Category Archives: BBG Kajian

MUTIARA SALAF : Ayo Semangat Menanam Pohon Kebaikan

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata dalam kitab Al-Fawaa’id tatkala menjelaskan tentang Syajarotul Ikhlaash (Pohon Keikhlasan):⁣

⚉ “Tahun itu bagaikan sebatang pohon, bulan-bulannya adalah dahan, hari-harinya adalah ranting, jam-jamnya adalah daun, dan nafas (detak jantung) adalah buahnya. ⁣.

⚉ Barangsiapa yang waktu-waktunya diisi dengan ketaatan, maka buah dari pohon yang ia miliki akan bagus. Akan tetapi barangsiapa yang waktu-waktunya dihabiskan dalam kemaksiatan maka pohonnya akan berbuah pahit..

⚉ Hanya saja untuk mengetahui buah mana yang manis atau pahit dapat diketahui pada musim panen ketika semua buah dipetik, yaitu pada hari yang dijanjikan (kiamat).. ⁣

⚉ Ikhlas dan tauhid bagaikan sebatang pohon di dalam hati manusia, dahannya adalah amal perbuatan, sedang buahnya adalah kehidupan yang bahagia di dunia dan kenikmatan yang abadi di akhirat.. ⁣

⚉ Sebagaimana pohon yang ada dalam surga yang terus berbuah, tak pernah berhenti, juga tidak terlarang diambil, buah dari pohon tauhid dan ikhlas di dunia ini demikian pula; tidak pernah terputus buahnya dan tidak pernah terlarang dicicipi.⁣.

⚉ Dan demikian pula Syirik, dusta, dan riya’ adalah pohon di dalam hati manusia. Buahnya di dunia ini adalah rasa takut, kegelisahan, kesempitan hati, dan gelapnya hati.. ⁣

⚉ Sedangkan buahnya di akhirat adalah zaqqum (makanan ahli neraka) dan azab yang kekal. Kedua pohon inilah yang disebutkan Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam Al-Qur’an surat Ibrahim..”

(Lihat Al-Fawaa’id, hal. 214).⁣

ref : https://www.facebook.com/SyafiqRizaBasalamahOfficial

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

 

Jagalah Sholat Berjama’ah Di Masjid

Abdullah bin Mas’ud rodliyallahu ‘anhu berkata,

من سره أن يلقى الله غدا مسلما، فليحافظ على هؤلاء الصلوات حيث ينادى بهن. ‏فإن الله شرع لنبيكم ﷺ سنن الهدى، وإنهن من سنن الهدى. ‏ولو أنكم صليتم في بيوتكم كما يصلي هذا المتخلف في بيته لتركتم سنة نبيكم، ولو تركتم سنة نبيكم لضللتم

“Siapa yang suka untuk bertemu dengan Allah besok dalam keadaan muslim, maka jagalah sholat lima waktu saat dipanggil kepadanya..

Karena Allah telah mensyariatkan kepada Nabimu shollallahu ‘alayhi wa sallam sunnah-sunnah petunjuk, dan sesungguhnya ia (sholat berjama’ah) termasuk sunnah-sunnah petunjuk..

Jika kalian sholat di rumah sebagaimana orang ini, maka kalian telah meninggalkan ajaran Nabi kalian, dan jika kalian telah meninggalkan ajaran Nabi maka kalian akan tersesat..”

(Dikeluarkan oleh Muslim dalam shohihnya no 654)

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Keburukan Hendaknya Dibalas Dengan Kebaikan

Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ليس الواصل بالمكافئ، ولكن الواصل الذي إذا قطعت رحمه وصلها

“Bukanlah menyambung silaturahmi itu dengan membalas kunjungan.. Akan tetapi menyambung silaturahim itu adalah apabila diputuskan hubungan ia segera menyambungnya..”
(HR Al Bukhari)

Menyambung hubungan yang diputus oleh saudara kita adalah berat..
Membutuhkan kesabaran dan dada yang lapang..

Seringnya kita adalah marah dan tak peduli lagi..
Namun keburukan itu hendaknya dibalas dengan kebaikan..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

 

Dosa Menimbulkan Permusuhan

Ibnu Taimiyah rohimahullah berkata:

النَّاس إذا تعاونوا على الإثم و العدوان أبغض بعضهم بعضاً

“Manusia bila saling tolong menolong dalam dosa dan permusuhan mereka pasti akan saling membenci satu sama lainnya..” (Majmu Fatawa 15/128)

Karena dosa menimbulkan permusuhan..
Dan meretakkan persaudaraan..

Maka Allah memerintahkan kita untuk saling tolong menolong dalam kebaikan dan taqwa..
Agar menutup celah setan..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

FIQIH Ad Da’wah – Batasan 4 – Wajib Berpegang Kepada Al Qur’an dan Sunnah Ketika Mendakwahi Manusia

Dari pembahasan kitab FIQIH Ad Da’wah ‘inda Syaikh Al Islam Ibnu Taimiyyah – Kaidah-Kaidah dan Batasan-Batasan Dalam Fiqih Berdakwah Menurut Syaikh Al Islam Ibnu Taimiyyah, yang ditulis oleh Syaikh ‘Abid bin ‘Abdillah Ats Tsubati.

PEMBAHASAN SEBELUMNYA – Batasan 3 – Mendakwahi Manusia Kepada Ketaatan Hendaknya Dengan Cara Yang Paling Baik  – bisa di baca di SINI
.
=======

Alhamdulillah.. wash-sholaatu was-salaamu ‘alaa Rosuulillah…

Kita lanjutkan..  qowaaid dan dhowaabit fiqih ad da’wah nya.. kita masuk ke..

⚉ BATASAN KE-4 : SETIAP ORANG YANG BERDAKWAH KEPADA SESUATU DARI AGAMA TANPA ADA DALIL DARI AL QUR’AN DAN SUNNAH, MAKA SUNGGUH IA TELAH BERDAKWAH KEPADA BID’AH DAN KESESATAN

➡️ Kewajiban seorang da’i adalah berpegang kepada Al Qur’an dan Sunnah ketika mendakwahi manusia. Maka tidak boleh ia berdakwah kecuali kepada sesuatu yang telah jelas ada dalilnya dari syariat.

⚉ Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rohimahullah berkata, “Dan kita meyakini bahwa setiap kebenaran yang dibutuhkan oleh manusia dalam pokok agama mereka, pasti sudah dijelaskan oleh Rosul shollallahu ‘alayhi wa sallam.. karena cabang-cabang agama tidak mungkin berdiri kecuali dengan pokok-pokoknya.. bagaimana boleh Rosul meninggalkan untuk menjelaskan pokok-pokok agama yang tidak mungkin sempurna keimanan kecuali dengannya.. Tidak mungkin hal seperti ini..” (Dalam Kitab Dar-u ta’arudh al’aql wan naql jilid 1 halaman 235)

⚉ Dalil daripada batasan ini adalah Firman Allah Ta’ala dalam QS Al-Maidah: 3

‎ ٱلۡيَوۡمَ أَكۡمَلۡتُ لَكُمۡ دِينَكُمۡ وَأَتۡمَمۡتُ عَلَيۡكُمۡ نِعۡمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلۡإِسۡلَٰمَ دِينٗاۚ فَمَنِ ٱضۡطُرَّ فِي مَخۡمَصَةٍ غَيۡرَ مُتَجَانِفٖ لِّإِثۡمٖ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٞ رَّحِيمٞ

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhoi Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang..”

➡️ Maka ayat ini menunjukan bahwa Nabi ‎shollallahu ‘alayhi wa sallam telah menjelaskan semua yang dibutuhkan oleh manusia. Tidak ada satupun kebaikan yang mendekatkan kesurga kecuali Rosulullah telah jelaskan.. dan tidak ada keburukan yang mendekatkan ke neraka kecuali Rosulullah juga telah menjelaskannya.

⚉ Dan disebutkan dalam hadits, Nabi ‎shollallahu ‘alayhi wa sallam bersabda (yang artinya), “Aku telah tinggalkan kalian diatas putih bersih, malamnya bagaikan siangnya. Tidak ada yang melenceng darinya setelahku kecuali akan binasa.. dan siapa yang hidup diantara kalian nanti akan melihat perpecahan yang banyak.. maka saat itu hendaklah kalian berpegang kepada sunnahku dan sunnah khulafaur rasyidin yang tertunjuki.. gigitlah ia dengan gigi geraham..” (HR. Ibnu Majah dan dishohihkan oleh Syaikh al-Albani rohimahullah).

⚉ Adapun prakteknya dari batasan ini :

1️⃣ Wajib seorang ulama/da’i untuk senantiasa berpegang kepada Al Qur’an dan sunnah. Baik dalam dakwah ataupun dalam mengajar, ataupun ketika hendak menghukumi sesuatu.. Semua harus berdasarkan kepada Al Qur’an dan Sunnah sesuai dengan pemahaman para sahabat Rosulullah ‎shollallahu ‘alayhi wa sallam .

2️⃣ Demikian pula ketika kita membantah ahli bid’ah, maka kitapun bantah dengan Al Qur’an dan Sunnah. Tidak boleh membantah bid’ah dengan kebid’ahan lagi.

➡️ Maka kewajiban kita dalam berbicara, dalam masalah agama pun juga harus bedasarkan dalil-dalil yang jelas dan tegas dari Al Qur’an dan hadits dan tentunya sesuai dengan pemahaman salaful ummah dari kalangan sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in.
.
.
Wallahu a’lam 🌻
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
.
Dari Kitab FIQIH Ad Da’wah Menurut Syaikh Al Islam Ibnu Taimiyyah, yang ditulis oleh Syaikh ‘Abid bin ‘Abdillah Ats Tsubati.
.
.
Artikel TERKAIT :
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – FIQIH Ad Da’wah ‘Inda Syaikh Al Islam Ibnu Taimiyyah – Kaidah-Kaidah dan Batasan-Batasan Dalam Fiqih Berdakwah Menurut Syaikh Al Islam Ibnu Taimiyyah
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – At Takfiir wa Dhowabithhu – Kaidah-Kaidah Dalam Pengkafiran
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Haqiiqotul Bid’ah wa AhkaamuhaaHakikat Bid’ah dan Hukum-Hukumnya
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Showarif ‘Anil HaqHal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari KEBENARAN
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Al IshbaahManhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN

AL FAWAID AL ILMIYYAH GROUP

KITAB FIQIH – Zakat : Muallaf

Dari pembahasan Kitab Fiqih Mausu’ah Muyassaroh, yang ditulis oleh Syaikh Hussain Al Uwaisyah, حفظه الله تعالى.

PEMBAHASAN SEBELUMNYA – Zakat : Aamilin  – bisa di baca di SINI

=======

Alhamdulillah.. wash-sholaatu was-salaamu ‘alaa Rosuulillah…

Kita lanjutkan fiqihnya..
Kemudian orang-orang yang berhak mendapatkan zakat yang ke.. 

4️⃣ Al Muallafatu Quluubuhum (Muallaf)

Siapa itu muallaf..?

Yaitu, mereka yang diberikan zakat karena hatinya itu sedang diambil.. dan ini ada beberapa macam :

1. Orang yang diberikan zakat karena diharapkan keislamannya, sebagaimana Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam memberi kepada Shofwan bin Umayyah dari ghonimah Hunain.

2. Orang yang diberikan zakat agar Islamnya semakin bagus dan agar hatinya semakin kokoh diatas keislaman. Sebagaimana disebutkan dalam hadist dikeluarkan oleh Imam Bukhari dan Muslim.

‎إِنِّي َلأُعْطِيَ الرَّجُلَ، وَغَيْرَهُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْهُ, خَشْيَةَ أَنْ يَكُبَّهُ اللهُ عَلَى وَجْهِهِ فِي نَارِ

“Sesungguhnya aku memberi kepada seseorang, dan yang lainnya lebih aku sukai dari dia, karena aku khawatir Allah akan memasukkannya ke dalam api Neraka..” (HR Bukhari dan Muslim)

3. Orang yang diberikan zakat kepada mereka karena di khawatirkan akan memberikan mudhorot terhadap kaum muslimin.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahullah dalam Majmu Fatawa, membawakan perkataan Abu Ja’far Ath Thobari. Beliau berkata,

“Yang benar bahwasannya Allah menjadikan zakat itu untuk 2 makna yaitu..

1. Menutup kebutuhan kaum muslimin,
2. Untuk membantu Islam dan mengokohkannya..”

Jadi ini 2 makna daripada disyariatkannya zakat. Maka orang-orang yang dikhawatirkan akan bermudhorot untuk kaum muslimin, dengan diberikan zakat agar mereka tidak memberikan mudhorotnya, maka itu diperbolehkan.

Ini adalah 3 macam muallaf. Al muallafatu quluubuhum artinya :
Hati mereka itu diambil untuk supaya masuk Islam atau semakin kuat keislamannya atau setidaknya ia tidak memberikan gangguan kepada kaum muslimin.
.
Wallahu a’lam 🌻
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى 
.
.
Dari Kitab Fiqih Mausu’ah Muyassaroh, yang ditulis oleh Syaikh Hussain Al Uwaisyah, حفظه الله تعالى
.
.
ARTIKEL TERKAIT
Pembahasan Fiqih Mausu’ah Muyassaroh…
.
.
WAG Al Fawaid Al Ilmiyyah

Jiwa Mukmin Itu Mulia

Fudhail bin Iyadh berkata:

المؤمن يستر وينصح، والفاجر يهتك ويعير

“Mukmin itu suka menutupi aib (saudaranya) dan memberi nasehat. Sedangkan orang fajir itu suka membuka aib dan memburuk burukkan..”

(Jami’ul Ulum wal Hikam 1/224)

Jiwa mukmin itu mulia..
Dan menyukai perbuatan yang mulia..

Bila melihat aib saudaranya, ia tutupi..
Dan memberi nasehat dengan cara yang indah..
Walaupun ia sedang kurang baik hubungannya dengannya..

Karena banyak orang yang mudah menutupi aib saudaranya saat cinta kepadanya..
Namun saat benci..
Amat mudah membongkar aib dan memburuk burukkannya..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Bersedekahlah Walaupun Sedikit

Dari Adiy bin Hatim, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi Wasallam bersabda:

مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلاَّ سَيُكَلِّمُهُ اللّهُ، لَيْسَ بَيْنَهُ وَبَيْنَهُ تُرْجُمَانٌ، فَيَنْظُرُ أَيْمَنَ مِنْهُ فَلاَ يَرَى إِلاَّ مَا قَدَّمَ، وَيَنْظُرُ أَشْأَمَ مِنْهُ فَلاَ يَرَى إِلاَّ مَا قَدَّمَ، وَيَنْظُرُ بَيْنَ يَدَيْهِ فَلاَ يَرَى إِلاَّ النَّارَ تِلْقَاءَ وَجْهِهِ، فَاتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ

“Tidak ada seorangpun dari kalian kecuali akan diajak berbicara oleh Allah tanpa penerjemah antara ia dengan Allah. Ia melihat ke kanan, tidak melihat kecuali amal yang telah ia lakukan. Ia melihat ke kiri, tidak melihat kecuali apa yang telah ia amalkan. Ia melihat ke depan, tidak melihat kecuali api Neraka di hadapannya.. Maka selamatkan diri kalian dari api neraka walaupun dengan bersedekah setengah kurma..”
(HR Bukhari dan Muslim)

Sedekah walaupun sedikit…
Amat bermanfaat pada hari kiamat kelak…

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

MUTIARA SALAF : Husnuzhon Kepada Allah

Husnuzhon (berbaik sangka) kepada Allah itu bukan dengan meninggalkan kewajiban, bukan pula dengan melakukan kemaksiatan. Barangsiapa yang mengira demikian, maka dia telah tertipu dan merasa aman dengan makar Allah.

Ibnul Qoyyim -rohimahullah- mengatakan:
“Telah jelas perbedaan antara Husnuzhon dengan keadaan tertipu.. Bila Husnuzhon menjadikan seseorang beramal, mendorongnya, membantunya, dan menggiringnya kepada kebaikan, maka itulah Husnuzhon yang benar..

Tapi bila Husnuzhon kepada Allah, mengajaknya untuk malas-malasan dan bergelimang dalam kemaksiatan, maka itu keadaan tertipu..”

[Aljawabul Kafi 1/38]

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA,  حفظه الله تعالى

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL