1016. Bagaimana Menyikapi Perbedaan Antara Ormas Islam ?

1016. BBG Al Ilmu – 461

Tanya:
Dalam agama islam sekarang ada beberapa macam seperti muhammadiyah, persis, dsb
Bagaimana menanggapi hal tersebut, soalnya saya bingung suka ada hal-hal yang berbeda yang membuat sesama islam berhati-hati. Padahalkan tujuannya sama mencari rido Alloh. Apakah hal tersebut termasuk perpecahan pada umat ?

Jawab:
Ust. Rochmad Supriyadi, Lc حفظه الله تعالى

Agama islam dari dulu hingga kiamat hanya ada satu, yang diajarkan Nabi صلى الله عليه وسلم dan diamalkan para sahabat dan di wariskan kepada ta’biin dan seterusnya. Itu ajaran islam yang murni tidak ditambahi dan dikurangi.

Adapun muhammadiyah, persis dll ini adalah organisasi/wadah/yayasan sosial yang jika itu mempengaruhi cara beragama seseorang maka bisa menjerumuskan dalam perpecahan yang di larang agama. Seharusnya organisasi seperti itu tidak membawa pada cara beragam/pemahaman beragama, yang mempengaruhi loyalitas kepada yang lainnya. Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda,

“Paling kuatnya tali iman adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah.”

Semoga Allah menyatukan hati kaum muslimin.

والله أعلم بالصواب

– – – – – •(*)•- – – – –

1015. Bagaimana Menyikapi Tradisi Bersalaman Setelah Shalat Fardhu ?

1015. BBG Al Ilmu – 307

Tanya:
Apakah kewajiban menjawab salam itu juga pada setiap habis sholat fardhu dimana masih banyak saudara kita yang mengulurkan tangan untuk bersalaman, ada yang hanya sekedar mengulurkan tangan saja dan ada juga yang sembari mengucapkan salam. Nah, dalam situasi ini apakah juga wajib bagi kita untuk bersalaman dan menjawab salam saudara kita tersebut ? Walau rutin dilakukan sehabis sholat ?

Jawab:
Ust. Rochmad Supriyadi, Lc حفظه الله تعالى

Hal itu merupakan amalan yang tidak tepat/budaya salah, yang bisa masuk dalam perangkap bid’ah, yang perlu di jelaskan secara pelahan dengan hikmah serta bertahap hingga masyarakat meninggalkan dengan kesadaran sendiri.

Untuk sementara anda hanya bisa membatasi/mengurangi volume salaman, dan sekali-sekali menolak nya dengan lembut hingga tidak timbul fitnah.

والله أعلم بالصواب

– – – – – •(*)•- – – – –

1014. Wajibkah Menjawab Salam Ketika Kita Sedang Dzikir ?

1014. BBG Al Ilmu – 307

Tanya:
Jika kita masih sedang berzikir pagi, lalu ada yang mengucapkan salam (karena mau memulai ceramah), maka apakah sebaiknya kita menghentikan zikir untuk menjawab salam tersebut dan kemudian melanjutkan zikirnya lagi ?

Jawab:
Ust. M Wasitho, حفظه الله تعالى

Jika ucapan salaam tersebut ditujukan secara khusus kepada antum yang sedang berdzikir (setelah sholat fardhu), maka antum WAJIB menjawab salaam tersebut. Lalu, silakan menyelesaikan dzikir antum. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala:
(Wa idzaa huyyiitum bi tahiyyatin fa hayyuu bi ahsana minhaa au rudduuhaa)

Artinya: “Jika kalian diberi ucapan salaam, maka jawablah salaam tersebut dengan yang lebih baik darinya, atau ucapan salaam yang semisal.”

Adapun jika ucapan salaam dari seseorang (yang akan ceramah) ditujukan secara umum kepada jama’ah masjid yang hadir, maka antum BOLEH menjawabnya, lalu melanjutkan dzikir antum, dan BOLEH juga tidak menjawabnya. Hal ini dikarenakan menjawab salaam dalam keadaan seperti itu hukumnya fardhu kifayah, apabila sudah dijawab oleh sebagian hadirin, maka kewajiban menjawab salaam itu telah gugur dari sebagian yang lain.

والله أعلم بالصواب

– – – – – •(*)•- – – – –

1013. Bagaimana Pembagian Harta Waris Bila Anak Yang Sudah Berkeluarga Wafat Sebelum Orangtuanya ?

1013. BBG Al Ilmu – 357

Tanya:
Ada keluarga terdiri dari bapak, ibu dan 2 anak laki yang sudah dewasa dan masing-masing punya keluarga sendiri.

Urutan wafat:
1. Anak laki pertama wafat lebih dahulu, meninggalkan bapak, ibu, istri, 2 anak laki dan 1 saudara kandung laki.

2. Ibu kemudian wafat, meninggalkan bapak, anak laki kedua, dan 2 cucu laki dari anak pertama yang sudah wafat (lihat no 1)

3. Bapak kemudian wafat, ahli waris adalah anak laki kedua dan 2 cucu laki dari anak pertama yang sudah wafat (lihat no 1)

Bagaimana pembagian harta warisnya mulai dari no 1, 2 dan 3 ?

Jawab:
Ust. Badru Salam, حفظه الله تعالى

1. Harta milik anak pertama yang wafat dibagi sebagai berikut:
* Istri 1/8,
* Ayah dan ibu, masing-masing 1/6
* Sisanya buat kedua anak laki si mayit.
* Saudara laki tidak dapat waris.

2. Yang dibagikan adalah harta milik ibu saja (termasuk harta yang didapat dari kasus no 1), dibagikan kepada:
* Suami 1/4,
* Sisanya untuk anak laki kedua yang masih hidup.
* Cucu dari anak pertama yang sudah wafat, tidak dapat waris.

3. Yang dibagikan adalah harta bapak saja (termasuk harta yang didapat dari kasus no 1 dan 2 diatas), dibagikan:
* Semuanya untuk anak laki kedua yang masih hidup.
* Cucu dari anak pertama yang sudah wafat, tidak dapat waris.

والله أعلم بالصواب

– – – – – •(*)•- – – – –

1012. Sudah Di Talaq 3 Tapi Diminta Rujuk Oleh Pengadilan Agama, Bolehkah ?

1012. BBG Al Ilmu – 357

Tanya:
Seorang wanita telah diceraikan oleh suaminya dengan talak 3 bahkan sang suami mentalak istrrinya ini didepan keluarga istrinya tersebut.

Untuk menjelaskan status perceraian nya ini sang istri pergi ke pengadilan agama dengan harapan status perceraiannya jelas.

Yang menjadi pertanyaan: setelah sang istri melapor ke pengadilan agama dan pengadilan agama mengatakan bahwa perceraian mereka tidak sah karena sang istri baru melapor satu kali ke pengadilan agama, dan pengadilan agama menyarankan untuk rujuk kembali.

Bagaimana satus cerai talak 3 oleh suami terhadap istri tadi ? apakah talak mereka. Tidak sah ?

Ana pernah baca di majalah sunnah, bahwa kata cerai dari suami terhadap istri itu adalah sah, bahkan dengan kata-kata sindiran tapi dengan tujuan menceraikan itu sah. Apalagi ini perkataan si suami jelas dan tegas dan ada saksinya.

Si istri sudah 3 kali di ceraikan suaminya. Dalam waktu yang berbeda.

Bagaimana hukumnya kalau mereka kembali rujuk atas saran pengadilan agama tadi ? Apakah rujuk mereka sah ?

Jawab:
Ust. Badru Salam, Lc حفظه الله تعالى

Tidak boleh rujuk sampai nikah dengan lelaki lain.

Disebutkan di pertanyaan bahwa si istri sudah 3 kali di ceraikan suaminya. Dalam waktu yang berbeda. Ini berarti sudah jelas jatuh talaq 3, terlepas pengadilan bilang apa.

والله أعلم بالصواب

– – – – – •(*)•- – – – –

Do’a Yang Dipanjatkan

Ust. Rochmad Supriyadi, Lc حفظه الله تعالى

Allah سبحانه وتعالى memerintahkan kita agar memohon dan meminta segala sesuatu dari kebaikan dunya dan akhirat, dan sebaik-baik apa yang dipanjatkan seorang hamba adalah permohonan hidayah menuju jalan yang lurus, dan permohonan bantuan untuk menuju keridhoan Allah سبحانه وتعالى.

Allah سبحانه وتعالى mengajarkan kepada kita bagaimana memohon doa, maka hendaknya kita melakukan pembukaan dengan memberikan puji-pujian, sanjungan, pujaan, dan menetapkan atas kesempurnaan pengesaan tauhid dan ibadah kepada-Nya.

Sebagaimana terabadikan dalam suatu surat yang senantiasa terulang bacaannya, yaitu firman Allah سبحانه وتعالى ,
“Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta Alam. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Yang menguasai hari pembalasan. Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Engkau kami memohon pertolongan. Tunjukkan lah kepada kami jalan yang lurus. …”.
(Al-Fatihah. 1-6)

 Ditulis oleh Ustadz Rochmad Supriyadi, Lc حفظه الله تعالى

┈┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈┈

Bejana Allah

Ust. Badru Salam, Lc حفظه الله تعالى
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda..

” إِنَّ للَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فِي الأَرْضِ آنِيَةً ، وَأَحَبُّ آنِيَةِ اللَّهِ إِلَيْهِ مَا رَقَّ وَصَفَا ، وَآنِيَةُ اللَّهِ فِي الأَرْضِ قُلُوبُ الْعِبَادِ الصَّالِحِينَ

“Sesungguhnya Allah memiliki bejana-bejana di bumi ini..
Bejana-Nya yang paling Allah cintai adalah..
Yang paling lembut dan paling bening..
Bejana-bejana Allah di bumi itu adalah hati hamba hamba-Nya yang shalih.
(HR Ahmad).

Dengan apakah bejana itu akan kita penuhi..

Bila bejana itu telah dipenuhi cinta dunia..

Tak ada lagi tempat untuk cinta akhirat..

Oleh: Ust. Badru Salam, Lc حفظه الله تعالى

– – – – – •(*)•- – – – –

Antara Ulama’ Dan Juhala’

Ust. M Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:

وَالْعَالِمُ يَعْرِفُ الْجَاهِلَ؛ لِأَنَّهُ كَانَ جَاهِلًا وَالْجَاهِلُ لَا يَعْرِفُ الْعَالِمَ لِأَنَّهُ لَمْ يَكُنْ عَالِمًا؛

Ulama’ mampu mengenali orang bodoh, karena ia dahulu pernah bodoh, namun orang bodoh tidak dapat mengenali ulama’ karena ia belum pernah menjadi ulama’. ( Majmu Fatawa 13/235)

– – – – – •(*)•- – – – –

Betah Lama Bicara Antara Ikhwan Dan Akhwat Yang Bukan Mahram ?

Ust. Firanda Andirja, حفظه الله تعالى

Ikhwan kok betah lama bicara sama akhwat ?

Lebih aneh lagi kalau ternyata si ikhwan sudah beristri dan si akhwat sudah bersuami..??,

Terlebih aneh lagi bila terdengar tawa dan kelembutan bahkan kemesraan??

Hingga setengah jam berbincang-bincang?, bahkan satu jam lebih bercengkrama? (bahkan meskipun hanya melalui telepon)?

Fitnah lelaki dan wanita tidak pandang bulu, menyerang siapa saja, ikhwan ataupun akhwat, orang awam maupun ustadz dan ustadzah??

Janganlah berdalil dengan “rapat untuk pengajian…?”, atau “lagi konsultasi keluarga…”, apalagi “curhat?”, semuanya boleh-boleh saja, akan tetapi tidak harus lama dan “mesra”…!!!, kalau memang harus lama maka hendaknya ditemani oleh mahrom !!!
Allah berfirman :

يَا نِسَاءَ النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِنَ النِّسَاءِ إِنِ اتَّقَيْتُنَّ فَلا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلا مَعْرُوفًا

“Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinyadan ucapkanlah Perkataan yang baik”
Berkata As-Suddy dan yang lainnya :

ترقيق الكلام إذا خاطبن الرجال

“Melembutkan perkataan jika mereka (para wanita) berbicara dengan para lelaki”
Ibnu Katsir dalam tafsirnya berkata :

أنها تخاطب الأجانب بكلام ليس فيه ترخيم، أي: لا تخاطب المرأة الأجانب كما تخاطب زوجها

Yaitu sang wanita hendaknya berbicara dengan lelaki ajnabi (bukan mahromnya) dengan perkataan tanpa suara merdu”, yaitu “seorang wanita tidak berbicara dengan para lelaki ajnabi (yang bukan mahromnya) sebagaimana berbicara dengan suaminya” (Lihat Tafsir Ibnu Katsir dalam tafsir Al-Ahzaab ayat 32).

Kalau perintah ini berlaku untuk para istri nabi yang imannya tinggi untuk tidak berbicara dengan lembut (merdu) kepada para sahabat yang imannya tinggi, maka bagaimana lagi dengan kelas ikhwan zaman sekarang?, atau bahkan ustadz zaman sekarang??!!

Betahnya lama ngobrol antara ikhwan dan Akhwat menunjukan mereka berdua merasakan kelezatan syahwat antara mereka berdua !!!

– – – – – •(*)•- – – – –

Doa Istiftah Pembuka Pintu-pintu Langit

Ibnu Mukhtar, حفظه الله تعالى

Alhamdulillaahi, wash-sholaatu was-salaamu ‘alaa Rosuulillaah, wa ba’du!

Saudaraku seislam yang saya cintai, ketahuilah bahwa membaca bacaan setelah takbirotul ihrom dan sebelum membaca Al-Fatihah di dalam sholat atau yang biasa disebut doa istiftah/iftitah termasuk ajaran Nabi kita. Beliau telah mengajarkan dan mencontohkan kepada umatnya dengan berbagai lafazh bacaan.

Di antara doa istiftah/iftitah yang beliau kagumi karena dengannya Alloh bukakan pintu-pintu langit adalah sebagaimana tersebut dalam hadits shohih berikut :

Dari Abdulloh bin Umar ~rodhiyallohu ‘anhuma~, ia berkata : Ketika kami sholat bersama Rosululloh ~shollallohu ‘alaihi wa sallam~ tiba-tiba ada seseorang mengatakan :

اللّـﮧ أَكْبَرُ كَبِيرًا، وَالْحَمْدُ للّـﮧ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللّـﮧ بُكْرَةً وَأَصِيلًا

Alloohu akbaru kabiiroo, walhamdulillaahi katsiiroo, wa subhaanalloohi bukrotaw-wa ashiilaa

‘Alloh Maha Besar lagi Maha Agung, segala pujian yang banyak hanya milik Alloh, Maha Suci Alloh di waktu pagi dan petang’

Maka selesai sholat, Rosululloh ~shollallohu ‘alaihi wa sallam~ bersabda : “Siapakah orang yang tadi mengucapkan kalimat begini dan begitu.” Berkata seorang sahabat, ‘Aku yang mengucapkannya, ya Rosululloh!’ Beliau bersabda :

«عَجِبْتُ لَهَا، فُتِحَتْ لَهَا أَبْوَابُ السَّمَاءِ»

“Aku kagum dengan kalimat tersebut, telah dibukakan pintu-pintu langit karenanya.”

Berkata Ibnu Umar ~rodhiyallohu ‘anhuma~ : “Maka aku tidak pernah meninggalkan membaca kalimat tersebut sejak aku mendengar Rosululloh ~shollallohu ‘alaihi wa sallam~ mengatakan demikian.”

[HSR. Muslim ~rohimahulloh~ dalam shohihnya ‘bab maa yuqoolu baina takbiirotul ihrom’ no. 601]

Semoga catatan sederhana ini bermanfaat untuk kita semua.

Wa shollallohu wa sallama ‘alaa Nabiyyinaa Muhammad

– – – – – •(*)•- – – – –

Menebar Cahaya Sunnah