Malas Ibadah Setelah Do’a Dan Harapan Dikabulkan

Sewaktu miskin rajin berdo’a, namun setelah kaya do’a kadang kala saja.

Di saat susah, rajin ibadah .. setelah semuanya menjadi mudah, mulai banyak alasan untuk tidak beribadah.

Demikiankah kondisi anda..?

Simak pernyataan Imam Ibnu Taimiyyah rohimahullah berikut ini:

“Barang siapa meninggalkan sebagian perintah Allah setelah keinginannya dikabulkan, maka ini adalah perbuatan dosa.

Bahkan bisa jadi perubahan sikap ini adalah bentuk dari syirik kecil yang sering menimpa mayoritas manusia..”

[Majmu’ Fatawa 22/387]

Ditulis oleh,
Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى

TIPS Sehat…

Penyakit raga itu sebagian besarnya- setelah disebabkan makanan yang menghilangkan kestabilan hararah dan rutubah dalam tubuh-berpangkal dari penyakit yang bersarang di Qalbu.

Apa yang dibilang stres, depresi, frustasi semua bermula dari penyakit qalbu yang tidak sepenuhnya mengimani garis takdir yang telah ditentukan Allah, akibat dari ambisi dunia yang tak kesampaian.

Ambisi dunia adalah samudera tak bertepi yang menghanyutkan banyak orang, yang berasal dari muara tahta, harta dan wanita.

Apa yang disebut diabetes, darah tinggi, jantung koroner, gagal ginjal, kanker payudara, kanker tulang, setelah faktur pola makan yang tak baik adalah dampak dari suasana hati yang tak baik pula.

Hati yang bergejolak dengan badai iri, hasad dan dengki, ujub, sombong, memiliki peran besar menjungkir balikkan dan merusak kesehatan raga.

Tak salah Nabi kita menyebutkan “sungguh dalam jasad ini ada segumpal daging, bilamana ia baik akan baik pulalah seluruh jasad, dan bila ia rusak maka rusak pulalah seluruh jasad, dialah qalbu.”

Menyehatkan hati dengan qana’ah, ridho atas ketentuan Allah, zikir, membaca Alquran, ibadah sholat, sedekah, menimba ilmu, menjalin silaturrahm, memasukkan kegembiraan pada orang lain adalah tips menjur menjaga kesehatan raga.

Iringi pula dengan menyedikitkan makan, silahkan menyantap segala makanan yang baik-baik selama tidak berlebihan, Kata Allah: ”makanlah dan minumlah tapi jangan berlebihan”

kata Nabi: ”tidak pernah anak adam memenuhi wadah yang lebih buruk dari memenuhi isi lambungnya, bilamana harus hendaklah ia memberikan sepertiga porsi untuk makannya, sepertiga kedua untuk minumnya dan sepertiga akhir untuk nafasnya”

Tips sehat terakhir, jangan tinggalkan ruqyah syar’i bilamana kau merasa ada di tubuhmu masalah, dengan mendawamkan zikir pagi dan petang…

Silahkan mencoba !!

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Fairuz Ahmad Ridwan MA,  حفظه الله تعالى.

Jadwal Pendidikan Anak…

Jadwal Pendidikan Anak

Umur 0-6 tahun:
1. Belajar Huruf Hijaiyyah dan Membaca Alquran.
2. Belajar menghafal surat pendek
3. Belajar mengucapkan kalimat tauhid
4. Belajar Tata cara berwudhu dan tayammum
5. Belajar Tata shalat
6. Belajar Adab dan doa serta dzikir keseharian

Umur 7-12 tahun
1. Memperlancar Bacaan Alquran
2. Menambah hafalan Alquran secukupnya
3. Menambah hafal doa dan dzikir pagi dan petang
4. Belajar Adab bergaul
5. Belajar Mandi Junub
6. Belajar menulis Arab
7. Belajar Akidah Al Ushul Ats Tsalatsah (Tiga Landasan Akidah Islam)

Umur 13-15
1. Mengkhatamkan hafalan Alquran jika mampu/ 15 juz Alquran
2. Belajar Bahasa Arab, berbicara membaca.
3. Menghafal hadits Arbain Nawawi
4. Memperajari/menghafal Kitab Tauhid
5. Mempelajari Matan Al Ghayah Wat Taqrib (fikih Syafii)

Umur 16-18
1. Melanjutkan hafalan Alquran dan atau memperlancarnya
2. Menghafal Hadits Umdatul Ahkam
3. Melanjutkan mempelajari Matan Al Ghayah Wat Taqrib. (Fikih Syafii)
4. Mempelajari Al Aqidah Al Wasithiyyah

Ditulis oleh,
Ustadz Ahmad Zainuddin Al Banjary Lc, حفظه الله تعالى

(Twitter @Ahmadzainuddins)

MUTIARA SALAF : Waspadalah Akan Dosa Di Sisa Umurmu

Fudhail bin ‘Iyadh rohimahullah berkata,

“Engkau berbuat kebaikan (amal shaleh) pada sisa umurmu (yang masih ada), maka Allah akan mengampuni (dosa-dosamu) di masa lalu..

karena jika kamu (tetap) berbuat buruk pada sisa umurmu (yang masih ada), kamu akan disiksa (pada hari kiamat) karena (dosa-dosamu) di masa lalu dan (dosa-dosamu) pada sisa umurmu.”

[ Lathoiful Ma’aarif ]

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

 

Amal Kebaikan Yang Anda Lakukan Adalah Karena Pertolongan Allah…

Ibnu Taimiyyah rohimahullah berkata,

وَيَجِبُّ أن يَعلَـمَ العَبـدُّ أنَّ عَمَلَـهُ مِن الحَسَنَـاتِ هُـوَ بِفَـضلِ اللَّهِ وَرَحمَتِـه ، ومِن نِعمَتِـهِ ، كَمَـا قَـالَ أهـلُ الجَنَّـة

“Dan wajib diketahui oleh setiap hamba bahwasanya apa yang dia usahakan dari amal kebaikan itu semata-mata karena keutamaan dari Allah Ta’ala, rahmat dan kenikmatan dari-Nya. Sebagaimana yang diucapkan oleh para penduduk surga,

الحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهتَدِيَّ
لَولَا أَن هَـدَانَا اللَّهُ

“Segala puji bagi Allah yang telah memberikan petunjuk kepada kami untuk ini dan kami tidak akan mendapatkan hidayah kalau sekiranya kami tidak diberi hidayah oleh Allah.”

[Majmu’ al Fatawa]

Susu Sapi Adalah Obat…

Susu sapi adalah obat sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam,

إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى لَمْ يُنْزِلْ دَاءً، إِلا أَنْزَلَ لَهُ شِفَاءً، إِلا الْهَرَمَ، فَعَلَيْكُمْ بِأَلْبَانِ الْبَقَرِ، فَإِنَّهَا تَرُمُّ مِنْ كُلِّ شَجَرٍ

“Sesungguhnya Allah ta’ala tidak menurunkan penyakit melainkan Ia menurunkan juga untuknya obatnya, kecuali penyakit tua. Maka hendaklah kalian minum SUSU SAPI, karena ia makan semua jenis pepohonan”

[Diriwayatkan oleh Ahmad 4/315, Al-Hakim dalam Al-Mustadrok 4/196, dan Al-Baihaqi 9/345 (580) no. 19571 – lafazhnya milik Al-Hakim. Dishohihkan oleh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahaadiits Ash-Shohiihah no. 518].

Hukum Mujtahid Tidak Boleh Disebut Hukum Allah…

Ibnu Qayyim berkata, “Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam melarang panglima perangnya yang bernama Buraidah bila mengepung musuh lalu menyerah untuk diberikan kepada mereka hukum Allah. Beliau bersabda,

‎فإنك لا تدرى أتصيب حكم الله فيهم أم لا ولكن أنزلهم على حكمك وحكم أصحابك

“Karena kamu tidak mengetahui apakah (ijtihadmu) sesuai dengan hukum Allah atau tidak. Tapi berlakukanlah kepada mereka hukummu dan para sahahabatmu.”
(HR Muslim)

Perhatikanlah bagaimana beliau membedakan antara hukum Allah dengan hukum seorang mujtahid. Nabi melarang menamai hukum mujtahid sebagai hukum Allah.

Sama halnya dengan hasil analisa seorang dokter, tidak boleh ia menisbatkan analisanya sebagai kesehatan ala Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam.

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc,  حفظه الله تعالى

Menebar Cahaya Sunnah