Category Archives: BBG Kajian

Makruhnya Tidur Setelah Shubuh…

قال رسول الله:
“اللهم بارك لأمتي في بكورها

Rasulullah bersabda, “Ya Allah berkahilah untuk umatku di waktu paginya.”

أخرج ابن أبي شيبة في مصنفه (5/222 رقم 25442 ) بإسناد صحيح
راجع(صحيح الترمذي للألباني – الصفحة أو الرقم: 1212)

Dikeluarkan oleh ibnu Abi Syaibah dalam mushonnafnya dengan sanad yang shahih.

1.

كان الزبير ينهى بنيه عن التصبح ( وهو النّوم في الصّباح )

 Zubair melarang anaknya untuk tidur di waktu pagi.

2.

قال عروة : “إني لأسمع أن الرجل يتصبح فأزهد فيه” .

Urwah berkata, “Aku mendengar orang yang tidur di waktu pagi, maka aku zuhud darinya (tidak butuh padanya).”

3.

قَالَ عَلِيٌّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
“مِنْ الْجَهْلِ النَّوْمُ فِي أَوَّلِ النَّهَارِ”

Ali berkata, “Termasuk kebodohan adalah tidur di awal siang.”

4.

وَقَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ :
“.. فَأَمَّا النَّوْمُ الْخُرْقُ فَنَومَةُ الضُّحَى يَقْضِي النَّاسُ حَوَائِجَهُمْ وهو نائم..”

Abdullah bin Amru bin Al Ash berkata, “Adapun tidur yang tak baik adalah tidur dhuha saat orang orang mencari rezeki, ia malah tidur.”

5.

ابْنَ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا رَأَى ابْنًا لَهُ نَائِمًا نَوْمَةَ الصُّبْحَةِ فَقَالَ لَهُ : “قُمْ أَتَنَامُ فِي السَّاعَةِ الَّتِي تُقَسَّمُ فِيهَا الْأَرْزَاقُ” .

Ibnu Abbas melihat anaknya tidur di pagi hari, beliau berkata: “Bangunlah ! Apakah kamu hendak tidur di saat rezeki dibagi bagi ?”

6.

قال عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ :
” إيَّاكَ وَنَوْمَةَ الْغَدَاةِ فَإِنَّهَا مَبْخَرَةٌ مَجْفَرَةٌ مَجْعَرَةٌ”.

Umar berkata, “Jauhi tidur pagi karena ia mabkhoroh (menambah gas dalam tubuh), majfaroh (membuat impoten), dan maj’aroh (mengeringkan tabiat)”

7. 

قال العجلي رحمه الله :
“.ِ. وَنَوْمُ الْعُقُوبَةِ ..النَّوْمُ بَعْدَ الْفَجْرِ ..”

Al Ijliy berkata, “Tidur akibat sanksi adalah tidur setelah shubuh.”

8. 

 قال ابن القيم رحمه الله في زاد المعاد ( 4 / 242 ) :
” ونوم الصّبحة يمنع الرزق لأن ذلك وقت تطلب فيه الخليقة أرزاقها ، وهو وقت قسمة الأرزاق فنومه حرمان إلا لعارض أو ضرورة

Ibnu Qayyim berkata, “Tidur shubuh menghalangi rezeki karena ia adalah waktu manusia mencari rezeki. Dan ia adalah waktu rezeki dibagi bagi. Maka tidur saat itu menghalanginya kecuali jika darurat.

وهو مضر جدا بالبدن لإرخائه البدن وإفساده للفضلات التي ينبغي تحليلها بالرياضة ، فيُحدث تكسرا وعيّاً وضعفا ، وإن كان قبل التبرز والحركة والرياضة و إشغال المعدة بشيء ، فذلك الداء العضال المولد لأنواع من الأدواء ” ا هـ .

“Tidur shubuh sangat membahayakan badan karena dapat merusak sisa yang seharusnya dilumat dengan olah raga. Sehingga menimbulkan kelemahan. Jika tidur itu sebelum buang air, berolah raga, dan menyibukkan lambung dengan sesuatu maka itu akan menjadi penyakit berat yang menimbulkan berbagai macam penyakit.”

