Category Archives: BBG Kajian

Manhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN — Kaidah KE-24

Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.

KAIDAH SEBELUMNYA (KE-23) bisa di baca di SINI

=======

🌼 Kaidah yang ke 24 🌼

Mereka menetapkan bahwa MAKSUD TUJUAN SYARI’AT itu 3:

1⃣ Menolak Mafsadat
2⃣ Mendatangkan Maslahat
3⃣ Berjalan di atas jalan yang baik dan kebiasaan yang bagus.

👉🏼 Adapun yang pertama yaitu MENOLAK MAFSADAT ini berhubungan dengan 6 perkara;

1.  Agama
Sebagaimana Allah berfirman [QS Al-Baqarah : 193]

‎وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّىٰ لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ لِلَّهِ ۖ

Perangilah mereka sampai tidak lagi ada fitnah dan agama menjadi milik Allah Subhanahu wa Ta’ala

2.  Jiwa
Sebagaimana Allah berfirman [QS Al-Baqarah : 179]

‎وَلَكُمْ فِي الْقِصَاصِ حَيَاةٌ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ

Bagi kalian dalam qishaash itu terdapat kehidupan, hai orang-orang yang memiliki pikiran

3.  Akal
Allah Subhanahu wa Ta’ala mengharamkan arak karena untuk mencegah akal.

4.  Nasab
Allah mengharamkan zina karena untuk menjaga di nasab

5.  Kehormatan
Allah berfirman [QS Al-Hujurat : 12]

‎وَلاَ يَغْتِبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا

Janganlah sebagian kalian mengghibahi yang lainnya_
Karena ini berhubungan dengan kehormatan.”

‎6.  الـمـال (Harta)
Allah berfirman [QS An-Nisaa : 29]

‎يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian memakan harta kalian dengan kebatilan diantara kalian

Jadi inilah 6 perkara yang berhubungan dengan maksud yang pertama yaitu DAFUL MAFAASID (mencegah mafsadat).

👉🏼 Maksud yang ke dua yaitu JALBUL MASHAALIH  (mendatangkan maslahat)

Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala mensyari’atkan semua segala sesuatu yang sifatnya maslahatnya besar untuk kehidupan manusia.
Allah berfirman “contohnya” [QS Al-Jumu’ah : 10]

‎فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ

Apabila telah selesai sholat, bertebarlah di muka bumi dan carilah karunia Allah berupa rezeki
Karena itu adalah merupakan maslahat untuk mereka.

Allah juga berfirman [QS An-Nisa’ : 29]

‎إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ

Kecuali apabila itu adalah perdagangan yang kalian saling ridho padanya
Yaitu kemaslahatan karena perdagangan adalah merupakan maslahat.

Demikian pula semua maslahat di perintahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Dan semua mafsadat dilarang oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

👉🏼 Maksud yang ke tiga yaitu:
Akhlak yang baik dan adat kebiasaan yang bagus, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala menganjurkan kita untuk berakhlak yang baik.

Allah berfirman [QS Al-Qalam : 4]

‎وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ

Sesungguhnya engkau wahai Muhammad diatas akhlak yang baik

Dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun juga dalam hadits yang banyak menganjurkan kita kepada akhlak karimah yang baik, kebiasaan-kebiasaan yang baik dalam kehidupan kita.
Nah inilah daripada TUJUAN DI SYARI’ATKANNYA SYARI’AT ISLAM, sungguh sangat mulia sekali.

Dimana tidak ada agama yang lebih mulia dari agama Islam yang tujuannya yang tiada lain adalah untuk memelihara kehidupan manusia, memberikan kepada mereka maslahat-maslahatnya dan menolak dari mereka hal-hal yang bisa merusaknya.

👉🏼 Maka Islam menganjurkan kita untuk senantiasa berakhlak yang baik terhadap tetangga, terhadap saudara, terhadap penguasa, terhadap ulama, apalagi kepada orangtua. Terlebih juga akhlak kita kepada Allah Rabbul ‘Izzati wal Jalalah.

Wallahu a’lam 🌴

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.

Silahkan bergabung di Telegram Channel : https://t.me/aqidah_dan_manhaj

Artikel TERKAIT :
DAFTAR LENGKAP PEMBAHASAN – Al Ishbaah – Manhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN

Sunnah Yang Terlupakan : Sholat Setelah Bersiwak Lebih Utama Daripada 70 Roka’at Tanpa Ber-Siwak

Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى berikut ini : (tunggu hingga audio player muncul dibawah ini:

Baca Takhrij Hadits tentang siwak : http://cintasunnah.com/takhrij-hadits-keutamaan-shalat-dengan-bersiwak/

ARTIKEL TERKAIT
Keutamaan Sholat Dengan Bersiwak…
Apakah Sikat Gigi Termasuk Siwak..?

Ikuti terus channel :
https://t.me/bbg_alilmu
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://t.me/kaidah_ushul_fiqih

Apakah Sikat Gigi Termasuk Siwak..?

Sebagian ulama berpendapat tidaklah dikatakan bersiwak dengan sikat gigi adalah sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam karena siwak berbeda dengan sikat gigi. Siwak memiliki banyak kelebihan dibandingkan sikat gigi.

Namun pendapat yang benar bahwasanya jika tidak terdapat akar atau dahan pohon untuk bersiwak maka boleh kita bersiwak dengan menggunakan sikat gigi biasa karena illah (sebab) disyariatkannya siwak adalah untuk membersihkan gigi. Bahkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah besiwak dengan jarinya ketika berwudhu, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ali Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam

أدْخَلَ أضصْبِعَهُ عِنْدَ الْوُضُوْءِ وَ حَرَّكَهَا

Beliau memasukkan jarinya (ke dalam mulutnya-pent) ketika berwudlu dan menggerak-gerakkannya”. [Hadits riwayat Ahmad dalam musnadnya 1/158. Berkata Al-Hafizh dalam talkhis 1/70 setelah beliau membawakan hadits-hadits tentang siwak dengan jari yaitu dari hadits Anas Radhiyallahu ‘anhu dan Aisyah dan selain keduanya :”Dan hadits yang paling shahih tentang siwak dengan jari adalah hadits yang dikeluarkan oleh Imam Ahmad dalam musnadnya dari hadits Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu”] [Syarhul Mumti’ 1/118-119]

Dan bersiwak dengan menggunakan akar atau dahan pohon adalah lebih baik dan lebih mengikuti sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam karena memiliki faedah yang banyak dan bisa digunakan setiap saat serta bisa dibawa kemana-mana. Namun anehnya banyak kaum muslimin yang merasa tidak senang jika melihat orang yang bersiwak dengan akar atau dahan pohon, padahal tidak diragukan lagi akan kesunnahannya. Mereka memandang orang yang bersiwak dengan akar kayu dengan pandngan sinis atau pandangan mengejek. Apakah mereka membenci sunnah yang sering dilakukan dan dicintai oleh Nabi Shallallawau alaihi wa salam bahkan ketika akhir hayat beliau? Tidak cukup hanya dengan membenci, merekapun memberikan olok-olokan yang tidak layak sampai-sampai mereka mengatakan orang yang bersiwak adalah orang yang jorok.

Sumber: https://almanhaj.or.id/2756-s-i-w-a-k.html

3. Hikmah Dalam Berdakwah… Faedah Ceramah Syaikh Pof. DR. Ibrahim ar Ruhaily…

Simak Ustadz Ahmad Zainuddin Al Banjary Lc, حفظه الله تعالى dalam rangkuman ceramah Syaikh Prof. DR. Ibrahim bin Amir Ar Ruhaily, حفظه الله تعالى berikut ini :

(tunggu hingga audio player muncul dibawah iniIkuti terus channel :
https://t.me/bbg_alilmu
https://t.me/aqidah_dan_manhaj

Simak Artikel Terkait (berikut ini):
1. Hakikat Hikmah – Faedah Ceramah Syaikh Prof. DR. Ibrahim Ar Ruhaily

2. Hikmah Dalam Menuntut Ilmu – Faedah Ceramah Syaikh Prof. DR. Ibrahim Ar Ruhaily

Daurah Syar’iyyah di Surakarta, Jawa Tengah pada Rabu, 22 Rabi’ul Akhir 1439 / 10 Januari 2018

Courtesy of Radio Rodja

2. Hikmah Dalam Menuntut Ilmu… Faedah Ceramah Syaikh Prof. DR. Ibrahim Ar Ruhaily

Simak Ustadz Ali Nur Lc, حفظه الله تعالى dalam rangkuman ceramah Syaikh Prof. DR. Ibrahim bin Amir Ar Ruhaily, حفظه الله تعالى berikut ini :

(tunggu hingga audio player muncul dibawah iniIkuti terus channel :
https://t.me/bbg_alilmu
https://t.me/aqidah_dan_manhaj

Simak Artikel Terkait (berikut ini):
1. Hakikat Hikmah – Faedah Ceramah Syaikh Prof. DR. Ibrahim Ar Ruhaily

3. Hikmah Dalam Berdakwah – Faedah Ceramah Syaikh Prof. DR. Ibrahim Ar Ruhaily

Daurah Syar’iyyah di Surakarta, Jawa Tengah pada Rabu, 22 Rabi’ul Akhir 1439 / 10 Januari 2018

Courtesy of Rodja

1. Hakikat Hikmah… Faedah Ceramah Syaikh Pof. DR. Ibrahim ar Ruhaily…

Simak Ustadz Fachruddin Nu’man Lc, حفظه الله تعالى dalam rangkuman ceramah Syaikh Prof. DR. Ibrahim bin Amir Ar Ruhaily, حفظه الله تعالى berikut ini :

(tunggu hingga audio player muncul dibawah iniIkuti terus channel :
https://t.me/bbg_alilmu
https://t.me/aqidah_dan_manhaj

Simak Artikel Terkait (berikut ini):

2. Hikmah Dalam Menuntut llmu – Faedah Ceramah Syaikh Prof. DR. Ibrahim Ar Ruhaily

3. Hikmah Dalam Berdakwah – Faedah Ceramah Syaikh Prof. DR. Ibrahim Ar Ruhaily

Daurah Syar’iyyah di Surakarta, Jawa Tengah pada Rabu, 22 Rabi’ul Akhir 1439 / 10 Januari 2018

Courtesy of Radio Rodja

Di Bela-Belain…

FENOMENA NYATA yang ada di sekitar kita:

Acara arisan dibela-belain hadir

Jalan-jalan keluar kota dibela-belain ikutan

Olahraga ini dan itu dibela-belain ikut serta

Ada sepeda santai juga dibela-belain daftar

Makan bareng di luar pun dibela-belain gabung

Kegiatan ini itu benar-benar dibela-belain bisa ikutan

Untuk nonton bola/batminton, dll. on-line dibela-belain beli kuota internet

Langganan koran setiap hari juga dibela-belain, dst.

Terkadang sampai keluar biaya tidak sedikit, bisa jadi sampai izin cuti kerja, hingga hal yang lebih penting benar-benar terlalaikan. Namun, ada satu hal yang tidak dibela-belain, apa itu ? Urusan akhirat; beli buku-buku agama, hadir di majelis-majelis ilmu, melancarkan bacaan al-Quran, keluar kota untuk menuntut ilmu, beli kendaraan untuk menghadiri taman-taman surga, dan hal-hal lainnya yang berkaitan dengan agama.

Padahal, perkara agama jauh lebih penting dan utama dari pada urusan dunia. Akhirat akan kekal abadi, semantara dunia akan fana dan sirna.

SEMESTINYA, YANG PENTING untuk dibela-belain itu:

Sekali, dua kali atau lebih ambil cuti kerja untuk menghadiri majelis ilmu; yang dekat dan yang jauh

Beli alat tulis, rekam, dst. untuk menuntut ilmu

Sebagian gaji bulanan dibelikan buku agama, seperti setiap bulan belanjakan Rp. 100.000 atau lebih

Beli mobil tuk menghadiri majelis ilmu, ajak serta-merta keluarga, sahabat dan tetangga untuk menghadirinya

Beli kuota internet untuk menyimak kajian-kajian Islam

Asah terus bacaan al-Quran hingga benar-benar lancar. Hafalan surat-surat pendek pun sangat perlu untuk terus ditambah

Kerjakanlah ini itu dari perkara agama. Benar-benar dibela-belain untuk bisa mengerjakannya, lalu dirutinkan.

Jika anda sudah mengerjakannya, maka alhamdulillah, pujilah Allah semata dan bersyukurlah kepada-Nya. Kemudian yang diperlukan adalah dibela-belain untuk istiqomah mengerjakannya.

Jika belum melakukannya, maka usahakan untuk dilakukan dan perlu dibela-belain untuk bisa melakukannya.

Kalau ada yang bilang, “Ngurus amat, ente. Nafsi-nafsi ajalah!” Maka perlu diketahui, bahwa ini adalah nasihat. Bila baik, maka hak nasihat kebaikan adalah diterima dan diamalkan. Bila tidak baik, abaikan dan lupakan saja.

Semoga Allah membimbing kita semua untuk istiqomah di atas agama-Nya.
.
.
Ustadz Muhammad Sulhan Jauhari, Lc., M.H.I.,  حفظه الله تعالى

ICC DAMMAM KSA, Divisi Bahasa Indonesia

Rasanya Tuh Gitu, Makanya…

Orang yang terlahir dalam kondisi kaya, sering kali tidak bisa memahami bagaimana perasaan orang miskin, akibatnya ia begitu mudah terpleset di jurang kemiskinan.

Orang yang terlahir dalam dalam kondisi muslim, sering kali kurang mampu memahami bagaimana cara berpikir dan derita orang kafir, akibatnya ia sering lengah dan tanpa disadari telah terjerumus dalam kekufuran.

Orang yang terlahir dalam kondisi aman, sering kali kurang bisa memahami bagaimana susahnya hidup di negri yang kacau balau, sehingga ia begitu mudahnya membuat kegaduhan.

Dan demikan seterusnya.

Kenapa semua itu bisa terjadi ?

Itu semua terjadi karena kebodohan dan kerdilnya akal manusia. Manusia sering kali hanya berpikir searah, terlebih yang sesuai dengan kenyamanannya. Namun anehnya, kenyamanan yang ia rasakan bila berkepanjangan sering kali dianggap membosankan, dan akhirnya coba coba atau penasaran, atau kurang peduli, bahkan dianggapnya tiada artinya alias remeh.

Akal manusia sering kali butuh pembanding untuk bisa memahami hakekat dan nilai setiap urusan.

Anda baru menyadari arti istri anda di saat dia sakit atau safar atau bahkan setelah anda mengusirnya pulang ke rumah orang tuanya.

Anda baru bisa memahami arti kesehatan bila anda telah menderita sakit.

Anda bisa menghargai teman bila sedang dalam kesepian.

Sebaliknya, Anda bisa saja merindukan hadirnya kesepian bila anda sedang pusing dengan kesibukan apalagi merasa dibuat repot oleh banyaknya teman.

Anda bisa merasakan nikmatnya hidup menjomblo bila sedang puyeng diuprak uprak oleh istri atau dicerewetinya.

Jadi sebenarnya hadirnya teman, istri, dan lainnya, itu nikmat atau petaka ya?

Bingung…….

?? Ya, itulah dunia, semu dan sementara, nikmat hanya terasa sementara dan deritapun sejatinya juga sementara, hanya akhirat yang kekal.

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى

Itulah Majelis Rasulullah…

Shahabat Handzolah bercerita:

كُنَّا عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرْنَا الْجَنَّةَ وَالنَّارَ حَتَّى كَأَنَّا رَأْيَ الْعَيْنِ فَقُمْتُ إِلَى أَهْلِي وَوَلَدِي فَضَحِكْتُ وَلَعِبْتُ

Kami berada di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau pun menceritakan kepada kami tentang surga dan neraka sehingga seakan-akan kamui melihatnya dengan mata kepala saya sendiri. Namun setelah kami menemui istri dan anak-anakku, maka akupun kembali tertawa dan bercanda… sampai akhir hadits. Diriwayatkan oleh imam ibnu Majah dan Muslim dan ini adalah lafadz ibnu Majah.

Perhatikan saudaraku..
Majelis rasulullah bukanlah majelis gelak ketawa..
tapi majelis yang mengingat neraka dan surga..
majelis yang membuat hati takut kepada Allah..
Dan membuat ingat tentang hakekat kehidupan..
Maka bila anda mendapati sebuah majelis taklim yang dipenuhi gelak ketawa..
Maka itu hakekatnya adalah majelis untuk mengeraskan hati..
karena Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda..

إياكم وكثرة الضحك فإن كثرة الضحك تميت القلب

Jauhilah olehmu banyak tertawa, karena banyak tertawa itu dapat mematikan hati.” HR Ahmad..

Namun sayang di zaman ini..
majelis tertawa lebih disukai oleh banyak manusia..
Padahal tujuan majelis taklim adalah agar menjadikan manusia takut kepada Allah dan mengingat kehidupan akherat.

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Itulah Tawadlu’…

Yahya bin Ma’in berkata, “Aku belum pernah melihat orang seperti Ahmad bin Hanbal. Aku menemaninya selama 50 tahun, ia tak pernah membanggakan keshalihan dan kebaikannya.”
Ia suka berkata, “Kita ini kaum yang miskin (faqir kepada rahmat Allah. Pent)”

Kami pernah melihatnya singgah di pasar Baghdad lalu ia membeli kayu bakar dan memikulnya di pundak.
Ketika orang orang di pasar mengetahuinya, maka para pemilik toko meninggalkan toko tokonya demikian juga para pedagang untuk menyalaminya sambil berkata, “Biar kami saja yang membawanya.”

Maka tangan beliau bergetar, wajahnya memerah dan air matanya berlinang seraya berkata, “Kami adalah kaum yang miskin, kalau bukan karena Allah menutupi aib kami tentunya mereka mengetahui aib kami.”

(Hilyah Auliya 9/181)

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى