Allah tidak serupa dengan apapun..
Maka jangan samakan Dia dengan makhluk-Nya..
Dan Dia Maha Melihat..
Padahal makhlukpun melihat..
Tapi penglihatan Allah tidak serupa dengan penglihatan makhkuk-Nya..
Dia Maha mendengar..
Padahal makhlukpun mendengar..
Tapi pendengaran Allah tidak serupa dengan pendengaran makhluk-Nya..
Demikianlah seluruh sifat Allah..
Tidak serupa dengan sifat makhluk-Nya..
Dia beristiwa di atas Arasy-Nya..
Namun istiwa yang tidak sama dengan istwa makhluk-Nya..
Tidak berkonsekwensi membutuhkan tempat atau arah..
Karena istiwa Allah berbeda dengan makhluk-Nya..
Dan tidak boleh memahami dengan akal kita bahwa yang namanya istiwa berkonsekwensi kepada tempat dan arah..
Karena itu adalah konsekwensi makhluk..
Allah kuasa untuk beristiwa di atas arasy tanpa membutuhkan tempat dan arah..
Bagi Allah itu mudah..
Tapi akal kita lah yang rusak..
Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى
“Aku bertemu dengan banyak ulama..
tingkatan keilmuan mereka berbeda-beda…
namun yang paling bermanfaat dari mereka bagiku adalah yang mengamalkan ilmunya…
walaupun yang lain lebih berilmu darinya…
Aku bertemu dengan ulama yang bernama Abdul Wahab Al Anmathi..
ia berjalan di atas manhaj salaf..
tak pernah terdengar ghibah di majelisnya..
tidak pula menerima upah dari menyampaikan hadits..
apabila dibacakan kepada beliau hadits-hadits yang menyentuh hati..
beliau menangis dan terus menangis..
saat itu usiaku masih amat muda..
namun tangisannya membangun kaidah dalam hatiku..
Aku juga bertemu dengan Abu Manshur Al Jawaliqi..
ia lebih banyak diam dan amat hati-hati dalam berbicara…
amat menguasai ilmu dan ahli tahqiq..
pernah ia ditanya tentang suatu masalah yang enteng…
namun ia baru menjawabnya setelah benar-benar yakin..
ia selalu berpuasa dan banyak diam..
aku lebih banyak mengambil manfaat dari dua ulama ini dibandingkan ulama lainnya..
dan akupun faham bahwa dalil yang dipraktekkan lebih mengena di hati dibandingkan yang hanya diucapkan..
maka berusahalah mengamalkan ilmu..
karena itulah pokok yang paling besar…
dan yang paling kasihan itu adalah orang yang menyia-nyiakan umurnya dengan ilmu yang tidak diamalkan..
sehingga ia terluput dari kenikmatan dunia dan kebaikan akherat..”
(Kitab Shaidul Khatir karya Ibnul Jauzi)
Diterjemahkan oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى
Simak penjelasan Ustadz Mizan Qudsiyah MA, حفظه الله تعالى berikut ini tentang do’a para malaikat bagi : orang-orang yang mendo’akan muslim lainnya dari kejauhan
Simak penjelasan Ustadz Mizan Qudsiyah MA, حفظه الله تعالى berikut ini tentang do’a para malaikat bagi : orang-orang yang menjenguk orang yang sakit atau mengunjungi saudaranya yang ia cintai karena Allah
Simak penjelasan Ustadz Mizan Qudsiyah MA, حفظه الله تعالى berikut ini tentang do’a para malaikat bagi : orang-orang yang mengajarkan kebaikan, mengajarkan ilmu
Imam ibnu Katsir dalam kitabnya alBidayah Wannihayah 13/147 menyebutkan sebuah kisah.. dengarkanlah..
Al Asyraf Musa bin Adil berkata..
“Suatu hari aku berada di sebuah tempat di negeri kholat.. tiba-tiba masuklah pelayan dan berkata.. di pintu, ada seorang wanita meminta izin.. ia pun kuizinkan masuk.. ternyata.. ia wanita yang amat cantik jelita, tak pernah aku melihat wanita yang lebih cantik darinya.. ternyata ia adalah anak raja yang dahulu pernah berkuasa di kholat..
ia mengatakan bahwa pasukanku telah menguasai desanya.. sementara ia amat membutuhkan rumah kontrakan.. karena ia makan dari hasil memahat untuk para wanita.. maka aku menyuruh orangku untuk mengembalikan harta miliknya dan menyediakan rumah untuk tempat tinggalnya..
ketika ia masuk, aku berdiri untuk menghormatinya.. dan mempersilahkannya duduk dan memintanya agar menutup wajahnya.. ia bersama wanita tua.. setelah selesai urusannya.. aku berkata, “Silahkan berdiri dengan menyebut nama Allah..”
wanita tua itu berkata, “Tuan, ia ingin melayanimu malam ini..” aku berkata, “Aku berlindung kepada Allah, tak layak seperti itu..” aku bergumam pada diriku bagaimana bila ini terjadi pada anak wanitaku..
lalu wanita tua itu berdiri dan berkata, “Semoga Allah menutupimu sebagaimana engkau menutupi kami..” aku berkata, “Apabila ada keperluan lagi sampaikan saja kepadaku, aku akan memenuhinya untukmu..” ia pun mendoakanku dengan kebaikan dan pergi..
aku bergumam pada diriku, “Yang halal bisa mencegahmu dari yang haram, nikahi saja dia..” aku berkata, “Tidak demi Allah.. dimanakah rasa malu, kemuliaan dan kehormatan..??”
Subhanallah.. kisah yang mengagumkan.. wanita yang amat jelita itu telah menyerahkan dirinya.. tapi ia segera ingat.. bagaimana bila itu terjadi pada anak wanitanya..
ia pun tak ingin mengambil kesempatan untuk menikahinya.. karena khawatir merusak kemuliaannya.. merusak keikhlasannya.. atau mengharapkan balasan dari pemberiannya.. ia tak ingin menikahinya karena menggunakan kesempatan..
itulah kemuliaan jiwa… ya Rabb..
Ditulis oleh, Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى
Dari pembahasan kitab FIQIH Ad Da’wah ‘inda Syaikh Al Islam Ibnu Taimiyyah – Kaidah-Kaidah dan Batasan-Batasan Dalam Fiqih Berdakwah Menurut Syaikh Al Islam Ibnu Taimiyyah, yang ditulis oleh Syaikh ‘Abid bin ‘Abdillah Ats Tsubati.
PEMBAHASAN SEBELUMNYA – Batasan 4 – Wajib Berpegang Kepada Al Qur’an dan Sunnah Ketika Mendakwahi Manusia – bisa di baca di SINI . =======
Kita lanjutkan.. qowaaid dan dhowaabit fiqih ad da’wah nya.. sekarang kita masuk ke..
⚉ BATASAN KE-5 : MEMERINTAHKAN KEPADA SEMUA PERKARA YANG MA’RUF, DAN MELARANG DARI SEGALA/SEMUA YANG MUNKAR
➡️ Ini adalah merupakan batasan yang harus diperhatikan oleh seorang da’i dan orang yang berdakwah.. yaitu persoalan yang berhubungan dengan amar ma’ruf nahi munkar.. dimana seorang da’i berusaha untuk menyampaikan semua kebaikan perkara-perkara yang ma’ruf.. dan tentunya dengan melihat tingkatan-tingkatannya, dan mendahulukan mana yang paling urgent untuk didahulukan.
“(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rosul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang munkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya. memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Quran), mereka itulah orang-orang yang beruntung..”
⚉ Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rohimahulah berkata, “Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam melaksanakan dakwah ini, beliau (shollallahu ‘alayhi wa sallam) menyuruh manusia kepada semua yang Allah perintahkan dan melarang mereka dari semua yang Allah larang..”
⚉ Demikian pula firman Allah dalam QS Aali Imron : 110
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik..”
➡️ Maka berarti atas dasar ini, seorang da’i wajib untuk mendakwahkan manusia kepada kebaikan yang paling besar terlebih dahulu.. seperti iman kepada Allah, iman kepada para malaikat, iman kepada sifat-sifat Allah dan nama-namanya.. dan beriman kepada semua yang sifatnya ghoib yang Allah perintahkan kita untuk mengimaninya.
➡️ Demikian pula amalan-amalan hati seperti keihklasan, tawakal, berharap, cinta, takut kepada Allah Subhaana Wata’ala
➡️ Demikian pula mengajarkan tentang akhlakul karimah seperti kejujuran, amanah, silaturahim, dan yang lainnya.
Maka kewajiban seorang da’i adalah untuk berjihad dengan hati, tangan dan lisannya.
Maka tidak boleh seorang da’i menganggap remeh permasalahan yang itu merupakan perintah Allah dan RosulNya. Sekecil apapun tidak boleh diremehkan. Seperti yang kita lihat dizaman sekarang ada sebagian da’i meremehkan masalah yang berhubungan dengan jenggot, yang berhubungan dengan masalah cadar, yang berhubungan dengan masalah cingkrang.. Itu diremehkan.. Padahal itu semua perkara yang diperintahkan oleh Allah Subhaana Wata’ala dan RosulNya.
Simak penjelasan Ustadz Mizan Qudsiyah MA, حفظه الله تعالى berikut ini tentang do’a para malaikat bagi : orang-orang yang setelah sholat duduk menunggu sholat berikutnya.
kita lanjutkan fiqihnya.. Kemudian orang-orang yang berhak mendapatkan zakat adalah..
5️⃣ Wafirriqoob
⚉ Apa makna Wafirriqoob..?
Hasan Al Basri, Muqotil bin Hayyan, ‘Umar bin Abdul Aziz, Sa’id bin Jubair, An Nakha’i, Az Zuhri dan demikian pula Ibnu Zayd berpendapat yang dimaksud adalah “mereka para hamba sahaya yang berusaha untuk memerdekakan dirinya..” yang disebut dengan Al Mukatab.. dan ini juga diriwayatkan bahwa ini pendapat Abu Musa Al Asy ‘ari dan ini adalah pendapat Imam Syafi’i dan Al Laits.
Sementara Ibnu ‘Abbas berpendapat bahwa masuk dalam Arriqoob yaitu “memerdekakan budak” artinya lebih umum daripada membantu budak yang ingin memerdekakan dirinya dari majikannya akan tetapi sebatas memerdekakan budak pun masuk kedalam makna Wafirriqoob.. Ini pendapat Al Hasan Al Basri dan mazhab Imam Ahmad dan Malik. Ini merupakan makna dari Wafirriqoob.
Kemudian Mustahiq berikutnya yaitu :
6️⃣ Al Ghoorimun
⚉ yaitu : Mereka yang terlilit hutang dan sulit atau berat untuk membayarnya dan ini ada beberapa macam..
1. Dia harus menanggung semua beban akibat mendamaikan dua kabilah yang berperang.. maka dia harus membayar segala sesuatunya.
2. Yang menjamin hutang orang lain sehingga akhirnya menghabiskan hartanya.
3. Terlilit oleh hutangnya sehingga ia tidak mampu untuk membayar hutangnya.
4. Bertaubat dari sebuah maksiat dan ternyata dia harus membayarnya, seperti misalnya ada orang yang harus keluar dari lembaga ribawi tapi harus membayar sejumlah uang, syarat untuk keluar. Maka yang seperti ini masuk dalam Al Ghoorimun, dibantu dari uang zakat itu tidak apa-apa..
7️⃣ Wafii Sabiilillah
⚉ (yaitu) Dijalan Allah Subhana wata’ala
Ibnu Katsir berkata, “adapun fii sabiilillah, diantara maknanya adalah orang-orang yang berperang dijalan Allah Subhana Wata’ala dan tidak punya hak didalam dewan..”
Dewan artinya : catatan negara sebagai orang-orang yang mendapatkan hasil dari ghonimah.. dia tidak punya gaji.
Dan menurut Imam Ahmad dan Al Hasan dan Ishaq, hajipun termasuk “fii sabiilillah.”
Ditunjukkan oleh hadist Ibnu ‘Abbas bahwa, Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam ingin berhaji lalu ada seorang istri yang berkata kepada suaminya, “Hajikanlah aku bersama Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam..”Maka suaminya berkata, “Aku tidak mendapat apapun, aku tidak punya harta untuk menghajikan kamu..” Istrinya berkata, “Hajikan aku walaupun dengan untanya fulan itu..” Maka suaminya berkata, “itu sudah aku wakafkan dijalan Allah..”
Lalu kemudian ia mengadu kepada Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam. Maka Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Kalau engkau hajikan istrimu dengan unta tersebut maka itu juga termasuk fii sabiilillah..” (Hadist ini di shohihkan oleh Syaikh al-AlBani rohimahullah)
Ini menunjukkan bahwa haji masuk didalam kategori “fii sabiilillah”
. Wallahu a’lam 🌻
. Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى
.
. Dari Kitab Fiqih Mausu’ah Muyassaroh, yang ditulis oleh Syaikh Hussain Al Uwaisyah, حفظه الله تعالى
.
. ARTIKEL TERKAIT Pembahasan Fiqih Mausu’ah Muyassaroh…
.
. WAG Al Fawaid Al Ilmiyyah