. 279]

Diterjemahkan oleh
Ustadz DR. Sufyan Baswedan MA, حفظه الله تعالى

https://www.facebook.com/Dr.SufyanBaswedan.MA/

Bajumu…

Bajumu baru hari ini, usang esok hari, beli lagi baju baru, besok usang lagi, demikian seterusnya.

Sepandai pandai anda merawat baju baru anda tetap saja esok manjadi usang.

Namun tahukah anda bahwa Allah kuasa untuk selalu memberimu baju baru ?!

Rosulullah shollallahu ‘alahi wa sallam bersabda:

إِنَّ الْإِيمَانَ لَيَخْلَقُ فِي جَوْفِ أَحَدِكُمْ كَمَا يَخْلَقُ الثَّوْبُ فَاسْأَلُوا اللَّهَ تَعَالَى أَنْ يُجَدِّدَ الْإِيمَانَ فِي قُلُوبِكُمْ

“Sesungguhnya iman di dalam dadamu dapat menjadi usang bagaikan bajumu menjadi usang, karena itu mohonlah kepada Allah Ta’ala untuk senantiasa memperbaharui iman di dalam dadamu.” (At Thabrani)

Atau kalaupun anda tidak dikaruniai baju baru, maka minimal Allah Ta’ala kuasa menjadikanmu merasa cukup dengan baju anda yang telah usang sehingga tidak butuh kepada baju baru.

Apalagi faktanya di dunia ini masih sangat banyak saudara kita yang tidak kuasa beli baju baru, dan bisa jadi anda salah satunya.

Kalaupun tidak memiliki baju baru tetap saja anda harus fokus untuk menutup aurat dan melindungi tubuh anda dari panas dan dingin dengan baju anda yang tidak lagi baru lagi tersebut.

Jangan sampai karena sudah jengah dengan baju usang akhirnya anda telanjang dada apalagi sampai nekad tidak berbaju.

Semoga mencerahkan.

Ditulis oleh
Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى

Janganlah Berprasangka Buruk Terhadap Saudaramu, Karena…

Janganlah berprasangka buruk terhadap saudaramu, karena…

1) Allah melarangmu dari hal itu

2) Kebanyakan prasangka buruk merupakan bisikan yang didikte oleh iblis ke dalam hatimu

3) Jika toh ternyata prasangkamu ternyata benar, maka engkau tetap tdk mendapatkan pahala, bahkan bisa jadi engkau tetap berdosa karena Allah melarang berprasangka buruk terhadap saudara sesama muslim

4) Apalagi jika ternyata prasangka burukmu salah, dan inilah yang sering terjadi. Karenanya Nabi berkata ((Sesungguhnya persangkaan adalah pembicaraan yang paling dusta))

5) Buah dari prasangka buruk adalah engkau akan bermuamalah buruk terhadap Saudaramu, karena bawaanmu selalu curiga kepadanya

6) jika engkau berprasangka baik kepada Saudaramu dan ternyata persangkaanmu keliru, toh engkau akan mendapatkan pahala, karena engkau telah menjalankan perintah Allah. Seorang salaf berkata “Orang mukmin berusaha mencari alasan-alasan yang baik atas kesalahan saudaranya, adapun orang munafik maka mencari-cari kesalahan saudaranya”

7) Berprasangkalah baik kepada saudaramu maka engkau akan mendapati ketenangan dalam hatimu dan kebahagiaan.

Ditulis oleh
Ustadz DR. Firanda Andirja MA, حفظه الله تعالى

da1709142329

Ilmu Itu Ada 3 Level

Ilmu itu ada 3 level..

● Siapa pun yang baru memasuki level pertama, ia akan merasa KIBR (lebih alim dari yang lain).

● Jika ia berhasil naik ke level ke-2, rasa tawadhu’ mulai muncul pada dirinya.

● Dan barang siapa yang berhasil mencapai level ke-3, ia akan sadar, bahwa ia tidaklah mengetahui apapun dari ilmu melainkan sedikit sekali.

Mayoritas orang menghabiskan waktunya, terlena dan tertipu dengan level 1. Sehingga sibuk hujat sana hujat sini, vonis sana vonis sini, debat sana debat sini, merasa diri sudah bergelimang ilmu. Na’udzu billaah min dzaalik.

Hanya orang yang diberi taufik oleh Allah yang mampu mencapai level 2, hingga ia semakin tawadhu’, menempatkan segala sesuatu pada tempatnya, mengetahui mana perbedaan pendapat yang dapat ditolerir mana yang tidak, menyadari kadar kehormatan para ulama dan sesepuh-sesepuhnya dalam menuntut ilmu.

Lalu level ke-3 hanyalah dihuni oleh para ulama yang kokoh keilmuannya, tajam bashirohnya, merekalah ulama-ulama robbani yang siap -dengan izin Allah- menuntun thullabul ‘ilm (para penuntut ilmu) untuk mencapai level yang sama. Merekalah pelita di tengah kelamnya kejahilan akan agama, lentera pada kegelapan pikiran dan nalar, cahaya dalam suramnya taklid buta dan fanatisme.

Az-Zuhri (124 H) -rohimahullah- imam besar hadits yang pertama membukukan secara khusus hadits-hadits Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam atas perintah dari Khalifah Umar bin Abdil Aziz- mengisahkan tentang diri Beliau :
“Aku terus menuntut ilmu, hingga aku merasa cukup akan apa yang telah kuraih, hingga aku bertemu dengan Ubaidullah bin Utbah. Akhirnya aku sadar, bahwa aku belum meraih (ilmu) apapun.”

Ubaidullah bin Utbah -rohimahullah- adalah seorang tabiin (89 H), yang digolongkan sebagai salah satu fuqoha’us sab’ah (7 Ahli Fikih) di Kota Madinah. Semoga Allah merahmati mereka.

Mari berkaca kepada para salaf, perhatikan langkah demi langkah mereka menapaki jalan ilmu ini, koreksi niat, karena ilmu yang membuahkan ujub taklah berguna, malah dapat menjelma sebagai pembinasa.

Wallaahul Musta’aan.

Disadur dari cuitan Dr. Abdul Aziz Asy-Syayi’, حفظه الله تعالى oleh
Ustadz Abdullah Sya’roni Lc, حفظه الله تعالى

Diposting oleh
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Berdakwah Dengan Harta…

Setelah Rosulullah dan kaum muslimin menang di perang Hunain, Nabi memberi Shofwan bin Umayyah seratus binatang ternak, kemudian seratus lagi, kemudian seratus lagi.

Shofwan bin Umayyah berkata:

‎والله لقد أعطاني رسول الله ﷺ ما أعطاني وإنه لأبغض الناس إِلَيَّ.
‎‏فما بَرِحَ يعطيني حتى إنه لأحب الناس إِلَيَّ

“Demi Allah, Rosulullah telah memberiku banyak. Sungguh tadinya beliau adalah orang yang paling aku benci. Namun ia terus memberiku hingga ia menjadi manusia yang paling aku cintai.”

[HR Muslim]

Diterjemahkan oleh
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Langit Dan Bumi Menangisi Kematian Mukmin…

Sa’id bin Jubair berkata, “Ada seorang lelaki datang kepada ibnu Abbas dan bertanya: “Wahai ibnu Abbas apa pendapatmu tentang ayat ini,

فَمَا بَكَتْ عَلَيْهِمُ السَّمَاءُ وَالْأَرْضُ وَمَا كَانُوا مُنظَرِينَ

“Maka langit dan bumi tidak menangisi mereka (Fir’aun dan kaumnya) dan merekapun tidak diberi tangguh.” (Addukhan: 29)

Apakah langit dan bumi dapat menangisi seseorang ?” 

Ibnu ‘Abbas berkata, “Iya. Tidak ada seorang makhlukpun kecuali di langit ada pintu untuknya yang rezekinya turun dari pintu tsb dan amalnya naik dari pintu tsb. 
Apabila mukmin meninggal akan tertutuplah pintu tsb sehingga langitpun menangis.
Dan bumi pun kehilangan tempat yang si hamba itu biasa sholat dan berdzikir padanya sehingga bumi menangis. 

Adapun Fir’aun dan kaumnya tidak meninggalkan bekas yang baik dan tidak pula memiliki kebaikan yang naik kepada Allah sehingga langit dan bumi tidak menangisi mereka.”

[Tafsir Ath Thabari]

Diterjemahkan oleh
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى