Category Archives: Mutiara Salaf

Lebih Tersembunyi Dari Langkah Semut

Syaikh Muhammad Attamimi rohimahullah berkata,

الشرك قد يقع ممن هو أعلم الناس
‏وأصلحهم وهو لا يدري،
‏كما قال رسول الله صلى الله عليه وسلم
‏”الشرك أخفى من دبيب النمل”

“Kesyirikan bisa terjadi kepada orang yang paling berilmu dalam keadaan ia tidak tahu. Sebagaimana sabda Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam, “Syirik itu lebih tersembunyi dari langkah semut..”

(Al Jawahir Al Mudhiah, 23)

Para nabi khawatir dirinya jatuh kepada kesyirikan..
Mereka berlindung kepada Allah darinya..

Karena hati itu mudah berubah ubah..
Maka janganlah kita merasa aman dari syirik..
Walaupun kita telah mempelajari tauhid bertahun-tahun lamanya..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

MUTIARA SALAF : Saat Langit Dan Bumi Menangis

Sa’iid bin Jubair rohimahullah berkata,

“Seseorang mendatangi Ibnu ‘Abbas rodhiyallahu ‘anhumaa lalu bertanya, ‘Wahai Ibnu ‘Abbas, apakah pendapatmu tentang firman Allah,

فَمَا بَكَتْ عَلَيْهِمُ السَّمَاءُ وَالْأَرْضُ وَمَا كَانُوا مُنْظَرِينَ

’Maka langit dan bumi tidak menangisi mereka dan mereka pun tidak diberi penangguhan waktu..’ (QS. Ad-Dukhan/44: 29)

Apakah langit dan bumi itu akan menangisi seseorang..?’

Ibnu ‘Abbas rodhiyallahu ‘anhumaa berkata,

“Ya.. sesungguhnya tidak ada satupun dari makhluk kecuali memiliki pintu di langit yang menjadi tempat turunnya rezeki dan tempat naiknya amal perbuatan..

Apabila seorang mukmin itu meninggal dunia maka pintu langit tempat naiknya amal dan turunnya rezeki itu ditutup. Pada saat itulah langit merasa kehilangan dan ia pun menangis..

Demikian juga bumi, ketika tempat sholatnya yang ada di bumi yang sebelumnya dipakai untuk sholat dan berdzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla juga merasa kehilangan, maka bumi pun menangis..

Sementara itu Fir’aun dan kaumnya, karena tidak ada kebaikan yang mereka lakukan di bumi, serta tidak ada kebaikan dari mereka yang naik kepada Allah ‘Azza wa Jalla, maka langit dan bumi pun tidak menangis atas (kematiannya) mereka..”

[ Al Misbaahul Muniir Fii Tahdziib Tafsiir Ibnu Katsiir – 1096 dan Tafsir Ath-Thobari 22/34 ]

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

MUTIARA SALAF : Pentingnya Menjaga Waktu

Syaikh Muhammad bin Sholeh al-‘Utsaimin rohimahullah berkata,

”Sesungguhnya dunia ini semuanya akan berlalu, segala sesuatu yang ada di dalamnya merupakan pelajaran yang berharga..

Jika engkau melihat matahari keluar di pagi hari, kemudian tenggelam di sore hari, lalu menghilang, demikian juga wujudnya seorang insan di dunia, Ia muncul kedunia kemudian akan sirna..

Demikian pula jika kita melihat rembulan, ia muncul di awal bulan dalam bentuk bulan sabit kecil, kemudian terus bertambah membesar.. maka jika telah sempurna, iapun mulai mengecil sampai kembali seperti sedia kala..

Demikian juga kalau kita perhatikan bulan demi bulan, engkau dapati seorang insan memandang kalau bulan depan masih lama datangnya..

Misalnya ia mengatakan, ‘kita sekarang ada di bulan dua belas, bulan romadhon masih delapan bulan lagi, maka alangkah lamanya..!’

Tiba-tiba ia telah melewati romadhon dengan cepatnya. Tak terasa seolah-olah (kedatangan romadhon) itu seperti waktu sesaat di siang hari..

Demikian juga umur, umur seorang insan..

Engkau dapati ia memandang kamatian itu masih lama datangnya, ia masih memiliki angan-angan, tiba-tiba tali angan-angannya telah terputus.. maka sungguh telah terluput darinya segala sesuatu. Engkau dapati ia telah dipikul orang lain diatas keranda mayat, lalu iapun dikuburkan dalam tanah..

Lalu ia berfikir, ‘kapankah terjadinya keadaanku ini..? kapankah saya sampai pada keadaan ini..?’

Dan tiba-tiba ia telah sampai kepada (ajal)nya, seolah-olah tidaklah ia hidup di dunia ini kecuali baru sore tadi atau waktu dhuha-nya.

Aku mengatakan ini agar bisa memotivasi diriku sendiri dan saudara-saudaraku untuk bersegera memanfaatkan waktu, agar tidak menyia-nyiakan waktu, biarpun sedikit, kecuali dalam keadaan kita mengetahui perhitungan kita padanya..

apakah kita sudah mendekatkan diri kita kepada Allah dengan suatu ibadah..? ataukah kita tetap di tempat-tempat kita..?

Apa jadinya keadaan kita..?

Wajib bagi kita bersegera melakukan perkara-perkara yang bermanfaat sebelum hilang kesempatan.

Betapa dekatnya akhirat dari dunia. Dahulu Abu Bakr rodhiyallahu ‘anhu sering mempermisalkan (hal ini) dengan ucapan penyair,

”Setiap kita selalu berada di dekat keluarganya, sementara kematian itu lebih dekat daripada tali sandalnya..”

Aku memohon kepada Allah untuk diriku dan kalian husnul khotimah..

Semoga Allah menjadikan urusan kita kelak lebih baik dari yang telah berlalu..

Semoga Allah menolong kita untuk bisa selalu mengingat-Nya, bersyukur pada-Nya dan memperbagus ibadah kepada-Nya.. “

[ Liqoo-ul Baabul Maftuuh 2 – 179 ]

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

Lebih Berat Dari Dosa Besar

Imam Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

الرِيَاءُ ، والعُجبُّ ، والكِبرُ ، والفَخرُ ، والخُيَلاءُ ، والقُنوطُ مِن رَحمةِ اللهِ ، واليَأسُ مِن رُوحِ اللهِ ، والأمنُ مِن مَكرِ اللهِ ، والفَرحُ والسرُورُ بِأذَى المُسلمِين ، والشَمَاتةُ بِمُصِيبَتِهم ، ومَحبَةُ أن تَشِيعَ الفَاحِشَةَ فِيهم ، وحَسدُهم عَلى مَا آتاهُم اللهُ مِن فَضلهِ ، وتَمنِي زَوالُ ذلِكَ عَنهُم أشدُّ تَحرِيمًا مِن الزِنَا ، وشُربِّ الخَمرِ ، وغَيرُهمَا مِن الكَبَائِر الظَاهِرَة ، ولا صَلاحُ للقَلب ، ولا للجَسَدِ إلا بِاجتنَابِهَا ، والتَوبَةُ مِنهَا ؛ وإلا فَهو قَلبٌ فَاسِد .

– riya,
– ujub,
– sombong,
– angkuh,
– putus asa dari rahmat Allah,
– merasa aman dari makar Allah,
– gembira dengan menyakiti kaum muslimin,
– senang ketika kaum muslimin ditimpa musibah,
– merasa suka perbuatan maksiat tersebar pada kaum muslimin,
– dengki kepada nikmat yang diberikan kepada kaum muslimin dan berharap nikmat itu hilang dari mereka,

(semua ini) lebih haram dari dosa zina, minum arak dan dosa-dosa besar lainnya yang tampak.

Hati dan jasad tidak mungkin menjadi lurus kecuali dengan menjauhinya dan bertaubat darinya. Jika tidak maka hatinya rusak.

( Madaarijus Saalikin 402/1 )

📝
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

Siapakah Orang Yang Allah Akan Berikan Madu..?

Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda,

” إذا أحبَّ اللّه عبداً عسّلَه ! “.
قالوا : ما عسّلَه ؟
قال : “يفتح اللّه – عز وجل – له عملاً صالحاً قبل موته ثمّ يقبضه عليه “.

“Jika Allah mencintai seorang hamba, maka Allah akan memberinya madu..!

Para sahabat bertanya, “Apa makna memberinya madu..?”

Beliau menjawab: “Allah akan membukakan baginya amalan sholeh sebelum matinya, kemudian Allah mematikannya di atas amalan sholeh tersebut (husnul khotimah)..”

(HR. Ahmad 17819)
Dishohihkan oleh syaikh Al-Albani dalam shohih Al-Jaami’]

● Syaikh Al-Albani rohimahullah menjelaskan,

وأمارة هذا التعسيل ، بأن يرضى عنه من حوله

“Dan tanda diberinya ‘madu’ ini, adalah tatkala orang-orang yang di sekitarnya ridho kepadanya..”

Hal ini berdasarkan riwayat yang tsabit dalam (lafazh) tambahan yang marfu’ dari Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam,

حتى يرضى عنه من حوله

“Tandanya sehingga orang-orang yang di sekitarnya ridho kepadanya..”

(Silsilah Shohihah 1114)

Rahasia Husnul Khotimah

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلَا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman ! Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan muslim..” (Aali Imron: 102)

Syaikh ‘Abdurrohman bin Nashir as-Sa’di rohimahullah menjelaskan,

“Ini adalah perintah Allah kepada hamba-hamba-Nya yang mukmin untuk bertakwa kepada-Nya dengan sebenar-benar ketakwaan dan terus-menerus dalam keadaan demikian, serta teguh dan konsisten di atas (ketakwaan) tersebut hingga datang kematian..

Sebab, siapa yang senantiasa hidup pada suatu kondisi, pasti dia pun akan meninggal pada kondisi tersebut..

Barangsiapa yang ketika sehat, kuat, dan memiliki kemampuan, senantiasa bertakwa kepada Robbnya, selalu mentaati-Nya, dan terus-menerus kembali kepada-Nya, maka Allah akan memberinya kekukuhan saat kematian mendatanginya..

Allah pun akan memberinya rezeki berupa husnul khotimah (akhir kehidupan yang baik).. ”

( Taisir al-Kariim ar-Rohmaan fii Tafsir Kalam al-Mannan, hlm. 141 )

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

Temanmu Nanti

Rosulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda tentang alam kubur,

وَيَأْتِيهِ رَجُلٌ حَسَنُ الْوَجْهِ ، حَسَنُ الثِّيَابِ ، طَيِّبُ الرِّيحِ ، فَيَقُولُ : أَبْشِرْ بِالَّذِي يَسُرُّكَ ، هَذَا يَوْمُكَ الَّذِي كُنْتَ تُوعَدُ . فَيَقُولُ لَهُ : مَنْ أَنْتَ ؟ فَوَجْهُكَ الْوَجْهُ يَجِيءُ بِالْخَيْرِ . فَيَقُولُ : أَنَا عَمَلُكَ الصَّالِحُ . فَيَقُولُ : رَبِّ أَقِمْ السَّاعَةَ حَتَّى أَرْجِعَ إِلَى أَهْلِي وَمَالِي

“Lalu datanglah kepadanya seorang laki-laki yang wajahnya indah, pakaiannya bagus, dan amat wangi. Ia berkata, “Bergembiralah dengan sesuatu yang menyenangkanmu..! Ini adalah hari yang dijanjikan untukmu..”

Ia (mayit) berkata, “Siapa kamu..? Wajahmu membawa kebaikan..”

Ia menjawab, “Aku adalah amalmu yang sholeh..”

Ia (mayit) berkata, “Ya Robb, tegakkanlah hari kiamat agar aku bisa kembali kepada keluarga dan hartaku..”

(HR Ahmad)

Al Hafizh Ibnu Rojab rohimahullah berkata,

صاحب مَن تُصاحب، فواللّٰه الذي على العرش اسْتوى لن يُصاحبك في قبرك إلّا صاحبٌ واحد، ألا وهو عملك الصّالح، فأحسن صُحبته، يحسن صُحبتك في قبرك.

“Temanilah yang akan menemanimu. Demi Allah yang beristiwa di atas ‘Arasy, tidak akan ada yang menemanimu di kuburmu kecuali satu teman saja, ia adalah amalmu yang sholeh.

Maka perbaikilah persahabatanmu dengannya, niscaya ia akan menjadi sahabatmu terbaik di kuburmu..”

(Lathooiful Ma’arif hal. 99)

📝
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

Kulit Pun Akan Bersaksi

Allah Ta’ala berfirman,

{ وَقَالُواْ لِجُلُودِهِمۡ لِمَ شَهِدتُّمۡ عَلَيۡنَاۖ قَالُوٓاْ أَنطَقَنَا ٱللَّهُ ٱلَّذِيٓ أَنطَقَ كُلَّ شَيۡءٖۚ وَهُوَ خَلَقَكُمۡ أَوَّلَ مَرَّةٖ وَإِلَيۡهِ تُرۡجَعُونَ• وَمَا كُنتُمۡ تَسۡتَتِرُونَ أَن يَشۡهَدَ عَلَيۡكُمۡ سَمۡعُكُمۡ وَلَآ أَبۡصَٰرُكُمۡ وَلَا جُلُودُكُمۡ وَلَٰكِن ظَنَنتُمۡ أَنَّ ٱللَّهَ لَا يَعۡلَمُ كَثِيرٗا مِّمَّا تَعۡمَلُونَ }

Sehingga apabila mereka sampai ke neraka, pendengaran, penglihatan, dan kulit mereka menjadi saksi terhadap mereka tentang apa yang telah mereka kerjakan.

Dan mereka berkata kepada kulit mereka, ‘Mengapa kamu menjadi saksi memberatkan kami..?’

(Kulit) mereka menjawab, ‘Yang menjadikan kami dapat berbicara adalah Allah, yang (juga) menjadikan segala sesuatu dapat berbicara, dan Dialah yang menciptakan kamu yang pertama kali dan hanya kepada-Nya kamu dikembalikan..’

Dan kamu tidak akan dapat bersembunyi dari kesaksian pendengaran, penglihatan dan kulitmu terhadapmu.

Akan tetapi kamu sangka Allah tidak mengetahui banyak tentang apa yang kamu lakukan.

Dan itulah dugaanmu yang telah kamu sangkakan terhadap Tuhanmu, (dugaan itu) telah membinasakan kamu, sehingga jadilah kamu termasuk orang yang merugi.

[ QS Fushshilat ayat 20-23 ]

● Syaikh ‘Abdurrohman As Sa’di rohimahullah berkata,

Anggota badan akan bersaksi memberatkan manusia. Setiap anggota badan akan mengatakan, ‘Saya telah melakukan ini dan itu, pada hari ini dan itu..’

Dan dikhususkan tiga anggota badan dalam ayat ini :
– pendengaran,
– penglihatan, dan
– kulit
karena mereka lah yang paling banyak berbuat dosa. Mereka yang mengerjakannya atau mereka menjadi sebab terjadinya dosa.

[ Tafsir As Sa’di ]

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

TIPS Menghadapi Celaan Manusia

Ibnu Hazm rohimahullah berkata,

الْعقْلُ وَالرَّاحَةُ وَهُوَ إِطْرَاحُ الْمُبَالاَةِ بِكَلَامِ النَّاس وَاسْتِعْمَال المبالاة بِكَلَام الْخَالِق عَزَّ وَجل، بَلْ هَذَا بَاب الْعقل والراحة كلهَا، مَنْ قَدَّرَ أَنه يَسْلَمُ مِنْ طَعْنِ النَّاسِ وَعَيْبِهِمْ فَهُوَ مَجْنُون

“Kecerdasan dan tenang (istirahat) adalah dengan sikap :

● tidak memperdulikan perkataan/komentar manusia, dan
● memperdulikan/memperhatikan perkataan sang Pencipta ‘Azza wa Jalla.

Ini adalah pintu kecerdasan dan seluruh peristirahatan. Barangsiapa yang menyangka ia bisa selamat dari celaan manusia dan cercaan mereka maka ia adalah orang gila..”

[ Al-Akhlaaq wa As-Siyar Fii Mudawaatin Nufuus hal 17 ]

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

Seandainya Merayakan Maulid Itu Suatu KEBAIKAN

Syaikh Al Albani rohimahullahu ta’ala berkata,

Seandainya “itu” (merayakan maulid) adalah kebaikan, tentunya para salafush shalih telah mengetahuinya, (karena) mereka LEBIH BERILMU daripada kita.

Dan mereka itu LEBIH SEMANGAT IBADAHNYA daripada kita. Seandainya mereka tahu “itu” kebaikan, tentu mereka telah melakukannya, tidak akan mereka menjauhinya dan meninggalkannya..”

( Al Huda wan Nuur / 94 )

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Dr. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL