Category Archives: BBG Kajian

KITAB FIQIH – Larangan Menghias Masjid (lanjutan)…

Dari pembahasan Kitab Fiqih Mausu’ah Muyassaroh, yang ditulis oleh Syaikh Hussain Al Uwaisyah, حفظه الله تعالى
.
PEMBAHASAN SEBELUMNYA – Sholat Di TIGA Masjid dan Larangan Menghias Masjid…  – bisa di baca di SINI

=======

Alhamdulillah.. wash-sholaatu was-salaamu ‘alaa Rosuulillah…

Kita lanjutkan fiqihnya… kemarin kita sudah menyebutkan tentang…

⚉  LARANGAN MENGHIAS MASJID

➡️ Kemudian beliau (penulis kitab) membawakan hadits dari Abu Darda’, Rosulullah shollallahu ‘alaihi wassalam bersabda : “Apabila kalian menghias masjid-masjid kalian, demikian pula mushaf-mushaf kalian, maka kebinasaan atas kalian.” [dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah]

➡️ Dan dari Nafi’ bahwasanya ‘Abdullah bin Mas’ud mengabarkannya : “Bahwasanya masjid di zaman Nabi shollallahu ‘alaihi wassalam itu dibangun dengan Labin (tanah liat) dan atapnya terbuat dari Al Jarid (pelepah kurma) dan tiangnya itu adalah batang pohon kurma. Dan dimasa Abu Bakar beliau tidak mau menambahnya.” [dikeluarkan oleh Bukhari]

Dan kemudian di zaman ‘Umar diadakan perluasan, di zaman ‘Ustman.. kemudian ‘Ustman mengganti tiangnya dengan batu.

Kemudian di zaman setelah-setelahnya semakin di perlebar.

➡️ Dan dalam Shahih Bukhari secara mu’allaq, bahwa ‘Umar memerintahkan membangun masjid lalu ‘Umar berkata : “Lindungi manusia dari hujan dan jauhi masjid untuk diberi warna merah atau kuning, karena itu bisa memfitnah manusia dalam sholat mereka.” Anas berkata, “maksudnya berbangga-bangga dengan masjid, kemudian mereka tidak mau memakmurkannya kecuali sedikit.” Seperti yang kita lihat di zaman sekarang.. bermewah-mewah dengan bangunan masjid namun yang memakmurkannya sedikit).

⚉  ANJURAN UNTUK MEMBERSIHKAN DAN MENSUCIKAN MASJID DAN MENJAUHKANNYA DARI KOTORAN DAN NAJIS SERTA BAU-BAU YANG TIDAK ENAK, DAN ANJURAN UNTUK MEMBERI WEWANGIAN DI DALAMNYA. 

➡️ Dari Abu Hurairah ia berkata bahwa,  “Ada seorang wanita hitam legam suka menyapu masjid, suatu ketika Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam kehilangan (wanita tersebut) beberapa hari, lalu Nabi, dikatakan pada beliau, bahwa wanita itu sudah meninggal dunia, maka Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam berkata : “kenapa kalian tidak memberitahu aku ?” lalu beliau mendatangi kuburannya dan mensholatkannya dengan sholat jenazah, di kuburannya itu.” [Dikeluarkan oleh Bukhari dan Muslim]

➡️ Dan dari Samuro bin Junduq ia berkata : “Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kami untuk membangun masjid di perkampungan-perkampungan kami dan di rumah kami dan memerintahkan kami untuk membersihkannya.” 

Ini menunjukkan bahwa hendaknya disetiap perkampungan itu ada masjid dan kalau ada di rumah kita di sebuah tempat khusus untuk sholat. Itu perkara yang dilakukan oleh para sahabat di zaman Rosul shollallahu ‘alaihi wasallam . [dikeluarkan oleh Imam Ahmad dan yang lainnya.]

➡️ Dan dari ‘Aisyah dia berkata, “Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kami untuk membangun masjid ‘fiid-duur’ (di rumah-rumah) dan agar dibersihkan dan diberikan wewangian.” (Makna “ad duur” disini mempunyai makna bisa jadi yaitu maksudnya perkampungan atau yaitu rumah) [Dikeluarkan Oleh Imam Ahmad]

➡️ Dari Anas Ibnu Malik ia berkata : Ketika kami berada dalam masjid bersama Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam tiba-tiba datang orang Arab Badui lalu ia pun kencing di masjid, maka para sahabat ingin mengingkarinya, maka Rosulullah bersabda : “Biarkan.. biarkan.. jangan di putuskan”, maka mereka membiarkannya hingga selesailah kencingnya, kemudian Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam meminta satu ember air untuk kemudian di guyurkan diatas air kencingnya, lalu Nabi bersabda, “Masjid tidak dibenarkan untuk kencing tidak pula najis, akan tetapi dia adalah untuk berdzikir kepada Allah, sholat dan membaca Al Qur’an.” [Hadits ini dikeluarkan oleh Imam Bukhari dan Muslim]
.
.
Wallahu a’lam 🌻
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى 
.
.
Dari Kitab Fiqih Mausu’ah Muyassaroh, yang ditulis oleh Syaikh Hussain Al Uwaisyah, حفظه الله تعالى
.
.
ARTIKEL TERKAIT
Pembahasan Fiqih Mausu’ah Muyassaroh…
.
.
WAG Al Fawaid Al Ilmiyyah

Dicari, Bambu PETHUK Asli…

Bambu pethuk diyakini bisa mendatangkan kelapangan rezeki bagi pemiliknya, sehingga banyak orang yang memburunya, bahkan harganya bisa mencapai milyaran.

Ingatlah keyakinan seperti ini terhadap bambu pethuk, bisa membahayakan akidah anda !

Ketahuilah bahwa keyakinan seperti ini terhadap bambu pethuk sangat bertentangan dengan ajaran Islam, karena Islam menjunjung tinggi sisi keilmiyahan .. keyakinan di dalam Islam harus berdasarkan dalil yang shahih atau bukti yang valid !

Dan bambu pethuk tidak terbukti secara dalil syar’i bisa melapangkan rezeki pemiliknya .. apalagi secara bukti penelitian, tidak ada hubungannya antara bambu pethuk dengan lapangnya harta seseorang sama sekali.

Sesuatu yang antik tidak harus ada keistimewaan khususnya .. tidak juga harus berpengaruh pada harta seseorang .. kalau ada yang bisa mendapatkan batu dari planet Pluto, tentu akan menjadi antik dan istimewa .. tapi untuk meyakini adanya keistimewaan tertentu padanya, harus ada dalil yang kuat atau bukti yang valid.

Inilah agama Islam yang menjunjung tinggi keilmiahan.

Ada 2 kemungkinan pada keyakinan terhadap bambu pethuk ini:

🅰️ Meyakini bahwa bambu pethuk hanya sebagai wasilah atau sebab lapangnya harta seseorang, adapun pelapang harta sesungguhnya tetap Allah .. maka ini adalah syirik kecil.

Pertama, karena ini pada hakekatnya adalah meyakini sesuatu sebagai penyebab, padahal tidak demikian.

Kedua, karena tindakan ini adalah jembatan menuju syirik besar, yakni meyakini bahwa bambu itulah yang menjadikan hartanya lapang.

🅱️ Meyakini bahwa bambu pethuk itulah yang melapangkan harta seseorang .. maka ini merupakan syirik akbar .. karena meyakini ada sesuatu selain Allah yang bisa melapangkan harta seseorang .. padahal yang berkuasa seperti itu hanyalah Allah ta’ala pemilik segala sesuatu. Wallahu a’lam.

Demikian, semoga Allah melindungi kita semua dari dua jenis kesyirikan ini, apapun bentuknya. amin.

Silahkan dishare, jika berkenan .. semoga bermanfaat dan Allah berkahi.

Ditulis oleh :
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى.

Tawadhu Yang Luar Biasa

Dengan tingkatan keilmuan yang sangat tinggi dalam banyak bidang ilmu, Syeikh Utsaimin -rohimahullah- tetap berpesan kepada para pendengarnya:

“Apabila kalian mendengar dariku, sesuatu yang kalian ingkari, maka hendaklah kalian menanyakannya kepadaku !

Bisa jadi aku salah, sehingga Allah memberikan hidayah-Nya kepadaku melalui kalian.”  [Liqa’ Babil Maftuh 68].

Dengan sikap tawadhu’ seperti inilah Allah meninggikan kedudukan beliau di tengah-tengah manusia, sebagaimana disebutkan dalam hadits:

وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللهُ

“Tidaklah seseorang bersikap tawadhu’ karena Allah, melainkan Allah akan mengangkatnya” [HR. Muslim 2588].

Silahkan dishare, semoga bermanfaat.

Ditulis oleh :
Ustadz Dr. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى.

Satu Lagi Dzikir Ketika Memasuki Waktu Pagi dan Petang…

Pertanyaan:

Assalamu’alaykum warohmatullahi wabarokatuh, baarakallahu fiikum Ustadz. Maaf mengganggu waktu antum Ustadz, ingin tanya apakah hadits berikut shohiih Ustadz ? Syukron.

Diriwayatkan dari Abu Darda’ rodhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa mengucapkan setiap hari, ketika memasuki waktu pagi dan ketika memasuki waktu sore, ‘HASBIYALLAH, LAA ILAAHA ILLAA HUWA ‘ALAYHI TAWAKKALTU WA HUWA ROBBUL ‘ARSYIL ‘AZHIIM’, sebanyak 7 kali maka Allah mencukupinya dari apa yang membebaninya (menyusahkannya) dari perkara dunia dan akhirat.”

Jawaban:

Hadits tersebut Diriwayatkan oleh Abu Dawud secara mauquf dengan sanad hasan.
Dan diriwayatkan oleh ibnu Sunni secara marfu’ namun sanadnya dlaif.
Yang kuat hadits ini mauquf dari perkataan Abu Darda. Namun ini dihukumi marfu’ karena tidak mungkin berasal dari ijtihad Abu Darda’.

Wallahu a’lam.

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

➡️➡️ KESIMPULANNYA : Di bolehkan membaca dzikir tersebut di waktu pagi dan petang (sesuai waktu-waktu membaca dzikir pagi dan petang)

da2104161839

Tentang Menutupi Dinding Dengan Kain…

Pertanyaan:

Assalamualaikum ustad. Ana mau nanya tentang hukum menutupi dinding dengan kain yang bergambar ka’bah atau sejenisnya tapi tidak ada makhluk bernyawanya?

Jawab:
Disebutkan dalam hadits yang riwayatkan oleh Muslim bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:

إن الله لم يأمرنا أن نكسو الحجارة والطين

‘Sesungguhnya Allah tidak memerintahkan kita untuk memberi pakaian kepada batu dan tanah.’

Imam An Nawawi rohimahullah berkata dalam syarah shahih Muslim 14/86:

فاستدلوا به على أنه يمنع من ستر الحيطان وتنجيد البيوت بالثياب وهومنع كراهة تنزيه لاتحريم هذا هو الصحيح وقال الشيخ أبو الفتح نصر المقدسى من أصحابنا هو حرام وليس في هذا الحديث ما يقتضي تحريمه لأن حقيقة اللفظ أن الله تعالى لم يأمرنا بذلك وهذا يقتضي أنه ليس بواجب ولا مندوب، ولا يقتضي التحريم”.

“Para ulama berdalil dengannya larangan menutupi dinding rumah dengan kain. Namun larangan ini adalah makruh bukan haram dan itulah yang shahih.

Sementara Syaikh Abul Fath Nashr Al Maqdisi dari ashab kami berkata: Hukumnya haram. Padahal lafadz hadits tersebut tidak menunjukkan haram, ia hanya mnunjukkan bahwa Allah tidak memerintahkan kita demikian, artinya bukan wajib dan bukan sunnah dan bukan haram.”

Dari perkataan beliau tersebut terlihat bahwa para ulama ada dua pendapat dalam masalah, sebagian mengharamkannya yaitu Abul Fath Nashr Al Maqdisi. Dan sebagian memakruhkannya yaitu imam Nawawi.

Maka selayaknya untuk kita tinggalkan.

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

da2304161311

Tunggu Apa Lagi..?!

1. Diriwayatkan oleh Ahmad, dan derajat haditsnya HASAN.

2. Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani, dan derajat haditsnya HASAN LIGHAIRIHI, sebagaimana dijelaskan berikut ini.

Dalam sanad hadits yang diriwayatkan oleh Ath-Thabrani terdapat Risydin bin Sa’ad dan Zabban bin Faid keduanya lemah, tapi Risydin dimutabaah oleh Ibnu Lahi’ah sehingga illatnya tinggal Zabban, ia lemah yang ringan.

Adapun perkataan Ibnu Hibban bahwa riwayatnya dari Sahl bin Mu’adz seakan naskah yang palsu adalah sikap berlebihan Ibnu Hibban, dan riwayat ini dikuatkan oleh mursal Said bin Musayyib dengan sanad yang shahih yang diriwayatkan oleh Addarimi, dan sanad yang lemah ringan bila dikuatkan oleh mursal shahih terangkat menjadi HASAN LIGHAIRIHI.

( Faedah dari tulisan dan diskusi dengan Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc,  حفظه الله تعالى )
.
.

PERTANYAAN
.
1. Apakah surat Al Ikhlas yang dibaca di dalam :
– sholat wajib dan sholat-sholat sunnah
– dalam dzikir pagi (3 x) dan sore (3 x), dzikir setelah sholat (1 x) atau DZIKIR sebelum tidur (3 x)…
.
apakah sudah termasuk dalam bilangan 10 x yang dimaksudkan dalam hadits ? Ataukah ini amalan tersendiri dan terpisah..?
.
2. Jika dibaca terpisah dari DZIKIR-dzikir, Apakah dibacanya berurutan langsung 10 kali..?
.
Syukron Ustadz

.
JAWABAN
.
Yang dzohir dia tersendiri dan dibaca berurutan.
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc,  حفظه الله تعالى
.
.
.
da050917-1737

HAKIKAT BID’AH dan Hukum-Hukumnya – Kaidah-Kaidah Bid’ah # 5b…

Dari kitab yang berjudul Haqiiqotul Bid’ah wa Ahkaamuhaa, tentang Hakikat Bid’ah dan Hukum-Hukumnya, ditulis oleh Syaikh Sa’id bin Nashir Al Ghomidi, حفظه الله تعالى.
.
PEMBAHASAN SEBELUMNYA (Kaidah-Kaidah Bid’ah # 5a…) bisa di baca di SINI

=======

🌿 Kaidah-Kaidah Bid’ah # 5b 🌿

Alhamdulillah.. wash-sholaatu was-salaamu ‘alaa Rosuulillah..

Kita lanjutkan kitab.. “Haqiiqotul Bid’ah wa Ahkaamuhaa”.. kita masih membahas poin yang ke 5 dari perkara yang berhubungan dengan bid’ah, dimana poin ke 5 adalah bid’ah adalah sesuatu yang tidak ada asalnya dalam agama.

Kemaren sudah kita jelaskan bahwa yang dimaksud dengan asal disini, yaitu dalil, (yaitu Al Qur’an, Hadits yang shohih dan ijma’).

Kemudian disini Beliau menyebutkan, yaitu

‎قول الصحابي

‘Termasuk asal itu dalil, pendapat para sahabat dan perbuatan mereka.’

Karena para sahabat adalah orang-orang yang langsung diberikan rekomendasi oleh Allah dan Rosul-Nya.
Dimana Allah memuji mereka dalam Al Qur’an seperti dalam Surat At Taubah ayat 100.

Dan Nabi ‎shollallahu ‘alayhi wasallam pun juga menyatakan bahwa mereka sebaik-baiknya generasi.

Kemudian ada beberapa permasalahan yang berhubungan dengan pendapat sahabat ini.

1⃣  Perkataan seorang sahabat yang mengatakan begini, ‘termasuk sunnah adalah ini dan itu.’

Itu adalah hukumnya sampai kepada Nabi ‎shollallahu ‘alayhi wasallam. Karena para sahabat semuanya adil, dan paling paham tentang bahasa Arab.

Maka kalau seorang sahabat berkata termasuk sunnah adalah begini, itu maksudnya sunnah Rosul ‎shollallahu ‘alayhi wasallam.

2⃣  Perkataan seorang sahabat, ‘kami diperintahkan untuk ini, atau kami dilarang’, itu maksudnya adalah Nabi ‎shollallahu ‘alayhi wasallam yang memerintahkan dan melarang.
Maka tidak mungkin sahabat yang lain yang memerintahkan atau melarang, akan tetapi yang dimaksud adalah Nabi ‎shollallahu ‘alayhi wasallam

3⃣  Perkataan seorang sahabat yang mengatakan, ‘kami dahulu melakukan begini di zaman Nabi atau kami dahulu mengatakan begini.’

Ini ada 2 keadaan :

⚉  apabila itu disebutkan di zaman Nabi ‎shollallahu ‘alayhi wasallam, maka hukumnya marfu’ kepada Rosulullah ‎shollallahu ‘alayhi wasallam

⚉  Adapun kalau tidak disebutkan di zaman Nabi, maka yang terjadi  (adalah) ikhtilaf para Ulama, akan tetapi Al Hafiz Ibnu Hajar Asqolani mengatakan bahwa itu dihukumi marfu’, sebagaimana itu pendapat Al Hakim, Arroziy, Al Amidiy.

4⃣  Seorang sahabat menghukumi bahwa, ‘suatu perbuatan itu keta’atan kepada Allah dan kepada Rosul-Nya, atau menghukumi itu sesuatu maksiat,’ maka yang seperti inipun dihukumi marfu’,
karena untuk menghukumi ta’at dan maksiat itu adalah hak Allah dan Rosul-Nya saja tidak untuk yang lainnya.

Contoh, misalnya perkataan Ammar yang dikeluarkan oleh Bukhori, ‘siapa yang berpuasa dihari yang meragukan sungguh ia telah memaksiati Abdul Qasim’ (yaitu Rosulullah ‎shollallahu ‘alayhi wasallam)

5️⃣  Apabila pendapat sahabat bertabrakan dengan qiyas,
artinya apabila seorang sahabat berpendapat dan ternyata pendapatnya tidak sesuai dengan qiyas, maka kata para Ulama ini hukumnya pun juga marfu’ atas pendapat yang rojih, karena tidak mungkin seorang sahabat menyalahi qiyas kecuali karena adanya dalil dari Nabi ‎shollallahu ‘alayhi wasallam
Dan ini merupakan pendapat hanafiyah dan jumhur hanabilah dan juga pendapat Imam Syafi’i, baik pendapat yang dulu maupun yang baru.

Contoh, misalnya perkataan Ibnu ‘Abbas tentang orang yang bernazar untuk menyembelih anaknya, kata beliau

‎فيمن نذر ذبح ولده يذبح شاة

‘Maka dia harus mengganti dengan menyembelih kambing.’

Ini adalah merupakan perkataan sahabat kalau ternyata bertabrakan dengan qiyas.
.
.
Wallahu a’lam 🌴
.
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
.

Dari kitab yang berjudul Haqiiqotul Bid’ah wa Ahkaamuhaa, tentang Hakikat Bid’ah dan Hukum-Hukumnya, ditulis oleh Syaikh Sa’id bin Nashir Al Ghomidi, حفظه الله تعالى.
.
Silahkan bergabung di Telegram Channel dan Facebook Page :
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://www.facebook.com/aqidah.dan.manhaj/

Artikel TERKAIT :
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Haqiiqotul Bid’ah wa AhkaamuhaaHakikat Bid’ah dan Hukum-Hukumnya
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Showarif ‘Anil HaqHal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari KEBENARAN
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Al IshbaahManhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN

AL FAWAID AL ILMIYYAH GROUP

Hitungan Kalkulasi Untuk Menyadarkan Diri…

Memang benar bahwa umur manusia di tangan Allah… Tapi kita misalkan saja, umur kita 60 tahun.

Jika kita tidur 8 jam setiap hari, maka dalam 60 tahun; kita telah tidur 20 tahun.

Jika kita kerja 8 jam tiap hari, maka dalam 60 tahun; kita telah kerja 20 tahun.

Masa kecil kita 15 tahun.

Jika makan kita selama setengah jam dan sebanyak 2 kali setiap harinya, maka 3 tahun umur ini kita habiskan hanya untuk makan.

Total jumlah waktu untuk tidur + kerja + masa kecil + makan =58 tahun !!

Hanya sisa 2 tahun !! dan dari dua tahun ini, berapa jamkah yang kita gunakan untuk BERIBADAH kepadaNYA ??

Apa yang akan kita katakan kepada Allah ta’ala di hari perhitungan “Kau habiskan untuk apa umurmu ?”

Sungguh sangat berharga perkataan Mu’adz bin Jabal -rodhiallohu ‘anhu-: “Sungguh aku mengharapkan pahala dari TDURKU, sebagaimana aku mengharap pahala dari SHOLAT MALAMKU”.

Bayangkan bila kita bisa menjadikan kegiatan tidur, kerja, dan makan kita sebagai amalan yang berpahala dengan meniatkannya untuk ibadah, betapa banyaknya waktu yang bisa kita ubah untuk BERIBADAH kepadaNya.

Sebarkanlah pesan ini… dan ingat sabda Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam-: “Orang yang menunjukkan kepada kebaikan itu seperti orang yang melakukannya.”

Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA ,  حفظه الله تعالى

da1310152048