Menaati Pemimpin Jika Diberi Dunia Saja

“Tiga orang yang tidak akan diajak bicara oleh Allah pada hari kiamat, Allah tidak akan melihat mereka tidak juga mensucikan mereka dan bagi mereka adzab yang pedih.

Seseorang yang mempunyai kelebihan air di padang pasir, namun ia mencegahnya dari ibnussabil yang membutuhkannya.

Dan orang yang berjual beli dengan orang lain di waktu  ‘Ashar, lalu ia bersumpah dengan nama Allah bahwa ia mengambilnya segini dan segini, lalu orang itu mempercayainya padahal tidak demikian keadaannya.

Dan orang yang membai’at pemimpinnya karena dunia, bila ia diberi oleh pemimpin ia melaksanakan bai’atnya, dan bila tidak diberi maka ia tidak mau melaksanakan bai’atnya..”

(HR Al Bukhari dan Muslim).

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

MUTIARA SALAF : Dua Macam Rezeki

Abu Hazim Salamah bin Dinar rohimahullah berkata,

“Aku memikirkan tentang rezeki ternyata aku mendapatinya dua macam. Satu untukku yang pada saatnya akan aku dapatkan, maka aku tidak bisa menyegerakannya walaupun aku berusaha mendapatkannya dengan kekuatan langit dan bumi.. dan yang satunya lagi untuk orang lain..

Jadi apa yang telah lalu tidak akan aku dapatkan, maka aku hanya mencari yang masih tersisa. Rezekiku tidak akan dimiliki oleh orang lain sebagaimana rezeki orang lain tidak akan dimiliki oleh diriku..”

[ Hilyatul Auliya’ – 7/44 ]

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

MUTIARA SALAF : Rezeki Sudah Ditetapkan

Hasan al-Bashri rohimahullah berkata,

“Wahai anak Adam.. sesungguhnya engkau tidak dapat mendahului ajalmu, dan tidak ada yang dapat menghalangimu dari rezeki yang telah ditetapkan untukmu, dan (engkau juga) tidak akan diberi rezeki yang bukan bagianmu..

Lantas, mengapa engkau terlalu berlebihan dalam bekerja (sehingga lalai dari Allah)..? atas dasar apa engkau membinasakan dirimu..?”

[ Mawaizh Lil Imam Hasan al-Bashri – 91 ]

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

Berapa Usiamu Sekarang..?

Saudaraku…
Umur adalah Nikmat Allah Ta’ala yang sangat besar… Modal untuk seluruh amal dan kebaikan… Kalau sudah tutup umur maka tidak ada lagi cerita amal …

Sayang…
Kesempatan emas ini berjalan sangat cepat dan singkat…60 / 70 Th itulah kesempatan maximum yang di berikan…

15 – 35 th… Masa gagah.. Jangan di sia-siakan…
40 – 55 th… Masa peringatan, umur yang tersisa lebih sedikit dari pada yang telah berlalu… Maka Akhirat harus lebih di utamakan…
60 – 79 th… Mendekati Finish, sudah sangat senja… insya Allah tidak lama lagi terbenam… Segera berbenah untuk meninggalkan dunia dengan fokus mensucikan diri dan menambah amal…

⚉  BILA SUDAH SAMPAI 40 TH… INILAH NASIHAT ALLAH UNTUK NYA…

(وحَتَّىٰ إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي ۖ إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ)

sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai *empat puluh* tahun ia berdoa: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhoi; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri..”
[Surat Al-Ahqof 15]

⚉  BILA SUDAH SAMPAI 60 / 70 TH… INILAH PERINGATAN ROSUL UNTUK-NYA..

لقدْ أعْذَرَ اللهُ إلى عبدٍ أحْياهُ حتى بَلغَ سِتِّينَ أو سَبعينَ سنةً ، لقدْ أعْذَرَ اللهُ إِليهِ

“Sungguh Allah telah memberikan udzur dan kesempatan kepada hambaNya yang telah di hidupkan (di panjangkan umur) sampai 60 / 70 th… Sungguh Allah telah memberikan udzur kepadanya..”
(Shohihul Jaami’. No 5118)

(*) Maksudnya.. Allah telah cukup memberikan kepadanya kesempatan untuk beramal dengan umur yang panjang… Bila di usia itu masih belum kembali ke jalan Allah… Biasanya sampai matinya tidak kembali.. Dan dia di hinakan Allah sampai akhir hayatnya dan menutup unurnya dengan su-ul khotimah.. (Na’uudzu billah)

Saudaraku…
Tidak ada yang tahu kapan Kesempatan emas ini usai.. Maka bersegeralah berbekal dengan mensucikan diri dan beramal shalih..

Semoga manfaat…

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Ismail Fachruddin Nu’man, حفظه الله تعالى

1810160636

Kontradiktif.. (pake banget)

⚫ Banyak orang yang hidup dengan gaya hidup barat.. tapi ingin mati seperti matinya para sahabat Nabi sholallahu ‘alaihi wa sallam..

⚫ Banyak orang yang hidupnya tidak ingin dengan Islam, meski hanya penampilan lahirnya.. tapi kalau mati, ingin dengan Islam lahir batin..

⚫ Banyak orang melihat bahwa mati di jalan Allah adalah sesuatu yang hebat dan mulia.. Tapi mengapa jika ada orang yang hidup di jalan Allah, dilihat ekstrim, sok suci, dan sok-sok yang lainnya..

Mari berbenah diri.. semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita semuanya, aamiin.

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA,  حفظه الله تعالى

2307171000

MUTIARA SALAF : Hakikat Dengki

Ibnul Qoyyim rohimahullahu Ta’ala berkata,

إِن الْحَسَد فِي الْحَقِيقَة نوع من معاداة الله ؛
‏فَإِنَّهُ يكره نعْمَة الله على عَبده وَقد أحبها الله.
‏وَأحب زَوَالهَا عَنهُ وَالله يكره ذَلِك .
‏فَهُوَ مضاد لله فِي قَضَائِهِ وَقدره ومحبته وكراهته

“Sesungguhnya dengki itu pada hakikatnya adalah jenis dari memusuhi Allah..

Karena ia tidak menyukai nikmat Allah kepada hamba-Nya sedangkan Allah menyukainya..
Ia suka bila nikmat itu hilang sedangkan Allah tidak menyukainya..

Maka sebenarnya ia melawan Allah dalam ketentuan dan takdir-Nya. Dalam cinta dan benci-Nya..”

(Al Fawaid hal. 158)

Saat teman kita menceritakan kenikmatan yang ia dapatkan..
Do’akanlah ia dengan keberkahan…
Dan jangan sinis atau menuduhnya riya atau pamer…
Barangkali ia ingin mengamalkan ayat: “Adapun dengan nikmat Allah maka ceritakanlah..” (Adh Dhuha: 11)

Penulis,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

Ancaman Bagi Orang Yang Memoles Dirinya Dengan Ibadah

Syaikh al-‘Utsaimin rohimahullah berkata,

“Umar bin Khottob rodhiyallahu ‘anhu mengatakan, ‘Siapa yang memoles dirinya dengan sesuatu yang tidak ada pada dirinya, niscaya Allah menampakkan keburukannya..’

Begitu pula orang yang memoles dirinya dengan ibadah, dia menampakkan kepada manusia bahwa dia seorang ahli ibadah, maka Allah ‘Azza wa Jalla pasti akan membongkarnya, semoga Allah melindungi kami dan kalian dari RIYA’..

Sepandai apapun manusia menutupi Allah tetap mengetahui, dan Dia akan membongkar kedok orang yang beramal bukan karena-Nya.. Jadi timbanglah semua amalanmu dengan perkataan ‘Umar rodhiyallahu ‘anhu ini..!”

[ Syarah Hilayatu Tholibil ‘Ilm – 49/50 ]

FIQIH Ad Da’wah – 11 – Tidak Ada Dosa Bagi Orang Yang Sudah Ber-Ijtihad Walaupun Ia Jatuh Kepada Kesalahan

Dari pembahasan kitab FIQIH Ad Da’wah ‘inda Syaikh Al Islam Ibnu Taimiyyah – Kaidah-Kaidah dan Batasan-Batasan Dalam Fiqih Berdakwah Menurut Syaikh Al Islam Ibnu Taimiyyah, yang ditulis oleh Syaikh ‘Abid bin ‘Abdillah Ats Tsubati.

PEMBAHASAN SEBELUMNYA – 10 – ‎Ijtihad Yang Diperbolehkan Tidak Boleh Sampai Menimbulkan Fitnah Dan Perpecahan Dikalangan Kaum Muslimin Kecuali Kalau Ada Kezholiman Disitu  – bisa di baca di SINI
.
=======

Alhamdulillah.. wash-sholaatu was-salaamu ‘alaa Rosuulillah…

Kita lanjutkan.. kitab qowaaid wa dhowaabit fiqih ad da’wah.. kita masuk ke..

⚉ KAIDAH KE-11 : ‎‎‎TIDAK ADA DOSA BAGI ORANG YANG SUDAH BER-IJTIHAD WALAUPUN IA JATUH KEPADA KESALAHAN

Maksudnya bahwa orang yang sudah pantas untuk ber-ijtihad dan telah menguasai alat-alat ijtihad, lalu ia ber-ijtihad dalam satu permasalahan yang diperbolehkan padanya ijtihad lalu kemudian ia jatuh pada kesalahan, maka ia tidak dianggap berdosa.

Berbeda dengan orang yang dia tidak boleh untuk ber-ijtihad karena tidak menguasai alat-alat ijtihad. Maka ketika ia be-rijtihad ia telah melakukan kesalahan karena ia bukan ahlinya.

Beliau mengatakan bahwa syariat pada sesuatu yang diketahui oleh manusia ada tiga macam :

1️⃣ Syariat yang diturunkan : yaitu yang dibawa oleh Rosulullah ‎shollallahu ‘alayhi wa sallam dari Allah Subhanahu wa Ta’ala yang jelas dalilnya.. maka ini wajib diikuti dan tidak boleh diselisihi.

2️⃣ Syariat yang mubaddal (yang diubah-ubah) : yaitu yang tidak pernah diijinkan oleh Allah dan Rosul-Nya. Ini haram untuk diamalkan.

3️⃣ Syariat yang merupakan hasil ijtihad para ulama dan tidak ada padanya nash yang qoth’iy (yang pasti) dari Allah dan Rosul-Nya. Yang seperti ini tidak boleh kita saling memaksakan pendapat kita, tidak pula saling menyindir dan yang lainnya.

DALILNYA :

⚉ Al-Baqoroh: 286

‎لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفۡسًا إِلَّا وُسۡعَهَاۚ لَهَا مَا كَسَبَتۡ وَعَلَيۡهَا مَا ٱكۡتَسَبَتۡۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذۡنَآ إِن نَّسِينَآ أَوۡ أَخۡطَأۡنَاۚ رَبَّنَا وَلَا تَحۡمِلۡ عَلَيۡنَآ إِصۡرٗا كَمَا حَمَلۡتَهُۥ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِنَاۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلۡنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِۦۖ وَٱعۡفُ عَنَّا وَٱغۡفِرۡ لَنَا وَٱرۡحَمۡنَآۚ أَنتَ مَوۡلَىٰنَا فَٱنصُرۡنَا عَلَى ٱلۡقَوۡمِ ٱلۡكَٰفِرِينَ

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir..”

⚉ Hadits: Rosulullah ‎shollallahu ‘alayhi wa sallam bersabda (yang artinya), “Janganlah seseorang dari kalian shalat ashar kecuali di Bani Quraidhoh..”

Ternyata sebagian sahabat mendapati ashar dijalan. Lalu sebagian mereka mengatakan kita tetap shalat ashar di Bani Quraidhoh. Sebagian mengatakan tidak, kita sholat dijalan saja. Karena maksud Rosulullah begini dan begitu.

Ternyata Rosulullah ‎shollallahu ‘alayhi wa sallam tidak mencela mereka satupun juga. Bukan berarti mereka semuanya benar, tidak.. Namun orang yang sudah ber-ijtihad dengan mengeluarkan semua kemampuannya dan dia memang ahlinya ber-ijtihad maka ia tidak berdosa.

⚉ Praktek didalam dunia dakwah :

➡️ Kalau ada seorang yang ‘aalim dan dia memang telah menguasai alat-alat ijtihad berupa menguasai Al Quran, menguasai Hadits, menguasai ilmu-ilmu alatnya seperti bahasa Arab, Ushul Fiqh, Kaedah Fiqh, dan yang lainnya disertai dengan keilmuan yang dalam, kemudian dia salah dalam misalnya dalam 100 permasalahan. Maka itu tidak aib.

Dan tidak boleh hanya karena salah dalam beberapa permasalahan tersebut lalu ia ditinggalkan atau ia dipenjara dan yang lainnya. Ini tidak dibenarkan. Karena siapa ulama yang tidak pernah jatuh kedalam kesalahan dalam fatwanya.

Maka kewajiban kita ketika kita melihat seseorang ber-ijtihad, kita lihat apakah dia seorang ahlinya dalam ijtihad atau tidak..?

Kalau dia memang ahli dalam ijtihad kemudian dia ber-ijtihad dalam perkara yang memang dibolehkan padanya ber-ijtihad lalu ia jatuh dalam kesalahan, kita tidak boleh menganggapnya telah berdosa atau telah tersesat jalan dan yang lainnya.

Beda dengan orang yang dia bukan ahli ijtihad.. para penuntut ilmu. Karena kewajiban mereka adalah mengikuti para ahli ijtihad dan bertanya pada para ahli ilmu. Sebab kalau mereka ber-ijtihad sendiri sementara alat-alat ijtihadnya tidak dikuasai, seringkali akan jatuh kepada kerusakan. Dan itu lebih banyak merusaknya daripada memperbaikinya.
.
Wallahu a’lam 🌻
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
.
Dari Kitab FIQIH Ad Da’wah Menurut Syaikh Al Islam Ibnu Taimiyyah, yang ditulis oleh Syaikh ‘Abid bin ‘Abdillah Ats Tsubati.
.
.
Artikel TERKAIT :
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – FIQIH Ad Da’wah ‘Inda Syaikh Al Islam Ibnu Taimiyyah – Kaidah-Kaidah dan Batasan-Batasan Dalam Fiqih Berdakwah Menurut Syaikh Al Islam Ibnu Taimiyyah
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – At Takfiir wa Dhowabithhu – Kaidah-Kaidah Dalam Pengkafiran
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Haqiiqotul Bid’ah wa AhkaamuhaaHakikat Bid’ah dan Hukum-Hukumnya
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Showarif ‘Anil HaqHal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari KEBENARAN
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Al IshbaahManhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN

AL FAWAID AL ILMIYYAH GROUP

Silahkan Menabung Untuk Masa Pensiun

Masa pensiun adalah masa non aktif dari rutinitas pekerjaan yang selama ini kita geluti dan dengannya kita mendapatkan penghidupan…

Setelah masa pensiun kita berharap gaji atau pendapatan terus bisa mengalir dan tidak putus, bahkan kita berharap bertambah banyak…

Saudaraku.. ketahuilah bahwa masa pensiun yang hakiki adalah KEMATIAN, yang memutuskan semua aktifitas amal kita di dunia…

KEKASIH KITA MENGAJARKAN KITA MENABUNG UNTUK MASA PENSIUN… Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam bersabda,

(( سبعٌ يَجري للعبدِ أجرُهُنَّ ، و هوَ في قَبرِه بعدَ موتِه :

مَن علَّمَ علمًا ،
أو أجرَى نهرًا ،
أو حفَر بِئرًا ،
أوغرَسَ نخلًا ،
أو بنَى مسجِدًا ،
أو ورَّثَ مُصحفًا ،
أو ترَكَ ولدًا يستغفِرُ لهُ بعد موتِه ))

صحيح الجامع – (3602)

“Tujuh perkara yang pahalanya akan terus mengalir sementara pelakunya di kuburan setelah wafatnya..

1⃣ Orang yang mengajarkan ilmu.
2⃣ Orang yang mengalirkan aliran air / sungai / selokan (yang dimanfaatkan oleh kaum muslimin)
3⃣ Orang yang menggali sumur (yang dimanfaatkan oleh kaum muslimin)
4⃣ Orang yang menanam kurma (atau pohon apa saja dan di manfaatkan oleh orang-orang setelahnya)
5⃣ Orang yang membangun masjid
6⃣ Orang yang mewariskan mushaf
7⃣ Orang yang meninggalkan anak yang senantiasa memintakan ampun kepada Allah untuknya setelah wafatnya.

(HR. al-Bazzar, lihat Shohihul jami’. hasan)

Semoga kita bisa mengisi salah satu atau semua tabungan-tabungan itu… Untuk masa pensiun kita.

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Ismail Fakhruddin Nu’man MA, حفظه الله تعالى

Riyadhusshalihiin Pandeglang.

Menebar Cahaya Sunnah