Category Archives: BBG Kajian

Banyaklah Membaca Al Qur’an…

Tatkala Ad-Dhiyaa’ al-Maqdisi akan bersafar untuk menuntut ilmu hadits maka Ibrahim bin Abdil Wahid Al-Maqdisi berwasiat kepadanya seraya berkata :

أَكْثِرْ مِنْ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ، وَلاَ تَتْرُكْهُ فَإِنَّهُ يَتَيَّسَرُ لَكَ الَّذِي تَطْلُبُهُ عَلَى قَدْرِ مَا تَقْرَأُ

“Perbanyaklah membaca Al-Qur’an dan jangan kau tinggalkan Al-Qur’an. Karena akan dipermudah bagimu apa yang kau cari sesuai dengan kadar bacaan-mu”

Ad-Dliyaa’ Al-Maqdisi berkata,

فَرَأَيْتُ ذَلِكَ وَجَرَّبْتُهُ كَثِيْراً، فَكُنْتُ إِذَا قَرَأْتُ كَثِيْراً تَيَسَّرَ لِي مِنْ سَمَاعِ الْحَدِيْثِ وَكِتَابَتِهِ الْكَثِيْرِ، وَإِذَا لَمْ أَقْرَأْ لَمْ يَتَيَّسَرْ لِي

“Maka akupun melihat hal itu dan sudah sering aku mencobanya. Jika aku banyak membaca Al-Qur’an maka dimudahkan bagiku untuk mendengar dan mencatat banyak hadits. Namun jika aku tidak membaca Al-Qur’an maka tidak dimudahkan bagiku” (Dzail Tobaqoot Al-Hanaabilah karya Ibnu Rojab Al-Hanbali 3/205)

Ya Allah jadikanlah kami para pecinta Al-Qur’an yang berisi firman-firman-Mu…
yang membacanya siang dan tengah malam…

Janganlah jadikan kami orang-orang yang lalai membacanya hanya karena secercah dunia…
yang merasa dirinya sibuk…
merasa waktunya kurang…
tidak sempat untuk membaca Al-Qur’an…
akan tetapi selalu saja sempat untuk internetan dan bersenda gurau…

Ustadz DR. Firanda Andirja MA, حفظه الله تعالى

 

da1807132349

 

HAL-HAL Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari KEBENARAN – Penghalang Ke-27

Dari kitab yang berjudul Showarif ‘Anil Haq, tentang Hal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari Kebenaran, ditulis oleh Syaikh Hamd bin Ibrohim Al Utsman, حفظه الله تعالى.
.
PEMBAHASAN SEBELUMNYA (Penghalang yang ke 26) bisa di baca di SINI

=======

🌿 Penghalang yang ke 27 🌿

Alhamdulillah.. wash-sholaatu was-salaamu ‘alaa Rosulillah…

Diantara penghalang seseorang dari kebenaran…

عدم تصور الباطل على ما هو عليه

⚉  Tidak bisa melihat kebathilan dengan gambaran yang jelas.

Ini akibat daripada قليل العلم (kurang ilmu), و غير الرَّاسخ (kurang kokoh keilmuan).

Dimana karena kurangnya keilmuan dan kurang kokoh keilmuan, ia tidak bisa melihat kebathilan dengan gambaran yang jelas, tapi gambaran kebathilan itu samar kepada dia, karena banyaknya syubhat. Akibatnya orang ini, karena tidak bisa melihat gambaran kebathilan dengan jelas, ia terkadang menganggapnya sebagai sebuah kebenaran.

Oleh karena itulah… bahkan orang-orang yang berpegang kepada kebathilan sendiri, mereka tidak bisa menjelaskan kebathilan merekapun juga dengan secara terang dengan hujjah-hujjah yang kuat dan kokoh, masih akan ada padanya keguncangan.

⚉  Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimallah berkata dalam Majmuu’ Fatawa (jilid 12/ hlm 13)

فهذه المسائل إذا تصوَّرها الناس على و جهها تصورًا تامًّا ظهر لَهم الصَّواب

“Masalah-masalah seperti ini apabila manusia bisa melihatnya sesuai dengan gambarannya yang jelas dan tegas akan tampaklah kepada mereka kebenaran.

وقلَّت الأهواء والعصبيات ، و عر فوا موارد النَّزا ع

Tentu juga akan sedikit hawa nafsu dan fanatisme, dan mereka akan mengetahui perkara-perkara yang diperselisihkan tersebut, mana yang haq, mana yang bathil.

فمن تبيَّن له الحقُّ فِي شيء من ذلك اتَّبعه

Maka siapa yang telah jelas kepadanya kebenaran dalam permasalahan-permasalahan tersebut, hendaklah ia mengikutinya,

ومن خفي عليه تو قَّف حَتَّى يبيَّنه اللّٰه له

dan siapa yang tersembunyi, maka dia akan تو قَّف (diam) sampai Allah berikan kepadanya penjelasan,

و ينبغي له أن يستعين على ذلك بدعاء اللّٰه

dan hendaklah ia minta pertolongan dengan cara berdo’a kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

Ini beliau mengatakan bahwa kalaulah manusia melihat kebathilan itu dengan gambaran yang jelas, tentu mereka akan lari darinya tentu mereka akan sedikit fanatismenya, dan paham mana (yang) haq, mana (yang) bathil.

Tapi ketika kebathilan itu tidak bisa dilihat dengan jelas, banyak orang yang terhalang.

⚉  Syaikh ‘Abdurrahman Assa’diy berkata:

فإن كل عاقل إذا تصوَّر مذهب المشر كين جزم ببطلانه قبل أن تُقام البراهين على ذلك

“Setiap orang yang berakal, apabila ia melihat keyakinan orang-orang musyrikin dengan jelas, maka dia akan memastikan akan kebathilan keyakinan mereka tersebut, sebelum ditegakkan hujjah-hujjah atasnya.”

Artinya… orang yang menggunakan akal pikiran, saat ia menggunakan akalnya dengan kuat dan cerdas, sebatas itu saja sudah bisa melihat akan kebathilan keyakinan orang-orang musyrikin, dimana mereka mempersekutukan Allah dan menjadikan selain Allah sebagai tandingan.

Bagaimana kalau itu sudah jelas ditegakkan dalilnya dari Allah dan Rasul-Nya.

👉🏼   Maka inilah diantara sebab mengapa seseorang itu terhalang dari kebenaran akibat tidak bisa melihat kebathilan dengan bentuk atau gambaran yang sejelas-jelasnya. Sehingga karena disana ada syubhat kesamaran… akibatnya dia menyangka bahwa itu termasuk kebenaran.
.
.
Wallahu a’lam 🌴
.
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
.
Dari kitab yang berjudul Showarif ‘Anil Haq, tentang Hal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari Kebenaran, ditulis oleh Syaikh Hamd bin Ibrohim Al Utsman, حفظه الله تعالى.
.
Silahkan bergabung di Telegram Channel dan Facebook Page :
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://www.facebook.com/aqidah.dan.manhaj/

Artikel TERKAIT :
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Showarif ‘Anil HaqHal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari KEBENARAN
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Al IshbaahManhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN

Menganggap Remeh

Salah satu pintu setan adalah menganggap remeh..

عن أبي هُرَيْرَةَ ، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ”إِنَّ الشَّيْطَانَ قَدْ أَيِسَ أَنْ يُعْبَدَ بِأَرْضِكُمْ هَذِهِ، وَلَكِنْ قَدْ رَضِيَ مِنْكُمْ بِالْمُحَقَّرَاتِ“ أخرجه أحمد في المسند (8592)

Dari Abu Hurairah, Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabada: “Sesungguhnya setan telah merasa putus asa untuk disembah di negeri kalian ini. Tetapi ia ridho kepada apa yang kalian anggap remeh..” [HR Ahmad no 8592]

Orang yang menganggap remeh maksiat tanda akan jatuh kepadanya. Sebaliknya orang yang menganggap remeh amal tanda ia akan meninggalkannya.

Menganggap remeh perkara yang dibenci oleh Allah dapat membinasakan pelakunya. Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللَّهِ لَا يُلْقِي لَهَا بَالًا يَهْوِي بِهَا فِي جَهَنَّمَ) رواه البخاري ) .

“Sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan kata-kata yang dimurkai oleh Allah dan ia tidak mengganggapnya besar, ia pun dilemparkan ke neraka jahannam..”  [HR. Al Bukhari]

Menganggap remeh seringkali terjadi dalam bercanda. Ada orang berkata, “Wah kalau tahu di sono banyak akhwat, lewat sono aja..”
Lalu orang pun tertawa..
Tak sadar bahwa syariat menyuruh kita menjauhi ikhtilat. Tapi ia jadikan senda gurau..

Semoga kita lebih berhati hati dan tidak menganggap remeh maksiat sekecil apapun. Tidak pula menganggap remeh amal agar selalu berusaha dalam istiqomah dan ketaqwaan..

Penulis,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Pedang Allah Yang Terhunus

Tahukah anda ?

Khalid bin Al Walid rodhiyallahu ‘anhu digelari oleh Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam sebagai “pedang Allah yang terhunus..”

Ratusan peperangan beliau ikuti dan selalu diberikan kemenangan oleh Allah..

Namun beliau meninggal di atas kasurnya..
Bukan di medan perang..
Karena pedang Allah tak mungkin kalah..

Jika beliau meninggal di medan perang, orang-orang akan berkata, “Pedang Allah telah terbunuh..”

Subhanallah

Penulis,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Islam, Antara Hakekat Dan Propaganda…

1. Katanya Islam itu membuat hidup SUSAH.. Padahal Allah sejak dulu telah membantahnya:

مَا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْآنَ لِتَشْقَىٰ

“Kami menurunkan Al Quran kepadamu, BUKAN untuk membuatmu susah”. [QS. Thoha:2].

2. Katanya Islam itu membuat hidup terasa SEMPIT dan terpenjara.. Padahal Allah menyatakan sebaliknya:

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا

“Barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh baginya kehidupan yang sempit” [QS. Thoha:124].

3. Katanya Islam itu menjadikan orang MISKIN.. padahal Allah telah menyebutkan perkataan Nabi Nuh yang menyatakan sebaliknya:

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا # يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا # وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ

“[10] Kukatakan: ‘Istighfarlah kepada Rabb kalian, sungguh Dia itu Maha Pengampun [11] (Dengannya) Dia akan mengirimkan hujan lebat kepada kalian [12] juga memberikan BANYAK HARTA dan banyak anak untuk kalian”. [QS. Nuh: 10-12]

4. Katanya, Islam hanya berguna untuk kehidupan akherat… padahal Allah telah menegaskan bahwa dengannya kita akan meraih kehidupan dunia yang baik dan mulia.

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً

“Barangsiapa beramal saleh, baik laki-laki maupun perempuan, dan dia beriman, maka sungguh Kami benar-benar berikan kepadanya kehidupan (dunia) yang baik”. [QS. Annahl: 97].

5. Katanya Islam itu memberatkan.. padahal Allah dengan tegas telah membantahnya:

وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ

“Dia sama sekali tidak menjadikan pada agama ini sesuatu yang MEMBERATKAN kalian”. [QS. Al-Hajj: 87]

Dan masih banyak lagi propaganda Iblis lainnya tentang Islam.

——-

Yang jelas, Anda berada diantara 2 pilihan, silahkan memilih.. Percaya janji Allah, ataukah percaya propaganda Iblis ?

Pilihan yang sangat jelas dan sangat mudah ditentukan..

semoga bermanfaat, amin.

Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

 

da1605151344

Sebatas Motivasi…

banyak orang berkata, “Ini hanya untuk memotivasi saja..”
lalu membuat tata cara ibadah yang tak dilakukan salafush-sholih..

dahulu..
para salafush-sholih selalu menyembunyikan amalnya..
mereka lebih semangat ketika sendirian..

sekarang..
kita semangat ketika laporan ke orang..
seakan bila hanya Allah melihatnya tak memberinya motivasi..
membaca al quran laporan..
bersedekah laporan..
berdzikir laporan..
sebatas motivasi katanya..
padahal dahulu salafush-sholih tak pernah melaporkan ibadahnya kepada siapapun…

namun itulah..
ketika keikhlasan telah berkurang..
ibadah menjadi semangat ketika dilaporkan ke orang..
seakan Allah tak cukup untuk pemotivasi..
ya Robb..

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى 

 

da2601140710

Nasihat Ibnu Hibban Rohimahullah – Tujuan Menuntut Ilmu Adalah Untuk Mengambil Manfa’atnya

Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى berikut ini : (tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) :

Dari pembahasan Kitab Roudhotul Uqola wa Nuz-hatul Fudhola (Tamannya Orang-Orang Yang Berakal dan Tamasya-nya Orang-Orang Yang Mempunyai Keutamaan) karya Abu Hatim Muhammad Ibnu Hibban al Busty rohimahullah.

ARTIKEL TERKAIT :
Kumpulan Artikel – Nasihat Ibnu Hibban rohimahullah…

Ikuti terus Telegram channel :
https://t.me/bbg_alilmu
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://t.me/kaidah_ushul_fiqih

Apakah Kepala Rumah Tangga Juga Bertanggung Jawab Atas Kemaksiatan Yang Dilakukan Pembantunya..?

Jika pembantu di rumah tidak mengenakan hijab atau melakukan kemaksiatan lain, apakah itu juga merupakan tanggung jawab kepala rumah tangga ?

Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى berikut ini : (tunggu hingga audio player muncul dibawah ini:

Ikuti terus Telegram channel :
https://t.me/bbg_alilmu
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://t.me/kaidah_ushul_fiqih

Benarkah Ubaidullah bin Jahsy Pindah Ke Agama Nasrani..?

Diungkapkan dalam kitab-kitab sirah bahwa Ubaidullah bin Jahsy beralih ke agama Kristen di negeri Habasyah (Ethiopia). Ia hijrah ke negeri ini bersama istrinya, Ummu Habibah. Apakah berita kemurtadannya ini terbukti diriwayatkan dengan sanad shahih ?

Ketika menyebutkan beberapa orang yang menghindari penyembahan orang-orang Quraisy terhadap berhala, Ibnu Ishaq berkata. “Mereka adalah Waraqah bin Naufal, Ubaidullah bin Jahsy, Utsman bin Huwairits dan Zaid bin Amru bin Nufail. Sebagian mereka berkata pada sebagian yang lain, ‘Kalian tahu, demi Allah, kaum kalian ini sama sekali tidak berada dalam kebenaran. Mereka telah jauh menyimpang dari agama nenek moyang mereka, Ibrahim. Apa hebatnya sebongkah batu yang kita kelilingi, padahal ia tidak bisa mendengar, tidak bisa melihat, tidak membahayakan maupun memberi manfaat ? Carilah (kebenaran) untuk diri kalian masing-masing, sebab demi Allah kalian tidak berada di atas kebenaran.’

Mereka kemudian berpencar ke berbagai negeri untuk mencari agama yang hanif, agama Ibrahim. Selanjutnya Waraqah bin Naufal mantap masuk agama Nasrani. Ubaidullah bin Jahsy tetap dalam kebimbangan hingga ia masuk Islam kemudian hijrah bersama kaum muslimin ke Habasyah. Ia membawa istrinya, Ummu Habibah binti Abi Sufyan yang juga telah masuk islam. Tetapi ketika tiba di negeri ini Ubaidullah memeluk agama Nasrani dan meninggalkan agama Islam sampai ia mati di sana sebagai seorang kristiani.”

Kemudian Ibnu Ishaq berkata, “Muhammad bin Ja’far bin Zubair telah bercerita kepadaku, “Ubaidullah bin Jahsy –ketika telah masuk Kristen—melewati sahabat-sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang ada di negeri Habasyah. Ia berkata, ‘Kami telah melihat, sedangkan kalian masih meraba-raba.’ Maksudnya, kami telah menemukan kebenaran, sedangkan kalian masih mencari-carinya dan belum menemukannya.” (Ar-Raudhul Unuf, II: 538)

Guru Ibnu Ishaq dalam hadits ini adalah Muhammad bin Ja’far bin Zubair bin Awwam, seorang perawi tsiqoh. Ia wafat tahun seratus sekian belas hijriah, termasuk dalam tingkatan keenam yang merupakan tingkatan kumpulan perawi yang tidak pernah bertemu dengan sahabat. Jadi hadits ini mursal. Selanjutnya, Ibnu Ishaq menuturkan peristiwa datangnya Ja’far bin Abi Thalib dari Habasyah. Ia berkata, “Muhammad bin Ja’far bin Zubair bercerita kepadaku dari Urwah yang berkata, “Ubaidillah berangkat (Ke Habasyah) bersama kaum muslimin sebagai serorang muslim. Ketika telah tiba di negeri Habasyah, ia memeluk agama Nasrani.” Urwah melanjutkan, “Bila ia melewati muslimin –Dan seterusnya seperti hadits di atas—“ Sanad hadits ini shahih tetapi mursal. Riwayat ini adalah yang paling shahih berkenaan dengan berita beralihnya Ubaidullah bin Jahsy ke dalam agama Nasrani.

Ibnu Ishaq juga menyebutkan hal ini dalam kisah pernikahan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Ummu Habibah. Ia mengatakan, “Setelah menikahi Zainab, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memperistri Ummu Habibah binti Abi Sufyan. Sebelumnya, Ummu Habibah adalah istri Abdullah (Ubaidullah) bin Jahsy. Ia mati meninggalkannya di negeri Habasyah dan ia telah memeluk Kristen.” (Sirah Ibni Ishaq, Tahqiq Muhammad Hamidullah, 241) Hadits ini tanpa sanad.

Kisah ini juga diriwayatkan Ibnu Sa’ad dalam Ath-Thabaqat. Ia berkata, “Muhammad bin Umar mengabarkan kepada kami, Abdullah bin ‘Amru bin Sa’id bin ‘Ash, Ummu Habibah Menuturkan, “Dalam mimpi aku melihat Ubaidullah bin Jahsy, suamiku dalam rupa yang sangat buruk dan menjijikkan. Aku terperanjat. Spontan aku mengatakan, ‘Demi Allah, keadaannya akan berubah.’ Dan ternyata keesokan harinnya ia berkata, ‘Wahai Ummu Habibah, aku telah meneliti semua agama dan aku tidak melihat yang lebih baik daripada Agama Nasrani. Dulu aku pernah memeluk keyakinan ini. Kemudian aku masuk agama Muhammad, dan kini aku kembali ke agama Nasrani.’ Aku berkata, ‘Demi Allah, itu tidak lebih baik bagimu.’ Aku lalu mengisahkan mimpi yang aku lihat, tetapi ia tidak memperdulikannya. Akhirnya ia kecanduan minum khamr sampai meninggal dunia.” (Thabaqat Ibnu Sa’ad, VII: 97)

Ibnu Sa’ad juga meriwayatkan kisah ini ketika menyebutkan jumlah istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Saat membicarakan Ummu Habibah, ia berkata, “Sebelum menjadi istri Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam, ia menikah dengan Ubaidullah bin Jahsy yang telah masuk Islam dan hijrah ke Habasyah. Namun kemudian Ubaidullah murtad dan memeluk agama Kristen. Ia mati di sana dalam agama Kristen.” (Thabaqat Ibni Sa’ad, VII: 218)

Dalam dua hadits ini, guru Ibnu Sa’ad adalah Waqidi. Haditsnya ditinggalkan meskipun pengetahuannya sangat luas. Hakim meriwayatkannya secara mursal dalam al-Mustadrak dari Zuhri. Disebutkan didalamnya, “Kemudian ia mengalami keguncangan pikiran dan memeluk Kristen hingga mati sebagai seorang Kristiani. Allah menguatkan keislaman Ummu Habibah, di mana ia menolak masuk Kristen.” (Al-Mustadrak, IV: 21). Hakim juga meriwayatkannya secara maushul (bersambung sanadnya) dari jalur Waqidi, didalamnya disebutkan tentang mimpi Ummu Habibah (Al-Mustadrak, IV: 22) seperti riwayat Ibnu Sa’ad. Riwayat-riwayat mursal Zuhri itu dha’if. (Demikian dikatakan Al-Hafizh dalam At-Talkhishul Habir. IV: 111)

Imam Dzahabi mengatakan, “Yahya bin Sa’id berkata, ‘Riwayat mursal Zuhri lebih buruk di banding riwayat mursal lainnya. Sebab ia sebenarnya perawi yang hafalannya bagus dan setiap perawi yang ia bisa sebutkan pasti ia sebutkan. Namun, ia meninggalkan perawi yang tidak disukainya untuk disebutkan’. Aku (Dzahabi) mengatakan, “Riwayat mursal Zuhri seperti mu’dhal, sebab dalam sanad ini telah gugur dua orang. Tidak bisa kita beranggapan bahwa Zuhri hanya tidak menyebutkan sahabat saja. Andai ia langsung meriwayatkan dari sahabat, pasti ia menjelaskannya dan mampu menyambungkan sanadnya. Siapa memangdang riwayat mursal Zuhri seperti mursal Sa’id bin Musayib, Urwah bin Zubair serta perawi yang sekelas keduanya, berarti ia tidak tahu apa yang ia katakana. Ya, mursalnya seperti mursal Qatadah dan perawi setingkat dirinya.” (Siyar A’lamin Nubala’, V: 338-339)

Thabari dalam tharikhnya juga meriwayatkan berita ini secara mursal yakni dalam bab berita tentang istri-istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Hisyam bin Muhammad ketika bercerita tentang Ummu Habibah, “Suaminya lalu masuk Kristen dan berusaha agar istrinya mengikuti. Tetapi Ummu Habibah enggan dan bersabar mempertahankan agamanya. Akhirnya suaminya mati dalam keyakinan Kristen.” (Tarikh Thabari, II: 213). Hadits ini disamping mursal juga diriwayatkan dari Hisyam bin Muhammad bin Saib al-Kalbi, seorang pengikut Syiah yang matruk.

Imam Ahmad berkata, “Ia tidak hanya orang yang pandai bersenda gurau dan ahli nasab. Aku tidak yakin ada orang yang meriwayatkan hadits darinya.” (Lisanul Mizan, VI: 196). Ibnu Atsir mengutip riwayat ini dalam kitab Tarikhnya (Al-Kamil Fii Tarikh, II: 210) dari Ibnu Kalbi.

Sementara itu, Baihaqi meriwayatkannya dalam ad-Dala’il dari jalur Ibnu Luhai’ah dari Abi Aswad dari Urwah yang berkata, “Dari Bani Asad bin Khuzaimah adalah Ubaidullah bin Jahsy. Ia mati di negeri Habasyah sebagai seorang penganut agama Nasrani. Ia bersama istrinya Ummu Habibah binti Abi Sufyan. Namanya Ramlah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuntingnya. Utsman bin Affan yang menikahkan beliau dengan Ummu Habibah di Habasyah.” (Dalailun Nubuwwah, III: 460)

Dalam hadits ini terdapat dua cacat, mursal dan Ibnu Luhai’ah yang dha’if. Matannya pun sedikit aneh. Ibnu Katsir berkata, “Adapun ucapan Urwah bahwa Utsman menikahkan Ummu Habibah dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ini gharib (aneh). Sebab waktu itu Utsman telah pulang ke Mekkah, kemudian hijrah bersama istrinya, Ruqayyah.” (Al-Bidayah Wan Nihayah, IV: 143)

Ibnu Abdil Bar tidak menuliskan biografi Ubaidullah bin Jahsy dalam Al-Isti’ab, demikian pula Ibnu Atsir dalam Ushul Ghabah dan Ibnu Hajar dalam Al-Ishabat. Saat membicarakan biografi saudaranya, Abdullah dalam al-Ishabat Ibnu Hajar tidak menyinggung Ubaidullah sama sekali.

Sementara itu Ibnu Abdil Bar dalam Al-Isti’ab pada biografi Abdullah berkata, “Ia dan saudaranya Abu Ahmad bin Abd bin Jahsy temasuk dalam kelompok Muhajirin pertama yang melakukan dua kali hijrah. Sedangkah saudara keduanya, Ubaidullah bin Jahsy masuk Kristen di Habasyah. Ia mati di sana sebagai seorang Kristiani dan istrinya Ummu Habibah berpisah darinya.” (Al-Isti’ab –catatan kaki al-Ishabah-, II: 263). Demikian pula disebutkan Ibnu Atsir dalam biografi Abdullah.

Pada biografi Ummu Habibah dalam Al-Ishabah, ibnu Hajar berkata, “Ketika suaminya, Ubaidullah, memeluk Kristen dan murtad dari agama islam, ia menceraikan dirinya. Ibnu Sa’ad meriwayatkan dari jalur Ismail bin Amru bin Sa’id al-Umawi yang berkata, -dan seterusnya-.” (Al-Ishabat, IV: 299). Ibnu Hajar menyebutkan kisah yang diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad dari Waqidi dan telah dijelaskan di atas.

Dan pada biografi Ummu Habibah dalam At-Tahdzib, XII: 419, Al-Hafizh Ibnu Hajar tidak menyinggung beralihnya Ubaidullah ke agama Nasrani, ia berkata, “Ummu Habibah hijrah ke Habasyah bersama suaminya, Abdullah bin Jahsy. Dan suaminya ini mati di sana. Lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahi Ummu Habibah yang masih berada di Habasyah pada tahun 6 Hijriah. Dikatakan pula tahun 7 Hijriah.”

Dzahabi berkata dalam as-Siyar ketika membicarakan biografi Ummu Habibah, “Ibnu Sa’ad berkata, ‘Waqidi mengabarkan kepada kami dan seterusnya, mengabarkan kami’. Ia menyebutkan mimpi Ummu Habibah dan kemurtadan suaminya. Kemudian Dzahabi berkata, “Riwayat ini munkar’ (Siyar a’lamin Nubala’, II: 221). Namun ia tidak menjelaskan alasan kemunkarannya.

Diantara bukti yang menguatkan bahwa berita kemurtadan Ubaidullah bin Jahsy tidak benar adalah riwayat-riwayat shahaih tentang pernikahan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Ummu Habibah, Di mana riwayat-riwayat ini tidak sedikit pun menyinggung berita ini. Imam Ahmad meriwayatkan dengan sanad shahih dari jalur Zuhri, dari Urwah, dari Ummu Habibah bahwa ia dulu istri Ubaidullah bin Jahsy yang datang ke negeri Najasyi dan mati di sana. Lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahi Ummu Habibah saat ia masih di Habasyah. Najasyi yang menikahkannya dengan beliau dan memberinya mahar 4.000 dirham.” (Al-Fathur Rabbani, XVI: 170) Abu Dawud (‘Aunul Ma’bud, kitab an-Nikah, bab Ash-Shadaq, VI: 137, hadits No. 2093) dan Nasai (Kitab An-Nikah, bab Qisthu Fil Ashdiqah, VI: 119, Albani menshahihkannya dalam Shahih An-Nasai, II: 705) juga meriwayatkannya.

👉🏼  Dari uraian tadi, wallahu a’lam dapat disimpulkan bahwa kisah murtadnya Ubaidullah bin Jahsy tidak benar berdasarkan beberapa alasan berikut:

PERTAMA, kisah ini tidak diriwayatkan dengan sanad shahih dan bersambung. Sebab, riwayat yang bersambung berasal dari Waqidi (padahal ia perawi matruk), dan riwayat yang mursal bersumber dari Urwah bin Zubair. Kita tidak mungkin berhujjah dengan riwayat mursal (menurut pendapat bolehnya berhujjah dengan riwayat mursal) dalam permasalahan seperti ini, yang berimplikasi menghukumi murtad pada salah seorang muslim generasi pertama.

KE-DUA, riwayat-riwayat yang shahih tentang pernikahan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Ummu Habibah tidak menyebutkan kemurtadan suami pertamanya ini, seperti riwayat Ahmad, Abu Dawud dan Nasai yang telah disebutkan di atas.

KE-TIGA, orang yang termasuk generasi pertama Islam kecil kemungkinan murtad dari agamanya. Apalagi, ia termasuk orang yang hijrah bersama istrinya demi menyelamatkan agama ke negeri yang jauh dan asing. Terutama Ubaidullah bin Jahsy termasuk orang-orang yang menjauhi keyakinan paganisme Quraisy, dan bersama Waraqah serta lainnya ia mencari agama yang Hanif sebagaimana telah disebutkan dalam riwayat ibnu Ishaq (tanpa sanad) di awal pembahasan ini. Dan dalam riwayat Ibnu Sa’ad (dari Waqidi) menyatakan bahwa sebelum masuk islam ia telah memeluk agama Kristen. Sudah dimaklumi berita akan diutusnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah popular di kalangan Ahlu Kitab, baik Yahudi maupun Nasrani. Sulit dibayangkan, bagaimana orang yang menunggu-nunggu agama baru untuk ia anut kemudian (setelah memeluknya) ia murtad dan memeluk agama yang telah di hapus.

Selain itu, pernikahan Nabi dengan Ummu Habibah terjadi pada tahun 6 atau 7 Hijriah. Sementara anggapaan murtadnya Ubaidullah terjadi tidak lama sebelum pernikahan ini. Padahal pada masa ini, agama islam telah meraih ketenaran dan diakui hingga di luar Jazirah Arab. Bahkan telah ada orang yang menampakkan keislaman dan menyembunyikan kekufuran seperti orang-orang munafik.

KE-EMPAT dalam Tanya jawab antara Heraklius (Raja Romawi) dan Abu Sufyan –yang kala itu masih musyrik-, di antara pertanyaan yang diajukan Heraqlius kepadanya adalah, “Apakah di antara para pengikutnya ada yang murtad karena benci terhadap agamanya setelah ia memeluknya?” Abu Sufyan menjawab, “Tidak.”

Andai Ubaidullah telah beralih memeluk agama Nasrani, tentunya Abu Sufyan mendapat kesempatan untuk mendiskreditkan Nabi dan dakwah beliau sebagaimana ia lakukan ketika ditanya, “Apakah ia berkhianat ?” Aku (Abu Sufyan) menjawab, “Tidak. Dan sekarang ini kami sedang berada dalam masa genjatan senjata. Kami tidak tahu apa yang tengah ia rencanakan.”

Abu Sufyan berkata, “Tak ada satu perkataan yang dapat aku sisipkan (untuk menjelek-jelekkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) selain ucapan ini.” (HR Bukhari, kitab bad’ul wahyi, Fathul Bari, I: 42)

Jadi, permasalahan berita kemurtadan ini berkaitan dengan salah seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahkan ia termasuk golongan pertama yang memeluk islam. Prinsip dasarnya, sesuatu tetap pada kondisi awal (selagi tidak ada bukti kuat yang mengubahnya -penerj). Jika sanad tentang berita kemurtadan Ubaidullah bin Jahsy itu shahih, tidak perlu lagi berpanjang lebar membahasnya. Tetapi ketika sanad tersebut tidak terbukti shahih, maka banyak nash-nash syariat yang memerintahkan untuk membela kehormatan seorang muslim. Terlebih lagi bila orang tersebut adalah seorang sahabat, bahkan termasuk kelompok muslim pertama.

Sebagai penutup, Ibnu Hibban meriwayatkan dalam Shahihnya, XIII: 386, ia bercerita, “Sa’id bin Katsir bin Ufair bercerita kepada kami, Laits bercerita kepada kami, dari Ibnu Musafir, dari Ibnu Syihab, dari Urwah, dari Aisyah yang menuturkan, ‘Kemudian Ubaidullah bin Jahsy hijrah bersama Ummu Habibah binti Abu Sufyan ke negeri Habasyah. Ketika telah tiba di Habasyah ia jatuh sakit. Ketika kematian terasa telah dekat, ia berpesan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu menikahi Ummu Habibah. Dan Najasyi mengirim Syurahbil bin Hasnah untuk mengawal perjalanan Ummu Habibah (Dari Habasyah menuju Madinah).”

Diketik ulang dari Buku Kisah-Kisah Masyhur Tapi Tak Shahih Dalam Sirah Nabawiyah, terjemah dari Kitab Maa Syaa-a wa Lam Yatsbut Fi As-Sirah An-Nabawiyyah oleh Muhammad bin Abdullah al-Ausyan.

Ref : http://wanitasalihah.com/benarkah-ubaidullah-bin-jahsy-pindah-ke-agama-nasrani/