Category Archives: Hadits

Cara Mensyukuri Nikmat Allah

Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda,

انْظُرُوا إلى مَنْ هو أسْفَلَ مِنْكُم، ولا تَنْظُروا إلى مَنْ هو فَوْقَكُم، فهو أجْدَرُ أنْ لا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ الله عليكم

“Lihatlah kepada orang yang dibawah kalian dan jangan melihat orang yang lebih di atas kalian. Yang demikian itu (melihat ke bawah) akan membuat kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang diberikan-Nya kepada kalian..”

(HR. Muslim)

Ada sebuah ungkapan menarik dari Aun bin Abdillah bin Utbah rohimahullah. Beliau mengatakan,

“Aku banyak bergaul dengan orang-orang kaya, maka aku tidak menemukan orang yang paling banyak obsesinya melebihi diriku. Aku selalu melihat tunggangan mereka yang jauh lebih baik dari tungganganku, pakaian mereka yang jauh lebih baik dari pakaianku. Namun setelah mendengar hadits ini aku memilih bergaul dengan orang-orang faqir. Maka akupun merasakan ketenangan dan rehat karena letih mengejar obsesi..”

(Sunan at-Tirmidzi hal: 304)

Tiga Perkara Yang Menghapus Dosa, Mengangkat Derajat, Menyelamatkan Dan Membinasakan

Dari Anas bin Malik rodhiyallahu ‘anhu, Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda,

Ada tiga perkara yang menghapus dosa, tiga perkara yang mengangkat derajat, tiga perkara yang menyelamatkan, dan tiga perkara yang membinasakan

TIGA PERKARA YANG MENGHAPUS DOSA
● menyempurnakan wudhu dalam keadaan dingin/sulit
● menunggu (di masjid) dari satu sholat (berjama’ah) hingga sholat (berjama’ah) berikutnya
● berjalan menuju sholat berjama’ah.

TIGA PERKARA YANG MENGANGKAT DERAJAT
● memberi makan
● menyebarkan salam
● sholat di waktu malam, ketika manusia sedang tidur.

TIGA PERKARA YANG MENYELAMATKAN
● berbuat adil ketika marah maupun senang
● sederhana ketika miskin maupun kaya
● takut kepada Allah ketika bersendirian maupun di keramaian.

TIGA PERKARA YANG MEMBINASAKAN
● kekikiran yang kelewatan/dituruti
● hawa nafsu yang dituruti
● kekaguman seseorang terhadap dirinya

(HR. Ath-Thobroni – Shohiihul Jaami’ no. 3045)

Besarnya Fitnah Wanita Yang Memakai Parfum Ketika Keluar Rumah

Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

”أيُّما امرأةٍ استعطرتْ ثُمَّ خَرَجَتْ ، فمرَّتْ علَى قومٍ ليجِدُوا ريَحها فهِيَ زانيةٌ ، وكُلُّ عينٍ زانيةٌ.“

“Wanita mana saja yang memakai wewangian lalu ia keluar dan melewati para lelaki sehingga tercium sebagian dari wanginya tersebut, maka ia seorang pezina. Dan setiap mata yang melihatnya juga pezina..”

(HR. Abu Daud no. 4173 dan dihasankan oleh syaikh Al-Albani dalam Shohih al-Jaami’ no. 2701).

● Al-Munawi rohimahullahu Ta’ala menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan kalimat (فهي زانية) “maka ia seorang wanita pezina” adalah,

هي بسبب ذلك متعرِّضةٌ للزنا.

“Keluarnya dia dengan aroma minyak wangi membuka peluang terjadinya zina..”

(Faidhul Qodir 1/355)

Diantara Hukuman Bagi Pemakan Riba

Suatu pagi, seusai sholat shubuh, Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam menceritakan perjalanan mimpi beliau bersama Malaikat Jibril dan Mikail ‘alayhimas salam. Kisah ini diceritakan oleh sahabat Samurah bin Jundub rodhiyallahu ‘anhu.

Dalam perjalanan itu beliau menyaksikan berbagai adzab yang menimpa ahli maksiat, di antaranya para pemakan riba.

Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda tentang apa yang menimpa mereka,

فَانْطَلَقْنَا حَتَّى أَتَيْنَا عَلَى نَهْرٍ مِنْ دَمٍ فِيْهِ رَجُلٌ قَائِمٌ عَلَى وَسْطِ النَّهْرِ وَعَلَى شَطِّ النَّهْرِ بَيْنَ يَدَيْهِ حِجَارَةٌ فَأَقْبَلَ الرَّجُلُ الَّذِي فِي النَّهْرِ فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَخْرُجَ رَمَى الرَّجُلُ بِالْحِجَارَةِ فِي فِيْهِ فَرَدَّهُ حَيْثُ كَانَ فَجَعَلَ كُلَّمَا جَاءَ لِيَخْرُجَ رَمَى فِي فِيْهِ بِحَجَرٍ فَيَرْجِعُ كَمَا كَانَ

Kami pun pergi hingga menjumpai sebuah sungai darah. Di tengahnya ada orang yang berdiri (di dalam sungai). Di pinggir sungai ada orang yang di hadapannya batu. Lelaki yang berada di tengah sungai darah mendekat. Saat dia hampir keluar darinya, lelaki (yang di pinggir sungai) melemparkan batu ke mulutnya hingga dia kembali ke tengah sungai.

Demikian seterusnya, setiap kali hendak keluar dari sungai, batu dilemparkan ke mulutnya hingga kembali (tersiksa di tengah sungai darah).

(HR. Al-Bukhari dalam ash-Shohiih no. 1386)

Do’a Memohon Keluasan Rezeki

Dari sahabat Abdullah bin Mas’úd rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,

ضَافَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأَرْسَلَ إِلَى أَزْوَاجِهِ يَبْتَغِي عِنْدَهُنَّ طَعَامًا، فَلَمْ يَجِدْ عِنْدَ وَاحِدَةٍ مِنْهُنَّ، فَقَالَ: «اللهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ وَرَحْمَتِكَ؛ فَإِنَّهُ لَا يَمْلِكُهَا إِلَّا أَنْتَ» ، فَأُهْدِيَتْ إِلَيْهِ شَاةٌ مَصْلِيَّةٌ، فَقَالَ: «هَذِهِ مِنْ فَضْلِ اللهِ، وَنَحْنُ نَنْتَظِرُ الرَّحْمَةَ»

“Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam kedatangan tamu, maka beliau mengirim utusan kepada istri-istrinya untuk mencari makanan. Namun ternyata tidak ada makanan sama sekali pada seorangpun dari istri-istrinya. Maka beliau berdo’a,

اَللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ وَرَحْمَتِكَ، فَإِنَّهُ لاَ يَمْلِكُهَا إِلاَّ أَنْتَ

ALLAAHUMMA INNII AS-ALUKA
MIN FADHLIKA WA ROHMATIKA
FA-INNAHU LAA YAMLIKUHAA
ILLAA ANTA

“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu tambahan karunia-Mu dan rahmat-Mu, karena sesungguhnya tidak ada yang memilikinya kecuali Engkau..”

Lalu Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam mendapat hadiah seekor kambing panggang. Maka beliau berkata,

هَذِهِ مِنْ فَضْلِ اللهِ، وَنَحْنُ نَنْتَظِرُ الرَّحْمَةَ.

“Ini termasuk karunia Allah, dan kita sedang menanti rahmat-Nya..”

(HR. At Thobroni dalam Al-Mu’jam Al-Kabiir no. 10379) dan dishohihkan oleh syaikh al-Albani dalam Silsilah Ash-Shohiihah, jilid: 4/hal. 57 no. 1543.

Sifat- Sifat Yang Membinasakan Dan Menyelamatkan

Dari sahabat Anas Ibnu Malik rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda,

ثلاثٌ مُهلِكاتٌ :إعجابُ المرءِ بنفسِه، و شُحٌّ مُطاعٌ ، و هوًى مُتَّبَعٌ. وثلاثٌ مُنجِياتٌ : خشيةُ اللهِ في السرِّ و العلانيةِ ، و القصدُ في الفقرِ و الغِنى ، و العدلُ في الغضبِ و الرِّضا

Tiga sifat yang dapat membinasakan, (yaitu) :

1. Bangga terhadap diri sendiri,
2. Kikir yang ditaati, dan
3. Hawa nafsu yang diikuti

Dan tiga sifat yang menyelamatkan, (yaitu) :

1. Takut kepada Allah dikala ia sendirian atau keramaian
2. Sederhana di saat fakir dan di saat berkecukupan,
3. Bersikap adil di saat marah dan ridho.

(HR. Al Bazzar dan lainnya)
Dihasankan oleh Syaikh Al-Albani rohimahullah dalam Ash-Shohiihah no : 1802.

Makna Dari Kalimat ‘Jagalah Allah’

Dari sahabat Abdullah bin Abbas rodhiyallahu ‘anhumaa, beliau berkata, pada suatu hari, aku pernah dibonceng di belakang Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau bersabda,

”يَا غُلاَم إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ، اِحْفَظِ اللَّهَ يَحْفَظْكَ، اِحْفَظِ اللَّهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ“ الحديث.

Wahai anak muda, aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat :
– jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu,
– jagalah Allah, maka engkau akan mendapati-Nya di hadapanmu.

(HR. At-Tirmidzi no. 2516). Syaikh Al-Albani rohimahullahu ta’ala mengatakan, hadits ini shohih.

● Imam Ibnu Rojab rohimahullahu ta’ala menjelaskan makna hadits ini seraya mengatakan,

JAGALAH ALLAH : maksudnya ialah, menjaga batasan-batasan yang telah ditetapkan-Nya sehingga :
– jangan melakukan sesuatu melebihi dari apa yang diperintahkan,
– jangan meremehkan dari apa yang dilarang oleh Allah subhanahu wa ta‘ala,
– senantiasa menjaga hak-hak Allah subhanahu wa ta‘ala dengan selalu mengerjakan perintah dan menjauhi larangan-Nya.

ALLAH AKAN MENJAGAMU : penjagaan Allah ‘Azza wa Jalla terhadap hamba di dunia ada dua macam :
– Allah menjaga anggota tubuhnya, keluarganya, dan hartanya, atau
– Allah ‘Azza wa Jalla menjaga agamanya dari syubhat (pola pikir yang menyimpang) dan syahwat (hasrat untuk melakukan dosa) dan ini bentuk penjagaan yang paling mulia.

(Ringkasan dari Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, jilid: 1/hal. 462)

HADITS : Kasih Sayang Allah Kepada Hamba-Nya

Dari Ibnu ‘Abbas rodhiyallahu ‘anhu, Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

Sesungguhnya Allah menulis kebaikan-kebaikan dan kesalahan-kesalahan kemudian menjelaskannya.

– Barangsiapa berniat melakukan kebaikan namun dia tidak (jadi) melakukannya, Allah tetap menuliskanya sebagai satu kebaikan sempurna di sisi-Nya.

– Jika ia berniat berbuat kebaikan kemudian mengerjakannya, maka Allah menulisnya di sisi-Nya sebagai sepuluh kebaikan hingga tujuh ratus kali lipat sampai kelipatan yang banyak.

– Barangsiapa berniat berbuat buruk namun dia tidak jadi melakukannya, maka Allah menulisnya di sisi-Nya sebagai satu kebaikan yang sempurna.

– Dan barangsiapa berniat berbuat kesalahan kemudian mengerjakannya, maka Allah menuliskannya sebagai satu kesalahan.

(HR. al-Bukhari no. 6491)

======

● Imam Nawawi rohimahullah mengatakan,

Wahai saudaraku .. semoga Allah memberikan petunjuk kepada kita semua.

Lihatlah betapa sempurna kelemahlembutan Allah ‘Azza wa Jalla..! Renungilah untaian kalimat-kalimat ini.

– Sabda beliau : عِنْدَهُ (di sisi-Nya) mengisyaratkan perhatian Allah terhadap amalan hamba.
– Kata : كَامِلَةً (kaamilah/sempurna) berfungsi sebagai penegas dan menunjukkan perhatian Allah yang besar terhadapnya.

Kemudian beliau shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang keburukan yang diniatkan oleh seorang hamba namun ditinggalkannya : كَتَبَهَا اللهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً (Maka Allah ‘Azza wa Jalla mencatatnya sebagai satu kebaikan sempurna). Beliau menguatnya dengan kata “kaamilah” (sempurna).

Sedangkan jika ia tetap melakukan keburukan itu, maka Allah mencatatnya sebagai satu keburukan. Di sini, kecilnya balasan dikuatkan dengan kata “waahidah” (satu) bukan dengan kata “kaamilah”.

(Kitaabul Arba’în an-Nawawiyyah hlm. 106)

Setiap Amalan Tergantung Akhirnya

Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda,

“Sungguh ada seorang hamba yang menurut pandangan orang banyak mengamalkan amalan penghuni surga, namun berakhir menjadi penghuni neraka. Sebaliknya ada seorang hamba yang menurut pandangan orang melakukan amalan-amalan penduduk neraka, namun berakhir dengan menjadi penghuni surga. Sungguh amalan itu dilihat dari akhirnya..”

[ HR. Al Bukhari no. 6493 ]

KAMIS – 06 DZULHIJJAH – 13 JUNI

sekarang kita telah melewati separuh dari 10 hari terbaik.

untuk mereka yang giat beribadah sejak hari pertama Dzulhijjah, jangan lengah.. justru inilah saatnya untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah, kenapa demikian..?! karena setiap amalan tergantung pada akhirnya.

dan untuk mereka yang baru serius ibadah, jangan pula bersedih dan kecil hati.. karena, sekali lagi, setiap amalan tergantung pada akhirnya.. masih ada kesempatan di hari ini tanggal 6 dzulhijjah, lalu besok tanggal 7, 8, 9 dan 10 insyaa Allah.

as the saying goes.. it’s not how you start, it’s how you finish..