All posts by BBG Al Ilmu

HAKIKAT BID’AH dan Hukum-Hukumnya – Definisi Bid’ah…

Dari kitab yang berjudul Haqiiqotul Bid’ah wa Ahkaamuhaa, tentang Hakikat Bid’ah dan Hukum-Hukumnya, ditulis oleh Syaikh Sa’id bin Nashir Al Ghomidi, حفظه الله تعالى.
.
PEMBAHASAN SEBELUMNYA (Sebab-Sebab Munculnya Bid’ah # 3…) bisa di baca di SINI

=======

🌿 Definisi Bid’ah 🌿

Alhamdulillah.. wash-sholaatu was-salaamu ‘alaa Rosuulillah…

Kita lanjutkan Hakikat Bid’ah dan Hukum-Hukumnya… sekarang kita masuk kepada pembahasan..

⚉ Definisi Bid’ah

1. SECARA BAHASA

Ada dua makna:
⚉  Makna yang pertama : Mengada-ada sesuatu yang sebelumnya tidak ada.
Ini adalah merupakan makna secara bahasa. Dan tentunya ada kaitannya dengan makna secara istilah. Karena bid’ah secara istilah adalah sesuatu yang tidak ada asalnya dalam syari’at.

⚉  Makna yang ke 2 secara bahasa yaitu : Terputus.
Dan tentunya ada kaitannya dengan makna secara istilah. Karena bid’ah itu terputus dari wahyu, terputus dari dalil, dimana mereka melakukan sesuatu tanpa hujjah dan dalil, hanya sebatas hawa nafsu, pendapat dan akal tanpa sama sekali ada hujjah

2. SECARA ISTILAH

Adapun secara istilah syari’at, para Ulama dalam mendefinisikannya berbeda-beda, akan tetapi definisi yang paling bagus adalah definisi Al Imam Asyatibi rohimahullah, dimana Beliau mengatakan :
“bid’ah adalah :
⚉  Yaitu ungkapan tentang tata cara dalam agama.
⚉  Yang menyerupai syari’at
⚉  Dan dibuat-buat

Dimana tujuan melakukannya adalah dalam rangka bersungguh-sungguh beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.”
(Disebutkan oleh Imam Asya tibi, kitab Al I’tishom jilid 1/ hal 37)

Disini Beliau mengatakan bahwa bid’ah secara istilah yaitu ungkapan tentang tata cara dalam agama. Berarti bid’ah secara istilah itu khusus dalam masalah agama.

Adapun dalam masalah dunia, maka tidak disebut bid’ah secara istilah syari’at, walaupun bid’ah secara bahasa. Karena secara bahasa itu artinya segala sesuatu yang baru ada sebelumnya tidak ada, maka kaca mata bid’ah secara bahasa, pesawat bid’ah secara bahasa, mobil bid’ah secara bahasa. Tapi apakah bid’ah secara syari’at? “Tidak”. Karena masalah dunia pada asalnya halal, berbeda dalam masalah agama, karena agama ini milik Allah, syari’at itu yang berhak adalah Allah yang mensyari’atkan, maka tidak boleh kita membuat-buat perkara agama ini tanpa ada izin dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Jadi disini Beliau mengatakan.. bid’ah itu secara istilah:
⚉  tata cara dalam agama.
⚉  Mukhtaro’ah yang dibuat-buat, artinya tidak ada sama sekali dalilnya, hujjahnya dari syari’at.
⚉  Yang mirip dengan syari’at, menyerupai, karena disitu ada macam dari zikir atau yang lainnya sehingga orang menganggap itu agama padahal bukan, dimana maksud tujuannya adalah untuk bersungguh-sungguh dalam beribadah. Karena orang yang berbuat bid’ah pasti tujuannya untuk beribadah. Sedangkan ibadah pada asalnya tidak boleh sampai ada dalil yang memerintahkan.

Maka dalam hal ini tidak hanya sebatas niat ingin ibadah, niat yang baik, kalau ternyata tata caranya tidak sesuai dengan tuntunan Rosul shollallahu ‘alayhi wasallam.

Niat yang baik tidak menjadikan bid’ah itu jadi sunnah, tidak menjadikan syirik menjadi tauhid… tidak
Tidak menjadikan maksiat ta’at… sama sekali tidak

Maka niat yang baik diterima apabila caranya sesuai dengan tuntunan Rosul ‎shollallahu ‘alayhi wasallam

Ini adalah merupakan definisi bid’ah yang paling baik
.
.
Wallahu a’lam 🌴
.
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
.

Dari kitab yang berjudul Haqiiqotul Bid’ah wa Ahkaamuhaa, tentang Hakikat Bid’ah dan Hukum-Hukumnya, ditulis oleh Syaikh Sa’id bin Nashir Al Ghomidi, حفظه الله تعالى.
.
Silahkan bergabung di Telegram Channel dan Facebook Page :
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://www.facebook.com/aqidah.dan.manhaj/

Artikel TERKAIT :
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Haqiiqotul Bid’ah wa AhkaamuhaaHakikat Bid’ah dan Hukum-Hukumnya
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Showarif ‘Anil HaqHal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari KEBENARAN
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Al IshbaahManhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN

Jangan Berniat Meninggalkan Maksiat Hanya Di Bulan Ramadhan Saja…

Ka’ab Al Ahbar rohimahullah (tabi’in) berkata: 

“Barangsiapa puasa Romadhon sedangkan dalam hati dia berniat seusai bulan Romadhon dia tidak akan bermaksiat, dia akan masuk Jannah tanpa ditanya dan tanpa dihisab. Dan barangsiapa puasa Romadhon sedangkan dalam hati dia berniat setelah Romadhon akan kembali maksiat, maka puasanya tertolak (tidak diterima Allah).”

[ Lathoif al-maarif, hal 136-137 ]

Ustadz DR. Sufyan Baswedan MA, حفظه الله تعالى 

Sifat Fitnah…

Sifat fitnah…

1. Ia terlihat indah di awalnya.

Sufyan bin Uyainah berkata dari Kholaf bin Hausyab: Dahulu mereka suka membawakan sya’ir ini di saat terjadi fitnah:

الحرب أول ما تكون فتية

“perang (revolusi) itu di awalnya bagaikan gadis

تسعى بزينتها لكل جهول

yang memperlihatkan kecantikannya bagi orang yang bodoh

حتى إذا استعلت وشب ضرامها

sehingga ketika fitnah telah menyala dan menjadi besar

ولت عجوزا غير ذات حليل

ia berubah menjadi janda yang tua

شمطاء ينكر لونها وتغيرت

rambutnya memutih dan warna kulitnya berubah

مكروهة للشم والتقبيل

baunya tak enak dan tidak enak dicium.”

[ Shahih Bukhari ]

Fitnah di awalnya terlihat indah dan cantik, menggunakan nama nama yang indah atas nama amar ma’ruf nahi munkar atau lainnya. Sehingga orang orang yang tak berilmu tertipu dengannya.

2. Fitnah menghilangkan akal lelaki yang cerdas.

Abdullah bin Mas’ud berkata: “Aku mengkhawatirkan fitnah atas kalian bagaikan asap. hati seseorang mati padanya sebagaimana mati badannya.” (Kitab Fitan karya Nu’aim bin Hammad no 117)

Karena fitnah itu diberikan slogan slogan yang mentereng sehingga akalpun hilang dan yang berbicara adalah perasaan dan emosi.

3. Ia amat cepat menjadi besar sehingga sulit dipadamkan.

Syaikhul Islam ibnu Taimiyah rohimahullah berkata:
“Fitnah apabila telah menyala membuat lemah orang orang yang berakal untuk mencegah orang orang yang lemah akalnya.” (Minhajussunnah 4/343)

Maka berhati hatilah saudaraku dari fitnah..
Terutama bagi orang yang menyerukan revolusi dan pemberontakan..
jangan dahulukan perasaan dan emosi..
tanyalah para ulama kibaar sebelum bersikap..
Lihatlah dengan hati yang bening dan ilmu yang dalam..
Jangan korbankan darah kaum muslimin..
Salaf terdahulu berkata, “Penguasa yang zalim lebih baik dari kekacauan yang tak berujung.”

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى 

Orang Yang Paling Banyak Kenyang Di Dunia…

Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

فإن أكثر الناس شبعاً في الدنيا أطولهم جوعاً يوم القيامة

“Sesungguhnya orang yang paling banyak kenyang di dunia adalah yang paling panjang laparnya di hari kiamat.” [ HR Ath Thabrani dan dihasankan oleh syaikh Al Bani ]

Kenyang itu mubah..
Namun tercela saat kita kenyang terus.
lalu menjadi berat untuk beribadah..
Lalai dengan beraneka ragam makanan dan pakaian..
Sebagaimana dalam hadits yang hasan:

شرار أمتي الذين غذوا بالنعيم الذين يأكلون ألوان الطعام و يلبسون ألوان الثياب و يتشدقون في الكلام .

“Seburuk buruk umatku adalah yang diberi kenikmatan lalu makan aneka ragam makanan dan memakai bermacam macam pakaian dan berbicara dengan sombongnya.”

Di bulan suci ramadlan kita lapar sebulan penuh..
Semoga mengurangi kelaparan kita di padang mahsyar kelak..

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى 

Masih Ada Ganjalan Tentang Takdir..?

Simak Hadits Berikut…

Imam Ibnu Majah meriwayatkan dalam Sunan-nya (no. 77) dengan sanad yang shahih dari Ibnu Ad Dailami, katanya:

وَقَعَ فِي نَفْسِي شَيْءٌ مِنْ هَذَا الْقَدَرِ خَشِيتُ أَنْ يُفْسِدَ عَلَيَّ دِينِي وَأَمْرِي، فَأَتَيْتُ أُبَيَّ بْنَ كَعْبٍ، فَقُلْتُ : أَبَا الْمُنْذِرِ، إِنَّهُ قَدْ وَقَعَ فِي نَفْسِي شَيْءٌ مِنْ هَذَا الْقَدَرِ، فَخَشِيتُ عَلَى دِينِي وَأَمْرِي، فَحَدِّثْنِي مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ لَعَلَّ اللَّهَ أَنْ يَنْفَعَنِي بِهِ. فَقَالَ : لَوْ أَنَّ اللَّهَ عَذَّبَ أَهْلَ سَمَاوَاتِهِ وَأَهْلَ أَرْضِهِ لَعَذَّبَهُمْ وَهُوَ غَيْرُ ظَالِمٍ لَهُمْ، وَلَوْ رَحِمَهُمْ لَكَانَتْ رَحْمَتُهُ خَيْرًا لَهُمْ مِنْ أَعْمَالِهِمْ، وَلَوْ كَانَ لَكَ مِثْلُ جَبَلِ أُحُدٍ ذَهَبًا – أَوْ : مِثْلُ جَبَلِ أُحُدٍ – تُنْفِقُهُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ مَا قُبِلَ مِنْكَ حَتَّى تُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ، فَتَعْلَمَ أَنَّ مَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ، وَأَنَّ مَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيبَكَ، وَأَنَّكَ إِنْ مُتَّ عَلَى غَيْرِ هَذَا دَخَلْتَ النَّارَ، وَلَا عَلَيْكَ أَنْ تَأْتِيَ أَخِي عَبْدَ اللَّهِ بْنَ مَسْعُودٍ فَتَسْأَلَهُ. فَأَتَيْتُ عَبْدَ اللَّهِ فَسَأَلْتُهُ، فَذَكَرَ مِثْلَ مَا قَالَ أُبَيٌّ، وَقَالَ لِي : وَلَا عَلَيْكَ أَنْ تَأْتِيَ حُذَيْفَةَ. فَأَتَيْتُ حُذَيْفَةَ، فَسَأَلْتُهُ فَقَالَ مِثْلَ مَا قَالَا، وَقَالَ : ائْتِ زَيْدَ بْنَ ثَابِتٍ فَاسْأَلْهُ. فَأَتَيْتُ زَيْدَ بْنَ ثَابِتٍ فَسَأَلْتُهُ، فَقَالَ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ : ” لَوْ أَنَّ اللَّهَ عَذَّبَ أَهْلَ سَمَاوَاتِهِ وَأَهْلَ أَرْضِهِ لَعَذَّبَهُمْ وَهُوَ غَيْرُ ظَالِمٍ لَهُمْ، وَلَوْ رَحِمَهُمْ لَكَانَتْ رَحْمَتُهُ خَيْرًا لَهُمْ مِنْ أَعْمَالِهِمْ، وَلَوْ كَانَ لَكَ مِثْلُ أُحُدٍ ذَهَبًا – أَوْ : مِثْلُ جَبَلِ أُحُدٍ ذَهَبًا – تُنْفِقُهُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ مَا قَبِلَهُ مِنْكَ حَتَّى تُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ كُلِّهِ، فَتَعْلَمَ أَنَّ مَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ، وَمَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيبَكَ، وَأَنَّكَ إِنْ مُتَّ عَلَى غَيْرِ هَذَا دَخَلْتَ النَّارَ “.

“Ada sedikit ganjalan dalam benakku tentang masalah takdir ini dan aku khawatir bila ia merusak agama dan nasibku. Maka kudatangi Ubay bin Ka’ab dan kukatakan, “Wahai Abul Mundzir, sesungguhnya ada sedikit ganjalan dalam hatiku tentang takdir dan aku khawatir bila ia merusak agama dan nasibku… maka sampaikanlah suatu hadits tentang takdir kepadaku, semoga Allah memberiku manfaat melaluinya.”

Jawab Ubay: “Andai Allah mengazab seluruh penduduk langit dan penduduk bumi, maka Allah tidak berlaku zhalim kepada mereka. Dan seandainya Allah merahmati mereka, niscaya rahmat tersebut lebih baik bagi mereka daripada amalan mereka. Dan seandainya engkau memiliki emas sebesar gunung Uhud yang kau infakkan semuanya di jalan Allah, niscaya Allah tidak akan menerimanya sampai engkau beriman kepada takdir; yaitu dengan meyakini bahwa apa saja yang menimpamu memang tidak akan meleset darimu, dan apa saja yang meleset darimu memang tidak akan menimpamu. Bila engkau mati membawa keyakinan selain ini, engkau akan masuk Neraka! Jika engkau ingin klarifikasi tentang masalah ini, maka silakan bertanya kepada Ibnu Mas’ud.”

Maka kudatangi Ibnu Mas’ud dan kutanyakan tentang takdir kepadanya dan ia menjawab sebagaimana yang dikatakan Ubay, lalu berkata: “Silakan bertanya kepada Hudzaifah.”

Maka kudatangi Hudzaifah dan kutanyai masalah takdir dan ia menjawab seperti jawaban mereka berdua, lalu berkata: “Silakan kau tanyakan kepada Zaid bin Tsabit.”

Maka kudatangi Zaid bin Tsabit dan kutanyai tentang takdir, maka jawab Zaid: “Aku mendengar Rosulullah bersabda, “Andai Allah mengazab seluruh penduduk langit dan penduduk bumi, niscaya Allah tidaklah zalim saat mengazab mereka. Dan seandainya Allah merahmati mereka, niscaya rahmat tersebut lebih baik bagi mereka daripada amalan mereka. Dan seandainya engkau memiliki emas sebesar gunung Uhud lalu kau infakkan fi sabilillah, Allah tidak akan menerimanya sehingga engkau beriman kepada takdir; yaitu dengan meyakini bahwa apa yang mengenaimu memang tidak akan meleset darimu, dan apa yang meleset darimu memang tidak akan mengenaimu. Bila engkau mati dengan keyakinan selain ini, engkau akan masuk Neraka.”

FAWAID HADITS:

⚉  Apapun yang Allah lakukan kepada ciptaan-Nya tidaklah mungkin dianggap zalim, sebab Dialah yang memiliki dan menguasai segalanya sehingga Dia bebas berbuat apa saja terhadap ciptaan-Nya. Apalagi jika mengingat demikian banyaknya nikmat Allah terhadap kita dan demikian sedikitnya nikmat yang kita syukuri, sehingga tetap saja kita terhitung masih belum menunaikan kewajiban syukur kita terhadap-Nya. Sehingga bila Dia mengazab kita semua, maka itu adalah sikap yang adil dan tidak zalim sedikitpun.

Akan tetapi Allah telah menetapkan bahwa rahmat-Nya demikian luas dan mendahului murka-Nya, lalu dengan rahmat yang luas tadi Allah hanya menuntut kita untuk ‘sedikit’ berterima kasih kepada-Nya melalui beriman dan beramal shalih semampu kita; kemudian memberi kita balasan berlipat ganda untuk amalan yang tak seberapa ini -yang memang telah menjadi kewajiban kita-… jelaslah rahmat ini lebih baik bagi kita daripada amalan kita sendiri…

⚉  Hadits ini mengajarkan agar seseorang yakin bahwa apa yang telah ditentukan baginya tidak akan terluput darinya, walaupun orang sedunia berusaha menghalang-halanginya. Demikian pula sebaliknya… apa yang tidak Allah takdirkan akan dia dapatkan, maka tidak akan dia dapatkan, walaupun orang sedunia berusaha memberikannya kepadanya.

⚉  Hadits ini juga mengisyaratkan bahwa akidah yang benar adalah syarat diterimanya amal shalih dan syarat terselamatkannya seseorang dari Neraka. Sekaligus mengajarkan bahwa akidah yang rusak walaupun hanya terkait sebagian dari rukun iman (bukan seluruhnya), akan menjadikan amalan yang demikian besar menjadi tak bernilai alias sia-sia…

⚉  Mengimani takdir dengan benar tidak akan menjadikan seseorang malas beramal, namun justru akan semakin giat. Hal ini dibuktikan dengan sikap para sahabat Nabi yang tidak bermalas-malasan.

⚉  Hendaknya setiap orang yang memiliki ganjalan/syubhat bertanya kepada orang yang berilmu agar menyingkirkan ganjalan tersebut. Ia boleh bertanya kepada beberapa orang yang berilmu sebagai bentuk klarifikasi atas ilmu yang diterimanya, terutama dalam masalah-masalah yang berat dan berbahaya jika sampai difahami dengan keliru, seperti masalah takdir ini.

Semoga bermanfaat, wallaahu a’lam…

Ustadz DR. Sufyan Baswedan MA, حفظه الله تعالى 

KITAB FIQIH – Sholat Satu Orang Dibelakang Shof Sendirian…

Dari pembahasan Kitab Fiqih Mausu’ah Muyassaroh, yang ditulis oleh Syaikh Hussain Al Uwaisyah, حفظه الله تعالى
.
PEMBAHASAN SEBELUMNYA – Orang Yang Ruku’ Sebelum Masuk Shof…  – bisa di baca di SINI

=======

Alhamdulillah.. wash-sholaatu was-salaamu ‘alaa Rosuulillah…

Kita lanjutkan fiqihnya…

⚉  SHOLAT SATU ORANG DIBELAKANG SHOF SENDIRIAN

Artinya bolehkah seseorang berdiri sendiri dibelakang shof sendirian ?

Dari Waqishah, “bahwa Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam melihat seseorang sholat dibelakang shof sendirian, maka Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam menyuruh untuk mengulangi sholatnya.”
[HR. Abu Daud, Tirmizi, Athohawi]

Dari Ali bin Syaiban ia berkata,
“kami keluar sehingga kamipun datang kepada Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam dan membai’at beliau dan kamipun sholat dibelakang beliau, kemudian kamipun sholat dibelakang beliau sholat yang lain, setelah selesai sholat, Rosulullah melihat satu orang sendirian sholat dibelakang shof, maka kemudian Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam berdiri kepadanya ketika ia telah selesai dan Nabi bersabda, “ulangi sholatmu, tidak sah sholat bagi orang yang sendirian berdiri dibelakang shof.”
[HR. Imam Ahmad dan Ibnu Majah]

Syaikh Albani berkata dalam kitab Al Irwak jilid 2 hal 329, “kesimpulannya, bahwa Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam memerintahkan orang tersebut mengulangi sholat bahwasanya sholatnya tidak sah bagi orang yang berdiri sendirian dibelakang shof.”

Dan itu haditsnya shahih dari Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam dari jalan jalan yang banyak, namun dikecualikan kata sebagian ulama kalau shof yang ada didepan sudah penuh dan sulit untuk kita masuk padanya, maka jika keadaannya seperti itu lalu ia sholat dibelakang shof sendirian karena darurat maka itu dibolehkan.

Adapun perintah Nabi untuk mengulangi sholat bagi orang yang berdiri sendiri dibelakang shof ini adalah orang yang shof didepannya itu masih bisa dimasuki oleh dia tapi dia sengaja sholat sendirian dibelakang shof maka yang seperti ini tidak sah sholatnya dan wajib ia mengulangi sholatnya.

Adapun hadits yang menyebutkan bahwa hendaknya ia menarik orang yang ada didepannya agar ia bershof dengannya dibelakang maka ini hadits yang tidak shahih.

Syaikh Albani mengatakan, “apabila seseorang tidak bisa bergabung dengan shof yang didepannya karena sudah penuh maka yang paling kuat sholatnya sah, shahih tidak perlu mengulangi lagi” dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah juga mengatakan demikian, dan hadits yang menyuruh untuk menarik kebelakang adalah dho’if tidak bisa dijadikan hujjah.

⚉  MELURUSKAN SHOF

Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam memerintahkan untuk meluruskan shof dalam hadits yang banyak.

Diantaranya hadits sbb;

Jabir bin Samuroh ia berkata,

عَنْ جَابِرٍ بْنِ سَمُرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا ، قَالَ : خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، فَقَالَ: (( أَلاَ تَصُفُّونَ كَمَا تَصُفُّ المَلائِكَةُ عِندَ رَبِّهَا ؟ )) فَقُلنَا : يَا رَسُولَ اللهِ ، وَكَيفَ تُصَفُّ المَلائِكَةُ عِنْدَ رَبِّهَا ؟ قَالَ : (( يُتِمُّونَ الصُّفُوفَ الأُوَّلَ ، وَيَتَرَاصُّونَ فِي الصَّفِّ )) رَوَاهُ مُسْلِمٌ .

Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam keluar kepada kami lalu beliau bersabda, “tidakkah kalian bershof sebagaimana para malaikat bershof disisi Robbnya ?” Kami berkata, “wahai Rosulullah bagaimana para malaikat bershof disisi Robbnya ?” Maka Nabi bersabda, “mereka menyempurnakan shof yang pertama baru kemudian shof setelahnya dan mereka merapatkan shofnya”
[HR Imam Muslim]

Dan dari hadits Abu Mas’ud ia berkata, Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda,

استووا ولا تختلفوا فتختلف قلوبكم

“Luruskan shaf kalian jangan berselisih, niscaya hati kalian berselisih.”
[HR. Imam Muslim]

Dan didalam hadits Nu’man bin Basyir ia berkata, Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda,

سَوُّوا صُفُوفَكُمْ أَوْ لَيُخَالِفَنَّ اللَّهُ بَيْنَ وُجُوهِكُمْ

“Hendaknya kalian benar benar meluruskan shof kalian atau Allah jadikan hati kalian berselisih (bercerai berai).”
[HR Bukhori dan Muslim]

In-syaa Allah kita lanjutkan mengenai meluruskan shof pekan depan.
.
.
Wallahu a’lam 🌻
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى 
.
.
Dari Kitab Fiqih Mausu’ah Muyassaroh, yang ditulis oleh Syaikh Hussain Al Uwaisyah, حفظه الله تعالى
.
.
ARTIKEL TERKAIT
Pembahasan Fiqih Mausu’ah Muyassaroh…