Nasihat Ibnu Hibban Rohimahullah – Tujuan Menuntut Ilmu Adalah Untuk Mengambil Manfa’atnya

Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى berikut ini : (tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) :

Dari pembahasan Kitab Roudhotul Uqola wa Nuz-hatul Fudhola (Tamannya Orang-Orang Yang Berakal dan Tamasya-nya Orang-Orang Yang Mempunyai Keutamaan) karya Abu Hatim Muhammad Ibnu Hibban al Busty rohimahullah.

ARTIKEL TERKAIT :
Kumpulan Artikel – Nasihat Ibnu Hibban rohimahullah…

Ikuti terus Telegram channel :
https://t.me/bbg_alilmu
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://t.me/kaidah_ushul_fiqih

Apakah Kepala Rumah Tangga Juga Bertanggung Jawab Atas Kemaksiatan Yang Dilakukan Pembantunya..?

Jika pembantu di rumah tidak mengenakan hijab atau melakukan kemaksiatan lain, apakah itu juga merupakan tanggung jawab kepala rumah tangga ?

Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى berikut ini : (tunggu hingga audio player muncul dibawah ini:

Ikuti terus Telegram channel :
https://t.me/bbg_alilmu
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://t.me/kaidah_ushul_fiqih

Benarkah Ubaidullah bin Jahsy Pindah Ke Agama Nasrani..?

Diungkapkan dalam kitab-kitab sirah bahwa Ubaidullah bin Jahsy beralih ke agama Kristen di negeri Habasyah (Ethiopia). Ia hijrah ke negeri ini bersama istrinya, Ummu Habibah. Apakah berita kemurtadannya ini terbukti diriwayatkan dengan sanad shahih ?

Ketika menyebutkan beberapa orang yang menghindari penyembahan orang-orang Quraisy terhadap berhala, Ibnu Ishaq berkata. “Mereka adalah Waraqah bin Naufal, Ubaidullah bin Jahsy, Utsman bin Huwairits dan Zaid bin Amru bin Nufail. Sebagian mereka berkata pada sebagian yang lain, ‘Kalian tahu, demi Allah, kaum kalian ini sama sekali tidak berada dalam kebenaran. Mereka telah jauh menyimpang dari agama nenek moyang mereka, Ibrahim. Apa hebatnya sebongkah batu yang kita kelilingi, padahal ia tidak bisa mendengar, tidak bisa melihat, tidak membahayakan maupun memberi manfaat ? Carilah (kebenaran) untuk diri kalian masing-masing, sebab demi Allah kalian tidak berada di atas kebenaran.’

Mereka kemudian berpencar ke berbagai negeri untuk mencari agama yang hanif, agama Ibrahim. Selanjutnya Waraqah bin Naufal mantap masuk agama Nasrani. Ubaidullah bin Jahsy tetap dalam kebimbangan hingga ia masuk Islam kemudian hijrah bersama kaum muslimin ke Habasyah. Ia membawa istrinya, Ummu Habibah binti Abi Sufyan yang juga telah masuk islam. Tetapi ketika tiba di negeri ini Ubaidullah memeluk agama Nasrani dan meninggalkan agama Islam sampai ia mati di sana sebagai seorang kristiani.”

Kemudian Ibnu Ishaq berkata, “Muhammad bin Ja’far bin Zubair telah bercerita kepadaku, “Ubaidullah bin Jahsy –ketika telah masuk Kristen—melewati sahabat-sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang ada di negeri Habasyah. Ia berkata, ‘Kami telah melihat, sedangkan kalian masih meraba-raba.’ Maksudnya, kami telah menemukan kebenaran, sedangkan kalian masih mencari-carinya dan belum menemukannya.” (Ar-Raudhul Unuf, II: 538)

Guru Ibnu Ishaq dalam hadits ini adalah Muhammad bin Ja’far bin Zubair bin Awwam, seorang perawi tsiqoh. Ia wafat tahun seratus sekian belas hijriah, termasuk dalam tingkatan keenam yang merupakan tingkatan kumpulan perawi yang tidak pernah bertemu dengan sahabat. Jadi hadits ini mursal. Selanjutnya, Ibnu Ishaq menuturkan peristiwa datangnya Ja’far bin Abi Thalib dari Habasyah. Ia berkata, “Muhammad bin Ja’far bin Zubair bercerita kepadaku dari Urwah yang berkata, “Ubaidillah berangkat (Ke Habasyah) bersama kaum muslimin sebagai serorang muslim. Ketika telah tiba di negeri Habasyah, ia memeluk agama Nasrani.” Urwah melanjutkan, “Bila ia melewati muslimin –Dan seterusnya seperti hadits di atas—“ Sanad hadits ini shahih tetapi mursal. Riwayat ini adalah yang paling shahih berkenaan dengan berita beralihnya Ubaidullah bin Jahsy ke dalam agama Nasrani.

Ibnu Ishaq juga menyebutkan hal ini dalam kisah pernikahan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Ummu Habibah. Ia mengatakan, “Setelah menikahi Zainab, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memperistri Ummu Habibah binti Abi Sufyan. Sebelumnya, Ummu Habibah adalah istri Abdullah (Ubaidullah) bin Jahsy. Ia mati meninggalkannya di negeri Habasyah dan ia telah memeluk Kristen.” (Sirah Ibni Ishaq, Tahqiq Muhammad Hamidullah, 241) Hadits ini tanpa sanad.

Kisah ini juga diriwayatkan Ibnu Sa’ad dalam Ath-Thabaqat. Ia berkata, “Muhammad bin Umar mengabarkan kepada kami, Abdullah bin ‘Amru bin Sa’id bin ‘Ash, Ummu Habibah Menuturkan, “Dalam mimpi aku melihat Ubaidullah bin Jahsy, suamiku dalam rupa yang sangat buruk dan menjijikkan. Aku terperanjat. Spontan aku mengatakan, ‘Demi Allah, keadaannya akan berubah.’ Dan ternyata keesokan harinnya ia berkata, ‘Wahai Ummu Habibah, aku telah meneliti semua agama dan aku tidak melihat yang lebih baik daripada Agama Nasrani. Dulu aku pernah memeluk keyakinan ini. Kemudian aku masuk agama Muhammad, dan kini aku kembali ke agama Nasrani.’ Aku berkata, ‘Demi Allah, itu tidak lebih baik bagimu.’ Aku lalu mengisahkan mimpi yang aku lihat, tetapi ia tidak memperdulikannya. Akhirnya ia kecanduan minum khamr sampai meninggal dunia.” (Thabaqat Ibnu Sa’ad, VII: 97)

Ibnu Sa’ad juga meriwayatkan kisah ini ketika menyebutkan jumlah istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Saat membicarakan Ummu Habibah, ia berkata, “Sebelum menjadi istri Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam, ia menikah dengan Ubaidullah bin Jahsy yang telah masuk Islam dan hijrah ke Habasyah. Namun kemudian Ubaidullah murtad dan memeluk agama Kristen. Ia mati di sana dalam agama Kristen.” (Thabaqat Ibni Sa’ad, VII: 218)

Dalam dua hadits ini, guru Ibnu Sa’ad adalah Waqidi. Haditsnya ditinggalkan meskipun pengetahuannya sangat luas. Hakim meriwayatkannya secara mursal dalam al-Mustadrak dari Zuhri. Disebutkan didalamnya, “Kemudian ia mengalami keguncangan pikiran dan memeluk Kristen hingga mati sebagai seorang Kristiani. Allah menguatkan keislaman Ummu Habibah, di mana ia menolak masuk Kristen.” (Al-Mustadrak, IV: 21). Hakim juga meriwayatkannya secara maushul (bersambung sanadnya) dari jalur Waqidi, didalamnya disebutkan tentang mimpi Ummu Habibah (Al-Mustadrak, IV: 22) seperti riwayat Ibnu Sa’ad. Riwayat-riwayat mursal Zuhri itu dha’if. (Demikian dikatakan Al-Hafizh dalam At-Talkhishul Habir. IV: 111)

Imam Dzahabi mengatakan, “Yahya bin Sa’id berkata, ‘Riwayat mursal Zuhri lebih buruk di banding riwayat mursal lainnya. Sebab ia sebenarnya perawi yang hafalannya bagus dan setiap perawi yang ia bisa sebutkan pasti ia sebutkan. Namun, ia meninggalkan perawi yang tidak disukainya untuk disebutkan’. Aku (Dzahabi) mengatakan, “Riwayat mursal Zuhri seperti mu’dhal, sebab dalam sanad ini telah gugur dua orang. Tidak bisa kita beranggapan bahwa Zuhri hanya tidak menyebutkan sahabat saja. Andai ia langsung meriwayatkan dari sahabat, pasti ia menjelaskannya dan mampu menyambungkan sanadnya. Siapa memangdang riwayat mursal Zuhri seperti mursal Sa’id bin Musayib, Urwah bin Zubair serta perawi yang sekelas keduanya, berarti ia tidak tahu apa yang ia katakana. Ya, mursalnya seperti mursal Qatadah dan perawi setingkat dirinya.” (Siyar A’lamin Nubala’, V: 338-339)

Thabari dalam tharikhnya juga meriwayatkan berita ini secara mursal yakni dalam bab berita tentang istri-istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Hisyam bin Muhammad ketika bercerita tentang Ummu Habibah, “Suaminya lalu masuk Kristen dan berusaha agar istrinya mengikuti. Tetapi Ummu Habibah enggan dan bersabar mempertahankan agamanya. Akhirnya suaminya mati dalam keyakinan Kristen.” (Tarikh Thabari, II: 213). Hadits ini disamping mursal juga diriwayatkan dari Hisyam bin Muhammad bin Saib al-Kalbi, seorang pengikut Syiah yang matruk.

Imam Ahmad berkata, “Ia tidak hanya orang yang pandai bersenda gurau dan ahli nasab. Aku tidak yakin ada orang yang meriwayatkan hadits darinya.” (Lisanul Mizan, VI: 196). Ibnu Atsir mengutip riwayat ini dalam kitab Tarikhnya (Al-Kamil Fii Tarikh, II: 210) dari Ibnu Kalbi.

Sementara itu, Baihaqi meriwayatkannya dalam ad-Dala’il dari jalur Ibnu Luhai’ah dari Abi Aswad dari Urwah yang berkata, “Dari Bani Asad bin Khuzaimah adalah Ubaidullah bin Jahsy. Ia mati di negeri Habasyah sebagai seorang penganut agama Nasrani. Ia bersama istrinya Ummu Habibah binti Abi Sufyan. Namanya Ramlah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuntingnya. Utsman bin Affan yang menikahkan beliau dengan Ummu Habibah di Habasyah.” (Dalailun Nubuwwah, III: 460)

Dalam hadits ini terdapat dua cacat, mursal dan Ibnu Luhai’ah yang dha’if. Matannya pun sedikit aneh. Ibnu Katsir berkata, “Adapun ucapan Urwah bahwa Utsman menikahkan Ummu Habibah dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ini gharib (aneh). Sebab waktu itu Utsman telah pulang ke Mekkah, kemudian hijrah bersama istrinya, Ruqayyah.” (Al-Bidayah Wan Nihayah, IV: 143)

Ibnu Abdil Bar tidak menuliskan biografi Ubaidullah bin Jahsy dalam Al-Isti’ab, demikian pula Ibnu Atsir dalam Ushul Ghabah dan Ibnu Hajar dalam Al-Ishabat. Saat membicarakan biografi saudaranya, Abdullah dalam al-Ishabat Ibnu Hajar tidak menyinggung Ubaidullah sama sekali.

Sementara itu Ibnu Abdil Bar dalam Al-Isti’ab pada biografi Abdullah berkata, “Ia dan saudaranya Abu Ahmad bin Abd bin Jahsy temasuk dalam kelompok Muhajirin pertama yang melakukan dua kali hijrah. Sedangkah saudara keduanya, Ubaidullah bin Jahsy masuk Kristen di Habasyah. Ia mati di sana sebagai seorang Kristiani dan istrinya Ummu Habibah berpisah darinya.” (Al-Isti’ab –catatan kaki al-Ishabah-, II: 263). Demikian pula disebutkan Ibnu Atsir dalam biografi Abdullah.

Pada biografi Ummu Habibah dalam Al-Ishabah, ibnu Hajar berkata, “Ketika suaminya, Ubaidullah, memeluk Kristen dan murtad dari agama islam, ia menceraikan dirinya. Ibnu Sa’ad meriwayatkan dari jalur Ismail bin Amru bin Sa’id al-Umawi yang berkata, -dan seterusnya-.” (Al-Ishabat, IV: 299). Ibnu Hajar menyebutkan kisah yang diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad dari Waqidi dan telah dijelaskan di atas.

Dan pada biografi Ummu Habibah dalam At-Tahdzib, XII: 419, Al-Hafizh Ibnu Hajar tidak menyinggung beralihnya Ubaidullah ke agama Nasrani, ia berkata, “Ummu Habibah hijrah ke Habasyah bersama suaminya, Abdullah bin Jahsy. Dan suaminya ini mati di sana. Lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahi Ummu Habibah yang masih berada di Habasyah pada tahun 6 Hijriah. Dikatakan pula tahun 7 Hijriah.”

Dzahabi berkata dalam as-Siyar ketika membicarakan biografi Ummu Habibah, “Ibnu Sa’ad berkata, ‘Waqidi mengabarkan kepada kami dan seterusnya, mengabarkan kami’. Ia menyebutkan mimpi Ummu Habibah dan kemurtadan suaminya. Kemudian Dzahabi berkata, “Riwayat ini munkar’ (Siyar a’lamin Nubala’, II: 221). Namun ia tidak menjelaskan alasan kemunkarannya.

Diantara bukti yang menguatkan bahwa berita kemurtadan Ubaidullah bin Jahsy tidak benar adalah riwayat-riwayat shahaih tentang pernikahan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Ummu Habibah, Di mana riwayat-riwayat ini tidak sedikit pun menyinggung berita ini. Imam Ahmad meriwayatkan dengan sanad shahih dari jalur Zuhri, dari Urwah, dari Ummu Habibah bahwa ia dulu istri Ubaidullah bin Jahsy yang datang ke negeri Najasyi dan mati di sana. Lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahi Ummu Habibah saat ia masih di Habasyah. Najasyi yang menikahkannya dengan beliau dan memberinya mahar 4.000 dirham.” (Al-Fathur Rabbani, XVI: 170) Abu Dawud (‘Aunul Ma’bud, kitab an-Nikah, bab Ash-Shadaq, VI: 137, hadits No. 2093) dan Nasai (Kitab An-Nikah, bab Qisthu Fil Ashdiqah, VI: 119, Albani menshahihkannya dalam Shahih An-Nasai, II: 705) juga meriwayatkannya.

👉🏼  Dari uraian tadi, wallahu a’lam dapat disimpulkan bahwa kisah murtadnya Ubaidullah bin Jahsy tidak benar berdasarkan beberapa alasan berikut:

PERTAMA, kisah ini tidak diriwayatkan dengan sanad shahih dan bersambung. Sebab, riwayat yang bersambung berasal dari Waqidi (padahal ia perawi matruk), dan riwayat yang mursal bersumber dari Urwah bin Zubair. Kita tidak mungkin berhujjah dengan riwayat mursal (menurut pendapat bolehnya berhujjah dengan riwayat mursal) dalam permasalahan seperti ini, yang berimplikasi menghukumi murtad pada salah seorang muslim generasi pertama.

KE-DUA, riwayat-riwayat yang shahih tentang pernikahan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Ummu Habibah tidak menyebutkan kemurtadan suami pertamanya ini, seperti riwayat Ahmad, Abu Dawud dan Nasai yang telah disebutkan di atas.

KE-TIGA, orang yang termasuk generasi pertama Islam kecil kemungkinan murtad dari agamanya. Apalagi, ia termasuk orang yang hijrah bersama istrinya demi menyelamatkan agama ke negeri yang jauh dan asing. Terutama Ubaidullah bin Jahsy termasuk orang-orang yang menjauhi keyakinan paganisme Quraisy, dan bersama Waraqah serta lainnya ia mencari agama yang Hanif sebagaimana telah disebutkan dalam riwayat ibnu Ishaq (tanpa sanad) di awal pembahasan ini. Dan dalam riwayat Ibnu Sa’ad (dari Waqidi) menyatakan bahwa sebelum masuk islam ia telah memeluk agama Kristen. Sudah dimaklumi berita akan diutusnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah popular di kalangan Ahlu Kitab, baik Yahudi maupun Nasrani. Sulit dibayangkan, bagaimana orang yang menunggu-nunggu agama baru untuk ia anut kemudian (setelah memeluknya) ia murtad dan memeluk agama yang telah di hapus.

Selain itu, pernikahan Nabi dengan Ummu Habibah terjadi pada tahun 6 atau 7 Hijriah. Sementara anggapaan murtadnya Ubaidullah terjadi tidak lama sebelum pernikahan ini. Padahal pada masa ini, agama islam telah meraih ketenaran dan diakui hingga di luar Jazirah Arab. Bahkan telah ada orang yang menampakkan keislaman dan menyembunyikan kekufuran seperti orang-orang munafik.

KE-EMPAT dalam Tanya jawab antara Heraklius (Raja Romawi) dan Abu Sufyan –yang kala itu masih musyrik-, di antara pertanyaan yang diajukan Heraqlius kepadanya adalah, “Apakah di antara para pengikutnya ada yang murtad karena benci terhadap agamanya setelah ia memeluknya?” Abu Sufyan menjawab, “Tidak.”

Andai Ubaidullah telah beralih memeluk agama Nasrani, tentunya Abu Sufyan mendapat kesempatan untuk mendiskreditkan Nabi dan dakwah beliau sebagaimana ia lakukan ketika ditanya, “Apakah ia berkhianat ?” Aku (Abu Sufyan) menjawab, “Tidak. Dan sekarang ini kami sedang berada dalam masa genjatan senjata. Kami tidak tahu apa yang tengah ia rencanakan.”

Abu Sufyan berkata, “Tak ada satu perkataan yang dapat aku sisipkan (untuk menjelek-jelekkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) selain ucapan ini.” (HR Bukhari, kitab bad’ul wahyi, Fathul Bari, I: 42)

Jadi, permasalahan berita kemurtadan ini berkaitan dengan salah seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahkan ia termasuk golongan pertama yang memeluk islam. Prinsip dasarnya, sesuatu tetap pada kondisi awal (selagi tidak ada bukti kuat yang mengubahnya -penerj). Jika sanad tentang berita kemurtadan Ubaidullah bin Jahsy itu shahih, tidak perlu lagi berpanjang lebar membahasnya. Tetapi ketika sanad tersebut tidak terbukti shahih, maka banyak nash-nash syariat yang memerintahkan untuk membela kehormatan seorang muslim. Terlebih lagi bila orang tersebut adalah seorang sahabat, bahkan termasuk kelompok muslim pertama.

Sebagai penutup, Ibnu Hibban meriwayatkan dalam Shahihnya, XIII: 386, ia bercerita, “Sa’id bin Katsir bin Ufair bercerita kepada kami, Laits bercerita kepada kami, dari Ibnu Musafir, dari Ibnu Syihab, dari Urwah, dari Aisyah yang menuturkan, ‘Kemudian Ubaidullah bin Jahsy hijrah bersama Ummu Habibah binti Abu Sufyan ke negeri Habasyah. Ketika telah tiba di Habasyah ia jatuh sakit. Ketika kematian terasa telah dekat, ia berpesan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu menikahi Ummu Habibah. Dan Najasyi mengirim Syurahbil bin Hasnah untuk mengawal perjalanan Ummu Habibah (Dari Habasyah menuju Madinah).”

Diketik ulang dari Buku Kisah-Kisah Masyhur Tapi Tak Shahih Dalam Sirah Nabawiyah, terjemah dari Kitab Maa Syaa-a wa Lam Yatsbut Fi As-Sirah An-Nabawiyyah oleh Muhammad bin Abdullah al-Ausyan.

Ref : http://wanitasalihah.com/benarkah-ubaidullah-bin-jahsy-pindah-ke-agama-nasrani/

Catatan Untuk Para Penuntut Ilmu…

Wahai para penuntut ilmu…

Waspadalah terhadap syahwat sebagaimana engkau waspada terhadap syubhat.

Betapa banyak yang selamat dari syubhat namun tenggelam dalam syahwat. 
Betapa banyak yang bisa melawan syubhat namun terkapar di hadapan syahwat.

Sebagaimana syubhat merusak hati demikian juga syahwat juga menghancurkan hati dan keimanan.

Ustadz DR. Firanda Andirja MA, حفظه الله تعالى.

Kesempatan Emas…


.
.
👆👆👆 (lihat gambar di atas)
.
PAHALA BESAR MENANTI KITA DI SORE NANTI, IN-SYAA ALLAH… YUUK…
.
Ini juga bisa sebagai alternatif plihan ibadah bagi wanita muslimah yang sedang menjalani siklus bulanan/haidh, ini kesempatan besar untuk tetap mendapatkan pahala puasa…
.
Alhamdulillah.. Allah mudahkan segala sesuatunya.. sekarang ini bisa telpon restoran dan melakukan pemesanan dan pembayaran, dan minta mereka untuk antar makanan tersebut ke tempat tujuan tanpa anda harus pergi ke luar rumah.. YUK PESAN SEKARANG… karena waktu berjalan terus dan Maghrib pun akan tiba, in-syaa Allah..
.
Bagaimana bila belum ada cukup dana untuk membelikan makanan buka puasa…?
.
Jangan kawatir.. sebarkan saja tulisan ini disertai niat dalam hati, semoga ada diantara mereka yang menerima pesan ini dan tergerak untuk mengamalkannya, maka andapun, in-syaa Allah, akan mendapatkan pahala yang serupa dengannya.. ini sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah hadits dari sahabat Uqbah bin ‘Amr bin Tsa’labah radhiallahu’anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

.من دَلَّ على خيرٍ فله مثلُ أجرِ فاعلِه.

“Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya” (HR. Muslim no. 1893).
.
.
#puasa
#baik
#bukapuasa
#makan
#minum
.
.
Follow: @bbg_alilmu
Follow: @bbg_alilmu
Follow: @bbg_alilmu
.
http://instagram.com/bbg_alilmu
.
.

Nasihat Ibnu Hibban Rohimahullah – Ilmu Sebagai Hiasan Dan Penyelamat

Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى berikut ini : (tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) :

Dari pembahasan Kitab Roudhotul Uqola wa Nuz-hatul Fudhola (Tamannya Orang-Orang Yang Berakal dan Tamasya-nya Orang-Orang Yang Mempunyai Keutamaan) karya Abu Hatim Muhammad Ibnu Hibban al Busty rohimahullah.

ARTIKEL TERKAIT :
Kumpulan Artikel – Nasihat Ibnu Hibban rohimahullah…

Ikuti terus Telegram channel :
https://t.me/bbg_alilmu
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://t.me/kaidah_ushul_fiqih

Tinggal 4 BULAN Lagi In-syaa Allah…


.
.
MALAM INI ADALAH TANGGAL 1 (atau 2) JUMADIL AWWAL, YAITU BULAN KE 5 DALAM KALENDER HIJRIYAH TAHUN 1440.
.
4 BULAN LAGI, in-syaa Allah, ROMADHON akan tiba…
.
Semoga Allah mempertemukan kembali kita dengan bulan Romadhon, aamiin… BAGI YANG MASIH ADA HUTANG PUASA, silahkan atur jadwal pelunasannya…
.
#hijriyah
#jadwal
#puasa
#ramadhan
.

HAL-HAL Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari KEBENARAN – Penghalang Ke-26

Dari kitab yang berjudul Showarif ‘Anil Haq, tentang Hal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari Kebenaran, ditulis oleh Syaikh Hamd bin Ibrohim Al Utsman, حفظه الله تعالى.
.
PEMBAHASAN SEBELUMNYA (Penghalang yang ke 25) bisa di baca di SINI

=======

🌿 Penghalang yang ke 26 🌿

Alhamdulillah.. wash-sholaatu was-salaamu ‘alaa Rosulillah…

Diantara perkara yang menyebabkan seseorang terhalang dari kebenaran yaitu…

الجهل بأهل الباطل و مقالاتهم

⚉  Bodoh terhadap kebathilan dan perkara-perkara yang berhubungan dengan kebathilan.

⚉  ‘Umar bin Khattab rodhiallahu ‘anhu berkata, sebagaimana dikeluarkan oleh Ibnu Sa’ad dalam “Athobaqoot” (jilid 4/ hlm 129), Alhaakim berkata (sanadnya shahih), ‘Umar bin Khattab berkata:

‎قد علمت و ربَّ الكعبة متَى تَهلك العرب

“Sungguh aku telah mengetahui demi Robb-nya Ka’bah, kapan kaum Arab bangsa Arab ini akan binasa.

‎إذا وُلَّي أمر هم من لَمْ بصحب الرسولﷺ و لَمْ يعا لِج أمر الجا هلية

Yaitu apabila yang memimpin mereka adalah orang-orang yang tidak pernah bersahabat dengan Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam dan tidak pernah mengetahui perkara jahiliyah.”

⚉  Syaikh ‘Abdullatiif bin ‘Abdurrahman Allusyaikh berkata

و هذا لأن من لا يعر ف الشر ك، و ما عابه القر آن وذمَّه؛ وقع فيه وأقره

“Ini dikarenakan orang yang tidak mengenal kesyirikan, tidak mengenal apa yang dicela oleh Alqur’an dan dicaci oleh Alqur’an biasanya ia akan jatuh kepadanya bahkan ia menyetujuinya.

‎و هو لا يعر ف أنه الذي عليه أهل الجاهلية

Sementara ia tidak tahu perkara-perkara jahiliyah yang dicela oleh Alqur’an tersebut.

فينتقض بذلك عر ى اﻹسلام

Sehingga terlepaslah dengannya tali-tali Islam.”

⚉  Hudzayfah Ibnul Yaman (seorang sahabat) rodhiallahu ‘anhu berkata juga, sebagaimana dikeluarkan Imam Bukhori

كان الناس يسألون رسول اللّٰهﷺعن الخير

“Adalah orang-orang bertanya kepada Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam tentang kebaikan

و كنت أسأله عن الشر مَخافة أن يُدر كنِي

Dan sementara aku bertanya kepada Rosulullah tentang keburukan, karena aku takut sekali untuk jatuh kepada keburukan itu.”

⚉  Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahullah berkata di dalam kitab Alfaruqubayna ‘Ibaadah ahli Islam wal ‘Iman (halaman 139)

فمعر فة المسلم بدين الجاهلية هو مِمَّا يُعرَّ فه بدين اﻹسلام

“Seorang muslim yang mengenal tentang agama jahiliyah, itu membuat ia semakin mengenal hakikat agama Islam

‎الذي بعث اللّٰه به رسله

yang dengannya Allah mengutus para Rosul menurunkan kitab-kitab.

و يعر ف الفر ق بين دين المسلمين الحنفاء أهل التو حيد واﻹخلاص اتَّبا ع الأنبياء و دين غيرهم

Dengan seperti itu ia bisa membedakan antara agama kaum Muslimin yang hanif di atas tauhid, yang iklas dan Ittiba’ dengan agama selain Islam.

‎و من لَمْ يُميز بين هذا و هذا ؛ فهو فِي جاهلية و ضلال و شرك و جهل

Dan orang yang tidak bisa membedakan antara ini dan itu, ia akan berada dalam jahiliyah, kesesatan bahkan kesyirikan dan kebodohan.”

Memang demikian… benar yang dikatakan oleh para Ulama.

Oleh karena itulah kalau kita lihat di zaman ini ketika banyak orang-orang yang baru hijrah tidak faham tentang jahiliyah, tentang kesesatan, tentang kebathilan… di saat muncul da’i-da’i yang keyakinannya sesat, ternyata keyakinannya (adalah) keyakinan Qodariyah atau keyakinannya (adalah) keyakinan Mu’tazilah atau Asy-ariyah atau yang sejenisnya.

Karena mereka tidak paham tentang hakikat, firqoh-firqoh yang tidak sesuai dengan firqoh Ahlussunnah wal Jama’ah dan tidak pernah belajar tentang aqidah-aqidah selain Ahlusunnah wal Jama’ah.

Akibatnya mereka tertipu, terkena syubhat dan yang lainnya.
Akibat daripada apa ?
Tidak memahami tentang keyakinan-keyakinan yang bertabrakan dengan keyakinan Ahlusunnah wal Jama’ah.

Yang penting da’i tersebut membawakan Alqur’an, hadits… (lalu) dianggapnya ia di atas Ahlussunah,
Walaupun aqidahnya sesuai aqidah Mu’tazilah, walaupun aqidahnya sesuai dengan Qodariyah dan yang lainnya.

Padahal kalau kita perhatikan orang-orang mu’tazilah di zaman dahulupun membawa Alqur’an dan Hadits, tapi mereka mentakwil dan menafsirkan sesuai dengan keinginan mereka, bahkan Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam mensifati orang khowarij :

‎يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لاَ يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ

“Mereka membaca Alqur’an bahkan menghafalnya, tapi tidak sampai kerongkongannya”

Artinya mereka memahami dengan pemahaman yang dangkal… bahkan mereka membawakan hadits-hadits Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam

👉🏼   Maka dari itulah penting sekali kita mempelajari tentang keyakinan-keyakinan yang berseberangan dengan keyakinan Ahlusunnah, apa kebathilan mereka dan kesesatan mereka.

Dengan cara seperti itu, kita akan semakin faham tentang hakikat keyakinan Ahlusunnah, keyakinan yang dibawa oleh Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam dan para sahabatnya walaupun tentunya harus kita kokohkan dulu pengetahuan kita tentang Ahlusunnah dulu, setelah itu baru kita memahami tentang aqidah-aqidah selain Ahlusunnah, dengan cara itu kita semakin paham, semakin bisa membedakan mana Ahlusunnah, mana yang bukan.
.
.
Wallahu a’lam 🌴
.
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
.
Dari kitab yang berjudul Showarif ‘Anil Haq, tentang Hal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari Kebenaran, ditulis oleh Syaikh Hamd bin Ibrohim Al Utsman, حفظه الله تعالى.
.
Silahkan bergabung di Telegram Channel dan Facebook Page :
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://www.facebook.com/aqidah.dan.manhaj/

Artikel TERKAIT :
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Showarif ‘Anil HaqHal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari KEBENARAN
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Al IshbaahManhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN

Punya Anak Tapi Seperti Tidak Punya Anak..?!

Anakmu sekolah sekitar 4-8 jam…

masih tersisa waktu dalam sehari sekitar 16-20 jam untukmu sebagai orangtuanya…

untuk walau sekedar makan bersama

untuk walau sekedar bersenda gurau bersama

untuk walau sekedar mengusap keringat di dahinya

untuk walau sekedar menemani tidurnya

untuk walau sekedar memperhatikan perkembangan fisik dan sifat anakmu

Belum lagi yang lebih, lebih dan lebih penting dari itu semua!?!

Memperhatikan Akidahnya

Memperhatikan Ibadahnya

Memperhatikan Keilmuan Agamanya yang jangankan Anakmu, Kamu sendiri haram untuk tidak tahu, seperti bacaan Al-Qur’an nya, masalah bersuci, masalah haid dan junub, dsb…

AYO PARA ORANGTUA;
RUBAHLAH GAYA HIDUPMU TERHADAP ANAK-ANAKMU….

LUANGKAN WAKTU LEBIH UNTUK MEREKA
INGAT ANAKMU TIDAK HANYA BUTUH SANDANG PANGAN DARIMU, TETAPI MEREKA LEBIH MEMBUTUHKANMU!

MASA PEKERJAAN, GADGET DAN SMARTPHONE, MEDSOS LEBIH KAMU PERHATIKAN DIBANDING DARAH DAGINGMU !!!
YANG MUNGKIN NANTINYA DIA LAH ANAKMU YANG MENDOAKANMU TATKALA ANDA SUDAH MENJADI HANYA SATU TULANG EKOR !!!

عن عائشة – رضي الله عنها – ، قالت : قال رسول الله – صلى الله عليه وآله وسلم – : ” إن أولادكم هبة الله لكم…” .

Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya anak-anakmu adalah Anugerah Allah bagi kalian…” HR. Hakim.

NB: Jangan jadikan anugerah tersebut malah menjadi siksa

NB: JANGAN JADI ORANGTUA YANG PUNYA ANAK TETAPI SEPERTI TIDAK PUNYA ANAK…!

Sungguh banyak orang yang ingin punya anak tetapi belum diberikan anugerah tersebut.

Ustadz Ahmad Zainuddin Lc, حفظه الله تعالى

Menebar Cahaya Sunnah