Category Archives: Abu Yahya Badrusalam

Bergurulah…

Ulama salaf terdahulu melarang orang yang hanya berguru kepada buku untuk mengajar dan berfatwa, sebagaimana mereka melarang belajar al qur’an dari orang yang tidak pernah talaqqi.

Abu Zur’ah berkata :
”shohafi (yang hanya berguru kepada buku) tidak boleh berfatwa…”. (Al Faqih wal mutafaqqih 2/97).

Imam Asy Syafi’I berkata :
”Barang siapa yang bertafaqquh dari perut
buku ia akan menyia siakan hukum.” (tadzkirotussaami’ wal mutakallim hal 87).

Seorang penya’ir berkata :
Siapa yang mengambil ilmu dari mulut guru
Ia akan terhindar dari penyimpangan dan perubahan.
Dan siapa yang mengambil ilmu hanya dari buku, maka ilmunya disisi para ulama seperti tidak ada.

Dalam kitab wafayatul a’yan (3/310) Al Hafidz ibnu ‘Asakir rahimahullah bersya’ir :
Jadilah engkau orang yang mempunyai semangat
Dan jangan bosan mengambil ilmu dari para ulama
Jangan engkau mengambilnya sebatas dari buku
Niscaya engkau akan terkena tashif dengan penyakit yang berat

Badru Salam, حفظه الله

Kaidah Memahami Al Qur’an Ke 12 : Ayat-Ayat Yang Tampaknya Saling Bertentangan Dibawa Kepada Keadaannya Masing-Masing…

Kaidah-kaidah memahami Al Qur’an yang diambil dari kitab Qowa’idul Hisaan yang ditulis oleh Syaikh Abdurrohman As Sa’diy.

Kaidah ke 12 :

Ayat ayat yang tampaknya saling bertentangan dibawa kepada keadaannya masing masing.

Contoh disebutkan dalam surat Ar Rahman ayat 39 bahwa manusia dan jinn tidak akan ditanya tentang dosa mereka. Sementara dalam surat Al Hijir ayat 92 allah akan menanya mereka.

Maka di bawa kepada keadaannya masing masing. Surat Ar Rahman menunjukkan bahwa mereka tidak ditanya di satu keadaan dan akan ditanya pada keadaan yang lain. Atau mereka tidak ditanya apakah kamu melakukan dosa ini? Tetapi ditanya mengapa kamu melakukan dosa ini? Sebagaimana yang dikatakan oleh ibnu Abbas. Atau tidak ditanya dengan pertanyaan kasih sayang tetapi ditanya dengan pertanyaan penghinaan dan sebagainya.

Contoh lain, dalam surat Al Mukminun ayat 101 Allah meniadakan nasab pada hari kiamat kelak, sementara dalam surat abasa ayat 34 dan 35 Allah menyebutkan adanya nasab.
Surat Al Mukminun menunjukkan bahwa nasab tidak ada manfaatnya kelak di hari kiamat. Sebagaimana disebutkan dalam surat asy syu’ara ayat 88 dan 89 bahwa di hari itu tidak akan bermanfaat harta dan anak anak kecuali yang datang dengan membawa hati yang selamat.
Dan sebagainya.

Badru Salam,  حفظه الله تعالى

Kaidah Ke 13 : Dihilangkannya Obyek Yang Berhubungan Dengan Sebuah Lafadz…

KAIDAH MEMAHAMI Al QUR’AN – Daftar Isi LENGKAP

Kisah Imam Asy Syafi’i Ngalap Berkah Dengan Kuburan Imam Abu Hanifah…

Adapun kisah yang masyhur dikalangan kaum muslimin bahwa imam Asy Syafi’i ngalap berkah dengan kuburan imam Abu Hanifah adalah kisah yang batil.
Kisah ini dicantumkan oleh al-Khathib al-Baghdadi dalam Tarikh Baghdad, 1:123 dari jalur Umar bin Ishaq bin Ibrohim dari Ali bin Maimun dari asy-Syafi’i.

Riwayat ini adalah lemah, bahkan bathil, karena Umar bin Ishaq tidak dikenal dan tidak disebutkan dalam kitab-kitab perawi hadis.

Kisah ini adalah kedustaan yang amat nyata. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata, “Ini adalah kedustaan yang sangat nyata bagi orang yang mengerti ilmu hadis… Orang yang menukil kisah ini hanyalah orang yang sedikit ilmu dan agamanya.” Ibnu Qoyyish juga berkata, “Kisah ini termasuk kedustaan yang sangat nyata.” Dalam kitab Tab’id Syaithon dijelaskan: “Adapun cerita yang dinukil dari Imam Syafi bahwa beliau biasa pergi ke kuburan Abu Hanifah, maka itu adalah kisah dusta yang amat nyata.” Maka janganlah engkau dengarkan apa yang dikatakan oleh al-Kautsari bahwa sanad kisah ini adalah shohih, karena ini adalah termasuk kesalahannya.

BUKTI-BUKTI KEBATHILAN KISAH

Beberapa bukti yang menguatkan kedustaan kisah ini adalah sebagai berikut.

Tatkala imam Syafi’i datang ke Baghdad, di sana tidak ada kuburan yang biasa didatangi untuk berdoa.
Imam Syafi’i telah melihat di Hijaz, Yaman, Syam, Iraq, Mesir, kuburan-kuburan para Nabi, sahabat dan tabi’in dimana mereka lebih utama daripada Abu Hanifah. Lantas , mengapa beliau hanya pergi ke kuburan Abu Hanifah saja?

Dalam kitabnya Al-Umm, 1:278, Imam Syafi’i telah menegaskan bahwa beliau membenci pengagungan kubur karena khawatir fitnah dan kesesatan. Maksud beliau dengan pengagungan kubur yaitu sholat dan berdoa di sisinya. Lantas, apakah mungkin beliau menyelisihi ucapannya sendiri?!

Hal yang menguatkan bathilnya kisah ini adaah pengingkaran Imam Abu Hanifah terhadap meminta-minta kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dalam kitab Ad-Durr al-Mukhtar dan kitab-kitab Hanafiyyah sering dinukil ucapan dan kitab-kitab Hanafiyyah sering dinukil ucapan Imam Abu Hanifah, “Saya membenci seorang meminta kecuali hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.” “Tidak boleh bagi seorang pun meminta kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala akan tetapi justru kepada-Nya saja.”

Dan tidak ragu lagi bahwa Imam syafi’i mengetahui pendapat Abu Hanifah ini. Lantas, bagaimana mungkin beliau bertawassul kepadanya padahal ia tahu bahwa Abu Hanifah membenci dan mengharamkannya? Sama sekali tidak masuk akal. Bahkan hal itu akan membuat murka Imam Abu Hanifah.
(Lihat kisahmuslim.com)

Tadabbur Surat Al Mulk… part # 2

Telah kita sebutkan di atas bahwa makna tabaarok artinya yang Maha berkah dan terus bertambah keberkahannya. Dan keberkahan hanyalah milik Allah Ta’ala saja. Allah memberikan keberkahan kepada siapa yang Dia kehendaki dari makhlukNya.

Karena hanya Allah yang memiliki keberkahan, maka tidak boleh kita meminta keberkahan kepada selain Allah dan tidak boleh ngalap berkah dengan sesuatu kecuali dengan apa yang Allah turunkan dalil yang menunjukkan keberkahannya. Tidak boleh kita mengklaim bahwa sesuatu itu berkah dan boleh ngalap berkah dengannya kecuali dengan dalil dari Al Qur’an dan sunnah Nabi shallallahu alaihi wasallam.

Imam An Nawawi rahimahullah berkata setelah menjelaskan larangan ngalap berkah dengan kuburan Nabi shallallahu alaihi wasallam dengan cara mengusap kuburannya:

ومن خطر بباله أن المسح باليد ونحوه أبلغ في البركة فهو من جهالته وغفلته لأن البركة إنما هي فيما وافق الشرع وأقوال العلماء وكيف يبتغى الفضل في مخالفة الصواب ؟

Siapa yang mengira bahwa mengusap kuburan dengan tangan dan semacamnya lebih sempurna mendapatkan keberkahannya, maka itu berasal dari kebodohan dan kelalaiannya. Karena keberkahan itu hanya dalam perkara yang sesuai syari’at dan pendapat para ulama. Bagaimana ia mengharapkan keutamaan pada sesuatu yang menyelisihi kebenaran
(Al Idlooh fil manasik hal 161)

Abu Waqid Radliyallahu anhu berkisah: “Dahulu kami berangkat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar menuju Khoibar. Lalu, beliau melewati pohon orang musyrik yang dinamakan Dzatu Anwath. Mereka menggantungkan senjata mereka. Lalu mereka berkata, “Wahai Rasulullah! Buatkanlah untuk kami Dzatu Anwath (tempat menggantungkan senjata) sebagaimana mereka memiliki Dzatu Anwath.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Subhanallah! Sebagaimana yang dikatakan oleh kaum Musa: Jadikanlah untuk kami sesembahan sebagaimana mereka memiliki sesembahan-sesembahan.” (QS. Al A’raaf: 138). Kalian benar-benar akan mengikuti kebiasaan-kebiasaan orang-orang sebelum kalian.” (HR. Tirmidzi no. 2180. Abu Isa mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih. Hadits ini dikatakan shahih oleh Al Hafizh Abu Thohir Zubair ‘Ali Zaiy)

Syaikh Sulaiman At Tamimi dalam Taisir Al ‘Azizil Hamid (1: 407) berkata, “Jika menggantungkan senjata di pohon, lalu bersemedi (i’tikaf) di sampingnya, dianggap menjadikan sekutu bagi Allah, walau tidak sampai menyembahnya atau tidak pula memintanya, maka bagaimana lagi jika ada yang sampai berdo’a pada orang yang telah mati seperti yang dilakukan oleh para pengagum kubur wali, atau ada yang sampai beristighotsah padanya, atau dengan melakukan sembelihan, nadzar atau melakukan thowaf pada kubur?!”

Badru Salam,  حفظه الله تعالى

Kaidah Memahami Al Qur’an Ke 11 : Memperhatikan Lafadz-Lafadz..

Kaidah-kaidah memahami Al Qur’an yang diambil dari kitab Qowa’idul Hisaan yang ditulis oleh Syaikh Abdurrohman As Sa’diy.

Kaidah ke 11 :

Memperhatikan lafadz lafadz yang ditunjukkan oleh suatu ayat dan apa yang yang masuk ke dalam maknanya dan konsekwensi konsekwensinya.

Kaidah ini membutuhkan kekuatan berfikir dan niat yang benar. Tata caranya adalah dengan memahami suatu lafadz dan makna yangbditunjukkan olehnya. Apabila telah difahami dengan benar, pikirkan apa saja yang merupakan syaratnya, apa konsekwensinya, apa sebab sebab untuk mendapatkannya dan terus berfikir tentang semua yang berkaitan dengannya.

Karena AlQur’an itu benar maka konsekwensi kebenaran pastilah benar. Akan bercabang pula kebenaran lainnya. Namun itu semua membutuhkan taufiq dari Allah dan cahaya iman untuk membuka ilmu ilmu yang bermanfaat dan pengetahuan yang mulia.

Sebuah contoh misal, Allah berfirman:

إن الله يأمركم أن تؤدوا الأمانات إلى أهلها وإذا حكمتم بين الناس أن تحكموا بالعدل

“Sesungguhnya Allah memerintahkan untuk menyampaikan amanah kepada empunya. Dan apabila kalian menghakimi manusia, maka hakimilah dengan keadilan.” (An Nisa : 58)

Kita harus mengetahui hakikat amanah dan macam macamnya, dan bagaimana melaksanakan amanah. Demikian pula wajib mengenal keadilan dalam menghukumi manusia. Apakah hakikat keadilan itu, apa syaratnya dan bagaimana pelaksanaannya. Tentu semua itu membutuhkan ilmu. Sehingga dapat kita ambil faidah juga wajibnya menuntut ilmu. Sebab keadilan tak mungkin bisa ditegakkan tanpa ilmu.

Contohnya lagi perintah untuk beribadah. Apakah hakikat ibadah itu, apa saja syarat syaratnya. Apa tujuan yang diinginkan darinya. Apa konsekwensi dari suatu ibadah dan sebagainya.

Badru Salam, حفظه الله

Kaidah Ke 12 : Ayat-Ayat Yang Tampaknya Saling Bertentangan Dibawa Kepada Keadaannya Masing-Masing…

KAIDAH MEMAHAMI Al QUR’AN – Daftar Isi LENGKAP

Faidah : Membela Sunnah Lebih Aku Sukai

Muhammad bin Yahya Adz Dzuhli rohimahullah berkata,

“Aku mendengar Yahya bin Yahya berkata, “Membela sunnah lebih aku sukai dari berjihad di Jalan Allah..”

Aku berkata, “Orang yang menginfakkan hartanya, melelahkan dirinya, dan berjihad, ternyata membela sunnah lebih utama darinya..?” Beliau menjawab, “Iya, jauh..” (Siyar A’lam Nubala 10/518)

Jangan merasa aneh..
Cobalah simak penjelasan imam Ibnul Qoyyim rohimahullah,

“Menyampaikan sunnah kepada umat lebih utama dari pada menyampaikan anak panah ke leher musuh (dalam perang), karena itu bisa dilakukan oleh banyak manusia. Adapun menyampaikan sunnah, tidak ada yang melakukannya kecuali pewaris para nabi..” (Jala-ul Afhaam hal 582).

Dengan menyampaikan sunnah Nabi..
Banyak manusia yang faham tentang dien yang haq..
Ibadah menjadi lurus..
Hati menjadi tunduk dan ikhlas..
Aqidah menjadi kokoh menghunjam di dada..
Akan tersingkir kesesatan dan penyimpangan..

Ini adalah modal dan pokok syari’at..

Dengannya menjadi tegak kebenaran..
Dan di atasnya berdiri amal sholih..
Dan tidak salah kaprah dalam memaknai jihad..

Syaikh Abdurrohman As Sa’diy rohimahullah berkata,

“Jihad ada dua macam: jihad yang tujuannya adalah menjaga kemashlahatan kaum muslimin dan meluruskan aqidah, akhlak dan seluruh urusan agama dan dunia dan tarbiyah ilmu dan amal.
Jihad semacam ini adalah pokok jihad dan pondasinya dan berdiri di atasnya macam jihad yang kedua, yaitu jihad yang tujuannya adalah melawan orang-orang yang ingin menzholimi kaum muslimin dari orang-orang kafir, munafiq dan atheis dan semua orang orang yang memusuhi agama ini..” (Wujub Ta’awun Bainal Muslimin hal 7-8)

Namun..
Tak mudah berjihad dengan membela sunnah..
Harus lelah menuntut ilmu..
Dan banyak yang tidak menyukai..
Karena syetan tak akan senang manusia kembali kepada sunnah..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Posisi Anak Kecil Dalam Shoff Sholat Berjama’ah Di Masjid…

Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى berikut ini : (tunggu hingga audio player muncul dibawah ini:

MUMAYYIZ (artinya mampu membedakan antara yang baik dan buruk)

ARTIKEL TERKAIT
Tanya-Jawab Seputar Ramadhan…

Ikuti terus channel :
https://t.me/bbg_alilmu
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://t.me/kaidah_ushul_fiqih

Bolehkah Membawa Anak Kecil Ke Sholat Berjama’ah Di Masjid..?

Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى berikut ini : (tunggu hingga audio player muncul dibawah ini:

MUMAYYIZ (artinya mampu membedakan antara yang baik dan buruk)

ARTIKEL TERKAIT
Tanya-Jawab Seputar Ramadhan…

Ikuti terus channel :
https://t.me/bbg_alilmu
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://t.me/kaidah_ushul_fiqih