Pembahasan Lengkap – KAIDAH DALAM AT-TAKFIIR

Dari kitab yang berjudul “At Takfiir wa Dhowabithhu”, tentang Kaidah-Kaidah Dalam Pengkafiran, ditulis oleh Syaikh DR. Ibrahim ar-Ruhaili, حفظه الله تعالى.
.
=======

  1. Hakikat Iman Menurut Ahlussunnah wal Jama’ah  #1
  2. Hakikat Iman Menurut Ahlussunnah wal Jama’ah #2
  3. Hakikat Iman Menurut Murji’ah
  4. Hakikat Iman Menurut Firqoh-Firqoh Menyimpang #1
  5. Hakikat Iman Menurut Firqoh-Firqoh Menyimpang #2
  6. Hakikat Iman Menurut Firqoh-Firqoh Menyimpang #3
  7. Sebab Munculnya Pengkafiran Tanpa Haq Dalam Ummat Islam
  8. Pemakaian Kata Kufur Dalam Alqur’an dan Hadits
  9. Ungkapan Kufur Dalam Lafazh-Lafazh Syari’at
  10. Perbedaan Antara Kufur, Syirik, dan Nifaq
  11. Pembagian Kufur Berdasarkan Hukumnya
  12. Pembagian Kufur Berdasarkan Sebabnya
  13. Pembagian Kufur Berdasarkan Perbuatan Anggota Badan
  14. Pembagian Kufur Berdasarkan Asli Atau Bukannya
  15. Pembagian Kufur Berdasarkan Mutlak Atau Mu’ayyan
  16. Cabang-Cabang Kekufuran Dan Dalilnya
  17. Hukum Kufur Besar dan Pelakunya Di Dunia dan Akherat
  18. Hukum Kufur Kecil dan Pelakunya Di Dunia dan Akherat
  19. Keyakinan Khowarij Terhadap Pelaku Dosa Besar
  20. Keyakinan Mu’tazilah, Murji’ah Dan Ahlussunnah Wal Jama’ahTerhadap Pelaku Dosa Besar
  21. Meninggalkan Perkara Yang Disyari’atkan
  22. Melakukan Perbuatan Yang Terlarang
  23. Mengkafirkan Secara Individu #1
  24. Mengkafirkan Secara Individu #2
  25. Syarat Mengkafirkan Individu dan Penghalang-Penghalangnya – Syarat Ke 1 dan 2
  26. Syarat Mengkafirkan Individu dan Penghalang-Penghalangnya – Syarat Ke 3
  27. Syarat Mengkafirkan Individu dan Penghalang-Penghalangnya – Syarat Ke 4
  28. Contoh Dari Ulama Salaf Terdahulu Terkait Kehati-Hatian Dalam Mengkafirkan
  29. Siapa Yang Berhak Untuk Memvonis Kafir Atau Tidaknya..?

Jembatan Shirat

Abu Sa’id Al Khudri rodliyallahu ‘anhu berkata:

بلغني أن الجسر أدقُّ من الشعر، وأحدُّ من السيف

“Sampai kepadaku bahwa jembatan (shirat) lebih halus dari rambut dan lebih tajam dari pedang.” [HR Muslim]

Demikian pula shirat di dunia..
Ia lebih halus dari rambut hingga membutuhkan ketajaman ilmu untuk dapat melihatnya..
Dan kebeningan hati dari hawa nafsu dan syahwat..

Ia lebih tajam dari pedang karena penuh ujian..
Diuji dengan perintah dan larangan..
Diuji dengan musibah dan cemoohan..
Bahkan orang yang memegang sunnah di zaman ini seperti memegang bara api..

Ya Allah selamatkan kami untuk melalui shirat di dunia dan shirat di atas neraka jahannam…

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Bagi Yang Mendambakan Tinggal Di Kampung Islami

Enak ya, kalau bisa tinggal di kampung islami, desa sunnah, kampung ulama’ dst.

Demikian gumam atau mimpi sebagian orang..
benarkah demikian ?

Imam Ibnu Taimiyah pernah ditanya permasalahan yang serupa, kemudian beliau menjelaskan bahwa keutamaan tinggal di satu tempat tidaklah dinilai dari kampungnya atau negerinya.

Kelebihan tinggal di suatu tempat dinilai dari apa yang bisa Anda lakukan. Bila Anda tinggal di suatu negeri atau Perkampungan yang banyak pelaku maksiat nya, atau bahkan banyak Non-muslim nya, namun anda bisa banyak berbuat kebaikan di sana ingin memerintahkan yang Ma’ruf dan melarang yang Mungkar.

Sedangkan bila anda tinggal di negeri muslim maka Anda hanya menjadi pupuk bawang tidak banyak yang bisa Anda lakukan, walaupun anda lebih nyaman hati atau anda lebih tenang, maka menurut beliau dengan tetap tinggal di negeri yang lebih banyak maksiat namun anda juga lebih banyak bisa berbuat kebaikan lebih baik dan lebih utama daripada anda tinggal di negeri Islam yang hanya sebagai pupuk bawang.

Beda halnya bila anda tidak berguna di kampung yang heterogen bahkan anda terkontaminasi negatif maka “bertiarap” dengan berpindah agar selamat itu bisa menjadi solusi bagi ketidak berdayaan anda.

Makanya Fokuslah untuk berbuat baik di mana pun anda berada, dibanding sibuk memikirkan kampung ini atau itu, negeri ini atau negeri itu.. karena nilai anda ada pada karya Anda, Bukan pada rumah Anda atau alamat kantor Anda atau kampung Anda.

Beliau lalu berdalil dengan surat Al Hujurot ayat : 13

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu”

Dengan demikian Anda tidak mudah tertipu dengan kampung Islam atau negri sunnah atau kampung taqwa atau desa kurma atau kampung unta dan nama nama serupa lainnya, yang telah terbukti jadi jargon perdagangan yang juga terbukti indah di dengar pahit di rasa dan fakta.

[silahkan baca Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyyah 27/39-40]

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى
.
.
ARTIKEL TERKAIT
Bagi Yang Ingin Punya Anak Menjadi Ustadz

MUTIARA SALAF : Kesusahan Hidup Adalah Rahmat

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

ومِن رحمته – عز و جل – أنْ نغّص عليهم الدنيا و كدّرها؛ لئلا يسكنوا إليها، ولا يطمئنوا إليها، ويرغبوا في النعيم المقيم في داره وفي جواره.
‏فساقهم إلى ذلك بسياط الإبتلاء و الامتحان.؛ فمنعهم ليعطيهم، وابتلاهم ليعافيهم، وأماتهم ليُحييهم.

“Diantara rahmat Allah adalah menjadikan dunia penuh ujian dan kesusahan.. agar mereka tidak condong kepada dunia dan tidak merasa tentram kepadanya.. dan agar mereka mengharapkan kenikmatan yang abadi di negeri (surga) di sisi-Nya..

Allah menggiring mereka kepada kenikmatan akherat dengan cambuk ujian dan cobaan.
Allah tidak memberi mereka (dunia) karena ingin memberi mereka (yang lebih baik dari dunia).

Allah memberi mereka ujian agar menyelamatkan mereka (dari adzab-Nya)..”

[Ighotsatulahafan 2/917]

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

Bertemanlah Dengan Orang Yang Melupakan Kebaikannya Kepadamu

Berkata Ghassaan ibn Al-Mufaddhol rohimahullah,

ﻛﺎﻥ ﻳﻘﺎﻝ: ﺍﺻﺤﺐ ﻣﻦ ﻳﻨﺴﻰ ﻣﻌﺮﻭﻓﻪ ﻋﻨﺪﻙ

”Dahulu dikatakan: ‘Bertemanlah dengan orang yang melupakan kebaikannya kepadamu.”
Dikeluarkan oleh ibnu Abidunya

Teman yang selalu mengingat kebaikannya kepada kita..
Suatu ketika ia akan bersikap tak baik dan merasa telah berjasa..
Barangkali ia sulit memaafkan saat kita berbuat salah kepadanya..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Iman Pasti Diuji, Agar Terbukti Murni Bukan Imitasi

Anda mengaku beriman ? Sudahkah anda diuji sehingga terbukti iman anda murni bukan iman imitasi ?

Adapun janji Allah Ta’ala, maka pasti benar dan sudah terbukti, berbeda dengan iman anda, karena itu jangan bermimpi menguji kebenaran janji Allah, namun bersiaplah untuk diuji kebenaran iman anda.

Kisah berikut cukup unik untuk anda renungkan, bagaimana orang beriman menjalani ujian iman.

Sahabat Abu Said Al Khudri mengisahkan,
“Suatu hari datang seorang lelaki kepada Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam, lalu ia berkata,
“Wahai Rasulullah, sejatinya saudaraku saat ini sedang menderita diare”

Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اسْقِهِ عَسَلًا»

“Minumi ia madu”

Segera lelaki itu pergi dan menjalankan petunjuk Nabi, yaitu meminumi saudaranya madu.

Tidak selang berapa lama, ia kembali lagi menemui Rosulullah dan berkata kepadanya, “aku telah meminumkan madu kepadanya, namun ternyata diarenya malah bertambah parah”

Mendengar laporan itu, beliau kembali memerintahkannya untuk terus meminuminya madu.

Segera lelaki itu pergi dan menjalankan perintah Rosulullah, namun lagi-lagi diare sauadaranya semakin bertambah parah. Sehingga ia kembali menemui Rosulullah dan mengabarkan hal ini kepada beliau.

Mendapat laporan perihal diare saudara lelaki itu yang semakin bertampah parah, lagi-lagi Rosulullah memerintahkannya untuk meminuminya madu.

Tanpa pikir panjang atau ragu sedikitpun, lelaki itu kembali mematuhi perintah Rosulullah.

Dan lagi-lagi diare saudaranya semakin bertambah parah, hingga akhirnya untuk yang ketiga kalinya ia menyampaikan kejadian ini kepada Nabi. Dan Nabi pun kembali memerintahkannya dengan pengobatan yang sama. Dan kembali lagi diare saudara lelaki itu juga belum kunjung sembuh.

Walau sudah mencoba pengobatan ala Rosulullah untuk ketiga kalinya, namun lelaki itu tidak putus asa atau bergeming dan ragu. Ia tetap dengan yakin meminta petunjuk dari Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam.

Dan untuk keempat kali ini, Rosulullah bersabda,

صَدَقَ اللهُ، وَكَذَبَ بَطْنُ أَخِيكَ»

“Allah Maha Benar, sedangkan perut saudaramu yang tidak benar/ mengalami gangguan”

Selanjutnya Rosulullah memerintahkan lelaki itu untuk meminumkan madu kepada saudaranya, dan SUBHANALLAH, setelah minum madu empat kali, barulah diare saudara lelaki itu sembuh total.” (Muslim)

Rosulullah menyatakan bahwa Allah Maha Benar, karena Allah telah menjelaskan bahwa pada madu terdapat kesembuhan, sebagaimana ditegaskan pada ayat 69 surat An Nahl.

Demikianlah contoh nyata bagaimana seorang mukmin melatih keimanan, walau gagal tiga kali, namun tetap saja teguh dan tegar menerapkan ajaran Rosulullah, hingga akhirnya berhasil mendapatkan bukti akan kebenaran ajaran beliau.

Bagaimana dengan anda sobat ?

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى

MUTIARA SALAF : Menundukkan Pandangan Dari Keharaman

قال ابن القيم
ولهذا كان غض البصر عن المحارم يوجب ثلاث فوائد عظيمة الخطر جليلة القدر
1- حلاوة الإيمان ولذته ….
2- نور القلب وصحة فراسته …
3- قوة القلب وثباته وشجاعته …

[ إغاثة اللهفان 1 / 76 – وشرح كل فائدة باستيعاب ]

Ibnul Qoyyim berkata,

“Menundukan pandangan dari keharaman mendatangkan 3 faidah besar,
1. Manisnya iman
2. Cahaya hati dan firasat yang benar
3. Hati yang kuat dan kokoh..”

[Ighootsatul Lahfaan 1/76]

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

Menebar Cahaya Sunnah