Potret Antara Anak Durhaka Dan Anak Berbakti

Dikisahakan disalah satu negara bahwa pada suatu hari di suatu majlis, tiba-tiba suara telpon berdering pada salah seorang yang hadir.
Dia membuka telpon dengan wajah masam, “Ah, ah, jangan sekarang. Aku katakan kepadamu, sudah dulu jangan sekarang. Nanti, nanti”.
Demikianlah berulang kali terucap perkataan mencela. Kami berkata, mungkin dia berbicara dengan salah seorang kerabat wanitanya.

Kemudian dia menutup teleponnya. Orang td berguman: “Perempuan tua telah mengganggu kita!”.

(Alangkah jeleknya orang yang tidak lembut ketika berbicara dengan ibunya dan tidak baik ketika mensifati ibunya).

Diapun diam dan diamlah seluruh hadirin.

Kemudian terdengarlah suara tangisan lirih dalam majlis tersebut. Ternyata salah seorang hadirin berlinang air mata.

Kami memandangnya dengan sangat keheranan, karena air mata seorang lelaki bukan perkara ringan.

Ketika dia mengetahui bahwa orang-orang di sekelilingnya memandangnya, lelaki ini berkata, “Seandainya aku melihat ibuku, seandainya aku melihat ibuku. Seandainya ibuku masih hidup dan menggangguku maka aku ingin berkata kepadanya, “Mintalah apa yang kamu sukai wahai ibunda!”.

Agar Lebih Khusyu’ Ketika Berdoa (Bag 1)

Ust Firanda Andirja Lc

اِهْدِنَا الصِّرَاطَ المُسْتَقِيْمَ

“Ya Allah berilah kami hidayah / petunjuk kepada jalan yang lurus”

Sungguh merupakan perkara yg merugikan jika doa yg sangat agung tsb, yg kita ucapkan berulang-ulang, ternyata kita hanya ucapkan dgn hambar, tanpa penghayatan yg mendalam.

Nah agar kita lebih khusyu’ tatkala mengucapkan doa yg agung tsb maka hendaknya kita merenungkan 2 perkara yaitu : Keutamaan doa & Kandungan doa.

I. Keutamaan doa :

1) Doa ini termaktub dlm surat teragung pada Al-Qur’an yaitu surat Al – Fatihah yg dikenal sebagai ‘Ummul Qur’an’ (induk / intisar Al-Qur’an)

2) Doa ini diucapkan dlm sholat yg merupakan ibadah wajib yg sangat agung

3) Doa ini minimal harus dibaca
sebanyak 17 kali dlm sehari (dalam sholat 5 waktu)

4) Bagaimana lagi jika seorang
hamba memperbanyak sholat
sunnah, maka dalam setiap rakaat ia akan membaca doa ini

5) Barang siapa yang memperhatikan posisi doa tsb dalam surat Al – Fatihah maka ia akan dapatkan bahwa doa tsb tidaklah terucapkan kecuali setelah melalui muqoddimah -muqoddimah yang sangat dahsyat, yaitu :

a. Muqoddimah pertama :
Dalam ucapan
الحمد لله رب العالمين

“Segala puji bagi Allah penguasa alam semesta”,
(mengandung pujian yg sangat
tinggi kpd Allah سبحانه وتعالى )

b. Muqoddimah kedua :
Dalam ucapan

الرحمن الرحيم

“Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”,
(berisi pengakuan hamba akan luasnya kasih sayang Allah terhadap sang hamba, bahkan kasih sayang Allah lebih dari kasih sayang seorang ibu kepada anaknya)

c. Muqoddimah ketiga:
Dalam ucapan

مالك يوم الدين

“Penguasa hari pembalasan”, (mengingatkan kpd hamba bahwasanya ada hari akhirat, hari persidangan & pembalasan amal perbuatan, tidak seorang raja dunia yg berkutik pd hari tsb, hanya Allah yg mengusai hari tersebut)

———-bersambung———-»»»

d. Muqoddimah keempat :
Dalam ucapan

إياك نعبد

“Hanya kepada Engkaulah kami
beribadah”
(mengandung pengakuan & pengikraran sang hamba bahwasanya ia hanya beribadah ikhlas kepada Allah, jauh dari riyaa & sum’ah, sama sekali tdk mengharapkan pujian & sanjungan manusia)

e. Muqoddimah kelima:
Dalam ucapan

وإياك نستعين

“Dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan”,
(mengandung pengakuan hamba bahwasanya segala upaya, usaha & keberhasilan semata-mata
karunia Allah, seorang hamba hanya melakukan sebab, akan tetapi tidak memiliki peran sama sekali dalam keberhasilan, Bahkan usaha hamba itupun karunia Allah, kecerdasannya, tenaganya, kepiawaiannya, pengalamannya, ia bisa menggerakkan anggota badannya, kesehatannya atau ia bisa sampai tempat ia bekerja dgn selamat, semuanya karunia dari Allah.

Jika demikian lantas apa yg hendak ia banggakan??. Maka terjauhkanlah sang hamba dari penyakit ujub

Setelah lima muqoddimah ini lalu terbukalah hati sang hamba tatkala mengucapkan doa yg agung ini :

اهدنا الصراط المستقيم

Seluruh muqoddimah ini menunjukan akan agungnya inti pembicaraan, jika setiap muqoddimahnya / pembukanya sangat agung maka bagaimana lagi keagungan isi kandungan utamanya.

اِهْدِنَا الصِّرَاطَ المُسْتَقِيْمَ

“Ya Allah berilah kepada kami
hidayah / petunjuk kepada jalan
yang lurus”

———–sambung———-»»»

II. Kandungan doa :

Mungkin ada yg bertanya, kenapa kita terus mengucapkan doa ini (meminta ditunjukan kepada jalan yang lurus)

sementara kita sudah berada di atas jalan yg lurus? Kita sudah berada di atas agama Islam?
Barang siapa yg merenungkan kandungan doa ini maka ia akan mengetahui jawaban pertanyaan ini.

Sesungguhnya hidayah atau petunjuk yang kita minta dalam doa ini memiliki kandungan yg dalam, diantaranya :

1) Meskipun kita telah berada di atas agama Islam akan tetapi ternyata masih banyak praktek-praktek yang keliru, yang disandarkan kpd Islam padahal ia bukan bagian dari Islam.
Karenanya kita meminta petunjuk kepada Allah agar ditunjukan kepada jalan yang lurus, yang benar-benar merupakan bagian dari Islam dan mengantarkan ke surga

2) Jika ternyata kita telah berada
di atas jalan yg lurus, ternyata masih terlalu banyak kebaikan yg belum kita ketahui yang akan memperindah perjalanan kita di atas jalan yang lurus tersebut.
Karenanya kita butuh petunjuk dan hidayah dari Allah agar ditunjukan dan dijelaskan bagi kita kebaikan-kebaikan tsb

3) Setelah mengetahui kebaikan-kebaikan, kitapun masih butuh hidayah Allah dan taufiq-Nya agar menjadikan kita mengamalkan dan mencintai kebaikan-kebaikan tersebut

4) Terkadang kita telah
mengetahui suatu kebaikan secara global, maka kita butuh hidayah dari Allah agar kita ditunjuki sisi-sisi keindahan kebaikan tersebut secara detail dan rinci agar kita semakin cubra dan tegar dalam menjalankan kebaikan tsb.
Tentu berbeda antara seseorang yg mengetahui ibadah sholat itu adalah baik, dengan seseorang yg mengetahui dgn rinci indahnya ibadah sholat serta hikmah-hikmah yg terkandung dalam sholat

————-sambung———–»»»

5) Masih banyak keburukan dan jalan yang miring serta menyimpang yang menggoda kita dalam menempuh jalan yg lurus, karenanya kita butuh petunjuk Allah agar menunjukan batilnya keburukan dan menyimpangnya jalan-jalan tersebut, yang senantiasa mengancam & sewaktu-waktu bisa mwnggelincirkan kita tanpa kita sadari

6) Setelah kita mengetahui kebaikan dan menjalankannya, juga telah mengetahui keburukan dan menjauhinya, maka ketahuilah kita masih terus senantiasa butuh kepada hidayah Allah agar kita bisa isstiqomah di atas jalan yg lurus. Terlalu banyak orng yg di awal perjalanan berada di atas jalan yg lurus, akan tetapi menyimpang dipenghujung jalan. Kita butuh istiqomah terus hingga detik nafas terakhir….

Dari kandungan-kandungan di atas kita mengetahui hikmah mengapa Allah di akhir surat al-fatihah mencela kaum nasrani dan yahudi. Karena diantara jalan yg menyimpang adalah jalannya kaum nasrani yg semangat beribadah namun tanpa ilmu, jadilah mereka dicap sesat oleh Allah. Demikian juga jalannya kaum yahudi yg berilmu namun enggan mengamalkannya.

Semoga penuturan singkat ini dapat membantu dalam meraih kekhusyu’an saat mengucapkan doa yang agung tersebut.

آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

———¤•¤•¤———

Allah Berada Di Atas Langit

Saudara-saudariku kaum muslimin dan muslimah yang dimuliakan oleh ALLAH سبحانه وتعالى ,diantara keyakinan yang terbesar didalam islam yang sudah hampir tidak lagi difahami/ diketahui oleh sebagian kaum muslimin yaitu menetapkan/meyakini degan seyakin-yakinnya bahwa sanya “ALLAH سبحانه وتعالى berada diatas langit”, sebab utama yang sangat mendasar sekali ialah kurangnya perhatiannya para da’i terhadap da’wah tauhid/ aqidah islamiyah yang merupakan asas da’wahnya para Nabi dan Rasul, bahkan merupakan perkara yang utama yang wajib disampaikan kepada manusia, ya’ni da’wah tauhid.

Maka bisa kita saksikan pada zaman kita ini, apabila kita bertanya kepada sebagian dari mereka (baik orang-orang awam, atau sebagian dari da’i-da’inya) tentan permasalahan aqidah terbesar diatas ya’ni kita bertanya kepada mereka:

“Dimanakah ALLAH??….”

Maka kita akan mendengar jawaban yang beraneka ragam diantara mereka, bahkan saling bertentangan.

Diantara mereka akan menjawab:
” ALLAH ada dihati”, adalagi yang menjawab “ALLAH ada dimana-mana”, bahkan ada diantara mereka yang mengingkari pertanyaanmu…dll, sedikit sekali bahkan sangat langkanya kita mendapatkan jawaban yang benar dari mereka.

Padahal kita sudah mengetahui dengan jelas baik dalil syar’i (alqur’an dan sunnah) maupun dalil aqli yang menunjukkan ALLAH itu berada diatas langit!

Bahkan al-imam adz-dzahabi memberikan penjelasan ttg sebuah hadits, yaitu: Rasulullah bertanya kepada seorang budak wanita, tentang dimana ALLAH? Kemudian budak tersebut mengatakan: “ALLAH diatas langit”

Dari hadits yang mulia ini, imam dzahabi mengatakan ada dua permasalahan:

1. Disyariatkan seorang muslim bertanya kepada muslim yang lainnya, “Dimana ALLAH???.

2. Yaitu, hanya memiliki satu jawaban atas pertanyaan diatas, yaitu “ALLAH di atas langit”

Maka barang siapa yang mengingkari dua permalahan ini, maka dia telah mengingkari Rasulullah صلى الله عليه وسلم .

(Tashfiyah wa tarbiyah, syaikh Ali hasan hafidzahullah)

By Ust. Ahmad Ferry N

Dicintai Allah dan Dicintai Makhluk

Tiada yang lebih membanggakan seorang hamba daripada menjadi seorang yg dicintai Allah & dihormati oleh manusia

Dalam hadist sahih, Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda,

“Bersikap zuhudlah kamu terhadap Dunia, pasti Allah akan mencintaimu & jangan pernah kamu berharap kepada apa yg ada pada manusia, niscaya mereka akan mencintaimu”

Lalu Imam Ahmad berbicara ttng zuhud,”Zuhud itu ada 3 macam:

1. Meninggalkan segala yg haram

2. Tidak berlebihan terhadap perkara yg halal

3. Meninggalkan setiap yg melalaikan dari ibadah kpd Allah & ini adalah tingkatan zuhud yg tertinggi

Syekhul Islam Ibnu Taimiyyah pun berbicara ttng zuhud, seraya berkata,

“Inti zuhud terhadap Dunia yg Rasul shallallahu ‘alihi wasallam maksud adalah meninggalkan semua yg tdk bermanfaat di Akhirat”

“Ya Allah jadikanlah kami hamba-Mu yg meraih kecintaan-Mu & kecintaan makhluk-Mu dgn keridhoan-Mu!”

Lihat kitab Madarijussalikin karya Ibnul Qoyyim!

Awali Semua Yang Baik Dengan Bismillah

اللَّهُمَّ بَارِكْ لِأُمَّتِي فِي بُكُورِهَا

“Ya Allah, berkahilah untuk ummatku waktu pagi mereka” [HR Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa-i, Ibnu Majah dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani]

Jangan jadi bangsawan : (bangsa sing keluar awan)

Rizqi yg berkah adalah rizqi yg mndorong kita untuk ibadah dan beramal sholeh.

Awali semua hal yg baik dg bismillah..

Abine RiyadL.

Hakikat Cinta Karena Allah

Oleh Ustadz Kholid bin Syamhudi al-Bantani

… mencintai
… d i c i n t a i
… saling mencintai

Kesemuanya adalah fitrah manusia yang diberikan Allah Subhanahu wa ta’ala

Tahukah Anda hakikat cinta karena Allah?

Silakan simak penjelasannya disini KLIK http://m.klikuk.com/cinta-karena-allah/

SALAFIYAH MADZHAB BARU DAN BID’AH

(Oleh Ust.Firanda Andirja MA حفظه الله )

Diantara syubhat yang sering dilontarkan oleh orang-orang yang membenci salafiyin adalah bahwasanya salafiyah sendiri adalah madzhab yang baru dan bid’ah.

Yang sangat dikenal menggembar-gemborkan syubhat ini adalah seorang yang bernama Muhammad Sa’id Romadhon Al-Buthy dalam kitabnya Al-Laa Mazhabiyah, Akhtharu Bid’atin Tuhaddidu As-Syariah Al-Islamiyah (artinya : Tidak bermadzhab merupakan bid’ah yang paling berbahaya yang mengancam syari’at Islam). Dalam kitab tersebut terlalu banyak kedustaan yang dituduhkan oleh Al-Buuthy kepada salafiyin (Ahlus Sunnah wal Jam’ah sejati). Alhamdulillah buku ini telah dibantah dengan jelas dan lugas oleh Syaikh Muhammad ‘Ied ‘Abbaasy (salah seorang murid Syaikh Al-Albani rahimahullah) dalam kitabnya Bid’at at-Ta’sshub Al-Madzhabi (artinya : Bid’ahnya fanatik madzhab, silahkan didownload di http://www.4shared.com/get/JXqDBNC2/___online.html;jsessionid=6A96B9F4D8183B8C501CF7FD6AE762D5.dc516), silahkan juga baca artikel berikut http://abul-jauzaa.blogspot.com/2010/01/ahmad-sarwat-al-buuthiy-dan-al-albaaniy.html)

Sebagian orang menyangka bahwa salafiyah adalah madzhab baru yang menyelisihi empat madzhab yang masyhur (madzhab Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali).

Bahkan sebagian orang menuduh bahwa salafiyin merendahkan para imam madzhab tersebut. Sungguh ini jelas-jelas merupakan kedustaan yang sangat-sangat nyata. Akan tetapi anehnya selalu saja kedustaan yang sangat nyata ini masih tetap terus digembar-gemborkan oleh sebagian kaum aswaja.

Sangat nampak kedustaan tuduhan ini dari sisi-sisi berikut :

Selengkapnya di :
http://firanda.com/index.php/artikel/bantahan/409-salafiyah-madzhab-baru-dan-bid-ah

Sabar Dan Sholat

Oleh Ust. Badrusalam Lc

Al Hafidz ibnu Hajar Al ‘Asqolani rahimahullah berkata:
.. Dan dari ibnu Abbas radliyallahu ‘anhuma bahwa diberitakan kepada Rasulullah kematian saudaranya yaitu Qutsam, sementara beliau berada dalam perjalanan.

Beliaupun mengucapkan istirja’ lalu menyepi dari jalan dan sholat dua raka’at yang beliau panjangkan duduknya.
Kemudian beliau berdiri sambil membaca ayat:

واستعينوا بالصبر والصلاة

“Mintalah pertolongan dengan sabar dan shalat.”
Diriwayatkan oleh Ath Thabari dalam tafsirnya dengan sanad yang hasan.

Dan dari Hudzaifah radliyallahu ‘anhu ia berkata:

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا حزبه أمر صلى

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam apabila ada perkara yang menyusahkan, beliau segera shalat.”
Diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan sanad hasan juga.

(Al Fawa-id al muntaqoh min fathil baari hal 115).

Mengenal Dalil Yang Umum

Diantara faidah menguasai bahasa arab adalah memahami sebuah kata yang bermakna umum, sebuah contoh misalnya hadits :

مَا نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ فَاجْتَنِبُوهُ وَمَا أَمَرْتُكُمْ بِهِ فَافْعَلُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ

“Apa-apa yang aku larang jauhilah dan apa-apa yang aku perintahkan lakukanlah semampu kamu”. (HR Muslim).

Kata “maa” yang artinya apa mempunyai makna umum, maka semua yang diperintahkan oleh beliau hendaknya kita lakukan baik yang hukumnya wajib maupun yang hukumnya sunnah, karena sesuatu yang sunnah termasuk perkara yang diperintahkan oleh syari’at yang mulia ini.

Demikian pula semua yang dilarang hendaknya kita tinggalkan baik yang hukumnya haram maupun makruh.

Diantara kata yang menunjukkan kepada makna umum juga adalah kata “كل ” yang artinya setiap atau semua, contohnya hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam :

وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ

“Dan jauhilah perkara yang diada-adakan, karena setiap bid’ah itu sesat dan setiap kesesatan di dalam api Neraka”. (HR Ahmad).[1]

Kewajiban kita adalah mengamalkan apa yang ditunjukkan oleh keumuman makna dan tidak boleh menghususkan kecuali dengan dalil.

Imam Asy Syafi’I rahimahullah berkata: “Semua perkataan yang umum dalam sunnah
Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam dibawa kepada keumumannya sampai diketahui hadits yang shahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang menunjukkan bahwa yang diinginkan darinya adalah sebagian makna tanpa yang lainnya”.[2]

Berkata Az Zarkasyi: “Yang wajib adalah mengamalkan yang umum sampai ia mendapatkan dalil yang mengkhususkan karena pada asalnya yang mengkhususkan itu tidak ada, dan juga dugaan adanya pengkhususan adalah dugaan yang masih lemah, sedangkan lahiriah makna yang umum adalah dugaan yang kuat, sedangkan mengamalkan yang kuat adalah wajib berdasarkan ijma’”.

Ust. Badrusalam Lc

Selengkapnya di :
http://cintasunnah.com/mengenal-dalil-yang-umum/

SIKAP BIJAK DAN TAWADHU’ SEORANG MUSLIM KEPADA SAUDARANYA SEISLAM

Oleh: Muhammad Wasitho Abu Fawaz

Bakr bin Abdullah rahimahullah berkata:

» “Jika engkau melihat orang yang lebih tua darimu, maka katakanlah (di dlm dirimu): “Dia telah mendahuluiku dlm memeluk agama Islam dan melakukan amal sholih. Oleh karenanya, dia lebih baik dariku.”

» Jika engkau melihat orang yang lebih muda darimu, maka katakanlah (di dlm dirimu); “Aku telah mendahuluinya dengan perbuatan dosa n maksiat. Oleh karenanya, dia lebih baik dariku.”

» Jika engkau melihat teman-temanmu memuliakan n menghormatimu, maka katakanlah (di dlm dirimu); “Mereka telah melakukan suatu nikmat.”

» Dan Jika engkau melihat kekurangan atau kelalaian dari mereka terhadap dirimu, maka katakanlah (di dlm dirimu); “Hal ini disebabkan dosa yang aku lakukan.” (Lihat ‘Uyuunu Al-Akbaar, karya Ibnu Qutaibah, I/267).

Inilah wasiat mulia dari seorang ulama sunnah kpd kita semua, yaitu agar kita senantiasa bersikap tawadhu’ (rendah diri) dan tidak merasa lebih mulia, sombong n bangga diri di hadapan orang lain dengan kekayaan, kedudukan n jabatan yg tinggi, popularitas, ilmu n amal, atau banyaknya pengikut kita. Karena semakin seorang hamba bersikap tawadhu’, maka semakin tinggi derajatnya di hadapan Allah n di hadapan manusia.

» Di dlm hadits yg shohih Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

(Wa Maa Tawaadho’a ahadun Lillaahi illaa Rofa’ahu)

Artinya: “Dan tidaklah seseorang bersikap tawadhu’ karena Allah, melainkan Allah akan meninggikan derajatnya.”

Demikian Faedah dan Mau’izhoh Hasanah yang dapat kami sampaikan pada hari ini. Smg bermanfaat bagi kita semua. (Klaten, 6 April 2013)

» SUMBER: BBG Majlis Hadits, chat room Faedah & Mau’izhoh Hasanah.

(*) Blog Dakwah Kami:
http://abufawaz.wordpress.com

———¤•¤•¤———-

Menebar Cahaya Sunnah