
Category Archives: Hadits
Suami Dan Istri Saling Mendo’akan Kebaikan


salah satu bentuk syukur seorang istri kepada suaminya adalah dengan senantiasa mendo’akan kebaikan untuk sang suami, dan mengucapkan do’a kebaikan : ‘jazaakallahu khoyron’ (semoga Allah membalasmu dengan kebaikan) atas segala macam bentuk perhatian, nafkah, nasihat yang diberikan oleh suami kepada istri tercintanya.
dan jawaban suami atas do’a tsb adalah dengan senantiasa mendo’akan kebaikan bagi sang istri, serta menjawab do’a sang istri tercinta : ‘wa jazaakillahu khoyron’ (dan semoga Allah membalasmu dengan kebaikan).
subhaanallah, suami dan istri saling mendo’akan kebaikan .. semoga Allah melimpahkan rahmat serta karunia-Nya kepada keduanya, dan mempertemukan kembali keduanya di surga-Nya kelak, aamiin.
Orang Beriman Pasti Diuji
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
الٓمٓ ١ أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن يُتۡرَكُوٓاْ أَن يَقُولُوٓاْ ءَامَنَّا وَهُمۡ لَا يُفۡتَنُونَ ٢ وَلَقَدۡ فَتَنَّا ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡۖ فَلَيَعۡلَمَنَّ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ صَدَقُواْ وَلَيَعۡلَمَنَّ ٱلۡكَٰذِبِينَ ٣
“Alif laam miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan untuk mengatakan, ‘Kami telah beriman’ sedang mereka tidak diuji lagi..?! Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta..” (al-Ankabut: 1—3)
Saad bin Abi Waqqash rodhiyallahu ‘anhu pernah bertanya kepada Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam,
يَا رَسُولَ اللهِ، أَيُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلاَءً؟
“Wahai Rosulullah, siapakah orang yang paling berat ujiannya..?”
قَالَ: اْلأَنْبِيَاءُ ثُمَّ اْلأَمْثَلُ فَاْلأَمْثَلُ، فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ، فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلاَؤُهُ، وَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِيَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ، فَمَا يَبْرَحُ الْبَلاَءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِي عَلَى اْلأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ
Beliau menjawab, “Orang yang paling berat ujiannya adalah para nabi, kemudian yang semisalnya dan yang semisalnya.
Seseorang diuji sesuai dengan kadar keimanannya, kalau kuat imannya maka semakin keras ujiannya, kalau lemah imannya maka diuji sesuai dengan kadar imannya.
Maka senantiasa seorang hamba diuji oleh Allah sehingga dia dibiarkan berjalan di atas permukaan bumi tanpa memiliki dosa..”
(HR. at-Tirmidzi no. 2398, dinilai shohih oleh al-Albani dalam ash-Shohihah no. 143)
Diantara Penyebab Allah Turunkan Suatu Musibah Pada Diri Seorang Hamba
Rosulullah shollallaahu ‘alayhi wasallam bersabda,
إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا سَبَقَتْ لَهُ مِنْ اللَّهِ مَنْزِلَةٌ لَمْ يَبْلُغْهَا بِعَمَلِهِ ابْتَلَاهُ اللَّهُ فِي جَسَدِهِ أَوْ فِي مَالِهِ أَوْ فِي وَلَدِهِ ثُمَّ صَبَّرَهُ عَلَى ذَلِكَ حَتَّى يُبْلِغَهُ الْمَنْزِلَةَ الَّتِي سَبَقَتْ لَهُ مِنْ اللَّهِ تَعَالَى
“Sesungguhnya seorang hamba jika telah ditentukan untuknya derajat (yang tinggi) namun amalnya tidak mencapainya, maka Allah akan timpakan padanya musibah pada :
– dirinya,
– hartanya atau
– pada anaknya,
kemudian Allah jadikan dia bisa bersabar atas musibah tersebut sehingga dengan sebab tersebut Allah sampaikan ia pada derajat yang telah Allah tetapkan untuknya..”
(HR. Abu Daud no. 2686)
Musibah bukan hanya untuk menggugurkan dosa..
Tidak juga selamanya menunjukkan pelakunya banyak dosa..
Namun terkadang karena amalnya yang kurang..
Sementara Allah telah menentukan derajat yang tinggi untuknya..
Maka Allah pun terus mengujinya hingga sampai kepada derajat tersebut..
