Amalan-Amalan Yang Berat Timbangan Pahalanya Di Sisi ALLAH…

Simak penjelasan Ustadz Badru Salam, حفظه الله

Dari pembahasan Kitab Al-Intishar (الانتصار بشرح عقيدة أئمة الأمصار) yang menjelaskan secara gamblang tentang aqidah ahlussunnah wal jama’ah yang dihimpun dari 2 (dua) karya ulama besar, yaitu: Abu Zur’ah Ar-Razi dan Abu Hatim Ar-Razi rahimahumallah.

Perkara Yang Menjadi Jaminan Seseorang Dimasukkan Ke Surga…

Simak penjelasan Ustadz Badru Salam, حفظه الله

Dari pembahasan Kitab Al-Intishar (الانتصار بشرح عقيدة أئمة الأمصار) yang menjelaskan secara gamblang tentang aqidah ahlussunnah wal jama’ah yang dihimpun dari 2 (dua) karya ulama besar, yaitu: Abu Zur’ah Ar-Razi dan Abu Hatim Ar-Razi rahimahumallah.

Kaidah Memahami Al Qur’an Ke 22 : Membimbing Sikap Tawasuth (Pertengahan) dan Mencela Sikap Meremehkan dan Ghuluw…

Kaidah-kaidah memahami Al Qur’an yang diambil dari kitab Qowa’idul Hisaan yang ditulis oleh Syaikh Abdurrohman As Sa’diy.

Kaidah ke 22

Al Qur’an membimbing kepada sikap tawasuth (pertengahan) dan mencela sikap meremehkan dan sikap ghuluw (melebihi batas).

Allah Ta’ala berfirman:
إن الله يأمر بالعدل

“Sesungguhnya Allah memerintahkan kepada keadilan.” (An Nahl:90)

Terhadap para Nabi, Al Qur’an menyuruh untuk beriman kepada mereka, mencintai, menghormati dan mengetahui keagungan hak mereka.

Sebaliknya, Al Qur’an melarang bersikap guluw kepada mereka dengan mendudukkan mereka melebihi kedudukan mereka sebagai hamba dan nabi.

Al Qur’an mencela yahudi yang berilmu namun tidak mengamalkan ilmu. Juga mencela nashrani yang beramal tanpa ilmu. Dan memerintahkan untuk berilmu dan beramal.

Dalam masalah infaq misalnya. Al Qur’an melarang kekikiran, namun juga melarang sikap pemborosan.

ولا تجعل يدك مغلولة إلى عنقك ولا تبسطها كل البسط

“Janganlah kamu merantai tanganmu ke lehermu (kikir) dan jangan pula terlalu membukanya (boros).” (Al Isra: 29)

Dan sebagainya

Badru Salam,  حفظه الله تعالى

Kaidah Ke 23 : Perintah Untuk Menjaga Batasan-Batasan Allah …

KAIDAH MEMAHAMI Al QUR’AN – Daftar Isi LENGKAP

Pelajaran Dari Kehidupan…

Ulat itu menjijikkan
Berjalannya pun lambat menggelikan…

Tapi Sang ulat mulai berbenah, ia pun menggeliat memasuki kempompong, memenjarakan dirinya untuk merancang cita-citanya, memulai mengepakkan sayapnya, dan terbang sebagai kupu-kupu.

Ia tak lagi menjijikkan tapi indah menawan
Ia tak lagi lambat berjalan, bahkan tak berlari tapi ia terbang menggapai impian…

Terkadang langkah harus terhenti
Bahkan harus mundur ke belakang..
Bukankah anak panah akan melesat melaju ke depan sesudah ia ditarik ke belakang ?

Fadlan Fahamsyah,  حفظه الله تعالى 

Apakah Yang Kelak Ditimbang Amalannya Saja Atau Juga Orangnya…?

Simak penjelasan Ustadz Badru Salam, حفظه الله

Dari pembahasan Kitab Al-Intishar (الانتصار بشرح عقيدة أئمة الأمصار) yang menjelaskan secara gamblang tentang aqidah ahlussunnah wal jama’ah yang dihimpun dari 2 (dua) karya ulama besar, yaitu: Abu Zur’ah Ar-Razi dan Abu Hatim Ar-Razi rahimahumallah.

Apakah Hanya Ada Satu Ataukah Ada Banyak Timbangan/Al Mizan..?

Simak penjelasan Ustadz Badru Salam, حفظه الله

Dari pembahasan Kitab Al-Intishar (الانتصار بشرح عقيدة أئمة الأمصار) yang menjelaskan secara gamblang tentang aqidah ahlussunnah wal jama’ah yang dihimpun dari 2 (dua) karya ulama besar, yaitu: Abu Zur’ah Ar-Razi dan Abu Hatim Ar-Razi rahimahumallah.

Penjelasan Tentang Al Mizan/Timbangan Penghitung Amalan…

Simak penjelasan Ustadz Badru Salam, حفظه الله

Dari pembahasan Kitab Al-Intishar (الانتصار بشرح عقيدة أئمة الأمصار) yang menjelaskan secara gamblang tentang aqidah ahlussunnah wal jama’ah yang dihimpun dari 2 (dua) karya ulama besar, yaitu: Abu Zur’ah Ar-Razi dan Abu Hatim Ar-Razi rahimahumallah.

Orang Hebat Paling Hebat…

Menemukan kebenaran adalah satu “kehebatan”, namun tahukah anda bahwa mengamalkan kebenaran itu lebih hebat dibanding sekedar menemukannya?

Dan tahukah anda bahwa bersabar dalam mengamalkan kebenaran itu lebih hebat dibanding sekedar orang yang mengamalkannya? Betapa banyak orang mengamalkan kebenaran namun disertai oleh keluh kesah dan rasa keterpaksaan.

Dan tahukah anda bahwa menjadikan orang lain mengetahui kebenaran hingga akhirnya turut mengamalkan kebenaran, lebih hebat dibanding orang yang hanya mampu mengamalkan kebenaran pada dirinya sendiri?

Hebat, benar hebat, akan tetapi orang yang mampu menjaga hatinya agar tetap rendah hati ketika berhasil menjadikan orang lain mengamalkan kebenaran tentu lebih hebat lagi, karena betapa banyak orang yang berhasil menjadikan orang lain mengamalkan kebenaran akhirnya membusungkan dadanya, merasa dirinya orang paling hebat, dan hobinya nyinyir orang yang dia anggap di bawahnya. Mereka merasa bahwa dirinya benar benar hebat, lupa bahwa kebenaran yang ia amalkan dan dia ajarkan sejatinya adalah karunia Allah Ta’ala bukan kehebatan dirinya.

Sobat sadarilah bahwa hidup bersama orang orang yang berpegang teguh pada kebenaran membutuhkan kebesaran jiwa sehingga tetap rendah hati dan tabah sehingga tidak dijangkiti rasa hasad dan dengki.

Inilah kesabaran para nabi dan rasul, sabar hidup bersama orang orang baik, bukan sekedar sabar menghadapi orang orang jelek atau tatkala ditimpa musibah. Sabar mengamalkan kebenaran, dan menerima saudaranya sesama orang yang mengamalkan kebenaran, tanpa ada kesombongan atau perasaan bahwa dirinya paling hebat dibanding yang lainnya.

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُم بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا 

“Dan bersabarlah engkau bersama orang orang yang menyeru Tuhan mereka di pagi hari di di sore hari, mereka mengharapkan keridhaan Allah, dan janganlah engkau palingkan wajahmu dari mereka karena engkau mengharapkan kehidupan dunia.” ( al kahfi 28 )

Muhammad Arifin Badri,  حفظه الله تعالى 

Buah Kesombongan…

Apa hakikat kesombongan itu?

Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan kepada kita mengenai hal itu.

Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu dari Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda,

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ قَالَ رَجُلٌ إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً قَالَ إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

“ Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi.” Ada seseorang yang bertanya, “Bagaimana dengan seorang yang suka memakai baju dan sandal yang bagus?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.” (HR. Muslim no. 91)

Dari hadits diatas kita tahu bahwa hakekat kesombongan adalah *menolak kebenaran (al-Haq) dan meremehkan orang lain.*

Lantas apa buah dari Kesombongan?

Diantaranya tidak akan masuk surga sebagaimana hadits diatas, kemudian perhatikanlah hadits berikut ini:

Dari Ikrimah bin Ammar, Iyas bin salamah bin al-Akwa’ telah bercerita kepadaku, bahwa ayahnya (Salamah) pernah bercerita, ada seorang laki-laki yang sedang makan di sisi Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dengan menggunakan tangan kirinya. Lalu beliau bersabda:
كل بيمينك

“Makanlah dengan tangan kananmu.”
Orang itu menjawab: _”Tidak bisa.”_
Beliau bersabda:  

لا استطعت، ما منعه إلا الكبر

“Engkau benar-benar tidak akan bisa, tidak ada yang mencegahnya (untuk makan dengan tangan kanan) melainkan kesombongan._ Salamah melanjutkan, “Ternyata orang itu tidak bisa lagi mengangkat tangannya kemulut.” (HR.Muslim, no.2021).

Sungguh sangat pahit buah dari kesombongan itu. Semoga Allah menyelamatkan kita dari sifat tersebut. Aamiin.

Fuad Hamzah Baraba’, حفظه الله

Menebar Cahaya Sunnah