Jika Engkau Ingin Selamat

Ambil akidahmu dari Alquran dan Hadits yang shahih dan pahami keduanya sesuai pemahaman Sahabat.. bukan dari orang yang pandai DEBAT dan beretorika.

=====
Imam Malik -rahimahullah- pernah mengatakan:

كُلَّمَا جَاءَنَا رَجُلٌ أَجْدَلُ مِنْ رَجُلٍ أَرَدْنَا أَنْ نَرُدَّ مَا جَاءَ بِهِ جِبْرِيلُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“(Apakah) setiap kali datang kepada kita orang yang lebih pandai berdebat daripada orang lain, kita hendak menolak sesuatu yang dibawa oleh malaikat Jibril kepada Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam-..?!” [Dzammul kalami wa ahlihi 5/68].

Beliau juga pernah mengatakan:

كُلَّمَا جَاءَنَا رَجُلٌ أَجْدَلُ مِنْ رَجُلٍ تَرَكْنَا مَا نَحْنُ عَلَيْهِ، إِذًا لَا نزَال فِي طَلَبِ الدِّينِ

“(Apakah) setiap kali datang kepada kita orang yang lebih pandai berdebat, kita tinggalkan keyakinan kita..?! Jika demikian, berarti kita akan selamanya dalam pencarian agama..!” [Dzammul kalami wa ahlihi 5/69].

Saudaraku.. Jika engkau ingin selamat, maka ikutilah akidahnya para sahabat Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam-, sebagaimana dahulu beliau sabdakan tentang ajaran golongan yang selamat:

مَا أَنَا عَلَيْهِ وأصحابي

“Ajaran yang aku dan para sahabatku ada di atasnya..” [HR. Attirmidzi 2631, dan yang lainnya, dihasankan oleh Al-Albani].

Silahkan dishare .. semoga bermanfaat dan Allah berkahi, amin.

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Berhati-Hatilah Dengan Akidahmu

Saudaraku, berhati-hatilah dengan akidahmu..
=====
Karena semakin hari, fitnah (godaan) dalam akidah semakin besar dan kuat.. semoga Allah selalu menjaga akidah kita, amin..

Dulu banyak dari kita hanya melihat kesesatan sufi dari buku dan kitab.. Sekarang, banyak dari kita melihat sendiri bagaimana kesesatan itu keluar dari lisan mereka..

Dulu sulit percaya orang yang jahil bisa sangat PD dengan kejahilannya.. sekarang, benar-benar tampak jelas di depan mata hal itu.. itulah bahayanya jahlun murakkab (jahil ++)..

Dulu kita heran “mengapa sekaliber Imam Ahmad -rahimahullah- sampai menutup telinga” ketika melewati majlis ahli bid’ah.. sekarang kita merasakan sendiri, betapa berbahayanya retorika ahli bid’ah yang sangat menyihir pendengarnya..

Sungguh benar sabda Nabi -shallallahu alaihi wasallam-:

إِنَّ مِنَ البَيَانِ لَسِحْرًا

“Sungguh, diantara retorika ada yang benar-benar (seperti) sihir..” [HR. Bukhari: 5146]

Silahkan dishare .. semoga bermanfaat dan Allah berkahi, amin.

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Kata-Kata Yang Sangat Besar Manfaatnya

Dari-Mu dan untuk-Mu..

Sungguh ini merupakan kata-kata yang sangat besar manfaatnya untuk kita.. dengan mengingatkan diri bahwa diri kita dan semua nikmat yang ada pada kita hanya dari Allah.. dan harusnya kita persembahkan hanya untuk Allah, maka kita bisa:

1. Ikhlas dalam melakukan kebaikan.
dan ini termasuk kunci diterimanya amalan.. ini juga yang mempengaruhi besar kecilnya pahala suatu amalan.

2. Mudah dan ringan melakukan kebaikan.
Karena seringkali beratnya suatu amalan disebabkan oleh perasaan bahwa apa yang kita lakukan adalah karena sebab kita, bukan karena sebab Allah. Padahal sebenarnya semuanya sebabnya adalah Allah, tanpa Allah kita tidak bisa mendapat apapun, dan tanpa Allah kita tidak bisa melakukan apapun.

3. Terhindar dari ujub dan sombong.
Karena kita sadar, semua kelebihan kita adalah titipan dari Allah.. dan semua keberhasilan kita adalah karena sebab Allah, lalu apa yang kita banggakan dan apa pula yang kita sombongkan.. jika bukan karena-Nya, kita bukan apa-apa..!

Silahkan dishare.. semoga bermanfaat dan Allah berkahi, amin.

Penulis,
Ustadz Dr. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Bersegeralah Dalam Melakukan Kebaikan

Seandainya untuk melakukan kebaikan, istri Firaun harus menunggu runtuhnya kerajaan Firaun atau berubahnya keadaan Firaun, tentu dia tidak pantas mendapatkan taufiq untuk berdo’a:

رَبِّ ٱبۡنِ لِی عِندَكَ بَیۡتࣰا فِی ٱلۡجَنَّةِ

“Wahai Rabb-ku, bangunkanlah untukku di sisi-Mu rumah di Surga..” [QS. At-Tahrim: 11].

Orang-orang yang berjuang melakukan perbaikan, mereka tidak memilih zaman hidupnya, tapi mereka tahu bagaimana memenuhi lembaran-lembaran kehidupannya..

Buatlah kemuliaanmu di sisi Allah, dan bangunlah istanamu di akherat untuk selamanya..!

Sungguh Dzat yang memilihkan zaman hidup untukmu, tentu Dia juga memberikanmu potensi-potensi yang bisa menjadikanmu kuat dan istimewa..

[Pesan terbaik yang kubaca hari ini]

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Dzikir Pengampun Dosa

semoga Allah memberikan kemudahan kepada kita semua untuk mengamalkan dzikir ini..

Kapan membacanya..?

Jawab: ini termasuk dzikir mutlak, yaitu dzikir yang tidak terkait dengan waktu, jumlah, tempat dan keadaan.. jadi silahkan bila hendak membacanya beberapa kali dan waktunya juga bebas kapan saja, wallahu a’lam
.

MUTIARA SALAF : Mempersiapkan Diri

Ibnul Jauzi rohimahullah berkata,

“Sungguh dungu, orang yang tidaklah tahu kapan mati mendatanginya, tapi dia tidak mau menyiapkan diri untuk menghadapinya. Dan manusia yang paling lalai adalah orang yang usianya itu sudah melewati 60 tahun dan mendekati 70 tahun, tapi dia tetap lalai tidak mempersiapkan dirinya, padahal usia antara 60 sampai 70 tahun adalah medan perang hidup mati, dan seharusnya orang yang terjun di medan perang itu menyiapkan dirinya..”

[ Shaidul Khaathir hal 439 ]

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

Kaidah Untuk Menjawab Syubhat Amalan Bid’ah

Kaidah untuk menjawab syubhat: “tidak semua yang ditinggalkan Nabi dan para Sahabat, tidak boleh dilakukan..”

=====

Diantara syubhat yang seringkali diulang-ulang untuk membolehkan amalan bid’ah adalah: “Tidak semua yang ditinggalkan Nabi dan para Sahabat, maka harus ditinggalkan di zaman ini.. Sehingga tidak semua ibadah yang ditinggalkan Beliau dan para Sahabat, maka harus ditinggalkan di zaman ini..” misalnya:

1. Kita tidak harus meninggalkan naik mobil dan yang semisalnya .. padahal beliau dan para Sahabat tidak pernah naik mobil.

2. Kita tidak harus meninggalkan mikrofon untuk adzan .. padahal di zaman Beliau dan para Sahabat, tidak pernah ada yang adzan pakai mikrofon.

3. Kita tidak harus meninggalkan shalat Tarawih berjama’ah di masjid hingga akhir Ramadhan .. padahal di zaman Beliau tidak pernah ada Tarawih berjama’ah di masjid dari awal sampai akhir Ramadhan.

4. Kita tidak harus meninggalkan belajar bahasa Arab agar bisa memahami Ayat Allah dan Hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

SANGGAHAN:
Memang tidak semua yang ditinggalkan Nabi dan para Sahabat harus ditinggalkan di zaman ini .. Tapi semua amalan yang memenuhi EMPAT SYARAT berikut ini, maka harus kita tinggalkan di zaman ini:

1. Dia merupakan amalan ibadah.
Jika bukan ibadah, maka pada asalnya boleh dilakukan.. makanya naik mobil dan sejenisnya boleh dan tidak harus kita ditinggalkan di zaman setelahnya.

2. Dimampui oleh Nabi dan para Sahabat.
Bila tidak dimampui oleh Beliau dan para Sahabat, maka tidak harus ditinggalkan di zaman setelahnya.. makanya menggunakan mikrofon dibolehkan, karena tidak ada yang bisa adzan menggunakan mikrofon di zaman itu.

3. Tidak ada penghalang untuk melakukannya di zaman Nabi.
Bila ada penghalang untuk melakukannya di zaman Beliau, maka tidak harus ditinggalkan ketika penghalangnya sudah hilang.
Makanya, kita tidak harus meninggalkan shalat Tarawih di masjid secara berjama’ah dari awal Ramadhan hingga akhir ramadhan .. karena dahulu Beliau tinggalkan itu disebabkan adanya penghalang, yaitu kekhawatiran Allah mewajibkannya, padahal beliau tidak ingin memberatkan umatnya.. dan setelah Beliau wafat, kekhawatiran itu sudah tidak ada lagi.

4. Ada kebutuhan / dorongan untuk melakukannya di zaman Nabi dan para Sahabat.
Jika tidak ada kebutuhan / dorongan untuk melakukannya di zaman Beliau dan para Sahabat, padahal setelah itu ada kebutuhan / dorongan untuk melakukannya, maka tidak harus ditinggalkan.
Makanya, kita tidak harus meninggalkan belajar Bahasa Arab, karena Beliau dan para Sahabat tidak perlu belajar Bahasa Arab, karena itu bahasa mereka sendiri.


Intinya:
Bila 4 syarat di atas ada pada suatu amalan.. dan ternyata tidak dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para Sahabat, maka berarti amalan itu harus ditinggalkan, dan bila dilakukan jadinya bid’ah.

Sebaliknya bila salah satu dari empat syarat ini tidak terpenuhi, maka amalan itu tidak harus ditinggalkan, kecuali ada dalil lain yang menunjukkan tidak bolehnya, wallahu a’lam.

Silahkan dishare .. semoga bermanfaat dan Allah berkahi, amin.

Ditulis oleh,
Ustadz DR Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Bukti Cinta Yang Sebenarnya

“Jangan sampai kebencian kepada suatu kaum, menjadikan kalian berbuat tidak adil (zalim) kepada mereka..!” [QS. Al-Maidah: 8]

=====

Sehingga janganlah menuduh orang yang tidak ikut “Maulid Nabi”, dengan tuduhan “pasti tidak cinta Nabi” -shallallahu ‘alaihi wasallam-.

Karena seringkali alasan dia tidak ikut “Maulid Nabi” adalah karena “cinta yang sangat tinggi” kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Mungkin ada yang heran, mengapa karena “cinta Nabi”, seseorang malah meninggalkan “maulid Nabi”..?

Jawabannya:

Karena menurut dia bukti cinta yang sebenarnya adalah “mengikuti apapun yang dikatakan oleh orang yang dia cintai..”

Ketika dia sangat mencintai Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- .. dan dia tahu beliau mengatakan “Jauilah perkara-perkara baru dalam agama (bid’ah)..”, dia juga tahu hadits: “Perkara paling buruk dalam agama adalah perkara-perkara baru dalam agama (bid’ah)” .. kemudian dia melihat bahwa ritual maulid itu bid’ah, karena tidak pernah dilakukan, baik oleh Nabi, para sahabat, para tabiin, maupun para tabi’ut tabiin .. maka konsekuensinya dia akan meninggalkan “Maulid Nabi” .. bukan karena dia tidak “cinta Nabi”, justru dia tinggalkan itu, karena dia “sangat mencintai beliau” -shallallahu ‘alaihi wasallam-.

Oleh karenanya, jangan zalimi saudaramu dengan tuduhan “tidak cinta kepada Nabi” shallallahu ‘alaihi wasallam, sedangkan dia sangat sadar akan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

لا يؤمن أحدكم حتى أكون أحب إليه من والده وولده والناس أجمعين

“Tidak sempurna iman salah seorang dari kalian, sehingga aku lebih dia cintai melebih orang tuanya, anaknya, dan manusia semuanya..” [HR. Bukhari dan Muslim].

Kenyataannya setiap muslim yang ikhlas, dia pasti mencintai Nabi -shallallahu alaihi wasallam-, hanya saja bentuk cintanya bisa berbeda sesuai dengan latar belakang ilmu masing-masing.

Jangan sampai “maulidmu” menjadikanmu menzalimi saudaramu..!

Ingat sabda Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam-: “Sungguh kezaliman akan mendatangkan banyak kegelapan kepadamu di hari kiamat nanti..!” [HR. Bukhari dan Muslim].

Silahkan dishare, semoga bermanfaat dan Allah berkahi.

Ditulis oleh,
Ustadz DR Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

MUTIARA SALAF : Tidak Memberikan Mudhorot Selama Engkau Tidak Perdulikan

Syaikh ‘Abdurrohman bin Nashir As Sa’di rohimahullah berkata,

ومن الأمور النافعة أن تعرف أن أذية الناس لك وخصوصاً في الأقوال السيئة، لا تضرك بل تضرهم، إلا إن أشغلت نفسك في الاهتمام بها، وسوغت لها أن تملك مشاعرك، فعند ذلك تضرك كما ضرتهم، فإن أنت لم تضع لها بالاً لم تضرك شيئاً.

“Di antara perkara bermanfaat yang perlu engkau ketahui, bahwa gangguan orang-orang kepadamu, khususnya berupa ucapan jelek, tidak memberikan mudhorot (bahaya/kerugian) bagimu, namun justru memberikan mudhorot bagi mereka.

Kecuali, jika engkau sibukkan dirimu dengan memperhatikannya dan engkau biarkan ucapan itu mengendalikan kemarahanmu. Saat itulah, ucapan itu akan memberikan mudhorot  bagimu sebagaimana memberikan mudhorot bagi pelakunya.

Jika engkau tidak memperdulikannya, ucapan jelek itu tidak akan memberikan mudhorot bagimu sama sekali..”

[ Al Wasailul Mufidah lil Hayatis Sa’idah – 30 ]

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

Tingginya Rasa Takut Kepada Allah Ta’ala

Gambaran betapa tingginya rasa takut kepada Allah ta’ala .. padahal keadaan agamanya sangat istimewa.
=====

Diceritakan oleh Imam Bukhari -rahimahullah-:

“Suatu ketika Hammad bin Salamah menjenguk Sufyan Ats-Tsauri (seorang ulama besar ahli hadits dari generasi tabi’ut tabi’in, wafat 97 H) saat beliau sakit..

Maka Sufyan Ats-Tsauri mengatakan: “Wahai Abu Salamah (kun-yah Hammad), apakah Allah MAU MENGAMPUNI orang sepertiku..?”

Maka Hammad mengatakan: “Demi Allah, jika aku diminta memilih antara dihisab oleh Allah dengan dihisab oleh kedua orangtuaku, tentu aku memilih dihisab oleh Allah daripada dihisab oleh kedua orang tuaku, karena Allah ta’ala lebih sayang kepadaku daripada kedua orang tuaku..!” [Hilyatul Auliya’ 6/251]

—————————-

Pelajaran berharga dari kisah ini:

1. Sebaik apapun agama kita, kita harus tetap takut kepada Allah.

2. Takut kepada Allah adalah tanda baiknya seseorang.

3. Pentingnya teman yang shalih dan manfaatnya yang sangat besar bagi kita.

4. Pentingnya menyeimbangkan antara khauf (rasa takut) dan roja’ (rasa harap) kepada Allah.

5. Bila kita melihat teman kita dominan rasa takutnya, maka ingatkan dia kepada kasih sayang Allah yang sangat besar kepada hamba-Nya.

Wallahu a’lam.

Silahkan dishare .. semoga bermanfaat dan Allah berkahi.

Ditulis oleh,
Ustadz Dr. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Menebar Cahaya Sunnah