KITAB FIQIH – Adab Sholat Jum’at #12

Dari pembahasan Kitab Fiqih Mausu’ah Muyassaroh, yang ditulis oleh Syaikh Hussain Al Uwaisyah, حفظه الله تعالى
.
PEMBAHASAN SEBELUMNYA – Adab Sholat Jum’at #11  – bisa di baca di SINI

=======

Alhamdulillah.. wash-sholaatu was-salaamu ‘alaa Rosuulillah…

Kita lanjutkan.. masih tentang sholat Jum’at

⚉ KALAU SESEORANG MASBUK DAN HANYA MENDAPATKAN SATU ROKA’AT SAJA, apa yang ia lakukan?

⚉ Dari Abu Hurairah bahwa Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Siapa yang mendapatkan dari sholat jum’at satu roka’at maka hendaklah ia tambahkan satu roka’at lagi..” (HR Ibnu Majah)

Hadits ini menunjukkan bahwa orang yang mendapatkan satu roka’at berarti ia cukup menambahkan satu roka’at lagi.

Adapun jika ia mendapatkan imam misalnya sedang sujud diroka’at yang kedua maka hendaklah ia sholat 4 roka’at Zhuhur.

⚉ Ini berdasarkan atsar Ibnu Mas’ud ia berkata, “Siapa yang mendapatkan sholat Jum’at satu roka’at hendaklah ia tambahkan satu roka’at lagi, dan siapa yang terluput dari dua roka’at maka hendaklah ia sholat 4 roka’at..”  (HR Imam Baihaqi dan begitu pula yang dikatakan oleh Ibnu ‘Umar)

⚉ SHOLAT DALAM KEADAAN SANGAT SESAK/ PADAT

⚉ Dari Umar bin Khottob ia berkata, “apabila sangat padat hendaklah seseorang sujud diatas punggung temannya..”

⚉ Dari Ibnu Munzir dalam al-Awsath ia berkata dan dengan pendapat ‘Umar bin Khottob, “inilah kami berpendapat (yaitu seseorang sujud sesuai kemampuannya sa’at sangat padat)..”

⚉ ADAKAH QOBLIYAH JUM’AT ?

Khilaf para ulama, namun yang shohih dan rojih bahwa qobliyah Jum’at itu tidak ada, yang ada adalah sholat intidhor, berdasarkan hadist Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam bersabda,

مَنِ اغْتَسَلَ ثُمَّ أَتَى الْجُمُعَةَ فَصَلَّى مَا قُدِّرَ لَهُ ثُمَّ أَنْصَتَ حَتَّى يَفْرُغَ مِنْ خُطْبَتِهِ ثُمَّ يُصَلِّىَ مَعَهُ غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجُمُعَةِ الأُخْرَى وَفَضْلَ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ

“Siapa yang mandi jum’at kemudian mendatangi jum’at lalu ia sholat sesuai yang ditakdirkan kepadanya kemudian ia mendengarkan khutbah sampai selesai kemudian sholat bersama imam maka akan diampunilah dosanya antara jum’at itu dengan jumat berikutnya ditambah 3 hari..”  (HR Imam Muslim)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahullah berkata,
“adapun Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam maka sesungguhnya beliau tidak pernah sholat sebelum jum’at setelah adzan jum’at sama sekali, tidak pula ada sahabat yang menukilnya
karena Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam ketika duduk diatas mimbar Bilal segera adzan, ketika Bilal selesai beliau segera khutbah sehingga tidak ada kesempatan untuk sholat qobliyah..”

Demikian juga yang dikatakan oleh Ibnul Qoyyim rohimahullah dalam kitab Zaadul Ma’aad jilid 1 hal 432 beliau berkata,
“bahwa Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam keluar dari rumahnya segera naik mimbar, segeralah Bilal adzan jum’at, apabila beliau telah selesai adzan Nabi segera khutbah.. kalau seperti itu kapan waktunya para sahabat sholat sunnah ?”

Maka ini menunjukkan tidak ada qobliyah walaupun sebagian kecil ulama dari mazhab Syafi’i dan Hambali mengatakan disunnahkan qobliyah Jum’at, tetapi pendapat mereka lemah karena tidak ada dalil atau kalau kita lihat bertabrakan dengan dalil yang telah disebutkan Ibnul Qoyyim tadi.

Adapun ba’diyahnya maka dibolehkan 2 roka’at, 4, roka’at bahkan boleh 6 roka’at

▪️Adapun 2 roka’at disebutkan dalam hadits Ibnu Umar, bahwasanya, “Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam sholat jum’at kemudian pulang kerumahnya lalu sholat dirumahnya dua roka’at.. (HR Imam Muslim)

▪️Adapun 4 roka’at disebutkan dalam hadits, kata Rasulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam, “siapa yang sholat jum’at hendaklah sholat setelahnya sholat 4 roka’at..” (HR Imam Muslim)

▪️Adapun 6 roka’at dari Ibnu ‘Umar, “adalah Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam apabila ada di Mekah beliau sholat jum’at.. setelah selesai sholat jum’at beliau maju lalu sholat 2 roka’at kemudian beliau maju lagi lalu beliau sholat 4 roka’at, namun kalau beliau sholat di Madinah beliau sholat jum’at kemudian pulang kerumahnya dan sholat 2 roka’at dirumahnya, dan beliau berkata demikianlah Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam melakukannya..”  (HR Abu Daud)
.
.
Wallahu a’lam 🌻
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى 
.
.
Dari Kitab Fiqih Mausu’ah Muyassaroh, yang ditulis oleh Syaikh Hussain Al Uwaisyah, حفظه الله تعالى
.
.
ARTIKEL TERKAIT
Pembahasan Fiqih Mausu’ah Muyassaroh…
.
.
WAG Al Fawaid Al Ilmiyyah

Akibat Tidak Sabar Diatas Cobaan

Dahulu sekitar 7 tahun yang silam…
Pernah setelah sholat isya saat melangkah keluar dari masjid ada seorang wanita memanggilku, “Ustadz..”

Ku menengok, ternyata wanita setengah baya..
“Ada apa bu..?” Tanyaku.

ia berkata, “Ustadz, sebenarnya Allah itu ada apa tidak..?”

Ku tertegun mendengar pertanyaannya.
“Mengapa ibu bertanya begitu..?” Tanyaku lagi.

Ia berkata, “Sudah 16 tahun saya sakit. Dan saya sudah berobat kemana-mana dan terus berdo’a. Ternyata tak kunjung datang pengabulan doaku. Jadi sebenarnya Allah ada atau tidak..?”

Aku terdiam sambil menghela nafas panjang…
Lalu aku berkata kepadanya:
“Boleh saya bertanya..?”

“Silahkan..” Jawabnya.

“Dosa  apa yang dahulu ibu pernah lakukan..?”

Ia tertunduk. Dengan malu ia berkata, “Dahulu saya pelacur..”

“Subhanallah.. dahulu ibu sabar di atas dosa mengapa sekarang tidak sabar dengan cobaan sakit yang ibu derita..

Ibu masih diberikan kasih sayang oleh Allah, karena diberikan derita penyakit untuk menggugurkan dosa-dosa..”

Setelah itu aku pergi sambil berdo’a: “Ya Allah jangan berikan aku ujian yang meluluh lantakan keimananku kepadaMu..”

Ditulis oleh, 
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

12 Golongan Manusia Yang Di Do’akan Oleh Malaikat…

Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى berikut ini : (tunggu hingga audio player muncul dibawah ini:

Ke-1 : Orang-orang yang bertaubat kepada Allah dan mengikuti jalan Allah

==================================

Ke-2 : Orang-orang yang tidur dalam keadaan bersuci (wudhu)

==================================

Ke-3 : Orang-orang yang duduk menunggu waktu sholat di Masjid

==================================

Ke-4 : Orang-orang yang berada di shof pertama (terutama sebelah kanan)

==================================

Ke-5 : Orang-orang yang menyambung shof (barisan dalam sholat)

==================================

Ke-6 : Orang-orang yang mengucapkan ‘amiiin’ bertepatan dengan ucapan ‘aamiin’ malaikat

==================================

Ke-7 : Orang-orang yang sahur

==================================

Ke-8 : Orang-orang yang melakukan sholat shubuh dan ‘ashar berjama’ah di masjid

==================================

Ke-9 : Orang-orang yang mendo’akan saudaranya dari jauh (** lihat tambahan info terkait do’a ini – paling bawah)

==================================

Ke-10 : Orang-orang yang ber-infaq di jalan Allah

==================================

Ke-11 : Orang-orang yang menjenguk saudaranya yang sakit

==================================

Ke-12 : Orang-orang yang mengajarkan ilmu dan kebaikan

==================================

NB : terkait perkara mendo’akan orang lain, ada beberapa adabnya sebagai berikut (kllk):

  1. Awali Do’a Dengan Memuji Allah dan Ber-Sholawat Baik Di Luar Maupun Dalam Sholat…
  2. Do’a Untuk Diri Sendiri Baru Kemudian Do’a Untuk Orang Lain…
  3. Salah Satu Contoh Memuji Allah Sebelum Berdo’a…
  4. DAFTAR KOMPLIT – Artikel Kupas Tuntas Tentang (KTT) DO’A…

 

HADITS : Kabar Gembira Bagi Yang Bertaubat

Allah Ta’ala berfirman:

إِلَّا مَن تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُولَٰئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا .

“kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka itu keburukan mereka diganti Allah dengan kebaikan. Dan adalah Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang..” (Al Furqan: 70)

Rosulullah Shollallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إن الله يحاسب عبده يوم القيامة فيعرض عليه صغار ذنوبه، ويخبئ عنه كبارها. فيقال:عملت كذا وكذا، وعملت كذا وكذا، ‏فيقول:نعم،وهو مشفق من كبار ذنوبه.
‏فيقال له:فإن لك مكان كل سيئة حسنة. فيقول:رب، قد عملت أشياء لا أراها هاهنا

Allah akan menghisab seorang hamba-Nya pada hari kiamat. Allah akan menampakkan kepadanya dosa-dosa kecilnya dan menyembunyikan dosa dosa besarnya..

Lalu dikatakan kepadanya, “Kamu dahulu melakukan ini dan itu..”
Si hamba berkata, “Benar” dan ia amat ketakutan dengan dosa-dosa besarnya.

Lalu dikatakan, “Buat kamu kebaikan pada setiap kesalahan yang kamu lakukan..”
Si hamba berkata, “ya Robbi, dahulu aku pernah melakukan dosa-dosa. Kok aku tidak melihatnya di sini..?”

Perawi hadits berkata, “Aku melihat Rosulullah Shollallaahu ‘alaihi wa sallam tertawa sampai terlihat gigi gerahamnya..”

(HR Muslim)

Si hamba tersebut tidak melihat dosa-dosa besarnya karena ia telah bertaubat darinya sehingga Allah gantikan dengan kebaikan…

Namun ini bagi yang istiqomah di atas taubatnya sampai akhir hayatnya..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Ingatlah..

Allah berfirman (yang artinya),

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS 2:216)

Ingat.. kita tidak akan mampu lepas atau menghindar dari apa yang Allah ‘Azza wa Jalla telah takdirkan.. seandainya kita ridho dengan pilihan Allah maka takdir akan menghampiri kita dalam keadaan kita terpuji dan tersyukuri serta terkasihi oleh Allah..

bila tidak ridho, maka takdir tetap akan menghampiri kita dalam keadaan kita tercela dan tidak mendapatkan kasih sayang-Nya karena kita bersama pilihan
kita sendiri.. wal ‘iyadzubillah..

Ref : https://t.co/WuM4bmi1W8

*

Sudah Berapa Lama Ngaji..?

Udah berapa lama ngaji ?

وَلَا يَكُوۡنُوۡا كَالَّذِيۡنَ اُوۡتُوا الۡكِتٰبَ مِنۡ قَبۡلُ فَطَالَ عَلَيۡهِمُ الۡاَمَدُ فَقَسَتۡ قُلُوۡبُهُمۡ‌ؕ وَكَثِيۡرٌ مِّنۡهُمۡ فٰسِقُوۡنَ

“…dan janganlah mereka seperti orang-orang yang telah menerima kitab sebelum itu, mereka melalui masa yang panjang sehingga hati mereka menjadi keras. Dan banyak di antara mereka menjadi orang-orang fasik..” (Al Hadid: 16)

Abdullah bin Mas’ud berkata,

ولا يتطالن عليكم الأمد فتقسو قلوبكم ولا يلهينكم الأمل

“Janganlah panjangnya waktu membuat hati kalian menjadi keras dan jangan dilalaikan oleh angan angan..” (Shahih Jaami’ Bayan hal. 472)

Di awal ngaji hati amat khusyu’ dan terkadang menangis saat sholat dan membaca al qur’an…
Setelah bertahun tahun mengaji ternyata hati menjadi keras…
Lidah semakin tajam…

Pertanda apakah itu ???

Pertanda kita tidak bersungguh sungguh menjaga hidayah..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Sedang Ada Masalah Atau Menghadapi Sebuah Kendala..?

Sedang ada masalah atau menghadapi sebuah kendala..?

Mintalah pertolongan kepada ALLAH !

Caranya ?

Simak ayat berikut ini:

‏﴿٤٥﴾ وَٱسْتَعِينُوا۟ بِٱلصَّبْرِ وَٱلصَّلَوٰةِ ۚ

“Dan mohonlah pertolongan dengan sabar dan sholat..”
(QS. Al Baqarah: 45)

Benar saudaraku,
caranya dengan selalu bersama kesabaran; menahan diri, emosi serta nafsu agar tidak terjatuh dalam dosa
dan melanggar ketentuan ALLAH..

Dan jagalah selalu sholat wajib kita, lalu perbanyak sholat-sholat sunnah, bermunajatlah kepada ALLAH, sujudlah pada-Nya..

Mungkin ada menyeletuk: “Kalau hanya sabar dan shalat, itu sih mudah !”

Saudaraku..
Bersabar dan menjaga sholat tidak semudah yang kita bayangkan, hanya orang-orang istimewa saja yang mampu meraihnya.

Mari kita simak kelanjutan ayat diatas:

‏وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى ٱلْخٰشِعِينَ

“Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’..” (QS. Al Baqoroh: 45)

Hanya orang yang khusyu,
Hanya mereka yang rendah hati,
Hanya mereka yang tunduk serta bersimpuh di hadapan ALLAH,
Hanya mereka yang percaya dengan janji dan ancaman ALLAH
(*)

Ya, hanya merekalah yang sanggup melakukannya, dan menikmati manisnya pertolongan ALLAH.

Adapun orang meninggikan diri, mengedepankan akal, harta dan tahta di atas kekuatan dan ilmu serta taufiq ALLAH, rasanya ia akan kesulitan untuk bersabar dan menjaga sholat dan pada akhirnya pertolongan ALLAH pun tak kunjung datang.

(*) tafsir orang-orang yang khusyu’ dalam QS. Al Baqoroh: 45, Tafsir Ibnu Katsir

Ditulis oleh,
Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri,  حفظه الله تعالى

Orang Yang Suka Menghitung Hitung Musibah dan Melupakan Nikmat

Ada seorang ibu mengadu kepada saya putrinya yang murtad. Saat ditanya mengapa ia murtad..
Dia menjawab dia sudah tidak percaya kepada Allah karena ia pernah punya pengalaman buruk sama Allah…

Ya Robb.. Pengalaman yang buruk mungkin karena do’a-do’anya tak didengar…

Sungguh benar yang Allah firmankan,

إِنَّ الْإِنسَانَ لِرَبِّهِ لَكَنُودٌ

“Sesungguhnya manusia itu kepada Robbnya benar benar kanud..”

Al Hasan Al Bashri rohimahullah menafsirkan, “Kanud adalah orang banyak kufur yang suka menghitung hitung musibah dan melupakan nikmat..” (Tafsir Thobari)

Itulah cara setan agar seorang hamba menjauh dari Robbnya…

Diingatkan kepadanya tentang do’anya dahulu yang belum terkabul..
Diingatkan tentang keinginannya yang tak menjadi kenyataan…
Padahal jika Allah kabulkan bisa jadi itu mudhorot untuk hidupnya…

Demikianlah…
Bila seorang hamba yang ia pikirkan hanya kepentingan dan hak dirinya saja pasti ia akan terputus dari Allah…

Pikirkanlah hak Allah kepada kita, apakah kita telah melaksanakannya..? Yakinlah bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan hamba hamba-Nya yang beriman…

Namun…
Keyakinan seringkali goyah…

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

ARTIKEL TERKAIT

Penyimpangan Setelah Hidayah

Yang Allah Inginkan Untuk Kita

Allah berfirman,

تُرِيْدُوْنَ عَرَضَ الدُّنْيَاۖ وَاللّٰهُ يُرِيْدُ الْاٰخِرَةَۗ وَاللّٰهُ عَزِيْزٌحَكِيْمٌ ۝٦٧

“..kalian menginginkan kesenangan dunia sedangkan Allah menginginkan akherat..” (Al Anfal: 67)

Allah menginginkan akherat..
Maka Allah memberi berbagai macam ujian di dunia kepada orang orang yang beriman…
Agar mereka tidak tertipu dengan dunia..
Dan agar dengan ujian itu Allah gugurkan dosa-dosa mereka..

Namun kita seringkali menginginkan dunia..
Sehingga seringkali tak ridho dengan ujian dari-Nya..
Padahal ujian itu adalah kebaikan yang Allah inginkan untuk kita..

Penulis,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Menebar Cahaya Sunnah