المصدر : بركـة البكـور
لفضيلة الشيخ عبد الرزاق البدر
منقول من دروس السلف الصالح

Sumber: Buku Keberkahan Waktu Pagi.
karya Syaikh Abdurrozaq Al Badr.
dinukil dari kajian : duruus salafisholeh

عبدالمجیدكينكي من بلوشستان باكستان

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.

HAL-HAL Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari KEBENARAN – Penghalang Ke-30

Dari kitab yang berjudul Showarif ‘Anil Haq, tentang Hal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari Kebenaran, ditulis oleh Syaikh Hamd bin Ibrohim Al Utsman, حفظه الله تعالى.
.
PEMBAHASAN SEBELUMNYA (Penghalang yang ke 29) bisa di baca di SINI

=======

🌿 Penghalang yang ke 30 🌿

Alhamdulillah.. wash-sholaatu was-salaamu ‘alaa Rosulillah…

Diantara perkara yang menghalangi seseorang dari kebenaran…

انتساب أهل الباطل

⚉  Orang-orang ahli bathil menisbatkan keyakinan mereka yang menyimpang kepada Ulama-Ulama atau orang-orang yang terhormat secara dusta.

Seperti contoh misalnya orang-orang syi’ah mereka mengklaim bahwa mereka ahlul bait dan pecinta ahlul bait, karena mereka tahu kaum muslimin sangat mencintai ahlul bait. Maka dengan cara klaim seperti ini mereka mendapat dukungan.

Demikian pula sebagian kaum as’ariyah ataupun orang-orang yang menolak sebagian sifat Allah, menisbatkan kepada sebagian Ulama, seperti Imam Syafi’i, bahkan juga ada yang menisbatkan kepada sebagian sahabat secara dusta tanpa ada sanad. Bahkan mereka mengklaim bahwa Imam Syafi’i yang mampu memiliki buku yang mendudukan hal itu, padahal bukunya dusta atas nama beliau.

Sehingga akhirnya menyebabkan sebagian orang, karena menghormati orang-orang tersebut, menerima keyakinan tersebut.

⚉  Ibnu Qayyim rohimahullah berkata:

‎فإنَّه من شأن الناس كلام من يعظم قدر ه فِي نفو سهم

“Sesungguhnya diantara kebiasaan manusia adalah mengagungkan ucapan orang yang sangat mereka hormati”

حَتَّى إنَّهم ليقدَّمون كلامه على كلام اللّٰه ورسو له

“Sampai-sampai mereka mendahulukan ucapan orang tersebut diatas ucapan Allah dan Rasul-Nya.”
Dan mereka mengatakan orang ini paling tahu tentang Allah dari kami.”

Maka dengan cara seperti inilah, kata Beliau:

وبِهذا الطر يق تو صَّل الر افضة والباطنية واﻹسماعيلية والنصير يَّة إلَى ترويج باطلهم

“Dengan cara seperti inilah orang-orang Rofidoh, Batiniyah, Isma’iliyah, Nashiriyah, bisa dengan mudah untuk melariskan kebathilan mereka.”

حين أضافو ها إل َى أهل بيت رسول اللّٰه ﷺ

“Ketika mereka menisbatkan ucapan mereka kepada Ahli Bait, walaupun secara dusta”

لَما علموا أن المسلمين متفقون على مَحبتهم

“Karena mereka tahu kaum muslimin semuanya mencintai Ahli Bait (mengagungkan Ahli Bait).”

Maka kesempatan ini mereka gunakan untuk supaya keyakinan mereka laris ditengah-tengah kaum muslimin.

Kata Beliau:

فلا إله إلا اللّٰه كم من زندقة وإلحاد وبدعة قد نُفقت فِي الو جود بسبب ذلك

(Kata Beliau): “berapa banyak kezindikan, penyimpangan, kebid’ahan yang telah laris ditengah-tengah masyarakat, disebabkan karena ini.” Terlebih masyarakat mudah sekali untuk menerima hal-hal seperti itu tanpa berusaha mencari kebenaran.”

Kata Beliau:
“Contoh-contoh tentang kedustaan ahli bid’ah atas Ahlus-sunnah banyak sekali (kata Beliau) dan itu sudah maklum”, sudah masyur.

Diantaranya yang disebutkan oleh Sufyan bin Uyainah, bahwa Amr bin Ubaid ditanya tentang masalah, lalu ia menjawab padanya.

Kemudian ia berkata, “ini adalah termasuk pendapat Al Hasan”, maka seseorang berkata kepadanya
Tapi mereka meriwayatkan dari Al Hasan tidak sesuai dengan ini.
Ia berkata (dia mengatakan) bahwa, “maksud saya adalah ini pendapat yang bagus”.
Al Hasan yaitu pendapat bagus .

Ini mereka ingin melariskan pendapatnya dengan cara berusaha menisbatkan kepada salah seorang Ulama Salaf terdahulu yang dihormati secara dusta, supaya apa..? Supaya laris ditengah-tengah masyarakat Ahlus-sunnah wal Jama’ah

Allahulmusta’an
.
.
Wallahu a’lam 🌴
.
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
.
Dari kitab yang berjudul Showarif ‘Anil Haq, tentang Hal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari Kebenaran, ditulis oleh Syaikh Hamd bin Ibrohim Al Utsman, حفظه الله تعالى.
.
Silahkan bergabung di Telegram Channel dan Facebook Page :
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://www.facebook.com/aqidah.dan.manhaj/

Artikel TERKAIT :
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Showarif ‘Anil HaqHal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari KEBENARAN
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Al IshbaahManhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN

Tahukah Anda..?

Tahukah anda ?

Hadits tentang haramnya isbal diriwayatkan oleh sekitar 31 shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.
yaitu :
Abu Bakr,
Abu Hurairah,
Abdullah bin Umar,
Abdullah bin Abbas,
Abdullah bin Mas’ud,
Abdullah bin Mughoffal,
Aisyah,
Abu Said Al Khudri,
Hudzaifah,
Abu Umamah,
Abu Juhaifah,
Samuroh bin Jundub,
Al Mughiroh bin Syu’bah,
Sufyan bin Sahl,
Ubaid bin Kholid,
Abu Juroyy Jabir bin Sulaim,
Jabir bin Abdillah,
Utsman bin Affan,
Amru bin Asy Syariid,
Amru bin Zuroroh,
Anas bin Malik,
Khuroim Al Asadi,
Sahl bin Al Handzoliyah,
Hubaib bin Mughoffal,
Samuroh bin Fatik,
Salamah bin Al Akwa’,
Al Baro bin Azib,
Ubaidah,
Lelaki Tsaqofi,
Abdullah bin Busr.

(Lihat kitab Al Isbal Lighairil Khuyala hal. 119)

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
.
.
ARTIKEL TERKAIT :

  1. Katanya : ISBAL Gak Masalah Karena Tidak Sombong… Justru Sebaliknya..!
  2. Neraka Di Celanamu…
  3. Sekali lagi.. Mengapa Tidak Boleh Isbal..?
  4. Ketika Mendengar Larangan Dan Perintah, Apakah Kita Perlu Mengetahui Mudhorot-nya Terlebih Dahulu..?

Guru Mendewasakan Murid..?

Kata orang, guru itu harus bisa digugu (dipercaya) dan ditiru. Apalagi guru agama. Alias ustadz, kyai, ajengan dan yang semisal. Sayangnya belakangan ini banyak guru yang belum bisa dijadikan panutan oleh murid-muridnya.

Syahdan ada seorang ahli hadits bernama Muhammad bin ‘Ala. Beliau biasa dipanggil Abu Kuraib. Karena satu dan lain hal, beliau mencela Imam Ahmad bin Hambal. Ulama besar Ahlus Sunnah yang tersohor itu.

Suatu hari ada serombongan santri yang pengin berguru kepada Imam Ahmad. Beliau bertanya, “Kalian barusan menghadiri kajian siapa ?”.

“Kajiannya Syaikh Abu Kuraib” jawab mereka.

Imam Ahmad komen, “Tetaplah belajar kepada beliau. Sungguh beliau adalah guru yang berkompeten”.

“Tapi beliau kan mencelamu wahai imam ?” tanya mereka keheranan.

“Gimana lagi ? Beliau tetap guru yang berkompeten. Hanya saja beliau sedang diuji dengan diriku”.

Kisah ini dibawakan Imam adz-Dzahabiy dalam kitab beliau Siyar A’lam an-Nubala’ (XI/317).

Banyak pelajaran yang bisa diambil dari kisah menarik ini. Di antaranya, bagaimana seorang guru menunaikan tugas untuk mendidik muridnya.

Ustadz juga manusia. Sehingga kecemburuan dan perasaan iri bisa saja menjangkiti hatinya. Apalagi saat menyaksikan kenyataan bahwa ustadz lain lebih banyak jama’ahnya.

Hal itu diperparah dengan keberadaan murid-murid pendukung yang fanatik. Punya hobi menukilkan kepada ustadnya tulisan terbaru postingan ustadz pesaingnya. Tidak jarang mereka juga berperan sebagai tukang sate. Ngipas-ngipasi emosi ustadznya, hingga panas bahkan gosong. Sehingga bantahan-bantahan yang dikeluarkan pun menggunakan beragam diksi yang tidak layak untuk disematkan kepada sesama ustadz.

Seharusnya kita berguru kepada Imam Ahmad. Bagaimana beliau berusaha mendewasakan murid-muridnya. Tidak mudah terpancing dengan nukilan berita. Bahkan berusaha mendinginkan suasana.

Juga melokalisir masalah. Permasalahan pribadi tidak usah diperlebar menjadi masalah manhaj. Baca: Mawa’izh ash-Shahabah, Dr. Umar al-Muqbil (hal. 80).

Bukan berarti tidak boleh membantah berbagai penyimpangan yang bersliweran di sekeliling kita. Asalkan proporsional.

Namun akhirnya kekuatan muroqobahlah yang berperan. Allah Mahatahu motivasi kita dalam menulis bantahan. Apakah benar-benar murni ikhlas dalam rangka membela agama Allah. Atau sejatinya berakar pada kecemburuan pribadi. Namun dipoles seakan itu adalah tahdzir syar’i.

Mari belajar dewasa dan mendewasakan murid-murid kita…

Ustadz Abdullah Zaen MA, حفظه الله تعالى.

Kaidah Ushul Fiqih Ke 59 : Orang Yang Terkena Sanksi…

Pembahasan ini merujuk kepada kitab “Syarah Mandzumah Ushul Fiqih“, yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al’Utsaimin, رحمه الله تعالى

KAIDAH SEBELUMNYA (KE-58) bisa di baca di SINI

=======

🍀 Kaidah yang ke 59 🍀

👉🏼  Orang yang terkena sanksi karena terpenuhi syaratnya namun gugur sanksi tersebut karena adanya penghalang, maka orang tersebut wajib mengganti dua kali lipat.

⚉  Contohnya kasus pencurian. Syarat pencuri dipotong tangannya bila barang yang dicuri sebesar seperempat dinar atau lebih. Dan emas tersebut disimpan di tempat yang terlindung.

Bila emas tersebut disimpan di tempat sembarangan dan tidak terlindung maka pencuri nya tidak boleh dipotong tangannya. Namun ia wajib membayar dua kali lipat emas yang ia curi. Misalnya bila ia mencuri emas 2 gram di tempat yang emas tsb tidak terlindung, maka si pencuri tersebut wajib membayarnya dua kali lipat yaitu 4 gram emas. Dua gram dikembalikan kepada yang punya dan dua gram untuk baitul maal.
.
.
Wallahu a’lam 🌴
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
.
Dari kitab “Syarah Mandzumah Ushul Fiqih“, yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al’Utsaimin, رحمه الله تعالى.
.
.
Silahkan bergabung di Telegram Channel dan Facebook Page:
https://t.me/kaidah_ushul_fiqih
https://www.facebook.com/kaidah.ushul.fiqih/
.
KAIDAH USHUL FIQIH – Daftar Isi LENGKAP

Kaidah Ushul Fiqih Ke 58 : Setiap Orang Yang Tergesa-gesa Melakukan Sesuatu Dengan Cara Yang Haram…

Pembahasan ini merujuk kepada kitab “Syarah Mandzumah Ushul Fiqih“, yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al’Utsaimin, رحمه الله تعالى

KAIDAH SEBELUMNYA (KE-57) bisa di baca di SINI

=======

🍀 Kaidah yang ke 58 🍀

👉🏼  Setiap orang yang tergesa gesa melakukan sesuatu dengan cara yang haram. Maka ia dihalangi dari yang ia inginkan.

⚉  Contohnya, bila seorang anak ingin segera mendapatkan warisan dengan cara membunuh ayahnya, maka ia tak berhak mendapat warisan.
Sebagaimana sabda Nabi:

لا يرث القاتل

“Pembunuh tidak berhak mendapat warisan.” (HR At Tirmidzi).

