Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى berikut ini : (tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) :
Ikuti terus Telegram channel :
https://t.me/bbg_alilmu
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://t.me/kaidah_ushul_fiqih
Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى berikut ini : (tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) :
Ikuti terus Telegram channel :
https://t.me/bbg_alilmu
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://t.me/kaidah_ushul_fiqih
Dari pembahasan Kitab Fiqih Mausu’ah Muyassaroh, yang ditulis oleh Syaikh Hussain Al Uwaisyah, حفظه الله تعالى
.
PEMBAHASAN SEBELUMNYA – Apakah Sujud Tilawah Harus Dalam Keadaan Berwudhu..? bisa di baca di SINI
=======
Alhamdulillah.. wash-sholaatu was-salaamu ‘alaa Rosuulillah…
Kita lanjutkan masih tentang sholat berjama’ah. Yang disebut jama’ah paling sedikit yaitu dua orang. Satu imam dan satu ma’mum.
Sebagaimana disebutkan dalam hadits bahwa Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam… pernah Ibnu Abbas mengikuti sholat malamnya Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam ketika beliau sedang tahajud.
Kemudian beliau (Syaikh Hussain Al Uwaisyah) berkata,
👉🏼 Apabila kita datang kemasjid dan mendapatkan imam sedang ruku’ atau sedang sujud bagaimana kita lakukan ?
Kata beliau, yaitu dengan cara langsung mengikuti imam walau dalam keadaan apapun.
Kalau imam sedang ruku’ kita ikut ruku’… kalau sedang sujud langsung kita ikut sujud.
👉🏼 Apakah disyari’atkan kita takbiratul ihram kemudian sedekap baru sujud ?
Jawab,
Tidak ada dalilnya, yang rojih kita langsung takbir kemudian langsung sujud.
⚉ Dari Ali dan Mu’adz bin Jabal, keduanya berkata bahwa Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda,
قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَتَى أَحَدُكُمْ الصَّلَاةَ وَالْإِمَامُ عَلَى حَالٍ فَلْيَصْنَعْ كَمَا يَصْنَعُ الْإِمَامُ
‘Apabila salah seorang dari kalian mendatangi sholat dan imam ada pada suatu keadaan hendaklah ia melakukan sebagaimana yang dilakukan oleh imam.’ [HR. Tirmizi, dan Tirmizi berkata hadits ini ghorib.]
⚉ Dari Abdullah bin Mukhafalan Muzani ia berkata, Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda,
‘Apabila kalian mendapati imam sujud maka sujudlah… kalau kalian mendapatkan ia ruku’ maka ruku’lah… kalau kalian mendapatkan ia berdiri maka berdirilah… dan jangan kalian menganggap sujud apabila kajian tidak mendapatkan ruku’. [HR Ishak bin Mansyur Al Marwazi dan Syaikh Albani mengatakan sanadnya shahih.]
Artinya apabila kita mendapati imam sedang sujud kita tidak mendapatkan satu roka’at, …berbeda apabila kita mendapatkan imam sedang ruku’ maka kita mendapatkan satu roka’at.
Hadits menunjukkan bahwa kita langsung masuk sesuai dalam keadaan imam.
Kata beliau (Syaikh Hussain Al Uwaisyah), siapa yang mendapatkan ruku’ maka ia telah mendapatkan sholat, siapa yang mendapatkan satu roka’at maka ia telah mendapatkan sholat.
⚉ Dari Abu Hurairah, ia berkata, Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda,
‘apabila kalian datang kepada sholat dalam keadaan kami sedang sujud maka sujudlah jangan kalian menganggapnya sedikitpun.’
Artinya jangan dianggap itu dapat satu roka’at.
مَنْ أَدْرَكَ رَكْعَةً مِنَ الصَّلَاةِ مَعَ الْإِمَامِ، فَقَدْ أَدْرَكَ الصَّلَاةَ
‘Dan siapa yang mendapatkan satu roka’at sungguh ia telah mendapatkan sholat.’ [HR Abu Daud dan yang lainnya]
⚉ Dari Zaid bin Wahab ia berkata,
‘bahwa aku keluar bersama Abdullah dari rumahnya menuju masjid ketika kami berada ditengah masjid imampun ruku’ lalu Abdullah bin Mas’ud langsung bertakbir kemudian ruku’ dan akupun ikut ruku’ kemudian kami berjalan sambil ruku’ hingga masuk kedalam shof sehingga orang-orangpun naik untuk i’tidal.
Ketika telah selesai sholat, aku berdiri untuk menambah roka’at karena aku menganggap aku belum mendapatkan roka’at tersebut, ternyata Abdullah bin Mas’ud memegang tanganku dan mendudukkanku dan berkata, ‘engkau sudah mendapatkannya.’ [HR Thabrani, dan Syaikh Albani mengatakan hadits ini shahih]
Disini Abdullah bin Mas’ud ketika telah sampai di tengah masjid imam ruku’ maka beliaupun langsung ikut ruku’ dan berjalan masuk shof sambil ruku’.
👉🏼 Ini menunjukkan perkara ini adalah sunnah. Adapun hadits yang disebutkan bahwa ada seorang sahabat melakukan itu lalu Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam menyebut, ‘siapa tadi yang melakukan itu ?’ Itu yang diingkari oleh Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam ADALAH ketergesa-gesaan dia.
👉🏼 ADAPUN masuk dan berjalan dalam keadaan ruku’… sebagian Ulama seperti Syaikh Albani mengatakan termasuk sunnah.
⚉ dan juga diriwayatkan dari Ibnu Zubair, Abdullah bin Umar berkata,
‘apabila kamu datang dan mendapati imam sedang ruku’ lalu kamu meletakkan kedua tanganmu diatas kedua lututmu sebelum ia bangkit, maka kamu telah mendapatkan satu roka’at.’
Ini semua menunjukkan bahwa orang yang sudah mendapatkan ruku’ berarti ia telah mendapatkan satu roka’at, dan ini pendapat jumhur ulama.
⚉ Dikuatkan juga dalam hadits Abu Bakrah [HR. Bukhori 750]:
bahwa beliau masuk kemasjid dalam keadaan Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam ruku’ kemudian beliau lari dan kemudian segera ruku’ sebelum masuk shof kemudian sambil berjalan sambil ruku’ masuk shof, setelah sholat Rasulullah shollallahu ‘alayhi wasallam berkata, ‘siapa tadi yang melakukan itu ?’ Kata Abu Bakrah, ‘Aku ya Rosulullah’, kata Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam ‘semoga Allah menambahmu semangat, jangan kamu ulangi lagi,’ lalu kemudian Rasulullah shollallahu ‘alayhi wasallam tidak menyuruh ia untuk menambah satu roka’at.
Ini menunjukkan orang yang mendapatkan ruku’ berarti ia mendapatkan satu roka’at.
.
.
Walhamdulillah 🌻
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى
.
.
Dari Kitab Fiqih Mausu’ah Muyassaroh, yang ditulis oleh Syaikh Hussain Al Uwaisyah, حفظه الله تعالى
.
ARTIKEL TERKAIT
Pembahasan Fiqih Mausu’ah Muyassaroh…
Renungkan hadits ini
فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِيْ فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ، تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ، فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ
“karena sesungguhnya orang yang hidup di antara kamu sesudahku akan melihat perselisihan yang banyak, maka berpegang teguhlah kamu kepada sunnahku dan sunnah para Khulafa’ (pengikutku) yang mendapat petunjuk, berpegang teguhlah kamu padanya dan gigitlah dengan geraham-geraham (mu), dan jauhilah hal-hal yang diada-adakan (dalam agama) karena setiap yang baru itu adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan.” (HR. Abu Dawud dan Attirmidzi dan beliau berkata: Hadits Hasan shahih).
Ketika Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam mengabarkan bahwa umatnya akan berpecah belah. Beliau tidak berkata: ‘bersatulah..’
tapi beliau bersabda: ‘Peganglah sunnahku dan sunnah khulafa rasyidin dan jauhilah bid’ah..’
Namun ini amat berat karena akan diasingkan oleh manusia. oleh karena itu Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam menyuruh untuk menggigitnya dengan gigi geraham. Dan memberi kabar gembira bagi orang yang terasing karena memegang sunnah dengan pohon thuba di surga..
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
Imam Al Auza’iy rohimahullah berkata..
‘Atho’ bin Abi Robah adalah orang yang paling diridhoi oleh manusia..
namun yang menghadiri majelis taklimnya hanya tujuh atau delapan orang saja..’
(Tarikh Abu Zur’ah Ad Dimasyqi)
itulah salafushalih..
bukan kwantitas yang mereka pikirkan..
namun kwalitas..
walaupun hanya dihadiri tujuh atau delapan orang..
namun semuanya menjadi ulama besar..
sementara kita..
terkadang hanya melihat banyaknya yang hadir..
ratusan bahkan ribuan..
namun kwalitas terasa masih jauh..
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
da1102160905
Syeikh Al-‘Utsaimin -rohimahulloh- berkata :
“Umar bin Khottob -rodhiallohu ‘anhu- mengatakan: ‘Siapa yang memoles dirinya dengan sesuatu yang tidak ada pada dirinya, niscaya Allah menampakkan keburukannya’…
Begitu pula orang yang memoles dirinya dengan ibadah, dia menampakkan kepada manusia bahwa dia seorang ahli ibadah, maka Allah ‘azza wajall pasti akan membongkarnya -semoga Allah melindungi kami dan kalian dari RIYA-.
Sepandai apapun manusia menutupi, Allah tetap mengetahui, dan Dia akan membongkar kedok orang yang beramal bukan karenaNya.
Jadi timbanglah semua amalanmu dengan perkataan Umar -rodhiallohu ‘anhu- ini !”
[Syarah Hilayatu Tholibil Ilm, Hal: 49-50].
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى
da2311140733
Dari kitab yang berjudul “Showarif ‘Anil Haq“, tentang Hal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari Kebenaran, ditulis oleh Syaikh Hamd bin Ibrohim Al Utsman, حفظه الله تعالى.
.
PEMBAHASAN SEBELUMNYA (Penghalang yang ke 31) bisa di baca di SINI
=======
🌿 Penghalang yang ke 32 🌿
Alhamdulillah.. wash-sholaatu was-salaamu ‘alaa Rosuulillah…
Diantara perkara yang menghalangi seseorang dari kebenaran…
أسلوب المخاطبة با لحق
⚉ Cara menyampaikan kebenarannya dengan cara penyampaian yang salah, seperti dengan kasar dan yang lainnya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman [QS Al Ankabut : 46]
وَلَا تُجَٰدِلُوٓا۟ أَهْلَ ٱلْكِتَٰبِ إِلَّا بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ
“Janganlah kalian mendebat ahli kitab kecuali dengan yang lebih baik.”
Banyak Ulama tafsir, menafsirkan makna yang lebih baik yaitu menggunakan lemah lembut. Karena kelembutan itu adalah disukai oleh semua orang.
Rosulullah besabda:
إن الر فق لا يكو ن فِي شيء إلاَّ زانه
“Kelemah lembutan itu tidak ada pada sesuatu kecuali akan menghiasinya.” (dikeluarkan oleh Imam Muslim)
Dan ketika seseorang disampaikan padanya kebenaran dengan cara yang kurang bagus, sering kali orang tersebut menolak. Padahal yang disampaikan itu sebetulnya kebenaran.
⚉ Al Imam Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahullah, dalam kitabnya Minhaajussunnah (jilid 5/hlm 254), berkata :
وإن كان عالِمًا ، ولَمْ يكن ر فيقًا كان كالطبيب الذي لا رفق فيه
“Jika ia ‘alim, tapi ia tidak punya sifat lembut, itu seperti dokter yang tidak punya sifat lembut”, dimana si dokter itu bersikap keras, kasar kepada seorang yang sakit, dan ternyata orang sakit itu tidak mau menerima.
Allah Ta’ala berfirman kepada Nabi Musa dan Harun [QS Thaha : 44]
فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَىٰ
“Ucapkanlah kepada Fir’aun dengan ucapan yang lemah lembut, supaya ia mau ingat atau takut.”
Disini Allah Subhanahu wa Ta’ala menyuruh Nabi Musa dan Harun untuk menyampaikan kebenaran dengan lemah lembut kepada Fir’aun.
Kata Beliau:
و المخاطبة باللَّين و التلطف تُستعمل مع مَن أظهر إنصافًا و طلبًا للحقَّ
“Sikap lemah lembut itu digunakan untuk orang yang mempunyai sifat inshof dan mudah menerima kebenaran.”
Namun sikap lemah lembut itu tidak bisa digunakan secara mutlak.
Segala sesuatu hendaknya kata Beliau diletakkan pada tempatnya masing-masing, karena sebatas lembut saja tidak bagus, sebagaimana sebatas keras sajapun tidak bagus, tapi semunya harus diletakkan pada tempatnya masing-masing.
⚉ Shidiiq Hasan Khan berkata dalam kitab ’Abjadul ‘uluum (jilid 1/hlm 129)
إن الرَّ د بالتو بيخ يهتك حجاب الهيبة
“Membantah dengan memburuk-burukkan orangnya itu bisa menjatuhkan kewibawaan,”
و يو ر ث الجر أة على الهجو م بالخلاف
“Dan menyebabkan lawan itu akan berani untuk menyerang”
ويُهيج الحر ص على اﻹصرار
“Bahkan menyebabkan orang yang kita bantah itu semakin ngeyel.”
Ini perkataan Beliau ini menunjukkan bahwa, walaupun kita membantah itu dengan hujjah dan dalil secara ilmiyah, tapi kalau kita isinya memburuk-burukkan, menjelek-jelekkan, maka itu menjadi sebab orang yang kita bantah akhirnya muncul emosinya, akhirnya tidak mau menerima kebenaran, karena yang salah adalah orang yang menyampaikannya.
Oleh karena itulah didalam menyampaikan kebenaran pun juga kita harus berusaha melihat siapa orang yang hendak kita sampaikan padanya kebenaran.
⚉ Kata Ibnul Qayyim rohimahullah, di dalam kitab Miftaahdaaris sa’adah ( jilid 1/ hlm 171)
وأمَّا المعار ضو ن المدعو ون با لحقَّ فنو عان
“Adapun orang-orang yang menentang yang didakwahi dengan kebenaran, itu ada dua macam:”
1. يُدعون بالْمُجادلة. بالتِب هي أحسن
1. “Mereka di dakwahi dengan cara berdebat dengan yang lebih baik.”
Jika mereka tidak menerima maka pada waktu kita debat dengan kuat, dengan hujjah, dan burhan.
Maka kata Beliau, kalau kita memperhatikan Al Qur’an kita dapati Al Qur’an pun juga memerintahkan seperti ini.
Allah berfirman [ QS an-Nahl : 125]
وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ
“Debatlah mereka dengan sesuatu yang lebih baik.”
Ini untuk orang yang sulit untuk menerima kebenaran atau ngeyel dan harus kita debat dengan debat yang kuat, dengan ilmu, hujjah, dan burhan.
2. Adapun orang yang mudah menerima kebenaran maka kita dakwahi dengan kelemah lembutan, karena itu asal daripada dakwah itu adalah lemah lembut.
.
.
Wallahu a’lam 🌴
.
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
.
Dari kitab yang berjudul “Showarif ‘Anil Haq“, tentang Hal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari Kebenaran, ditulis oleh Syaikh Hamd bin Ibrohim Al Utsman, حفظه الله تعالى.
.
Silahkan bergabung di Telegram Channel dan Facebook Page :
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://www.facebook.com/aqidah.dan.manhaj/
Artikel TERKAIT :
⚉ PEMBAHASAN LENGKAP – Showarif ‘Anil Haq – Hal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari KEBENARAN
⚉ PEMBAHASAN LENGKAP – Al Ishbaah – Manhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN
Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda :
لَأَعْلَمَنَّ أَقْوَامًا مِنْ أُمَّتِي يَأْتُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِحَسَنَاتٍ أَمْثَالِ جِبَالِ تِهَامَةَ بِيضًا فَيَجْعَلُهَا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ هَبَاءً مَنْثُورًا قَالَ ثَوْبَانُ يَا رَسُولَ اللَّهِ صِفْهُمْ لَنَا جَلِّهِمْ لَنَا أَنْ لَا نَكُونَ مِنْهُمْ وَنَحْنُ لَا نَعْلَمُ قَالَ أَمَا إِنَّهُمْ إِخْوَانُكُمْ وَمِنْ جِلْدَتِكُمْ وَيَأْخُذُونَ مِنْ اللَّيْلِ كَمَا تَأْخُذُونَ وَلَكِنَّهُمْ أَقْوَامٌ إِذَا خَلَوْا بِمَحَارِمِ اللَّهِ انْتَهَكُوهَا
“Sungguh saya telah mengetahui bahwa ada suatu kaum dari umatku yang datang pada hari kiamat dengan membawa kebaikan sebesar gunung Tihamah yang putih. Kemudian Allah menjadikannya debu yang berterbangan.”
Tsauban bertanya, “Wahai Rosulullah, sebutkanlah ciri-ciri mereka dan jelaskanlah perihal mereka agar kami tidak menjadi seperti mereka tanpa disadari.”
Beliau bersabda: “Sesungguhnya mereka adalah saudara kalian dan dari golongan kalian, mereka sholat malam sebagaimana kalian, tetapi mereka adalah kaum yang jika bersendirian mereka menerjang hal yang diharamkan Allah.”
(Shahih. HR. Ibnu Majah).
Ustadz Fachruddin Nu’man MA, حفظه الله تعالى
Kholid bin Ma’dan rohimahullah berkata,
“Barangsiapa yang menceritakan kepada orang-orang semua yang dia lihat dengan kedua pasang matanya, atau apapun yang dia dengar dengan kedua pasang telinganya, atau apa saja yang dipungut oleh kedua tangannya, maka dia termasuk orang-orang yang menyukai tersebarnya kekejian di tengah-tengah kaum yang beriman.”
“Sesungguhnya orang-orang yang suka sekali supaya tersebar berita-berita keji dalam kalangan orang-orang yang beriman, mereka akan mendapat azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Allahlah yang Maha Tahu dan kamu semua tidaklah mengetahui” (QS. an-Nuur: 19).”
[Min Kitab az-Zuhd li Ibni Abi Hatim, Hal. 71)]
Kholid bin Ma’dan rohimahullah adalah seorang Ulama yang wafat pada tahun 104 Hijriyah.
ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL
Yahya bin Mu’adz ar-Razi rohimahullah berkata,
“Hendaknya seorang mukmin mendapati tiga hal ini
dari Anda :
⚉ jika Anda tidak bisa memberi manfaat kepadanya,
janganlah memberinya mudhorot;
⚉ jika Anda tidak mampu membuatnya gembira,
janganlah membuatnya sedih; dan
⚉ jika Anda tidak memberi pujian kepadanya,
janganlah mencelanya.”
[Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, Ibnu Rojab al-Hanbali,
hlm. 456]
Yang masyhur, Ubaidullah bin Jahsy suami ummu Habibah ketika hijrah ke Habasyah bersama ummu Habibah, ia masuk agama nashrani.
Namun Sanadnya tidak shahih. Semua jalannya lemah.
Justru lahiriyah riwayat-riwayat yang shahih menunjukkan bahwa ia meninggal dalam keadaan muslim. Maka Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam ingin menghibur kesedihan ummu Habibah yang berhijrah karena Allah dengan memperistrinya dan menjadi salah satu ummahatul mukminin.
(Maa Syaa’a walam yatsbut fissiroh hal 37)
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى
==============
ARTIKEL TERKAIT
Benarkah Ubaidullah bin Jahsy Pindah Ke Agama Nasrani..?