Category Archives: BBG Kajian

Renungan Ayat – 5

Nabi Yusuf saat diuji oleh Allah dengan para wanita yang menginginkannya, beliau berdo’a:

قَالَ رَبِّ السِّجْنُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا يَدْعُونَنِي إِلَيْهِ ۖ وَإِلَّا تَصْرِفْ عَنِّي كَيْدَهُنَّ أَصْبُ إِلَيْهِنَّ وَأَكُن مِّنَ الجاهلين

“Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan dari padaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh” (Yusuf:33)

Subhanallah…
Beliau lebih memilih penjara dan kesusahan hidup…
Dari pada memaksiati Allah dengan memenuhi ajakan para wanita itu…
Demikianlah iman bila telah terasa manisnya…
Tiada yang lebih indah dari menaati Allah…

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

ARTIKEL TERKAIT
Renungan Ayat – 4

Sifat Sholat Orang Munafik

Allah Ta’ala berfirman:

وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَىٰ يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا

“Apabila berdiri menuju sholat, mereka berdiri dengan malas dan tidak mengingat Allah kecuali sedikit” [Annisa: 142]

Ibnu Katsir rohimahullah berkata:

في صلاتهم لا يخشعون [ فيها ] ولا يدرون ما يقولون ، بل هم في صلاتهم ساهون لاهون ، وعما يراد بهم من الخير معرضون .

“Di dalam sholat mereka tidak khusyu, tidak tahu apa yang mereka ucapkan. Mereka lalai dalam sholat nya dan berpaling dari kebaikan”
[Tafsir ibnu Katsir]

Lihatlah..
Pada ibadah yang amat agung mereka malas dan kalaupun sholat yang ia ingat bukan Allah akibat hati mereka berpaling.

Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam menyifati sholat orang munafik dalam sabdanya:

تلك صلاة المنافق ، تلك صلاة المنافق ، تلك صلاة المنافق : يجلس يرقب الشمس ، حتى إذا كانت بين قرني الشيطان ، قام فنقر أربعا لا يذكر الله فيها إلا قليلا

“Itulah sholat orang munafik 3x : ia duduk menunggu matahari sampai berada diantara dua tanduk setan. Lalu ia sholat empat roka’at dengan cepat. Ia tidak mengingat Allah kecuali sedikit” [HR Malik, Muslim, Tirmidzi, dan Nasai]

Maka wahai muslim…
Janganlah menyerupai kaum munafikin dalam sholat mereka..
Sambutlah sholat dengan kegembiraan dan semangat..
Berusahalah khusyu dalam sholat dengan banyak mengingat Allah padanya…

Ibnu ‘Abbas berkata:

يكره أن يقوم الرجل إلى الصلاة وهو كسلان ، ولكن يقوم إليها طلق الوجه ، عظيم الرغبة ، شديد الفرح ، فإنه يناجي الله [ تعالى ] وإن الله أمامه يغفر له ويجيبه إذا دعاه

“Tidak baik seseorang berdiri menuju sholat dengan malas. Hendaklah ia bangkit kepadanya dengan wajah yang berseri, besar harapan, dan sangat gembira. Karena ia hendak bermunajat dengan Allah. Karena Allah di depannya mengampuni dosa dan mengijabah do’a” [Tafsir Ibnu Katsir]

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Renungan Ayat – 4

Setiap sholat kita selalu membaca ayat

اهدنا الصراط المستقيم

“Tunjukkan kami ke jalan yang lurus”

Ayat ini jika kita tadaburi mengandung banyak faidah. Diantaranya:

1. Hidayah itu hanyalah milik Allah dan berasal dari Allah. Baik hidayah ilmu maupun hidayah taufiq.

2. Kita amat membutuhkan hidayah dalam setiap perbuatan kita. Terkadang ada orang yang mendapat hidayah dalam akidahnya tapi tidak dapat hidayah dalam ibadahnya.

3. Ilmu Allah amat luas sehingga kita diperintahkan memintanya setiap waktu.

4. Penetapan risalah Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam. Karena hidayah itu dari Allah dan Allah menyampaikan hidayah berupa ilmu melalui lisan rasul rosul-Nya.

5. Bantahan terhadap semua pelaku bidah dan kesesatan. Karena tidak mengikuti hidayah yang dibawa oleh rosulullah.

6. Bantahan terhadap para pengikut nenek moyang. Karena hidayah bukan berasal dari mereka. Akan tetapi yang berasal dari Allah dan rasul-Nya.

7. Bantahan terhadap para pendewa akal dan hawa nafsu. Karena akal bukanlah sumber hidayah namun sebagai alat untuk memahami hidayah.

Maka bila kita minta hidayah kepada Allah berkonsekwensi untuk siap mengikuti hidayah yang berasal dari Allah dan rosul-Nya.
Dan tidak mungkin dapat mengikuti hidayah kecuali dengan menghilangkan tabir penghalang yang dapat menghalangi hati kita dari hidayah berupa kesombongan, cinta dunia berlebihan, hasad, dan sebagainya.

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

ARTIKEL TERKAIT
Renungan Ayat – 3

Orang Yang Hatinya Kosong Dari Alquran !

Orang yang hatinya kosong dari Alquran ! Semoga bukan Anda.

=======

Abul ‘Aliyah -rahimahullah-:

“Akan datang suatu zaman, dimana hati manusia kosong dari Alquran, mereka tidak menemukan manis dan lezatnya Alquran.

Jika mereka meninggalkan perintah, mereka mengatakan: “Sungguh Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”

Jika mereka melanggar larangan, mereka mengatakan: “Allah akan mengampuni kita, karena kita tidak melakukan kesyirikan sedikitpun”

Keadaan mereka selalu tamak dan tidak tulus. Mereka tutupi hati serigalanya dengan kulit domba. Yang paling afdhal dari mereka dalam agamanya adalah orang yang berpura-pura baik..”

[Az-Zuhud, karya Imam Ahmad 1741]

Dialih-bahasakan oleh,
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Ikuti Proses

Pelangi kan terlihat indah setelah hujan..
Laut kan tenang bak cermin selepas badai..
Emas kan elok setelah disepuh..
Gaharu kan harum setelah di bakar..
Permata kan bernilai setelah di dulang..

Semua kenikmatan dan keindahan melalui proses.
Siapa yang tak sudi ikuti proses..
Tak kan pernah merasakan keindahan dan kelezatan.
Proses itu berat, melelahkan dan menyakitkan. Tak semua sanggup menjalaninya.

Mutiara menjadi berharga setelah lokan menyakiti diri bertahun-tahun, mengeluarkan zat nacre untuk melapisi pasir menjadi mutiara.

Tiada yang lebih indah – setelah melihat wajah Allah- dari surga firdaus.
Mahalnya surga tak pernah di dapat dengan berleha-leha.
Ia ditebus dengan kerja keras, penderitaan, darah dan air mata.

Sudikah kita melalui proses tuk menggapai surga itu..?

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Fairuz Ahmad Ridwan MA, حفظه الله تعالى

ref: https://www.facebook.com/abufairuzcom/

Terlalu Sayang Untuk Disia-siakan

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَن قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لاَ أَقُولُ الم حرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ

“Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Kitabullah, dia mendapatkan satu pahala,dan satu pahala dilipatgandakan menjadi sepuluh pahala, aku tidak mengatakan الم satu huruf akan tetapi Alif satu huruf, Laam satu huruf dan Miim satu huruf..”

[ HR Tirmidzi : 2910, hadits dishahihkan oleh Syekh Al-Albaniy di silsilah Al-ahadits As-shahihah : 660 ]

Orang yang membaca Al-Qur’an dia akan mendapatkan pahala yang sangat banyak dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Bagaimana jika anda membaca satu baris atau satu halaman atau seperempat Juz, berapa banyak pahala yang didapat apabila niatnya ikhlas untuk Allah ta’ala pencipta langit dan bumi.

Coba perhatikan hitungan pendekatan pada surat Al-Fatihah. Jika seseorang membaca surat Al-Fatihah yang mungkin tidak menghabiskan waktu satu menit dalam membacanya, dia akan mendapatkan pahala yang begitu banyak, jumlah hurufnya adalah 145 huruf, ketika seseorang membaca surat Al-Fatihah ini dia akan mendapatkan 1450 pahala dan tentunya Allah Subhanahu wa Ta’ala akan melipatgandakan bagi siapa yang Allah kehendaki.

Ini surat Al-Fatihah saja, bagaimana jika engkau membaca surat-surat yang lain dan ayat-ayat yang banyak, sungguh pahala yang sangat besar, tetapi berapa banyak dari kita kaum muslimin yang menyia-nyiakan pahala ini dengan menyia-nyiakan waktu kita

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan taufiq kepada kita untuk membaca Kitab-Nya yang mulia

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, حفظه الله تعالى

ref: https://www.facebook.com/abuyalakurnaedicom/

#COVID_19 : Tentang Sholat Idul Fitri Di Rumah Saat Pandemi Virus Corona

Jumhur úlama berpendapat disyariátkannya sholat íed bagi wanita, budak, orang sakit, dan musafir meskipun sendirian dan tidak dirumah.

Al-Imam Al-Bukhari berkata :

بَابٌ: إِذَا فَاتَهُ العِيدُ يُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ، وَكَذَلِكَ النِّسَاءُ، وَمَنْ كَانَ فِي البُيُوتِ وَالقُرَى، لِقَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «هَذَا عِيدُنَا أَهْلَ الإِسْلاَمِ» وَأَمَرَ أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ مَوْلاَهُمْ ابْنَ أَبِي عُتْبَةَ بِالزَّاوِيَةِ فَجَمَعَ أَهْلَهُ وَبَنِيهِ، وَصَلَّى كَصَلاَةِ أَهْلِ المِصْرِ وَتَكْبِيرِهِمْ وَقَالَ عِكْرِمَةُ: «أَهْلُ السَّوَادِ يَجْتَمِعُونَ فِي العِيدِ، يُصَلُّونَ رَكْعَتَيْنِ كَمَا يَصْنَعُ الإِمَامُ» وَقَالَ عَطَاءٌ: «إِذَا فَاتَهُ العِيدُ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ»

“Bab : Jika seseorang terluput dari sholat íed maka ia sholat dua roka’at, demikian juga para wanita, dan orang-orang yang ada di rumah-rumah dan juga di kampung-kampung.”

➡️ Hal ini berdasarkan sabda Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam, “Ini adalah adalah íed (hari raya) kita kaum muslimin”

➡️ “Anas bin Malik memerintahkan budaknya Ibnu Abi Útbah di Az-Zawiyah, maka beliaupun mengumpulkan keluarganya dan anak-anaknya dan sholat seperti sholat orang-orang di kota dan sesuai dengan takbir mereka”.

➡️ Íkrimah berkata, “Penduduk kampung (demikian juga para petani) berkumpul tatkala íed, lalu mereka sholat dua roka’at sebagaimana yang dilakukan oleh penguasa (yang sholat íed di kota)”

➡️ Áthoo berkata, “Jika seseorang luput dari sholat íed maka ia sholat dua roka’at”

Atsar Anas bin Malik di atas, dan juga atsar-atsar para tabiín dijadikan dalil oleh Jumhur (mayoritas) ulama bahwasanya :
➡️ barang siapa yang terluput dari sholat íed, maka hendaknya ia mengqodho’nya. Yaitu ia mengqodho’ nya dengan sholat dua roka’at dan bertakbir sebagaimana sholat íed biasanya. Namun tidak perlu khutbah setelah sholat.

Wallahu a’lam

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Firanda Andirja MA, حفظه الله تعالى

Read more https://firanda.com/3922-fikih-seputar-ramadhan-terkait-covid-19.html

JANGAN LEWATKAN YANG BERIKUT INI:
Kumpulan Artikel Terkait Covid-19

Mengapa Kamu Melakukan Itu..?

Tahukah anda..
Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bila melihat seorang shahabat melakukan kesalahan..
Beliau bertanya, “Apa yang membuatmu melakukan itu..”

Seperti dalam kisah Mu’adz bin Jabal yang pulang dari Syam..
Lalu sujud kepada Rosulullah..
Padahal sujud kepada manusia adalah syirik besar..

Seperti dalam kisah Hathib bin Abi Balta’ah yang hendak membocorkan rahasia Allah dan RosulNya..
Padahal itu adalah pengkhianatan..

Namun..
Apakah Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam langsung memvonisnya sesat…
Tidak..
Sekali-sekali tidak..
Beliau bertanya dahulu, “Apa yang membuatmu melakukan itu…”
Barangkali ia tidak tahu..
Barangkali ia mempunyai alasan..

Subhanallah..
Tidak demikian di zaman ini..
Sebatas melihat saudaranya melakukan perbuatan yang ia anggap salah..
Segera vonis dilancarkan..
Fulan sesat..
Fulan hizbiy..
Fulan sururi..
Lalu segera ia menjauhinya..
Tak ada lagi ucapan salam untuknya..

Subhaanallah..
Telah hilang kasih sayang di hati kita..
seakan..
Bila ia telah berhasil memvonis saudaranya..
Ia telah membela islam dan sunnah..
Sementara setan menyeringai gembira..
Karena ia telah membantunya untuk menyesatkan manusia..

Saudaraku..
Tidakkah kita takut bila vonis itu kembali kepada diri kita..
Bukankah salah dalam memaafkan lebih baik dari pada salah dalam memberikan sanksi..
Iya.. Demi Allah..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

WAG Al Fawaid

#COVID_19 : Renungan Ayat – 3

Allah Ta’ala berfirman tentang nabi Yusuf ‘alayhis salam:

وَقَالَ لِلَّذِي ظَنَّ أَنَّهُ نَاجٍ مِّنْهُمَا اذْكُرْنِي عِندَ رَبِّكَ فَأَنسَاهُ الشَّيْطَانُ ذِكْرَ رَبِّهِ فَلَبِثَ فِي السِّجْنِ بِضْعَ سِنِينَ

“Dan Yusuf berkata kepada orang yang diketahuinya akan selamat diantara mereka berdua: “Terangkanlah keadaanku kepada tuanmu”. Maka syaitan menjadikan dia lupa menerangkan (keadaan Yusuf) kepada tuannya. Karena itu tetaplah dia (Yusuf) dalam penjara beberapa tahun lamanya” (Yusuf:42)

Lihatlah…
Nabi Yusuf berkata kepadanya, “Terangkan keadaanku kepada tuanmu.”

Akibatnya apa ?
Setan menjadikannya lupa..
Sehingga Nabi Yusuf tinggal di penjara beberapa tahun lamanya…

Kalaulah beliau meminta kepada Allah saat itu…
Pasti Allah akan segera mengijabah…
Ibnu Jarir Ath Thobari berkata:

وهذا خبرٌ من الله جل ثناؤه عن غفلة عَرَضت ليوسف من قبل الشيطان، نسي لها ذكر ربه الذي لو به استغاث لأسرع بما هو فيه خلاصه ، ولكنه زلَّ بها فأطال من أجلها في السجن حبسَه، وأوجع لها عقوبته

“Ini adalah kabar dari Allah tentang kelalaian nabi Yusuf yang berasal dari setan. Beliau lupa untuk mengingat Allah yang seandainya beliau meminta tolong kepada Allah, pasti Allah segera membebaskannya. Namun beliau tergelincir sehingga beliau menjadi lama di penjara dan sanksi menjadi terasa berat.”
(Tafsir Thobari)

Terkadang…
Saat kita terkena musibah. Kita berharap bantuan manusia dan lupa kepada Allah…
Akibatnya Allah tidak mempedulikan kita…
Ya Rabb..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

ARTIKEL TERKAIT
Renungan Ayat – 2

JANGAN LEWATKAN YANG BERIKUT INI:
Kumpulan Artikel Terkait Covid-19