⚉  Orang yang ingin lari dari zakat dengan cara membeli sebidang tanah. Maka zakat tidak gugur darinya.

👉🏼  Tetapi bila ia melakukannya dengan cara yang tidak haram maka diperbolehkan.

⚉  Contohnya bila A minta disegerakan diberikan zakat harta B sebelum haulnya karena kondisi A yang amat membutuhkan. Maka boleh hukumnya.

⚉  Contohnya, Istri meminta segera diberikan uang nafkahnya kepada suami sebelum waktunya karena ada kebutuhan misalnya maka diperbolehkan, dst.
.
.
Wallahu a’lam 🌴
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
.
Dari kitab “Syarah Mandzumah Ushul Fiqih“, yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al’Utsaimin, رحمه الله تعالى.
.
.
Silahkan bergabung di Telegram Channel dan Facebook Page:
https://t.me/kaidah_ushul_fiqih
https://www.facebook.com/kaidah.ushul.fiqih/
.
KAIDAH USHUL FIQIH – Daftar Isi LENGKAP

Seberapa Jauh Keyakinan Kita Kepada Allah…

Saat ujian itulah terlihat seberapa jauh keyakinan
kita kepada Allah.

Orang yang kurang yakin, akan gagal dan ia pun
berburuk sangka kepada Allah.
Sedangkan orang yang yakin, ia dapat menghadapi
ujian dengan kuat walaupun tidak mendapat jalan
keluar dan pertolongan.

karena ia yakin…
bahwa ketentuan Allah itulah yang terbaik..

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.

Balas Dendam

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahullah berkata,

ما انتقم أحد قطُّ لنفسه إلا أورثَه ذلك ذُلاً يجده في نفسه، فإذا عفا أعزّه الله، وهذا مما أخبر به الصادق المصدوق حيث يقول “ما زاد الله عبداً بِعفوٍ إلا عزًّا”، فالعزّ الحاصل له بالعفو أحبّ إليه وأنفع له من العز الحاصل له بالانتقام).

جامع المسائل ١٧٠/١

“Tidak ada seorangpun yang balas dendam untuk dirinya kecuali akan menimbulkan kehinaan pada dirinya. Bila ia memaafkan maka Allah memuliakannya. Dan ini yang dikabarkan oleh Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam: ‘Tidaklah Allah menambahkan untuk hambanya yang memaafkan kecuali kemuliaan..’

Kemuliaan yang dihasilkan dari memaafkan lebih dicintai oleh Allah dan lebih bermanfaat dari kemuliaan yang dihasilkan dari membalas dendam..”

(Jami’ Masaail 1/170)

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.

HAL-HAL Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari KEBENARAN – Penghalang Ke-29

Dari kitab yang berjudul Showarif ‘Anil Haq, tentang Hal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari Kebenaran, ditulis oleh Syaikh Hamd bin Ibrohim Al Utsman, حفظه الله تعالى.
.
PEMBAHASAN SEBELUMNYA (Penghalang yang ke 28) bisa di baca di SINI

=======

🌿 Penghalang yang ke 29 🌿

Alhamdulillah.. wash-sholaatu was-salaamu ‘alaa Rosulillah…

Diantara perkara yang menghalangi seseorang dari kebenaran…

صدور الباطل من شيخ له قبول

⚉  Kebathilan tersebut ternyata di ucapkan oleh seorang Syaikh, seorang Ustadz, atau seorang Ulama yang sangat dihormati.

Dimana tentunya yang namanya Ustadz atau Ulama bukanlah malaikat, bukan pula nabi yang bisa jadi dia jatuh kepada kesalahan.
Ketika kesalahan terjadi pada seorang Ustadz, seorang Syaikh yang sangat di hormati, maka dianggaplah itu sebagai sebuah kebenaran dan harga mati. Sehingga murid-muridnya membelanya mati-matian karena itu adalah pendapat gurunya yang ia sayangi, yang ia hormati tersebut.

Ini adalah merupakan perkara yang menyebabkan akhirnya mereka terhalang dari kebenaran, bahkan menganggap kebathilan atau kesalahan tersebut sebagai sebuah kebenaran yang tidak boleh ditolak.

⚉  Ibnu Qayyim rohimahullah berkata:

‎أن حبك للشيء يعمي ويصم

“Cintamu kepada sesuatu itu, seringkali membuat kamu buta.”

‎عن تأمل قبائحه ومساو يه

“Dari memperhatikan kekurangan-kekurangan yang ada padanya.”

Maksudnya… seseorang ketika sudah sangat mencintai seorang Ustadz atau seorang Ulama, itu membuat kita buta, sehingga seakan-akan semua yang di ucapkannya bagaikan wahyu dari langit, yang tidak boleh ditolak.
Ini adalah merupakan sikap yang tidak benar.

Banyak diantara kita mengatakan, “Iya kami tidak taqlid, kami tidak fanatik”. Tapi ternyata didalam perbuatannya, sehari-harinya menunjukkan betapa fanatiknya dia. Sampai dia membela mati-matian, tidak peduli apakah perkataannya Ustadz tersebut benar atau tidak, yang terpenting bagaimana dia membela mati-matian Ustadz yang ia sangat hormati tersebut.

⚉  Syaikhul Islam rohimahullah berkata:

تَجده يذم القول وقائله بعبارة ، ويقبله بعبارة ، و يقرأ كتب التفسير والفقه وشر و ح الحديث ، و فيها تلك المقالات الَّتِي كان يذمُّها

“Kamu akan dapati ada seseorang yang mencela suatu perkataan dan yang mengatakannya dengan ungkapan, tapi juga menerima dengan ungkapan lain. Membaca kitab-kitab tafsir, fiqih dan syarah-syarah hadits. Dan didalamnya ternyata ada perkataan-perkataan yang ia cela tersebut.”

فيقبلها من أشخاص أُخر ، و يُحسن الظنَّ بِهم

“Dan ia menerima dari orang lain, dari pribadi yang lain, dimana ia ber-husnuzhon kepada mereka.”

و قد ذكرو ها بعبار ة أُخرى

“Dan mereka menyebutnya dengan ungkapan yang lain, yang padahal sebetulnya sama.”

Maksudnya… terkadang seseorang itu menerima suatu perkataan yang sebetulnya ia cela, karena yang mengucapkannya itu adalah orang yang sangat ia ikuti, yang ia sangat cintai.
Tapi karena ia mengungkapkannya dengan bahasa yang enak, dia bisa menerima itu. Sementara kalau di ucapkan oleh orang yang tidak ia sukai, ia pasti akan tolak itu.

و هذا مِمَّا يو جد كثيرًا

“Dan ini banyak sekali terjadi”

و السالِم من سلَّمه اللّٰه

“Orang yang selamat tentu yang diselamatkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

Kemudian beliau berkata juga:

وهاهنا أمر خفي ينبغي التفطُّن له

“Disini juga ada perkara yang penting untuk kita pahami.
Bahwa terkadang banyak Ulama mengucapkan atau memilih pendapat yang lemah, karena ia sudah berijtihad, dan sebetulnya Ulama ini sudah dapat pahala.
Tapi orang yang membela pendapat Ulama ini, karena membelanya bukan karena Allah, tapi karena untuk meninggikan yang ia cintai tersebut (Ustadz yang ia hormati tersebut), maka ia tidak mendapatkan pahala sama sekali bahkan bisa jadi dosa.”

Karena tujuan dia bukan untuk menegakkan kalimat Allah yang paling tinggi, tapi untuk menegakkan, meninggikan kalimat Ustadznya itu sebagai yang paling tinggi.

Tentu ini perkara yang tidak dibenarkan.

👉🏼   Maka dari itulah kewajiban kita, untuk apabila kita hendak menuntut ilmu atau menyukai seorang ‘alim… harus kita yakini, bahwa ia adalah manusia bukan Nabi bukan Malaikat.
Jangan sampai ketika Ustadz yang kita sangat cintai tersebut mengucapkan kata-kata yang tidak benar, lantas kita langsung telan, karena kita sangat menghormatinya, sangat mengagungkannya, sangat kagum dengan keilmuannya. Sehingga akhirnya menyebabkan kita jatuh juga kepada kebathilan

‎نسأل الله السلامة والعافية

.
.
Wallahu a’lam 🌴
.
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
.
Dari kitab yang berjudul Showarif ‘Anil Haq, tentang Hal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari Kebenaran, ditulis oleh Syaikh Hamd bin Ibrohim Al Utsman, حفظه الله تعالى.
.
Silahkan bergabung di Telegram Channel dan Facebook Page :
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://www.facebook.com/aqidah.dan.manhaj/

Artikel TERKAIT :
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Showarif ‘Anil HaqHal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari KEBENARAN
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Al IshbaahManhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN

Susah Membangunkan Anak Untuk Sholat Shubuh..?