Maka pujilah Allah saat ditimpa musibah..
Karena Dia tidak pernah menzalimi hamba-Nya..
✏️
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى
Keutamaan Tersenyum Ketika Bertemu Dengan Seorang Muslim
Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda ,
” تَبَسُّمُكَ فِى وَجْهِ أَخِيكَ لَكَ صَدَقَةٌ “
“Senyummu di hadapan saudaramu (sesama muslim) adalah bernilai sedekah bagimu..”
(HR. At Tirmidzi no. 1956 – dinyatakan hasan oleh Syaikh Al Albani dalam Ash Shohihah no. 572)
● Imam Ibnu Batthol rohimahullahu ta’ala berkata,
Sesungguhnya berjumpa dengan saudaramu yang beriman dengan wajah yang ceria lagi tersenyum, ini merupakan salah satu dari akhlaknya Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam.
Dan ini juga menghilangkan sifat sombong dihati dan dapat menumbuhkan sifat kasih sayang.
(Syarah Shohih Bukhari 5/193)
Tata Cara Sholat Istikhoroh
Simak penjelasan Ustadz Mizan Qudsiyah MA, حفظه الله تعالى berikut ini :

TATA CARA SHALAT ISTIKHOROH
1. Istikhoroh dilakukan ketika seseorang bertekad untuk melakukan satu hal tertentu, bukan sebatas lintasan batin. Kemudian dia pasrahkan kepada Allah.
2. Bersuci, baik wudhu atau tayammum.
3. Melaksanakan sholat dua roka’at. Sholat sunnah dua roka’at ini bebas, tidak harus sholat khusus. Bisa juga berupa sholat rawatib, sholat tahiyatul masjid, sholat dhuha, dll, yang penting dua roka’at.
4. Tidak ada bacaan surat khusus ketika sholat. Artinya cukup membaca Al-Fatihah (ini wajib) dan surat atau ayat yang dihafal.
5. Berdo’a (dengan do’a diatas) setelah salam dan dianjurkan mengangkat tangan. Misalnya: bekerja di perusahaan A atau menikah dengan B atau berangkat ke kota C, dst.
6. Melakukan apa yang menjadi tekadnya. Jika menjumpai halangan, berarti itu isyarat bahwa Allah tidak menginginkan hal itu terjadi pada anda.
7. Apapun hasil akhir setelah istikhoroh, itulah yang terbaik bagi kita. Meskipun bisa jadi tidak sesuai dengan harapan sebelumnya. Karena itu, kita harus berusaha ridho dan lapang dada dengan pilihan Allah untuk kita. Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan dalam do’a di atas, dengan menyatakan, [ ثُمَّ أَرْضِنِى] “kemudian jadikanlah aku ridho dengannya..” maksudnya adalah ridho dengan pilihan-Mu ya Allah, meskipun tidak sesuai keinginanku.
Allaahu a’lam
ref : konsultasisyariah.com
ARTIKEL TERKAIT
KESALAH PAHAMAN YANG TERJADI DI MASYARAKAT BERKAITAN DENGAN SHOLAT ISTIKHOROH
Orang Yang Terbaik
Dari Abdullah bin Amr rodhiyallahu ‘anhu berkata,
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَيْ النَّاسِ أَفْضَلُ؟ قَالَ: كُلُّ مَخمومُ الْقلب صَدُوق اللِّسَان. قَالُوا: صدوق اللِّسَانِ نَعْرِفُهُ فَمَا مَخْمُومُ الْقَلْبِ؟ قَالَ: هُوَ النَّقِيُّ التَّقِيُّ لَا إِثْمَ عَلَيْهِ وَلَا بَغْيَ وَلَا غِلَّ وَلَا حَسَدَ
‘Kami mengatakan, ‘Wahai Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam, siapakah orang yang terbaik..?’
Beliau shollallahu ‘alayhi wasallam menjawab, ‘Orang yang memiliki hati yang makhmum dan lisan yang jujur..’
Mereka berkata, ‘Kami telah tahu lisan yang jujur .. lalu apa itu hati yang makhmum..?’
Beliau shollallahu ‘alayhi wasallam menjawab, ‘Hati yang bertakwa lagi bersih, tiada dosa dan hasad padanya..’
(HR. al-Baihaqi dalam asy-Syu’ab, no. 6180, dan dinilai shohih oleh Syaikh al-Albani dalam ash-Shohiihah, no. 948)
Penyebab Lapangnya Atau Sempitnya Sebuah Rumah
Abu Hurairah rodhiyallahu ‘anhu berkata,
ﺇِﻥَّ ﺍﻟْﺒَﻴْﺖَ ﻟَﻴَﺘَّﺴِﻊُ ﻋَﻠَﻰ ﺃَﻫْﻠِﻪِ، ﻭَﺗَﺤْﻀُﺮُﻩُ ﺍﻟْﻤَﻠَﺎﺋِﻜَﺔُ، ﻭَﺗَﻬْﺠُﺮُﻩُ ﺍﻟﺸَّﻴَﺎﻃِﻴﻦُ، ﻭَﻳَﻜْﺜُﺮُ ﺧَﻴْﺮُﻩُ، ﺃَﻥْ ﻳُﻘْﺮَﺃَ ﻓِﻴﻪِ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥُ. ﻭَﺇِﻥَّ ﺍﻟْﺒَﻴْﺖَ ﻟَﻴَﻀِﻴﻖُ ﻋَﻠَﻰ ﺃَﻫْﻠِﻪِ، ﻭَﺗَﻬْﺠُﺮُﻩُ ﺍﻟْﻤَﻠَﺎﺋِﻜَﺔُ، ﻭَﺗَﺤْﻀُﺮُﻩُ ﺍﻟﺸَّﻴَﺎﻃِﻴﻦُ، ﻭَﻳَﻘِﻞُّ ﺧَﻴْﺮُﻩُ، ﺃَﻥْ ﻟَﺎ ﻳُﻘْﺮَﺃَ ﻓِﻴﻪِ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥُ
Sesungguhnya sebuah rumah benar-benar akan :
– terasa lapang bagi penghuninya,
– didatangi oleh para malaikat,
– dijauhi oleh para setan,
– dan banyak kebaikannya
dengan dibacakan al-Qur’an di dalamnya.
Demikian pula sebaliknya, sungguh sebuah rumah benar-benar akan :
– terasa sempit bagi penghuninya,
– dijauhi oleh para malaikat,
– didatangi oleh para setan,
– dan sedikit kebaikannya,
dengan tidak dibacakan al-Qur’an di dalamnya.
( Sunan ad-Darimy no. 3352 )
Orang Yang Paling Buruk Kedudukannya Di Akherat
Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda,
إِنَّ شَرَّ النَّاسِ مَنْزِلَةً عِنْدَ اللهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ وَدَعَهُ أَوْ تَرَكَهُ النَّاسُ اتِّقَاءَ فُحْشِهِ.
Sesungguhnya orang yang paling buruk kedudukannya di sisi Allah pada hari kiamat adalah orang yang ditinggalkan atau dijauhi oleh manusia karena mereka khawatir akan keburukannya.
(HR. Al-Bukhari no. 6131, Muslim no. 2591)
===
Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad hafizhohullah berkata:
وذلك كإنسان يكون عنده بذاءة في اللسان وعنده تطاول على الناس، فالناس يحرصون على أن يتخلصوا منه، ولا يدخلون معه في مصادمات؛ لأنه يؤذيهم.
Hal itu seperti seseorang yang memiliki lisan yang kotor dan sifat jahat terhadap manusia, sehingga manusia berusaha untuk menghindar darinya dan tidak mau berurusan dengannya, karena dia dapat menyakiti mereka.
(Syarh Sunan Abu Dawud, hadits no. 4791)
Penghalang Dari Adzab Allah
Syaikh Muhammad bin Sholeh al-‘Utsaimin (w. 1421 H) rohimahullahu ta’ala berkata,
أنجى ما ينجيك من عذاب الله عز وجل هو ذكر الله, فعليك بالذكر دائما. والإنسان الموفق يمكن أن يذكر الله على كل حال كما قالت عائشة رضي الله عنها (كان النبي ﷺ يذكر الله على كل أحيانه.
Sesuatu yang paling besar harapannya untuk menyelamatkanmu dari adzab Allah adalah dzikir. Maka hendaknya engkau selalu berdzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla.
Dan seorang hamba yang terbimbing akan selalu dimudahkan berdzikir kepada Allah di setiap keadaan apapun. Sebagaimana Ummul Mukminin ‘Aisyah rodhiyallahu ‘anha pernah mengatakan, bahwa Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam senantiasa berdzikir kepada Allah di setiap keadaannya.
( Syarah Bulughul Maram – 15/445 )