100 hari lagi, in-syaa Allah.. perbanyak DO’A.. semoga Allah mempertemukan kembali kita dengan bulan Ramadhan..
.
yang masih punya hutang puasa Ramadhan tahun lalu, silahkan (segera) diatur jadwal pelunasannya..
.
#ramadhan1441
#puasa
#sehat
Sesungguhnya Setiap Amalan Tergantung Pada Akhirnya
Semua Terserah Padamu
Akhi Ukhti…
Terkadang ada orang yang merasakan kerasnya hatinya
Sulit untuk menerima nasehat
Sulit untuk bertaubat
Susah untuk meneteskan air mata
Selalu gundah gulana
Hajatnya tidak terkabulkan…
Mungkin kiranya kau perlu melaksnakan nasehat Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam di bawah ini
((أَتُحِبُّ أَنْ يَلِيْنَ قَلْبُكَ وَتُدْرِكَ حَاجَتَكَ؟ اِرْحَمْ الْيَتِيْمَ، وَامْسَحْ رَأْسَهُ، وَأَطْعِمْهُ مِنْ طَعَامِكَ، يَلِنْ قَلْبُكَ وَتُدْرِكْ حَاجَتَكَ)).
“Apakah kamu ingin hatimu lunak ? Dan Hajatmu dipenuhi ?
1. Sayangilah anak yatim
2. Usaplah kepalanya
3. Berilah ia makan dari makananmu
Niscaya hatimu akan lunak dan hajatmu akan kau dapatkan” [HR Thabrani dishahihkan al Albani].
Semua permasalahan itu ada jalan keluarnya
Segala problematika ada solusinya
Yang jadi masalah adalah ketika engkau tidak mau keluar dari masalahmu
sedangkan pintu terbuka lebar-lebar di hadapanmu
Engkau tinggal melangkah…
Tapi semua terserah padamu
Ditulis oleh,
Ustadz DR. Syafiq Riza Basalamah MA, حفظه الله تعالى
da2204171320
KAIDAH DALAM AT-TAKFIIR – Hakikat Iman Menurut Firqoh-Firqoh Menyimpang #3
Dari kitab yang berjudul “At Takfiir wa Dhowabithhu“, tentang Kaidah-Kaidah Dalam Pengkafiran, ditulis oleh Syaikh DR. Ibrahim ar-Ruhaili, حفظه الله تعالى.
.
PEMBAHASAN SEBELUMNYA (Hakikat Iman Menurut Firqoh-Firqoh Menyimpang #2) bisa di baca di SINI
=======
.
🌿 Hakikat Iman Menurut Firqoh-Firqoh Menyimpang #3 🌿
Alhamdulillah.. wash-sholaatu was-salaamu ‘alaa Rosuulillah..
Kita lanjutkan sekarang At Takfiir wa Dhowabithhu..
Kemarin kita telah menyebutkan tentang sejarah munculnya firqoh yang mengkafir-kafirkan, pertama adalah khawarij kemudian syi’ah dan ternyata semua kalangan ahli bid’ah mengkafirkan lawannya.
Kemudian Beliau menyebutkan tentang sejarah pemikiran takfiri yang mudah mengkafirkan di zaman belakangan ini.
Kata Beliau,
“pemikiran takfiri di zaman ini telah tersebar luas sekali, dimana yang membawa pemikiran takfiri di zaman ini, yang paling besar adalah yaitu pemikiran Sayid Quthub, yang merupakan Imam/tokoh paling dikagumi dalam ikhwanul muslimin.”
Dimana kitab-kitab Sayid Quthub ini sangat tersebar hampir keseluruh negeri-negeri Islam. Dan kitab-kitab Sayid Quthub ini dipenuhi dengan ungkapan-ungkapan mengkafirkan para pemimpin kaum muslimin bahkan masyarakat kaum muslimin di hari ini.
