Category Archives: Rochmad Supriyadi

Tarbiyah Di Masa Salaf…

Ust. Rochmad Supriyadi, Lc حفظه الله تعالى

Alhamdulillah, wassholatu wassalamu ala Rosulillah, wa ba’du;  

Allah Ta’ala telah memberikan kemuliaan kepada Nabi muhammad Sallallahu alaihi wa sallam dengan wahyu dan diutus kepada seluruh umat manusia sebagai sosok pendidik dan murobbi yang membawa kabar peringatan dan kabar gembira, menerangi umat dengan cahaya, sehingga membawa perubahan dan tersebar nya kebenaran dan keadilan. 

Para sahabat radhiyallahu anhum telah menimba ilmu dan berguru sehingga menjadi umat terbaik sebagai mana disaksikan didalam Al-Qur’an Al-Karim, dan diikuti umat setelah mereka dari kalangan para Ta’biin dan Atba’ Ta’biin sehingga meraih keridhoan Allah Ta’ala.

Adapun generasi akhir, muncul perubahan dan sengaja mengubah, sehingga mengutamakan dunia atas akhirat nya, dan terjerumus ke dalam larangan dan meninggalkan kewajiban hingga menyeret mereka kedalam kehinaan dan kemunduran sehingga musuh musuh islam berlomba menyerbu dan menguasai mereka.

Tiada jalan kembali untuk meraih izzah dan kemuliaan kecuali dengan menyusuri jalan para salaf dengan kembali ke agama islam yang murni dari segala campuran, dan berpegang teguh dengan Al-Qur’an Al-Karim dan As-Sunnah An-Nabawiyah serta berpegang dengan manhaj As-Salaf As-Sholih. 

Allah Ta’ala berfirman, ” Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia “. ( QS Ar-Ra’ad 11 ). 

Perubahan seseorang tidak akan berarti kecuali selaras dengan apa yang dilakukan para generasi salaf yang disana terdapat beberapa pokok sebagai berikut :

* Menjadikan wahyu Al-Kitab dan As-Sunnah sebagai pedoman hidup dan sumber hukum yang wahyu tersebut terbebas dari segala kekeliruan, kesalahan, dan perubahan. 

* Memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan pemahaman para sahabat dan Salafus-Sholih yang telah mendapatkan rekomendasi dari Allah Ta’ala. 

* Ikhlas dalam menimba ilmu agama semata mata mencari ridho Allah Ta’ala murni karena agama yang lurus, sehingga mendapatkan keberkahan ilmu, mensucikan jiwa, dan membawa manfaat di dunia dan akhirat. 

* Mengutamakan yang paling utama yaitu mendalami pondasi dan asas akidah islam yang mencakup pengenalan terhadap Robb Yang disembah, perkara keimanan, keyakinan tentang kehidupan akhirat, mengenal Nabi Nya, dan mengenal agama Nya secara mendalam dan menyeluruh. 

Diceritakan oleh Ummul Mukminin A’isyah radhiyallahu anha, ia berkata, “Dahulu pertama kali turun ayat dari Al-Qur’an Al-Karim adalah ayat ayat pendek yang mengisahkan tentang surga dan neraka, hingga para manusia banyak masuk agama islam, diajarkan kepada mereka tentang halal dan haram, sekiranya perkara halal dan haram turun di awal ajaran islam, niscaya para manusia tatkala dilarang khomer, mereka akan berkata, “kami tidak akan meninggalkan khomer selama nya,…dan sungguh dahulu turun ayat kepada Nabi Sallallahu alaihi wa sallam ketika itu aku masih kecil sedang senang bermain, yaitu firman Allah Ta’ala, “Sebenarnya hari kiamat itulah hari yang dijanjikan kepada mereka dan kiamat itu lebih dahsyat dan lebih pahit “. ( QS Al-Qomar 46 ) .

Dan tidaklah turun surat Al-Baqarah, surat An-Nisa ‘ kecuali aku berada disamping beliau Sallallahu alaihi wa sallam “. ( HR Bukhary ). 

* Mengagungkan ilmu dan memuliakan nya, serta memahami bahwa menuntut ilmu merupakan suatu ibadah yang mulia disisi Allah Ta’ala. 

Sehingga dengan demikian akan muncul ihtirom dan penghormatan kepada para ulama dan ahli ilmu dan senantiasa beradab dan bersopan santun dihadapan mereka para pewaris Nabi Sallallahu alaihi wa sallam.

* Bersandar kepada manhaj ilmiah yang dibangun diatas wahyu dan dalil yang sohih, dan menghindari perilaku taklid, mengikuti prasangka, maupun cerita cerita yang tidak mendasar baik dalam akidah, keyakinan, ibadah, akhlak, pemikiran. 

* Menjadikan tujuan tarbiyah dan menuntut ilmu semata mata agar dapat nenggapai maqom berserah diri dan tunduk kepada perintah Allah Ta’ala, sehingga ia memiliki akidah yang kuat dan ibadah yang sempurna dan senantiasa konsisten terhadap aturan aturan agama. 

* Mengikat antara hakikat ilmiah dengan hakikat imaniyah, dan menancapkan akidah yang mendalam disela sela mengajarkan ilmu dan tarbiyah, sehingga tidak terancam larangan Allah Ta’ala dalam firman Nya, ”  Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai “. ( QS Ar-Ruum 7 ). 

* Hendaknya seorang muallim dapat memberikan kudwah hasanah bagi umatnya, sehingga antara ucapan dan perbuatan maupun tingkah lakunya tidak bertolak belakang. 

* Bersikap lemah lembut, dikarenakan tidak dijumpai lemah lembut dalam suatu urusan kecuali akan menghasi nya dan menjadikan sesuatu tersebut menjadi indah. 

Nabi Sallallahu alaihi wa sallam bersabda, ” Sesungguhnya Allah Ta’ala menyukai kelemah lembutan dalam segala urusan semua nya ” ( HR Ahmad dan Bukhary dan Muslim )

1317. Mayyit Dimakamkan 1 Minggu Setelah Wafatnya

1317. BBG Al Ilmu – 81

Tanya :
Ustadz, teman ana sekarang domisili di australia (muslim). Ada kerabatnya meninggal, baru bisa di makamkan 1 minggu kemudian karena baru ada tempat untuk di makam kan, bagaimana menurut Islam ?

Jawab :
Ust. Rochmad Supriyadi, Lc حفظه الله تعالى

Wa alaikumussalam warohmatullah wa barokatuh.
Jika pemakaman tertunda dengan tanpa sengaja maka tidak mengapa dan tidak berdosa, dikarenakan Allah Ta’ala tidak membebani seseorang hamba kecuali apa yang ia mampu.
والله أعلم بالصواب

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

Kehidupan Dunia…

Ust. Rochmad Supriyadi, Lc حفظه الله تعالى

Alhamdulillah, wassholatu wassalamu ala Rosulillah, wa ba’du; 

Kehidupan dunia merupakan kehidupan yang semu, sesuatu yang dirasa nikmat tidak lain adalah cobaan dan ujian, hidup didalam nya adalah beban, perjalanan mengarungi nya sangat terasa cepat, tidak pernah akan lepas dari suka yang lenyap, duka yang datang, angan-angan yang kosong. 

Betapa kasihan orang-orang yang menjadikan dunia sebagai tujuan akhirnya, di setiap perkara halal nya terdapat hisab dan perhitungan, barangsiapa yang menerjang haram nya mendapatkan siksa, orang yang serakah pada nya ia akan terfitnah, orang yang senantiasa butuh pada nya pasti ia akan merana, barangsiapa yang cinta pada nya akan terhina, barangsiapa yang menoleh pada nya ia akan terlena. 

Allah Ta’ala memberikan suatu gambaran tentang kehidupan dunia dalam firman Nya, “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang turun menguyur tanam-tanaman sehingga mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu “. ( QS Al Hadid 20 ).

Didalam ayat yang mulia ini, Allah Ta’ala Dzat Yang Maha Mengetahui lagi Maha Hikmah memberikan gambaran tentang kehidupan duniawi yang mana para manusia saling berebut dan berkorban untuk nya, banyak yang terfitnah pada nya, digambarkan bahwasanya kehidupan tersebut tidak lebih dari suatu permainan yang tidak menghasilkan kecuali kelelahan, perbuatan sia-sia yang menyibukkan dari perkara yang lebih penting, perhiasan yang tidak akan merubah takdir seseorang, kemegahan yang tidak pernah membahagiakan pemilik nya, dibalik itu semua kehidupan ini sangatlah cepat berlalu, segera berubah dan berpindah, ibarat guyuran air hujan yang menimpa biji-bijian sayuran yang telah ditebarkan oleh para petani, sehingga menjadi tumbuh dan berkembang dengan cepat, lebat, hijau, rimbun, kemudian menguning, layu, dan membusuk.

Hal ini adalah gambaran terang tentang hakikat dunia yang mungkin seseorang berumur puluhan tahun didunia ibarat tumbuhan yang segera layu yang tidak akan bertahan lebih dari satu tahun bahkan separuh nya.

Gambaran cepat berlalu nya kehidupan ini adalah sebagai peringatan agar kita tidak tergiur dan bernafsu untuk menguasai nya jika dibandingkan dengan kehidupan akhirat yang lebih kekal dan abadi yang didalam nya tidak pernah terlihat pandangan mata, terdengar oleh telinga, dan tidak pernah terpikirkan oleh jiwa manusia.

Kehidupan akhirat adalah kehidupan yang tidak akan bermanfaat harta benda dan keturunan, yaitu hari yang seorang karib tidak dapat memberi manfaat kepada karibnya sedikitpun, dan mereka tidak akan mendapat pertolongan, hari itu setiap manusia akan lari dari saudara nya, dari ayah dan ibunya, anak dan istrinya, masing masing memiliki urusan yang akan menyibukkan diri nya.

Manusia dalam mengarungi dunia ini terdapat dua kelompok;

Pertama :
adalah orang-orang yang sadar akan nilai kehidupan dunia sehingga ia tidak terlena, tidak menyibukkan urusan dunia dari ketaatan Tuhan nya, tidak menerjang batas dan rambu halal haram nya, ia akan lebih giat berbekal untuk akhirat nya dari dunia nya, orang-orang ini senantiasa takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, sehingga surgalah tempat kembalinya.

Kedua :
adalah orang-orang yang tidak kenal Tuhan nya, lalai akan batas dan rambu halal haram nya, mengutamakan dunia memenuhi nafsu dan syahwat nya, dan tidak berharap perjumpaan dengan Sang Pencipta nya, maka sesungguhnya neraka Jahannam merupakan tempat kembali bagi nya.

Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidupannya itu dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami, mereka itu tempatnya ialah neraka, disebabkan apa yang selalu mereka kerjakan. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, mereka diberi petunjuk oleh Tuhan mereka karena keimanannya, di bawah mereka mengalir sungai-sungai di dalam surga yang penuh kenikmatan.” ( QS Yunus 7-9 ).

Muhasabah…

Ust. Rochmad Supriyadi, Lc حفظه الله تعالى

Alhamdulillah, wassholatu wassalamu ala Rosulillah, wa ba’du; 

Allah Ta’ala berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS Al Hashr 18-19).

Didalam tafsir ayat ini dikatakan, ” Hendaknya setiap jiwa diantara kalian melihat apa yang ia siapkan untuk hari kiamat dari amalan sholih sehingga dapat menyelamatkan atau bahkan keburukan yang akan membinasakan….? 

Imam Qotadah rahimahullah berkata, “Allah Ta’ala memberikan gambaran tentang datangnya hari kiamat dan dinamakan hari esok. Sehingga baiknya hati manusia dengan bermuhasabah, dan buruk nya hati dengan meninggalkan dan menunda-nunda untuk bermuhasabah.” 

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Muhasabah ada dua jenis, yaitu sebelum beramal dan sesudah beramal. 

Adapun sebelum beramal, yaitu hendaknya ia menimbang dan berfikir secara mendalam terhadap perbuatan yang hendak ia lakukan, sehingga jelas akan manfaat yang ia dapatkan dari mudhorot yang dihasilkan sehingga sepantasnya untuk ditinggalkan.” 

Al Hassan Al Basry rahimahullah berkata, “Semoga Allah Ta’ala melimpahkan rahmat kepada seorang hamba berfikir dan merenung tatkala ia menghendaki sesuatu, jika dilakukan karena Allah, maka ia lanjutkan, dan apabila tidak karena Allah Maka ia berhenti.” 

Sebagian Ahli Ilmu memberikan keterangan, “Apabila seseorang tergerak hatinya untuk melakukan suatu amalan maka hendaknya ia menimbang dan mencermati, apakah perbuatan tersebut mampu ia kerjakan atau tidak, sekiranya ia tidak mampu maka hendaknya ia meninggalkan nya, dan sekiranya mampu untuk dilakukan, maka ia berfikir, apakah perbuatannya mendatangkan kebajikan atau keburukan, jika ternyata membawa dampak buruk maka ia tinggalkan, jika membawa manfaat dan mendatangkan kebaikan maka ia menimbang kembali, apakah niat yang mendorong untuk melakukannya adalah karena Allah Ta’ala semata atau karena semata keinginan duniawi dan pujian manusia, jika sekiranya bukan karena Allah Ta’ala maka hendaknya ia meninggalkan nya, dan sekiranya ia mengerjakan perbuatan tersebut karena Allah Ta’ala semata, maka hendaknya ia melihat, apakah perbuatan baik ini membutuhkan penolong dan dilakukan secara bekerja sama atau tidak, sekiranya membutuhkan dan tidak dijumpai rekanan untuk saling bahu membahu maka hendaknya ia menunggu kesempatan hingga ia mendapatkan nya, sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Sallallahu alaihi wa sallam untuk berjihad di Makkah sehingga memiliki kekuatan yang memadai dan pasukan yang kokoh.

Adapun muhasabah setelah selesai nya suatu amalan, maka disana terdapat tiga bagian;

@. Muhasabah dalam perkara ketaatan yang ia lalai dan terbengkalai sehingga tidak dikerjakan secara maksimal, dan dalam perkara ini mencakup enam perkara, yaitu ikhlas dalam beramal, memurnikan tujuan hanya kepada Allah Ta’ala, mutabaah kepada Nabi Sallallahu alaihi wa sallam, bertepatan dengan perilaku ihsan, sejalan dengan ridho Allah Ta’ala, dan senantiasa melakukan koreksi diri.

@. Muhasabah dalam perkara yang sekiranya ditinggalkan lebih utama daripada mengerjakan nya, yaitu suatu perkara fudhuli yang melebihi batas kewajaran, sehingga jikalau perkara tersebut dihindari dan dijauhi niscaya lebih utama dan sempurna.

@. Muhasabah dalam perkara perkara yang mubah.

1314. Dana Pensiun

1314. BBG Al Ilmu

Tanya :
Assalamu’alaikum, saya mau bertanya perihal dana pensiun. Saya bekerja di suatu perusahaan. Setiap bulan dipotong gaji saya untuk dana pensiun. Dari dana pensiun yang dikelola oleh perusahaan,setiap bulan  terdapat bunga hasil pengembangan. Pada saat saya mengambil pensiun dan mencairkan dana pensiun ada pajak atas dana pensiun tersebut. Apakah pajak atas dana pensiun bisa dibayar/diambil dari bunga hasil pengembangan dana pensiun tersebut ?

Jawab :
Ust. Rochmad Supriyadi, Lc حفظه الله تعالى

Wa alaikumussalam warohmatullah wa barokatuh.

Dana pensiun, jika terdapat riba dan potongan dan itu diluar kemampuan kita, bahkan diluar sepengetahuan kita, maka ibarat nya, itu merupakan suatu kesalahan yang kita perbuat, akan tetapi yang bertanggung jawab adalah pengelola. Dan untuk supaya bersih harta tersebut, hendaknya dikeluarkan sebahagian untuk sedekah, karena fungsi sedekah adalah membersihkan harta dari hal hal yang diluar sepengetahuan pemilik nya.

والله أعلم بالصواب

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

1313. Siapa Yang Disebut ‘ULIL AMRI MINKUM’ Di Zaman Sekarang ?

1313. BBG Al Ilmu

Tanya :
Disebut apakah JABATAN pimpinan “ULIL-AMRI-MINKUM” nya umat islam (sebagaimana terdapat dalam QS 4:59) dan siapa yang menjabatnya saat ini sekarang ?

Jawab :
Ust. Rochmad Supriyadi, Lc حفظه الله تعالى

Ulil Amri artinya yang memiliki perintah dan hal ini umum dari yang tertinggi dari penguasa negara hingga para pembantunya di tingkatan daerah kota dan desa.

والله أعلم بالصواب

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

Fitrah Manusia

Ustadz Rochmad Supriyadi, Lc, حفظه الله تعالى

Alhamdulillah wassholatu wassalamu ala Rosulillah wa ba ‘ du;

Allah Ta’ala berfirman, “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui “. (QS Ar-Ruum 30).

Al-Imam Ibnul Qoyyim Al-Jauziyah berkata dalam tafsirnya, ” Didalam ayat ini Allah Ta’ala terangkan bahwa menghadapkan wajah dengan lurus kepada Allah yaitu dengan berbuat ikhlas didalam niat dan berjuang untuk agama Nya yang dibarengi dengan rasa cinta dan pengagungan serta ibadah melalui jalan yang lurus hanya untuk mencari ridho Allah semata dan berpaling dari selain Nya.

Ini merupakan fitrah yang lurus yang telah Allah fitrahkan kepada para makhluk, sekiranya hal ini di anut, sungguh manusia tidak akan berpaling darinya, akan tetapi manusia tergoda dan terseret arus hingga merusak fitrah.

Nabi Sallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah setiap bayi yang lahir kecuali ia terlahirkan di atas fitrah, akan tetapi kedua orang tuanya yang menjadikan nya sebagai penganut yahudi atau nasrani atau majusi.”

Nabi Sallallahu alaihi wa sallam bersabda dalam hadist Qudsi, “Sesungguhnya Aku telah menciptakan para hamba ku dalam keadaan fitrah yang lurus, akan tetapi syaithon menggoda mereka hingga menjerumuskan agama mereka, mereka diajak untuk menyekutukan Aku dan mengharamkan apa yang Aku halalkan.” (HR. Muslim).

Buah Kebajikan

Ustadz Rochmad Supriyadi, Lc, حفظه الله تعالى

Alhamdulillah,  wassholatu wassalamu ala’ Rosulillah, wa ba’ du ;

Allah Ta’ala berfirman,  ” Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS. Ya-Sin 12).

Imam Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah berkata, “Didalam ayat mulia ini terkumpul dua kitab catatan amal manusia, yaitu kitab catatan amal yang telah ada sebelum diciptakan dan kitab catatan amal yang mengiringi amal perbuatan manusia.

Didalam ayat ini dikabarkan bahwa Allah Ta’ala membangkitkan manusia setelah kematian dan membalasi amal perbuatannya sebagai mana telah tercatat dalam kitab catatan amal dan memberikan balasan atas apa yang mereka tinggalkan dari jejak jejak dan bekas-bekas yang baik dan buruk yang diikuti oleh para manusia sepeninggal hidupnya.”

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Bekas-bekas dan jejak jejak mereka adalah sesuatu yang mereka contohkan dan mereka kerjakan ketika masih hidup sehingga diikuti dan ditiru oleh para manusia setelah sepeninggal nya dari perbuatan baik dan buruk, sebagaimana difirmankan, ” Pada hari itu diberitakan kepada manusia apa yang telah dikerjakannya dan apa yang dilalaikannya.” (QS. Al-Qiyamah 13).

Di sini terdapat suatu faedah yaitu bahwa Allah Ta’ala telah menulis dan mencatat amal perbuatan hamba dan buah dari amalan tersebut, seakan akan buah dan hasil amalan nya juga telah mereka kerjakan.

Diriwayatkan dari Ikrimah, Ibnu Abbas dan Anas berkata, ayat ini turun pada kabilah bani Salimah yang hendak berpindah rumah hingga dekat dengan masjid yang mana rumah mereka jauh darinya, sehingga tatkala ayat ini turun mereka mengurungkan niat mereka untuk berpindah dan mereka berkata, “Kita tetap tinggal di tempat asal kita.” (HR. Bukhary dan Muslim).

Berkata Masruq, ” Tidaklah seorang hamba melangkahkan kaki nya kecuali telah tertulis padanya suatu kebajikan atau keburukan.

Bersholawat

Ustadz Rochmad Supriyadi, Lc, حفظه الله تعالى

Alhamdulillah, wassholatu wassalamu ala’ Rosulillah, wa ba’du;

Nabi sallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Pertama kali yang akan di putuskan perkara seorang anak cucu adam adalah urusan darah.”

Diriwayatkan oleh sahabat muliya, Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, bahwa Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa mengucapkan sholawat kepadaku sekali, niscaya Allah Ta’ala mendoakan kepada orang tersebut sepuluh kali.” (HR.Muslim).

Berkata Ibnul Aroby, Sesungguhnya Allah Ta’ala telah berfirman, “Barang siapa yang datang membawa satu kebajikan maka baginya sepuluh kali lipat semisalnya.” (QS.Al-‘An’am: 160).
Di dalam ayat muliya ini diterangkan, bahwa siapa saja yang berbuat kebaikan sekali, ia akan mendapat sepuluh kali lipat balasan dari Allah Ta’ala. Demikian pula mengucapkan Sholawat untuk Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam sekali maka baginya mendapat sholawat atau do’a dari Allah Azza wa Jalla sepuluh kali. Dan do’a dari Allah adalah jauh lebih baik dan muliya dari hanya sekedar satu pahala kebajikan.

Diriwayatkan dari sahabat Abdullah Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu, dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah memiliki para malaikat yang betebaran di muka bumi yang menyampaikan salam kepadaku dari para umatku.” (HR.Ahmad dan Nasa’i).

Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hari terbaik bagi kalian adalah hari Jum’ah, hari tersebut diciptakan Adam, di hari itu ia diwafatkan, di hari itu ditiup sangkakala, dan manusia dibangkitkan, maka perbanyaklah bersholawat kepadaku, sesungguhnya sholawat kalian dihantarkan kehadapanku.” Para sahabat bertanya, “Bagaimana dihantarkan ke hadapanmu sedang engkau sudah menjadi tanah?” Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah Azza Wa Jalla mengharamkan tanah untuk memakan jasad para Nabi.” (HR.Ahmad, Abu Dawud dan Ibnu Majah)

1312. Menyemir Rambut Uban

1312. BBG Al Ilmu

Tanya :
Ustadz, mau tanya, apa hukumnya mencat rambut yang sudah beruban, ini merupakan pertanyaan dari akhwat yang ingin tampil baik didepan suaminya.

Jawab :
Ust. Rochmad Supriyadi, Lc حفظه الله تعالى

Wa alaikumussalam warohmatullah wa barokatuh.
Merubah warna rambut yang sudah putih, dibolehkan selagi bukan dengan warna hitam, akan tetapi dengan warna coklat, merah, dan semisalnya. Karena terdapat larangan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadist sohih tentang larangan mewarnai rambut dengan warna hitam.
والله أعلم بالصواب

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