MUTIARA SALAF : Menggapai Cita-Cita Dunia Dan Akhirat

Salah seorang shahabat, yaitu Imron bin Hushain rodhiyallahu ‘anhu, berkata,

ثلاث يدرك بهن العبد رغائب الدنيا والآخرة ، الصبر عند البلاء ، والرضا بالقضاء ، والدعاء في الرخاء

Tiga hal, hamba akan bisa mencapai cita-cita dunia dan akhirat dengannya:

1. Sabar ketika musibah
2. Rela dengan takdir
3. Berdo’a saat lapang

[ Az Zuhd – Imam Abu Dawud ]

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

MUTIARA SALAF : Antara Sabar, Ridho Dan Bersyukur

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rohimahullah berkata,

“Sabar (menghadapi musibah) hukumnya wajib berdasarkan kesepakatan para ulama..

Derajat yang lebih tinggi dari sabar adalah ridho terhadap ketetapan Allah. Sebagian ulama berpendapat bahwa hukum ridho saat menghadapi musibah adalah wajib. Sementara itu, ulama yang lain berpendapat hukumnya sunnah, dan inilah pendapat yang benar..

Berikutnya, tingkatan di atas ridho adalah bersyukur kepada Allah atas musibah tersebut.

Dia justru menilai bahwa musibah tersebut termasuk bagian dari nikmat Allah atasnya. Sebab, Allah menjadikan musibah tersebut sebagai sebab terhapusnya kesalahan-kesalahannya, terangkatnya kedudukannya, kembalinya kepada Allah, ketundukkannya serta kepasrahannya kepada Allah, dan sebab keikhlasannya dalam tawakalnya kepada Allah semata, juga berharapnya hanya kepada Allah bukan kepada makhluk-Nya..”

[ al-Furqon Bayna Auliya ar-Rohmana wa Auliya asy-Syaithon hlm. 143 ]

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

Ujian Harta

Al Hasan al-Bashri rohimahullah berkata,

لو شاءَ اللهُ – عَزَّ وَجَلَّ – لجعلَكُمْ أغنياءَ لا فقيرَ فيكم، ولو شاءَ لجعلَكُمُ فقراءَ ولا غَنِيَّ فيكم، ولكنِ ابْتَلَى بعضَكُمْ ببعضٍ لِيَنْظُرَ كيفَ تَعْمَلُونَ.

“Jika Allah ‘azza wa jalla berkehendak, tentu Dia akan menjadikan kalian semua kaya, tidak ada yang fakir di antara kalian..

Jika Dia berkehendak pula, Dia akan menjadikan kalian semua fakir, tidak ada yang kaya di antara kalian..

Akan tetapi, (Dia menjadikan di antara kalian ada yang kaya dan ada yang fakir) untuk menguji sebagian kalian dengan sebagian yang lain, agar Dia melihat apa yang kalian perbuat..”

(Adab al-Hasan al-Bashri wa Zuhduhu wa Mawa’izhuhu – 36)

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

MUTIARA SALAF : Kisah Seorang Pencuri

Seorang pencuri memasuki rumah Malik bin Dinar rohimahullah, kemudian dia mencari sesuatu yang bisa dia curi, akan tetapi dia tidak mendapatkan apapun.

Akhirnya dia melihat Malik bin Dinar yang sedang sholat.

Ketika Malik telah selesai dari salam dia berkata kepada pencuri tersebut, “Kamu mencari harta dunia (di tempat ini), namun kamu tidak mendapatkannya..? Apakah kamu sudah memiliki perbekalan akhirat..?”

Akhirnya pencuri tersebut mengikuti nasihat Malik bin Dinar dan duduk sejenak mendengarkan nasihat beliau hingga dia mencucurkan air matanya.

Setelah itu mereka berdua berangkat bersama ke masjid untuk sholat (berjama’ah).

Setiba di masjid, orang-orang merasa heran melihat keduanya sembari berkata, “Seorang alim besar bersama seorang gembong pencuri..? Ini tidak masuk akal..!”

Mereka kemudian bertanya kepada Malik bin Dinar kemudian beliau menjawab, “Dia datang dengan niat mencuri harta kami akan tetapi justru kami berhasil mencuri hatinya..”

[ Thoriiq Islami 2/144 – Karya Imam adz-Dzahabi rohimahullah ]

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

Kesalahan Dalam Memahami Ikhtilaf Mu’tabar

Sebagian orang memandang bahwa bila ikhtilafnya mu’tabar, berarti boleh dilakukan semua.

=====

Misalnya, “Qunut Subuh”, ketika dikatakan ikhtilafnya mu’tabar, maka kita boleh melakukan dua-duanya, yakni: boleh qunut boleh tidak, meski menurut kita pendapat yang tidak membolehkannya lebih kuat.

Sungguh ini kesalahan dalam memahami konsekuensi dari “ikhtilaf yang mu’tabar” .. kesalahan dalam hal ini akan menyeret kita kepada sikap plin-plan dan tidak konsisten dalam berpendapat, misalnya:

– Menyentuh wanita yang bukan mahram, apakah membatalkan wudhu atau tidak..?

– Membaca alfatihah bagi makmum ketika imamnya mengeraskan bacaannya, apakah wajib ataukah tidak..?

– Nikah tanpa wali, apakah boleh atau tidak..?

– Isbal, apakah boleh atau tidak..?

– Shalat berjama’ah, apakah wajib atau tidak..?

Ikhtilaf dalam masalah-masalah ini adalah mu’tabar, apakah itu berarti kita boleh melakukan dua-duanya..? Bayangkan bahayanya kesalahan pemahaman ini..!

Padahal ikhtilaf yang mu’tabar dalam fikih itu banyak .. begitu pula dalam masalah akidah.

● Yang benar bahwa seseorang tetap tidak boleh melakukan sesuatu yang bertentangan dengan dalil dalam pandangannya, meskipun ikhtilafnya mu’tabar.

● Kenyataan bahwa itu ikhtilaf yang mu’tabar, hanya mengharuskan kita untuk toleran di dalamnya dan tidak merendahkan pendapat lain .. bukan membenarkannya dan menjadikan kita boleh melakukan dua-duanya.

Karena bila ikhtilafnya bertentangan dan saling menafikan, tidak mungkin dua-duanya benar .. dan bila tidak mungkin dua-duanya benar, maka berarti salah satunya salah, dan kita tidak boleh melakukan sesuatu yang menurut kita salah.

Yang dibolehkan adalah melakukan salah satunya saja yang menurut dia dalilnya lebih kuat, wallahu a’lam.

Demikian, semoga bermanfaat dan Allah berkahi, amin.

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Syarah Kitab Tauhid : 91 – 92 – 93

Simak penjelasan berikut oleh Ustadz Mizan Qudsiyah MA, حفظه الله تعالى

91.

92.

93.

.
ARTIKEL TERKAIT
Syarah Kitab Tauhid : 94 – 95 – 96
Syarah Kitab Tauhid : KUMPULAN ARTIKEL

Pahala Haji Yang Sempurna

Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam bersabda,

مَنْ غَدَا إِلَى الْمَسْجِدِ لا يُرِيدُ إِلا أَنْ يَتَعَلَّمَ خَيْرًا أَوْ يُعَلِّمَهُ، كَانَ لَهُ كَأَجْرِ حَاجٍّ تَامًّا حَجَّتُهُ

“Siapa yang berangkat ke masjid (dan) yang ia inginkan hanyalah untuk belajar kebaikan atau mengajarkan kebaikan, maka ia akan mendapatkan pahala haji yang sempurna hajinya..”

[ HR. Ath-Thobroni – Al Mu’jam Al Kabir 8/ 94 ]

Syaikh Al-Albani menyatakan bahwa hadits ini hasan shohih, lihat Shohih At-Targhiib wat-Tarhiib, no. 86

MUTIARA SALAF: Salah Satu Cara Agar Bisa Qona’ah

Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda,

انْظُرُوا إِلَى مَنْ هو أَسفَل مِنْكُمْ وَلا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوقَكُم؛ فهُوَ أَجْدَرُ أَن لا تَزْدَرُوا نعمةَ اللَّه عَلَيْكُمْ

“Lihatlah orang yang di bawah kalian (dalam masalah dunia, -pent.) dan jangan melihat orang yang di atas kalian. Hal ini akan lebih mendorong kalian untuk tidak meremehkan nikmat Allah yang ada pada kalian..” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

● Syaikh Abdul Aziz bin Baz rohimahullah berkata,

فما من فقير إلا وهناك من هو أفقر منه، وما من مريض إلا وهناك من هو أشد مرضا منه، وما من ذي جاه إلا وهناك من هو أقل جاها منه، وهكذا المسائل الأخرى، إذا نظر إلى من دونه عرف قدر نعمة الله عليه، وكان هذا من أسباب شكره لها، وهذا في أمور الدنيا.

Tidak ada seorang fakir pun kecuali pasti ada yang lebih fakir daripada dirinya..

Tidak ada orang yang sakit, kecuali pasti ada orang yang lebih parah sakitnya daripada dirinya..

Tidak ada orang yang memiliki kedudukan, kecuali pasti ada orang yang lebih rendah kedudukannya daripada dirinya.. demikian seterusnya..

Ketika melihat orang yang lebih rendah daripada dirinya, dia akan mengetahui besarnya nikmat Allah yang ada padanya sehingga dia mensyukurinya. Melihat orang yang di bawah ini berlaku dalam urusan duniawi.

[ Syarh Kitaabul Jaami’ min Bulugh al-Maram hal. 32 ]

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

Berlomba

Al Hafidz Ibnu Rojab rohimahullah berkata,

‎فمن عجـز عن مـسابقة المـحبين
‎‏فـي مضـمارهم ؛
‎‏فلا يعجز عن مسـابقة
‎‏المذنبيــن في اسـتغفارهــم

“Siapa yang merasa lemah untuk berlomba dengan para pecinta akherat dalam amal sholeh, maka janganlah ia lemah untuk berlomba dengan para pendosa dalam memohon ampunan..”

(Lathoiful Ma’arif hal. 45)

Karena hidup di dunia ini adalah perlombaan..
Dan perlombaan terbaik adalah berlomba untuk meraih kenikmatan yang abadi..
Bukan untuk meraih kenikmatan yang fana..

Penulis,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

HADITS : Keutamaan Orang Yang Banyak Berdzikir

Imam Ahmad rohimahullah meriwayatkan dari Muadz bin Anas rodhiyallahu ‘anhu,

(( أَنَّ رَجُلًا سَأَلَهُ فَقَالَ أَيُّ الْمُجَاهِدِينَ أَعْظَمُ أَجْرًا يَا رَسُولُ اللَّه ؟ قَالَ أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ تَعَالَى ذِكْرًا ، قَالَ فَأَيُّ الصَّائِمِينَ أَعْظَمُ أَجْرًا ؟ قَالَ أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا ، ثُمَّ ذَكَرَ لَهُ الصَّلَاةَ وَالزَّكَاةَ وَالْحَجَّ وَالصَّدَقَةَ كُلُّ ذَلِكَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ : أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا ، فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ لِعُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : ذَهَبَ الذَّاكِرُونَ بِكُلِّ خَيْرٍ !! ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَجَلْ )) .

Ada seseorang bertanya, “Siapakah mujahid yang paling besar pahalanya wahai Rosulullah..?” Beliau bersabda, “Yang paling banyak mengingat Allah padanya..”

Ia berkata, “Siapakah orang berpuasa yang paling besar pahalanya..?” Beliau bersabda, “Yaitu yang paling banyak mengingat Allah padanya..”

Lalu ia menyebut sholat, zakat, hajji dan sedekah. Semua itu dijawab oleh Rosulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam, “Yang paling banyak mengingat Allah padanya..”

Abu Bakar berkata kepada Umar, “Orang yang banyak berdzikir telah pergi membawa segala kebaikan..” Maka Rosulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Benar..”

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

(( أن أفضل أهل كلِّ عملٍ أكثرهم فيه ذكراً لله عز وجل ؛ فأفضلُ الصوَّام أكثرهم ذكراً لله عز وجل في صومهم ، وأفضل المتصدقين أكثرهم ذكراً لله عز وجل ، وأفضل الحجاج أكثرهم ذكراً لله عز وجل، وهكذا سائر الأعمال))

“Sesungguhnya orang yang paling utama dari orang yang beramal adalah yang paling banyak mengingat Allah ‘Azza wajalla padanya.

Orang yang berpuasa yang paling utama adalah yang paling banyak mengingat Allah ‘Azza wajalla saat puasanya.

Orang yang yang bersedekah yang paling utama adalah yang paling banyak mengingat Allah ‘Azza wajalla.. demikian pula orang yang berhajji dan semua amal sholih..”

(Al Wabil Ash Shoyyib)

Dari www.al-badr.net

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam, حفظه الله تعالى

ARTIKEL TERKAIT
Kumpulan HADITS
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

Menebar Cahaya Sunnah