Contoh misalnya perkataan Sayid Quthub dalam kitab Ma’alim Fiithoriiq hal 158. Dia berkata:
“Masalah ini sebetulnya masalah kufur dan iman, masalah syirik dan tauhid, masalah jahiliyah dan Islam. Dan ini hendaknya jelas, sesungguhnya manusia di zaman ini bukanlah kaum muslimin sebagaimana mereka aku-akui, dimana mereka hidup dengan kehidupan jahiliyah”
Lihat… Sayid Quthub dalam buku ini mengatakan bahwa manusia di zaman ini bukan kaum muslimin, dia mengkafirkan seluruh kaum muslimin di zaman itu.
Dalam kitab Fi Dzilalil Qur’an jilid 2 hal 1057, ia berkata,
“sungguh zaman telah berputar sebagaimana dahulunya saat datang agama ini membawa Laa Ilaaha Illallah, dan manusia telah murtad menuju ibadah kepada manusia dan kepada kezholiman agama-agama”
Kemudian ia berkata,
“manusia-manusia yang murtad itulah yang suka mendengung-dengungkan adzan di timur maupun di barat dengan mengucapkan Laa Ilaaha Illallah tanpa dipahami maknanya..”
Lihatlah Sayid Quthub dalam kitab Fi Dzilalil Qur’an itu, menyebutkan bahwa orang-orang yang ada di zamannya kaum muslimin dari timur sampai barat, bahkan yang mengumandangkan adzanpun dianggap murtad dari agama Islam. Dia menuduh bahwa mereka mengucapkan Laa Ilaaha Illallah itu tanpa memahami maknanya.
Dia juga (Sayid Quthub) berkata dalam Fi Dzilalil Qur’an jilid 4 hal 2122,
“sesungguhnya tidak ada dimuka bumi hari ini negeri-negeri Islam (negeri muslim). Tidak ada pula masyarakat muslim.”
Lihat Sayid Quthub mengatakan bahwa di zamannya sudah tidak ada negeri Islam, semuanya kafir (menurut dia). Tidak ada lagi masyarakat Islam, semuanya kafir (menurut dia).
Ini menunjukkan bahwa pemikiran-pemikiran takfiri itu telah disebarkan racun-racunnya oleh Sayid Quthub yang menyesatkan ini, yang kemudian pemikiran-pemikiran Sayid Quthub ini, disebarkan oleh para pengikutnya dari kalangan ikhwanul muslimin.
Oleh karena itulah semua pemikiran-pemikiran takfiri di zaman sekarang dari kalangan kaum harokiyyin ini berasal dari pemikiran takfirinya Sayid Quthub. Bahkan Ulama-Ulama besar mereka sendiri mengakui itu.
Contoh misalnya Yusuf Al Qordowiy. Al Qordowiy berkata:
“Dalam fase ini muncullah kitab-kitab Sayid Quthub, dimana ia adalah merupakan fase terakhir dari pemikirannya yang tampak jelas dia mengkafirkan masyarakat”
Yusuf Al Qordowiy mengakui bahwa Sayid Quthub itu mempunyai pemikiran takfiri, mengakafirkan masyarakat yang ada di zaman itu.
Demikian pula yang diakui oleh Farid Abdul Kholik dalam kitab Al Ikhwanul Muslimun dalam Mizanul Haq.
Adapun Yusul Al Qordowiy tadi dalam kitab Auwaliyat Aul Harokah Islamiyah di hal 110.
Ini menunjukkan bahwa munculnya pemikiran takfiri di zaman ini memang kebanyakan dibawa oleh kaum yang menisbatkan diri kepada ikhwanul muslimin yang sangat mengagumi Sayid Quthub.
Dan di zaman ini banyak sekali pemikiran atau pengikut-pengikutnya baik di negeri kita ataupun di negeri-negeri yang lainnya.
Allahul musta’aan 🌼
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
.
Dari kitab yang berjudul “At Takfiir wa Dhowabithhu“, tentang Kaidah-Kaidah Dalam Pengkafiran, ditulis oleh Syaikh DR. Ibrahim ar-Ruhaili, حفظه الله تعالى.
.
Silahkan bergabung di Telegram Channel dan Facebook Page :
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://www.facebook.com/aqidah.dan.manhaj/
.
Artikel TERKAIT :
⚉ PEMBAHASAN LENGKAP – At Takfiir wa Dhowabithhu – Kaidah-Kaidah Dalam Pengkafiran
⚉ PEMBAHASAN LENGKAP – Haqiiqotul Bid’ah wa Ahkaamuhaa – Hakikat Bid’ah dan Hukum-Hukumnya
⚉ PEMBAHASAN LENGKAP – Showarif ‘Anil Haq – Hal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari KEBENARAN
⚉ PEMBAHASAN LENGKAP – Al Ishbaah – Manhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN
AL FAWAID AL ILMIYYAH GROUP
KITAB FIQIH – Anjuran Untuk Banyak Berdo’a Di Hari Jum’at
Dari pembahasan Kitab Fiqih Mausu’ah Muyassaroh, yang ditulis oleh Syaikh Hussain Al Uwaisyah, حفظه الله تعالى
.
PEMBAHASAN SEBELUMNYA – Keutamaan Hari Jum’at – bisa di baca di SINI
=======
Alhamdulillah.. wash-sholaatu was-salaamu ‘alaa Rosuulillah…
Kita lanjutkan fiqihnya.. masih di bab tentang sholat Jum’at..
⚉ DIANJURKAN BANYAK BERDO’A DI HARI JUM’AT
⚉ Dari Abdullah bin Salam (orang Yahudi) Ia berkata,
“aku berkata, sementara Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam duduk, “kami mendapatkan dalam kitabullah (taurat) tentang hari Jum’at suatu saat yang tidaklah bertepatan dengan seorang mukmin yang sedang sholat dan minta kepada Allah kecuali pasti akan diijabah.” Maka Rosulullah mengisyaratkan tentang waktunya yaitu sedikit, kemudian aku berkata, “engkau benar, sebagian waktu saja tidak semuanya,”
lalu aku bertanya, “kapan saat-saat itu (yang diijabahnya do’a) ?”
Maka beliau berkata, “ia adalah saat-saat terakhir dari siang,”
aku berkata, “sesungguhnya ia bukan saat sholat,”
beliau berkata, “iya sesungguhnya hamba mukmin apabila sedang sholat kemudian ia duduk untuk menunggu sholat berikutnya, tidak ada yang mencegah ia untuk pulang kecuali sholat maka ia berada didalam sholat.” (HR. Ibnu Majah)
⚉ Dari Abu Hurairah, bahwasanya Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam bersabda,
فِيهِ سَاعَةٌ لاَ يُوَافِقُهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ ، وَهْوَ قَائِمٌ يُصَلِّى ، يَسْأَلُ اللَّهَ تَعَالَى شَيْئًا إِلاَّ أَعْطَاهُ إِيَّاهُ
“sesungguhnya dihari Jum’at itu ada saat-saat, tidaklah bertepatan dengan muslim yang minta kepada Allah kebaikan kecuali Allah akan ijabah” (HR. Muslim)
⚉ Dari Jabir bin Abdillah, Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam bersabda,
يَوْمُ الْجُمُعَةِ اثْنَتَا عَشْرَةَ سَاعَةً ، لَا يُوجَدُ فِيهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ يَسْأَلُ اللَّهَ شَيْئًا إِلَّا آتَاهُ إِيَّاهُ فَالْتَمِسُوهَا آخِرَ سَاعَةٍ بَعْدَ الْعَصْرِ
“hari Jum’at itu ada 12 jam, tidaklah ditemukan seorang hamba muslimpun yang minta kepada Allah kecuali pasti Allah akan berikan, carilah oleh kalian waktu ijabah (mustajab) tersebut diakhir waktu setelah sholat ashar” (HR. Abu Daud)
Hadits-hadits ini menunjukkan bahwa waktu yang mustajab pada hari Jum’at yaitu di akhir-akhir ashar.
Adapun hadits yang menyebutkan bahwa ia adalah antara naiknya imam ke mimbar sampai turunnya imam ke mimbar ini adalah merupakan riwayat yang syad disebutkan oleh para ulama. Yang shohih dan yang rojih adalah waktu terakhir dari waktu ashar.
Disini juga menunjukkan bahwa kita sangat dianjurkan setelah ashar sampai maghrib itu untuk menyibukkan diri di hari Jum’at untuk banyak berdo’a dari pada ashar sampai maghrib.
Maka dari itu para shalafush-sholih terdahulu itu disore hari Jum’at mereka berada dimasjid mengkhususkan untuk i’tikaf antara ashar sampai maghrib untuk khusus berdo’a kepada Allah subhaanahu wata’aala
Hadits ini juga menyebutkan bahwa hari Jum’at itu ada 12 saat, kalau kita sebut saat itu jam, berarti bisa kita katakan mulai dari jam 6 sampai dengan jam 6 lagi misalnya, jam 6 pagi sampai dengan jam 6 sore misalnya, maka itu 12 saat.
Berarti hadits ini menunjukkan bahwa penentuan jam yang ada itu mirip dengan yang ada di zaman Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam.
.
Wallahu a’lam 🌻
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى
.
.
Dari Kitab Fiqih Mausu’ah Muyassaroh, yang ditulis oleh Syaikh Hussain Al Uwaisyah, حفظه الله تعالى
.
.
ARTIKEL TERKAIT
Pembahasan Fiqih Mausu’ah Muyassaroh…
.
.
WAG Al Fawaid Al Ilmiyyah
TIGA Tingkatan Manusia – Ibnul Qoyyim rohimahullah
Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى
Dari pembahasan Kitab Al-Intishar
(الانتصار بشرح عقيدة أئمة الأمصار)
yang menjelaskan secara gamblang tentang aqidah ahlussunnah wal jama’ah yang dihimpun dari 2 (dua) karya ulama besar, yaitu: Abu Zur’ah Ar-Rozi dan Abu Hatim Ar-Rozi rahimahumallah.
da1608161445
Orang Yang Mendapat NIKMAT Kubur Merasakan Sebagian dari Nikmat SURGA dan Begitu Pula Sebaliknya
Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى
Dari pembahasan Kitab Al-Intishar
(الانتصار بشرح عقيدة أئمة الأمصار)
yang menjelaskan secara gamblang tentang aqidah ahlussunnah wal jama’ah yang dihimpun dari 2 (dua) karya ulama besar, yaitu: Abu Zur’ah Ar-Rozi dan Abu Hatim Ar-Rozi rohimahumallah.
Beramal Karena Dunia
Allah Ta’ala berfirman,
مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ ۖ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali Neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan..” [Huud: 15-16]
Ayat ini menunjukkan tercelanya orang yang beramal karena berharap dunia. Namun orang yang berharap dunia dari amalnya ada beberapa macam :
PERTAMA : Orang yang beramal sholih berupa sedekah, puasa, sholat dan sebagainya dengan niat agar rezekinya dilancarkan dan ditambah hartanya. Ia tak mengaharapkan pahala dari Allah dan keridhoan-Nya.
Maka yang seperti ini hanya akan diberikan di dunia saja jika Allah berkehendak. Adapun di akherat ia tidak mendapat pahala, yang akan ia dapatkan adalah siksa api Neraka.
Abul Abbas Al Qurthubi rohimahullah berkata,
“Jika pendorong untuk beramalnya adalah dunia maka tidak menjadi ibadah, tetapi ia adalah maksiat. Bahkan bisa menjadi kufur yaitu syirik besar atau riya yaitu syirik kecil. Ini bila pendorongnya hanya dunia semata, bila tidak mendapat dunia tentu ia tidak akan beramal..” (Al Mufhim 12/50)
KEDUA : Orang yang beramal sholih mengharapkan pahala dari Allah dan keridhoan-Nya, tetapi iapun mengharapkan dunia dari amalannya.
Maka yang seperti dilihat mana yang lebih dominan.
– Jika yang lebih dominan adalah niat akheratnya, maka ia mendapat pahala.
– Jika yang lebih dominan adalah harapan dunia, maka ia mendapatkan dosa dan amalnya tidak diterima, dan
– Jika sama-sama kuat maka saling berguguran dan tidak mendapat pahala dan tidak juga dosa..
(sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikh ‘Utsaimin rohimahullah dalam Majmu’ Fatawa beliau : 1/99).
Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى
ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL
Bila Sedang Kesusahan, Ingatlah 2 Hadits Berikut..
Katanya..
Katanya: “Jangan jadi Tuhan untuk sesama” .. Maksudnya jangan memvonis atau menilai orang lain salah !
Kita jawab:
a. Bahwa perkataan dia, “Jangan jadi Tuhan untuk sesama”, juga merupakan sikap menyalahkan orang lain .. maka harusnya perkataan itu juga berlaku pada dirinya.
b. Perkataan itu datangnya dari orang-orang liberal, yang meyakini bahwa tidak ada hukum Allah di muka bumi ini .. dan ini sangat bertentangan dengan firman Allah ta’ala:
ذَ ٰلِكُمۡ حُكۡمُ ٱللَّهِ یَحۡكُمُ بَیۡنَكُمۡۖ وَٱللَّهُ عَلِیمٌ حَكِیمࣱ
“Itulah hukum Allah, yang Dia tetapkan untuk kalian. Dan Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana”. [Al-Mumtahanah: 10]
c. Bahwa Allah menginginkan agar sebagian hamba-Nya memberikan penilaian kepada hamba-Nya yang lain, dan itu bentuk ketundukan dia kepada Allah, Tuhannya .. bukan sikap menuhankan dirinya kepada orang lain.
Lihatlah firman-Nya:
وَأَنِ ٱحۡكُم بَیۡنَهُم بِمَاۤ أَنزَلَ ٱللَّهُ وَلَا تَتَّبِعۡ أَهۡوَاۤءَهُمۡ
“Hendaklah engkau memutuskan perkara di antara mereka (kaum yahudi) dengan apa yang Allah turunkan, dan jangan sampai engkau mengikuti hawa nafsu mereka”. [Al-Maidah: 49]
Dia juga berfirman:
وَإِذَا حَكَمۡتُم بَیۡنَ ٱلنَّاسِ أَن تَحۡكُمُوا۟ بِٱلۡعَدۡلِ
“Apabila kalian menetapkan hukum di antara manusia, (Allah memerintahkan) agar kalian menetapkannya dengan adil”
[An-Nisa’: 58]
Seorang ahli ilmu juga boleh menilai perbuatan orang lain, makanya Allah berfirman:
فَاسْألُوا أَهۡلَ ٱلذِّكۡرِ إِن كُنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ
“Bertanyalah kalian kepada ahli ilmu, bila kalian tidak tahu”. [An-Nahl: 43]
Bahkan selain hakim dan ulama’ pun boleh memberikan penilaian terhadap orang lain, lihatlah firman-Nya:
فَسِیرُوا۟ فِی ٱلۡأَرۡضِ فَٱنظُرُوا۟ كَیۡفَ كَانَ عَاقِبَةُ ٱلۡمُكَذِّبِینَ
“Berjalanlah kalian ke (segenap penjuru) bumi dan lihatlah bagaimana kesudahan orang yang mendustakan (rasul-rasul)”. [Ali ‘Imran: 137]
Lihat juga firman-Nya:
كُنتُمۡ خَیۡرَ أُمَّةٍ أُخۡرِجَتۡ لِلنَّاسِ تَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَتَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ وَتُؤۡمِنُونَ بِٱلله
“Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kalian) ber-amar makruf nahi mungkar, dan beriman kepada Allah”. [Ali ‘Imran: 110]
Dan tidaklah seseorang mampu ber-amar makruf nahi mungkar, kecuali setelah dia memberikan penilaian terhadap perbuatan tertentu, apakah itu baik atau buruk.
Apa itu berarti, Allah memerintahkan sebagian manusia menjadi Tuhan atas sebagian yang lain .. tentu tidak demikian.
Wallahu a’lam .. silahkan dishare .. semoga bermanfaat dan Allah berkahi.
Ditulis oleh,
Ustadz DR Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى



