Harus Jadi Siapa Anak Saya..?

Haruskah anak anda jadi ulama ?

Tidak harus, tapi andai bisa, Maka itu luar biasa.

Haruskah anak anda menjadi saudagar ?

Tidak harus, namun andai itu menjadi kenyataan maka tentu istimewa dengan syarat selalu ingat agamanya.

Haruskah anak anda menjadi raja ?

Tidak harus, namun bila itu terlaksana maka suatu hal yang luar biasa, asalkan ia tetap menegakkan kebenaran dan membungkam kebatilan.

Namun ada satu keniscayaan yang harus anda ingat:

Andai anak anda, anak saya dan anak semua orang jadi ulama’ maka celakalah kita semua.

Andai mereka semua menjadi raja, lalu siapa yang menjadi rakyatnya?

Andai mereka semua jadi rakyat tak seorangpun mau jadi raja, maka siapa yang meminpin mereka?

Andai mereka semua jadi pengusaha lalu siapa konsumennya?

Lalu harus jadi siapa anak saya ?

Jawabannya ya tetap jadi anak anda, sehingga andalah yang bertanggung jawab mendidik dan mengarahkannya, agar menjadi anak sholeh yang berguna untuk dunia dan agamanya, baik dengan berprofesi sebagai saudagar, atau ulama’ atau raja atau pekerja atau lainnya.

Yang dibutuhkan adalah adanya kerjasama yang harmonis, masing masing menjalankan perannya sebagai bagian dari ummat Islam dengan maksimal dan jangan saling “loncat pagar” potensinya, niscaya indah dunia kita.

Semoga Allah menjadikan anak anak kita sebagai orang sholeh, amiin

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى

Jagalah Lisanmu

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rohimahullah berkata,

‏قَال العلّامة ابن عثيمين :احفَظ لِسانك فَـإن الـصّحـُف سـَوفَ يكتب فيهَـا ‏كل ما تقـُول وسوف تُنشـر لكَ يوم الـقيَامة .

‏ تفسير جزء عم ٧٣/١

“Jagalah lisanmu, karena setiap kali apa yang kau ucapkan akan tertulis di suhuf (catatan amalan), dan akan dibentangkan untukmu kelak pada hari kiamat.”

[ Tafsir Juz ‘Amma, 1/73 ]

MUTIARA SALAF : Kebanyakan Orang Menyia-nyiakan Waktu

Asy-Syaikh Muhammad Sholih al-Utsaimin rohimahullah berkata,

Allah Ta’ala berfirman:

ﺣَﺘَّﻰ ﺇِﺫَﺍ ﺟَﺎﺀَ ﺃَﺣَﺪَﻫُﻢُ ﺍﻟْﻤَﻮْﺕُ ﻗَﺎﻝَ ﺭَﺏِّ ﺍﺭْﺟِﻌُﻮﻥِ. ﻟَﻌَﻠِّﻲ ﺃَﻋْﻤَﻞُ ﺻَﺎﻟِﺤﺎً ﻓِﻴﻤَﺎ ﺗَﺮَﻛْﺖُ.

“Hingga apabila kematian datang kepada salah seorang diantara mereka maka dia mengatakan, “Wahai Robbku, kembalikanlah aku (ke dunia) agar aku bisa beramal sholih yang aku tinggalkan.” (QS. Al-Mu’minun: 99-100)

Agar tidak menyia-nyiakan waktu, dia tidak mengatakan,
“Agar aku menikmati harta, atau menikmati istri, atau menikmati kendaraan, atau menikmati istana.”
Tetapi dia mengatakan,
“Agar aku bisa beramal sholih yang aku tinggalkan.”

Waktu telah berlalu namun engkau tidak mendapatkan manfaat darinya. Jadi waktu adalah sesuatu yang paling berharga, namun itu sekarang ini menurut kita merupakan sesuatu yang paling tidak berharga. Kita membiarkan waktu kita yang banyak berlalu begitu saja tanpa faedah, bahkan kita membiarkan waktu kita yang banyak dengan melakukan hal-hal yang merugikan.

Saya tidak berbicara tentang keadaan satu orang, bahkan saya berbicara tentang keadaan kaum Muslimin secara umum. Hari ini -sangat disayangkan- mereka tenggelam dalam lupa, hal yang sia-sia, dan kelalaian. Mereka tidak serius dalam urusan agama mereka. Mayoritas mereka dalam kelalaian dan kemewahan. Mereka hanya sibuk memperhatikan kemewahan untuk badan mereka, walaupun konsekuensinya merusak agama mereka.”

[ Syarh Riyadhus Sholihin, jilid 1 hlm. 345 ]

Derita Menunggu Dokter

Nunggu dokter tuh terasa lama, walau kadang kala hanya satu jam.

Pernahkah anda menunggu giliran dipanggil oleh dokter yang anda kunjungi ?

Berapa lama anda menanti panggilan darinya ?

Terasa lama bukan ? Padahal bisa jadi anda hanya menunggu satu atau dua jam, namun tetap saja membosankan, sehingga sering kali anda membuang waktu anda dengan membaca koran lusuh, atau majalah kuno yang teronggok di ruang tunggu, bukan hanya sekali, bahkan anda membacanya berkali kali.

Sobat, sadarkah anda bahwa sejatinya saat ini anda sedang menanti panggilan malaikat pencabut nyawa.

Sehingga bisa jadi, kini anda dilanda rasa jenuh, merasa waktu panggilan tersebut terlalu lama, sehingga anda membuang waktu anda yang hanya sekejap, untuk melakukan hal yang sia-sia, serupa dengan membaca koran lusuh, atau majalah kuno di ruang tunggu dokter anda.

Padahal, telah banyak bukti di sekitar anda, orang-orang yang telah lebih dahulu dipanggil oleh malaikat pencabut nyawa.

Dari mereka ada yang umurnya lebih muda dari anda, bahkan terlalu muda bila dibanding dengan umur anda, dan ada pula yang lebih tua dibanding anda.

Tapi percayalah, cepat atau lambat, andapun akan mendapat giliran untuk dipanggil oleh malaikat pencabut nyawa.

Sudahkah anda mempersiapkan diri untuk menghadapi kehadirannya ?

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى

 

HAKIKAT BID’AH dan Hukum-Hukumnya – Bid’ah Tarkiyah #1

Dari kitab yang berjudul Haqiiqotul Bid’ah wa Ahkaamuhaa, tentang Hakikat Bid’ah dan Hukum-Hukumnya, ditulis oleh Syaikh Sa’id bin Nashir Al Ghomidi, حفظه الله تعالى.
.
PEMBAHASAN SEBELUMNYA (Perbuatan Bid’ah) bisa di baca di SINI

=======

🌿 Bid’ah Tarkiyah 🌿

Alhamdulillah.. wash-sholaatu was-salaamu ‘alaa Rosuulillah..

Kita lanjutkan hakikat bid’ah nya… sekarang kita membahas yaitu yang disebut dengan…

⚉ BID’AH TARKIYAH (Tarkiyah artinya meninggalkan)

Kata Beliau (penulis kitab), pembicaraan tentang meninggalkan itu ada dua macam:
1⃣ Meninggalkan dari pembuat syari’at, yaitu Allah dan Rosul-Nya.
2⃣ Meninggalkan dari pelaku (mukallaf) yaitu kaum muslimin.

==========

1⃣ Meninggalkan dari pembuat syari’at yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka ini maksudnya ada dua makna:

⚉ MAKNA YANG PERTAMA : yaitu yang diminta oleh Allah dan Rosul-Nya untuk ditinggalkan. Yaitu perkara-perkara yang dilarang atau tidak diizinkan, sesuatu yang makruh juga.
Berdasarkan hadits Nabi ‎shollallahu ‘alayhi wasallam

‎مانهيتكم ءنه فا ختنبوه

“Apa-apa yang aku larang maka tinggalkanlah”

‎وماأمرتكم به فأتوا منه ما استطعتم

“Apa yang aku perintahkan lakukanlah semampu kalian”

⚉ MAKNA YANG KE-2 : yaitu Rosulullah ‎shollallahu ‘alayhi wasallam, yang pembuat syari’at, dalam hal ini adalah Rosulullah ‎shollallahu ‘alayhi wasallam meninggalkan suatu perbuatan, sementara penghalangnya tidak ada, dan pendorongnya ada. Tapi Nabi ‎shollallahu ‘alayhi wasallam meninggalkannya, maka melakukannya bisa jatuh kepada bid’ah.

Contoh : misalnya Nabi ‎shollallahu ‘alayhi wasallam tidak pernah merayakan hari kelahirannya, tidak pula para sahabatnya,
padahal pendorong untuk merayakannya ada, dan penghalangnyapun tidak ada, itu menunjukan tidak disyari’atkan.

Nabi ‎shollallahu ‘alayhi wasallam tidak pernah melakukan haul kematian Khodijah, 100 hari, 1000 hari. Padahal Rosulullah mampu melakukannya dan tidak ada penghalangnya, pendorongnya pun juga ada. Itu semua menunjukan bahwa itu perkara yang diada-adakan.

➡️ Jadi perkara yang Rosulullah tidak lakukan, sementara penghalangnya tidak ada dan pendorongnya sudah ada, bila kita lakukan itu bisa menjadi bid’ah.

Beda bila Nabi ‎shollallahu ‘alayhi wasallam tidak melakukan itu karena ada penghalang.
Contoh: Nabi tidak melakukan taraweh setiap malam di bulan Ramadhan secara berjama’ah karena takut diwajibkan. Maka di zaman ‘Umar rodhiyallahu ‘anhu, tidak mungkin lagi diwajibkan, maka ‘Umar-pun membuat taraweh berjama’ah setiap malam, dan itu tidak termasuk bid’ah.

Demikian pula kalau Nabi ‎shollallahu ‘alayhi wasallam tidak lakukan karena tidak ada pendorongnya di zaman Beliau. Seperti dibuatnya ilmu-ilmu, seperti ilmu nahwu, ilmu shorof, ilmu hadits. Dizaman Nabi belum dibutuhkan. Namun setelah itu amat dibutuhkan sekali untuk membela AlQuran dan Hadits Nabi ‎shollallahu ‘alayhi wasallam. Maka dibuatlah ilmu-ilmu tersebut.

➡️ Jadi sesuatu yang Nabi ‎shollallahu ‘alayhi wasallam tidak lakukan, sementara pendorongnya ada dan penghalangnyapun tidak ada itu menunjukkan bahwa itu perbuatan yang tidak disyari’atkan, bila kita melakukannya malah jatuh kepada bid’ah.
.
Wallahu a’lam 🌴
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
.

Dari kitab yang berjudul Haqiiqotul Bid’ah wa Ahkaamuhaa, tentang Hakikat Bid’ah dan Hukum-Hukumnya, ditulis oleh Syaikh Sa’id bin Nashir Al Ghomidi, حفظه الله تعالى.
.
Silahkan bergabung di Telegram Channel dan Facebook Page :
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://www.facebook.com/aqidah.dan.manhaj/

Artikel TERKAIT :
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Haqiiqotul Bid’ah wa AhkaamuhaaHakikat Bid’ah dan Hukum-Hukumnya
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Showarif ‘Anil HaqHal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari KEBENARAN
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Al IshbaahManhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN

AL FAWAID AL ILMIYYAH GROUP

MUTIARA SALAF : Memanfaatkan Sisa Umur Yang Ada Untuk Beramal Sholih

Syaikh Muhammad bin Sholih al-‘Utsaimin rohimahullah berkata :

ينبغي للإنسان أن يغتنم عمره بصالح الأعمال لأنه سوف يندم إذا جاءه الموت إن أمضى ساعة من دهره لا يتقرب بها إلى الله عز وجل كل ساعة تمضي عليك وأنت لا تتقرب إلى الله بها فهي خسارة فانتهز الفرصة بالصلاة والذكر وقراءة القرآن.

“Sebaiknya seorang insan itu senantiasa memanfaatkan umurnya untuk beramal sholih. Karena ia akan menyesal jika ia dijemput kematian, tatkala berlalu satu waktu yang ia tidak memakainya untuk mendekatkan diri kepada Allah..

Setiap waktu yang engkau lalui dalam keadaan engkau tidak mendekatkan diri kepada Allah dengannya, maka itu adalah kerugian. Maka manfaatkanlah kesempatan ini untuk sholat, berdzikir dan membaca Al-Quran.”

[ Syarh Riyadh Ash-Sholihin 5/154 ]

Ketika Harga Telah Mahal

Dahulu..
‘Aisyah radliyallahu ‘anha..
Sengaja mencari hari yang paling panas dan berat..
Untuk berpuasa padanya..
Ketika beliau ditanya, “Mengapa demikian..?”
Beliau menjawab, “Ketika barang murah, semua orang akan membeli..
Tapi ketika barang menjadi mahal..
Tak semua orang dapat membeli..”

Jawaban yang mengetuk hati..
Memberi motivasi..
Buat pemburu ridla ilahi..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

da2106130653

Nasihati Aku.. Jangan Permalukan Aku

Syair Imam Syafi’i rohimahullah:

تعَمَّدْني بِنُصْحك فِي انفرادي *** وجَنِّبْني النصيحةَ في الجماعَةْ

فإنَّ النُّصحَ بين الناسِ نوعٌ *** من التوبيخ لا أرضَى اسْتِماعَهْ

وإنْ خالفْتَني وعصيْتَ قولي *** فلا تجزعْ إذا لم تُعطَ طاعَةْ

“Sengajalah menasehatiku saat ku sendiri.. jauhkan aku dari nasehat di depan khalayak ramai..
Karena nasehat di tengah manusia itu bentuk mempermalukan dan aku tidak rela untuk mendengarkan..
Dan jika perkataanku ini tidak engkau ikuti, maka jangan kaget bila nasehatmu tidak ditaati..”

(Diwan Imam Syafi’i, hal: 96)

Sekelas Imam Syafi’i rohimahullah saja, tidak mau mendengarkan nasehat yang disampaikan di hadapan manusia, maka bagaimana orang yang jauh di bawah beliau ketakwaan dan keikhlasannya, akan mau mendengarkannya ?

Sebagian orang menampakkan diri sebagai penasehat sebagai penjaga benteng agama sebagai orang yg peduli untuk menjaga masyarakat dari kesesatan,dst. Tapi sayang terselip di hati kecilnya, disengaja atau tidak, rasa ingin menjatuhkan saudaranya.

Wallahul musta’an.

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

da2403162113

Beramallah…

Dari Jabir rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Suroqoh bin Malik bin Ju’syum datang dan berkata,

يَا رَسُولَ اللَّهِ، بَيِّنْ لَنَا دِينَنَا كَأَنَّا خُلِقْنَا الْآنَ، فِيمَا الْعَمَلُ الْيَوْمَ؟ أَفِيمَا جَفَّتْ بِهِ الْأَقْلَامُ وَجَرَتْ بِهِ الْمَقَادِيرُ؟ أَمْ فِيمَا نَسْتَقْبِلُ؟ قَالَ: لَا، بَلْ فِيمَا جَفَّتْ بِهِ الْأَقْلَامُ وَجَرَتْ بِهِ الْمَقَادِيرُ، قَالَ: فَفِيمَ الْعَمَلُ، فَقَالَ: اعْمَلُوا، فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ

“Wahai Rosulullah, berikanlah penjelasan kepada kami tentang agama kami, seakan-akan kami baru diciptakan sekarang. Untuk apakah kita beramal hari ini ? Apakah itu terjadi pada hal-hal yang pena telah kering dan takdir yang berjalan, ataukah untuk yang akan datang ?”

Beliau shollallahu ‘alayhi wa sallam menjawab, “Bahkan pada hal-hal yang dengannya pena telah kering dan takdir yang berjalan”

Ia bertanya, “Lalu apa gunanya beramal ?” Beliau shollallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Beramallah kalian, karena masing-masing dimudahkan (untuk melakukan sesuatu yang telah ditakdirkan untuknya)”

[HR Muslim no. 2648]

 

MUTIARA SALAF : Karena Kamu Akan Dibalas Sesuai Perbuatanmu

Abu ad-Darda’ rodhiyallahu ‘anhu berkata,

قال أبو الدرداء رضي الله عنه: “البر لا يبلى، والإثم لا ينسى، والديان لا ينام؛ فكن كما شئت، كما تدين تدان”. *الزهد للإمام أحمد

“Kebaikan tak akan usang, dan dosa tak dilupakan, dan Allah tidak tidur maka jadilah sesuai kemauanmu karena kamu akan dibalas sesuai perbuatanmu”

[ az-Zuhd Lil-Imaam Ahmad Ibn Hanbal ]

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc,  حفظه الله تعالى

(Twitter @UB_CintaSunnah)

 

Menebar Cahaya Sunnah