Betul untuk yang satu ini memang berat, namun tidak boleh lelah apalagi merasa kalah.

Berikut pengalaman pribadi saya, semoga bermanfaat untuk anda:

1. Biasakan anak untuk tidur dini, jangan biarkan mereka bergadang hingga larut malam.

2. Jangan biarkan anak makan malam terlalu kenyang, karena menyebabkannya berat bangun pagi.

3. Sebelum tidur ingatkan dan kalau perlu ajak anak anda berbicara tentang pentingnya tidur dini agar bisa bangun shalat subuh.

4. Jelaskan mengapa dan apa untungnya shalat subuh berjamaah.

5. Biasakan agar anda bangun terlebih dahulu sebelum azan dikumandangkan untuk shalat sunnah di kamar anak anda, sambil memulai tahapan membangunkan anak, secara pelan pelan.

6. Awalilah usaha anda dengan doa memohon pertolongan kepada Allah agar dimudahkan membangunkan anak anda.

7. Upayakan agar ketika suara azan dilantunkan anda meningkatkan usaha anda membangunkan anak anda, karena itu waktu yang paling efektif untuk membangunkan anak, karena setan sedang menjauh dari anak anda. Rasululah shallallau ‘alaihi wa sallam bersabda:

إذا نودي للصلاة أدبر الشيطان وله ضراط حتى لا يسمع التأذين فإذا قضي النداء أقبل حتى إذا ثوب بالصلاة أدبر

“Bila azan dikumandangkan maka setan itu sambil terkentut kentut menjauh pergi hingga ia tidak mendengar suara azan. Bila azan selesai dikumandangkan, maka setan kembali lagi hingga iqamat dikumandangkan, maka setan kembali menjauh pergi”. (Muttafaqun ‘alaih)

7. Bila anak belum bangun juga setelah azan mulai dikumandangkan, maka mulailah serangan fajar, segera bisikkan di telinga anak anda ajakan mendirikan shalat.

8. Lakukan pemijitan lembut ke badan, punggung, tangan, dan kaki anak anda, karena kadang kala badan anak anda juga terasa pegal pegal efek dari permainan seharian kemaren.

9. Usap wajah anak anda dengan tangan anda yang lembab dingin karena sisa air wudlu air basuh tangan .

10. Kadang kala, anda perlu menggendong anak anda untuk turun dari kasurnya.

11. Jadikan bangun shalat subuh dan shalat subuh berjamaah sebagai bagian dari tema pembicaraan anda sehari hari, di saat anda makan bersama keluarga, anda bercengkrama dengan anak anak dll.

12. Apresiasi keberhasilan anak anda bangun shalat subuh, dengan menceritakan pula perasaan anda terhadap keberhasilan anak anda shalat berjamaah.

13. Bila perlu berikan teguran semisal mengurangi uang jajan sekolah atau mengurungkan rencana makan makan bersama di rumah makan, karena anak susah dibangunkan shalat subuh .

14. Koreksi nafkah yang anda berikan kepada anak anak anda, apakah sudah yakin halal ? karena bisa jadi susahnya anak dan istri kita dalam mejalankan ibadah disebabkan nafkah kita yang kurang baik atau bahkan haram. Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُواْ مِمَّا فِي الأَرْضِ حَلاَلاً طَيِّباً وَلاَ تَتَّبِعُواْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ {168} إِنَّمَا يَأْمُرُكُمْ بِالسُّوءِ وَالْفَحْشَاء وَأَن تَقُولُواْ عَلَى اللّهِ مَا لاَ تَعْلَمُونَ

“Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan; karena sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu. Sesungguhnya setan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui.” (Al Baqarah 168-169)

Semoga bermanfaat dan selamat mencoba semoga putra putri anda menjadi anak sholeh dan sholehah. Amiin

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى