🍀 Kaidah yang ke 16 🍀
. 👉🏼 Apabila bertemu mashlahat dan mudhorot, bila mashlahatnya lebih besar maka disyariatkan. Bila mudhorot lebih maka dilarang.
. Allah berfirman tentang arak:
يسألونك عن الخمر والميسر قل فيهما إثم كبير ومنافع للناس وإثمهما أكبر من نفعهما
“Mereka bertanya kepadamu tentang arak dan judi. katakan, pada keduanya terdapat dosa besar dan manfaat manfaat untuk manusia. Namun dosanya lebih besar dari manfaatnya.“ (Al Baqarah: 219)
. Dalam ayat tersebut Allah menyebutkan bahwa dalam arak bertemu antara manfaat dan mudhorot, dan mudhorotnya lebih besar maka Allah mengharamkannya.
. Allah ta’ala menjadikan Nabi Yusuf ‘alaihissalam dipenjara dalam tanah, walaupun itu ada jenis mudhorot untuk beliau. Namun manfaatnya jauh lebih besar dengan diselamatkan dari fitnah para wanita.
. Raafi’ bin Khadiij radliyallahu ‘anhu berkata: “Nabi shallallahu alaihi wasallam melarang kami dari sesuatu yang tampak bermanfaat bagi kami. Namun mentaati Allah dan Rasul-Nya lebih bermanfaat untuk kami. (HR Muslim).
. Dalam menimbang mashlahat dan mudhorot mana yang lebih besar membutuhkan kefaqihan dan pemahaman yang dalam. Seringkali terjadi perbedaan ijtihad para ulama.
. Maka kewajiban kita untuk tidak tergesa gesa dalam menimbang mashlahat dan mudhorot.
.
. Wallahu a’lam 🌴
. Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
. Dari kitab “Syarah Mandzumah Ushul Fiqih“, yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al’Utsaimin, رحمه الله تعالى.
. Silahkan bergabung di Telegram Channel :https://t.me/kaidah_ushul_fiqih
. KAIDAHUSHUL FIQIH – Daftar Isi LENGKAP
Dalam masalah apapun wajib untuk kita melakukan kaidah ini. Mengambil yang baik dan membuang yang buruk.
Dalam makan misalnya, wajib kita mengambil makanan yang baik dan bermanfaat dan membuang makanan yang buruk dan berbahaya. Dalam ucapan, wajib kita memilih kata kata yang baik dan membuang kata kata yang buruk. Dalam mencari teman demikian juga. Dalam menuntut ilmu pun wajib mengambil ilmu yang baik dan membuang ilmu yang buruk.
Tetapi untuk memilah mana makanan yang baik dan mana yang buruk tentunya membutuhkan keilmuan. Jika tidak memiliki ilmu, maka kita tidak akan dapat melakukannya.
Bagi orang yang telah memiliki keilmuan yang kokoh, menguasai ilmu alat dan bahasa arab yang cukup. Ia dapat memilah dan memilih dengan kaidah kaidah syariat yang telah ia kuasai. Namun bagi yang belum memiliki ilmu yang kokoh, akan malah menimbulkan kebimbangan dan mudah terkena syubhat pemikiran.
Maka jika anda ingin berkata, “Saya mengambil ilmu dari siapa saja, saya ambil baiknya dan saya buang buruknya.” Maka hendaknyaintropeksi apakah telah kokoh keilmuan kita untuk dapat menepis syubhat.
Bila sekelas imam Ahmad yang hafal satu juta hadits saja ketika melewati majelis muktazilah menutup telinga? Bagaimana dengan kelas kita yang mungkin 40 hadits pun tidak hafal.
Maka hendaklah kita mendahulukan kehati-hatian dalam menimba ilmu. Karena keselamatan itu tidak dapat dibandingkan dengan apapun jua.
Wahai para wanita… tahukah anda bahwa jika engkau sengaja menampakan aurotmu :
(1) Semakin banyak pandangan lelaki yang tergiur denganmu semakin bertumpuk pula dosa-dosamu
(2) Semakin sang lelaki menghayalkanmu… semakin berhasrat denganmu maka semakin bertumpuk pula dosa-dosamu
(3) Janganlah anda menyangka senyuman menggodamu yang kau tebarkan secara sembarangan tidak akan ada pertanggung jawabannya kelak..!!! Bisa jadi senyumanmu sekejap menjadi bahan lamunan seorang lelaki yang tidak halal bagimu selama berhari-hari… apalagi keelokan tubuhmu….
(4) Bayangkanlah… betapa bertumpuk dosa-dosa para artis dan penyanyi yang aurotnya diumbar di hadapan ribuan…bahkan jutaan para lelaki ??
(5) Jika anda menjaga kecantikanmu dan kemolekan tubuhmu hanya untuk suamimu… maka anda kelak akan semakin cantik dan semakin molek di surga Allah…
(6) Akan tetapi jika anda umbar kecantikanmu dan kemolekanmu maka ingatlah itu semua akan sirna dan akan lebur di dalam liang lahad menjadi santapan cacing dan ulat… dan di akhirat kelak… bisa jadi berubah menjadi bahan bakar neraka jahannam !!
Yang pinter menasehati buanyak….!!! Tapi yang mengamalkan nasehatnya sendiri ?
Sungguh banyak diantara kita yang “HOBY” menasehati di facebook, sungguh ini merupakan kebaikan… tapi janganlah lupa agar kita juga semangat untuk mengamalkan nasehat-nasehat kita sendiri.
Saat itulah, nasehat dan didikanmu kan berguna, begitu pula ucapanmu, akan menjadi panutan
Yaa Allah ampunilah kami yang sering menasehati akan tetapi lalai dari nasehatnya sendiri… tunjukanlah kami jalan yang lurus, tutuplah aib-aib kami di dunia, terlebih-lebih lagi di akhirat…
Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.
. KAIDAH SEBELUMNYA (KE-39) bisa di baca di SINI
=======
🌼 Kaidah yang ke 40 🌼
. ⚉ Alhussunnah meyakini bahwa mengatur manusia, maksudnya yaitu berhubungan dengan politik wajib sesuai dengan Alqur’an dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam dan pemahaman Salafush Sholih.
. Maka mereka tidak pernah menghalalkan apa yang Allah haramkan dengan alasan memberikan kemudahan kepada manusia atau untuk menarik simpati mereka. Atau dalam rangka sampai pada kedudukan, sehingga mereka jatuh di hadapan syahwat dan tipuan-tipuan media (i’lan alqodir)
. Jadi ini keyakinan yang harus diyakini, bahwa masalah siyasah/politik, yang tentunya politik dalam Islam tujuannya adalah untuk mengatur manusia untuk lebih kemaslahatan yang besar dan menghindarkan dari mereka kemudhorotan. Itu semua harus sesuai dengan Alqur’an dan Hadits. Tidak boleh di sesuaikan dengan hawa nafsu manusia, harus sesuai dengan pemahaman para Salafush Sholih, tidak boleh di sesuaikan dengan pemahaman sendiri-sendiri.
. 👉🏼 Maka tidak boleh ada istilah namanya tujuan menghalalkan segala cara, akhirnya yang haram jadi halal dulu demi untuk mendapatkan kedudukan. Maka yang seperti ini jelas sama sekali bukan untuk menegakkan agama, justru hal seperti itu hanya merusak agama.
. Oleh karena itulah saudara-saudaraku sekalian, seperti di zaman sekarang, yang namanya politik penuh dengan kelicikan, saling menjatuhkan, sudah begitu banyak mereka yang masuk dalam dunia politik pasti tidak lepas dari kotoran-kotoran berupa menghalalkan apa yang Allah haramkan.
. Karena mereka harus mendapatkan suara, sementara untuk mendapatkan suara pasti mau tidak mau harus ikut-ikutan dulu dengan keinginan manusia, akhirnya mereka ikut-ikutan berbuat bid’ah, bahkan mereka sudah hilang wala’ dan baro’ lagi, demi untuk mendapatkan apa?… kedudukan Sehingga apa yang terjadi ?… yang terjadi hukum-hukum agama di injak-injak hanya untuk mendapatkan kedudukan…. Allahul musta’aan.
. 👉🏼 Maka kewajiban para Ulama hendaklah mereka tegak diatas Kitabullah dan Sunnah Rasulillah shallallahu ‘alayhi wasallam
. ⚉ para ulama hendaknya tidak mendatangi pintu-pintu penguasa ⚉ hendaknya para ulama menasehati mereka, aga mereka itu betul-betul bertaqwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka janganlah tentunya demi untuk mendapatkan kedudukan atau simpati manusia atau suara, akhirnya batasan-batasan agama sudah tidak diperhatikan lagi.
. Ibnul Qayyim rohimahullah berkata: “Orang yang mempunyai pengalaman terhadap apa yang Allah utus dengan Rasul-Nya, dan mempunyai pengetahuan tentang kehidupan para sahabat, ia akan melihat ternyata di zaman sekarang ini, orang yang dianggap agamis, justru orang-orang yang sebetulnya paling sedikit agamanya.”
. Maksudnya kata beliau, contohnya: ⚉ Ketika ia melihat keharaman-keharaman Allah …..dilanggar. ⚉ Batasan-batasan Allah ……di sia-siakan . ⚉ Agama-agama Allah ….di hina. ⚉ Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam ……dijauhi, Tapi ternyata hatinya dingin, lisannya diam bagaikan setan yang bisu, karena takut, karena khawatir kedudukannya jatuh, karena takut kehilangan pengikut dan yang lainnya, akhirnya diam seribu bahasa.
. Maka kata beliau (Ibnul Qayyim): 👉🏼 Maka kebaikan-kebaikan apa pada orang seperti ini dalam agama, kalau ternyata ketika ia melihat semua itu dia diam, dan dia tidak berusaha untuk memberikan nasehat, tidak berusaha sekuat tenaga untuk mengadakan islah perbaikan dan perubahan.
. Wallahu a’lam 🌴
.
. Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
. Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.
. Silahkan bergabung di Telegram Channel :https://t.me/aqidah_dan_manhaj
🍀 Kaidah yang ke 15 🍀
. 👉🏼 Apabila bertemu dua mudhorot, maka diambil yang paling ringan mudhorotnya.
. ⚉ Dalam Al Quran, Allah menyebutkan kisah Khidir yang membolongi kapal kaum fuqoro, agar tidak diambil oleh raja yang jahat. Membolongi kapal adalah mudhorot, namun khidir lakukan agar terhindar dari mudhorot yang lebih besar.
. ⚉ Dalam hadits disebutkan bahwa ada orang badui masuk ke masjid dan kencing di dalam masjid. maka para shahabat mengingkarinya. Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam melarang para shahabat dan membiarkan arab badui itu kencing. Karena bila Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam membiarkan para shahabat mengingkarinya, tentu akan menimbulkan mudhorot yang lebih besar.
. 👉🏼 Bila bertemu mudhorot khusus dengan mudhorot umum, maka kita korbankan mudhorot khusus untuk menghindari mudhorot umum.
. ⚉ Seperti bila pedagang kaki lima mengganggu lalu lalang jalan, maka pemerintah boleh menertibkan pedagang kaki lima untuk menghindari mudhorot yang lebih umum.
. ⚉ Perselisihan yang timbul karena membantah pemikiran yang sesat, lebih ringan dari tersebarnya kesesatan.
. ⚉ Boleh melaporkan tindakan kriminal kepada yang berwajib, karena mudhorot kriminal tersebut lebih besar. dan sebagainya.
.
. Wallahu a’lam 🌴
. Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
. Dari kitab “Syarah Mandzumah Ushul Fiqih“, yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al’Utsaimin, رحمه الله تعالى.
. Silahkan bergabung di Telegram Channel :https://t.me/kaidah_ushul_fiqih
. KAIDAHUSHUL FIQIH – Daftar Isi LENGKAP
Syaikh ‘Abdurrozzaq al-Badr حفظه الله تعالى berkata,
“Masjid merupakan tempat yang paling dicintai Allah ‘Azza wa Jalla. Sebuah tempat yang Allah perintahkan untuk diangkat dan disebut nama-Nya di sana. Apabila masjid telah dibangun maka di sana akan dilaksanakan sholat, dibaca ayat-ayat al-Qur’an, nama-nama Allah ‘Azza wa Jalla akan disebut, ilmu-ilmu akan diajarkan, serta bisa menjadi tempat berkumpulnya kaum Muslimin, masih banyak faedah-faedah yang lain. Masing-masing poin itu bisa menghasilkan pahala..”
“Wahai orang orang yang beriman jika kalian menolong (agama) Allah, niscaya Allah akan menolong kalian dan mengokohkan kaki kaki kalian (di atas agama-Nya).” (Muhammad: 7)
Membela agama Allah dengan cara terus bersabar dalam menuntut ilmu, mengamalkan dan menyebarkannya. Dan terus istiqomah di atas ketakwaan walaupun ujian terus mendera.
Dengan sabar dan taqwa semua makar orang orang yang bermakar menjadi sirna. Allah berfirman:
“Jika kamu tetap bersabar dan bertaqwa, nizcaya tidak akan membahayakan kalian makar mereka sedikitpun. Sesungguhnya Allah meliputi perbuatan mereka..” (Ali Imron: 120).
Jangan khawatir Allah tidak akan merealisasikan janji-Nya. Tapi khawatirlah keimanan kita menjadi lemah dan keyakinan kita kepada Allah terkikis oleh fitnah.
Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
Hadits di atas menunjukkan tentang keutamaan dua ayat terakhir surat Al-Baqarah.
Para ulama menyebutkan bahwa siapa yang membaca dua ayat terakhir surat Al-Baqarah, maka Allah akan memberikan kecukupan baginya untuk urusan dunia dan akhiratnya, juga ia akan dijauhkan dari kejelekan. Ada juga ulama yang mengatakan bahwa dengan membaca ayat tersebut imannya akan diperbaharui karena di dalam ayat tersebut ada sikap pasrah kepada Allah Ta’ala. Ada juga ulama yang mengatakan bahwa ayat tersebut bisa sebagai pengganti dari berbagai dzikir karena di dalamnya sudah terdapat do’a untuk meminta kebaikan dunia dan akhirat. (Lihat bahasan Prof. Dr. Musthafa Al-Bugha dalam Nuzhah Al-Muttaqin, hal. 400-401.)
Al-Qadhi ‘Iyadh menyatakan bahwa makna hadits bisa jadi dengan membaca dua ayat terakhir surat Al-Baqarah akan mencukupkan dari shalat malam. Atau orang yang membacanya dinilai menggantungkan hatinya pada Al-Qur’an. Atau bisa pula maknanya terlindungi dari gangguan setan dengan membaca ayat tersebut. Atau bisa jadi dengan membaca dua ayat tersebut akan mendapatkan pahala yang besar karena di dalamnya ada pelajaran tentang keimanan, kepasrahan diri, penghambaan pada Allah dan berisi pula do’a kebaikan dunia dan akhirat. (Ikmal Al-Mu’allim, 3: 176, dinukil dari Kunuz Riyadhis Sholihin, 13: 83).
Imam Nawawi sendiri menyatakan bahwa maksud dari memberi kecukupan padanya –menurut sebagian ulama- adalah ia sudah dicukupkan dari shalat malam. Maksudnya, itu sudah pengganti shalat malam. Ada juga ulama yang menyampaikan makna bahwa ia dijauhkan dari gangguan setan atau dijauhkan dari segala macam penyakit. Semua makna tersebut kata Imam Nawawi bisa memaknai maksud hadits. (Lihat Syarh Shahih Muslim, 6: 83-84.)
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin menjelaskan tentang keutamaan dua ayat tersebut ketika dibaca di malam hari, “Ketahuilah para ikhwan sekalian, kedua ayat ini jika dibaca di malam hari, maka akan diberi kecukupan. Yang dimaksud diberi kecukupan di sini adalah dijaga dan diperintahkan oleh Allah, juga diperhatikan dalam do’a karena dalam ayat tersebut terdapat doa untuk maslahat dunia dan akhirat.” (Ahkam Al-Qur’an Al-Karim, 2: 540-541).
Semoga bisa mengamalkan untuk membaca dua ayat terakhir Al-Baqarah ini mulai dari malam ini. Semoga kita meraih kebaikan dan keberkahan. Semoga Allah memberi taufik.
Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal MSc, حفظه الله تعالى.